BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial.

BAB I PENDAHULUAN. wajah yang menarik dan telah menjadi salah satu hal penting di dalam kehidupan

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/Kesehatan Gigi Masyarakat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Ortodontik berasal dari bahasa Yunani orthos yang berarti normal atau

SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi NATALIA NIM:

BAB I PENDAHULUAN. sosial emosional. Masa remaja dimulai dari kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 2012). Perawatan ortodontik mempunyai riwayat yang panjang, anjuran tertulis

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penampilan fisik yang baik terutama penampilan gigi-geligi adalah salah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. menunjukkan prevalensi nasional untuk masalah gigi dan mulut di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. berbentuk maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kehilangan gigi geligi disebabkan oleh faktor penyakit seperti karies dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. oklusi sentrik, relasi sentrik dan selama berfungsi (Rahardjo, 2009).

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

BAB III METODE PENELITIAN. cekat dan cetakan saat pemakaian retainer. 2. Sampel dalam penelitian ini dihitung dengan Rumus Federer sesuai dengan.

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang

Perawatan ortodonti Optimal * Hasil terbaik * Waktu singkat * Biaya murah * Biologis, psikologis Penting waktu perawatan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maloklusi adalah ketidakteraturan letak gigi geligi sehingga menyimpang dari

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. menumbuhkan kepercayaan diri seseorang. Gigi dengan susunan yang rapi dan

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keadaan normal (Graber dan Swain, 1985). Edward Angle (sit. Bhalajhi 2004)

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. empat tipe, yaitu atrisi, abrasi, erosi, dan abfraksi. Keempat tipe tersebut memiliki

ل ق د خ ل ق ن ا ال إ ن س ان ف ي أ ح س ن ت ق و يم

PENGARUH PENAMPILAN GIGI ANTERIOR BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT DARI IOTN TERHADAP PSIKOSOSIAL REMAJA PADA SISWA SMAN 10 PADANG

LEMBAR PENJELASAN KEPADA ORANG TUA/ WALI OBJEK PENELITIAN. Kepada Yth, Ibu/ Sdri :... Orang tua/ Wali Ananda :... Alamat :...

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DAN KEBERHASILAN PERAWATAN ORTODONTI CEKAT MENGGUNAKAN INDEX OF COMPLEXITY, OUTCOME AND NEED

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari berbagai macam penyebab dan salah satunya karena hasil dari suatu. pertumbuhan dan perkembangan yang abnormal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa

KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA USIA REMAJA TAHUN

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Oleh: QUAH PERNG TATT NIM:

BAB 1 PENDAHULUAN. Struktur penduduk dunia termasuk Indonesia mengalami peningkatan dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ini sangatlah tinggi. Gaya hidup dan tren mempengaruhi seseorang untuk

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi. syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Oleh: Nama : Vanny Anandita Gayatri Aulia

KUALITAS HIDUP REMAJA SMA NEGERI 6 MANADO YANG MENGALAMI MALOKLUSI

BAB I PENDAHULUAN. sudah dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi yaitu dengan perawatan

TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DAN KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF COMPLEXITY, OUTCOME, AND NEED (ICON) PADA MURID SMA NEGERI 18 MEDAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Makanan yang pertama kali dikonsumsi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI).

Pengaruh maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial pada siswa SMA Negeri 1 Luwuk

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mengganggu kesehatan gigi, estetik dan fungsional individu.1,2 Perawatan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. humor. Apapun emosi yang terkandung didalamnya, senyum memiliki peran

BAB 1 PENDAHULUAN. anak itu sendiri. Fungsi gigi sangat diperlukan dalam masa kanak-kanak yaitu

PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI

CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ortodonsia menurut American Association of Orthodontists adalah bagian

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Penampilan mulut dan senyum dapat berperan penting dalam. penilaian daya tarik wajah dan memberikan kepercayaan diri terhadap

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN DENTAL HEALTH COMPONENT PADA SISWA SMAN 8 MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hal yang harus dipertimbangkan dalam perawatan ortodonsi salah satunya

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN DENTAL HEALTH COMPONENT PADA SMA N 8 MEDAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. memberikan estetik wajah yang kurang baik (Wong, dkk., 2008). Prevalensi

III. KELAINAN DENTOFASIAL

Prosiding SNaPP2015 Kesehatan pissn eissn ¹Yuanita Lely Rachmawati, ²Merlya Balbeid, ³Vareyna Dian Nanda

Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need pada siswa usia tahun di SMP Negeri 1 Wori

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK. Kata kunci : IOTN, Dental Health Component, Aesthetic Component, Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodontik

BAB I PENDAHULUAN. Penampilan fisik berperan dalam menimbulkan kepercayaan diri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai perawatan selesai (Rahardjo, 2009). Hasil perawatan ortodontik

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di dunia diprediksi akan meningkat

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan sosialnya (Monica, 2007). Perawatan ortodontik merupakan salah

BAB 1 PENDAHULUAN. pencegahan, dan perbaikan dari keharmonisan dental dan wajah. 1 Perawatan

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi dan radang gusi (gingivitis) merupakan penyakit gigi dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Maturitas adalah proses pematangan yang dihasilkan oleh pertumbuhan dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang ikut

Perbandingan Derajat Keparahan Maloklusi dan Kebutuhan Perawatan Ortodontik pada Remaja Etnik Jawa dan Etnik Cina di Kodya Yogyakarta

BAB 2 TI JAUA PUSTAKA

I.PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Nesturkh (1982) mengemukakan, manusia di dunia dibagi menjadi

BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gigi berperan penting dalam pada proses pengunyahan, berbicara dan estetis. Berbagai penyakit maupun kelainan gigi dan mulut dapat mempengaruhi berbagai fungsi rongga mulut. Salah satunya adalah kelainan susunan gigi atau disebut maloklusi. 1 Maloklusi adalah penyimpangan susunan gigi dan atau malrelasi lengkung gigi (rahang) yang tidak sesuai, baik secara estetis maupun fungsional dari oklusi normal. 1,2,3 Oklusi dikategorikan normal bila susunan gigi teratur dalam lengkung rahang atau hubungan gigi atas dan gigi bawah harmonis dan seimbang, tulang rahang, tulang tengkorak dan otot sekitarnya dapat membentuk keseimbangan fungsional sehingga menghasilkan estetis yang baik. Gigi berjejal (crowded), gingsul (caninus ectopic), gigi tonggos (disto oklusi), gigi cakil (mesio oklusi), gigitan silang (crossbite), gigi jarang (diastema) merupakan jenis maloklusi. 4 Selain itu, terdapat juga jenis maloklusi protrusi bimaksiller dento-alveolar. 5 Protrusi bimaksiler adalah suatu maloklusi yang memperlihatkan inklinasi anterior yang berlebihan dari insisivus rahang atas dan rahang bawah. Orang dengan protrusi bimaksiler biasanya mengalami kesulitan menutup bibir dan mengalami gigi berjejal, serta profil wajah tidak estetis. 5,6 Maloklusi disebabkan oleh beberapa faktor berbeda, yaitu genetik dan lingkungan. Menurut Proffit, secara umum maloklusi disebabkan karena 1) faktor luar/ekstrinsik, yaitu herediter, kelainan kongenital, perkembangan dan pertumbuhan yang salah saat pre dan postnatal, penyakit sistemik, kebiasaan jelek, dan 2) faktor dalam/intrinsik, yaitu anomali jumlah gigi, anomali ukuran gigi, anomali bentuk gigi, frenulum labii tidak normal, kehilangan dini gigi desidui, terlambat erupsi gigi permanen, erupsi abnormal, ankilosis, karies gigi dan restorasi tidak baik. 4 Hasil penelitian Marpaung tahun 2006 menunjukkan prevalensi maloklusi pada 4 Sekolah Menengah Umum di Kota Medan mencapai 83%, sedangkan

penelitian Dewi tahun 2007 menunjukkan prevalensi maloklusi remaja SMU di kota Medan dengan menggunakan indeks HMA sebanyak 60,5% dengan jenis maloklusi yang terbanyak adalah gigi berjejal, baik pada segmen anterior rahang bawah (41,89%) maupun rahang atas (30,75%). 4 Maloklusi tidak membahayakan hidup seseorang, namun sangat berdampak terhadap ketidaknyamanan, keadaan sosial dan keterbatasan fungsi. 7 Dampak maloklusi berupa terganggunya faktor estetis, fungsi dan bicara, serta tidak hanya berdampak terhadap susunan gigi geligi, namun juga mempengaruhi penampilan wajah. 8 Banyak faktor yang berpengaruh terhadap persepsi estetis wajah, yaitu susunan gigi anterior, warna, bentuk dan posisi gigi, ketebalan bibir, kesimetrisan gingiva atau kontur gingiva, profil bibir, overjet dan lain-lain. 9 Penampilan wajah yang tidak menarik dapat mempengaruhi perkembangan psikologi seseorang, terutama pada usia remaja. Remaja lebih mengutamakan daya tarik fisik dalam bersosialisasi. Penampilan wajah yang kurang baik dapat menyebabkan rasa tertekan sehingga menurunkan fungsinya dalam kehidupan sosial, keluarga, pekerjaan dan aktivitas sekolah karena malu bertemu dengan orang lain atau merasa diejek. Hal ini dapat mengganggu psikososialnya. Mereka akan merasa rendah diri, menganggap dirinya tidak berharga, terganggu prestasi akademisnya atau sengaja tidak masuk sekolah. 4,10 Hal ini didukung oleh hasil penelitian Bull dan Rumsey di New York pada tahun 1988 menunjukkan bahwa penampilan dentofasial merupakan kunci penentu menarik atau tidaknya seseorang, dimana kelompok yang mengalami maloklusi cenderung merasa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. 11 Penampilan wajah dan susunan gigi merupakan bagian terpenting dari penampilan fisik remaja, karena masa remaja merupakan tahap perkembangan psikososial yang pesat. Penampilan fisik, terutama dentofasial muncul sebagai pusat pencarian jati diri mereka. Kemudian, mulai muncul kepedulian akan tanggapan orang lain tentang penampilan dan identitas dirinya. Pandangan dari orang lain ini akan berpengaruh dalam pembentukan konsep diri. 12,13

Dampak maloklusi terhadap kualitas hidup remaja berbeda antara remaja yang satu dengan yang lain, hal ini dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi seperti umur, jenis kelamin dan kelas sosial. 4 Orang dengan usia yang semakin bertambah akan semakin memperhatikan kondisi gigi dan mulutnya. Perempuan lebih memperhatikan gigi-geligi mereka dibandingkan laki-laki. 14 Pada kelas sosial yang semakin tinggi, maka kualitas hidupnya akan semakin baik, karena pengetahuan, sikap dan perilaku mencari perawatan kesehatan gigi juga lebih baik. 4 Hasil penelitian Dewi mengenai hubungan jenis kelamin dengan kualitas hidup menunjukkan adanya hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan ketidaknyamanan psikis, ketidakmampuan psikis dan ketidakmampuan sosial. Remaja perempuan lebih banyak mengeluh dibandingkan laki-laki (p<0,05). Ini disebabkan karena perempuan lebih sensitif terhadap perubahan dalam hidupnya, terutama masalah estetis. 4 Penelitian Anosike dkk juga menunjukkan perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin antara maloklusi dengan kualitas hidup, namun penelitiannya menunjukkan laki-laki lebih perhatian terhadap dirinya (22,3%), lebih canggung dengan kondisi maloklusi yang terjadi (17%) dan lebih malu terhadap keadaan rongga mulutnya (18,7%). 7 Beberapa alat ukur telah dikembangkan beberapa tahun terakhir ini untuk pengukuran kualitas hidup yang dihubungkan dengan kesehatan rongga mulut, meliputi Oral Health-Related Quality of Life (OHRQoL), Condition-Specific Oral Impacts on Daily Performances (CS-OIDP), Oral Health Impacts Profile (OHIP) dan 14-items short form Oral Health Impact (OHIP-14). 15 Indeks tersebut digunakan untuk mengukur kualitas hidup secara keseluruhan, namun ada indeks yang lebih spesifik untuk mengukur dampak psikososial dalam bidang ortodonti, yaitu indeks Psychosocial Impact of Dental Aesthetics Quistionnaire (PIDAQ). Indeks PIDAQ merupakan suatu alat ukur yang tepat untuk mengetahui dampak psikososial dari estetika gigi dan mulut pada anak-anak, remaja dan dewasa muda yang mengalami maloklusi. 15,16 Beberapa penelitian telah menggunakan Indeks PIDAQ dengan skala Likert sebagai alat ukur. Penelitian Paula et al menunjukkan bahwa pada 98,3% subyek

penelitian terdapat perbedaan dampak psikososial dari estetis gigi, dimana remaja dengan skor Dental Aesthetic Indeks (DAI) yang lebih tinggi mempunyai skor dampak yang lebih besar pula. Pada skor DAI 4, skor rerata PIDAQ adalah 24,9 ± 12, sedangkan pada skor DAI 1, reratanya hanya 14,1 ± 10,2. Sebaliknya, remaja dengan pertumbuhan gigi yang kurang menarik mempunyai dampak psikososial dan masalah estetis yang kurang baik. 15,17 Penelitian Bellot-Arcis dengan menggunakan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) dan PIDAQ menunjukkan bahwa maloklusi berdampak terhadap status psikososial remaja, dampaknya terus meningkat seiring keparahan maloklusinya. Pada IOTN DHC grade 4-5, skor rerata PIDAQ 38,5 (35,6 41,3), sedangkan pada grade 1-2, skornya hanya 30,09 (28,6 31,6) dan dampak terhadap status psikososial lebih besar pada perempuan. 18 Penelitian Khan dan Fida dengan menggunakan Aesthetic Component of the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN-AC) dan PIDAQ menunjukkan bahwa terdapat dampak psikososial yang sangat besar terhadap perubahan estetis dari gigi. Aspek yang terlihat berdampak sangat signifikan adalah aspek kepercayaan terhadap diri sendiri dan dampak psikologis. 19 Mengingat dampak maloklusi yang dapat mempengaruhi penampilan estetis dan perkembangan mencari identitas diri remaja, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui akibat maloklusi dan pengaruhnya terhadap psikososial remaja dalam kehidupannya sehari-hari. Penelitian ini penting dilakukan karena masih tingginya prevalensi dan keparahan maloklusi, serta dampaknya dalam mengakibatkan hambatan dalam perkembangan psikologi dan kehidupan sosial. 8 Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang dampak maloklusi anterior terhadap psikososial siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari dengan menggunakan indeks PIDAQ. Alasan dipilihnya siswa SMA untuk mewakili remaja karena termasuk dalam batasan usia remaja pertengahan, dimana terjadi perubahan fisik, mental dan psikososial yang cepat berdampak pada berbagai aspek kehidupannya. Mereka lebih mementingkan daya tarik fisik, terutama wajah dalam proses sosialisasi, dan mulai mengembangkan pemikiran bagaimana pandangan orang terhadap penampilan dan bersosialisasi

dengan teman sebaya. Peneliti menggunakan dua sekolah sebagai parameter, yaitu SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. SMA Global Prima Nasional Plus merupakan sekolah bergengsi dengan reputasi tinggi dan berkualitas dengan taraf nasional plus. Kurikulum yang diterapkan adalah gabungan kurikulum nasional dan internasional. Sekolah ini menggunakan bahasa Inggris (70%), Indonesia (20%) dan Mandarin (10%) sebagai bahasa pengantar dengan guru yang berkualifikasi S1/S2 dari dalam maupun luar negeri. Jumlah murid tiap kelas tidak terlalu banyak sehingga proses belajar lebih efektif dan ditunjang oleh fasilitas yang unggul, seperti ruang full AC, kolam renang, tempat bermain, laboratorium sains, laboratorium komputer, klinik, perpustakaan, wi-fi, ruang tari, lapangan olahraga dan auditorium. Kebanyakan murid di sekolah ini berasal dari golongan status sosial-ekonomi yang relatif menengah ke atas karena uang sekolah 2 kali lipat lebih tinggi dari sekolah nasional biasa, seperti SMA Pangeran Antasari yang mempraktikkan 100% kurikulum nasional dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Jumlah murid tiap kelas lebih banyak sehingga proses belajar-mengajar kurang efektif. Fasilitasnya juga terbatas, hanya seperti lapangan olahraga, ruang komputer, perpustakaan dan ruang kelas tanpa pendingin udara. 1.2 Rumusan Masalah Apakah ada perbedaan dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui persentase maloklusi anterior pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 2. Untuk mengetahui dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial dari aspek kepercayaan diri terhadap gigi geligi pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari.

3. Untuk mengetahui dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial dari aspek sosial pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 4. Untuk mengetahui dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial dari aspek psikososial pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 5. Untuk mengetahui dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial dari aspek estetis pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 6. Untuk mengetahui perbedaan dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial berdasarkan jenis kelamin pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 7. Untuk mengetahui perbedaan dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial berdasarkan sekolah pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dengan SMA Pangeran Antasari. 1.4 Hipotesis Penelitian 1. Tidak ada perbedaan dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial berdasarkan jenis kelamin pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dan SMA Pangeran Antasari. 2. Tidak ada perbedaan dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial berdasarkan sekolah pada siswa SMA Global Prima Nasional Plus dengan SMA Pangeran Antasari. 1.5 Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti mengenai dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial pada siswa SMA di Medan sehingga nantinya dapat memberikan wawasan kepada masyarakat dalam praktek

sehari-hari bahwa penampilan gigi geligi berpengaruh terhadap perkembangan psikososial remaja. 2. Bagi institusi pendidikan Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan mengenai dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial remaja SMA dan sebagai kontribusi untuk perkembangan ilmu kedokteran gigi. 3. Bagi peneliti lain Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan acuan bagi peneliti lain untuk dikembangkan lebih lanjut. 4. Bagi remaja dan masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran kepada remaja dan masyarakat mengenai dampak maloklusi anterior terhadap status psikososial dan memberikan pengetahuan pengetahuan kepada remaja dan masyarakat bahwa pentingnya perawatan ortodonti untuk meningkatkan status psikososial remaja sehingga dapat dilakukan pencegahan maloklusi yang lebih parah agar tidak terjadi penyimpangan dan gangguan perkembangan psikososial remaja.