BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RSUD PASAR REBO

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-

BAB I PENDAHULUAN. yang sama beratnya untuk diimplementasikan (Vincent, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bisa didapatkan di rumah sakit. Hal ini menjadikan rumah sakit sebagai tempat untuk

Winarni, S. Kep., Ns. MKM

BAB I PENDAHULUAN. dari manajemen kualitas. Hampir setiap tindakan medis menyimpan potensi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit (RS) merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang bertujuan

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien. Melur Belinda Tim Keselamatan Pasien RSUD Dr Saiful Anwar malang

BAB I PENDAHULUAN. sebagian masyarakat menyatakan bahwa mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kepada masyarakat dalam lingkup lokal maupun internasional.

BAB I PENDAHULUAN. berdampak terhadap pelayanan kesehatan, dimana dimasa lalu pelayanan. diharapkan terjadi penekanan / penurunan insiden.

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu variabel untuk

BAB I PENDAHULUAN. dibahas dalam pelayanan kesehatan. Menurut World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. teknologi, padat karya, padat profesi, padat sistem, padat mutu dan padat risiko,

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan masyarakat sekitar rumah sakit ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan

BAB I PENDAHULUAN. Kejadian yang tidak diinginkan (KTD) sentinel terjadi pada April 2016 lalu

2017, No Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran N

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan masyarakat. Rumah Sakit merupakan tempat yang sangat

UPT PUSKESMAS SAITNIHUTA

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang bersifat kompleks.

KERANGKA ACUAN PROGRAM PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS PUJON

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

PANDUAN PENUNTUN SURVEI AKREDITASI UNTUK BAB PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN ====================================== ==========================

DIREKTORAT BINA YANMED SPESIALISTIK DIREKTORAT JENDERAL BINA YANMED

REKAP DOKUMEN PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan puskesmas maka pelayanan rumah sakit haruslah yang. berupaya meningkatkan mutu pelayanannya (Maturbongs, 2001).

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan pasien (patient safety) menjadi suatu prioritas utama dalam setiap

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan pasien (patient safety) adalah sistem dimana Rumah Sakit

PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT AR BUNDA PRABUMULIH TAHUN 2017

PENANGANAN KTD, KTC, KNC, dan KPC No. Dokumen :C/IX/SOP/4/16/171 No. Revisi : SOP Tanggal Terbit : Halaman : 1/4

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat akan kesehatan, semakin besar pula tuntutan layanan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini keselamatan pasien merupakan salah satu dari sekian banyak persoalan

BAB I PENDAHULUAN. layanan kesehatan, maka fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. seperti klinik harus selalu berusaha untuk memenuhinya dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat, maka syarat mutu makin bertambah penting. Hal tersebut mudah saja

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA KOTA DENPASAR KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA KOTA DENPASAR NOMOR... TAHUN 2014 T E N T A N G

BAB I PENDAHULUAN. yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu

BAB I PENDAHULUAN. pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak

BAB I PENDAHULUAN. kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety

BAB 1 PENDAHULUAN. Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan pasien adalah sebuah sistem pencegahan cedera terhadap pasien dengan

Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)

INSTRUMEN AKREDITASI PUSKESMAS

Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit saat ini wajib menerapkan keselamatan pasien. Keselamatan. menjadi lebih aman dan berkualitas tinggi (Kemenkes, 2011;

BAB I PENDAHULUAN. hampir semua aspek atau tahapan diagnosis dan pengobatan. Kesalahan

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk memperhatikan masalah keselamatan. Kementerian Kesehatan Republik

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang termasuk bidang kesehatan. Peralatan kedokteran baru banyak

mendapatkan 5,7% KTD, 50% diantaranya berhubungan dengan prosedur operasi (Zegers et al., 2009). Penelitian oleh (Wilson et al.

BAB I PENDAHULUAN. Diharapkan) dengan rentang 3,2 16,6 %. Negara Indonesia data tentang KTD

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Adanya kekhawatiran mengenai keselamatan pasien, telah meningkat secara

BAB I PENDAHULUAN. agar staf medis di RS terjaga profesionalismenya. Clicinal governance (tata kelola

Peran Kefarmasian dari Aspek Farmasi Klinik dalam Penerapan Akreditasi KARS. Dra. Rina Mutiara,Apt.,M.Pharm Yogyakarta, 28 Maret 2015

Strategi Penanganan Kasus Pelanggaran Disiplin Praktik Kedokteran dalam Rangka Pembinaan Profesi Dokter/Dokter Gigi pada Era MEA #

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya mutu pelayanan dengan berbagai kosekuensinya. Hal ini juga yang harus dihadapi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keselamatan ( safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Keselamatan

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan adalah suatu bentuk layanan kesehatan professional yang merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna meliputi upaya promotif, pelayanan kesehatan (Permenkes No.147, 2010).

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana sekarang banyak dilaporkan tuntutan pasien atas medical error yang

EVALUASI PROTOTIPE SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN (IKP) BERBASIS WEB DI RUMAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Keselamatan pasien telah menjadi isu global yang sangat penting dilaksanakan oleh setiap rumah sakit, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemerintah mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS

BAB I PENDAHULUAN. sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi risiko, identifikasi

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 melalui

BAB I PENDAHULUAN. yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat. darurat (Permenkes RI No. 147/ Menkes/ Per/ 2010).

BAB 1 PENDAHULUAN. keras mengembangkan pelayanan yang mengadopsi berbagai. perkembangan dan teknologi tersebut dengan segala konsekuensinya.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Patient Safety Project Approach Method And Say No To Blamming Culture PATIENT SAFETY PROJECT APPROACH METHOD AND SAY NO TO BLAMMING CULTURE

KASYFI HARTATI Disampaikan pada ASM 2014

KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT BAHAYANGKARA TK.III ANTON SOEDJARWO PONTIANAK No... tentang

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. kesehatan (dokter, perawat, terapis, dan lain-lain) dan dilakukan sebagai

repository.unimus.ac.id

KUESIONER MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT I. MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

TAHUN Disusun Oleh : J

BAB 1 PENDAHULUAN. Kinerja adalah penampilan hasil karya personil baik kuantitas maupun


PENERAPAN MANAJEMEN KESELAMATAN PASIEN DALAM USAHA PENCEGAHAN KEJADIAN PASIEN JATUH DI RUMAH SAKIT ISLAM KLATEN

Program Peningkatan Mutu Klinis Dan Keselamatan Pasien1 KERANGKA ACUAN PROGRAM PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS BANJARANGKAN 2

Komunikasi penting dalam mendukung keselamatan pasien. Komunikasi yang baik akan meningkatkan hubungan profesional antarperawat dan tim kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. isu yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit, yaitu: keselamatan pasien,

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien. Melur Belinda Tim Keselamatan Pasien RSUD Dr Saiful Anwar malang

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, komponen penting dari mutu layanan kesehatan, prinsip dasar dari

PERENCANAAN PERBAIKAN STRATEGIS PMKP RS PANTI NIRMALA. Laporan bulanan dan laporan tahunan direksi ke yayasan. Pemilik mengetahui

BAB I PENDAHULUAN. (safety) di rumah sakit yaitu: keselamatan pasien (patient safety),

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bahwa rumah. sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. (IPTEK) yang ditemukan seperti berbagai peralatan canggih dibidang

dr. T. Caroline Kawinda, MARS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan merupakan investasi esensial bangsa yang secara signifikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk. Rumah Sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety)

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia. World Health Organization (WHO) telah mencanangkan World

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan Nasional (UU No.40 Tahun 2004 tentang SJSN) yang menjamin

BAB III METODE PENELITIAN. keluarga, kelompok, komunitas, atau institusi (Nursalam, 2011). data rekam medis, pasien dan keluarganya.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan makin meningkatnya tuntutan menghadapi era globalisasi membawa dampak pada dunia kesehatan. Dunia kesehatan dituntut agar dapat menyediakan layanan kesehatan yang ramah, bermutu, berkualitas dan mengacu pada standar internasional, agar mampu berkompetisi baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional. Upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan kesiapan menghadapi globalisasi dapat dilakukan dengan menerapkan sistem akreditasi rumah sakit sesuai dengan pelayanan yang berstandar internasional. Akreditasi rumah sakit merupakan suatu proses penilaian (assessment) terhadap rumah sakit yang dilakukan oleh suatu lembaga yang independen (Kemenkes RI, 2011b). Selain akreditasi nasional yang dilaksanakan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), beberapa rumah sakit juga telah terakreditasi internasional oleh lembaga akreditasi internasional yaitu Joint Commission International (JCI). Salah satu elemen penting dalam standar akreditasi adalah patient safety (keselamatan pasien). Kompleksnya proses pelayanan kesehatan di rumah sakit sejak pendaftaran pasien sampai selesai pelayanan berpotensi menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien. Kondisi ini dapat terjadi baik karena faktor kelalaian atau kompetensi petugas yang tidak memadai, faktor teknis atau faktor organisasi. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut harus dikelola dengan baik supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diharapkan (Depkes RI, 2008). Penerapan keselamatan pasien di rumah sakit dapat dilakukan dengan banyak cara, bisa berupa program sederhana atau program yang kompleks dan terintegrasi (Depkes RI, 2008). Selain penerapan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien, dan Standar Keselamatan Pasien, upaya lain yang dapat dilakukan dalam menekan atau 1

2 menurunkan insiden keselamatan pasien adalah melalui program pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Pelaporan IKP menurut Kemenkes RI (2011a), adalah suatu sistem yang digunakan untuk mendokumentasi laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran. KKP-RS (2008) menambahkan bahwa program tersebut merupakan awal dari proses pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Sistem pelaporan ini akan mendorong semua pihak untuk peduli akan bahaya atau potensi bahaya yang dapat terjadi kepada pasien. Insiden yang harus dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi ataupun nyaris terjadi, baik yang termasuk kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), kejadian tidak cedera (KTC), kondisi potensial cedera (KPC), maupun kejadian sentinel. Di Indonesia sampai saat ini belum banyak laporan terkait IKP, namun terjadi peningkatan pelaporan dan gugatan dugaan kelalaian atau kesalahan medis yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di tanah air. Berbagai pelaporan dan gugatan tersebut menunjukkan mulai meningkatnya kesadaran pasien tentang hak mereka dalam pemberian pelayanan kesehatan. Menurut Mutiasari (2014), bahwa bedasarkan data penanganan pengaduan yang telah dilakukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDKI) periode 2006 April 2014 terdapat 270 kasus pengaduan dugaan malpraktik. Berdasarkan data tersebut permasalahan pengaduan disebabkan oleh: komunikasi, kecurangan (fraud), penelantaran, pembiayaan, standar pelayanan, kasus rumah tangga, kompetensi dan iklan. Laporan IKP di Indonesia sampai dengan bulan April 2011 menunjukkan bahwa terdapat 457 insiden yang dilaporkan, dengan 34 kasus yang terjadi pada periode Januari-April 2011 (Triwulan 1) di wilayah Banten sebesar 23,67%, Jakarta 5,15%, Lampung 3,9%, Jawa Timur 1,3 %, dan sebanyak 2,6% data tidak lengkap. Berdasarkan kepemilikan rumah sakit pada periode yang sama ditemukan bahwa rumah sakit pemerintah daerah yang memiliki persentasi lebih rendah sebesar 6,18% dibandingkan dengan rumah sakit swasta sebesar 28,82% (KKP-RS, 2011).

3 Angka tersebut merupakan sebuah fenomena gunung es karena yang diketahui hanya kejadian yang terlaporkan atau diliput oleh media, sebagian besar insiden tersebut tidak dicatat, tidak terlaporkan, atau terabaikan. Sebagian besar kasus menjadi tidak terlaporkan karena timbulnya rasa takut untuk melaporkan insiden yang terjadi. Padahal dengan adanya metode pelaporan yang baik diharapkan dapat mencegah terjadinya insiden yang fatal dengan membuat program-program keselamatan pasien di rumah sakit. Budaya keselamatan pasien di rumah sakit harus ditumbuhkan oleh pihak manajemen rumah sakit. Mekanisme pelaporan IKP perlu dirubah dari blame and punishment, yang menekankan pada informasi tentang kesalahan dan hukuman, menjadi openness and information sharing yang lebih berfokus pada keterbukaan dan berbagi informasi untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah hasil yang merugikan (Barach & Kelly, 2000). Dengan budaya ini suasana kepercayaan didorong dan dihargai. Para tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih berperan aktif untuk melaporkan insiden yang terjadi di rumah sakit, sehingga pihak rumah sakit dapat belajar dari kejadian tidak diharapkan tersebut kemudian dapat membuat tindakan untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi di masa depan atau mencegah insiden terebut berkembang menjadi kejadian yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian pasien. RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara merupakan salah satu rumah sakit di Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan wawancara dan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, sejak tahun 2010 di RSUD tersebut telah terbentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS), berdasarkan surat keputusan Direktur RSUD Kabupaten Banjarnegara Nomor 445/062/2010 tentang Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS). Sejak tahun 2013 Tim KPRS berubah menjadi Tim Peningkatan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Tim PMKP), berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUD Banjarnegara Nomor 445/0091/SK/2013, tentang Pembentukan Tim Peningkatan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Tim ini bertugas menyusun program peningkatan

4 mutu yang berorientasi pada keselamatan pasien rumah sakit berdasarkan rencana program dari masing-masing seksi, mengkoordinir pelaksanaan program di sekuruh unit kerja dilingkungan rumah sakit, melakukan audit dan evaluasi pelaksanaan program dan membuat laporan dan rekomendasi tindak lanjut. Walaupun telah memiliki tim khusus, namun angka insiden belum dapat diketahui secara pasti. Sistem pelaporan IKP masih dilakukan secara manual dalam bentuk buku catatan, yang dibagikan oleh bidang pelayanan medis disetiap bangsal dan instalasi. Namun tidak semua kejadian terdokumentasi, hanya insiden yang mendapat komplain dari pasien saja yang dilaporkan. Bahkan di beberapa bangsal dan instalasi ada yang sudah hilang bukunya. Sehingga untuk pelaporan insiden biasanya hanya berbentuk nota dinas atau surat biasa. Laporan insiden kadang hanya dianggap sebagai permintaan maaf secara tertulis. Beberapa hal yang menyebabkan banyak insiden tidak terlaporkan adalah takut mendapat hukuman, pelaporan yang bersifat wajib, tidak anonim dan fokus menyalahkan individu, kurangnya manfaat yang dirasakan, kekhawatiran tentang penolakan dari rekan kerja, kurangnya pemahaman tentang apa yang harus dilaporkan, kurangnya kesadaran tentang bagaimana insiden yang dilaporkan akan dianalisis (Holzmueller et al., 2005; Mahajan, 2010). Iskandar et al. (2014) menambahkan, faktor tidak adanya reward dari rumah sakit jika melaporkan dan kurang aktifnya Komite KPRS juga ikut berpengaruh. Permasalahan tersebut dapat diminimalkan dengan memperbaiki sistem pelaporan yang ada. Salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko terjadinya insiden adalah dengan mengembangkan sistem pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Beberapa literatur menunjukkan bahwa partisipan lebih menyukai pelaporan yang bersifat rahasia (anonim), tidak menghukum atau menghakimi, dan sukarela. Bentuk sistem pelaporan yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah sistem pelaporan berbasis web. Aplikasi berbasis web dianggap lebih bersahabat dalam permasalahan yang sensitif seperti pelaporan tentang adanya kesalahan atau insiden, akses mudah untuk pelaporan, waktu entri data lebih pendek, mudah dibaca, dan informasi

5 langsung diketahui oleh orang-orang yang bertanggung jawab, serta bisa diakses di manapun, baik di kantor, rumah, jalan, dari komputer kantor, maupun laptop pribadi (Holzmueller et al., 2005; Mekhjian et al., 2004; Nakajima et al., 2005). Sistem pelaporan IKP ini menjadi awal dalam proses pembelajaran untuk mencegah insiden terulang kembali. Tim PMKP akan menganalisis dan memberikan rekomendasi serta solusi atas insiden yang dilaporkan dan melaporkan hasil kegiatannya kepada kepala rumah sakit. Rumah sakit juga melaporkan insiden, analisis, rekomendasi dan solusi insiden secara tertulis kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Berdasarkan rekomendasi dan solusi tersebut rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien (KKP-RS, 2008). B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah yang diteliti adalah upaya peningkatan pencatatan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) dengan pendekatan perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan berbasis web di rumah sakit yang dapat menghasilkan informasi yang cepat dan akurat dalam rangka mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan memperbaiki mekanisme pencatatan dan pelaporan IKP di rumah sakit dengan mempertimbangkan kenyamanan, kemudahan, dan kerahasiaan, sehingga dapat mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien di rumah sakit.

6 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi kebutuhan dalam pembuatan prototipe untuk pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan IKP berbasis web di rumah sakit. b. Merancang prototipe untuk pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan IKP berbasis web di rumah sakit. c. Melakukan evaluasi terhadap prototipe sistem yang telah dikembangkan dari aspek kepentingan, penerimaan secara ilmiah, transaparansi, kelayakan dan kegunaan. d. Membuat standar prosedur operasional (SPO) pencatatan dan pelaporan IKP secara partisipatif dan rahasia. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti a Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan memperoleh pengalaman khususnya tentang masalah perancangan sistem informasi berbasis web. b Mengimplementasikan ilmu yang telah didapat selama kuliah. 2. Bagi Institusi Memperoleh sistem informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan laporan tentang IKP secara cepat dan akurat sehingga dapat mempermudah para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien. 3. Bagi Ilmu Pengetahuan Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan infomasi bagi peneliti selanjutnya yang hendak melakukan penelitian terkait dengan sistem informasi berbasis web.

7 E. Keaslian Penelitian 1. Holzmueller et al. (2005), dengan judul penelitian Creating the Web-based Intensive Care Unit Safety Reporting System. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengimplementasikan sistem pelaporan keselamatan berbasis web di ICU di beberapa rumah sakit di Amerika. Pengumpulan data dilakukan baik secara kualitatif maupun kauntitatif, yang berasal dari wawancara dengan tim keselamatan pasien di ICU, dan dari staf ICU antara lain melalui laporan bulanan dan diskusi kasus. 2. Nakajima et al. (2005), dengan judul penelitian A Web-Based Incident Reporting System and Multidisciplinary Collaborative Projects for Patient Safety in A Japanese Hospital. Penelitian ini memperkenalkan sebuah sistem pelaporan insiden berbasis web yang bersifat sukarela dan anonim di Rumah Sakit Universitas Osaka Jepang. Desain penelitian adalah studi observasional dari efek adanya program keselamatan pasien yang baru. 3. Elliott et al. (2014), dengan judul penelitian Electronic Clinical Safety Reporting System:A Benefits Evaluation. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap pencapaian tujuan dari Clinical Safety Reporting System (CSRS), dan mengidentifikasi kontribusi dari pelaporan keselamatan klinis elektronik (electronic clinical safety reporting). Metode yang digunakan mixed methods, dengan desain penelitian pre/post komparatif. Data dikumpulkan dari beberapa sumber, seperti dokumentasi proyek, catatan laporan kejadian, lokakarya pemangku kepentingan, survei, FGD, dan wawancara informan kunci.

8 4. Singh & Sittig (2015), dengan judul Measuring and Improving Patient Safety Through Health Information Technology: The Health IT Safety Framework. Jurnal ini menghasilkan framework baru yaitu Health IT Safety (HITS) Framework, guna merespon adanya kesenjangan yang mendasar antara gagasan dan metodologi terkait dengan penjabaran dan pengukuran teknologi informasi untuk kesehatan dan keselamatan, untuk memberi landasan konseptual bagi TI bidang kesehatan (HIT) terkait pengukuran, pemantauan, dan perbaikan keselamatan pasien.