BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan makin meningkatnya tuntutan menghadapi era globalisasi membawa dampak pada dunia kesehatan. Dunia kesehatan dituntut agar dapat menyediakan layanan kesehatan yang ramah, bermutu, berkualitas dan mengacu pada standar internasional, agar mampu berkompetisi baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional. Upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan kesiapan menghadapi globalisasi dapat dilakukan dengan menerapkan sistem akreditasi rumah sakit sesuai dengan pelayanan yang berstandar internasional. Akreditasi rumah sakit merupakan suatu proses penilaian (assessment) terhadap rumah sakit yang dilakukan oleh suatu lembaga yang independen (Kemenkes RI, 2011b). Selain akreditasi nasional yang dilaksanakan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), beberapa rumah sakit juga telah terakreditasi internasional oleh lembaga akreditasi internasional yaitu Joint Commission International (JCI). Salah satu elemen penting dalam standar akreditasi adalah patient safety (keselamatan pasien). Kompleksnya proses pelayanan kesehatan di rumah sakit sejak pendaftaran pasien sampai selesai pelayanan berpotensi menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien. Kondisi ini dapat terjadi baik karena faktor kelalaian atau kompetensi petugas yang tidak memadai, faktor teknis atau faktor organisasi. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut harus dikelola dengan baik supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diharapkan (Depkes RI, 2008). Penerapan keselamatan pasien di rumah sakit dapat dilakukan dengan banyak cara, bisa berupa program sederhana atau program yang kompleks dan terintegrasi (Depkes RI, 2008). Selain penerapan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien, dan Standar Keselamatan Pasien, upaya lain yang dapat dilakukan dalam menekan atau 1
2 menurunkan insiden keselamatan pasien adalah melalui program pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Pelaporan IKP menurut Kemenkes RI (2011a), adalah suatu sistem yang digunakan untuk mendokumentasi laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran. KKP-RS (2008) menambahkan bahwa program tersebut merupakan awal dari proses pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Sistem pelaporan ini akan mendorong semua pihak untuk peduli akan bahaya atau potensi bahaya yang dapat terjadi kepada pasien. Insiden yang harus dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi ataupun nyaris terjadi, baik yang termasuk kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), kejadian tidak cedera (KTC), kondisi potensial cedera (KPC), maupun kejadian sentinel. Di Indonesia sampai saat ini belum banyak laporan terkait IKP, namun terjadi peningkatan pelaporan dan gugatan dugaan kelalaian atau kesalahan medis yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di tanah air. Berbagai pelaporan dan gugatan tersebut menunjukkan mulai meningkatnya kesadaran pasien tentang hak mereka dalam pemberian pelayanan kesehatan. Menurut Mutiasari (2014), bahwa bedasarkan data penanganan pengaduan yang telah dilakukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDKI) periode 2006 April 2014 terdapat 270 kasus pengaduan dugaan malpraktik. Berdasarkan data tersebut permasalahan pengaduan disebabkan oleh: komunikasi, kecurangan (fraud), penelantaran, pembiayaan, standar pelayanan, kasus rumah tangga, kompetensi dan iklan. Laporan IKP di Indonesia sampai dengan bulan April 2011 menunjukkan bahwa terdapat 457 insiden yang dilaporkan, dengan 34 kasus yang terjadi pada periode Januari-April 2011 (Triwulan 1) di wilayah Banten sebesar 23,67%, Jakarta 5,15%, Lampung 3,9%, Jawa Timur 1,3 %, dan sebanyak 2,6% data tidak lengkap. Berdasarkan kepemilikan rumah sakit pada periode yang sama ditemukan bahwa rumah sakit pemerintah daerah yang memiliki persentasi lebih rendah sebesar 6,18% dibandingkan dengan rumah sakit swasta sebesar 28,82% (KKP-RS, 2011).
3 Angka tersebut merupakan sebuah fenomena gunung es karena yang diketahui hanya kejadian yang terlaporkan atau diliput oleh media, sebagian besar insiden tersebut tidak dicatat, tidak terlaporkan, atau terabaikan. Sebagian besar kasus menjadi tidak terlaporkan karena timbulnya rasa takut untuk melaporkan insiden yang terjadi. Padahal dengan adanya metode pelaporan yang baik diharapkan dapat mencegah terjadinya insiden yang fatal dengan membuat program-program keselamatan pasien di rumah sakit. Budaya keselamatan pasien di rumah sakit harus ditumbuhkan oleh pihak manajemen rumah sakit. Mekanisme pelaporan IKP perlu dirubah dari blame and punishment, yang menekankan pada informasi tentang kesalahan dan hukuman, menjadi openness and information sharing yang lebih berfokus pada keterbukaan dan berbagi informasi untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah hasil yang merugikan (Barach & Kelly, 2000). Dengan budaya ini suasana kepercayaan didorong dan dihargai. Para tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih berperan aktif untuk melaporkan insiden yang terjadi di rumah sakit, sehingga pihak rumah sakit dapat belajar dari kejadian tidak diharapkan tersebut kemudian dapat membuat tindakan untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi di masa depan atau mencegah insiden terebut berkembang menjadi kejadian yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian pasien. RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara merupakan salah satu rumah sakit di Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan wawancara dan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, sejak tahun 2010 di RSUD tersebut telah terbentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS), berdasarkan surat keputusan Direktur RSUD Kabupaten Banjarnegara Nomor 445/062/2010 tentang Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS). Sejak tahun 2013 Tim KPRS berubah menjadi Tim Peningkatan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Tim PMKP), berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUD Banjarnegara Nomor 445/0091/SK/2013, tentang Pembentukan Tim Peningkatan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Tim ini bertugas menyusun program peningkatan
4 mutu yang berorientasi pada keselamatan pasien rumah sakit berdasarkan rencana program dari masing-masing seksi, mengkoordinir pelaksanaan program di sekuruh unit kerja dilingkungan rumah sakit, melakukan audit dan evaluasi pelaksanaan program dan membuat laporan dan rekomendasi tindak lanjut. Walaupun telah memiliki tim khusus, namun angka insiden belum dapat diketahui secara pasti. Sistem pelaporan IKP masih dilakukan secara manual dalam bentuk buku catatan, yang dibagikan oleh bidang pelayanan medis disetiap bangsal dan instalasi. Namun tidak semua kejadian terdokumentasi, hanya insiden yang mendapat komplain dari pasien saja yang dilaporkan. Bahkan di beberapa bangsal dan instalasi ada yang sudah hilang bukunya. Sehingga untuk pelaporan insiden biasanya hanya berbentuk nota dinas atau surat biasa. Laporan insiden kadang hanya dianggap sebagai permintaan maaf secara tertulis. Beberapa hal yang menyebabkan banyak insiden tidak terlaporkan adalah takut mendapat hukuman, pelaporan yang bersifat wajib, tidak anonim dan fokus menyalahkan individu, kurangnya manfaat yang dirasakan, kekhawatiran tentang penolakan dari rekan kerja, kurangnya pemahaman tentang apa yang harus dilaporkan, kurangnya kesadaran tentang bagaimana insiden yang dilaporkan akan dianalisis (Holzmueller et al., 2005; Mahajan, 2010). Iskandar et al. (2014) menambahkan, faktor tidak adanya reward dari rumah sakit jika melaporkan dan kurang aktifnya Komite KPRS juga ikut berpengaruh. Permasalahan tersebut dapat diminimalkan dengan memperbaiki sistem pelaporan yang ada. Salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko terjadinya insiden adalah dengan mengembangkan sistem pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Beberapa literatur menunjukkan bahwa partisipan lebih menyukai pelaporan yang bersifat rahasia (anonim), tidak menghukum atau menghakimi, dan sukarela. Bentuk sistem pelaporan yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah sistem pelaporan berbasis web. Aplikasi berbasis web dianggap lebih bersahabat dalam permasalahan yang sensitif seperti pelaporan tentang adanya kesalahan atau insiden, akses mudah untuk pelaporan, waktu entri data lebih pendek, mudah dibaca, dan informasi
5 langsung diketahui oleh orang-orang yang bertanggung jawab, serta bisa diakses di manapun, baik di kantor, rumah, jalan, dari komputer kantor, maupun laptop pribadi (Holzmueller et al., 2005; Mekhjian et al., 2004; Nakajima et al., 2005). Sistem pelaporan IKP ini menjadi awal dalam proses pembelajaran untuk mencegah insiden terulang kembali. Tim PMKP akan menganalisis dan memberikan rekomendasi serta solusi atas insiden yang dilaporkan dan melaporkan hasil kegiatannya kepada kepala rumah sakit. Rumah sakit juga melaporkan insiden, analisis, rekomendasi dan solusi insiden secara tertulis kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Berdasarkan rekomendasi dan solusi tersebut rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien (KKP-RS, 2008). B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah yang diteliti adalah upaya peningkatan pencatatan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) dengan pendekatan perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan berbasis web di rumah sakit yang dapat menghasilkan informasi yang cepat dan akurat dalam rangka mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan memperbaiki mekanisme pencatatan dan pelaporan IKP di rumah sakit dengan mempertimbangkan kenyamanan, kemudahan, dan kerahasiaan, sehingga dapat mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien di rumah sakit.
6 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi kebutuhan dalam pembuatan prototipe untuk pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan IKP berbasis web di rumah sakit. b. Merancang prototipe untuk pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan IKP berbasis web di rumah sakit. c. Melakukan evaluasi terhadap prototipe sistem yang telah dikembangkan dari aspek kepentingan, penerimaan secara ilmiah, transaparansi, kelayakan dan kegunaan. d. Membuat standar prosedur operasional (SPO) pencatatan dan pelaporan IKP secara partisipatif dan rahasia. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti a Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan memperoleh pengalaman khususnya tentang masalah perancangan sistem informasi berbasis web. b Mengimplementasikan ilmu yang telah didapat selama kuliah. 2. Bagi Institusi Memperoleh sistem informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan laporan tentang IKP secara cepat dan akurat sehingga dapat mempermudah para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien. 3. Bagi Ilmu Pengetahuan Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan infomasi bagi peneliti selanjutnya yang hendak melakukan penelitian terkait dengan sistem informasi berbasis web.
7 E. Keaslian Penelitian 1. Holzmueller et al. (2005), dengan judul penelitian Creating the Web-based Intensive Care Unit Safety Reporting System. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengimplementasikan sistem pelaporan keselamatan berbasis web di ICU di beberapa rumah sakit di Amerika. Pengumpulan data dilakukan baik secara kualitatif maupun kauntitatif, yang berasal dari wawancara dengan tim keselamatan pasien di ICU, dan dari staf ICU antara lain melalui laporan bulanan dan diskusi kasus. 2. Nakajima et al. (2005), dengan judul penelitian A Web-Based Incident Reporting System and Multidisciplinary Collaborative Projects for Patient Safety in A Japanese Hospital. Penelitian ini memperkenalkan sebuah sistem pelaporan insiden berbasis web yang bersifat sukarela dan anonim di Rumah Sakit Universitas Osaka Jepang. Desain penelitian adalah studi observasional dari efek adanya program keselamatan pasien yang baru. 3. Elliott et al. (2014), dengan judul penelitian Electronic Clinical Safety Reporting System:A Benefits Evaluation. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap pencapaian tujuan dari Clinical Safety Reporting System (CSRS), dan mengidentifikasi kontribusi dari pelaporan keselamatan klinis elektronik (electronic clinical safety reporting). Metode yang digunakan mixed methods, dengan desain penelitian pre/post komparatif. Data dikumpulkan dari beberapa sumber, seperti dokumentasi proyek, catatan laporan kejadian, lokakarya pemangku kepentingan, survei, FGD, dan wawancara informan kunci.
8 4. Singh & Sittig (2015), dengan judul Measuring and Improving Patient Safety Through Health Information Technology: The Health IT Safety Framework. Jurnal ini menghasilkan framework baru yaitu Health IT Safety (HITS) Framework, guna merespon adanya kesenjangan yang mendasar antara gagasan dan metodologi terkait dengan penjabaran dan pengukuran teknologi informasi untuk kesehatan dan keselamatan, untuk memberi landasan konseptual bagi TI bidang kesehatan (HIT) terkait pengukuran, pemantauan, dan perbaikan keselamatan pasien.