BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. mengobati kondisi dan penyakit terkait dengan proses menua (Setiati dkk, 2009).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Radiologi Tumor Kolon

BAB I PENDAHULUAN. Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak dari seluruh

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

DEFINISI Kanker kolon adalah polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. baik di belahan dunia Barat maupun di Indonesia. Kanker kolorektal (KKR) jenis

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pengukuran antropometri terdiri dari body mass index

BAB I PENDAHULUAN. dan fungsi dari organ tempat sel tersebut tumbuh. 1 Empat belas juta kasus baru

Pada wanita penurunan ini terjadi setelah pria. Sebagian efek ini. kemungkinan disebabkan karena selektif mortalitas pada penderita

BAB I PENDAHULUAN. Perdarahan pada saluran cerna bagian bawah terjadi sekitar 20% dari semua

BAB 1 PENDAHULUAN. Benign Prostat Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kanker kolorektal adalah kanker urutan ketiga yang banyak yang menyerang

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan. yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan karakteristik adanya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit. degenerative, akibat fungsi dan struktur jaringan ataupun organ

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB I PENDAHULUAN. Tumor kolorektal merupakan neoplasma pada usus besar yang dapat

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. rektum yang khusus menyerang bagian sekum yang terjadi akibat gangguan

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011).

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis,

BAB I PENDAHULUAN orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. 2 Hal ini diperkuat oleh hasil

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN CA RECTI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. epidemiologi di Indonesia. Kecendrungan peningkatan kasus penyakit

PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN HIPERTENSI ANTARA PRIA DAN WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS BERUSIA 45 TAHUN SKRIPSI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya telah mengalami perubahan dari basis pertanian menjadi

BAB I PENDAHULUAN. yang menyerang saluran pencernaan. Lebih dari 60 persen tumor ganas kolorektal

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Menurut International Diabetes Federation (IDF, 2015), diabetes. mengamati peningkatan kadar glukosa dalam darah.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB 2 TUMOR. semua jaringan tubuh manusia pada berbagai keadaan sel untuk berkembang biak.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di

BAB I PENDAHULUAN. Kanker Ovarium Epitel (KEO) merupakan kanker ginekologi yang. mematikan. Dari seluruh kanker ovarium, secara histopatologi dijumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik anovulasi, hiperandrogenisme, dan/atau adanya morfologi ovarium polikistik.

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Peningkatan asupan lemak sebagian besar berasal dari tingginya

BAB II TINJAUAN TEORI. pencernaan yang disebut traktus gastrointestinal. Lebih jelasnya kolon

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan

BAB I PENDAHULUAN. hidup dan pola makan, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda yang

DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. kasus diantaranya menyebabkan kematian (Li et al., 2012; Hamdi and Saleem,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tumor Urogenitalia A. Tumor ginjal 1.Hamartoma ginjal 2. Adenokarsinoma ginjal / grawitz / hipernefroma / karsinoma sel ginjal Staging : Grading :

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh PTM terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian sebelum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma larings merupakan keganasan yang cukup sering dan bahkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Epidemiologi Kanker Prostat PERTEMUAN 8 Ira Marti Ayu Kesmas/ Fikes

I. PENDAHULUAN. 2004). Penyakit ini timbul perlahan-lahan dan biasanya tidak disadari oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau. meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular

BAB 1 PENDAHULUAN. produksi glukosa (1). Terdapat dua kategori utama DM yaitu DM. tipe 1 (DMT1) dan DM tipe 2 (DMT2). DMT1 dulunya disebut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut

BAB 1 PENDAHULUAN. Karsinoma servik merupakan penyakit kedua terbanyak pada perempuan

Lilik Kurniawan, S.Ked

Tumor IntraAbdomen. Kelompok IV

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Prevalensi Sindrom Metabolik yang Semakin Meningkat. mengidentifikasi sekumpulan kelainan metabolik.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Penelitian. Dislipidemia adalah suatu istilah yang dipakai untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

I. PENDAHULUAN. WHO (2006) menyatakan terdapat lebih dari 200 juta orang dengan Diabetes

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (ADA) 2005 adalah

Bab 1: Mengenal Hipertensi. Daftar Isi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari anus dan bagian bawah rektum, seperti hemoroid, fisura, ulkus soliter, varises

BAB 1 : PENDAHULUAN. perubahan. Masalah kesehatan utama masyarakat telah bergeser dari penyakit infeksi ke

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1. KARSINOMA KOLOREKTAL 2.1.1.1.ETIOLOGI DAN PATOGENESIS KARSINOMA KOLOREKTAL Secara umum dinyatakan bahwa untuk perkembangan kanker kolon dan rektum merupakan interaksi berbagai faktor yakni faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan yang multipel bereaksi terhadap predisposisi genetik atau defek yang didapat dan berkembang menjadi kanker kolon dan rektum. Terdapat 3 kelompok kanker kolon dan rektum berdasarkan perkembangannya yaitu : 1. Kelompok yang diturunkan (inherited) yang mencakup kurang dari 10 % dari kasus kanker kolon dan rektum. 2. Kelompok sporadik, yang mencakup sekitar 70 % 3. Kelompok familial, mencakup 20% Kelompok yang diturunkan adalah pasien yang waktu dilahirkan sudah dengan mutasi sel-sel germinativum (germline mutation) pada salah satu alel dan terjadi mutasi somatik pada alel yang lain. Contohnya adalah FAP (Familial Adenomatous Polyposis) dan HNPCC (Heriditary Non Polyposis Colorectal Cancer). HNPCC terdapat pada sekitar 5 % daari kanker kolon dan rektum. Kelompok Sporadik membutuhkan dua mutasi somatik, satu pada masing-masing alelnya. 19 5

6 Kelompok familial tidak sesuai ke dalam salah satu dari dominantly inherited syndromes diatas (FAP dan HNPCC) dan lebih dari 35 % terjadi pada umur muda. Meskipun kelompok familial dari kanker kolon dan rektum dapat terjadi karena kebetulan saja, ada kemungkinan peran dari faktor lingkungan, penetrasi mutasi yang lemah atau mutasi-mutasi pada germinativum yang sedang berlangsung. 19 Berbagai polip kolon dapat berdegenerasi maligna dan setiap polip kolon harus dicurigai. Radang kronik kolon seperti kolitis ulserosa atau kolitis amuba kronik juga berisiko tinggi. Faktor genetik kadang berperan walaupun jarang. 19 Peran kekurangan serat dan sayur hijau serta kelebihan lemak hewani dalam diet tidak jelas merupakan faktor risiko karsinoma kolorektal. 19 Terdapat 2 model utama perjalanan perkembangan kanker kolon dan rektum (karsinogenesis) yaitu LOH (Loss of Heterozygocity) dan RER (Replication Error) Model LOH mencakup mutasi tumor gen supressor, meliputi gen APC, DCC, dan p 53 serta aktifasi onkogen yaitu K-ras. Contoh dari model ini adalah perkembangan polip adenoma menjadi karsinoma (Adenoma Carcinoma Sequence). Sementara model RER karena adanya mutasi gen h MSH2, h MLH2, h PMS1, h PMS2. Model terakhir ini seperti pada HNPCC. Pada bentuk sporadik, 80 % b erkembang leawat model RER. Diagnosis karsinoma kolorektal ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik pasien, colok dubur, rektosigmoidoskopi serta foto polos kolon-rektum dengan kontras ganda. Menurut penelitian eksperimental randomisasi di Inggris, satu kali

7 skrining sigmoid-oskopi fleksibel yang dilakukan pada usia 55-64 tahun mengurangi kejadian karsinoma kolorektal sebesar 33% dan mortalitas sebesar 43%. 19 2.1.1.2.LETAK Sekitar 70-75% karsinoma kolon dan rektum dan sigmoid. Keadaan ini sesuaai dengan lokasi polip kolitis ulserosa, dan kolitis amuba kronik. 19 Letak Persentase Sekum dan kolon asendens 10 Kolon transversum termasuk 10 fleksura hepar dan lien Kolon desendens 5 Rektosigmoid 75 Tabel 2. Letak Karsinoma Kolorektal 2.1.1.3.PATOLOGI Secara makroskopis terdapat tiga tipe karsinoma kolon dan rektum. Tipe polipoid atau vegetatif tumbuh menonjol ke dalam lumen usus dan berbentuk bunga kol ditemukan terutama di sekum dan kolon asendens. Tipe skirus mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis dan gejala obstruksi, terutama ditemukan di kolon desendens, sigmoid, dan rektum. Bentuk ulseratif terjadi karena nekrosis di bagaian sentral terdaoat di rektum. Pada tahap lanjut sebagian besar karsinoma kolon mengalami ulserasi menjadi tukak maligna. 19

8 2.1.1.4.KLASIFIKASI TUMOR Derajat keganasan karsinoma kolon dan rektum berdasarkan gambaran histologi dibagi menurut klasifikasi Dukes. Klasifikasi Dukes dibagi berdasarkan dalamnya infiltrasi karsinoma di dinding usus. 19 Dukes A B C C1 C2 Dalamnya Infiltrasi Terbatas di dinding usus Menembus lapisan muskularis mukosa Metastasis ke kelenjar limfe Beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer Prognosis hidup selama 5 tahun 97% 80% 65% 35%

9 Dalam kelenjar limfe jauh D jauh Metastasis <5% Tabel 3. Kriteria Dukes 2.1.1.5.METASTASIS Karsinoma kolon dan rektum mulai berkembang pada mukosa dan bertumbuh sambil menembus dinding dan memperluas secara sirkuler ke arah oral dan aboral. Di daerah rektum penyebaran ke arah anal jarang melebihi dua sentimeter. Penyebaran per kontinuitatum menembus jaringan sekitar atau organ sekitarnya misa ureter, bulibuli, uterus, vagina, dan prostat. Penyebaran hematogen terutama ke hati. Penyebaran peritoneal mengakibatkan peritonitis karsinomatosa dengan atau tanpa asites. Metastase ke otak sangat jarang, dikarenakan jalur limfatik dan vena dari rektum menuju vena cava inferior, maka metastase kanker rektum lebih sering muncul pertama kali di paru-paru. 19 Lokasi Pinggir kolon Tingkat N1,N2

10 Pada arteri N2,N3 A. ileokolika A. kolika kanan A. kolika media A. kolika kiri A. sigmoidea Pangkal arteri utama N3 A. mesenterika superior A. mesenterika inferior Tabel 4. Tingkat Penyebaran Kanker 2.1.1.6.GAMBARAN KLINIK Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan dengan suplai darah yang diterima. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (caecum, kolon ascendens dan duapertiga proksimal kolon transversum), dan arteri mesenterika inferior yang memperdarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum, kolon descendens dan sigmoid, dan bagian proksimal rektum). 1 Tanda dan gejala dari kanker kolon sangat bervariasi dan tidak spesifik. 2 Keluhan utama pasien dengan kanker kolorektal berhubungan dengan besar dan lokasi dari tumor. Tumor yang berada pada kolon kanan, dimana isi kolon berupa cairan, cenderung tetap tersamar hingga lanjut sekali. Sedikit kecenderungan menyebabkan obstruksi

11 karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Gejala klinis sering berupa rasa penuh, nyeri abdomen, perdarahan dan symptomatic anemia (menyebabkan kelemahan, pusing dan penurunan berat badan). Tumor yang berada pada kolon kiri cenderung mengakibatkan perubahan pola defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks, perdarahan, mengecilnya ukuran feses, dan konstipasi karena lesi kolon kiri yang cenderung melingkar mengakibatkan obstruksi. 1,3 Gejala yang biasa timbul akibat manifestasi klinik dari karsinoma kolorektal dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Gejala subakut Tumor yang berada di kolon kanan seringkali tidak menyebabkan perubahan pada pola buang air besar (meskipun besar). Tumor yang memproduksi mukus dapat menyebabkan diare. Pasien mungkin memperhatikan perubahan warna feses menjadi gelap, tetapi tumor seringkali menyebabkan perdarahan samar yang tidak disadari oleh pasien. Kehilangan darah dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Ketika seorang wanita post menopouse atau seorang pria dewasa mengalami anemia defisiensi besi, maka kemungkinan kanker kolon harus dipikirkan dan pemeriksaan yang tepat harus dilakukan. Karena perdarahan yang disebabkan oleh tumor biasanya bersifat intermitten, hasil negatif dari tes occult blood tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya kanker kolon. Sakit perut bagian bawah biasanya berhubungan dengan tumor yang berada pada kolon kiri, yang mereda setelah buang air besar. Pasien ini biasanya menyadari adanya perubahan pada pola buang air besar serta adanya

12 darah yang berwarna merah keluar bersamaan dengan buang air besar. Gejala lain yang jarang adalah penurunan berat badan dan demam. Meskipun kemungkinannya kecil tetapi kanker kolon dapat menjadi tempat utama intususepsi, sehingga jika ditemukan orang dewasa yang mempunyai gejala obstruksi total atau parsial dengan intususepsi, kolonoskopi dan double kontras barium enema harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker kolon. 2 2. Gejala akut Gejala akut dari pasien biasanya adalah obstruksi atau perforasi, sehingga jika ditemukan pasien usia lanjut dengan gejala obstruksi, maka kemungkinan besar penyebabnya adalah kanker. Obstruksi total muncul pada < 10% pasien dengan kanker kolon, tetapi hal ini adalah sebuah keadaan darurat yang membutuhkan penegakan diagnosis secara cepat dan penanganan bedah. Pasien dengan total obstruksi mungkin mengeluh tidak bisa flatus atau buang air besar, kram perut dan perut yang menegang. Jika obstruksi tersebut tidak mendapat terapi maka akan terjadi iskemia dan nekrosis kolon, lebih jauh lagi nekrosis akan menyebabkan peritonitis dan sepsis. Perforasi juga dapat terjadi pada tumor primer, dan hal ini dapat disalah artikan sebagai akut divertikulosis. Perforasi juga bisa terjadi pada vesika urinaria atau vagina dan dapat menunjukkan tanda tanda pneumaturia dan fecaluria. Metastasis ke hepar dapat menyebabkan pruritus dan jaundice, dan yang sangat disayangkan hal ini biasanya merupakan gejala pertama kali yang muncul dari kanker kolon. 2

13 2.1.1.7. DIAGNOSIS 2.1.1.7.1. Biopsi Konfirmasi adanya malignansi dengan pemeriksaan biopsi sangat penting. Jika terdapat sebuah obstruksi sehingga tidak memungkinkan dilakukannya biopsi maka sikatt sitologi akan sangat berguna. Pada penelitian mengenai gambaran histologi KKR dari tahun 1998-2001 di Amerika Serikat yang melibatkan 522.630 kasus KKR. Didapatkan gambaran sebesar 96% adenokarsinoma, 2% karsinoma lainnya (termasuk karsinoid tumor), 0,4% epidermoid karsinoma, dan 0,08% sarkoma. 2 2.1.1.7.2. Pemeriksaan Rektum Digitalis Pada pemeriksaan ini dapat dipalpasi dinding lateral, posterior, dan anterior; serta spina iskiadika, sakrum dan coccygeus dapat diraba dengan mudah. Metastasis intraperitoneal dapat teraba pada bagian anterior rektum dimana sesuai dengan posisi anatomis kantong douglas sebagai akibat infiltrasi sel neoplastik. Meskipun 10 cm merupakan batas eksplorasi jari yang mungkin dilakukan, namun telah lama diketahui bahwa 50% dari kanker kolon dapat dijangkau oleh jari, sehingga Rectal examination merupakan cara yang baik untuk mendiagnosa kanker kolon yang tidak dapat begitu saja diabaikan. 2 2.1.1.7.3. Kolonoskopi Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh mukosa kolon dan rectum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat mencapai 160 cm. Kolonoskopi merupakan cara yang paling akurat untuk

14 dapat menunjukkan polip dengan ukuran kurang dari 1 cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi sebesar 94%, lebih baik daripada barium enema yang keakuratannya hanya sebesar 67%. 3 Sebuah kolonoskopi juga dapat digunakan untuk biopsi, polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi dari striktur. Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana komplikasi utama (perdarahan, komplikasi anestesi dan perforasi) hanya muncul kurang dari 0,2% pada pasien. Kolonoskopi merupakan cara yang sangat berguna untuk mendiagnosis dan manajemen dari inflammatory bowel disease, non akut divertikulitis, sigmoid volvulus, gastrointestinal bleeding, megakolon non toksik, striktur kolon dan neoplasma. Komplikasi lebih sering terjadi pada kolonoskopi terapi daripada diagnostik kolonoskopi, perdarahan merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik, sedangkan perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi diagnostik. 2 2.1.1.7.4. Carcinoembrionic Antigen (CEA) CEA adalah sebuah glikoprotein yang terdapat pada permukaan sel yang masuk ke dalam peredaran darah, dan digunakan sebagai marker serologi untuk memonitor status kanker kolorektal dan untuk mendeteksi rekurensi dini dan metastase ke hepar. CEA terlalu insensitif dan nonspesifik untuk bisa digunakan sebagai screening kanker kolorektal. Meningkatnya nilai CEA serum, bagaimanapun berhubungan dengan beberapa parameter. Tingginya nilai CEA berhubungan dengan tumor grade 1 dan 2, stadium lanjut dari penyakit dan kehadiran metastase ke organ dalam. Meskipun konsentrasi CEA

15 serum merupakan faktor prognostik independen. Nilai CEA serum baru dapat dikatakan bermakna pada monitoring berkelanjutan setelah pembedahan. 2 Meskipun keterbatasan spesifitas dan sensifitas dari tes CEA, namun tes ini sering diusulkan untuk mengenali adanya rekurensi dini. Tes CEA sebelum operasi sangat berguna sebagai faktor prognosa dan apakah tumor primer berhubungan dengan meningkatnya nilai CEA. Peningkatan nilai CEA preoperatif berguna untuk identifikasi awal dari metatase karena sel tumor yang bermetastase sering mengakibatkan naiknya nilai CEA. 3 2.1.1.7.5. CA 19-9 Merupakan penanda tumor (tumor marker). Selain itu digunakan untuk diagnosis kanker pankreas, membantu membedakan kanker pankreas dan saluran empedu, serta kondisi non kanker seperti pankreatitis. 2 2.1.1.7.6. Imaging Teknik MRI, CT-Scan, transrectal ultrasound merupakan bagian dari teknik pencitraan yang digunakan untuk evaluasi, stadium, dan tindak lanjut pasien dengan KKR. 2 2.1.2. OBESITAS, HIPERTENSI, DAN HIPERGLIKEMIA 2.1.2.1.DEFINISI DAN KRITERIA Berdasarkan the National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III), seseorang dengan memiliki kriteria berikut: 1). Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria > 102 cm);

16 2). Peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik 130 mmhg, tekanan darah diastolik 85 mmhg atau sedang memakai obat anti hipertensi); 3). Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa 110 mg/dl, atau 6,10 mmol/ L atau sedang memakai obat anti diabetes). 11,15 Selain kriteria berdasarkan NCEP-ATP III diatas masih ada beberapa kriteria untuk definisi obesitas, hipertensi, dan hiperglikemia antara lain; kriteria World Health Organization (WHO), kriteria International Diabetes Federation (IDF), The Universitas Sumatera UtaraAmerican Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute (AHA/NHLBI), saat ini kriteria NCEP-ATP III telah banyak diterima secara luas. 11 2.1.2.2.KRITERIA DIAGNOSTIK LAIN DARI OBESITAS, HIPERTENSI, DAN HIPERGLIKEMIA Unsur Sindroma Metabolik Hipertensi Obesitas NCEP ATP III WHO AHA IDF Dalam pengobatan anti hipertensi atau TD 130/85 Lingkar pinggang L >102 cm, P>88cm Dalam pengobatan antihipertensi atau TD 140/90 mmhg IMT > 30 kg/m2 dan atau rasio perut-pinggul L >0,90; P>0,85 Dalam pengobatan antihipertensi atau TD 130/85 mmhg Lingkar pinggang L >102 cm, P>88cm Dalam pengobatan antihipertensi atau TD 130/85 mmhg Obesitas sentral (lingkar perut) Asia:L>90 cm P>80 cm (nilai tergantung etnis) Gangguan Metabolisme Glukosa GD puasa 110 mg/dl DM tipe 2 atau TGT GD puasa 100 mg/dl GD puasa 100 mg/dl atau diagnosis DM tipe 2

17 Tabel 5. Kriteria Diagnostik Obesitas, Hipertensi, dan Hiperglikemia 2.1.3. HUBUNGAN OBESITAS, HIPERTENSI, DAN HIPERGLIKEMIA DENGAN KEJADIAN KARSINOMA KOLOREKTAL Obesitas, hipertensi, dan hiperglikemia sangat berkaitan dengan resistensi insulin sehingga menimbulkan hiperinsulinemia, insulin menstimulasi sintesis glikogen di hati. Namun, bila jumlah glikogen dalam hepar sudah tinggi (sekitar 5% dari massa hati), sintesis lebih lanjut sangat ditekan. Ketika hepar sudah jenuh dengan glikogen, setiap tambahan glukosa diambil oleh hepatosit dan didorong ke jalur yang mengarah ke sintesis asam lemak, yang diekspor dari hati sebagai lipoprotein. Lipoprotein yang pecah di dalam sirkulasi, memberikan asam lemak bebas untuk digunakan dalam jaringan lain, termasuk sel lemak, yang menggunakannya untuk mensintesis trigliserida. Insulin memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel lemak, dan di dalam sel-sel, glukosa dapat digunakan untuk mensintesis gliserol. Gliserol ini, bersama dengan asam lemak disampaikan dari hati, digunakan untuk mensintesis trigliserida dalam adiposit. Dengan mekanisme ini, insulin terlibat dalam akumulasi trigliserida dalam sel lemak. Jadi kondisi hipertriglisemia merupakan tanda dari hiperinsulinemi. 4 Selanjutnya kondisi hiperinsulinemi ini yang akan memicu tumbuhnya sel-sel kanker di epitel kolorektal. Mekanisme insulin adalah bahwa sebagai hormon pertumbuhan insulin mempengaruhi pertumbuhan epitel sel neoplastik dan memiliki aksi mitogenik in vitro di penelitian eksperimental, baik secara langsung atau tidak langsung melalui IGF-1. Insulin pada konsentrasi tinggi dapat mengikat reseptor IGF-1 (IGF1Rs) atau dapat meningkatkan

18 biosintesis IGF-1 secara langsung, meningkatkan bioavailabilitas IGF-1 dan menghambat produksi IGFBP-1, IGFBP-2 dan IGFBP-3. 5 IGF-1 merupakan mitogen penting yang dibutuhkan untuk perkembangan melalui siklus sel dan memiliki autokrin, parakrin dan endokrin tindakan pada proliferasi sel dan apoptosis, meningkatkan risiko selular transformasi dengan meningkatkan pergantian sel. 6 Selain itu, IGF-1 meningkatkan produksi faktor angiogenik yang dapat mendukung pertumbuhan kanker, termasuk KKR yakni vascular endotel growth factor (VEGF). kehilangan IGFBP-3 dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan adenoma kolon yang mempertahankan fungsi wild type p53 melalui penekanan sinyal apoptosis p53-dependent, yang memungkinkan pola hidup sel menyimpang dan membentuk tumor. 5 Sehingga secara tidak langsung dapat dikatakan mekanisme insulin sebagai prekursor tumbuhnya tumor bisa dijelaskan melalui sebuah teori bahwa insulin adalah suatu hormon pertumbuhan yang mempunyai efek merangsang proliferasi dan antiapoptotik. 2.1.4. FAKTOR RISIKO LAIN PENYEBAB KARSINOMA KOLOREKTAL 2.1.4.1. HEREDITER KKR secara herediter terjadi karena mutasi germline pada gen protein MMR (Mismatch Repair) yang menyebabkan kerusakan DNA repair dan timbulnya tumor. Sebagai pertanda adalah naiknya kadar MSI-H (Microsatellites Instability-High) 2.1.4.2. KADAR TRIGLISERIDA SERUM Mekanisme biologi yang diduga menjadikan TGS menjadi faktor risiko dari KKR dibagi menjadi 2, yaitu:

19 Pertama, lemak meningkatkan pertumbuhan dan jumlah kuman anaerobik pada kolon (clostridium dan bakteriodes) yang bekerja pada lemak dan cairan empedu sehingga meningkatkan kadar asam lemak (yang sebagian besar berupa trigliserida) dan cairan empedu sekunder pada kolon. Diketahui bahwa asam lemak maupun asam empedu memulai aktivitas replikasi dan secara periodik dan simultan berperan sebagai promotor bahan lain yang potesial karsinogenik. 7 Patogenesis Kedua adalah diperkirakan bahwa TGS yang merupakan salah satu bagian dari sindrom metabolik atau Sindroma Resistensi Insulin (SRI). Menurut American Heart Association and the National Heart, Lung, and Blood Institute, Sindroma metabolik terdiri dari: - obesitas, - kadar TGS yang meningkat (>150 mg/dl), - kadar HDL yang turun (<40 mg/dl pada pria, dan <50mg/dL pada wanita), - meningkatnya tekanan darah (sistolik >130 mmhg, diastolik >85 mmhg) - Kadar Gula darah puasa (GDP) 100 mg/dl 8 Sindrom metabolik sangat berkaitan dengan resistensi insulin sehingga menimbulkan hiperinsulinemia yang mana telah dijelaskan di awal sebagai faktor risiko terjadinya karsinoma kolorektal. 2.1.4.3. AKTIVITAS FISIK Aktivitas fisik dapat menyebabkan IMT meningkat dan IMT yang meningkat dapat menyebabkan risiko KKR. 9, 10 Beberapa mekanisme biologi yang menjelaskan bahwa aktivitas fisik yang tinggi bisa menurunkan prevalensi KKR adalah sebagai berikut :

20 Mempercepat waktu transit feses di rektum. Hal ini bisa memperpendek pajanan zat-zat karsinogen Aktifitas fisik dapat meningkatkan produksi prostaglandin F2 α yang meningkatkan motilitas usus Aktifitas fisik juga dapat menurunkan kadar prostaglandin E yang dapat menghambat proliferasi epitel kolorektal. 2.1.4.4. DIET Diet kurang serat dan tinggi karbohidrat memperlambat waktu pengosongan usus, itu berarti mengurangi proses dilusi dan menambah pemekatan bahan-bahan karsinogenik dan menjadikan feses bervolume lebih kecil. 13,14 Selanjutnya juga, diet kurang serat sering diakibatkan oleh kurangnya konsumsi buah dan sayur yang banyak mengandung vitamin C, E dan karoten yang dapat meningkatkan fungsi kolon, diduga memiliki efek anti kanker dan bersifat protektif. 9,13,14 2.1.4.5. IBD Beberapa penyakit yang termasuk IBD yaitu penyakit Chron s dan colitis ulcerative juga mempunyai pengaruh besar terjadinya KKR. Proses perubahan sel (displasia), inflamasi kronik dan perubahan molekuler pada penyakitpenyakit tersebut berpredisposisi akan terjadinya neoplasia kolorektal. 16

21 2.1.5. HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN KARSINOMA KOLOREKTAL 2.1.5.1. HUBUNGAN KARAKTERISTIK USIA Usia adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah.patomekanisme usia dapat menyebabkan KKR diduga antara lain adalah: 1. Mutasi DNA sel penyusun dinding kolon terakumulasi sejalan dengan bertambahnya umur. 2. Penurunan fungsi sistem kekebalan dan bertambahnya asupan agen-agen karsinogenik. 14 2.1.5.2. HUBUNGAN KARAKTERISTIK JENIS KELAMIN Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa risiko untuk karsinoma kolorektal meningkat dengan usia, dan prevalensi karsinoma kolorektal menunjukkan pada semua kelompok umur lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita. Dalam setiap kelompok umur, prevalensi hingga dua kali lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita. Mekanisme yang menyebabkan jenis kelamin menjadi bagian dari faktor risiko KKR adalah diduga ditemukan perbedaan daya terima reseptor androgen, estrogen dan progesterone di sel KKR dan sel normal. 31

22 2.2.KERANGKA TEORI Karsinoma Kolorektal Non sindroma metabolik Sindroma metabolik Karakteristik Usia dan Jenis Kelamin IBD Herediter IMT naik karena rendahnya aktifitas fisik Hipertensi Hipertriglisedimia TGT terganggu HDL rendah Inflamasi Kronik,perubahan sel (displasia), Kerusakan DNA repair sebagai tanda nya adalah kadar MSI-H naik Gambar 1. Kerangka Teori Daftar singkatan : KKR : Karsinoma Kolorektal MSI-H : Microsatellites Instability-High IBD : Inflammatory Bowel Disease

23 2.3.KERANGKA KONSEP 1. Hipertensi 2. Obesitas 3. Hiperglikemia 4. Karakteristik Usia dan Jenis Kelamin KKR Gambar 2. Kerangka Konsep 2.4.HIPOTESIS Obesitas, hipertensi, dan hiperglikemia berhubungan dengan risiko kejadian karsinoma kolorektal

24