by : Muhammad Alfi* Helfia Edial** Afrital Rezki**

dokumen-dokumen yang mirip
JURNAL KESIAPAN KELOMPOK SIAGA BENCANA SMA DI WILAYAH ZONA MERAH DI KOTA PADANG DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI

BAB 1 : PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. strategis secara geografis dimana letaknya berada diantara Australia dan benua Asia

Jurnal Geografi Media Infromasi Pengembangan Ilmu dan Profesi Kegeografian

BAB 1 : PENDAHULUAN. Samudera Pasifik yang bergerak kearah barat-barat laut dengan kecepatan sekitar 10

PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG INFRASTRUKTUR DI KELURAHAN ANDURING KOTA PADANG JURNAL

MANAJEMEN BENCANA PENGERTIAN - PENGERTIAN. Definisi Bencana (disaster) DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan

BAB I PENDAHULUAN. hidrologis dan demografis, merupakan wilayah yang tergolong rawan bencana,

Jurnal Ilmu Kebencanaan (JIKA) ISSN Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 7 Pages pp

KESIAPSIAGAAN KOMUNITAS SEKOLAH UNTUK MENGANTISIPASI BENCANA ALAM DI KOTA BENGKULU LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (LIPI), 2006 BENCANA ALAM

Tingkat Pengetahuan Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Bencana Gempa Dan Tsunami Di Kota Pariaman Oleh: Engla Marfadila* Dedi Hermon**Elvi Zuriyeni**

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERKUAT MITIGASI, SADAR EVAKUASI MANDIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI

MITIGASI BENCANA TSUNAMI DI KOTA PADANG JURNAL. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S1) OKTAVIA

BAB 1 : PENDAHULUAN. Berdasarkan data dunia yang dihimpun oleh WHO, pada 10 dekade terakhir ini,

MITIGASI BENCANA ALAM TSUNAMI BAGI KOMUNITAS SDN 1 LENDAH KULON PROGO. Oleh: Yusman Wiyatmo ABSTRAK

BAB I LATAR BELAKANG. negara yang paling rawan bencana alam di dunia (United Nations International Stategy

menyiratkan secara jelas tentang perubahan paradigma penanggulangan bencana dari

KERENTANAN (VULNERABILITY)

BAB 1 PENDAHULUAN. Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang

BAB I PENDAHULUAN. terletakm pada 3 pertemuan lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Euro-Asia

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sarat akan potensi bencana gempa bumi

BAB I PENDAHULUAN. pada tahun 2004 yang melanda Aceh dan sekitarnya. Menurut U.S. Geological

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL 7.1

MITIGASI BENCANA BENCANA :

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 7. MENGANALISIS MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAMLATIHAN SOAL BAB 7

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Australia dan Lempeng Pasifik (gambar 1.1). Pertemuan dan pergerakan 3

PERSEPSI MASYARAKAT DESA PEMEKARAN DALAM PROSES PELAYANAN PUBLIK DI KECAMATAN LIRIK KABUPATEN INDRAGIRI HULU ARTIKEL

BAB I PENDAHULUAN. letaknya berada pada pertemuan lempeng Indo Australia dan Euro Asia di

2016 KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BENCANA KEBAKARAN PADA PERMUKIMAN PADAT PENDUDUK DI KECAMATAN BOJONGLOA KALER

KAJIAN KAPASITAS MASYARAKAT DALAM UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS KOMUNITAS DI KECAMATAN KOTAGEDE KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2016

PELATIHAN TEKNIK PENYELAMATAN DIRI DARI DAMPAK BENCANA ALAM GEMPABUMI BAGI KOMUNITAS SLB B KARNNA MANOHARA YOGYAKARTA

STUDI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PASCA GEMPA TAHUN 2010 DI DESA SAUMANGANYA KECAMATAN PAGAI UTARA KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

BAB I PENDAHULUAN. bahaya gempabumi cukup tinggi. Tingginya ancaman gempabumi di Kabupaten

BAB 1 : PENDAHULUAN. bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Ring of fire ini yang menjelaskan adanya

Edu Geography 5 (2) (2017) Edu Geography.

BAB I PENDAHULUAN. Tahun demi tahun negeri ini tidak lepas dari bencana. Indonesia sangat

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak diantara pertemuan Lempeng Eurasia dibagian utara,

PENDAHULUAN Latar Belakang

PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. Artinya, bagaimana partisipasi/keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

TINGKAT PENGETAHUAN SISWA KELAS X TERHADAP KESIAPSIAGAAN BENCANA GEMPA BUMI DI SMK TUNAS BANGSA KABUPATEN SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI

PELATIHAN TEKNIK MITIGASI BENCANA GEMPABUMI BAGI KOMUNITAS SMPN 2 BANTUL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

xvii Damage, Loss and Preliminary Needs Assessment Ringkasan Eksekutif

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN RUMAH DI NAGARI KOTO BARU KECAMATAN LUHAK NAN DUO KABUPATEN PASAMAN BARAT JURNAL

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA

MUARALABUH SERVICES MARKET AREA BEFORE AND AFTER MOVED LOCATIONS IN SUNGAI PAGU SUB DISTRICT SOLOK SOUTH RIVER by:

BAB 1 PENDAHULUAN. Bencana adalah sebuah fenomena akibat dari perubahan ekosistem yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH PELATIHAN PROGRAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA (PRB) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SD NEGERI 3 TANGSE DALAM MENGHADAPI GEMPA BUMI

PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK

illryw Elvi Zuriyani,lV.Si s':

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Imam A. Sadisun Pusat Mitigasi Bencana - Institut Teknologi Bandung (PMB ITB) KK Geologi Terapan - Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian - ITB

PELATIHAN MITIGASI BENCANA KEPADA ANAK ANAK USIA DINI

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mempunyai

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 4 TAHUN 2016 SERI D.4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI dan BUPATI BANYUWANGI MEMUTUSKAN:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA KEDIRI

BAB 1 : PENDAHULUAN. mencapai 50 derajat celcius yang menewaskan orang akibat dehidrasi. (3) Badai

BAB 1 : PENDAHULUAN. faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia, sehingga

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia akhir-akhir ini. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2014 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

BAB I PEDAHULUAN. yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non alam maupun. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 ).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Powered by TCPDF (

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU (IKI) BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN KENDAL

MATRIKS SANDINGAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA 1 BNPB KEMENDAGRI KEMENSOS CATATAN. Pemerintahan Daerah

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang secara geografis, geologis,

OLEH : KHAIRUN NISAQ NPM

BAB I PENDAHULUAN. termasuk wilayah pacific ring of fire (deretan Gunung berapi Pasifik), juga

menyatakan bahwa Kabupaten Klaten memiliki karakter wilayah yang rentan terhadap bencana, dan salah satu bencana yang terjadi adalah gempa bumi.

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kerusakan. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan bumi yang

ANALYSIS INCOME OF PAPAYA CALIFORNIA IN NAGARI KAPELGAM KOTO BERAPAK KECAMATAN BAYANG DISTRICT COASTAL PESISIR.

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Wates, 2 Maret Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita sekalian.

BAB I PENDAHULUAN. lempeng raksasa, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan

BAB I PENDAHULUAN. empat lempeng raksasa, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Hindia-Australia,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sabuk Gempa Pasifik, atau dikenal juga dengan Cincin Api (Ring

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

Community Preparedness In Mitigation of Earthquake And Tsunami Along The Coast Of Pariaman by : Muhammad Alfi* Helfia Edial** Afrital Rezki** *Geography Education Departmen Of STKIP PGRI Sumatera Barat ** Lecturer at Geography Education Department Of STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT This study aimed to get the data, process, analyze and discuss about Community Preparedness In Mitigation of Earthquake And TsunamiAlong The Coast Of Pariaman seen from: Knowledge and Vulnerabilities. This type of research is descriptive. The study population is a village located along the coast city of Pariaman, there are three (3) villages the population in this study are : Desa Pasir Sunur, Desa Marunggi and Desa Manggung. Total population of the three villages is 1170 KK ( Head of Family). The sample of responden was taken by proportional random sampling of 10% of the population so that the respondent amounted to 117 people. Results of this study explains that : (1) Knowledge communities in coastal areas Pariaman about mitigating earthquake and tsunami classified as less knowing, which can be seen from the percentage value of 50,00% (2) the vulnerability of the coastal region of Pariaman face earthquake and tsunami classified as High, which can be seen in the percentage of 50,00%. Keywords: Knowledge, vulnerability and Mitigation 1

PENDAHULUAN Bencana gempa dan tsunami merupakan ancaman terbesar bagi negara Indonesia yang terletak pada zona subduksi tiga lempeng aktif dunia.tiga lempeng itu terus aktif dengan tingkat kegempaan yang cukup tinggi.indonesia seperti mendapatkan berkah sekaligus ancaman dari posisi yang berada di jalur aktif pergerakan tiga lempeng dunia.berkah yang di dapat Indonesia membentang di seluruh kawasan yang merupakan potensi besar untuk menopang perekonomian negara. Tahun 2009 tepatnya pada tanggal 30 September kembali terjadi gempa yang berpusat di Barat Daya Kota Pariaman, yang meninggalkan penderitaan bagi masyarakat. Penderitaan yang disebabkan oleh bencana tersebut adalah jatuhnya korban jiwa dan hancurnya lingkungan fisik termasuk rumah dan fasilitas umum yang berdampak pada kerugian ekonomi dan sosial (BNPB, 2009) Setelah dilakukan observasi awal pada lokasi penelitian pada tanggal 10 Maret 2014 didapatkan kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan masyarakatmengenai mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami sangatlah rendah.ini di sebabkan kurangnya mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami yang dilakukan oleh pemerintah kepada penduduk yang berada di sekitar pesisir pantai Kota Pariaman. Astuti, (2007) Selain itu Kesiapsiagaan masyarakat di kawasan pesisir pantai juga sangat rendah.ini dapat dilihat dari kurangnya kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat guna.kesiapsiagaan ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian tata benda dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. Untuk itu harus ada upaya kesiapsiagaan yang dilakukan di kawasan pesisir pantai Kota Pariaman ketika bencana mulai teridentifikasi akan terjadi, kegiatan yang dilakukan antara lain : 1. Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur pendukungnya. 2. Pelatihan siaga / simulasi / teknis bagi setiap sektor Penanggulangan bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana dan pekerjaan umum). 3. Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan 4. Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumber daya/logistik. 5. Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu guna mendukung tugas kebencanaan. 6. Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini (early warning). 7. Mobilisasi sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan). Pasca gempa tahun 2009 mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami baru satu kali dilakukan diakhir tahun 2012.Tentu saja ini tidaklah cukup mampu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.kurangnya peringatan dini mengenai bencana atau mitigasi dapat dilihat dari jumlah korban yang meninggal akibat terkena reruntuhan bangunan yang terjadi ketika gempa terjadi.tentunya mitigasi bencana sanagtlah penting untuk mengurangi korban ketika bencana terjadi. Kota Pariaman merupakan kota yang membentang mengikuti pesisir pantai. Mengingat kejadian bencana yang sering terjadi dikawasan pesisir yang sangat bekaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya, maka menjadi sangat penting harusnya ada tindakan mitigasi mengenai bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan pesisir pantai. Selain itu jika masyarakat mengetahui bagaimana langkah-langkah mitigasi yang baik dan benar maka tentunya akan mengurangi resiko bencana (kematian yang besar dalam suatu bencana). Upaya mengurangi resiko bencana menjadi sebuah tindakan nyata yang dapat mengatasi kerentanan masyarakat sehingga kedepannya menjadi lebih siap untuk menghadapi kemungkinan bencana yang akan terjadi. Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian mengenai Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Mitigasi Gempa dan Tsunami di Sepanjang Pesisir Pantai Kota Pariaman. 2

METODOLOGI PENELITIAN Sesuai dengan batasan masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian seperti yang telah dijelaskan terdahulu, maka penelitian ini tergolong penelitian Deskriptif. Menurut Sudjana dan Ibrahim (2007) penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terhadap pada saat sekarang. Dengan kata lain, penelitian deskriptif mengambil masalah-masalah aktual sebagai mana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertama, dari hasil penelitian tentang pengetahuan masyarakat di kawasan pesisir pantai mengenai mitigasi gempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir pantai Kota Pariaman dilihat dari tingkat pengetahuan masyarakatnya tergolong kurang mempengaruhi, dimana persentase menjawab tertinggi sebesar 50,00%. Kesiapsiagaan dan pengetahuan masyarakat di kawasan pesisir pantai Kota Pariaman dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami sudah tergolong cukup karena sebagian dari mereka sudah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi dengan cara menyelamatkan diri melalui jalur-jalur evakuasi yang sudah di arahkan oleh BPBD Kota Pariaman. Selain itu kesiapan mental, tidak panik dan ketakawaan kepada sang pencipta merupakan hal yang paling mendasar yang ada dan diyakini oleh masyarakat ketika menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. Selain itu pada umunya masyarakat mengetahui apa itu bencana gempa bumi dan tsunami, tetapi masyarakat hanya sedikit yang mengetahui bagimana cara mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. Ini yang ditakutkan nantinya akan menimbulkan resiko bencana yang besar ketika bencana terjadi. Hal ini sesuai dengan pendapat Taufik (2007) tentang pengetahuan yang menyatakan pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang tehadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan lain sebagainya).jadi, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah ingatan tentang sesuatu yang diketahui, dikenal atau yang di pahami melalui pengalaman belajar. Kedua, dari hasil penelitian tentang kerentanan masyarakat dikawasan pesisir pantai menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir pantai Kota Pariaman dilihat dari tingkat kerentanan masyarakatnya tergolong tinggi, dimana persentase menjawab tertinggi sebesar 50,00%. Hasil penelitian diatas menunjukan tingkat kerentanan masyarakat dikawasan pesisir pantai Kota Pariaman tergolong tinggi akan tetapi sebagian besar masyarakat ada yang menyimpan uangnya untuk keperluan ketikan terdesak seperti untuk keperluan ketika bencana gempa bumi dan tsunami terjadi mereka ada mempunyai bekal untuk bertahan hidup. Hal ini sesuai dengan peraturan BPBD Tahun (2007) yang menyatakan bahwa Kerentanan merupakan suatu kondisi yang menurunkan kemampuan seseorang atau komunitas masyarakat untuk menyiapkan diri, bertahan hidup atau merespon potensi bahaya. Kerentanan masyarakat secara kultur dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kemiskinan, pendidikan, sosial dan budaya. Selanjutnya aspek infrastruktur yang juga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kerentanan. KESIMPULAN DAN SARAN Sesuai dengan deskripsi data, analisis dan pembahasan hasil penelitian maka dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengetahuan masyarakat di kawasan pesisir pantai mengenai mitigasigempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir pantai Kota Pariamanmasih tergolong kurang mempengaruhi, dimana persentase menjawab tertinggi sebesar 50,00%. 2. Tingkat kerentanan masyarakat dikawasan pesisir pantai menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir pantai Kota Pariaman tergolong tinggi, dimana persentase menjawab tertinggi sebesar 50,00%. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mencoba memberikan saran sebagai berikut: 3

1. Masyarakat di kawasan pesisir pantai Kota Pariaman hendaknya lebih banyak mengetahui bagaimana cara mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami dengan cara mau mengikuti sosialisasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah terkait seperti BPBD agar nanti ketika bencana terjadi tidak terjadi kepanikan dan mampu mengurangi resiko bencana seminimal mungkin. 2. Kondisi kerentanan masyarakat pesisir pantai di Kota Pariaman mempengaruhi bagaimana kondisi dan keadaan masyarakat ketika terjadi bencana yang tentunya akan menyebabkan kerentanan pada masyarakat, tentunya ini harus disikapi dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat dalam rangka membangun ekonomi dan infrastruktur di kawasan 84 pesisir pantai. DAFTAR PUSATAKA Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Penelitian Praktik, Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta Astuti, (2007). peningkatan Pemahaman Masyarakat Mengenai Mitigasi Dalam Penanganan Gempa Bumi di Indonesia. Skripsi, (Universitas Negeri Yogyakarta). Diakses, Senen, 26 Januari 2014. BMKG, (2009).Informasi Gempa Tahun 2009 di Kota Pariaman. Artikel: Negara RI. Diakses Rabu 28 Januari 2015. BNPB.(2009). Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (2).Diakses, Senin 2 Februari 2015. BPBD, (2007). Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (2).Diakses, Senin 2 Februari 2015. Indra, (2005). Peningkatan Pemahaman Masyarakat Mengenai Karakteristik Daerah Potensi Bencana Alam Indonesia. (Depok: Universitas Indonesia). Diakses Minggu 15 Maret 2015. Permendagri Nomor 33 Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana.Diakses Jumat 20 Maret 2015. Riko, (2014). Kesiapsiagaan Masyarakat dalam menghadapi erupsi Gunung Kerinci di Desa Kersik Tuo kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci (skripsi).padang : STKIP PGRI PADANG SUMBAR. Diakses Senin 30 Maret 2015. Rahmi.(2013). Analisis Hubungan Tingkat Kerentanan Masyarakat Pesisir Tehadap Bencana Dengan Upaya Pengurangan Resiko Bencana (PRB) IPB.Diakses 30 Maret 2015. Taufik. (2007). Tingkat Pengetahuan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta Tommi.2006. Mitigasi Gempa Dan Tsunami Di Wilayah Perkotaan. Fakultas Teknik UI. Diakses jumat 4 April 2015. Sudjana, Ibrahim. (2007). Metodelogi Penelitian. Jakarta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Diakses Jumat 4 April 2015 4