BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas

negeri namun tetap menuntut kinerja politisi yang bersih.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai oleh lawan jenis. menurut

BAB 1 PENDAHULUAN. Berikut kutipan wawancara yang dilakukan peneliti dengan seorang wanita

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. cinta, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan individu dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. tidak tinggal bersama (Long Distance Relationship) dalam satu rumah karena

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan jaman yang melaju sangat pesat dan persaingan global

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi sekarang ini perkembangan teknologi berdampak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Definisi Kepuasan dalam Hubungan Romantis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesepian tanpa adanya teman cerita terlebih lagi pada remaja yang cendrung untuk

BAB I PENDAHULUAN. suatu interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Proses interaksi salah satunya dengan adanya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Perkawinan. Definisi lain menurut Wahyuningsih (2013) berdasarkan teori Fowers dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

BAB I PENDAHULUAN. Media tradisional seolah-olah mendapatkan pesaing baru dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Adanya kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (Papalia, 2009). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. interpersonal sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang dalam

BAB I PENDAHULUAN. melalui tahap intimacy vs isolation. Pada tahap ini, individu berusaha untuk

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. komunikasi menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Teknologi yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. menawarkan produk atau jasa yang perusahaan miliki dengan tujuan untuk

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jejaring sosial. Direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan

BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan lingkungannya atau dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan fisik, kognitif, dan psikososial

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

BAB I PENDAHULUAN. berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web

BAB I PENDAHULUAN. yang secara signifikan berlangsung dengan cepat khususnya teknologi internet.

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada rentang kehidupan manusia akan selalu terjadi proses perkembangan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa.

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. besar yang sudah terfasilitasi oleh provider jaringan-jaringan internet.

BAB I PENDAHULUAN. media yang mendukung komunikasi suatu kelompok pada abad ini menandai

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. lain. Sejak lahir, manusia sudah bergantung pada orang lain, terutama orangtua

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini menjelaskan tentang pembahasan teori yang sudah disinggung pada bab

BAB II TINJAUN PUSTAKA. Asertivitas adalah kemampuan mengkomunikasikan keinginan, perasaan,

PERBEDAAN SELF DISCLOSURE TERHADAP PASANGAN MELALUI MEDIA FACEBOOK DI TINJAU DARI JENIS KELAMIN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Keintiman berasal dari bahasa latin intimus yang artinya terdalam. Erikson

BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian utama masa dewasa awal berkaitan dengan pemenuhan. intimasi tampak dalam suatu komitmen terhadap hubungan yang mungkin

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Written by Daniel Ronda Saturday, 08 February :22 - Last Updated Wednesday, 29 October :08

BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan

Bab 2. Landasan Teori

BAB I PENDAHULUAN. Masa dewasa awal merupakan peralihan dari masa remaja. Perkembangan sosial pada

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa, dan

PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA WANITA LAJANG DEWASA MADYA NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. individu saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain. Hubungan

LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah

BAB I PENDAHULUAN. rentang kehidupan seseorang. Individu pada masa ini telah melewati masa remaja

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun psikis. Menurut Paul dan White (dalam Santrock,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. semakin cepat. Hal tersebut memiliki pengaruh pada perilaku konsumen yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan sebuah hal penting dalam sebuah kehidupan,

BAB 1 PENDAHULUAN. (Santrock,2003). Hall menyebut masa ini sebagai periode Storm and Stress atau

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kebutuhan yang paling dasar

BAB 2 Tinjauan Pustaka

MENGAPA MEDIA SOSIAL. Selamat Datang di Era Generasi Y

Menurut Knox (1985) terdapat tiga faktor yang menentukan kesiapan menikah, yaitu usia menikah, pendidikan, dan rencana karir. Pada dasarnya usia

Perkembangan Sepanjang Hayat

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Intimacy (Keintiman) 2.1.1 Definisi Intimacy Menurut Erikson (dalam Valentini, & Nisfiannoor, 2006) intimacy sebagai kemampuan untuk berkomunikasi dan juga berperan penting dalam menjalin dan kan keintiman dalam menjalin hubungan yang romatis. Hal ini didukung oleh pernyataan Strong dan Devault (1989) yang mengemukakan bahwa intimacy dan komunikasi saling berkaitan dan pasangan yang mengalami kesulitan dalam komunikasi dikatakan tidak memiliki intimacy didalam hubungan mereka. Menurut Sternberg (2006) intimacy adalah elemen emosional dalam suatu hubungan yang melibatkan pengungkapan diri (self-disclosure), yang akan menghasilkan suatu keterkaitan, kehangatan, dan kepercayaan. Sternberg (2006) juga menyatakan bahwa intimacy adalah kedekatan yang dirasakan oleh dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka berdua untuk tetap bersama. Menurut Roscoe, Kennedy, dan Pope (2006) intimacy adalah perkembangan sikap keterbukaan, saling berbagi, kepercayaan, menghargai satu sama lain, afeksi dan kesetiaan, sehingga sebuah hubungan dapat dicirikan sebagai sebuah hubungan yang dekat, berlangsung lama, dan melibatkan cinta dan komitmen. 2.1.2 Level Marital Intimacy (Keintiman Pernikahan) Menurut Van den Broucke (1995) telah teridentifikasi adanya tiga tingkat marital intimacy dan lima struktural didalamnya yaitu: 1. The Dyadic : Keintiman pernikahan mengacu pada tingkat afektif (Affective), kognitif (Cognitive) dan perilaku (Behavioral) interpendence antara pasangan. Dibenarkan bahwa pasangan yang intim satu sama lain dapat mengapresiasi dan memberikan aspek kognitif dalam hubungan mereka untuk dapat saling melakukan interaksi yang baik dan stabil (Hatfield, 1982). Hal ini tercermin dalam perasaan kedekatan pada pasangan, rasa emosional ataupun cinta, validasi ide-ide dan nilai-nilai individu serta konsensus (Consensus) implisit ataupun eksplisit mengenai aturan-aturan yang dapat membimbing untuk saling berinteraksi. 2. The Individual : Keintiman mengacu pada kemampuan yang dipertimbangkan oleh beberapa aspek yaitu, kemampuan untuk menjadi diri sendiri dalam suatu

hubungan (Authenticity), memiliki aspek keterbukaan (Openess) atau kesiapan untuk berbagi ide dan perasaan dengan pasangan. 3. The Social Group/ Network Level : Menurut Rosenblatt (1977) dalam Rusbult Buunk (1993), keintiman pernikahan memerlukan aspek indentitas dyadic, dalam berinteraksi dengan pihak lain, seperti keluarga atau relasi, pasangan yang intim dapat mengidentifikasikan hubungan mereka sebagai satu bagian. Hal ini diungkapkan ketika mereka menggunakan istilah kami untuk memperlihatkan keyakinan hubungan mereka dan biasanya memerlukan aspek eksklusivitas (Exclusiveness) dimana secara simbolis dapat diterima oleh jaringan sosial melalui keterlibatan dalam acara upacara pernikahan yang menandakan mereka akan memiliki hubungan perspektif jangka panjang, dalam arti sebuah niat untuk saling mengakui antara pasangan untuk saling menjaga hubungan mereka yang secara konseptual akan terkait dengan komitmen (Commitment). 2.1.3 Dimensi Marital Intimacy (Keintiman Pernikahan) Terkait dengan hal diatas, Van den Broucke (1995) membagi ketiga tingkat marital intimacy tersebut menjadi lima dimensi marital intimacy, yaitu: 1. Intimacy Problems Dimensi utama dari kelima dimensi ini mengacu pada masalah-masalah yang ada pada rasa takut secara emosional ketika berada dekat dengan orang lain. Ketakutan dalam hal keintiman ini juga didefinisikan sebagai kapasitas yang menghambat individu, karena kecemasannya untuk bertukar pikiran dan perasaanperasaan penting yang dirasakan oleh individu dengan orang lain tetapi sulit mengungkapkannya, tidak terbuka, selalu memiliki kecemasan untuk sesuatu hal yang menyangkut keintiman. 2. Consensus Dimensi kedua mengacu dalam aspek The Dyadic. Dapat dijelaskan bahwa Consensus meranah kepada aspek kognitif (Cognitive). Kognitif mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Tujuan aspek kognitif pada pasangan berorientasi pada kemampuan berfikir, mengingat, memahami, menilai, memberikan penghargaan, mengevaluasi, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut individu untuk mengubungkan dan menggabungkan ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Openess Dimensi ketiga mengacu dalam aspek The Individual yang menjelaskan bahwa keintiman mengacu pada kemampuan yang dipertimbangkan oleh beberapa aspek yaitu, kemampuan untuk menjadi diri sendiri dalam suatu hubungan (Authenticity) serta memiliki aspek keterbukaan atau kesiapan untuk berbagi ide dan perasaan dengan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Ada kemauan untuk saling bekerjasama dalam mengemukakan pendapat secara jujur, terbuka dan positif. 4. Affection Dalam dimensi keempat dapat dijelaskan bahwa Affection merupakan bagian dari The Dyadic, dimana Keintiman pernikahan mengacu pada tingkat afektif (Affective). Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Dibenarkan bahwa pasangan yang intim satu sama lain dapat mengapresiasi dan memberikan aspek kognitif dalam hubungan mereka untuk dapat saling melakukan interaksi yang baik dan stabil (Hatfield, 1982). 5. Commitment Dimensi terakhir ini lebih mengacu kepada The Social Group/ Network Level, dalam berinteraksi dengan pihak lain, seperti keluarga atau relasi, pasangan yang intim dapat mengidentifikasikan hubungan mereka sebagai satu bagian. Hal ini diungkapkan ketika mereka menggunakan istilah kami untuk memperlihatkan keyakinan hubungan mereka dan biasanya memerlukan aspek eksklusivitas (Exclusiveness) dimana secara simbolis dapat diterima oleh jaringan sosial melalui keterlibatan dalam acara upacara pernikahan yang menandakan mereka akan memiliki hubungan perspektif jangka panjang, dapat diartikan sebagai sebuah niat untuk saling mengakui antara pasangan serta mengupayakan untuk selalu menjaga hubungan mereka secara terkonsep (konseptual) yang terkait dengan sebuah kesepakatan atau komitmen (Commitment). 2.2 Media Sosial 2.2.1 Definisi Media Sosial Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Kaplan dan Haenlein (dalam Kaplan, & Haenlein, 2010) mendifinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran.

Tentu masyarakat masih mengingat bahwa sebelumnya teknologi internet hanya digunakan untuk berkirim pesan elektronik melalui email dan chatting, untuk mencari informasi melalui browsing, dan googling. Namun saat ini, seiring dengan perkembangannya, internet mampu melahirkan suatu jaringan baru yang biasa dikenal dengan sebutan media sosial. Sebagaimana yang diketahui, media sosial merupakan suatu media online dimana para penggunanya dapat ikut serta dalam mencari informasi, berkomunikasi dan menjaring pertemanan, dengan segala fasilitas dan aplikasi yang dimilikinya seperti Blog, Facebook, Twitter, Line dan Path. Kehadiran media sosial telah membawa pengaruh tersendiri terhadap kegiatan yang dilakukan oleh manusia saat ini. 2.2.2 Peran dan Fungsi Media Sosial Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial dapat dengan mudah mengakses serta menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya. (Kaplan & Andreas, 2010). 2.2.3 Media Sosial dan Keintiman Penelitian yang dipimpin oleh Bernie Hogan (2008) ingin membuktikan apakah semakin beragamnya alat komunikasi akan memperkuat sebuah hubungan pernikahan. Ada lebih dari 24 ribu orang menikah yang ikut terlibat dalam penelitian tersebut. Riset dilakukan untuk mengetes teori media multiplexity yaitu kemampuan untuk berkomunikasi melalui beberapa chanel komunikasi yang pertama kali dikembangkan pada 2008. Bernie Hogan (2008) menjelaskan bahwa, banyaknya chanel media sosial yang digunakan, dapat berdampak buruk bagi hubungan atau keintiman antara pasangan. Hogan menyarankan untuk diperlukan adanya batasan dalam penggunaan media sosial yang mereka gunakan untuk berkomunikasi agar dapat kan hubungan serta keintiman dalam hubungan pernikahan.

2.3 Dewasa Muda 2.3.1 Definisi Dewasa Muda Salah satu transisi penting dalam perkembangan hidup seseorang adalah masa dimana remaja berkembang ke periode dewasa. Emerging Adulthood adalah salah satu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan masa transisi ini (Santrock, 2006). Menurut Monks dan Knoers (1988), dewasa dalam bahasa belanda adalah Volwassen, yang berarti Vol sebagai penuh dan wassen sebagai tumbuh. Maka Volwassen berarti sudah tumbuh dengan penuh atau selesai tumbuh. Jika transisi yang dialami masa anak-anak ke remaja dimulai dari perkembangan pubertas masa transisi remaja ke dewasa ditentukan melalui latar belakang kebudayaan dan pengalaman hidup (santrock, 2006). Semakin berkembangnya jaman secara tidak langsung menuntut remaja untuk menunda perkembangan mereka ke fase selanjutnya yaitu masa dewasa. Hal ini dikarenakan, masyarakat sekarang ini lebih menuntut individu untuk lebih mantap dalam pendidikan dan berkemampuan tinggi didalam segala hal dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya (Santrok, 2006). Berdasarkan hal ini, transisi yang dialami seseorang dalam dari masa remaja untuk menjadi dewasa memerlukan proses yang panjang dan durasi waktunya kadang tidak menentu. Masa transisi ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat berkembang dan berhasil untuk mencapai ke tahap selanjutnya, banyak perbedaan penelitian pada deskripsi jangka waktu lamanya transisi tersebut. Jika Erikson (dalam Boeree, 2005) menyebutkan bahwa transisi ini berada di umur 18 tahun sampai 30 tahun., Santrok (2006) menyatakan bahwa transisi ini meliputi umur 18 sampai 25 tahun. 2.3.2 Karakteristik Dewasa Muda Menurut Hurlock (1999), membangun hubungan dengan lawan jenisnya dan kemudian menikah, adalah salah satu tugas perkembangan individu pada masa dewasa dini yang berada pada rentang usia 21 40 tahun. Seseorang memasuki pernikahan dalam usia yang bervariasi, tetapi sebagian besar pasangan menikah ketika berada di masa dewasa muda (Erikson dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2005). Dalam masa ini terdapat beberapa perubahan yang berbeda dengan kehidupan lajang yang dapat memicu munculnya berbagai masalah. Beberapa permasalahan yang biasa terjadi dalam pernikahan dewasa muda antara lain adalah penyesuaian antara harapan ideal dengan keadaan sesungguhnya dari pasangan, kemandirian, penyesuaian diri dengan teman dan keluarga dari pasangan, serta pembagian tugas dan peran antara keduanya (Blumstein & Williams, Stacey, Carl, 2006). Menurut DeGenova dan Rice (dalam Genova, 2005) pasangan

di awal pernikahan biasanya juga membutuhkan penyesuaian dalam delapan hal, diantaranya : 1. Pemenuhan dan dukungan emosional 2. Penyesuaian seksual, keuangan terkait dengan pernikahan 3. Pekerjaan dan pencapaian, kewenangan dan pengambilan keputusan 4. Konflik dan pemecahan masalah, moral, nilai dan ideology 5. Komunikasi vs Intimacy

2.4. Kerangka Berpikir 1. Keintiman Keintiman 2. Intimacy Problems Intimacy Problems 3. Consensus Consensus 4. Openness Openness 5. Affection 6. Affection Commitment Commitment

Dari kerangka diatas, dapat disimpulkan bahwa : 1. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka keintiman rumah tangga pada pasangan dewasa muda akan, disebabkan oleh berkurangnya komunikasi tatap muka dengan pasangan dan apabila semakin berkurangnya jumlah media sosial yang digunakan maka keintiman pasangan akan, karena pasangan dapat berkomunikasi secara tatap muka dan tidak memunculkan adanya kesalah pahaman dalam berkomunikasi. 2. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka dimensi intimacy problems pada pasangan dewasa muda akan, karena masalah-masalah dalam keintiman pasangan bermunculan, melainkan semakin berkurangnya jumlah media sosial yang digunakan maka intimacy problems pada pasangan akan, karena berkurangnya rasa cemas untuk sesuatu hal yang menyangkut keintiman dalam hubungan serta rasa takut secara emosional ketika berada dekat dengan orang lain akan. 3. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka dimensi Consensus pada pasangan dewasa muda akan khususnya dalam hal penggabungan ide, memecahkan masalah, berfikir, mengingat dan kemampuan cognitive lainnya. Sementara itu, semakin berkurangnya jumlah media sosial yang digunakan maka Consensus pasangan akan, karena pasangan dapat saling menyamakan pendapat, mengevaluasi hubungan dan lebih memperhatikan untuk lebih mengenal satu sama lain. 4. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka dimensi Openness pada pasangan dewasa muda akan, karena pasangan cenderung menjadi tidak jujur, tidak terbuka dan berfikiran negatif. Apabila semakin berkurangnya jumlah media sosial yang digunakan maka dimensi Openness pada pasangan akan, karena pasangan cenderung akan lebih jujur, terbuka dan positif serta mampu untuk menjadi diri sendiri dalam segala situasi dan kondisi. 5. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka dimensi Affection pada pasangan dewasa muda akan karena pasangan akan kehilangan aspek afektif yang membuat pasangan tidak terarah dalam hal-hal tertentu. Apabila semakin berkurangnya jumlah media sosial yang digunakan maka dimensi Affection pada pasangan akan, karena pasangan dapat saling mengapresiasi dan memberikan aspek kognitif dalam hubungan mereka untuk dapat melakukan interaksi yang baik dan stabil. 6. Semakin nya jumlah media sosial yang digunakan, maka Commitment rumah tangga pada pasangan dewasa muda akan, dan apabila semakin berkurangnya

jumlah media sosial yang digunakan maka dimensi Commitment pada pasangan akan. Dari keenam bagan kerangka berfikir diatas, dapat disimpukan bahwa semakin banyak dan berkembangnya media sosial pada dasawarsa terakhir hingga saat ini, terlebih dengan munculnya media sosial baru yang lebih menarik, inovatif dan semakin kreatif yang membuat pasangan dewasa muda yang telah menikah dapat mengandalkan media sosial sebagai landasan untuk berkomunikasi dengan pasangan serta menjadikan media sosial sebagai suatu kebutuhan (Laohapensang, 2009). Hogan (2008) menyarankan untuk diperlukan adanya batasan dalam penggunaan media sosial yang mereka gunakan untuk berkomunikasi agar dapat kan hubungan serta keintiman dalam hubungan pernikahan. Karena jumlah penggunaan media sosial bagi masing-masing individu akan sangat berpengaruh terhadap keintiman pasangan dalam hubungan pernikahan. Media sosial digunakan oleh pasangan dalam kesehariannya, dari mengaali aktifitas hingga mengakhiri aktifitas. Berkomunikasi melalui media sosial juga sudah menjadi tradisi dan kebiasaan bagi para pasangan. Individu dapat saling melakukan atau memperlihatkan segala kegiatan, aktifitas atau hal-hal yang ingin diperlihatkan kepada pasangan maupun relasi secara spontan dengan pengharapan respon yang juga cepat (Beatty & Ferrel, 1998). Pada penelitian ini, peneliti ingin melihat kontribusi dari teori Van den Broucke (1995) mengenai lima dimensi marital intimacy dengan jumlah media sosial yang digunakan pada pasangan dewasa muda yang sudah menikah. Terdapat dimensi-dimensi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : (1) Intimacy problems, (2) Consensus, (3) Openess, (4) Affection dan (5) Commitment yang akan dikaitkan dengan lima jumlah media sosial yang digunakan, yaitu : (1) Facebook, (2) Twitter, (3) Path, (4) WhatsApp, (5) Blackberry Messanger (BBM), (6) Line, dan (7) KakaoTalk. Terlihat bahwa lima dimensi tersebut kemudian dapat dijadikan tolak ukur dalam menciptakan keintiman dalam hubungan pernikahan dewasa muda. Semakin rendah intensitas penggunaan media sosial yang dilakukan oleh suami dan istri setiap harinya, maka kemungkinan masing-masing komponen keintiman tersebut akan serta menciptakan keintiman di usia pernikahan tiga tahun pertama. Sebaliknya, apabila intensitas penggunaan media sosial yang dilakukan suami/istri setiap harinya semakin tinggi, maka kemungkinan masing-masing dimensi marital intimacy tersebut memiliki kemungkinan kecil dalam menciptakan keintiman di usia pernikahan tiga tahun pertama.