Kurikulum holistik integratif anak usia dini dalam implementasi self regulated learning Luluk Elyana IKIP Veteran Semarang Corresponding author: q_eyanguti@yahoo.co.id Abstract. Kegiatan pembelajaran anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain. Proses kegiatan pembelajaran Anak Usia Dini lebih menekankan pada penanaman sikap dan pembentukan karakter melalui pembiasaan pembiasaan positif sesuai dengan tahapan usia anak. Implementasinya harus memahami kebutuhan setiap anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Self Regulated Learning menempatkan pentingnya kemampuan seseorang untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri, terutama bila menghadapi tugas-tugas yang sulit. Regulasi diri dalam belajar juga membawa anak mengerti apa yang harus di lakukan dan memahami tanggungjawabnya. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini harus bisa membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki jenjang pendidikan dasar. Untuk itu pelaksanaannya harus bersifat komprehensif, menyeluruh dan mencakup semua aspek pengembangan dasar anak salah satunya adalah Self Regulated Learning yang menekankan unsur kemandirian bagi anak. Kurikulum Holistik Integratif merupakan kurikulum yang mengintegrasikan segala aspek yang terdapat dalam pengembangan dasar anak secara menyeluruh antara jiwa dan badan serta aspek spiritual dan material untuk memenuhi kebutuhan essensial anak termasuk kesehatan dan gizi, pola pengasuhan dan perlindungan anak. Implementasi Self Regulated Learning melalui kurikulum holistik integratif ini diharapkan akan tercapai secara maksimal dengan terbentuknya karakter positif pada diri anak. PENDAHULUAN Kurikulum dalam pendidikan anak usia dini mencakup 3 (tiga) domain penting yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Strategi pelaksanaannya melalui kegiatan harian yang di implementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan harian anak mencakup kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan awal biasanya di tandai dengan pijakan pijakan yang di berikan oleh guru berupa penjelasan penjelasan pada setiap kegiatan yang akan di lakukan dan memberikan informasi penting kepada anak seputar kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan inti yaitu berupa aneka kegiatan anak melalui alat permainan edukatif sesuai dengan tema yang di terapkan dengan memperhatikan densitas serta intensitas yang di berikan serta pengaturan waktu yang tepat. Kegiatan pembelajaran anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain. Dunia anak adalah bermain. Pendidikan anak usia dini memberikan bentuk permainan pada anak dengan memperhatikan konsep kebermaknaan pada diri anak dan kegiatan yang di lakukan diberikan melalui bermain yang bermakna dengan membangun pengetahuan pada setiap kegiatan. Konsep kebermaknaan pada diri anak salah satunya dengan penanaman kemandirian sejak dini. Setiap aspek kegiatan yang di jalani oleh anak harus berkualitas dan komprehensif. Pelaksanaan konsep kebermaknaan tidak semuanya berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Pelaksanaan ketiga domain tersebut di atas yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan tidak sepenuhnya menekankan pada proses dan hanya bertumpu pada pengetahuan saja. Sikap dan keterampilan tidak dapat tercapai secara maksimal karena banyak pendidik yang terlalu dominan dalam menekankan domain kognitif. Bila hal ini terjadi maka pembentukan sikap hanya menyentuh permukaannya saja. Anak mengenal pembiasaan pembiasaan positif ini sebatas bunga rampai atau lip service yang hanya di pahami anak secara sekilas dan tidak dapat terimplementasi secara mendalam. Salah satu penekanan tercapainya domain sikap secara maksimal adalah melalui implementasi self regulated learning yaitu sebagai upaya penanaman kemandirian dan membimbing anak memahami tanggung jawabnya serta mengerti apa yang dilakukan. Self Regulated Learning menempatkan pentingnya kemampuan seseorang 1
untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri, terutama bila menghadapi tugas-tugas yang sulit. Pada sisi lain, Self Regulated Learning menekankan pentingnya inisiatif karena SRL merupakan belajar yang terjadi atas inisiatif sundiri. Anak didik yang memiliki inisiatif menunjukkan kemampuan untuk mempergunakan pemikiran-pemikirannya, perasaan-perasaannya, strategi dan tingkah lakunya untuk mencapai tujuan (Zimmerman, 2002). Dalam pelaksanaannya secara sederhana adalah anak mengerti apa yang dilakukan ketika baru datang ke sekolah di pagi hari yaitu dengan melakukan pembiasaan positif yang di tanamkan oleh guru misalnya anak akan menyapa teman temannya yang tengah bermain di halaman sekolah, memberikan senyuman kepada guru, menaruh tas di lokernya dengan rapi, meletakkan sepatu pada rak rak yang sudah di siapkan sesuai dengan kelompoknya. Setiap anak akan melaksanakan kebiasaan ini dengan teratur tanpa di perintah atau di suruh, anak akan mengerti apa yang harus dilakukan, menemukan solusi atas permasalahan yang di hadapi dan memiliki sikap tanggung jawab pada setiap kegiatan yang harus dilakukan sehingga proses pembelajaran berjalan tertib dan teratur.pengembangan kemandirian pada anak pada prinsipnya adalah dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai akivitas. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak, maka anak akan semakin terampil mengembangkan skillnya sehingga lebih percaya diri. Implementasi self regulated learning tidak terjadi begitu saja akan tetapi melalui sebuah proses. Penanaman pembiasaan ini dilaksanakan melalui pijakan pijakan yang menyenangkan dan membuat anak merasa nyaman. Ketika anak sudah merasakan kenyamanan terhadap pembiasaan ini maka anak akan melakukannya dengan senang hati dan kesadaran yang muncul dan akhirnya membentuk sebuah karakter. Untuk itu implementasi self regulated learning ini memerlukan kurikulum yang dapat memfasilitasi pelaksanaan implementasi tersebut. Kurikulum tersebut harus terarah dan terprogram dengan baik yaitu sesuai dengan visi, misi dan tujuan, strategi pembelajaran, kegiatan harian dan kegiatan pembelajaran. Kurikulum Anak Usia Dini harus memperhatikan pengembangan dasar pada diri anak yaitu mencakup aspek nilai nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial emosional, dan seni. Disamping itu harus memperhatikan perbedaan individu pada setiap anak. Anak memiliki keunikan pada tumbuh kembangnya baik dari aspek perkembangan jasmani maupun rohani. Implementasi Self Regulated Learning ini harus memahami perbedaan kebutuhan individu yang dimiliki oleh anak. Tidak semua anak memiliki kebutuhan yang sama misalnya ada anak yang cukup menonjol pada kemampuan berbahasanya tetapi mengalami hambatan dalam melaksanakan kepatuhan yaitu membutuhkan waktu dalam melaksanakan sebuah instruksi yang telah di sepakati bersama. Sebaliknya ada anak yang menonjol dalam kemampuan motorik kasarnya akan teteapi mengalami hambatan kemampuan verbal dalam berbahasa. Kurikulum holistik integratif mengintegrasikan segala aspek yang terdapat dalam pengembangan dasar anak secara menyeluruh antara jiwa dan badan serta aspek spiritual dan material untuk memenuhi kebutuhan essensial anak termasuk kesehatan dan gizi, pola pengasuhan dan perlindungan anak. Untuk itu pembelajaran SRL pada anak usia dini perlu di terapkan sebagai upaya pembinaan anak sejak dini dalam menumbuhkan potensi - potensi yang di miliki oleh anak dan menerapkan pembiasaan pembiasaan positif serta kesadaran melaksanakan tugas tugasnya dengan baik. Implementasi Self Regulated Learning melalui kurikulum holistik integratif ini diharapkan akan tercapai secara maksimal dengan terbentuknya karakter positif pada diri anak. Masalah 1. Apakah implementasi SRL pada Anak Usia Dini dapat di capai melalui kurikulum holistik integratif? 2. Bagaimanakah implementasi SRL Anak Usia Dini di laksanakan? 3. Faktor - faktor apakah yang mendukung implementasi SRL anak usia dini melalui kurikulum holistik integratif? Tujuan 1. Mendeskripsikan implementasi SRL melalui kurikulum holistik integratif. 2. Untuk menjelaskan secara konkrit kurikulum holistik integratif dalam implementasi SRL Anak Usia Dini. 3. Menjelaskan faktor-faktor yang mendukungimplementasi SRL anak usia dini melalui kurikulum holistik integratif. LANDASAN TEORI Implementasi SRL 1. Pengertian Self Regulated Learning Pengelolaan diri merupakan salah satu komponen yang penting dalam teori kognitif sosial (social cognitive theory). Bandura (dalam Filho, 2011) mendefinisikan self regulated learning sebagai suatu keadaan dimana 2
individu yang belajar sebagai pengendali aktivitas belajarnya sendiri, memonitor motivasi dan tujuan akademik, mengelola sumber daya manusia dan benda, serta menjadi perilaku dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksana dalam proses belajar. Albert Bandura adalah orang yang pertama kali mempublikasikan teori belajar paa tahun 1960 an. Pada perkembangannya kemudian di ganti nama menjadi teori kognitif sosial. Santrock (2001) mengatakan self regulatory learning menyangkut selfgeneration dan self-monitoring pada pemikiran, perasaan, dan perilaku untuk menjangkau tujuan. Pengaturan diri dalam belajar membuat peserta didik memiliki kontrol dan mendorongnya untuk memperhatikan metode belajarnya. Zimmerman (dalam Chen, 2002) menyatakan bahwa self regulated learner adalah peserta didik yang secara metakognitif, motivasional dan behavioral merupakan peserta aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Zimmerman & Martinez Pons (2001) mendefinisikan self regulated learning sebagai tingkatan dimana partisipan secara aktif melibatkan metakognisi, motivasi, dan perilaku dalam proses belajar. Self regulated learning juga didefinisikan sebagai bentuk belajar individual dengan bergantung pada motivasi belajar mereka, Self regulated learning mengintegrasikan banyak hal tentang belajar efektif. Pengetahuan, motivasi, dan disiplin diri atau volition (kemauan diri) merupakan faktor - faktor penting yang dapat mempengaruhi self regulated learning (Woolfolk, 2008). Pengetahuan yang dimaksudkan adalah pengetahuan tentang dirinya sendiri, materinya, tugasnya, strategi untuk belajar, dan konteks konteks pembelajaran yang akan digunakannya. Peserta didik yang belajar dengan regulasi diri dapat diistilahkan sebagai peserta diidk ahli. Peserta didik ahli mengenal dirinya sendiri dan bagaimana mereka belajar dengan sebaik baiknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Self Regulated Learning merupakan proses dimana individu belajar secara aktif sebagai pengatur proses belajarnya sendiri mulai dari mengatur, merencanakan, dan mengevaluasi dirinya secara sistemis untuk mencapai tujuan dalam belajar baik secara metakognitif, motivasional dan behavioral dengan bergantung pada motivasi belajar mereka. 2. Proses dalam Self Regulated Learning Proses tersebut pada dasarnya bersifat metakognitif (Ormrod,2008) sebagai berikut: a. Penetapan tujuan (Goal Setting) Pembelajar yang mengatur diri tahu apa yang ingin mereka capai ketika membaca atau belajar. Misalnya mendapatkan pemahaman konseptual tentang suatu topic b. Perencanaan (Planning) Pembelajar menentukan sendiri bagaimana baiknya menggunakan waktu dan sumber daya yang tersedia untuk tugas tugas belajar. c. Motivasi diri (Self Motivation) Memiliki self efficacy yang tinggi akan kemampuan pembelajar menyelesaikan suatu tugas belajar dengan sukses. d. Kontrol atensi (Attention Controll) Peserta didik focus pada kegiatan yang dilakukan dan menghilangkan diri dari pikiran yang mengganggu. e. Penggunaan strategi belajar yang fleksibel (Flexible use of learning strategies) Peserta didik memiliki cara yang berbeda beda dalam menyelesaikan kegiatannya. f. Monitor diri (Self Monitoring) Memiliki kemampuan mengatur diri dan memonitor kemajuan kegiatan yang dilakukan g. Mencari bantuan yang tepat (Appropriate help seeking) Peserta didik akan mencari bantuan yang tepat bila di rasa dalam kesulitan h. Evaluasi diri (Self Evaluation) Peserta didik menyadari kekurangan pada dirinya sehingga beusaha untuk memperbaiki dan menentukan langkah yang tepat. 3. Faktor Faktor dalam Regulasi Diri Tingkah laku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal. (Alwisol, 285) Penjelasan dari faktor faktor tersebut adalah: a. Faktor Eksternal Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkah laku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan guru anak anak belajar baik buruk, tingkah laku yang dikehendaki dan tidak di kehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dapat di pakai untuk menilai prestasi diri. Kedua faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). b. Faktor Internal Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan 3 (tiga) bentuk pengaruh internal 1.) Observasi diri (self observation) 3
Dilakukan berdasarkan faktor kualitas, penampilan, kuantitas penampilan, orisinalitas tingkah laku diri dst. Apa yang di observasi seseorang tergantung minat dan konsep dirinya. 2.) Proses penilaian (Judgmental process) Adalah melihat kesesuaian tingkah laku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma norma standar atau dengan tingkah laku orang lain. Menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas dan memberi atribusi performansi. 3.) Reaksi diri afektif (self response) Akhirnya berdasarkan pengamatan dan jugdment itu orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif dan kemudian menghadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual. A. Pengertian Kurikulum Holistik Integratif Kurikulum dipandang sebagai jantungnya sebuah program pendidikan. Kurikulum dapat dipandang sebagai strategi dan cara yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan secara nasional. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyadari betapa pentingnya kedudukan dan peran kurikulum sebagai suatu elemen yang memberi arah dalam program pendidikan. Seyogyanya kurikulum mengarah kepada pemebentukan kompetensi output pendidikan yang bagaimana yang diharapkan. Kompetensi tersebut diharapkan selaras dengan kompetensi yang dituntut sesuai dengan era atau zaman dimana anak menjalani kehidupannya. (Direktorat PAUD,2014) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan pendidikan.(mulyasa,2015). Kurikulum anak usia dini berisi seperangkat kegiatan belajar melalui bermain yang dapat memberikan pengalaman langsung bagi anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi perkembangan yang dimilki oleh setiap anak. Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi.(pp no. 60,2013) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kurikulum holistik integratif adalah seperangkat kegiatan belajar melalui bermain yang dapat memberikan pengalaman langsung bagi anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi perkembangan yang dimilki oleh setiap anak yang dapat memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. 2.Tujuan Kurikulum Holistik Integratif a.terpenuhinya kebutuhan esensial anak usia dini secara utuh meliputi kesehatan dan gizi, rangsangan pendidikan, pembinaan moral-emosional dan pengasuhan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai kelompok umur. b. Terlindunginya anak dari segala bentuk kekerasan, penelantaran, perlakuan yang salah, dan eksploitasi di manapun anak berada c. Terselenggaranya pelayanan anak usia dini secara terintegrasi dan selara antar lembaga layanan terkait, sesuai kondisi wilayah d. Terwujudnya komitmen seluruh unsur terkait yaitu orang tua, keluarga, masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah, dalam upaya Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif. 3 Prinsip Prinsip Kurikulum Holistik Integratif Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif mengacu pada prinsip-prinsip, sebagai berikut: a. Pelayanan yang menyeluruh dan terintegrasi b. Pelayanan yang berkesinambungan c. Pelayanan yang non diskriminasi d. Pelayanan yang tersedia, dapat dijangkau dan terjangkau, serta diterima oleh kelompok masyarakat e. Partisipasi masyarakat f. Berbasis budaya yang konstruktif g. Tata kelola pemerintahan yang baik. B. Deskripsi Implementasi SRL melalufi Kurikulum Holistik Integratif Self regulated learning pada diri anak tidak terjadi begitu saja. Proses mental tersebut di awali terlebih dahulu dengan adanya self regulated activity yaitu ada aktivitas yang terlebih dahulu di lakukan misalnya memilih mainan yang di sukai setelah itu mengembalikan kembali ke rak mainan begitu selesai. Proses dari self regulated activity menuju kepada self regulated learning memerlukan sebuah instruksi yang tepat untuk diri peserta didik. Instruksi ini harus memperhatikan desain kurikulum holistik integratif yang melaksanakan 4
pembelajaran secara komprehensif, menyeluruh dan terintegrasi dalam setiap program PAUD serta menjalankan kurikulum ini sesuai dengan prinsip prinsip holistik integratif. Self Regulated learning dilaksanakan melalui sebuah proses. Proses tersebut sebagaimana dalam tabel berikut ini : Tabel 1. Proses Regulasi Diri Faktor eksternal Standar Masyarakat Penguatan Faktor Internal Self Observation Judgmental Process Self Response Dimensi Performansi Kualita Keseringan Kuantita Orisinalita Kebenaran Bukti dampak Penyimpangan etika Standar Pribadi Sumber model Sumber penguat Pedoman Performansi Norma Standar Perbandingan Sosial Perbandingan Personal Perbandingan kolektif Menghargai Aktivitas Sangat di hormati Netral Direndahkan Reaksi Evaluasi Diri Positif Negatif Dampak terhadap Self Dihadiahi Di hukum Tanpa Respon Self Atribusi Performansi Lokus Pribadi Lokus Eksternal Kurikulum holistik integratif bersifat komprehensif yaitu dilaksanakan secara menyeluruh pada aspek aspek pemenuhan hak anak di antaranya di sini adalah hak anak untuk mengerti apa yang harus dilakukan terutama dalam pemecahan masalah. 5
Gambar 1 SIMPULAN Kurikulum merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar dan termasuk dalam standar isi maupun standar proses dalam delapan standar pendidikan nasional. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini harus bersifat komprehensif dalam upaya memenuhi kebutuhan stimulasi perkembangan anak. Holistik Integratif adalah sebuah model kurikulum untuk memenuhi kebutuhan jasmani rohani anak, gizi dan kesehatan serta pengasuhan dan perlindungan anak. Salah satu pemenuhan kebutuhan anak adalah kemandirian dalam berpikir dan bertindak serta berinisiasi atau di sebut dengan Self Regulated Learning (SRL). Dalam pelaksanaan pembelajaran SRL melibatkan seluruh pendidik dan kerja sama yang baik dengan orang tua. Self Regulated Learning hendaknya di terapkan sejak usia dini karena merupakan proses belajar di mana peserta didik mengaktifkan kognisi, tindakan dan perasaan secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.. Penerapan self regulated learning membutuhkan desain kurikulum yang tepat dimana kurikulum harus dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk memahami dan mengerti apa yang harus dilakukan.prinsip dasar dari kurikulum holistik integratif adalah Pelayanan yang menyeluruh dan terintegrasi, berkesinambngan, non diskriminasi, pelayanan yang tersedia, dapat dijangkau dan terjangkau, serta diterima oleh kelompok masyarakat. Pembiasaan pembiasaan yang baik dalam self regulated learning akan tertanam menjadi karakter positif apabila penerapannya tepat. Maka penulis memilih kurikulum ini dengan beberapa pertimbangan dalam uraian di atas. DAFTAR PUSTAKA 1. Alwisol, 2008, Psikologi Kepribadian, UPT Penerbitan UMM : Malang 2. Dany dkk, 2012, Effective Strategies for self regulated learning : a Meta analysis 3. Dewi dkk, 2013, Desain Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif PAUD non Formal (Penelitian Research and Development di Pos PAUD Mutiara Kelurahan Lamper Lor Kecamatan Semarang Selatan), Journal : PAUDIA 4. Effeny Gerald dkk, 2013, Australian Journal of Educational & Developmental Psychology. Vol 13,, pp. 58-74. 5. Kristanto, dkk Jurnal Penelitian PAUDIA, Volume 1 No. 1 2011 6
6. Latifah Eva, 2010, Strategi Self Regulated Learning dan Prestasi Belajar : Kajian Meta Analisis, Volume 37, UIN : Yogyakarta 7. Mulyasa, 2015, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Rosda Karya : 8. Bandung. 9. Ormrod Ellis, 2008, Psikologi Pendidikan, Erlangga : Jakarta 10. PP no 66, 2013, Holistik Integratif, Kemendikbud : Jakarta 7