BAB II KAJIAN TEORETIS
|
|
|
- Vera Kusumo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II KAJIAN TEORETIS A. Kajian Teori 1. Kemampuan Koneksi Matematis Dalam dunia pendidikan terutama dalam pembelajaran matematika kemampuan menghubungkan suatu materi yang satu dengan materi yang lain atau dengan kehidupan sehari hari berperan penting dalam proses pembelajaran terutama pembalajaran matematika. Sumarni (2014, hlm. 19) menyatakan jika siswa dapat memahami dan menjelaskan kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya maka akan mempermudah mereka dalam melakukan pemecahan masalah yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran matematika. Menurut Suherman (2008, hlm. 8) bahwa Kemampuan koneksi dalam matematika adalah kemampuan untuk mengaitkan konsep aturan matematika yang satu dengan yang lainnya, dengan bidang studi lain, atau dengan aplikasi pada kehidupan nyata. Matematika terdiri dari berbagai topik yang saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitan tersebut tidak hanya antar topik dalam matematika saja, tetapi juga keterkaitan matematika dengan ilmu lain dan keterikatan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Keterikatan inilah yang disebut kemampuan koneksi matematis. Koneksi matematis merupakan salah satu kemampuan standar yang telah ditetapkan oleh NCTM serta sudah ditetapkan dan digunakan pula dalam pembelajaran matematika oleh banyak negara. Koneksi berasal dari kata connection dalam Bahasa Inggris yang diartikan hubungan. Koneksi dalam kaitannya dengan matematika yang disebut kemampuan koneksi matematis dapat diartikan sebagai keterkaitan secara internal dan eksternal. Keterkaitan secara internal keterkaitan antara konsep konsep matematika yaitu berhubungan dengan matematika itu sendiri. Sedangkan, keterkaitan secara eksternal, yaitu keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari hari (Sumarmo, 2013). 10
2 11 Ada dua tipe umum koneksi matematis menurut NCTM (1989, hlm. 146) yaitu modeling connections dan mathematical connections. Modeling connections merupakan hubungan antara situasi masalah yang muncul di dalam dunia nyata atau dalam disiplin ilmu lain dengan representasi matematiknya, sedangkan mathematical connections adalah hubungan antara dua representasi yang ekuivalen, dan antara proses penyelesaian dari masing-masing representasi. Keterangan NCTM tersebut mengindikasikan bahwa koneksi matematis terbagi kedalam tiga aspek kelompok koneksi, yaitu: aspek koneksi antar topik matematika, aspek koneksi dengan disiplin ilmu lain, dan aspek koneksi dengan dunia nyata siswa/ koneksi dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan seseorang untuk mengaitkan antar topik dalam matematika, matematika dengan ilmu lain dan matematika dengan kehidupan sehari-hari disebut kemampuan koneksi matematis. Sesuai dengan pendapat Kurnianingtyas (2015, hlm. 5) yang menyatakan bahwa kemampuan koneksi matematis dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menerapkan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari terhadap masalah-masalah yang berkaitan, baik dalam konteks bidang matematika, dalam disiplin ilmu lainnya ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan koneksi dalam pembelajaran matematika merupakan kemampuan yang sangat penting. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Lappan (Sumarni, 2014, hlm. 21) yang menyatakan bahwa tujuan koneksi dalam matematika adalah agar siswa mahir memberi alasan dan berkomunikasi secara matematis. Menurut NCTM (2000), indikator un tuk kemampuan koneksi matematis yaitu: (a) Mengenali dan memanfaatkan hubungan hubungan antara gagasan dalam matematika; (b) Memahami bagaimana gagasan gagasan dalam matematika saling berhubungan dan mendasari satu samaa lain untuk menghasilkan suatu keutuhan koheren; (c) Mengenali dan menerapkan dalam konteks konteks diluar matematika. Dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti akan menggunakan indikator menurut Sumarmo (2013) kemampuan koneksi matematis siswa dapat
3 dilihat dari indikator-indikator berikut: (a) Mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama; (b ) Mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi yang ekuivalen; (c ) Menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan keterkaitan di luar matematika; (d) Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. 2. Model Pembelajaran Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review (SQ4R) Model pembelajaran merupakan wadah atau isi dari pembelajaran yang berisi metode pembelajaran, strategi pembelajaran dan juga teknik pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran matematika yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar berfikir, memecahkan masalah, belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep dan keterampilannya adalah dengan menggunakan model pembelajaran SQ4R. Menurut Sudrajat (2001, hlm. 16) Dengan SQ4R pembaca dapat terdorong untuk lebih aktif, kritis, sistematis, dan bertujuan dalam menghadapi bacaan, sehingga pembaca bisa lebih lama mengingat gagasan pokok suatu bacaan. Sejalan dengan itu Azlina & Masriyah (2014, hlm. 176) mengemukakan bahwa model SQ4R adalah metode membaca yang efisien dan membantu siswa untuk lebih memahami suatu bacaan, serta mengarahkan siswa menemukan intisari dari bacaan tersebut. Salah satu strategi membaca yang dapat mengembangkan keterampilan metakognisi adalah model SQ4R ( Survey, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review) yang dikembangkan oleh E.L Thomas dan H. A. Robinson (1972), di mana SQ4R merupakan pengembangan dari SQ3R ( Survey, Question, Read, Recite, dan Review). Teknik membaca dan memahami teks menggunakan model SQ4R menurut Thomas dan Robinson (Rustina, 2014, hlm. 3) memiliki enam tahapan, meliputi: 1) Survey Survey adalah aktivitas memeriksa, meneliti, atau mengidentifikasikan seluruh teks. 2) Question Question merupakan aktivitas menyusun atau membuat pertanyaan yang relevan dengan teks. 12
4 13 3) Read Read adalah aktivitas membaca teks secara efektif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun. Dalam hal ini, membaca aktif berarti juga membaca yang difokuskan pada paragraf-paragraf yang diperkirakan mengandung jawaban yang relevan. 4) Reflect Reflect merupakan aktivitas memikirkan contoh-contoh atau membuat bayangan material ketika sedang membaca teks. Guru perlu memberikan contoh memuat elaborasi dan memuat hubungan apa yang sedang dibaca dengan apa yang sudah diketahui. 5) Recite Recite merupakan aktivitas menghafal setiap jawaban yang ditemukan. Pada langkah ini, guru memberikan tugas untuk menyebutkan kembali jawaban atas pertanyaan yang telah disusun. 6) Review Review yaitu aktivitas meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan pada langkah kedua dan ketiga. Dari keenam tahapan model Survey, Question, Read, Recite, Reflect, Review (SQ4R). masing masing mempunyai manfaat yang saling mendukung. Penerapan model SQ4R dalam pembelajaran matematika akan memudahkan siswa dalam memahami suatu permasalahaan berbentuk soal cerita dan memudahkan dalam memilih suatu konsep yang tepat dan mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah tersebut, Azlina & Masriyah (2014, hlm. 177). Dalam model pembelajaran SQ4R terdapat enam tahapan dan akan dijelaskan pula enam langkah langkah SQ4R. Berikut penjelasan dari tiap langkah dari metode SQ4R seperti yang diuraikan dibawah ini : a. Langkah-langkah Model Pembelajaran Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review (SQ4R) 1) Survey (penelitian pendahuluan) Dalam tahap ini, pembaca mulai meneliti, meninjau, menjajaki dengan sepintas kilas untuk menemukan judul bab, subbab, dan keterangan gambar agar pembaca mengenal atau familiar terhadap materi bacaan yang akan dibaca secara detail dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan melakukan peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian saat membaca.
5 14 2) Question (tanya) Setelah melakukan survey, kita mungkin akan menemukan beberapa butir pertanyaan. Kita ajukan beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan pembimbing membaca agar terkonsentrasi dan terarah. Jumlah pertanyaan bergantung pada panjang-pendeknya teks, dan kemampuan dalam memahami teks yang sedang dipelajari. 3) Read (baca) Sekarang mulailah membaca dengan teliti dan seksama, paragraf demi paragraf. Sebagaimana kita ketahui, setiap paragraf mengembangkan satu pikiran pokok. Jika kita menggabungkan keseluruhan pikiran pokok menjadi satu kesatuan, maka terceminlah ide-ide utama dari serangkaian paragraf-paragraf dalam satu wacana. Jika membaca dengan teliti dan seksama dirasa sulit, maka langkah membaca ini minimal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan pada langkah Question. 4) Recite (ceritakan kembali dengan kata-kata sendiri) Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang telah kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku atau wacana kembali. 5) Reflect (memikirkan) Reflect adalah aktifitas memikirkan contoh-contoh atau membuat bayangan material ketika sedang membaca teks. Guru perlu memberikan contoh, membuat elaborasi, dan membuat hubungan apa yang sedang dibaca dengan apa yang sudah diketahui. 6) Review (tinjauan kembali) Periksalah kembali keseluruhan bagian. Jangan diulang baca, hanya lihatlah pada judul judul, gambar gambar, diagram diagram, tinjauan kembali pertanyaan pertanyaan, dan sarana sarana studi lainnya untuk meyakinkan bahwa kita telah mempunyai suatu gambaran yang lengkap. b. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review (SQ4R) Dengan model pembelajaran SQ4R ini sebagaimana model pembelajaran yang lainnya memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus, hal ini diungkapkan
6 15 oleh Nanda (2005, hlm. 17). Kelebihan yang dimiliki oleh model Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review dalam pelaksanaan di kelas yaitu sebagai berikut : 1. Dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. 2. Dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa. 3. Dapat memudahkan siswa untuk menghafal materi yang diajarkan guru. 4. Dapat meningkatkan rasa senang siswa pada pembelajaran matematika. Selain memiliki kelebihan model pembelajaran ini juga memiliki beberapa kekurangan. Adapun kekurangan pada penerapan model SQ4R yang diperoleh siswa secara umum, yaitu sebagai berikut : 1. Apabila dalam penggunaan model SQ4R siswa tidak teliti, siswa akan mengalami kesulitan dalam mengikuti materi berikutnya. 2. Apabila siswa tidak aktif di dalam proses belajar maka siswa tidak akan mendapatkan hasil yang baik dalam proses belajar. 3. Siswa yang tidak mengikuti dengan baik cara pembelajaran dengan model SQ4R maka siswa kesulitan dalam menerima pelajaran. Untuk mengatasi kekurangan dari model pembelajaran SQ4R ini, peran guru ketika menggunakan model ini sangatlah penting, dimana guru dapat menjadi organisator, yaitu guru menjaga kedisiplinan siswa agar tercipta suasana pembelajaran yang efektif dan membuat siswa lebih aktif dalam aktifitas kelas. Guru sebagai motivator, yaitu dimana guru memberikan pujian dorongan agar siswa melakukan usaha usaha yang positif. 3. Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning (PBL) Problem Based Learning (PBL) merupakan strategi dimana siswa belajar melalui permasalahan praktis yang berhubungan dengan kehidupan nyata. Kemudian siswa diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dibahas melalui serangkaian pembelajaran yang sistematis menurut Rubi (2012, hlm. 2). Sedangkan Wahyuni (2016, hlm. 41) mengatakan PBL adalah guru menyajikan kepada siswa masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan bagi mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
7 Untuk dapat menemukan solusi dalam permasalahan tersebut, siswa dituntut untuk mencari data dan informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber. Sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan solusi permasalahan atau dapat memecahkan permasalahan yang sedang dibahas secara kritis dan sistematis serta mampu mengambil kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka. Dari definisi diatas tentang model pembelajaran ini maka dapat kita ambil garis besarnya bahwa mempunyai ciri penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari untuk melatih dan meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa dan Self-Regulated Learning. Model PBL ini menyebabkan motivasi dan rasa ingin tahu menjadi meningkat juga membuat perubahan dalam pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru, Paloloang (2014, hlm. 68). Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran berbasis masalah dimana siswa di hadapkan pada 16 masalahmasalah. Dalam model pembelajaran ini siswa di arahkan untuk melihat masalah sebagai jalan dalam melaksanakan pembelajaran. a. Langkah langkah PBL Adapun langkah langkah atau fase dalam model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning menurut Paloloang (2014, hlm. 69) yaitu, 1) orientasi siswa pada masalah 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar 3) membantu penyelidikan individual maupun kelompok 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya 5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah b. Kelebihan dan Kekurangan PBL Sebagai suatu model pembelajaran terdapat kelebihan dan kelemahan yang ada dalam model tersebut. Berikut ini merupakan kelebihan dari model Problem- Based Learning menurut Sanjaya (2007), yaitu : 1. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. 2. Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa. 3. Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata. 4. Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, Problem-Based Learning dapat
8 17 mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya. 5. Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. 6. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. 7. Mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. 8. Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia nyata. Kemudian berikut ini merupakan kelemahan dari model Problem-Based Learning menurut Sanjaya (2007), diantaranya: 1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya. 2. Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Berdasarkan penjelasan diatas maka model Problem-Based Learning adalah model pembelajaran dengan masalah dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya. Guru tidak memberikan konsep matematika dalam bentuk yang utuh melainkan sudah menjadi bentuk masalah-masalah yang harus dicari penyelesaiannya oleh siswa. 4. Kemampuan Self-Regulated Learning (SRL) Dalam proses pembelajaran setiap siswa juga diarahkan agar menjadi siswa yang mandiri, dan untuk menjadi mandiri seseorang individu harus belajar, sehingga dapat dicapai suatu kemandirian belajar. Perkembangannya kemandirian muncul sebagai hasil proses belajar dn pengalaman itu sendiri dan dipengaruhi berbagai faktor yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan belajar. a. Definisi Self-Regulated Learning SRL dalam Bahasa Indonesia berarti pengaturan diri dalam belajar atau kemandirian belajar. Zimmerman & Martinez-Pons (1990), menyatakan bahwa Self-Regulated Learning merupakan konsep mengenai bagaimana seorang peserta
9 18 didik menjadi pengatur bagi belajar sendiri. Menurut Wine (Fajariyah, 2015, hlm. 25) Self-Regulated Learning adalah kemampuan seseorang untuk mengelola secara efektif pengalaman belajarnya sendiri di dalam berbagai cara sehingga mencapai hasil belajar yang optimal. Self-Regulated Learning merupakan salah satu faktor bidang afektif yang sangat penting dan harus diperhatikan dalam pembelajaran matematika (Sari, 2016, hlm. 19). Kemandirian dalam belajar menunjukan bahwa seseorang yang mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilannya dalam belajar. Menurut KBBI, kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Self-Regulated Learning merupakan proses belajar dimana peserta didik mengaktifkan kognisi, tindakan dan perasaan secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. b. Aspek-aspek Self-Regulated Learning Menurut Zimmerman (1989) mengemukakan tiga aspek dalam SRL, aspek - aspek yang diaplikasikan dalam belajar, yaitu metakognitif, motivasi, dan perilaku. Peserta didik tersebut dengan sendirinya memulai usaha belajar secara langsung untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian yang diinginkan, tanpa bergantung kepada guru, orang tua atau orang lain. Paparan selengkapnya sebagai berikut. 1. Metakognitif Poin metakognitif dalam Self-Regulated Learning yaitu proses memahami pendekatan pembelajaran dalam proses berfikir dengan merencanakan, menetapkan tujuan, memonitor, mengorganisasikan dan mengevaluasi kegiatan belajar. 2. Motivasi Keuntungan motivasi ini adalah individu memiliki ketertarikan terhadap tugas yang diberikan dan berusaha dengan tekun dalam belajar dengan memilih, menyususun, dan menciptakan lingkungan yang disukai untuk belajar.
10 19 3. Perilaku Individu memilih, menyusun, dan menciptakan lingkungan sosial dan fisik seimbang untuk mengoptimalkan pencapaian atas aktivitas yang dilakukan. Siswa dalam mengikuti proses pembelajaran harus mengetahui tujuan belajarnya, sehingga mereka melakukan dan memilih sesuatu atas dorongan dari diri mereka sendiri dan bukan karena perintah orang lain. Woolfolk (Qohar, 2010) menyatakan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi SRL meliputi : pengetahuan (knowledge), motivasi (motivation), dan disiplin pribadi (self-discipline). Agar dapat mempunyai SRL siswa harus mempunyai pengetahuan tentang dirinya, tentang materi yang dipelajari, tentang tugas, tentang strategi belajar dan tentang aplikasi dari materi yang dipelajari. c. Fase-fase Self-Regulated Learning Self-Regulated Learning mencakup proses-proses di bawah ini, dimana proses-proses Self-Regulated Learning ini pada dasarnya bersifat metakognitif (Ormrod, 2009), yaitu : 1. Penetapan tujuan (Goal setting) siswa yang mengatur diri tahu apa yang ingin dicapai ketika membaca atau belajar. siswa mengaitkan tujuan-tujuan dalam mengerjakan suatu aktivitas belajar dengan tujuan dan cita-cita jangka panjang. 2. Perencanaan (Planning) siswa yang mengatur diri sebelumnya sudah menentukan bagaimana baiknya menggunakan waktu dan sumber daya yang tersedia untuk tugas-tugas belajar. 3. Motivasi Diri (Self-motivation) siswa yang mengatur diri biasanya memiliki efficacy diri yang tinggi akan kemampuannya dalam menyelesaikan suatu tugas belajar dengan sukses. 4. Kontrol Atensi (Attention control) siswa yang mengatur diri berusaha memfokuskan perhatian pada pelajaran yang sedang berlangsung dan mengosongkan fikiran dari hal-hal lain yang mengganggu. 5. Penggunaan strategi belajar yang fleksibel (flexible use of learning strategis). siswa yang mengatur diri memiliki strategi belajar yang berbeda tergantung
11 20 tujuan-tujuan spesifik yang ingin di capai. Sebagai contoh siswa membaca sebuah artikel majalah tergantung pada apakah siswa membacanya hanya sekedar hiburan atau sebagai persiapan ujian. 6. Monitor diri ( self monitoring). Siswa yang mengatur diri terus memonitor kemajuan dirinya dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dan siswa mengubah strategi belajar atau memodifikasi tujuan bila dibutuhkan. 7. Mencari bantuan yang tepat ( appropriate help seeking). Siswa yang benarbenar mengatur diri tidak selalu harus berusaha sendiri. Sebaliknya, siswa menyadari bahwa dirinya membutuhkan orang lain dan mencari bantuan semacam itu. Siswa khususnya mungkin meminta bantuan yang akan memudahkan mereka bekerja secara mandiri dikemudian hari. 8. Evaluasi diri (self evaluation). Siswa yang mampu mengatur diri menentukan apakah yang dipelajari itu telah memenuhi tujuan awal atau belum. Idealnya siswa juga menggunakan evaluasi diri untuk menyesuaikan penggunaan berbagai strategi belajar dalam kesempatan-kesempatan dikemudian hari. d. Indikator Self-Regulated Learning Sumarmo (2013) menyatakan Indikator untuk mengukur kemampuan SRL matematika siswa dalam penelitian ini menggunakan indikator SRL adalah sebagai berikut: (1) Menunjukan inisiatif dalam belajar matematika; (2) Mendiagnosis kebutuhan dalam belajar matematika; (3) Menetapkan target/tujuan belajar; (4) Memonitor, mengatur, dan mengontrol belajar; (5) Memandang kesulitan sebagai tantangan; (6) Memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan; (7) Memilih dan menerapkan strategi belajar; (8) Mengevaluasi proses dan hasil belajar; (9) Yakin tentang dirinya sendiri. (Sumarmo, 2013). Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Self-Regulated Learning adalah proses kemandirian peserta didik dalam merancang tujuan, memilih strategi, dan mengaktifkan kognitif, afektif sehingga tercapai tujuan belajar. Peserta didik yang memiliki Self-Regulated Learning yang baik juga mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Mereka mengetahui mengapa mereka belajar, sehingga melakukan dan memilih sesuatu merupakan dorongan dari diri sendiri.
12 21 B. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan No Nama Peneliti/ Tahun Judul Penelitian Tempat Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan 1 Wida Sari Rosahdi Teknik SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review) dalam Kelompok Kecil sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP 2 Milda Pengaruh Strategi Meividia Preview, Question, Aniar Read, Reflection, Recite, Review degan Setting Cooperatife SMPN 27 Eksperimen 1. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan 1. Model yang1. Kemampuan yang Bandung pemecahan masalah matematika yang digunakan kelas VIII signifikan antara siswa yang mendapat 2. Metode diukur pembelajaran matematika dengan Penelitian menggunakan teknik SQ4R dalam kelompok kecil dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika biasa. 2. Siswa memberikan sikap positif terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik SQ4R dalam kelompok kecil. SMPN 12 Bandung Kelas VIII Eksperimen 1. Pemahaman konsep matematika siswa yang memperoleh strategi preview, question, read, reflection, recite, review dengan setting cooperative learning tipe kancing gemerincing lebih baik daripada siswa. 1. Kemampuan yang diukur 2. Metode penelitian 1. Model yang dipakai
13 22 No Nama Judul Penelitian Tempat Metode Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan Peneliti/ Penelitian Penelitian Tahun Learning Tipe 2. memperoleh pembelajaran konvensional. Kancing Gemerincing Siswa bersikap positif terhadap penggunaan terhadap Pemahaman strategi preview, question, read, reflection, Konsep Matematika recite, review dengan setting cooperative Siswa SMP learning tipe kancing gemerincing dalam pembelajaran matematika. 3 Pipit Pembelajaran dengan SMKN 10 Kuasi 1. Kemampuan koneksi matematika siswa 1.Metode 1.Model Senja Penyusunan Peta Garut Eksperimen yang pembelajarannya menggunakan penelitian yang Triana Konsep untuk penyusunan peta konsep lebih baik Kemamp- digunak- (2012) Meningkatkan daripada siswa yang memeroleh an yang an Kemampuan Koneksi pembelajaran konvensional. diukur Matematika Siswa 2. Sebagian besar siswa merespon secara SMK positif terhadap pembelajaran menggunakan penyusunan peta konsep yang diterapkan di kelas.
14 23 C. Kerangka Pemikiran Dalam penelitian ini, peneliti memakai desain kelompok kontrol nonekuivalen dimana terdapat kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sebagai langkah awal, siswa pada kedua kelas diberikan pretes berupa tes uraian sebanyak 5 soal. Tujuannya untuk melihat kemampuan koneksi matematis siswa. Kemudian diberikan perlakuan, untuk kelas kontrol diberikan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sedangkan untuk kelas eksperimen diberikan pembelajaran kooperatif tipe Survey, Question, Read, Recite, Reflect, dan Review (SQ4R). Untuk mengetahui tingkat keberhasilan kemampuan koneksi matematis siswa peneliti memberikan tes akhir (postes) berupa soal yang sama dengan soal pretes yaitu berupa tes uraian sebanyak 5 soal. Selain itu, untuk kelas eksperimen menggunakan data angket untuk mengukur skala sikap siswa. Kondisi Awal Model Pembelajaran SQ4R Model Pembelajaran PBL Self-Regulated Learning Kemampuan Koneksi Matematika Self-Regulated Learning Kemampuan Koneksi Matematika Apakah terdapat perbedaan peningkatan self-regulated learning siswa antara yang memperoleh pembelajaran model SQ4R dan model PBL? Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematika siswa antara yang memperoleh pembelajaran model SQ4R dan model PBL? Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
15 24 D. Asumsi dan Hipotesis 1. Asumsi Ruseffendi (2010, hlm. 25) mengatakan bahwa asumsi merupakan anggapan dasar mengenai peristiwa yang semestinya terjadi dan atau hakekat sesuatu yang sesuai dengan hipotesis yang dirumuskan. Menurut Arikunto (2006, hlm. 68) bahwa anggapan dasar adalah suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti dalam memperjelas menetapkan objek penelitian, wilayah pengambilan data, intstrumen pengambilan data yang diterima oleh peneliti. Dengan demikian, anggapan dasar dalam penelitian ini adalah: a) Perhatian, semangat, dan kesiapan siswa dalam menerima materi pelajaran matematika akan meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar matematika. b) Penyampaian materi dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai, akan membangkitkan motivasi belajar dan siswa akan aktif dalam mengikuti pelajaran sebaik-baiknya yang disampaikan oleh guru. 2. Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah dan studi literatur maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut: a. Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review (SQ4R) lebih baik daripada yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). b. Peningkatan self-regulated learning matematik siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Survey, Question, Read, Recite, Record, dan Review (SQ4R) lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
BAB II KAJIAN TEORETIS
BAB II KAJIAN TEORETIS A. Kajian Teori 1. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Seseorang dikatakan memahami sesuatu jika telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali yang telah dipelajarinya
BAB II KAJIAN TEORI A.
BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori 1. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Berpikir kritis adalah berpikir yang berhubungan dengan apa yang seharusnya dipercaya atau dilakukan setiap situasi atau peristiwa.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap manusia, pendidikan juga merupakan upaya manusia untuk memperluas pengetahuan dalam rangka membentuk
BAB II KAJIAN TEORITIS
BAB II KAJIAN TEORITIS A. KAJIAN TEORI 1. Kemampuan Koneksi Matematik Matematika terdiri dari berbagai topik yang saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitan tersebut tidak hanya antar topik dalam matematika
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Matematika mempunyai andil dalam mengembangkan bidang
BAB II KAJIAN TEORITIK. Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) bahwa
7 BAB II KAJIAN TEORITIK A. Deskripsi Konseptual 1. Koneksi Matematis Dalam pembelajaran matematika, materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi materi lainnya, atau konsep yang satu diperlukan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berasal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak paham menjadi paham
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Permendikbud No. 103 Tahun 2014, pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu tempat siswa untuk mendapatkan ilmu mencetak sumber daya manusia yang handal, memiliki kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran matematika membutuhkan sejumlah kemampuan. Seperti dinyatakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006) bahwa untuk menguasai
BAB I PENDAHULUAN. Pembaharuan di bidang pendidikan yang mengacu pada visi dan misi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembaharuan di bidang pendidikan yang mengacu pada visi dan misi pembangunan pendidikan nasional kini telah tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran Model Treffinger Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Dan Koneksi Matematis Siswa
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam perkembangannya, ternyata banyak konsep matematika diperlukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panji Faisal Muhamad, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang selalu menemani perjalanan kehidupan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensinya. Seperti yang dijelaskan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Self Regulated Learning 1. Pengertian Self Regulated Learning Zimmerman berpendapat bahwa self regulation berkaitan dengan pembangkitan diri baik pikiran, perasaan serta tindakan
2015 MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN LOGIS MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP MELALUI LEARNING CYCLE 5E DAN DISCOVERY LEARNING
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu yang berperan penting dalam kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sehingga perkembangan matematika menjadi sesuatu yang
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, sehingga diperlukan suatu pendidikan yang berkualitas. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi kehidupan manusia. Melalui proses pendidikan manusia dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang ada dalam dirinya. Dalam
BAB I PENDAHULUAN. pola pikir siswa adalah pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan suatu proses pembentukan kepribadian dan pola pikir siswa. Salah satu pembelajaran yang mampu membentuk kepribadian dan pola pikir siswa
II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Berbasis Masalah Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai dasar atau basis bagi siswa
BAB II KAJIAN TEORITIK
7 BAB II KAJIAN TEORITIK A. Kajian Teoritik 1. Deskripsi konseptual a. Komunikasi Matematis Menurut Soekamto (1992) Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pada masa global ini, menuntut sumber daya manusia yang berkualitas serta bersikap kreatif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lia Liana Iskandar, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha sadar, terencana untuk mewujudkan proses belajar dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan karekteristik peserta didik. Dalam proses pendidikan,
BAB I PENDAHULUAN. pengembangan berbagai kompetensi tersebut belum tercapai secara optimal.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia sepanjang hidupnya. Pendidikan dapat diartikan sebagai proses kegiatan mengubah perilaku individu kearah kedewasaan
Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan Pendekatan Modifikasi APOS
Peningkatan Kemandirian Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan Pendekatan Modifikasi APOS Yerizon Jurusan Matematika FMIPA UNP Padang E-mail: [email protected] Abstrak. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh
BAB I PENDAHULUAN. dari diajarkannya matematika di setiap jenjang pendidikan. Selain itu, untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang penting untuk dipelajari. Pentingnya matematika dalam kehidupan dapat dirasakan dan dilihat dari diajarkannya
P. S. PENGARUH PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING TERHADAP KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS DAN KECEMASAN MATEMATIS SISWA KELAS VII
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu yang terstruktur dan terorganisir yang memiliki keterkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lainnya. Matematika diberikan kepada
BAB I PENDAHULUAN. Untuk menghadapi tantangan zaman yang dinamis, berkembang dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Untuk menghadapi tantangan zaman yang dinamis, berkembang dan semakin maju diperlukan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan intelektual tingkat tinggi yang
BAB II KAJIAN TEORETIS
BAB II KAJIAN TEORETIS A. Model Pembelajaran Means Ends-Analysis, Model Pembelajaran Konvensional,Pemecahan Masalah, dan Disposisi Matematik 1. Model Pembelajaran Means-Ends Analysis (MEA) Model pembelajaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review)
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review) Metode belajar SQ3R dikembangkan oleh Francis P. Robinson di Universitas Ohio Amerika Serikat. Metode SQ3R ini semakin
BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang
II. KERANGKA TEORITIS. Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang
II. KERANGKA TEORITIS A. Tinjauan Pustaka 1. Model Problem Based Learning (PBL) Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat
BAB I PENDAHULUAN. mampu mengerjakan dan memahami matematika dengan benar. keadaan di dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia yang selalu berkembang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu mempunyai peranan penting dalam menentukan masa depan. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah harus
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PQ4R TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG SISI DATAR
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PQ4R TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG SISI DATAR Harfin Lanya Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Madura Alamat : Jalan
Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 1 No. 1, 2014, artikel 9
Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik SQ4R Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Dan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP Negeri 8 Kota Tasikmalaya The Effect Of Applying Contextual
BAB I PENDAHULUAN. matematika kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Menurut Wahyudin (1999),
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ada pandangan umum yang mengatakan bahwa mata pelajaran matematika kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Menurut Wahyudin (1999), matematika merupakan mata
Circle either yes or no for each design to indicate whether the garden bed can be made with 32 centimeters timber?
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik sebagai alat bantu dalam penerapan bidang ilmu
BAB II KAJIAN TEORI. E. Kajian Teori. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah. Sebagian besar ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah
BAB II KAJIAN TEORI E. Kajian Teori 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Sebagian besar ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Mereka juga
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu yang berhubungan dengan dunia pendidikan yang dapat mengembangkan kemampuan untuk berargumentasi, memberi kontribusi
BAB I PENDAHULUAN. kemampuan yang diperlukan dalam pembelajaran matematik. Hal ini disebabkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan berpikir reflektif matematis merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan dalam pembelajaran matematik. Hal ini disebabkan target pembelajaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA. matematika dengan kehidupan sehari-hari. Keterkaitan inilah yang disebut
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Koneksi Matematis Matematika terdiri dari berbagai topik yang saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitan tersebut tidak hanya antartopik dalam matematika saja, tetapi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari waktu jam pelajaran sekolah lebih
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar
BAB II KAJIAN TEORITIS. Kemampuan berpikir tingkat tingi dapat dikembangkan dalam proses
BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir tingkat tingi dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran terutama dalam pembelajaran matematika, salah satunya adalah
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya.
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektif adalah akibatnya atau pengaruhnya. Efektivitas merupakan standar atau taraf tercapainya suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika berfungsi sebagai ilmu atau pengetahuan, dan tentunya pembelajaran matematika disekolah mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran,
I. PENDAHULUAN. menghadapi setiap perubahan yang terjadi akibat adanya kemajuan ilmu
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia selalu berusaha mengembangkan dirinya untuk menghadapi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pembelajaran matematika ialah agar siswa mampu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pembelajaran matematika ialah agar siswa mampu menghadapi perkembangan kehidupan yang selalu berubah-ubah. Menurut Depdiknas (2006:388) mata pelajaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah penting untuk
BAB I PENDAHULUAN. yang mendasari perkembangan sains dan teknologi, mempunyai peran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia ilmu pengetahuan, matematika memiliki peran yang sangat penting dimana matematika bukan hanya digunakan dalam lingkup matematika itu sendiri, tetapi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai ilmu dasar segala bidang ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Matematika memiliki peranan penting dalam ilmu
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa Indonesia secara umum mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi sosial. Pada dasarnya bahasa erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai anggota
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa yang perlu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dikembangkan potensinya. Salah satu cara untuk mengembangkan potensi generasi penerus bangsa yaitu melalui
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia akan mampu mengembangkan potensi diri sehingga akan mampu mempertahankan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Matematika merupakan salah satu bidang studi yang sangat penting, baik bagi siswa maupun bagi pengembangan bidang keilmuan yang lain. Kedudukan matematika dalam dunia
Upaya Meningkatkan Motivasi Membaca Melalui Layanan Bimbingan Belajar Teknik SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) Pada Siswa
Upaya Meningkatkan Melalui Layanan Bimbingan Belajar Teknik SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) Pada Siswa Minanur Rohman (09220173) Mahasiswa Pendidikan Bimbingan dan Konseling IKIP Veteran
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. dahulu kita harus mengetahui definisi dari masalah itu sendiri. Prayitno (1985)
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Sebelum kita mengetahui pengertian kemampuan pemecahan masalah, terlebih dahulu kita harus mengetahui
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai bagian dari kurikulum di sekolah, memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan yang mampu bertindak atas
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan. Auliya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan. Auliya (2013:1) menyatakan, Pentingnya orang belajar matematika tidak terlepas dari perannya dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA. Guna memahami apa itu kemampuan pemecahan masalah matematis dan pembelajaran
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Masalah Matematis Guna memahami apa itu kemampuan pemecahan masalah matematis dan pembelajaran berbasis masalah, sebelumnya harus dipahami dahulu kata masalah. Menurut Woolfolk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas maka dari itu sudah sejak lama pemerintah telah melakukan berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan dan pembelajaran merupakan suatu proses yang diarahkan untuk mengembangkan potensi manusia agar mempunyai dan memiliki kemampuan nyata dalam perilaku kognitif,
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya peningkatan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurningsih, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika tidak hanya mengharuskan siswa sekedar mengerti materi yang dipelajari saat itu, tapi juga belajar dengan pemahaman dan aktif membangun
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Efektivitas erat kaitannya dengan tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan
10 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Efektivitas erat kaitannya dengan tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau harapan yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan sains dan teknologi merupakan salah satu alasan tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sains dan teknologi merupakan salah satu alasan tentang perlu dikuasainya matematika oleh siswa. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di dunia secara. global dan kompetitif memerlukan generasi yang memiliki kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di dunia secara global dan kompetitif memerlukan generasi yang memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, memanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN. yang baik, di antaranya kemampuan pemecahan masalah; kemampuan. penalaran dan bukti; kemampuan komunikasi; kemampuan koneksi; dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pembelajaran matematika, ada 5 (lima) kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik untuk memperoleh hasil belajar yang baik, di antaranya kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Indonesia yang sederajat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Perbedaan yang
BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,
Mosharafa Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5, Nomor 1, April 2015
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE-MEANINGFUL INSTRUCTIONAL DESIGN (C-MID) Oleh: TENI SRITRESNA Abstrak Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Peranan matematika dalam dunia pendidikan sangatlah penting, karena matematika sebagai sumber dari ilmu yang lain. Menurut Kline (Ruseffendi, 1992, hlm. 28)
BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai tujuan pendidikan (Kurniasari, 2007:1). Seorang guru harus
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Guru adalah profesi yang harus dijalani dengan tanggung jawab yang besar. Seorang guru dituntut untuk bisa menyampaikan materi yang sulit menjadi mudah dimengerti
BAB II KAJIAN TEORI. didefinisikan sebagai pemikiran tentang pemikiran (thinking about
BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Metakognisi Istilah metakognisi diperkenalkan oleh John Flavell, seorang psikolog dari Universitas Stanford pada sekitar tahun 1976 dan didefinisikan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut. Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Masalah dapat muncul
BAB II LANDASAN TEORI. Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti. merupakan proses informasi ilmu dari guru kepada siswa.
6 BAB II LANDASAN TEORI A. Kemampuan Komunikasi Matematis Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Menurut Toda (Liliweri, 1997) komunikasi sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi
BAB I PENDAHULUAN. pula pembelajaran bahasa-bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, bahasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran bahasa di Indonesia dewasa ini tidak hanya mencakup pembelajaran bahasa nasional dan bahasa lokal saja, namun telah berkembang pula pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Peran pendidikan matematika sangat penting bagi upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai modal bagi proses pembangunan. Siswa sebagai
BAB II KAJIAN TEORETIS. matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui
BAB II KAJIAN TEORETIS A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika bagi para siswa merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu
Wawat Suryati STKIP-PGRI Bandar Lampung ABSTRAK
Wawat Suryati STKIP-PGRI Bandar Lampung ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh penerapan metode pembelajaran PQ4R pada hasil belajar siswa dengan mengambil pokok bahasan program
2016 KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang timbul akibat adanya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Sains (IPTEKS) dimana semakin pesat yaitu bagaimana kita bisa memunculkan Sumber Daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam kehidupan dan kehadirannya sangat terkait erat dengan dunia pendidikan adalah Matematika.
BAB I PENDAHULUAN. sosial, teknologi, maupun ekonomi (United Nations:1997). Marzano, et al (1988)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan sangat mendasar dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin perkembangan sosial, teknologi,
BAB I PENDAHULUAN. Balitbang Depdiknas (2003) menyatakan bahwa Mata pelajaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu ilmu yang diperlukan dalam kehidupan manusia, karena melalui pembelajaran matematika siswa dilatih agar dapat berpikir kritis,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara umum belief diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan diri terhadap
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Dasar 1. Belief Siswa terhadap Matematika Secara umum belief diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan diri terhadap sesuatu. Belief siswa terhadap matematika adalah keyakinan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan dan hambatan yang semakin berat yang menuntut seseorang agar mampu bersaing untuk
I. PENDAHULUAN. menjadi kebutuhan mendasar yang diperlukan oleh setiap manusia. Menurut UU
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia saat ini tidak bisa terlepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental bagi kemajuan suatu bangsa sehingga menjadi kebutuhan
BAB II KAJIAN TEORI. analisa berasal dari bahasa Yunani kuno analusis yang artinya melepaskan.
7 BAB II KAJIAN TEORI Pada bab II ini, penulis akan membahas tentang apa itu kemampuan koneksi matematik dan disposisi matematik; KI, KD, dan Indikator pencapaian kompetensi dari materi pelajaran; penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya melalui pelatihan
