BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan masalah pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Implementasi Sistem Informasi ATISISBADA ATISISBADA adalah kependekan dari Aplikasi Teknologi Informasi Siklus Barang Daerah, merupakan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang berfungsi dalam pengelolaan data dan informasi barang daerah secara on line. Modul yang baru berjalan pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah modul penatausahaan barang daerah. Implementasi sistem informasi ATISISBADA pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini terlihat dalam skor jawaban responden hasil pengolahan kuesioner secara keseluruhan yaitu sebesar 3849 dari skor maksimum yaitu 4725 atau sebesar 81,46%. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi sistem informasi ATISISBADA diukur dari indikator kinerja hardware, kualitas software aplikasi, computer based standar operating procedur (CBSOP), prosedur manual sistem, jaringan komputer dan kompetensi end-user telah dilaksanakan dengan baik. 2. Penatausahaan Barang Daerah
Penatausahaan barang daerah menurut Permendagri No. 17 tahun 2007 merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan. Kegiatan yang pertama dilakuan adalah pembukuan, yakni proses pencatatan barang milik daerah ke dalam daftar barang pengguna dan ke dalam kartu inventaris barang serta dalam daftar barang milik daerah. Selanjutnya dilakukan inventarisasi,yakni kegiatan atau tindakan untuk melakukan perhitungan, pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan data dan pelaporan barang daerah dalam unit pemakaian. Dari kegiatan inventarisasi disusun buku inventaris yang menunjukkan semua kekayaan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dalam pelaksanaan inventarisasi dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu pelaksanaan pencatatan dan pelaksanaan pelaporan.kegiatan terakhir yakni pelaporan. Format laporan pengurus barang yang harus dibuat diantaranya antara lain : buku inventarisasi, rekap buku inventarisasi, laporan mutsi barang, daftar mutasi barang, rekapitulasi daftar mutasi barang, daftar usulan barang yang akan dihapuskan dan daftar barang milik daerah yang digunausahakan. Pengukuran kualitas penatausahaan barang daerah telah berjalan dengan sangat baik. Hal ini terlihat dalam skor jawaban responden hasil pengolahan kuesioner secara keseluruhan yaitu sebesar 3622 dari skor maksimum 4275 atau sebesar 84,73%. Hal ini menunjukkan bahwa
kualitas penatausahaan barang daerah saat ini diukur dari indikator pembukuan, inventarisasi dan pelaporan telah berjalan sangat baik. 3. Berdasarkan hasil perhitungan korelasi menggunakan software SPSS 20.0 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif sebesar 0,717. Tanda positif disini artinya semakin baik implementasi dari sistem informasi ATISISBADA maka akan semakin baik pula kualitas penatausahaan barang daerah pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 4. Secara simultan implementasi sistem informasi ATISISBADA berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas penatausahaan barang daerah pada Pemerintah Provinsi jawa Barat. hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 serta pengaruh sebesar 50,6 %. Sementara untuk sisanya yaitu 49,4% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 5.2 Implikasi Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, penulis memberikan saran berdasarkan hasil penelitian, yaitu sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil pengujian, diketahui bahwa implementasi sistem informasi aplikasi teknologi informasi siklus barang daerah (ATISISBADA) secara simultan berpengaruh positif terhadap kualitas penatausahaan barang daerah sebesar 50,6 % dan sisanya sebesar 49,4 % dipngaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Dengan demikian, sistem informasi ATISISBADA masih perlu ditingkatkan, diantaranya dengan cara: a. Meningkatkan kualitas dan kinerja hardware, dengan cara seperti melakukan pemeliharaan hardware pendukung pengoperasian software ATISISBADA secara berkala dan melakukan update spesifikasi hardware agar dapat semakin menunjang pengoperasian software ATISISBADA. b. Meningkatkan pula kualitas software ATISISBADA dengan fitur yang lebih mudah dijalankan dan dimengerti oleh pengguna serta lebih menunjang kegiatan pelaksanaan penatausahaan barang daerah. c. Memperbaiki sarana dan prasarana jaringan komputer agar pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan software ATISISBADA tidak terhambat. 2. Sebaiknya Pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan-pelatihan secara berkala agar kompetensi yang dimiliki oleh setiap pegawai dapat meningkat. Dengan demikian, pegawai menjadi lebih kompeten dan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsinya. 3. Sebaiknya dilakukan pemisahan fungsi penatausahaan barang milik daerah di OPD/ SKPD, yaitu pemisahan fungsi pembukuan, fungsi iventarisasi, dan fungsi pelaporan. 4. Sebaiknya inventarisasi untuk persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan dilakukan secara tepat waktu yaitu setahun sekali.
5. Untuk peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti masalah yang serupa di lingkup pemerintahan, sebaiknya dapat memperluas lingkup penelitian dan meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas penatausahaan barang daerah serta menambah sampel penelitian. 5.3 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mempunyai beberapa kendala dan kelemahan. Kendala dan kelemahan yang ada pada penelitian ini adalah : 1. Penyebaran dan pengembalian kuesioner membutuhkan waktu yang lama, sedangkan waktu penelitian yang disediakan sangat singkat. 2. Hasil penelitian ini sangat tergantung pada kejujuran responden dalam menjawab kuesioner, namun untuk meminimalisirnya dapat dilakukan dengan disertai wawancara.