BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN. Suhada, ST, MBA

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan

Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I. Pengelolaan Rantai Pasokan

KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

MANAJEMEN OPERASIONAL. BAB VI Supply Chain

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014)

BAB II LANDASAN TEORI. tujuan yang sama. Menurutnya juga, Sistem Informasi adalah serangkaian

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat menyelesaikan masalah maka perlu dirumuskan terlebih dahulu langkahlangkah

BAB II KERANGKA TEORETIS. pemasaran (yang sering disebut dengan istilah saluran distribusi). Saluran

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 7: MENGELOLA PERSEDIAAN PADA SUPPLY CHAIN. By: Rini Halila Nasution, ST, MT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

MAKALAH E BISNIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

Bab I : Peramalan (Forecasting) Bab III : Manajemen Persediaan. Bab IV : Supply-Chain Management. Bab V : Penetapan Harga (Pricing)

Pemanfaatan Algoritma Program Dinamis dalam Pendistribusian Barang

BAB I PENDAHULUAN. mutu lebih baik, dan lebih cepat untuk memperolehnya (cheaper, better and

: Yan Ardiansyah NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Pembahasan Materi #1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI

Tugas Akhir. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka kebutuhan atau

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB V PENUTUP. Hasil penelitian yang telah diperoleh dan simpulan merupakan jawaban. dari perumusan masalah yang ada sebagai berikut:

Analisis Beberapa Algoritma dalam Menyelesaikan Pencarian Jalan Terpendek

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai

BAB 2 LANDASAN TEORI

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI

PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP)

BAB 2 LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI PENELITIAN

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT. Rantai Suplai /pasok adalah nama lain untuk menyebutkan seluruh proses bisnis

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bisnis (Naslund et al., 2010). Manajemen rantai pasok melibatkan

BAB I PENDAHULUAN. serta mempermudah penyampaian produk dari produsen ke konsumen. Distribusi

Pembahasan Materi #5

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari

BAB I PENDAHULUAN. ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Keberadaan supply chain atau rantai pasok dalam proses produksi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Penelitian Sebelumnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan yang mantap sesuai dengan tujuan dan harapan harapan awal dengan

Indeks Produksi Industri Sedang Besar

KEWIRAUSAHAAN III. Power Point ini membahas mata kuliah Kewirausahaan III. Endang Duparman. Modul ke: Arissetyanto. Fakultas SISTIM INFORMASI

PENJADWALAN PERJALANAN ALAT TRANSPORTASI UNTUK PENDISTRIBUSIAN DAN LOADING BARANG DI WILAYAH RUTE SUMATERA UTARA PADA PT.BINA TAMA SENTRA FAJAR MEDAN

Penggabungan Algoritma Brute Force dan Backtracking dalam Travelling Thief Problem

BAB 1. PENDAHULUAN. Permasalahan pendistribusian barang oleh depot ke konsumen merupakan

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

III. KERANGKA PEMIKIRAN

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Deskripsi Mata Kuliah

Merancang Jaringan Supply Chain

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Medan merupakan salah satu anak. perusahaan dari The Coca-Cola Company yang bergerak dalam bidang

TUGAS E-BISNIS ANALISIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

PENGELOLAAN RANTAI PASOK

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS BULLWHIP EFFECT DALAM MANAJEMEN RANTAI PASOK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENERAPAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND DALAM MENENTUKAN RUTE TERPENDEK UNTUK PERJALANAN ANTARKOTA DI JAWA BARAT

BAB 2 LANDASAN TEORI

Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom

PENGELOLAAN RANTAI PASOK SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) HORTIKULTURA

Lecture 5 : Dynamic Programming (Programa Dinamis) Hanna Lestari, ST, M.Eng

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN. bergerak dalam bidang industri semen, dengan kapasitas total produksi

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND

1.1 Latar Belakang Masalah

PERENCANAAN FASILITAS SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI RIAU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

TUGAS RESUME MATERI KULIAH ALGORITMA DAN STRUKTUR DATA STRATEGI ALGORITMA : H

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersamasama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai terakhir. Perusahaan-perusahaan tersebut bisaanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau outlet, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. Pada suatu Supply chain bisaanya ada 3 macam aliran yang harus dikelola. Pertama adalah aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream). Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai diproduksi, mereka dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau ritel, kemudian ke pemakai terakhir. Yang kedua adalah aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Yang ketiga adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya. Informasi tentang persediaan produk yang masih ada di masing-masing supermarket sering dibutuhkan oleh distributor ataupun pabrik. Informasi tentang ketersediaan kapasitas produksi yang dimiliki oleh supplier juga sering dibutuhkan oleh pabrik. Informasi tentang status pengiriman bahan baku sering dibutuhkan oleh perusahaan yang mengirim maupun yang akan menerima.

22 Aplikasi di lapangan tidak sesederhana yang dibayangkan, untuk mengilustrasikan supply chain lebih jauh akan dicontohkan pada sebuah pabrik biskuit kaleng. Dalam sebuah industri biskuit kaleng setidak-tidaknya ada 12 pihak yang terkait dalam usaha tersebut, pihak-pihak terkait yaitu : 1. Penghasil gandum 2. Penghasil tebu 3. Penghasil garam 4. Penghasil aluminium 5. Pabrik tepung terigu 6. Pabrik gula 7. Distributor garam 8. Pabrik kaleng 9. Pabrik biskuit 10. Distributor biskuit 11. Supermarket 12. Perusahaan transportasi dan pergudangan Gambar 2.1 menunjukkan skema hubungan antara semua perusahaan tersebut. Mereka melakukan tugasnya masing-masing dengan tujuan ingin memuaskan konsumen akhir. Karena pada hakekatnya mereka membentuk suatu jaringan (bukan sekedar rantai), banyak orang lebih suka menyebut Supply chain

23 dengan istilah supply network. Orang Indonesia terkadang menerjemahkan istilah Supply chain dengan rantai pasok. Gambar 2.1 Model konfigurasi Supply chain biskuit Kalau Supply chain adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, SCM adalah metode, alat, atau pendekatan pengelolaannya. Namun perlu ditekankan bahwa SCM menghendaki pendekatan atau metode yang terintegrasi dengan dasar semangat kolaborasi. Jadi Supply chain management tidak hanya berorientasi pada urusan internal sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Kenapa diperlukan koordinasi dan kolaborasi antar perusahaan pada Supply chain? Karena perusahaan-perusahaan yang berada pada suatu Supply chain pada intinya ingin memuaskan konsumen akhir yang sama, mereka harus bekerja sama untuk membuat produk yang murah, mengirimkannya tepat waktu, dan dengan kualitas yang bagus. Hanya dengan

24 kerjasama antara elemen-elemen pada Supply chain tujuan tersebut akan bisa dicapai. Oleh karena itu, cukup tepat kalau banyak orang mengatakan bahwa persaingan dewasa ini bukan lagi antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, tetapi antara Supply chain yang satu dengan Supply chain yang lain. Semangat koordinasi dan kolaborasi juga didasari oleh kesadaran bahwa kuatnya sebuah Supply chain tergantung pada kekuatan seluruh elemen yang ada di dalamnya. Sebuah pabrik yang sehat dan efisien tidak akan banyak berarti apabila suppliernya tidak mampu memenuhi pengiriman tepat waktu. Ada benarnya perkataan orang bahwa a Supply chain is as strong as its weakest link. Jadi, dalam Supply chain, pabrik perlu memberikan bantuan teknis dan manajerial terhadap supplier-suppliernya karena pada akhirnya ini akan menciptakan kemampuan bersaing keseluruhan Supply chain. Dari definisi diatas juga bisa kita lihat bahwa semangat kolaborasi dan koordinasi pada Supply chain tidak harus (dan tidak boleh) mengorbankan kepentingan tiap individu perusahaan. SCM yang baik bisa meningkatkan kemampuan untuk bersaing bagi Supply chain secara keseluruhan, namun tidak menyebabkan satu pihak berkorban dalam jangka panjang. Oleh karena itu diperlukan pengertian, kepercayaan, dan aturan main yang jelas. Misalnya, ketika suatu perusahaan mau membagi informasi secara transparan, perusahaan partner harus menjaga informasi tersebut dari pihak-pihak yang bisa

25 menyalahgunakannya. Sangatlah penting untuk menjaga etika bagi mereka yang menginginkan supply chain yang kuat dalam jangka panjang. Idealnya, hubungan antar pihak pada suatu Supply chain berlangsung jangka panjang. Hubungan jangka panjang memunginkan semua pihak untuk meciptakan kepercayaan yang lebih baik serta menciptakan efisiensi. Efisiensi bisa tercipta karena hubungan jangka panjang berarti mengurangi ongkos-ongkos untuk mendapatkan perusahaan partner baru. Dalam banyak kasus, ongkos yang terlibat dalam mengevaluasi calon-calon perusahaan partner bisa cukup besar. Namun perlu dicatat bahwa orientasi jangka panjang dalam konteks Supply chain di lapangan harus tetap diinterpretasikan secara fleksibel. Dalam konteks lingkungan bisnis yang semakin dinamis dewasa ini, ukuran jangka panjang berlaku sangat relatif. Jadi, kembali kembali pada pertanyaan awal tadi, Apakah ada perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan SCM? Pada hakekatnya mereka semua memiliki metode atau pendekatan dalam mengelola Supply chain mereka, namun tentu tidak semua dari mereka yang menerapkan pendekatan yang integratif dan kolaboratif. 2.2 Manajemen Transportasi Kegiatan distibusi ini sendiri pada dasarnya adalah kegiatan transportasi, yaitu mengangkut barang-barang dari titik dimana barang-barang tersebut diperoleh sampai titik dimana barang tersebut dibutuhkan. Namun, sarana transportasi itu sendiri tidak selalu tersedia dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun

26 atau dengan kata lain tidak tersedia setiap saat, yang disebabkan oleh karena sarana dan prasanrana, gangguan terhadap operasional, keadaan cuaca, dan lain-lain kejadian diluar kemampuan manusia ( act of God ). Memang secara teoritis transportasi dapat disediakan setiap saat asal kita bersedia mengeluarkan biaya berapapun ( at all cost ). Tetapi apakah hal tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara ekonomis mengingat biayanya akan sangat besar sekali, sehingga tidak mungkin dapat dipertanggung jawabkan lagi, lebih-lebih bila tujuan perusahaan adalah mencari keuntungan. Walaupun untuk kegiatan non-profit sekalipun, dalam prakteknya seberapapun besarnya biaya yang dapat disediakan tetap juga tidak menjamin tersedianya transportasi setiap saat sesuai keinginan kita. Maka dari hal-hal tersebut, dibuatlah tempat menginap bagi barang-barang yang akan dikirim yaitu gudang penyimpanan atau storage. Pada jaman sekarang ini dimana sarana dan prasarana sudah banyak tersedia harus dimanfaatkan secara optimal agar biaya yang dikeluarkan minimum, karena biaya yang disebakan oleh kegiatan menginapkan barang tidaklah sedikit. Perkembangan transportasi berlangsung sejalan dengan perkembangan Logistik yang sudah mulai menjadi permasalahan sejak nenek moyang kita ada dibumi ini, berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. Awal perkembangan tranportasi bermula dari kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Untuk memenhi kebutuhannya akan makan, minum dan pakaian, nenek moyang kita dulu mencarinya disekitar tempat tinggalnya, atau sebaliknya : dia memilih tempat tinggal

27 dimana terdapat sumber bahan kebutuhan hidupnya yang melimpah, baik itu berupa tumbuhan ( umbi, buah, dan daun-daunan untuk dimakan ; batang dan daunnya untuk tempat tinggal ; dahannya untuk senjata ; kulitnya untuk pakaian dan tali ), hewan buruan ( dagingnya untuk dimakan, kulitnya untuk pakaian, tulangnya untuk alat perkakas dan senjata ), dan air minum. Namun seiring dengan perkembang biakan, jumlah anggota keluarga menjadi bertambah besar mengakibatkan sumber bahanbahan disekitarnya menjadi menipis dan semakin langka, dan timbulah masalah logistik pertama didunia, yaitu barang yang diperlukan tidak tersedia ditempat dimana barang tersebut diperlukan. Untuk mengatasinya, mau tidak mau harus mencarinya yang lebih jauh, dan semakin lama semakin jauh, dari tempat tinggalnya. Karena pada umumnya hanya kaum lelaki yag mencari makanan dan berburu, sedangkan kaum perempuan dan anak-anak tinggal diperkampungan saja, maka mau tak mau makanan dan hasil buruan yang didapat harus dibawa pulang untuk keluarganya, maka mulailah manusia menghadapi permasalahan, perkembangan dan evolusi transportasi. Mulanya bahan makanan yang dibawa sebatas sanggup dijinjing kedua tangan ataupun dipikul sebagai alat angkutnya pertama dibumi, oleh karena tempat perburuan sudah mulai semakin jauh, dan meletihkan sewaktu pulang dengan membawa barang, secara tidak sengaja menyeretnya beban ketimbang dipikulnya, sehingga pekerjaan ini lebih ringan. Pada saat yang bersamaan dia melihat ada kayu mengapung disungai, dan sewaktu ia naik kayu yang mengapung ternyata tidak tenggelam, serta melihat pula hewan piaraan

28 sedang menyeret kayu gelondongan yang bebannya lebih berat dari yang ia kerjakan sendiri, maka ditemukanlah alat angkut pertama yaitu alat angkut didarat dan di air. Demikianlah seterusnya evolusi alat angkut, sampai akhirnya ditemukan kendaraan, mobil, perahu mesin dan pesawat udara dan lain sebagainya. 2.2.1 Fungsi Transportasi Sebagiamana dijelaskan diatas, fungsi transportasi adalah mengangkut manusia, hewan dan barang. Didalam kenyataannya, kegiatan ini tidak selalu harus dari satu titik ketitik lain, tetapi lebih sering dari beberapa titik ke suatu titik dan dari satu titik ke beberapa titik lain melalui route, sehingga fungsi transportasi dapat diklasifikasikan sebagai : o Konsolidasi, yaitu pengumpulan muatan dari beberapa titik asal menuju satu titik tujuan o Distribusi, yaitu penyerahan muatan dari satu titik asal menuju beberapa titik tujuan Dalam prakteknya kedua fungsi diatas sering tergabung menjadi suatu rangkaian proses penyampaian muatan, sehingga dapat dirinci lagi sebagai kegiatan : o Konsolidasi yaitu pengumpulan beberapa muatan dari beberapa sumber untuk satu tujuan menjadi satu muatan saja guna menghemat biaya distribusi

29 Gambar 2.2 Konsolidasi o Break bulk yaitu satu muatan besar dari satu sumber dipecah-pecah menjadi beberapa muatan untuk beberapa tujuan. Gambar 2.3 Break Bulk o In-transit product mixing yaitu beberapa muatan dari beberapa sumber kemudian dicampur dan dibagikan kebeberapa tujuan. Gambar 2.4 In-transit product mixing

30 Untuk meningkatkan efisiensi kegiatan transportasi guna menghemat biaya logistik, perlu dilakukan optimalisasi penggunaan alat angkut, optimalisasi jarak yang ditempuh alat angkut dengan memilih rute-rute yang menguntungkan serta mengatur jadwal alat angkut. Ini merupakan salah satu kegiatan transportasi yang dinamakan routing dan scheduling. Routing adalah pengaturan urutan kegiatan pekerjaan yang sistematis dan ekonomis melalui urutan mana pengiriman yang didahulukan pada proses distribusi. Sedangkan Scheduling adalah penentuan dan pengaturan muatan pekerjaan pada masing-masing pekerjaan sehingga dapat ditentukan waktu yang diperlukan operasi tanpa adanya penundaan kerja. 2.3 Traveling Salesperson Problem

31 2.3 Traveling Salesperson Problem Traveling salesperson problem merupakan permasalahan diskrit mengenai combinatorial optimation. Permaslaahan utama dari TSP adalah menentukan rute yang termurah dari suatu perjalanan mengunjungi beberapa kota yang masing-masing dikunjungi sekali. Ada beberapa cara dalam mencari solusi TSP, di antaranya adalah: 1. Brute Force, cara ini mencari solusi dengan mencoba semua solusi yang mungkin. Dengan banyaknya kemungkinan adalah n!. Dimana n adlaah jumlah titik tujuan. Hal ini sangat sulit dilakukan kalau jumlah n besar. 2. Cara yang langsung dan sederhana seperti brute force sangat sulit dalam memecahkan masalah TSP, maka dari itu dilakukan pendekatan-pendekatan untuk memecahkan masalah ini. Antara lain adalah : Pendekatan random, teknik ini mencari kemungkinan solusi secara acak. Programa matematik, salah satu teknik yang digunakan untuk melakukan optimasi suatu fungsi yang dibatasi oleh variabel bebas. Pendekatan backtracking, metode ini menyelesaikan masalah secara bertahap. Metode ini memiliki kemampuan untuk

32 membedakan kemungkinan solusi baik dan buruk, dimana yang baik diteruskan dan yang buruk ditinggalkan. Branch and bound, metode ini terdiri dari dua prosedur dasar. Branching adalah proses mempartisi masalah besar menjadi subproblem sedangkan bounding merupakan proses menghitung batas bawah pada solusi optimal dari sub problem tersebut. Metode ini membatasi ruang pencarian dengan menggunakan bounding function, dimana branch yang baik akan diteruskan, dan branch yang buruk tidak akan diproses. Metode ini sulit diterapkan karena seringkali sulit untuk membuat bounding function yang tepat. Pendekatan heuristik, pendekatan ini digunakan pada saat solusi optimal sulit ditemukan, pendekatan ini mengarah kepada solusi yang baik. Salah satu metode dalam pendekatan ini adalah taboo search. Taboo search merupakan metode yang membuat suatu solusi acak dan kemudian secara bertahap pindah ke salah satu tetangganya dan setiap perpindahan akan dimasukkan ke dalam daftar yang disebut taboo list. Dan suatu solusi dapat diambil. Perpindahan yang dilakukan tidak mencakup semua solusi,

33 dan solusi hanya mengarahkan kepada yang terbaik pada daerah sekitarnya saja. 2.4 Algoritma Konsep suatu algoritma adalah suatu dokumentasi suatu prosedur dalam memecahkan masalah matematika. Algoritma juga digunakan dalam pengambilan keputusan yang logikal. Algoritma biasa digunakan dalam suatu program komputer untuk memeri instruksi lengkap mengeai langkah-langkah spesifik dalam suatu penyelesaian masalah. Ada beberapa cara dalam beberapa notasi : Pseudocode Merupakan suatu notasi algoritma yang secara umum mudah dimengerti dan menggunakan bahasa umum. Flowchart Merupakan suatu notasi algoritma yang mudah dimengerti dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Programming languages Notasi algoritma ini digunakan untuk dapat dijalankan pada suatu perangkat komputer.

34 Secara umum algoritma biasa diklasifikasikan berdasarkan metode-metode, yaitu : Dynamic programming Model ini menyederhanakan permasalahan menjadi subproblem dan kemudian dipecahakan dengan menggunakan subproblem yang sama berkali-kali dalam usaha mencari hasil optimal. Divide and conquer Model ini menyederhanakan masalah menjadi subproblemsubproblem yang kemudian akan dipecahkan satu per satu dan kemudian dikombinasikan untuk menghasilkan suatu hasil yang optimal. Algoritma greedy Algoritma ini mirip dengan dynamic programming, namun pada greedy, pemecahan subproblem dilakukan dengan pemilihan yang greedy untuk menghasilkan hasil yang tampak bagus pada saat itu. Programa linear Model ini biasa digunakan untuk meminimasi atau maksimasi suatu permasalahan sederhana suatu persamaan linear yang sudah ada.

35 Reduction Model ini biasa dikenal dengan transform and conquer, algoritma ini mengubah permasalahan menjadi sebuah model yang dikenal dan kemudian memecahkan permasalahan tersebut. Probabilistik Probabilistik memecahkan masalah secara random, algoritma ini cepat tetapi tidak bisa menemukan solusi yang optimal. Heuristik Algoritma ini digunakan pada saat waktu serta sumber daya yang ada terbatas, sehingga hasil yang diharapkan tidak optimal melainkan lebih baik. 2.4.1 Metode Heuristik Heuristik merupakaan suatu metode pemecahan masalah untuk memecahkan masalah dengan baik dan cepat. Metode heuristik merupakan metode yang sering kali digunakan pada saat hasil optimal sulit untuk dicapai karena berbagai hal. Algoritma ini cnederung lebih cepat dalam menyelesaikan permasalahan. Algoritma ini dapat menghasilkan hasil yang baik, namun tidak dapat dibuktikan bahwa hasil yang dihasilkan selalu baik. Contoh sederhana dari metode heuristik adalah memasukkan barang-barang ke dalam truk. Menemukan solusi cara memasukkan barang dengan sempurna sangat sulit. Hal tersebut tidak akan tercapai

36 kecuali mencoba semua cara dalam memasukkan barang tersebut. Kebanyakan orang memasukkan barang yang besar terlebih dahulu baru memasukkan barang yang kecil di sekitarnya. Hal ini tidak menghasilkan pengepakan yang sempurna, namun merupakan cara yang cukup baik. 2.4.2 Algoritma Greedy Algoritma Greedy merupakan suatu algoritma yang selalu menentukan pilihan yang terbaik pada saat itu. Dengan demikian maka akan menghasilkan hasil optimal pada setiap bagian dan dengan harapan akan mengarahkan kapada hasil global yang optimal. Algoritma ini tidak selalu menghasilkan hasil yang optimal. Metode ini sangat berkompeten dalam menganalisa problema yang kompleks dan berpopulasi besar. Penggunaan algoritma ini dalam masalah TSP adalah pada setiap tingkat, kunjungi kota terdekat yang belum dikunjungi dari kota sekarang. Langkahlangkah yang digunakan pada algoritma ini yaitu : 1. Tentukan kandidat-kandidat, dari beberapa solusi yang sementara. 2. Membuat fungsi selektif dalam memilih kandidat terbaik untuk dikombinasikan dengan solusi lain. 3. Membuat fungsi penilaian solusi tersebut layak atau tidak jika ada batasan yang berlaku. 4. Membuat fungsi obyektif, yang merupakan nilai dari penambahan solusi tersebut.

37 5. Membuat fungsi solusi, yang akan menentukan bahwa telah ditemukan solusi. 2.4.4 Divide and Conquer Dalam algoritma secara umum mengklasifikasikan masalah menjadi struktur-struktur. Algoritma akan membentuk subproblem dalam mencoba menyederhanakan masalah. Pendekatan seperti ini disebut divide and conquer method. Metode ini memecahkan masalah menjadi beberapa subproblem yang mirip dengan problem asli namun dengan ukuran yang lebih kecil, memecahakan masalah, lalu mengkombinasikan untuk menghasilkan masalah bagi problem awal.

38 Gambar 2.5 Divide and Conquer Problem Divide the Problem Subproblem Subproblem Subproblem Conquer the Problem Solution Solution Solution Combine the solution Global Solution 2.5 Programa Integer untuk Memecahkan Masalah TSP Salah satu cara dalam mengoptimalkan masalah TSP adalah dengan menggunakan formulasi programa integer. Dengan mengasumsikan bahwa TSP tersebut terdiri dari kota 1,2,3,...,N. Untuk i j dan Cij merupakan jarak antar kot i dan kota j. Dan juga mendefinisikan bahwa Xij = 1 jika ada perpindahan dari kota i ke kota j Xij = 0 sebaliknya Dan setelah itu solusi untuk traveling salesperson problem dapat ditemukan dengan menyelesaikan formulasi ini :

39 min Z = i j CijXij Dengan constraint sebagai berikut : i = i = 1 N Xij = 1( untuk j = 1,2,3.. N) (1) j = j = 1 N Xij = 1( untuk i = 1,2,3,.., N) (2) Fungsi tersebut memberikan total jarak yang dilakukan dalam tour tersebut. Sedangkan constraint (1) memastikan bahwa kita tiba di kota itu sekali, dan constraint (2) memastikan bahwa kita meninggalkan kota itu sekali