BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari. Saluran nafas yang dimaksud adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli paru beserta organ adneksanya seperti sinus, ruang telinga tengah dan pleura. 1 ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia, baik di negara maju maupun di negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia atau bronco pneumonia, terutama pada bayi dan Balita. 1 Menurut survey demografi Indonesia dari data rekapitulasi kunjungan ke Puskesmas dan rumah sakit akibat ISPA di Indonesia tahun 1998 adalah 654.541 kasus untuk Puskesmas dan 72,732 untuk rumah sakit, dengan jumlah kematian 1.386 orang. 2 Berdasarkan hasil laporan Puskesmas Sendang Guwo tahun 2012 prevalensi ISPA tertinggi lansia (30%), dan pada wilayah kerja Puskesmas kejadian yang paling tinggi d daerah gemah (53,73%). 3 ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan pertama penyebab kematian di Indonesia pada tahun 2005 dengan prevalensi sebesar 50,4% balita. 5 Berdasarkan hasil penelitian Yusuf Nur Achmad (2004) angka prevalensi ISPA sebesar 64,4% di SD. 6 Prevalensi ISPA untuk penelitian Bambang Irianto (2006) sebesar 54,9% pada anak-anak. 7 sementara untuk penelitian Toanabun Aligonda Herrawati (2003) adalah sebesar 56,76% pada penghuni rumah. 8 dan Angka prevalensi ISPA pada penelitian Suryaniti Mila Wulandari (2003) 82% pada anak balita. 9 Tinggi angka prevalensi ISPA menjadi indikator derajat kesehatan masyarakat. Faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA terbagi atas dua kelompok besar yaitu faktor resiko instrinsik meliputi umur, jenis kelamin, status gizi, dan faktor ekstrinsik meliputi kepadatan tempat tinggal, polusi udara, ventilasi, kelembaban, pencahayaan, penataan ruangan dan asap rokok. 2 Salah 1
satu sumber penularan penyakit ISPA dan pneumonia adalah kondisi fisik rumah serta lingkungan yang merupakan tempat hunian dan langsung berinteraksi dengan penghuninya. Pengaruh lingkungan dalam perumahan terhadap kegiatan sehari-hari tidaklah terjadi secara langsung. Lingkungan yang kelihatannya tidak memiliki potensi besar ternyata dapat menimbulkan gangguan kesehatan penghuninya. Lingkungan rumah yang tidak serasi (bising, berdebu, panas, lembab) dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan sehari-hari. Kesehatan akibat lingkungan dalam rumah yang padat penghuninya dan tidak standar mengakibatkan gangguan penyakit akibat lingkungan yang tidak memenuhi syarat, bisa memiliki gejala jelas atau spesifik, maupun gejala non spesifik seperti sindroma. Salah satu gangguan tersebut adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Dari hasil survey pendahuluan di Pondok Pesantren Addainuriyah 2 yang berada di Pedurungan Timur yang terdiri dari 375 santri, pada awal tahun 2011 sampai bulan April 2012 berdasarkan rekapitulasi laporan bulanan buku dokter pesantren, angka kunjungan santri dengan kesakitan ISPA tercatat 236 santri dan merupakan penyakit dengan urutan pertama dibandingkan dengan penyakit lainnya, karena pesantren merupakan tempat yang padat penduduk dengan penghuni yang beraneka ragam dan bervariasi keadaan kamar yang gelap, lembab, dan lantai yang kotor dikarenakan sampah yang berserakan dan bau busuk (pengap). Daerah pondok pesantren sering tercemar polusi udara terutama saat pagi hari, karena letaknya di depan jalan utama kampung penduduk, sehingga mobilitas kendaraan umum maupun truk yang keluar masuk kampung menambah tingginya polusi udara disekitarnya dan juga kebiasaan santri merokok dalam ruangan ini akan terkumpul dalam ruangan sehingga dapat menimbulkan penyakit antara lain mudah terkena ISPA 10. Pada penelitian penyakit ISPA dari penelitian Bambang Irianto (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA yaitu imunisasi, jenis lantai, ventilasi, ruangan, kepadatan hunian rumah, merokok dalam rumah dan 2
suhu. 7 Pondok pesantren adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar bersama di bawah bimbingan seseorang atau lebih yang dikenal guru atau ustad dan Kyai. Sedangkan kata pondok adalah berasal dari bahasa arab yaitu fondoug yang artinya asrama 11 Sumber daya manusia yang sangat bermutu diperlukan dalam pembangunan nasional. Salah satu upaya untuk memenuhi tuntutan itu adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pondok Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang melakukan kegiatan tersebut 13. Pesantren dalam hal ini meliputi keterlibatan dalam upaya promotif, preventiv, kuratif, dan rehabilitatif. Semua kegiatan didukung juga oleh sektor terkait yaitu pihak kesehatan dan pihak lain yang ada hubungannya dengan pondok pesantren. Keterlibatan pondok pesantren adalah salah satu bentuk kemandirian yang perlu terus dibina guna meningkatkan derajat kesehatan yang optimal merata disemua lapisan masyarakat termasuk warga pondok pesantren. Hubungan yang baik antara pondok pesantren dan kesehatan didukung lintas sektor lain merupakan kunci keberhasilan dari kemandirian Pondok Pesantren dalam bidang kesehatan. 13 Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk memilih di Gemah karena angka kejadian ISPA tinggi yang berada di daerah Pedurungan Semarang Timur, salah satu lokasinya di Pondok Pesantren Addainuriyah 2 Semarang sebagai objek penelitian. Karena kemungkinan salah satu penyumbang angka kejadian ISPA. Peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang Hubungan antara kondisi lingkungan fisik pemondokan dengan kejadian ISPA pada santri di Pondok Pesantren Addainuriyah 2 Semarang (yang meliputi kepadatan hunian kamar, luas ventilasi kamar, pencahayaan alami kamar dan kelembaban udara kamar.) A. Perumusan Masalah Mengacu pada latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu: Apakah Kondisi Lingkungan fisik pemondokan 3
berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA pada santri di Pondok Pesantren Addainuriyah 2 Semarang B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui hubungan kondisi lingkungan fisik pemondokan dengan kejadian penyakit ISPA pada 2. Tujuan khusus a. Menghitung kepadatan hunian kamar. b. Mengukur luas ventilasi kamar c. Mengukur pencahayaan alami kamar d. Mengukur kelembaban udara kamar e. Mendiskripsikan kejadian ISPA pada santri f. Menganalisis hubungan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada g. Menganalisis hubungan ventilasi kamar dengan kejadian ISPA pada h. Menganalisis hubungan pencahayaan alami dengan kejadian ISPA pada i. Menganalisis hubungan kelembaban udara dengan kejadian ISPA pada C. Manfaat Peneliti 1. Bagi peneliti Sebagai tambahan pengetahuan atau pengalaman dalam penerapan metodologi penelitian dan penyehatan lingkungan pemondokan guna memecah masalah kesehatan masyarakat khususnya bidang kesehatan lingkungan. 2. Bagi Instuti Pendidikan Sebagai bacaan tambahan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA di pondok pesantren. 3. Bagi Instansi Terkait 4
Sebagai bahan informasi mengenai kesehatan lingkungan pondok pesantren addainuriyah 2 semarang. 4. Bagi pengelola pondok pesantren Sebagai masukan untuk perbaikan dan peningkatan kondisi kesehatan lingkungan pondok pesantren pada umumnya. D. Ruang Lingkup Penelitian 1. Lingkungan keilmuan Penelitian ini merupakan salah satu bagian dari ilmu kesehatan msyarakat dengan titik berat bidang kesehatan lingkungan 2. Lingkup Sasaran Sasaran dalam penelitian ini ditujukan pada semua santri dan kamar tidur yang berada di pondok. 3. Lingkupan Masalah Masalah dibatasi hanya pada hubungan kondisi kesehatan lingkungan dengan kejadian ISPA di pondok pesantren. 5
E. Originalitas Tabel 1.1 Keaslian penelitian No Peneliti Judul Desain studi Variabel bebas dan terikat Hasil 1 Suryaniti Mila Wulandari (2003) Hubungan Sanitasi Rumah, Perilaku Penduduk dan Faktor Intern Anak Balita dengan Tingkat Kejadian ISPA di kota Surabaya Cross sectional Hunian Pencahayaan alami - suhu - Bahan bakar masak - Obat nyamuk - bakar - PHBS - Kejadian ISP - Ada hubungan kepadatan hunian, pencahayaan, suhu, bahan bakar masak, imunisasi dan PHBS dengan kejadian ISPA. antara ventilasi, suhu dengan kejadian penyakit ISPA - 2 Yusuf Nur Achmad. (2004). Hubungan Sanitasi Rumah Secara Fisik, Pencemaran Udara dalam Rumah dan Penjamu dengan Kejadian ISPA Pada Anak SD di kota surabaya hunian - Pencahayaan - Jenis lantai - Jenis dinding - Suhu kamar - Asupan gizi - Kejadian ISPA - Ada hubungan antara kepadatan, Pencahayaan, jenis lantai, jenis dinding asupan gizi, imunisasi dengan kejadian ISPA antara ventilasi, suhu kamar dengan kejadian penyakit ISPA 6
3 Bambang Iryanto (2006) Hubungan Faktor Lingkungan Rumah Dan Karakteristik Ibu dengan kejadian Penyakit ISPA pada Anak di Kota Cerebon Cross sectional hunian - Jenis lantai - Merokok di dlm ruangan - Suhu kamar - Kejadian ISPA - Ada hunbungan imunisasi,dan Merokok dalam ruangan dengan kejadian ISPA antara kepadatan hunian, jenis lantai, ventilasi dan suhu kamar dengan kejadian ISPA. 4 Afnita Pancasakti Dewi (2011) Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Pengunjung Puskesmas Banyudono Cross sectional Hunian - Jenis lantai - Obat nyamuk bakar - Pencahayaan - Bahan bakar masak - Cerobong asap - Kejadian ISPA - Ada hubungan Pencahayaan, obat nyamuk bakar, bahan bakar masak, imunisasi dan cerobong asap dengan kejadian ISPA kepadatan hunian, ventilasi, jenis lantai dan imunisasi dengan kejadian ISPA Dalam penelitian ini yang membedakan dengan penelitian sebelumnya pada variabel bebasnya yaitu kelembaban, pada sasaran santri, dan lokasi di pondok pesantren. 7