Kesetimbangan Fasa Cair-Cair dan Cair Uap

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK. Pemisahan dan Pemurnian Zat Cair. Distilasi dan Titik Didih. Nama : Agustine Christela Melviana NIM :

Laporan Praktikum Kimia Fisik

FISIKA 2. Pertemuan ke-4

BAB II. KESEIMBANGAN

Kumpulan Laporan Praktikum Kimia Fisika PERCOBAAN VI

PERCOBAAN 01 PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR: DISTILASI, TITIK DIDIH (KI- 2051)

DISTILASI BERTAHAP BATCH (DBB)

SIFAT FISIK CAMPURAN MULTIKOMPONEN (MUL)

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR. Distilasi dan Titik Didih

DATA KESETIMBANGAN UAP-AIR DAN ETHANOL-AIR DARI HASIL FERMENTASI RUMPUT GAJAH

HUKUM RAOULT. campuran

BAB I DISTILASI BATCH

DISTILASI SEDERHANA (DIS)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL AIR

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II MODUL 2 EQUILIBRIUM STILL

Kesetimbangan Fasa Bab 17

2. Fase komponen dan derajat kebebasan. Pak imam

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK. Percobaan 1 PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR. Distilasi dan Titik Didih

Kimia Fisika Bab 6. Kesetimbangan Fasa OLEH: RIDHAWATI, ST, MT

KESETIMBANGAN UAP-CAIR-CAIR SISTEM BINER n-butanol+air DAN ISOBUTANOL+AIR PADA kpa

KESETIMBANGAN FASA. Komponen sistem

PERCOBAAN I PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan X A + X B + Xc =

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II Kolom Berpacking (HETP) BAB I PENDAHULUAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

TUGAS AKHIR METODE DISTILASI VAKUM UNTUK PEMBUATAN MINYAK JERUK PURUT DENGAN MENGGUNAKAN AIR SEBAGAI PELARUT. Solvent)

Jurnal sains kimia Vol.II No.2,2010 PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN

DESTILASI UAP. Group B ( PTK 2) Darwin Junaidi ( ) Agustina Gunawan ( ) Harris Kristanto ( )

Makalah Termodinamika Pemicu 4: Kesetimbangan Fasa Uap-Cair

DATA KESETIMBANGAN UAP-AIR DAN ETHANOL-AIR DA- RI HASIL FERMENTASI RUMPUT GAJAH

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK VOLUM MOLAL PARSIAL. Nama : Ardian Lubis NIM : Kelompok : 6 Asisten : Yuda Anggi

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

DESTILASI, RESIN PENUKAR ION DAN PEMURNIAN

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-234

PENGUKURAN KESETIMBANGAN UAP-CAIR SISTEM BINER ETANOL+ETIL ASETAT DAN ETANOL+ ISOAMIL ALKOHOL PADA TEKANAN 101,33 kpa, 79,99 kpa dan 26,67 kpa

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS KADAR METANOL DAN ETANOL DALAM MINUMAN BERALKOHOL MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS. Abstrak

SIFAT TERMODINAMIK SISTEM BINER ETANOL-AIR*) Oleh: Isana SYL**)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Percobaan

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 2

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

KESETIMBANGAN UAP-CAIR SISTEM ETHANOL + 2-PROPANOL + ISOOCTANE PADA TEKANAN ATMOSFERIK

KESETIMBANGAN FASA. Sistem Satu Komponen. Aturan Fasa Gibbs

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS SENYAWA ORGANIK : Reaksi Pembuatan Alkena dengan Dehidrasi Alkohol

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Alur penelitian ini seperti ditunjukkan pada diagram alir di bawah ini:

Reaksi Dehidrasi: Pembuatan Sikloheksena. Oleh : Kelompok 3

BAB V EKSTRAKSI CAIR-CAIR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II. Kesetimbangan Fasa. 22 April 2014

Titik Leleh dan Titik Didih

SIFAT TERMODINAMIK SISTEM BINER METANOL-AIR*) Oleh: Isana SYL**)

Fugasitas. Oleh : Samuel Edo Pratama

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Penuntun praktikum DISTILASI BATCH

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II ENERGI KESETIMBANGAN FASA Sabtu, 19 April 2014

1.3 Tujuan Percobaan Tujuan pada percobaan ini adalah mengetahui proses pembuatan amil asetat dari reaksi antara alkohol primer dan asam karboksilat

MAKALAH KIMIA PEMISAHAN

PERSENTASE PRODUK ETANOL DARI DISTILASI ETANOL AIR DENGAN DISTRIBUTE CONTROL SYSTEM (DCS) PADA BERBAGAI KONSENTRASI UMPAN

MAKALAH KIMIA FISIK II KESTIMBANGAN FASA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS. Oleh:

BAB III METODE PENELITIAN. menjadi 5-Hydroxymethylfurfural dilaksanakan di Laboratorium Riset Kimia

LAPORAN HASIL PENELITIAN

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si

C. ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5 o C dan range temperaturnya berubah menjadi 4 o C dari 0,3 o C )

Etanol akan membentuk campuran azeotrop dengan air sehingga sulit

4025 Sintesis 2-iodopropana dari 2-propanol

MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2012/2013 ACARA D-4 HETP. (High Equivalent of Theoritical Plate)

SIMULASI KONSUMSI ENERGI PEMURNIAN BIOETANOL MENGGUNAKAN VARIASI DIAGRAM ALIR DISTILASI EKSTRAKTIF DENGAN KONFIGURASI, V

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ELEKTROLIT KOH DAN KCL TERHADAP PEMISAHAN CAMPURAN BINER ETANOL-AIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DESAIN ALAT DISTILASI UNTUK MEMPEROLEH ETANOL DENGAN KADAR OPTIMUM

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan berbagai jenis alat antara lain berbagai

BAB IV PROSEDUR KERJA

Sistem tiga komponen

KIMIA DASAR JOKO SEDYONO TEKNIK MESIN UMS 2015

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1 PEMISAHAN KOMPONEN DARI CAMPURAN 11 NOVEMBER 2014 SEPTIA MARISA ABSTRAK

DISTILASI 08/03/2018 Nur Istianah-KP1-Distilasi-2015

Background 12/03/2015. Ayat al-qur an tentang alloy (Al-kahfi:95&96) Pertemuan Ke-2 DIAGRAM FASA. By: Nurun Nayiroh, M.Si

6/12/2014. Distillation

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni - November 2011 :

KESETIMBANGAN KIMIA A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Keadaan setimbang adalah suatu keadaaan dimana konsentrasi seluruh zat tidak lagi mengalami

KESETIMBANGAN UAP-CAIR (VLE) ETHANOL-AIR DARI HASIL FERMENTASI RUMPUT GAJAH

BAB 1 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN. STANDART KOMPETENSI Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran serta terapannya.

MODUL PRAKTIKUM LABORATORIUM INSTRUKSIONAL TEKNIK PANGAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I PERCOBAAN VIII PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT ( REKRISTALISASI & SUBLIMASI)

Metoda-Metoda Ekstraksi

LAPORAN TUGAS AKHIR ALAT DISTILASI BERTINGKAT SKALA LABORATORIUM

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI

4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat

KESETIMBANGAN UAP CAIR (KUC)

LAPORAN PRAKTIKUM DINAMIKA KIMIA JUDUL PERCOBAAN : PENENTUAN LAJU REAKSI IODINASI ASETON DALAM SUASANA ASAM. Nama : SantiNurAini NRP :

LAPORAN PRAKTIKUM HPLC : ANALISA TABLET VITAMIN C

- Fasa (phase) dalam terminology/istilah dalam mikrostrukturnya

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif

KINERJA DESTILASI RIMPANG JAHE SECARA KOHOBASI DAN DESTILASI UAP-AIR

SIFAT TERMODINAMIK SISTEM BINER 1-PROPANOL-AIR*) Oleh: Isana SYL**)

Transkripsi:

Kesetimbangan Fasa Cair-Cair dan Cair Uap Kiftiyah Yuni Fatmawardi*, Teguh Andy A.M, Vera Nurchabibah, Nadhira Izzatur Silmi, Yuliatin, Pretty Septiana, Ilham Al Bustomi Kelompok 5, Kelas AB, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran 65145, Indonesia ABSTRAK Pada percobaan kesetimbangan fasa cair-cair dan cair-uap, praktikan melakukan pengukuran indeks bias terhadap pelarut murni dan campuran metanol dan etanol dengan menggunakan refraktometer. Dari data tersebut, praktikan dapat membuat kurva hubungan antara indeks bias terhadap komposisi. Berdasarkan kurva tersebut, menunjukkan bahwa fraksi mol metanol berbanding terbalik dengan indeks biasnya. Pada destilasi campuran biner, praktikan melakukan destilasi untuk memperoleh destilat dari campuran pelarut methanol dan ethanol. Dengan memanaskan campuran pelarut tersebut, maka komponennya akan mengalami penguapan kemudian mengalami kondensasi dan menghasilkan destilat. Mengukur indeks bias dari destilat. Praktikan memperolehkurva hubungan antara titik didih dengan indeks bias dan titik didih dengan volatilifitas relatif (Y A ). In the experimental phase equilibrium liquid-liquid and liquid - vapor, praktikan measurement of the refractive index of the pure solvent and a mixture of methanol and ethanol by using a refractometer. From these data, the practitioner can make a curve relationship between the refractive index of the composition. Based on the curve, showing that the mole fraction of methanol is inversely proportional to the refractive index. In a binary mixture distillation, praktikan perform distillation to obtain a distillate from a mixture of methanol and ethanol. By heating the solvent mixture, the components will undergo evaporation and then condenses and produces distillate. Measure the refractive index of the distillate. Praktikan memperolehkurva relationship between the boiling point of refractive index and boiling point with relative volatilifitas ( Y A ). I. PENDAHULUAN Suatu proses pemisahan komponen satu dengan komponen lainnya dalam suatu campuran berdasarkan perbedaan titik didih antara komponen-komponen yang akan dipisahkan disebut dengan distilasi. Pada keadaan setimbang komposisi cairan dan komposisi uap berbeda. Pada fasa uap akan mengandung lebih banyak komponen yang volatil atau mudah menguap daripada fasa cair. Pada proses distilasi, cairan akan teruapkan dan mengalami kondensasi lalu menghasilkan distilat. Komponen dengan titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu [1]. Larutan merupakan suatu campuran yang homogen dari dua atau lebih komponen ( zat yang jumlahnya bisa diverivikasi secara independen.biasanya yang digunakan adalah campuran padatan dan cairan, meskipun campuran gas juga homogen.dimulai dengan larutan ideal, yang didefinisikan sebagai larutan yang dalam potensial kimia dari masing masing komponen diberikan untuk semua komposisi dengan rumus senyawanya. [2] Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 1

Diagram fase dari zat murni menunjukkan daerah tekanan dan suhu di mana berbagai tahapan yang adalah termodinamika stabil (Gambar 1.1). Garis memisahkan daerah, yang disebut batas fase (atau kurva koeksistensi), menunjukkan nilai-nilai p dan T di mana dua fase hidup berdampingan dalam keseimbangan dan potensi kimia mereka adalah sama [3]. Gambar 1.1 diagram fasa zat murni Jika suatu komponen (pelarut) mendekati murni, komponen tersebut berperilaku sesuai dengan Hukum Roult dan mempunyai tekanan uap yang sebanding dengan fraksi mol. Beberapa larutan menyimpang jauh dari Hukum Roult. Walaupun demikian, dalam hal ini hukum itu semakin dipatuhi jika komponennya berlebih (sebagai pelarut) sehingga mendekati kemurnian. Bisa dikatakan, bahwa hukum ini menerangkan pendekatan yang baik untuk pelarut selama larutan ini encer [4]. Komposisi kesetimbangan antara uap-cair ditunjukkan dalam diagram fasa seperti Gambar 1.2 [4]. Gambar 1.2 Diagram Fasa Air-Uap Apabila larutan komponen A dan komponen B dengan fraksi mol masing-masing adalah x A dan x B berada dalam kesetimbangan dengan fasa gasnya, maka tekanan uap masing-masing komponen berbanding lurus dengan fraksi mol dalam larutan. Tekanan Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 2

uap parsial dari campuran yang merupakan larutan ideal dapat dihubungkan dengan Hukum Raoult sebagai berikut [5] : p A =x A. p* A p B =x B. p* B dimana p A adalah tekanan parsial komponen A, p B adalah tekanan parsial komponen B, p* A adalah tekanan uap murni komponen A dan p* B tekanan uap murni komponen B [5]. II. METODOLOGI II.1. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah 1 set destilator sederhana, 1 set refraktometer, 4 buah gelas kimia 100 ml, 2 pipet ukur 10 ml, tabung reaksi 15 buah, rak tabung reaksi 1 buah, pipet tetes 2 buah, botol aquades. Bahan yang digunakan adalah methanol, etanol, aquades, dan aseton. II.2. Prosedur kerja 2.2.1 Kalibrasi komposisi melalui penentuan indeks bias Disiapkan 7 buah tabung reaksi dan diisi dengan campuran pelarut sesuai tugas dari asisten. Dibuat komposisi campuran sesuai Tabel 1, kemudian dihitung fraksi mol setiap komponen. Untuk pelarut murni tidak perlu disiapkan dalam tabung reaksi tetapi langsung dilakukan pengukuran indeks bias. Tabel 1. Komposisi pada campuran biner 1 Volume (ml) No I II III IV V VI VII Pelarut I 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Pelarut II 0 0,5 2,5 1,5 2 2,5 3 Dibersihkan tempat sampel pada refraktometer dengan menggunakan aseton 1-2 tetes dan dilakukan pengukuran indeks bias campuran pada Tabel 1. Dibuat kurva antara indeks bias sebagai fungsi komposisi. 2.2.2 Destilasi Campuran Biner Dibuat 2 seri campuran biner untuk jenis pelarut yang sama dengan Tabel 1 dan dibuat komposisi sesuai Tabel 2. Disiapkan set alat destilasi sederhana dengan menggunakan penangas heating mantle atau penangas air ( disesuaikan dengan jenis pelarut yang ditugaskan asisten). Tabel 2. Komposisi pada campuran biner 2 Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 3

Volume (ml) No I II Pelarut I 20 20 Pelarut II 4 6 Dimasukkan campuran (1) kedalam labu bundar, kemudian dipasang pada alat destilasi yang telah disiapkan. Dialirkan air pendingin melalui kondensor, kemudian dihidupkan penangas dan dilakukan destilasi campuran. Ditampung komponen yang keluar (destilat) untuk setiap 2 ml dan dicatat temperature saat awal pelarut keluar hingga tercapai volume yang diinginkan. Dilakukan cara yang sama untuk setiap fraksi yang keluar hingga diperoleh 7 kali pengamatan. Setiap fraksi ditampung dalam tabung yang berbeda. Diukur indeks bias destilat untuk setiap fraksi. Destilasi dihentikan untuk campuran 1 diatas, campuran dikeluarkan dan dibuang dalam botol penampung yang telah disiapkan. Dibersihkan labu bundar dan bagian dalam kondensor. Dilakukan prosedur yang sama untuk komposisi campuran 2. III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Kalibrasi komposisi melalui penentuan indeks bias X methanol : etanol n (indeks bias) 0 1.3315 0.2 1.3312 0.4 1.3300 0.6 1.3304 0.8 1.3301 1 1.3303 Tabel.1 Indeks bias dengan Fraksi mol Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 4

Indeks Bias Laporan Praktikum Kimia Fisik Kurva Baku Indeks Bias dengan Fraksi Mol 1.34 1.33 1.32 y = -0.0013x + 1.3312 R² = 0.593 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Fraksi Mol Grafik 1. Indeks Bias dengan Fraksi mol Dari percobaan yang sudah dilakukan didapatkan pada percobaan kalibrasi komposisi melalui Penentuan indeks bias untuk etanol 3 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3315. Untuk campuran antara etanol 2,5 ml dengan metanol 0,5 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3312. Campuran antara etanol 2 ml dengan metanol 2,5 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3300. Campuran antara etanol 1,5 ml dengan metanol 1,5 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3304. Campuran antara etanol 1 ml dengan metanol 2 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3301. Campuran antarara etanol 0,5 ml dengan metanol 2,5 ml didapatkan indeks bias sebesar 1,3303 dan untuk metanol 3 ml tidak didapatkan indeks bias. Dari data tersebut indeks bias menurun dari fraksi mol 0-0,4 tetapi mengalami kenaikan pada fraksi mol 0,6 kemudian turun kembali pada fraksi mol 0,8 dan naik pada fraksi mol 1. Sehingga, hubungan antara kurva baku indeks bias dengan fraksi mol didapatkan persamaan y= -0,0013x + 1,3312 dan R 2 = 0,593. Kurva yang didapatkan tidak sesuai seharusnya indeks bias akan semakin menurun dengan naiknya fraksi mol hal ini menunjukkan bahwa indeks bias berbanding terbalik dengan fraksi mol. 3.2 Destilasi Campuran Biner Titik didih Fraksi mol ( o C) n (x A ) Y A 65 1.3374 1.000 1.000 65 1.3356 0.025 0.049 65 1.3368 0.046 0.088 65 1.3339-0.003-0.007 65 1.3361 0.033 0.065 65 1.3320-0.033-0.068 66 1.3313-0.043-0.091 Tabel 2. Campuran 20 ml Etanol dan 4 ml Metanol Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 5

Temperatur Laporan Praktikum Kimia Fisik Kurva Kesetimbangan Cair Uap (Aseton :Metanol) 66.2 66 y = -0.2212x + 65.175 R² = 0.0489 65.8 65.6 65.4 Series1 65.2 65 Linear (Series1) 64.8-0.500 0.000 0.500 1.000 1.500 Fraksi mol Grafik 2. Campuran 20 ml Etanol dan 4 ml Metanol Dari percobaan distilasi campuran biner antara 20 ml etanol dengan 4 ml metanol didapatkan indeks bias dengan 7 kali pengamatan dan setiap pengamatan diambil 2 ml distilat. Untuk distilat pertama sampai distilat ke enam temperatur yang didapatkan konstan yaitu 65 o C. Sedangkan untuk distilat ke tujuh, temperatur yang didapatkan yaitu 66 o C. Indeks bias untuk distilat pertama yaitu 1.3374, distilat kedua 1.3356, distilat ketiga 1.3368, distilat ke empat 1.3339, distilat ke lima 1.3361, distilat ke enam 1.3320, dan distilat ke tujuh 1.3313. Kurva campuran biner pertama tidak sesuai dengan teori, seharusnya kenaikan temperatur menyebabkan penurunan fraksi mol sedangakan pada percobaan yang dilakukan pada distilat pertama sampai distilat ke enam termperatur yang didapatkan konstan. Hal ini terjadi karena kesalahan praktikan setelah mencuci labu alas bulat masih terdapat aquades yang tertinggal sehingga mempengaruhi titik didih dari larutan. kurva hubungan antara temperatur dengan fraksi mol didapatkan persamaan y=-0,2212x + 65,175 dengan R 2 =0,0489. Fraksi mol Titik didih ( o C) n (x A ) Y A 64 1.3344 1.000 1.000 64 1.3331-0.016-0.033 64.5 1.3311-0.046-0.098 65 1.3327-0.022-0.046 65 1.3318-0.036-0.075 65 1.3308-0.050-0.107 66 1.3323-0.028-0.059 Tabel 3. Campuran 20 ml Etanol dan 6 ml Metanol Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 6

Temperatur (oc) Laporan Praktikum Kimia Fisik 66.5 66 65.5 65 64.5 64 Kurva Kesetimbangan Cair Uap (Aseton : Metanol) 63.5-0.500 0.000 0.500 1.000 1.500 Fraksi mol y = -0.8928x + 64.888 R² = 0.2492 Series1 Linear (Series1) Grafik 3. Campuran 20 ml Etanol dan 6 ml Metanol Campuran 20 ml Etanol dan 6 ml Metanol didapatkan temperatur pada distillat pertama yaitu 64 o C dengan indeks bias 1.3344, pada destilat kedua dengan temperatur 64 o C dan indeks bias 1.3331, destilat ketiga dengan temperatur 64.5 o C dan indeks bias 1.3311, destilat keempat dengan temperatur 65 o C dan indeks bias 1.3327, destilat ke lima dengan temperatur 65 o C dan indeks bias 1.3318, distilat keenam dengan temperatur 65 o C dan indeks bias 1.3308, dan distilat ketujuh dengan temperatur 66 o C dan indeks bias 1.3323. Kurva yang didapatkan tidak sesuai dengan teori, sama dengan kurva campuran biner pertama tetapi temperatur yang dihasilkan lebih bervariasi dan mengalami kenaikan dibandingkan pada kurva campuran biner pertama. Sehingga berpengaruh pada fraksi mol dan hal ini terjadi karena kesalahan yang sama pada percobaan campuran biner pertama. Kurva yang didapatkan memiliki persamaan y=-0,8928x + 64,888 dengan R 2 = 0,2492. IV. KESIMPULAN Berdasarkan praktikum mengenai kesetimbangan cair-cair dan cair uap diperoleh grafik hubungan antara indeks bias dengan fraksi mol. Secara teori indeks bias berbanding terbalik dengan fraksi mol tetapi dari grafik yang didapatkan, fraksi mol tidak berbanding terbalik dengan indeks bias. Pada percobaan distilasi campuran biner diperoleh grafik hubungan kesetimbangan antara uap dan cairan. Grafik tersebut memperlihatkan hubungan fraksi mol terhadap temperatur. Secara teoritis temperatur berbanding terbalik dengan fraksi mol tetapi dari grafik yang didapatkan, fraksi mol tidak berbanding terbalik dengan temperatur. Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 7

V. DAFTAR PUSTAKA [1] Sunarinda, Reno, 2015, Kesetimbangan Fasa Cair-Cair dan Cair Uap, Universitas Pasundan, Bandung. [2] Montimer, Robert G, 2008, Phisical Chemistry Third Edition, Elsevier Academic Press, Canada. [3] Atkins, Peter., Paula, J, 2010, Phisical Chemistry Ninth Edition, Oxford University Press, New York. [4] Potoff, Jeffrey J., J. Ilja Siepman, 2001, Vapor- Liquid Equilibria of Mixtures Containig Alkanes, Carbon Dioxide, and Nitrogen, AIChE Journal, 47(7) : 1676-1682. [5] Mao, S., Zhenhao Duan., Wenxuan Hu, 2009, A Vapor- Liquid Phase Equilibrium Model for Binari CO 2 -H 2 O and CH 4 -H 2 O System Above 523K for Application to Fluid Inclusion, Journal of Supercritical Fluid, 2(2) : 13-21. Laboratorium Kimia Fisik, Jurusan Kimia, FMIPA, UB 8