COST-VOLUME-PROFIT ANALYSIS

dokumen-dokumen yang mirip
Analysis Cost Volume Profit: Alat Perencanaan Manajerial Source: Hansen & Mowen (2007) Chapter 11. Present By: Ayub W.S. Pradana 30 Maret 2016

ANALISA BIAYA PRODUKSI

BAB 4 BREAK - EVEN POINT DALAM UNIT DAN DOLAR PENJUALAN

BAB II LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

[Type the document title]

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hansen & Mowen (2005:274) Analisis biaya-volume-laba (costvolume-profit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengendalian. Proses ini memerlukan sejumlah teknik dan prosedur pemecahan

PERTEMUAN KE-13 ANALISIS BIAYA DAN VOLUME LABA

Department of Business Adminstration Brawijaya University

Adalah suatu keadaan pada saat seluruh penerimaan (total revenues) secara persis hanya mampu menutup seluruh pengeluaran (total cost) pada keadaan

COST VOLUME PROVIT (CVP) ANALYSIS

ABSTRAK. Kata kunci: Analisis Cost Volume Profit (CVP), dan memaksimalkan laba. Universitas Kristen Maranatha

Analisis Biaya-Volume-Laba (Cost-Volume-Profit/CVP Analysis)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan tujuan Akuntansi Biaya. penggolongan, peringkasan dan penyajian dengan cara-cara tertentu dari transaksi

COST-VOLUME-PROFIT ANALYSIS COST ACCOUNTING

Vol.10, No Februari 2015 ISSN

BAB II BAHAN RUJUKAN

Analisis Cost-Volume- Profit Sebagai Alat Perencanaan Laba Jangka Pendek Pada Pabrik Roti Lestari. Ryzmelinda EB10

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini perkembangan dunia usaha semakin pesat. Pesatnya perkembangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA BREAK EVENT POINT

Analisis Biaya-Volume-Laba (Cost-Volume-Profit/CVP Analysis) Asumsi-asumsi Dasar

ANALISIS COST VOLUME PROFIT (CVP) SEBAGAI ALAT PERENCANAAN UNTUK MENCAPAI TARGET LABA PADA USAHA KONVEKSI RIRI COLLECTION

PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI DIFERENSIAL DALAM JANGKA PENDEK. Oleh : Ani Hidayati

ANALISIS COST VOLUME PROFIT SEBAGAI ALAT PERENCAAN LABA DAN PENJUALAN PADA TOKO BAKPIA SUAN. : Stephanie Lauwrentina : 2A214454

ANALISA Cost Volume Profit DRS. DEVIE., AK., RFC., CFP., AEPP., CMA., CBA

BAB VIII Analisis BEP (Break Even Point)

BAB I PENDAHULUAN. semua industri di Indonesia terkena dampak dan gulung tikar, tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI UNTUK PERENCANAAN LABA. Tugas Kelompok

PENGERTIAN COST ACCUMULATION & COST ALLOCATION

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pengertian analisa menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah sebagai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada umumnya tujuan utama suatu perusahaan adalah untuk mencapai

Bahan Kuliah. Manajemen Keuangan Bisnis I Pertemuan VII. Analisis Break Even. Dosen : Suryanto, SE., M.Si

ABSTRAK. Perencanaan laba diperlukan oleh perusahaan agar perusahaan dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah spesifikasi (perumusan) dari tujuan perusahaan yang ingin dicapai serta

KONTRAK PERKULIAHAN : KT221212

METODE PENELITIAN Kerangka Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, dunia perekonomian berkembang dengan sangat pesat.

AKUNTANSI MANAJEMEN. Biaya Transfer dan Analisis Cost Profit Volume

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

ANALISA BREAK EVEN POINT

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS BIAYA VOLUME - LABA PADA HOME INDUSTRY KONVEKSI JESSLYN TANAH ABANG JAKARTA PUSAT

BREAK EVEN POINT. introduction

BREAK EVEN POINT. Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI BIAYA Apakah biaya? Dan bagaimana biaya bisa timbul? Untuk menjawab pertanyaan ini,

TITIK PULANG POKOK SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PERUSAHAAN

ANALISIS COST VOLUME PROFIT DENGAN ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MERENCANAKAN LABA

ABSTRACT. Keywords : sales volume, profit, break even point, margin of safety, fixed costs, variabel cost, mixed cost. Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Upaya manajemen untuk mencapai tujuan organisasi bertumpu pada fungsi

Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

ABSTRAK. Kata kunci: Cost-volume-profit, break even point. Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS BREAK EVENT POINT DALAM KEBIJAKAN PERENCANAAN PENJUALAN DAN LABA (Studi Pada PT Wonojati Wijoyo Kediri)

HUBUNGAN BIAYA VOLUME & LABA

KONTRAK PERKULIAHAN : KT221212

ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP)

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengalami krisis moneter sejak tahun 1997 yang menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Akibat dari krisis sektor ekonomi yang berkelanjutan dan keadaan politik

PERENCANAAN LABA MENGGUNAKAN ANALISIS BIAYA- VOLUME-LABA PADA UKM SLAMET SEMARANG TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin berkembangnya perusahaan, maka akan semakin kompleks

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI PENENTU LABA PADA RUMAH TAKOYAKI. Disusun Oleh: Gilang Hardi Maulana EB34

Manajemen Keuangan. Break-Even Point

Analisis Keuangan agar Bisnis Sukses*

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI. memenuhi kebutuhan hidupnya.begitupun pula dengan perusahaan yang dalam

BAB II LANDASAN TEORI

LAPORAN KEUANGAN. (Aplikasi Bidang Kesehatan & Rumah Sakit)

ANALISIS COST VOLUME PROFIT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PABRIK BINGKAI LARISSA FRAME DEPOK

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Klasifikasi Biaya dan Perhitungan Harga Jual Produk pada PT. JCO Donuts

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS COST VOLUME PROFIT UNTUK PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA PT. ANEKA CARGO KHATULISTIWA KOTABARU

ANALISIS BIAYA, VOLUME PENJUALAN DAN LABA SEBAGAI ALAT BANTU PERENCANAAAN LABA PADA PERUSAHAAN KECAP MURNI JAYA KOTA KEDIRI

ABSTRAK. Kata kunci: Cost-volume-profit, break even point, laba. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. datang, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Agar dapat

ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) MULTI PRODUK DALAM PERENCANAAN LABA PADA INDUSTRI ROTI CHEZINI BAKERY

ANALISIS BIAYA VOLUME LABA SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA (STUDI KASUS PABRIK TAHU BANDUNG TONO)

BAB II LANDASAN TEORI. datang. Pada umumnya tujuan perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang

ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu PT X dalam. perencanaan dan pencapaian laba melalui pendekatan analisis Break Even pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA PADA CV. ANJAS FAMILY

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT UNTUK MERENCANAKAN LABA PERUSAHAAN (STUDI KASUS: PT. KIMIA FARMA)

BAB I PENDAHULUAN. informasi akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk

perencanaan laba: COST-VOLUME- PROFIT ANALYSIS

MAKALAH MANAJEMEN AKUNTANSI ANALISIS HUBUNGAN BIAYA-VOLUME-LABA (B-V-L)

Pemicu Biaya(Cost Drivers) Pengertian Tujuan Contoh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Biaya, volume dan laba merupakan tiga elemen pokok dalam menyusun laporan laba-rugi sebuah perusahaan.

Transkripsi:

COST-VOLUME-PROFIT ANALYSIS (Aplikasi pada Pelayanan Kesehatan) Ade Heryana, SSt, MKM UNIVERSITAS ESA UNGGUL Prodi Kesehatan Masyarakat

Cost-Volume-Profit Analysis (Aplikasi pada Pelayanan Kesehatan) Ade Heryana, SSt, MKM Dosen Prodi Kesmas Universitas Esa Unggul Jakarta TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Memahami pengertian Cost-Volumee-Profit Analysis 2. Memahami fungsi dari CVP Analysis 3. Memahami teknik-teknik analisis biaya dengan menggunakan CVP Analysis serta asumsiasumsi yang dipakai PENDAHULUAN Saat terjadi krisis moneter menjelang reformasi tahun 1998 terjadi kenaikan harga berbagai produk dan jasa di Indonesia, tidak terkecuali harga obat. Rata-rata harga obat naik 2-3 kali lipat terutama harga obat-obat yang bahan bakunya impor. Kenaikan harga tersebut disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Penulis yang saat tahun 1998 tersebut bekerja di sebuah apotik swasta di Jakarta, hampir setiap minggu menaikkan harga obat. Bahkan dalam sebulan, salah satu merk obat dari perusahaan farmasi asing ternama naik sampai tiga kali, mengikuti kenaikan harga dollar AS. Pada kondisi seperti di atas, manajemen apotik tentu saja ingin mengetahui tingkat laba/profit yang dihasilkan akibat perubahan harga tersebut. Teori permintaan ekonomi menyatakan permintaan terhadap satu komoditas barang akan menurun, jika harga meningkat. Kenaikan harga obat akibat krisis ekonomi tentu saja mengakibatkan permintaan terhadap obatobatan menurun. Penurunan permintaan menyebabkan omzet penjualan menurun dan berakibat pada menurunnya laba. Kondisi ekonomi saat ini turut mempengaruhi perubahan permintaan pelayanan kesehatan seperti kenaikan harga BBM, kenaikan pajak, pemberlakukan Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS), trend belanja secara digital (online service), kenaikan Upah Minimum dan sebagainya. Pada artikel ini, penulis akan membahas salah satu analisis yang dapat dipakai untuk mengetahui pengaruh penurunan penjualan (disebut volume) terhadap keuntungan atau aba (disebut profit), serta implikasinya terhadap biaya-biaya yang harus dikeluarkan (disebut cost). Sehingga analisis ini sering disebut dengan Cost-Volume-Profit Analysis. 1

DEFINISI DAN PENGERTIAN Horngren, Datar, dan Rajan (2015) menyatakan managers use Cost-Volume-Profit (CVP) analysis to study the behavior of and relationship among these elements as changes occur in the number of units sold, the selling price, the variable cost per unit, or the fixed costs of a product. Dengan demikian dalam CVP analysis ada empat komponen yang dianalisis karena adanya perubahan-perubahan akibat kondisi ekonomi, yakni: 1. Profit yaitu tingkat keuntungan 2. Number of unit sold yaitu jumlah produk/jasa yang dapat terjual 3. Selling price yaitu harga jual produk/jasa, dan 4. Variable cost dan fixed cost FUNGSI DAN ASUMSI-ASUMSI DALAM CVP ANALYSIS Cost-Volume-Profit Analysis memiliki berbagai macam fungsi analisis dan perhitungan yang berguna bagi manajer perusahaan dalam pengambilan keputusan. Pada artikel ini akan disajikan pengertian dan contoh perhitungan dari fungsi CVP analysis, yang meliputi: a. Menentukan Contribution Margin b. Menentukan Operating Income c. Menentukan titik impas penjualan (Break Even Point atau BEP) d. Menentukan jumlah unit dijual dengan operating income (Profit) tertentu e. Menganalisis pengaruh pajak pendapatan f. Menganalisis pengaruh biaya iklan g. Menganalisis pengaruh kenaikan/penurunan harga h. Menentukan harga jual yang menguntungkan i. Melakukan analisa sensitivitas j. Menentukan struktur biaya tetap dan biaya variabel k. Menentukan operating leverage l. Menentukan margin of safety Dalam melakukan CVP analysis, terdapat beberapa asumsi yang harus terpenuhi agar menghasilkan analisis yang berguna, yaitu: 2

a. Perubahan yang terjadi pada pendapatan dan biaya terjadi karena adanya perubahan unit produk/jasa yang dihasilkan. Sehingga CVP analysis tidak mengakui perubahan pendapatan karena faktor-faktor di luar produksi/operasional untuk menghasilkan produk/jasa, seperti: pendapatan di luar usaha (retribusi, sewa ruangan di rumah sakit, dan sebagainya) b. Komponen biaya dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Artinya CVP analysis hanya mengakui biaya sesuai dengan perilakunya terhadap produk/jasa yang dihasilkan. Jika besarnya proporsional dengan unit yang dihasilkan maka disebut biaya variabel, jika tidak proporsional atau tidak mengalami perubahan pada periode tertentu disebut dengan biaya tetap. Dengan demikian, pada CVP analysis harus dilakukan pemisahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. c. Ketika digambarkan pada suatu grafik, garis total pendapatan dengan garis total biaya bersifat linier atau searah yang disebabkan oleh perubahan unit produk/jasa. d. Harga produk/jasa, biaya variabel per unit dan total biaya tetap, nilainya diketahui dan konstan pada periode waktu tertentu. MENENTUKAN CONTRIBUTION MARGIN Dalam CVP analysis terdapat satu konsep yang perlu dipahami yaitu contribution margin atau marjin kontribusi. Contribution margin adalah selisih antara total revenues (total pendapatan) dengan total variable cost (total biaya biaya variabel), atau Contribution margin = Total revenues Total variable costs (1) Dengan demikian contribution margin merupakan jumlah pendapatan yang dapat menutupi biaya tetap. Sedangkan contribution margin per unit (marjin kontribusi per unit) adalah selisih antara selling price (harga jual) dengan variable cost per unit (biaya variabel per unit), atau Contribution margin per unit = Selling price Variable costs per unit (2) Selain dinyatakan dalam bentuk moneter (rupiah), contribution margin dapat pula dinyatakan dalam bentuk persentase yang merupakan perbandingan antara contribution margin terhadap revenues (pendapatan penjualan), atau % Contribution margin = contribution margin revenues (3) 3

Contoh Soal-1 (Contribution Margin) Setelah lulus sarjana kesehatan masyarakat, Emi memutuskan membuka bisnis toko buku kesehatan. Ia mengawali bisnisnya dengan menjual paket buku tutorial senam sehat dan DVD senam sehat seharga Rp 120.000,- per paket. Sesuai perjanjian jika ada paket yang tidak terjual bisa dikembalikan ke penerbit dengan uang pengganti full Rp 120.000,- per paket. Agar paket buku yang dijual laku, ia mengikuti pameran yang diadakan sebuah instansi pemerintah dengan harga 200.000 per paket, dan harus membayar sewa booth pameran seharga Rp 2.000.000,-. Pertanyaan: 1. Jika Emi menjual 5 paket buku, berapakah: a. Contribution margin b. Contribution per unit c. Persentase contribution margin (%) 2. Jika Emi menjual 40 paket, berapakah: a. C ontribution margin b. Contribution per unit c. Persentase contribution margin (%) 3. Berapa minimal paket yang harus Emi jual supaya mencapai titik impas? Dari soal diketahui bahwa: - Biaya pembeian paket buku = Rp 120.000 per paket (biaya variabel) - Harga jual paket buku (selling price) = Rp 200.000 per paket - Biaya sewa booth pameran = Rp 2.000.000,- (biaya tetap) 1. Jika menjual hanya 5 paket buku, maka: a. Contribution margin = total revenues total variable costs = (5 x Rp 200.000) (5 x Rp 120.000) = Rp 1.000.000 Rp 600.000 = Rp 400.000,- b. Contribution margin per unit = selling price variabel cost per unit = Rp 200.000 Rp 120.000 = Rp 80.000 per unit c. Persentase contribution margin = (contribution margin/revenues) x 100% = (Rp 400.000 / Rp 1.000.000) x 100% = 40% 2. Jika mampu menjual sampai 40 paket buku, maka: a. Contribution margin = total revenues total variable costs = (40 x Rp 200.000) (40 x Rp 120.000) = Rp 8.000.000 Rp 4.800.000 = Rp 3.200.000,- b. Contribution margin per unit = selling price variabel cost per unit = Rp 200.000 Rp 120.000 = Rp 80.000 per unit c. Persentase contribution margin = (contribution margin/revenues) x 100% = (Rp 3.200.000 / Rp 8.000.000) x 100% = 40% 4

3. Untuk mencapai titik impas, maka contribution margin = fixed costs, dan dapat diselesaikan menggunakan dua cara yaitu matematis dan menggunakan speadsheet excel. a. Pendekatan matematis Jika jumlah titik impas dinyatakan dengan Q Contribution margin = fixed costs, atau Total variabel revenues Total variable costs = fixed costs (200.000 x Q) (120.000 x Q) = 2.000.000 200.000Q 120.000Q = 2.000.000 80.000Q = 2.000.000 Q = 25 b. Spreadsheet excel Jadi titik impas = 25 paket, atau Emi sebaiknya menjual minimal 25 paket. MENENTUKAN OPERATING INCOME Pada contoh soal di atas terdapat komponen pendapatan yang dapat dihitung dari CVP analysis yaitu operating income yang merupakan selisih antara contribution margin dengan fixed costs (biaya tetap) disebut dengan operating income, dengan formula: Operating income = Contribution margin Fixed costs (4) Untuk menentukan operating income dapat pula diperluas dengan menggunakan komponen-komponen dari Cost-Volume-Profit analysis terdiri dari tujuh jenis entitas yaitu: 1. Harga jual (selling price) 2. Jumlah unit yang terjual (quantity of units sold) 3. Total biaya variabel (total varible costs) 4. Biaya varibel per unit (variable costs per unit) 5. Total biaya tetap (total fixed costs) 6. Pendapatan operasional (operating income) 7. Marjin kontribusi (margin contribution) dan marjin kontribusi per unit (contribution margin per unit). 5

Berdasarkan jenis-jenis komponen di atas, operating income dapat dihitung menggunakan tiga metode yaitu 1) metode persamaan matematik; 2) metode marjin kontribusi; dan 3) metode grafik. Pendekatan Persamaan Matematis Metode persamaan matematis didasarkan pada hubungan atau formula-formula dalam perhitungan pendapatan operasional (operating income) dan marjin kontribusi (contribution margin) sebagai berikut: Contribution margin = Total revenues Total variable costs Sehingga berdasarkan persamaan di atas Operating income = Contribution margin Fixed costs Operating income = Revenues variable costs Fixed costs (5) Sementara itu revenues dan variable costs dihitung dengan formula sebagai berikut: Revenues = Selling price (SP)x Quantity of sold (Q) (6) Variable costs = Variable cost per Unit (VCU)x Quantity of sold (Q) (7) Dengan demikian operating income dengan pendekatan persamaan matematis, dapat dihitung dengan formula berikut: Operating Income = [( Selling Quantity price ) ( of units sold Variable ) ( cost per unit Quantity ) ( of )] Fixed costs (8) units sold Pendekatan Marjin Kontribusi Sementara itu pada pendekatan Marjin Kontribusi, menghitung operating income berdasarkan formula 8 di atas, sehingga: Operating Income = [( Selling Quantity price ) ( of units sold Contribution margin Operating Income = [( per unit Variable ) ( cost per unit Quantity ) ( of )] Fixed costs units sold Quantity ) ( of )] Fixed costs (9) units sold 6

Contoh soal-2 (Menghitung Operating Income, pendekatan matematis & marjin kontribusi) Menggunakan contoh soal-1 di atas, tentukan operating income dengan menggunakan pendekatan matematis dan pendekatan marjin kontribusi jika unit yang terjual adalah sebayak 40. a. Pendekatan matematis, dengan formula sebagai berikut: Opr. Inc. = [( Selling Quantity Variable Quantity price ) ( of ) ( cost ) ( of )] Fixed costs units sold per unit units sold Operating income = [(200.000)x(40) - (120.000)x(40)] - 2.000.000 = [8.000.000 4.800.000] 2.000.000 = 1.200.000 b. Pendekatan marjin kontribusi dengan formula sebagai berikut: Quantity Contribution margin Operating Income = [( ) ( of )] Fixed costs per unit units sold Operating income = (80.000 x 40) 2.000.000 = 1.200.000 Pendekatan Grafis Pendekatan grafis menggukan diagram kartesian sumbu X dan Y. Sumbu X merepresentasikan jumlah unit produk/jasa yang dijual (quantity of units sold) dan sumbu Y merepresentasikan nilai rupiah dari biaya atau pendapatan. Sebelum nilai-nilai tersebut dipetakan pada diagram, maka sebaiknya dibuat tabel terlebih dahulu yang mewakili nilai X dan Y. Perhatikan contoh soal berikut. Contoh soal-3 (Menghitung Operating Income, Pendekatan Grafis) Menggunakan contoh soal-1 tentukan hubungan antar biaya dan pendapatan dengan menggunakan pendekatan grafik. 7

Pertama dilakukan penyusunan tabel hubungan antara jumlah unit terjual (sel A) dengan seluruh biaya dan pendapatan (sel B s/d I), sebagai berikut: Keterangan: Sel A, B, D, dan F merupakan nilai konstanta Sel C = A x B Sel E = A x D Sel G = C + F Sel H = E C Sel I = E G atau H F Kedua, melakukan plotting nilai pada tabel menjadi grafik 8

MENENTUKAN TITIK IMPAS (BREAK EVEN POINT) Break Even Point (BEP) atau Titik Impas adalah jumlah produk/jasa yang dijual yang menyebabkan total pendapatan sama dengan total biaya, atau yang menyebabkan profit sama dengan 0 (nol). Dengan menggunakan contoh di atas dan formula (8) dan (9), maka kondisi BEP jika: 0 = [( Selling Quantity price ) ( of units sold Contribution margin 0 = [( per unit Variable ) ( cost per unit ) ( Quantity of )] Fixed costs (10) units sold Quantity ) ( of )] Fixed costs (11) units sold Contoh soal-4 (Menghitung Break Even Point) Menggunakan contoh soal-1 di atas, tentukan titik Break Even Point (dalam unit dan rupiah) dengan menggunakan pendekatan matematis dan pendekatan marjin kontribusi a. Pendekatan matematis, dengan formula sebagai berikut: Opr. Inc. = [( Selling Quantity Variable Quantity price ) ( of ) ( cost ) ( of )] Fixed costs units sold per unit units sold 0 = (200.000Q - 120.000Q) - 2.000.000 = 80.000Q 2.000.000 Q = 2.000.000 : 80.000 = 25 Break even point dalam rupiah = 25 x Rp 200.000 = Rp 5.000.000 b. Pendekatan marjin kontribusi dengan formula sebagai berikut: Quantity Contribution margin Operating Income = [( ) ( of )] Fixed costs per unit units sold 0 = (80.000 x Q) 2.000.000 = 80.000Q 2.000.000 Q = 2.000.000 : 80.000 = 25 MENENTUKAN JUMLAH UNIT DIJUAL DENGAN OPERATING INCOME (PROFIT) TERTENTU CVP analysis dapat pula digunakan untuk menentukan berapa jumlah produk/jasa yang dijual agar mencapai target profit/operating income yang diingikan perusahaan. 9

Contoh soal-5 (Menghitung Jumlah Unit yang Dijual, dengan Profit tertentu) Menggunakan contoh soal-1 di atas, jika profit yang diharapkan adalah Rp 1.600.000,- maka tentukan jumlah paket buku yang harus terjual dengan menggunakan pendekatan matematis dan pendekatan marjin kontribusi a. Pendekatan matematis, dengan formula sebagai berikut: Opr. Inc. = [( Selling Quantity Variable Quantity price ) ( of ) ( cost ) ( of )] Fixed costs units sold per unit units sold 1.600.000 = (200.000Q - 120.000Q) - 2.000.000 1.600.000 = 80.000Q 2.000.000 80.000Q = 2.000.000 + 1.600.000 Q = 3.600.000 : 80.000 = 45 Nilai penjualan dalam rupiah = 45 x Rp 200.000 = Rp 9.000.000 b. Pendekatan marjin kontribusi dengan formula sebagai berikut: Quantity Contribution margin Operating Income = [( ) ( of )] Fixed costs per unit units sold 1.600.000 = 80.000Q 2.000.000 80.000Q = 2.000.000 + 1.600.000 Q = 3.600.000 : 80.000 = 45 Nilai penjualan dalam rupiah = 45 x Rp 200.000 = Rp 9.000.000 MENGANALISIS PENGARUH PAJAK PENDAPATAN Operating income yang dibahas pada sub bab sebelumnya pada dasarnya pendapatan yang belum dikenakan pajak (income tax). Sehingga praktisi keuangan menyebut operating income dengan EBIT atau Earning Before Income Tax atau Pendapatan sebelum dikenakan pajak pendapatan. Dalam laporan akuntansi, perusahaan harus mengurangi profit yang diperoleh dengan pajak pendapatan, menghasilkan pendapatan yang disebut dengan Net Income atau Earning After Income Tax (EAIT). Sehingga net income dihitung dengan formula sebagai berikut: Net Income = Operating income Income Tax (12) Income Tax = Operating income Tax rate (13) Sehingga, Net Income = Operating income (1 Tax rate) (14) 10

Operating Income = Net income 1 Tax rate (15) Contoh soal-6 (Menentukan Operating income setelah dikurangi Pajak) Menggunakan contoh soal-4 di atas, tentukan operating income bila pendapatan setelah kena pajak Rp 960.000 (tax rate = 40%) dengan menggunakan pendekatan matematis. Pendekatan matematis, dengan formula sebagai berikut: Operating Income = Net income 1 Tax rate Operating income = 960.000 : (1-0,40) = 960.000 : 0,60 = 1.600.000 MENGANALISIS PENGARUH BIAYA IKLAN Untuk meningkatkan penjualan, perusahaan menggunakan metode-metode dan teknik periklanan yang tentunya membutuhkan biaya. Biaya ini disebut dengan advertise cost. Penambahan biaya iklan menyebabkan ada perubahan pada produk/jasa yang harus dijual. Contoh soal-7 (Menganalisis Pengaruh Biaya Iklan) Berdasarkan contoh soal-1 jika Emi ditawarkan untuk mengiklankan paket buku dengan cara promosi melalui penyebaran brosur di pameran, dengan biaya sebesar Rp 500.000. Diharapkan penjualan ini dapat meningkatkan paket buku yang dijual sebesar 10% yaitu dari 40 paket menjadi 44 paket buku. Apakah Emi harus menerima tawaran tersebut? Untuk menjawab pertanyaan di atas, dapat digunakan tabel CVP analysis berikut ini: Berdasarkan tabel di atas, bila Emi menyetujui penawaran untuk menyebar brosur pada acara pameran, maka akan menurunkan operating income dari Rp 1.200.000 menjadi Rp 11

1.020.000,- meskipun dapat meningkatkan penjualan hingga 44 paket buku. Sehingga jika tujuan Emi adalah mencapai operating income yang semaksimal mungkin, maka tidak perlu dilakukan promosi. MENGANALISIS PENGARUH KENAIKAN/PENURUNAN HARGA JUAL CVP analysis dapat juga menganalisis jika harga jual yang ditawarkan diturunkan atau dinaikkan sesuai keinginan perusahaan. Perusahaan dapat pula memutuskan harga tidak dinaikkan atau diturunkan. Contoh soal-8 (Menganalisis Pengaruh Perubahan Harga) Berdasarkan contoh soal-7 jika Emi memutuskan untuk tidak melakukan penyebaran brosur di pameran, namun menurunkan harga menjadi Rp 175.000. Diharapkan penjualan ini dapat meningkatkan paket buku dari 40 paket menjadi 50 paket buku. Apakah sebaiknya Emi tetap menurunkan harga jual paket buku? Untuk menjawab pertanyaan di atas, dapat digunakan tabel CVP analysis berikut ini: Berdasarkan tabel di atas, bila Emi mengurani harga jual dari 200.000 menjadi 175.000, maka akan menurunkan operating income dari Rp 1.200.000 menjadi Rp 750.000,- meskipun dapat meningkatkan penjualan hingga 50 paket buku. Sehingga jika tujuan Emi adalah mencapai operating income yang semaksimal mungkin, maka tidak perlu dilakukan penurunan harga paket buku. MENENTUKAN HARGA JUAL YANG MENGUNTUNGKAN CVP analysis dapat membantu manajemen dalam menentukan harga jual produk/jasa pada kondisi yang diinginkan. Misalnya pada kondisi kunjungan pasien rata-rata 100 per bulan 12

dan target pendapatan yang dinginkan per bulan adalah Rp 50.000.000,- berapa harga minimal pelayanan dokter umum yang harus ditetapkan?. Contoh soal-9 (Menentukan Harga Jual) Berdasarkan contoh soal-1 jika Emi mentargetkan penjualan sebanyak 50 paket buku dengan target operating income adalah Rp 1.200.000,-, berapa harga jual minimal yang harus ditetapkan oleh Emi? Target operating income = Rp 1.200.000,- Biaya tetap = Rp 2.000.000,- + Marjin kontribusi = Rp 3.200.000,- Dibagi Target jumlah penjualan = 50 unit Target marjin kontribusi per paket = Rp 64.000,- Biaya variabel per unit = Rp 120.000,- + Harga jual yang ditetapkan = Rp 184.000,- Dengan demikian, harga jual ditetapkan minimal Rp 184.000,- untuk mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1.200.000,- dengan menjual 50 paket buku MELAKUKAN SENSITIVITY ANALYSIS Salah satu teknik dalam CVP analysis yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan oleh manajemen adalah sensitivity analysis atau analisa sensitivitas. Sensitivity analysis merupakan teknik untuk menentukan berapa hasil/outcome (misalnya operating income) yang diperoleh jika target input (misalnya jumlah penjualan) tidak tercapai, atau kebalikannya. Disebut juga dengan what-if technique. Untuk menjalankan teknik analisas sentivitas membutuhkan bantuan spreadsheet microsoft excel untuk mempermudah perhitungan yang berulang-ulang. Lihat contoh soal berikut. Contoh soal-10 (Sensitivity Analysis) Setelah lulus sarjana kesehatan masyarakat, Emi memutuskan membuka bisnis toko buku kesehatan. Ia mengawali bisnisnya dengan menjual paket buku tutorial senam sehat dan DVD senam sehat seharga Rp 120.000,- per paket. Sesuai perjanjian jika ada paket yang tidak terjual bisa dikembalikan ke penerbit dengan uang pengganti full Rp 120.000,- per paket. Agar paket buku yang dijual laku, ia mengikuti pameran yang diadakan sebuah instansi pemerintah dengan harga 200.000 per paket, dan harus membayar sewa booth pameran seharga Rp 2.000.000,-. Buatlah analisa sensitivitas terhadap titik Break Even Point dengan skenario jika: 13

a. Biaya tetap meningkat dengan kelipatan 400.000 yaitu 2.000.000, 2.400.000, dan 2.800.000 (3 skenario) b. Biaya variabel dengan skenario pada Rp 100.000, Rp 120.000 dan Rp 150.000 per unit (3 skenario) c. Operating income pada pendapatan sebesar Rp 0, Rp 1.200.000, Rp 1.600.000 dan Rp 2.000.000 (4 skenario) Berdasarkan permasalahan di atas akan terdapat 36 skenario analisa sensitiftas (yaitu 3 x 3 x 4) yang akan dianalisis. Atau manajemen harus melakukan perhitungan titik BEP sebanyak 36 kali, dengan pasangan skenario sebagai berikut: Skenario-1 = Biaya tetap 2.000.000, Biaya variabel per unit Rp 100.000, dan Operating income Rp 0,- Skenario-2 = Biaya tetap 2.000.000, Biaya variabel per unit Rp 100.000, dan Operating income Rp 1.200.000,- Skenario-3 = Biaya tetap 2.000.000, Biaya variabel per unit Rp 100.000, dan Operating income Rp 1.600.000,- Skenario-4 = Biaya tetap 2.000.000, Biaya variabel per unit Rp 100.000, dan Operating income Rp 2.000.000,- Skenario-5 = Biaya tetap 2.000.000, Biaya variabel per unit Rp 120.000, dan Operating income Rp 0,-... dan seterusnya sampai dengan Skenario-36= Biaya tetap 2.800.000, Biaya variabel per unit Rp 150.000, dan Operating income Rp 2.000.000,- Setiap skenario di atas dihitungan dengan bantuan tabel excel sebagai berikut: Berdasarkan tabel di atas, jika Emi ingin menjual paket buku dengan kondisi: 14

a. Target pendapatan 0,- (BEP), Biaya tetap 2.000.000,- dan Biaya variabel per unit 100.000,- maka jumlah paket yang harus djual sebanyak 20 unit b. Target pendapatan 1.200.000,- Biaya tetap 2.000.000,- dan Biaya variabel per unit 100.000,- maka jumlah paket yang harus djual sebanyak 32 unit c. Target pendapatan 1.600.000,- Biaya tetap 2.000.000,- dan Biaya variabel per unit 100.000,- maka jumlah paket yang harus djual sebanyak 36 unit d. Target pendapatan 2.000.000,- Biaya tetap 2.000.000,- dan Biaya variabel per unit 100.000,- maka jumlah paket yang harus djual sebanyak 40 unit Dan seterusnya. MENENTUKAN STRUKTUR BIAYA TETAP DAN BIAYA VARIABEL Tabel analisa sensitivitas (lihat contoh soal-10 di atas), dapat digunakan manajemen perusahaan untuk merencanakan biaya yaitu menentukan tingkat biaya tetap dan biaya variabel dalam struktur biaya perusahaan. Dari tabel analisa sensitivitas terlihat ada 13 alternatif komposisi biaya tetap dengan biaya variabel. Contoh soal-11 (Menentukan Struktur Biaya) Berdasarkan tabel analisa sensitivitas pada contoh soal-10, bandingkan dan analisis antara struktur biaya pada lajur ke-6 dan lajur ke-11, pada titik BEP dengan pendapatan 2.000.000,-. Buat tabel perbandingan lajur-6 dan lajur-11 sebagai berikut: Alternatif Biaya tetap Biaya variabel Jumlah unit yang terjual pada operating income: Rp 0,- (BEP) Rp 2.000.000,- Lajur 6 2.000.000 120.000 25 50 Lajur 11 2.800.000 100.000 28 48 Berdasarkan tabel di atas, maka a. Jika target operating income Rp 0,- atau BEP maka struktur biaya pada lajur-6 yang dipilih karena jumlah unit paket buku yang harus dijual lebih sedikit (25 < 28) b. Jika target operating income Rp 2.000.000,- maka struktur biaya pada lajur-11 yang dipilih karena jumlah unit paket buku yang harus dijual lebih sedikit (48 < 50) MENENTUKAN OPERATING LEVERAGE Operating leveraging adalah besarnya pengaruh perubahan marjin kontribusi terhadap operating income. Semakin tinggi nilai operating leverage maka semakin baik, karena perusahaan semakin baik dalam mendayagunakan (leveraging) biaya tetap untuk menghasilkan pendapatan. Perusahaan yang memerlukan tenaga kerja banyak sehingga biaya variabel per 15

unit tinggi dan biaya tetap rendah, memiliki operating leverage yang rendah (Kiney & Ralborn, 2011). Perhitungan operating leverage atau degree of operating leverage (DOL menggunakan formula sebagai berikut: Operating leverage = Contribution margin Operating income (16) Contoh soal-12 (Menghitung Operating Leverage) Berdasarkan tabel analisa sensitivitas pada contoh soal-10 di atas, hitunglah operating leverage pada tingkat pendapatan Rp 1.600.000 dengan biaya tetap 2.000.000 dan target penjualan 40 paket bukut. Karena soal di atas meminta untuk menganalisis struktur biaya dengan pendapatan 1.600.000 dan biaya tetap 2.000.000 maka lajur yang dipilih dari tabel pada contoh soal- 10 adalah lajur 5, 6 dan 7. Sehingga dapat dibuat tabel sebagai berikut: Biaya/Pendapatan Alternatif Biaya Lajur-5 Lajur-6 Lajur-7 1. Marjin kontribusi per unit 100.000 80.000 50.000 2. Marjin kontribusi 4.000.000 3.200.000 2.000.000 3. Operating income 1.600.000 1.600.000 1.600.000 4. Operating leverage 40/16 = 2,50 32/16 = 2,00 20/16 = 1,25 Keterangan= 1. Marjin kontribusi per unit = harga jual per unit harga variabel per unit 2. Marjin kontribusi = marjin kontribusi per unit x jumlah unit yang dijual 3. Operating leverage = marjin kontribusi/operating income Dari tabel terlihat bahwa alternatif lajur ke-5 memberikan operating leverage paling tinggi. MENENTUKAN MARGIN OF SAFETY Margin safety (dalam rupiah) merupakan selisih nilai rupiah antara revenues/pendapatan (baik yang dianggarkan maupun aktual) dengan breakeven/titik impas pendapatan. Sedangkan margin safety (dalam unit) merupakan selisih antara jumlah unit penjualan (baik yang dianggarkan maupun aktual) terhadap jumlah unit breakeven/titik impas. Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut: Margin of safety (rupiah) = Budgeted(or actual) revenues Breakeven revenues (17) Margin of safety (unit) = Budgeted(or actual) sales quantity Breakeven quantity (18) Margin of safety (%) = Margin of Safety (Rupiah) Budgeted (or actual)revenues 100% (19) 16

Contoh soal-13 (Menghitung Margin of Safety) Setelah lulus sarjana kesehatan masyarakat, Emi memutuskan membuka bisnis toko buku kesehatan. Ia mengawali bisnisnya dengan menjual paket buku tutorial senam sehat dan DVD senam sehat seharga Rp 120.000,- per paket. Sesuai perjanjian jika ada paket yang tidak terjual bisa dikembalikan ke penerbit dengan uang pengganti full Rp 120.000,- per paket. Agar paket buku yang dijual laku, ia mengikuti pameran yang diadakan sebuah instansi pemerintah dengan harga 200.000 per paket, dan harus membayar sewa booth pameran seharga Rp 2.000.000,-. Emi menargetkan jumlah paket terjual adalah 40 unit. Tentukan: 1. Breakeven point dalam rupiah dan unit 2. Margin of safety dalam rupiah, unit, dan persentase 1. Dengan pendekatan matematis, maka Breakeven point adalah Opr. Inc. = [( Selling Quantity price ) ( of units sold 0 = (200.000Q - 120.000Q) - 2.000.000 = 80.000Q 2.000.000 Q = 2.000.000 : 80.000 = 25 Variable ) ( cost per unit Break even point dalam rupiah = 25 x Rp 200.000 = Rp 5.000.000 Quantity ) ( of )] Fixed costs units sold 2. Margin safety, dengan formula (17), (18), dan (19) diperoleh MoS (rupiah) = Budgeted(or actual) revenues Breakeven revenues Margin of Safety (Rupiah) = (40 x 200.000) 5.000.000 = 8.000.000 5.000.000 = 3.000.000 MoS (unit) = Budgeted(or actual) sales quantity Breakeven quantity Margin of Safety (Rupiah) = 40 25 = 15 unit paket buku Margin of safety (%) = Margin of Safety (Rupiah) 100% Budgeted (or actual)revenues Margin of safety (%) = (3.000.000 / 8.000.000) x 100% = 37,5% Hal ini berarti dengan target penjualan 40 paket buku, Emi memilki tingkat keamanan penjualan sebesar 37,5% atau Rp 3.000.000 atau 15 paket buku, jika penjualan yang dianggarkan mengalami penurunan hingga mencapai breakeven atau mencapai pendapatan = Rp 0,- 17

CVP ANALYSIS PADA DUA PRODUK ATAU LEBIH Penjelasan dan contoh perhitungan di atas dilakukan untuk produk tunggal atau produk/jasa yang dijual hanya satu macam. Bagaimana jika perusahaan menjual mixed product yaitu menghasilkan pendapatan dari dua atau lebih produk? Menghitung Operating Income Mixed Product Dalam menghitung operating income dari penjualan mixed product, prinsipnya adalah: a. Menentukan pendapatan dan biaya variabel kedua produk b. Menentukan marjin kontribusi c. Menentukan operating income (marjin kontribusi biaya tetap) Perhatikan contoh soal berikut Contoh soal-14 (Menentukan Operating Income pada Mixed Product) Setelah menikuti pameran untuk menjual paket buku tutorial senam sehat dan DVD senam sehat seharga Rp 120.000,- per paket dengan harga 200.000 per paket, Emi memutuskan untuk mengikuti pameran bulan depan dengan produk lainnya yaitu kaos senam seharga Rp 100.000 yang dibeli dari toko grosir seharga Rp 70.000 per kaos. Untuk itu ia harus membayar sewa booth dengan ukuran yang lebih besar seharga Rp 4.500.000,-. Adapun target penjualan paket buku & CD adalah 60 unit sedangkan target kaos senam adalah 40 unit. Pertanyaan: Berapa Operating Income yang diperoleh? Dari soal diperoleh informasi: a. Biaya tetap = 4.500.000 (sewa booth) b. Paket Buku dan CD senam - Harga jual = Rp 200.000 per paket - Biaya variabe per unit = Rp 120.000 per paket - Target penjualan = 60 unit c. Kaos senam - Harga jual = Rp 100.000 per kaos - Biaya variabel per unit = Rp 70.000 per kaos - Target penjualan = 40 unit Buat tabel perhitungan sebagai berikut: Pendapatan/Biaya Paket buku & Kaos senam Total CD Target penjualan 60 40 100 Pendapatan penjualan 12.000.000 4.000.000 16.000.000 Total biaya variabel 7.200.000 2.800.000 10.000.000 Marjin kontribusi 4.800.000 1.200.000 6.000.000 Biaya tetap 4.500.000 18

Operating income 1.500.000 Keterangan: a. Pendapatan penjualan = target penjualan x harga jual b. Total biaya variabel = target penjualan x biaya variabel per unit c. Marjin kontribusi = target penjualan x (harga jual biaya variabel per unit) Dengan demikian operating income yang akan dihasilkan alah Rp 1.500.000,- Menentukan Break Even Point pada Mixed Product Untuk menentukan titik impas (BEP) pada penjualan dua produk/jasa atau lebih maka langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1. Menentukan rasio terkecil jumlah unit yang akan dijual antara dua produk atau lebih, yang disebut dengan bundle atau komposisi produk 2. Menentukan total marjin kontribusi bundle 3. Menentukan titik impas (BEP) bundle, dengan formula: BEP bundle = Biaya Tetap Total marjin kontribusi bundle 4. Menentukan titik impas (BEP) masing-masing produk dalam unit 5. Menentukan titik impas (BEP) masing-masing produk dalam rupiah Perhatikan contoh soal berikut, Contoh soal-15 (Menentukan BEP pada Mixed Product) (20) Sesuai dengan contoh soal-13 di atas, tentukan titik impas (BEP) penjualan paket buku dan kaos senam! 1. Tentukan rasio bundle atau komposisi produk terkecil Target penjualan paket buku & CD senam = 60 unit Target penjualan kaos senam = 40 unit Rasio bundle = 60 : 40 atau 3 : 2 2. Tentukan marjin kontribusi per bundle Produk Jumlah produk pada tiap bundle Marjin kontribusi per produk Marjin kontribusi per bundle Paket Buku & CD senam 3 80.000 240.000 Kaos senam 2 30.000 60.000 Total 300.000 Dengan demikian total marjin kontribusi komposisi produk = Rp 300.000,- 19

3. Tentukan BEP komposisi produk, menggunakan rumus berikut: Biaya Tetap BEP bundle = Total marjin kontribusi bundle BEP bundle = 4.500.000 / 300.000 = 15 bundle 4. Tentukan BEP masing-masing produk dalam unit: a. BEP paket buku dan CD senam = 15 bundle x 3 unit per bundle = 45 unit b. BEP paket kaos senam = 15 bundle x 2 unit per bundle = 30 unit + Total Break Even Point dalam Unit = 75 unit 5. Tentukan BEP masing-masing produk dalam rupiah: a. BEP paket buku dan CD senam = 45 unit x Rp 200.000 = Rp 9.000.000 b. BEP paket kaos senam = 30 unit x Rp 100.000 = Rp 3.000.000 + Total Break Even Point dalam Rupiah = Rp 12.000.000 APLIKASI CVP ANALYSIS PADA PELAYANAN KESEHATAN Seluruh contoh soal di atas menggunakan kasus penjualan produk atau pada perusahaan perdagangan. Bagaimana dengan pelayanan kesehatan? Untuk mengaplikasilan CVP analysis pada pelayanan kesehatan, maka harus ditentukan terlebih dahulu ukuran jasa yang dihasilkan. Misalnya: a. Layanan poliklinik rawat jalan = jumlah kunjungan pasien per hari b. Layanan rawat inap = jumlah hari rawat inap c. Layanan farmasi = jumlah resep yang dilayani per hari d. Layanan radiologi = jumlah eksposur per hari e. Layanan laboratorium klinik = jumlah sampel per hari f. Layanan klaim BPJS = jumlah berkas klaim per bulan g. Dan sebagainya Berikut adalah contoh penerapan CVP analysis pada instansi pemerintah yang tidak mencari profit (not-for-profit organization), sehingga dalam menentukan jumlah jasa yang dilayani bisa menggunakan prinsip BEP yaitu operating income yang dihasilkan sebesar Rp 0. Contoh soal-16 (Dinas Kesehatan, Program jamban sehat, BEP) Dinas Kesehatan kabupaten A mendapat anggaran sebesar Rp 900.000.000 setahun dalam rangka program pembuatan jamban sehat di setiap desa. Setiap desa dibiayai sebesar Rp 5.000.000,- untuk membuat jamban sehat. Untuk menjalankan program ini Dinas Kesehatan menganggarkan biaya administrasi dan honor tenaga lapangan Rp 270.000.000,- selama satu tahun. 20

Pertanyaan: 1. Berapakah jumlah jamban sehat yang dapat dihasilkan dalam setahun dengan jumlah anggaran tersebut? 2. Jika pada tahun berikutnya ada penurunan anggaran sebesar 15%, berapa jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan? 3. Apakah penurunan anggaran bersifat proporsional terhadap penurunan jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan? Jika tidak, berikan alasannya. Dari soal diperoleh informasi: - Anggaran dianggap sebagai pendapatan/revenues Rp 900.000.000,- - Biaya variabel per jamban sehat Rp 5.000.000,- - Biaya tetap sebagai biaya admin dan honor tenaga lapangan Rp 270.000.000,- 1. Permasalahan di atas mirip dengan menentukan titik impas, karena instansi pemerintah tidak mencari keuntungan melainkan mengoptimalkan aggaran atau operating income = 0. Sehingga dengan formula BEP, jumlah jamban yang dapat dihasilkan adalah: Operating income = revenues variable costs fixed costs 0 = 900.000.000 5.000.000Q 270.000.000 5.000.000Q = 630.000.000,- Q = 630.000.000,- : 5.000.000,- = 126 jamban sehat Dengan demikian, jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan adalah 126 unit. 2. Jika anggaran pada tahun berikutnya akan dikurangi sebesar 15% maka anggaran baru program jamban sehat menjadi = 900.000.000 x (1-0,15) = 765.000.000 Dengan formula BEP, jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan adalah Operating income = revenues variable costs fixed costs 0 = 765.000.000 5.000.000Q 270.000.000 5.000.000Q = 495.000.000,- Q = 495.000.000,- : 5.000.000,- = 99 jamban sehat Dengan demikian, jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan setelah anggaran dikurangi sebesar 15% adalah 99 unit. 3. Anggaran turun sebesar 15%, sementara penurunan jumlah jamban sehat yang dapat dikerjakan adalah (126-99)/126 = 0,214 atau 21,4%. Penurunan tidak proporsional karena meskipun anggaran diturunkan 15%, jumlah biaya tetap tidak mengalami penurunan, sehingga masih menanggung biaya tetap yang sama. 21

Kemudian contoh berikut adalah bagaimana sebuah klinik rawat jalan menentukan titik impas, menentukan jumlah kunjungan pasien pada tingkat pendapatan tertentu, dan menganalisis jumah kunjungan pasien jika harga pelayanan diturunkan. Contoh soal-17 (Klinik Rawat Jalan, BEP, Operating income, Pengaruh harga) Klinik rawat jalan XYZ pada awal pembukaan menetapkan harga pelayanan pemeriksaan oleh dokter umum sebesar Rp 90.000,- dengan biaya variabel per pasien adalah Rp 20.000,- Dalam sebulan biaya tetap yang dikeluarkan oleh klinik sebesar Rp 14.000.000,- (biaya gaji, sewa, dan sebagainya). Pertanyaan: 1. Hitunglah titik impas (BEP) layanan dokter umum 2. Jika target operating income adalah Rp 7.000.000,-, berapa minimal jumlah pasien yang harus dilayani? 3. Jika harga pelayanan diturunkan menjadi Rp 50.000, per pasien berapa BEP, dan jumlah pasien yang harus dilayani supaya mencapai profit/operating income Rp 7.000.000,-? Informasi yang diperoleh dari soal di atas: - Harga jual Rp 90.000,- - Biaya variabel per unit Rp 20.000,- - Biaya tetap Rp 14.000.000,- 1. BEP jika operating income = 0, maka Operating income = revenues variable costs fixed costs 0 = 90.000Q 20.000Q 14.000.000 70.000Q = 14.000.000,- Q = 14.000.000,- : 70.000,- = 200 pasien 2. Jika target operating income = 7.000.000,- maka Operating income = revenues variable costs fixed costs 7.000.000 = 90.000Q 20.000Q 14.000.000 70.000Q = 14.000.000 + 7.000.000 Q = 21.000.000 : 70.000,- = 300 pasien 3. Jika harga turun menjadi 50.000 maka, a. Breakeven Point (BEP) Operating income = revenues variable costs fixed costs 0 = 50.000Q 20.000Q 14.000.000 30.000Q = 14.000.000 Q = 14.000.000 : 30.000,- = 467 pasien b. Operating income = 7.000.000 Operating income = revenues variable costs fixed costs 7.000.000 = 50.000Q 20.000Q 14.000.000 30.000Q = 14.000.000 + 7.000.000 Q = 21.000.000 : 30.000,- = 700 pasien 22

KESIMPULAN Cost-Volume-Profit Analysis atau CVP Analysis merupakan alat pendukung keputusan manajemen yang melakukan analisis terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada biayabiaya selama perusahaan beroperasional. Perubahan tersebut berpengaruh terhadap jumlah produk/jasa yang dihasilkan dan jumlah keuntungan perusahaan. Komponen-komponen penting dalam CVP Analysis antara lain Harga jual produk/jasa (Selling price), Jumlah produk/jasa yang dijual (Quantity of Unit Sold), Revenues (pendapatan), Total variable cost, Fixed cost, Total Cost, dan Operating income. CVP Analysis digunakan untuk mengetahui: a. Besarnya Contribution Margin dan Operating Income b. Jumlah penjualan pada kondisi titik impas penjualan (BEP) dan pada target operating income (Profit) tertentu c. Pengaruh pajak pendapatan, biaya iklan, dan kenaikan/penurunan harga terhadap jumlah produk/jasa yang dijual d. Harga jual yang menguntungkan e. Analisa sensitivitas terhadap keputusan manajemen f. Struktur biaya tetap dan biaya variabel yang menguntungkan g. Tingkat operating leverage dan Margin of safety Terdapat asumsi-asumsi yang harus terpenuhi dalam CVP Analysis yaitu 1) pendapatan diperoleh dari penjualan produk/jasa; 2) Biaya-biaya dapat dipisahkan menurut biaya tetap dan biaya variabel; 3) Kenaikan pendapatan, total biaya, dan profit proporsional terhadap jumlah produk/jasa yang dijual; dan 4) Parameter harga jual (selling price), biaya variabel per unit, dan jumlah produk/jasa yang dijual diketahui. DAFTAR ISTILAH Break Even Point Contribution margin CVP Analysis Earning After Income Tax Income Tax Mixed product Number of unit sold Operating leverage Selling price Titik impas Bundle Cost-Volume-Profit Analysis Degree of Operating Leverage Earning Before Income Tax Margin of Safety Net income Operating income Profit Sensitivity analysis What-If technique 23

LATIHAN SOAL 1. Isilah sel yang kosong pada tabel di bawah ini dengan benar. No Pendapatan Biaya variabel Biaya tetap Total biaya Operating income (profit) % Marjin kontribusi 1. 800.000 1.200.000 1.000.000 2. 2.400.000 400.000 700.000 3. 900.000 500.000 900.000 4. 1.800.000 400.000 50% 2. Toko Obat Berijin pada tahun 2014 berhasil menjual 4.100 tube krim penghalus kulit dengan harga jual Rp 68.000 per tube. Biaya variabel yaitu harga beli krim dari distributor adalah Rp 60.000 per tube. Biaya tetap selama tahun 2014 tercatat Rp 164.000.000,- Hitunglah: a. Marjin kontribusi dan Operating income/profit b. Untuk meningkatkan pelayanan toko obat bermaksud membeli sistem informasi penjualan berbasis website sehingga menyebabkan biaya tetap meningkat menjadi Rp 240.000.000,- dan diharapkan biaya variabel turun menjadi Rp 54.000 per tube, hitunglah Marjin kontribusi dan operating income. c. Apakah toko obar sebaiknya tetap meng-install sistem informasi? Jelaskan jawaban Anda. 3. Sebuah Rumah Sakit bermaksud membuka enam klinik satelit di 6 kota. Oleh manajer keuangan RS Anda diberikan data-data anggaran keuangan pada tahun pertama pembukaan satelit, sebagai berikut: Pendapatan/revenues = Rp 10.400.000.000,- Total Biaya tetap = Rp 2.100.000.000,- Total Biaya variabel = Rp 7.900.000.000,- Biaya variabel berubah secara proporsional degngan jumlah kunjungan pasien. Ada diminta menentukan operating income seluruh klinik tersebut, jika terdapat kondisi sebagai berikut: a. Terjadi peningkatan marjin kontribusi 11%, pendapatan konstan (tidak berubah) b. Terjadi penurunan marjin kontribusi 11%, pendapatan konstan (tidak berubah) c. Terjadi peningkatan Total Biaya Tetap 4% d. Terjadi penurunan Total Biaya Tetap 4% e. Terjadi peningkatan Jumlah Kunjungan Pasien 7% f. Terjadi penurunan Jumlah Kunjungan Pasien 7% g. Terjadi peningkatan Total Biaya Tetap 11%, dan peningkatan Jumlah Kunjungan Pasien 11% h. Terjadi peningkatan Total Biaya Tetap 4%, dan penurunan Total Biaya Variabel 4% i. Dari kondisi 1 s/d 8 tersebut, mana yang memberikan operating income tertinggi? Apa alasannya? 4. PT XYZ adalah distributor treadmill yang dijual ke perorangan atau instansi yang membutuhkan. Harga jual treadmill adalah Rp 27.000.000 per unit, sementara perusahaan membeli dari pabrik seharga Rp 23.000.000. Setiap bulan PT XYZ mengeluarkan biaya sewa dan utilitas kantor Rp 48.200.000,- dan biaya gaji tenaga penjual sebesar Rp 68.000.000,-. Selain mendapat gaji, tenaga penjual juga mendapat komisi sebesar Rp 600.000,- untuk setiap 1 unit penjualan. PT XYZ juga harus membayar iklan di majalah kesehatan sebesar Rp 13.000.000,-. Pendapatan penjualan treadmill dikenakan pajak penjualan sebesar 40%. Berdasarkan informasi tersebut, hitunglah: a. Untuk mencapai titik impas (BEP), berapa jumlah treadmill yang harus dijual? b. PT XYZ memiliki target net income (setelah dipotong pajak) sebesar Rp 51.000.000,-. Berapakah operating income (profit) yang harus diterima untuk mencapai target net income tersebut? 24

c. Berapa jumlah unit traedmill yang harus dijual untuk mencapai target net income Rp 51.000.000,-? 5. Seorang pengusaha memiliki dua laboratorium klinik yang beroperasi selama 24 jam di dekat dua rumah sakit besar di kotanya. Kedua laboratorium klinik tersebut menurut laporan dari manajer keuangan memerlukan biaya tetap total sebesar Rp 4.560.000.000,- setiap tahun. Laboratorium melayani berbagai macam pemeriksaan baik manual maupun otomatis, dengan harga rata-rata pemeriksaan sebesar Rp 95.000,-. Rata-rata biaya variabel per pemeriksaan adalah Rp 38.000,- dengan pajak pendapatan sebesar 30%. Pengusaha menargetkan net income per tahun sebesar Rp 1.596.000.000,- a. Hitunglah pendapatan/revenues untuk memperoleh net income tersebut b. Berapa jumlah pemeriksaan yang harus dijalankan agar tercapai target net income tersebut? c. Untuk mencapai titik impas, berapa jumlah pemeriksaan yang harus diperiksa? d. Jika jumlah pemeriksaan yang dilayani pada tahun tersebut adalah 145.000.000 tes, berapa net income yang akan diterima? KEPUSTAKAAN Horngren, Charles T., Srikant M Datar, dan Madhav Rajan. 2015. Cost Accounting A Managerial Emphasis, 15th edition. New Jersey: Pearson Education Kinney, Michael R., dan Cecily A. Ralborn. 2011. Cost Accounting Foundations and Evolutions, Oklahoma: South-Western Cengage 25