BAB 3 METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 BAHAN DAN METODE. imunohistokimia Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan Tumorinfiltrating

BAB 3 BAHAN DAN METODA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif observasional. laboratoris dengan pendekatan potong lintang.

BAB III KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

Waktu dan Tempat Penelitian Materi Penelitian Metode Penelitian Pembuatan Tikus Diabetes Mellitus Persiapan Hewan Coba

NIP : : PPDS THT-KL FK USU. 2. Anggota Peneliti/Pembimbing : Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp.THT-KL(K)

BAB III METODE PENELITIAN. dengan pendekatan cross sectional dimana hanya diamati satu kali dan pengukuran

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Susunan Penelitian. Peneliti 1. Nama lengkap : Melvin Pascamotan Togatorop 2. Fakultas : Kedokteran 3. Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD

] 2 (Steel dan Torrie, 1980)

BAB IV METODE PENELITIAN A. DESAIN PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratoris

BAB I PENDAHULUAN. 8,7% di tahun 2001, dan menjadi 9,6% di tahun

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung

Universitas Sumatera Utara

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan Post Test Only Control Group Design yang

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Obstetri dan Ginekologi dan Patologi

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan case control. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan ekspresi

BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

LAMPIRAN. Lampiran 1 prosedur pewarnaan hematoksillin-eosin (HE)

BAB III METODE DAN PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 4 METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan rancangan pre and post

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini meliputi ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok (THT)

III. METODE PENELITIAN. dengan pendekatan cross sectional yakni meneliti kasus BPH yang. Moeloek Provinsi Lampung periode Agustus 2012 Juli 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Obstetri Ginekologi, Patologi Anatomi,

BAB III METODE PENELITIAN. Kedokteran Universitas Diponegoro Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan disain

METODOLOGI PENELITIAN. Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian adalah eksperimen dengan metode desain paralel.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

METODE PENELITIAN. Alur penelitian yang akan dilakukan secara umum digambarkan dalam skema pada Gambar 6.

BAB IV METODE PELAKSANAAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Pengembangan

BAB III METODE PENELITIAN. laboratoris in vivo pada tikus putih wistar (Ratus Norvegicus)jantan dengan. rancangan post test only control group design.

BAB IV METODE PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM. : Histoteknik : Selly Oktaria Tanggal Praktikum : 14 September 2012

BAB IV METODE PENELITIAN. Bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam. Semarang Jawa Tengah. Data diambil dari hasil rekam medik dan waktu

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Infeksi dan Penyakit Tropis dan Mikrobiologi Klinik. RSUP Dr. Kariadi Semarang telah dilaksanakan mulai bulan Mei 2014

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Alur penelitian yang akan dilakukan secara umum digambarkan dalam skema pada Gambar 5.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, dan bagian. Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013.

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem

LEMBARAN PENJELASAN EKSPRESI MATRIKS METALLOPROTEINASE-9 PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARING DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. test only control group design. Pengukuran awal tidak dilakukan karena dianggap sama untuk

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan desain

(Z ½α+Zβ ) BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah merupakan penelitian analitik observasional dengan

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan pengambilan data cross-sectional. Adapun sumber data yang. dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang ilmu pediatri dan ilmu Genetika Dasar.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Mata dan CDC RSUP dr. one group pretest and posttest design.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Fakultas Matematika dan

LAPORAN PRAKTEK LABORATORIUM HISTOTEKNIK TISSUE PROCESSING DAN PEWARNAAN

BAB 6 PEMBAHASAN. tahun, usia termuda 18 tahun dan tertua 68 tahun. Hasil ini sesuai dengan

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian Observasional analitik (Cross-sectional

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN

Peneliti a. Nama Lengkap : dr. Zulfikar b. Fakultas : Kedokteran c. Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Penyakit Dalam sub bagian Infeksi Tropis. Bagian /SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang mulai 1

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan. menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel

BAB I PENDAHULUAN. fibrovaskuler menyerupai sayap, merupakan lipatan dari konjungtiva yang

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruksi Kronik ( PPOK ) adalah penyakit paru kronik

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak khususnya bidang nutrisi,

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan metode Quasi Experimental dan

PROSEDUR TETAP PENGAMATAN EKSPRESI PROTEIN DENGAN METODE IMUNOSITOKIMIA

Peneliti a. Nama Lengkap : dr. Zulfikar b. Fakultas : Kedokteran c. Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1 Proses Dehidrasi Jaringan

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN. dan 1 kontrol terhadap ikan nila (O. niloticus). bulan, berukuran 4-7 cm, dan berat gram.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Bahan Alat

Transkripsi:

23 BAB 3 METODE PENELITIAN 31 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat analitik dengan desain kuasi eksperimental Pada penelitian ini akan diperiksa ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah pemberian fluticasone furoate semprot hidung 32 Waktu dan Tempat penelitian Penelitian dilakukan di Departemen THT-KL RSUP H Adam Malik Medan Untuk pemeriksaan imunohistokimia akan dilakukan di Departemen Patologi Anatomi FK USU Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2015 sampai jumlah sampel terpenuhi 33 Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Sampel 331 Populasi Populasi pada penelitian ini adalah penderita polip nasi yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan nasoendoskopi dan hasil biopsi histopatologi yang berobat ke subdivisi rinologi- alergi imunologi THT-KL FK USU/RSUP H Adam Malik Medan sejak Desember 2015 sampai jumlah sampel terpenuhi 332 Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi a Kriteria inklusi Penderita polip hidung yang belum pernah mendapat pengobatan dengan kortikosteroid Bersedia menggunakan semprot hidung fluticasone furoate setiap pagi selama 4 minggu 23

24 Bersedia ikut dalam seluruh proses penelitian dan memberikan persetujuan secara tertulis setelah mendapat penjelasan (inform consent) b Kriteria eksklusi Subjek dengan hasil pemeriksaan histopatologi keganasan Penderita yang hamil dan menyusui Penderita dengan gangguan fungsi hati 33 3 Besar Sampel Penentuan jumlah minimal sampel pada penelitian ini adalah berdasarkan pengamatan pendahuluan dengan menggunakan rumus : (Zα+Zβ)SD N1= N2 = 2 (x1- x2) 2 N1= N2 = (1,64+0,84)2,45 2 1,5 N = 16,40 16 Keterangan : Z α = Nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya bergantung pada nilai α yang besarnya ditentukan Nilai α =0,05 Z α = 1,64 Z β = nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya bergantung pada nilai β yang ditentukan Nilai β = 0,2 Z β = 0,84 SD = simpangan baku (Callejas et al 2014) X1-X2 = selisih rerata minimal yang dianggap bermakna yang didapat dari data penelitian sebelumnya atau jika tidak ada dapat ditentukan peneliti

25 33 4 Teknik pengambilan sampel Pengambilan sampel penelitian diambil secara non probability concecutive sampling 34 Variabel Penelitian Variabel yang diteliti yaitu : 1 variabel dependen : Matriks Metalloproteinase-9 2 variabel independent : fluticasone furoate 35 Definisi Operasional N o Variabel Definisi Cara dan alat ukur Kategori Skala 1 Polip hidung massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabua-abuan ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan Polip Bukan polip Nominal fisik, pemeriksaan nasoendoskopi dan hasil biopsi histopatologi 2 Jenis kelamin Ciri biologis yang membedakan orang yang satu dengan yang lainnya Rekam medis 1 laki-laki 2perempua n Nominal 3 Umur usia yang dihitung dalam tahun dan perhitungannya berdasarkan kalender masehi Rekam medis 40 thn 40 thn Interval

26 4 Stadium polip Ukuran polip yang dinilai dengan menggunakan nasoendoskopi menurut ketentuan Mackay and Lund,1995 Berdasarkan pemeriksaan nasoendoskopi Stadium 0 Stadium 1 Stadium 2 Stadium 3 Ordinal 5 Ekspres i MMP-9 Berdasarkan pewarnaan immunohistokimia MMP-9 ditemukan tampilan pulasan warna coklat pada sitoplasma sel stroma Kontrol positif yang digunakan berasal dari jaringan plasenta yang dilakukan pewarnaan immunohistokimia Kontrol negatif yang digunakan berasal dari jaringan polip hidung yang dilakukan pewarnaan immunohistokimia tanpa memberikan antibodi MMP-9 Ekspresi MMP-9 ditentukan dengan pewarnaan immunohistokim ia Untuk skor akhir digunakan skor imunoreaktif Skor imunoreaktif diperoleh dengan Ekspresi MMP-9 negatif : 0 3 Ekspresi MMP-9 positif /overekspre si : 4 9 Interval mengalikan skor luas dengan skor intensitas Skor luas 0 : berarti negatif 1:pewarnaa n positif < 10% jumlah sel 2:pewarnaa n positif10-50% jumlah sel 3:pewarnaa

27 n positif > 50% jumlah sel Skor intensitas (intensitas pewarnaan) 0 : negative 1 : lemah 2 : moderat 3 : kuat 6 Fluticas one furoate Kortikosteroid fluorinated sintetik dengan efek anti inflamasi yang reaksinya meningkat dengan reseptor glucocorticoid intraseluler merupakan suspensi cair kortikosteroid micronized yang disemprotkan ke mukosa hidung Setiap aktuasi semprotan disemprotan mengalirkan 27,5 µg fluticasone furoate Digunakan Tidak digunakan Nominal

28 36 Alat dan Bahan Penelitian 361 Alat penelitian Penelitian ini menggunakan beberapa peralatan sebagai berikut: 1 Catatan medis penderita dan status penelitian penderita 2 Formulir persetujuan ikut penelitian 3 Alat untuk biopsi: blakesley nasal forcep lurus/bengkok, endoskopi kaku 4 mm, 0 0 4 Alat untuk pemeriksaan histopatologi dan immunohistokimia: mesin pemotong jaringan (microtome), water bath, hot plate, staining jar, rak kaca objek, kaca objek, rak inkubasi, silanized slide, pap pen, pipet mikro, tabung sentrifuge, pengukur waktu dan mikroskop cahaya 362 Bahan penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1 Jaringan polip hidung dalam bentuk blok parafin yang didiagnosis sebagai polip hidung Bahan ini diperiksa secara immunohistokimia dengan menilai immunoreaktivitas antibodi MMP-9 2 Bahan untuk pemeriksaan histopatologi: formalin 10%, blok paraffin, aqua destilata, hematoxyllin-eosin 3 Bahan untuk pemeriksaan immunohistokimia: xylol, alkohol absolut, alkohol 96%, alkohol 80%, alkohol 70%, H 2 O 2 0,5% dalam methanol, Tris Buffer Saline (TBS), antibodi MMP-9, santa cruz, Real EnVision, Chromogen Diamino Benzidine (DAB) Lathium carbonat jenuh, Tris EBTA, hematoxylin, aqua destilata 363 Prosedur kerja pemeriksaan immunohistokimia MMP-9: 1 Deparafinisasi slide (Xylol 1, Xylol 2, Xylol 3) @ 5 menit 2 Rehidrasi (Alkohol absolute, Alk 96%, Alk 80%, Alk70%) @ 4 menit 3 Cuci dengan air mengalir 5 menit Masukkan slide ke dalam PT Link Dako Epitope ± 1 jam 4 Retrieval : set up preheat 65 0 C, running time 98 0 C selama 15 menit 5 Pap Pen Segera masukkan dalam Tris Buffered Saline ph 7,4 5 menit

29 6 Blocking dengan peroxidase block 5-10 menit 7 Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) ph 7,4 5 menit 8 Blocking dengan Normal horse Serum (NHS) 3% 15 menit 9 Cuci dalam tris Buffered Saline (TBS) ph 7,4 5 menit 10 Inkubasi dengan Antibody MMP-9 dengan pengenceran 1:40 1 jam 11Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) ph 7,4/ Tween 20 5 menit 12 Santa cruz Real Envision Rabbit/Mouse 30 menit 13 Cuci dalam Tris Buffered saline (TBS) ph 7,4/Tween 20 5-10 menit 14 DAB + Substrat Chromogen solution dengan pengeceran 20µL DAB : 1000µL substrat ( tahan 5 hari disuhu 2-8 0 C setelah di-mix) 5 menit 15 Cuci dengan air mengalir 10 menit 16 Counterstain dengan hematoxylin 3 menit 17 Cuci dengan air mengalir 5 menit 18 Lithium carbonat (5% dalam aqua) 2 menit 19 Cuci dengan air mengalir 5 menit 20 Dehidrasi (Alk 80%,Alk 96%, Alk Abs) @5 menit 21 Clearing (Xylol 1, Xylol 2, Xylol 3) @ 5 menit 22 Mounting + cover glass 37 Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh dari pemeriksaan langsung ekspresi MMP-9 polip hidung, sebelum dan sesudah mendapat terapi semprot hidung fluticasone furoate dengan pemeriksaan imunohistokimia 38 Analisis Data Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram Data akan dianalisa secara statistik untuk mengetahui perbandingan efektifitas terapi fluticasone furoate pada polip hidung Data yang diperoleh akan diolah dengan SPSS

30 39 Kerangka Kerja Massa di rongga hidung Biopsi Bukan polip hidung Polip hidung Pemeriksaan MMP-9 sebelum terapi FF secara Imunohistokimia Negatif : skor 0-3 Positif : skor 4-9 Terapi FF intranasal selama 4 minggu Nasoendoskopi dan biopsi Pemeriksaan MMP-9 sesudah terapi FF secara imunohistokimia Negatif Skor : 0-3 Positif Skor 4-9

31 310 Jadwal Penelitian Jenis Kegiatan Waktu Sept Okt Des Febr Apr Juni Febr 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 1 Persiapan proposal 2 Seminar proposal 3 Pengumpulan & pengolahan data 4 Penyusunan laporan 5 Laporan tesis

32 BAB 4 HASIL PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan rancangan Quasi eksperimental Pengambilan sampel penelitian didapat dari rongga hidung penderita pada saat dilakukan biopsi untuk menentukan diagnosa polip hidung Data penelitiannya adalah seluruh kasus polip hidung yang dilakukan tindakan biopsi dan pengobatan di RSUP H Adam Malik Medan sejak Desember 2015 sampai jumlah sampel terpenuhi yaitu sebanyak 16 subjek Tabel 41 Karakteristik penderita polip hidung berdasarkan umur dan jenis kelamin Karakteristik Penderita n % Jenis kelamin - Laki-laki 12 75 - Perempuan 4 25 Usia (tahun) < 40 40 4 12 25 75 Penderita dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang (75%), sedangkan perempuan sebanyak 4 orang (25%) Usia terbanyak pada kelompok usia 40 tahun yaitu sebanyak 12 orang (75 %), sedangkan kelompok usia < 40 tahun sebanyak 4 orang (25 %), dengan rerata usia 52,81 ± 15,489 ( mean ± SD) Tabel 42 Distribusi frekuensi penderita polip hidung berdasarkan ekspresi MMP-9 Ekspresi MMP-9 n % Negatif Positif 4 12 25 75 Total 16 100 32

33 Berdasarkan tabel di atas diketahui tampilan skor imunoreaktif MMP-9 pada penderita polip hidung kelompok overekspresi (ekspresi positif) yaitu sebanyak 12 orang (75%) sedangkan kelompok ekspresi negatif yaitu sebanyak 4 orang (25%) Tabel 43 Perbedaan ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate Ekspresi MMP-9 Negatif Positif Sebelum Sesudah p N % n % 4 25 12 75 10 62,5 6 37,5 Total 16 100 16 100 0,027 Berdasarkan tabel di atas diketahui tampilan skor imunoreaktif MMP-9 pada penderita polip hidung sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate adalah kelompok overekspresi (ekspresi positif) yaitu sebanyak 12 orang (75%) sedangkan kelompok ekspresi negatif yaitu sebanyak 4 orang (25%) Namun setelah mendapatkan terapi berubah menjadi kelompok overekspresi (ekspresi positif) yaitu sebanyak 6 orang (37,5%) sedangkan kelompok ekspresi negatif yaitu sebanyak 10 orang (62,5%) Didapatkan perbedaan yang bermakna antara ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate p = 0,027 Tabel 44 Perbedaan ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan stadium Stadium polip hidung I II III Sebelum Sesudah p Negatif Positif Negatif Positif n % n % n % n % 0 0 3 50 1 11 1 100 3 50 8 89 3 75 7 58 0 0 1 25 5 42 0 0 0,511

34 Berdasarkan tabel di atas diketahui stadium klinis pada penderita polip hidung sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan tampilan overekspresi (ekspresi positif) MMP-9 kelompok tertinggi stadium 1 yaitu sebanyak 100% dan diikuti stadium 3 yaitu 89% dan pada stadium 2 yaitu sebanyak 50%, dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate tampilan ekspresi negatif MMP-9 kelompok tertinggi stadium 1 yaitu sebanyak 75% dan di ikuti stadium 2 sebanyak 58% Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna antara perubahan ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan stadium, p = 0,511 Secara klinis terdapat 4 sampel sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 negatif dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 tetap negatif, namun stadium polip hidung menurun Terdapat 2 sampel sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 positif dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 tetap positif, namun stadium polip hidung menurun Terdapat 6 sampel sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 positif dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 negatif, dan stadium polip hidung menurun Terdapat 4 sampel sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 positif dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 tetap positif, dan stadium polip hidung tidak berubah

35 BAB 5 PEMBAHASAN Pengambilan sampel penelitian dari Departemen Patologi Anatomi RSUP H Adam Malik Medan yang kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan immunohistokimia di laboratorium Patologi Anatomi FK USU Penelitian ini dilakukan terhadap 16 penderita polip hidung yang datang berobat ke RSUP H Adam Malik, Medan sejak bulan Desember 2015 sampai jumlah sampel terpenuhi Penderita polip hidung lebih banyak pada laki laki 12 orang (75%) daripada perempuan 4 orang (25%) Kelompok umur 40 tahun lebih banyak menderita polip hidung yaitu 12 orang (75%) dibandingkan kelompok umur < 40 tahun Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian penelitian sebelumnya Munir (2005) melaporkan insiden polip tertinggi pada rentang usia 35 dan 44 tahun dan laki-laki lebih banyak menderita polip hidung (65%) dibandingkan perempuan (35%) Pearlman et al (2010) mendapatkan bahwa insiden polip hidung meningkat seiring dengan meningkatnya usia Hal ini disebabkan karena sistem mekanisme perbaikan DNA yang mengalami mutasi (DNA repair) sudah kurang berfungsi dengan baik dan penurunan daya tahan tubuh pada usia lebih dari 40 tahun Bachert (2011) melaporkan bahwa prevalensi polip hidung cenderung meningkat dengan bertambahnya umur dan hampir dua kali lipat lebih sering pada laki laki dibandingkan wanita, hal ini mungkin disebabkan karena laki laki lebih sering terpapar asap rokok, debu dan bahan bahan kimia lainnya Dewi (2011) di RSUPH Adam Malik Medan melaporkan laki-laki dan perempuan menderita polip hidung pada proporsi yang hampir sama, masing-masing 5,2% dan 48,8% Pada penelitian ini didapatkan ekspresi MMP-9 positif pada polip hidung sebanyak 75% Hal ini sesuai dengan pernyataan Lechapt- Zalcman yang melaporkan peningkatan ekspresi MMP-9 di kelenjar dan 35

36 pembuluh darah polip hidung Kahveci (2008) mendapatkan ekspresi MMP-9 tinggi dan ekspresi TIMP-1 rendah pada polip hidung Watelet et al mendapatkan peningkatan jumlah sel sel inflamatori MMP-9 pada pembentukan pseudokista jaringan polip, ia menyatakan adanya hubungan yang potensial antara MMP-9 gene polymorphism dengan terbentuknya polip MMP-9 telah dibuktikan terdapat dalam polip hidung (Kostamo et al, 2007; Lechapt-Zalcman et al, 2001; Watelet et al, 2004; Bhandari et al, 2004; Chen et al, 2007) Penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa terdapat MMP-9 di polip hidung dan MMP-9 dapat memainkan peran dalam perpindahan sel inflamasi melalui komponen lamina basal, yang menyebabkan akumulasi sel inflamasi dan peradangan pada jalan napas Pawankar et al telah menemukan MMP-9 tinggi dalam jaringan polip hidung Penelitian lain juga menunjukkan peningkatan kadar MMP-9 di polip hidung Namun tidak dijumpai perbedaan yang bermakna secara statistik antara tingkat MMP-9 dari jaringan polip hidung dan jaringan hidung yang sehat Lee et al (2003) mengklaim bahwa ketidakseimbangan rasio MMP-9 / TIMP-1 mempunyai peran terhadap proses inflamasi pada polip hidung Kahveci et al melaporkan bahwa ketidakseimbangan MMP / TIMP dapat menyebabkan pecahnya epitel sehingga protein matriks ekstra seluler memiliki tugas utama terhadap pecahnya epitel Pada penelitian ini, didapatkan tampilan skor imunoreaktif MMP-9 pada penderita polip hidung sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate adalah kelompok overekspresi (ekspresi positif) yaitu sebanyak 12 orang (75%) sedangkan kelompok ekspresi negatif yaitu sebanyak 4 orang (25%) Namun setelah mendapatkan terapi kelompok overekspresi (ekspresi positif) menjadi sebanyak 6 orang (37,5%) sedangkan kelompok ekspresi negatif sebanyak 10 orang (62,5%) Didapatkan hubungan yang bermakna p = 0,027 antara ekspresi MMP-9 sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate dengan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate menjadi menurun Hasil penelitian ini sesuai

37 dengan Callejas, et al (2014) yang meneliti tentang pengaruh kortikosteroid terhadap remodeling mukosa pada rinosinusitis kronis dengan polip hidung mendapatkan bahwa ekspresi MMP-9 secara bermakna menurun (p<0,01) pada minggu ke 2 dan minggu ke 12 dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan terapi budesonide intranasal Namun berbeda dengan cincik et al (2013) perbedaan antara terapi steroid oral, steroid intralesi dan steroid topical intranasal secara statistik tidak bermakna terhadap kadar MMP-9 dan TIMP-1 Pada penelitian cincik et al, level MMP-9 pada grup yang diterapi steroid dan grup yang tidak diterapi serta mukosa hidung sehat, hasilnya tidak ditemukan perbedaan antara grup grup tersebut berdasarkan kadar MMP-9 tidak seperti penelitian penelitian yang lain Mereka menyimpulkan bahwa MMP-9 tidak signifikan terhadap polip hidung Namun ditemukan beberapa perbedaan antara grup berdasarkan rasio MMP-9/TIMP-1 Hoshino et al (1999) Melaporkan bahwa terapi kortikosteroid akan menyebabkan penurunan akumulasi dari kolagen subepithelial pada pasien asma dengan menurunkan MMP-9 dan meningkatkan ekspresi TIMP-1 Pada penelitian lain dengan menggunakan inhalasi budesonide dapat menormalisasi rasio MMP-8/TIMP-1 dengan menurunkan MMP-8 dan meningkatkan TIMP-1 pada pasien asma Pada penelitian ini didapatkan stadium klinis pada penderita polip hidung sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan tampilan overekspresi (ekspresi positif) MMP-9 kelompok tertinggi stadium 1 yaitu sebanyak 100% dan diikuti stadium 3 yaitu 89% dan pada stadium 2 yaitu sebanyak 50%, dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate tampilan ekspresi negatif MMP-9 kelompok tertinggi stadium 1 yaitu sebanyak 75% dan di ikuti stadium 2 sebanyak 58% Polip stadium 1 dan 2 (stadium terbanyak) mengalami penurunan stadium setelah terapi Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna (p =0,51) antara perubahan ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan stadium Namun secara klinis

38 terdapat penurunan stadium polip sebanyak 12 sampel dan hal ini membuktikan bahwa fluticasone furoate berpengaruh terhadap polip hidung Terdapat 4 sampel yang sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate dengan ekspresi negatif dan setelah mendapatkan terapi fluticasone furoate ekspresi MMP-9 tetap negatif, namun stadium polip hidung menurun Perubahan ekspresi MMP-9 terdapat pada 6 sampel dan perubahan stadium terjadi pada 12 sampel, Hal ini disebabkan karena bukan hanya MMP-9 yang mempengaruhi terbentuknya polip hidung Terdapat faktor faktor lain yang berperan dalam terbentuknya polip hidung diantaranya : adanya perubahan struktur epitel, angiogenesis, serta degradasi matriks ekstraseluler yang disebabkan karena rendahnya kadar TGF β Sejumlah mediator inflamasi dan faktor faktor diferensiasi juga merupakan faktor pertumbuhan polip hidung TGF β menginduksi proliferasi dan fibrosis fibroblas IL-8, RANTES, GM-CSF, IgE, IL-1 dan eotaxin mempengaruhi pertumbuhan polip hidung Jaringan polip hidung di infiltrasi oleh sel inflamasi yang teraktivasi yang dihasilkan oleh bermacam macam mediator pro inflamasi termasuk sitokin, leukotrien, histamin dan prostaglandin (Cohen, Efraim, Levi-Schaffer & Eliasha 2011) Naclerio and Mackay (2001) melaporkan bahwa dengan menggunakan kortikosteroid semprot hidung selama 4-6 minggu, efektif mengurangi ukuran polip hidung Pada penelitian ini peneliti menggunakan Fluticasone furoate 110 μg sekali sehari yang diberikan dalam dua kali semprot (27,5 μg/semprot) untuk tiap polip hidung Burgel et al (2004) melaporkan bahwa penggunaan fluticasone semprot hidung efektif meng-inhibisi infiltrasi eosinofil ke dalam polip hidung yang akan mengurangi ukuran polip Fluticasone furoate semprot hidung juga menginduksi apoptosis limfosit Konsentrasi glukokortikoid topikal sangat tinggi di permukaan epitel yang mengakibatkan menurunnya produksi GM-CSF di permukaan epitel Kortikosteroid semprot hidung merupakan terapi polip hidung terbaik meskipun

39 mekanisme kerja dari obat ini belum diketahui secara pasti Kortikosteroid topikal menghambat influk sel-sel inflamasi kedalam jaringan polip Kortikosteroid semprot hidung juga menurunkan jumlah sel plasma dan mengurangi aktivasi sel T

40 BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN 61 Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat diambil simpulan bahwa : 1 Pada penelitian ini, penderita polip hidung di RSUP H Adam Malik, Medan terjadi lebih banyak pada laki laki dibandingkan wanita Kelompok umur 40 tahun lebih banyak menderita polip hidung 2 Pada penelitian ini didapati overekspresi MMP-9 pada polip hidung di RSUP Haji Adam Malik, Medan sebelum mendapatkan terapi fluticasone furoate dan terdapat penurunan yang bermakna terhadap ekspresi MMP-9 pada polip hidung sesudah mendapat terapi fluticasone furoate 3 Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna antara perubahan ekspresi MMP-9 pada polip hidung sebelum dan sesudah mendapatkan terapi fluticasone furoate berdasarkan stadium 62 Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat memahami peran kortikosteroid terhadap ekspresi MMP-9 pada polip hidung dan faktor faktor lain yang mempengaruhi polip hidung sehingga dapat digunakan untuk memberikan terapi yang optimal 42