BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN UMUM

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEWA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 5 HASIL PERANCANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat

BAB I PENDAHULUAN. Agria Tri Noviandisti, 2012 Perencanaan dan Perancangan Segreen Apartment Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.

BAB II: STUDI PUSTAKA DAN STUDI BANDING

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Pemahaman Judul dan Tema

Syarat Bangunan Gedung

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE

Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan sesama mahasiswa. tinggal sementara yang aman dan nyaman. keberlanjutan sumber daya alam.

RENCANA TAPAK. Gambar 5.1 Rencana tapak

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III: DATA DAN ANALISA


BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. Secara umum, arahan yang diberikan dalam rangka perencanaan Apartemen Di

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 1 PENDAHULUAN

KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN BANGUNAN GEDUNG DAN PROTEKSI KEBAKARAN PADA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

DESAIN INTEGRATIF DALAM PERENCANAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Obyek Penelitian

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT D I R E K T O R A T J E N D E R A L C I P T A K A R Y A

DAFTAR ISI. PROYEK AKHIR SARJANA... i. KATA PENGANTAR... ii. DAFTAR GAMBAR... ix. DAFTAR TABEL... xiii PENDAHULUAN Data Ukuran Lahan...

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini

BAB 4 ANALISA DAN BAHASAN

KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN BANGUNAN GEDUNG DAN PROTEKSI KEBAKARAN PADA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN

RUMAH SUSUN SEWA DI KAWASAN INDUSTRI BANDUNG BARAT

PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 02 /PERMEN/M/2009 TENTANG

BAB III METODE PERANCANGAN. dilakukan berbagai metode perancangan yang bersifat analisa yang

BUPATI NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KONDOMINIUM HOTEL ( KONDOTEL) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB III: DATA DAN ANALISA

KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA MINIMAL

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 10 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki


BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. disesuaikan dengan tema bangunan yaitu sebuah fasilitas hunian yang

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman kumuh di kota yang padat penduduk atau dikenal dengan istilah urban

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

No Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkuta

BAB V KONSEP PERANCANGAN. menggunakan dinding yang sifatnya masif.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jenis dan besaran ruang dalam bangunan ini sebagai berikut :

BAB IV ANALISIS DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG LAHAN PERUMAHAN. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada penjabaran analisis berikut :

BAB V KONSEP PERENCANAAN

HANDOUT PERKULIAHAN MATA KULIAH PERANCANGAN PERUMAHAN DOSEN PENGAMPU. PROF. Dr. H. MAMAN HILMAN, MPd, MT.

Pranata Pembangunan Pertemuan 1 Pentingnya Tangga kebakaran. Sahid Mochtar, S.T., MT. Ratna Safitri, S.T., M.Ars.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

BAB V KONSEP PERANCANGAN CENGKARENG OFFICE PARK KONSEP DASAR PERANCANGAN

The Via And The Vué Apartment Surabaya. Dyah Tri S

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 24 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building

BAB I SHARPEN YOUR POINT OF VIEW. Pelaksanaan PA6 ini dimulai dari tema besar arsitektur muka air, Riverfront

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Bab V. PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG. No Kelompok Kegiatan Luas

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK 2.1 Gambaran Umum Proyek Judul Proyek : Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) Tema : Arsitektur Tropis Lokasi : Jl. KH Noer Ali d/h Jl. Kalimalang, Bintara jaya, Bekasi Sifat : Fiktif Pemilik : Perum Perumnas Luas Lahan : 27.000m2 ( 2,7 Ha ) Sasaran : Golongan menengah ke bawah dengan gaji 2 4 juta rupiah 1 Fasilitas : 1. Sarana Olahraga (Badminton/Volley) Plaza ruang terbuka sebagai sarana interaksi 2. Sarana Pendidikan (TK/TPA) 3. Sarana Penunjang Lainnya Parkir, Masjid, Koperasi, kantor RW 2.2 Tinjauan Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik) Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 31 tahun 2007, Rusunami adalah singkatan dari rumah susun sederhana milik yaitu bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan kamar mandi/wc dan dapur baik menyatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunal yang perolehannya melalui kredit kepemilikan rumah bersubsidi atau tidak bersubsidi yang ditujukan pada masyarakat berpenghasilan rendah (menengah bawah). Rusunami merupakan akronim dari Rumah Susun Sederhana Milik. Istilah ini mulai dikenal seiring dengan program pemerintah untuk menyediakan perumahan di kawasan pusat aktivitas 1 Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 7/PERMEN/M/2007 Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 10

masyarakat yang di usung dengan nama proyek 1000 Menara. Istilah lain yang sering diusung oleh para pengembang adalah Apartemen Bersubsidi dan Low Cost Apartment (LCA). Penambahan kata sederhana setelah kata rusun dapat berakibat buruk, sebab bagi masyarakat awam rusun sudah merupakan hunian yang sangat sederhana dan terkadang terkesan kumuh, apalagi jika ditambah kata sederhana. Pada kenyataannya rusunami yang sedang digalakkan pemerintah merupakan sebuah era baru rusun bertingkat tinggi yang secara fisik dari luar hampir mirip dengan apartemen yang kita kenal. 2.2.1 Kriteria Lokasi Apartemen Bersubsidi - Sesuai tata ruang yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Misalnya, jika dalam tata ruang diterangkan sebagai hunian, maka layak dibangun untuk hunian. - Status tanah tidak bermasalah. Kepemilikan jelas yang diperkuat dengan surat, apakah milik sendiri atau sewa. Kalau tanah itu tersedia atas hasil kerja sama, maka harus ada dokumen yang menerangkan tentang kerja sama tersebut. - Proses perancangan mengacu kepada Permen PU Nomor 5 Tahun 2007 mengenai pedoman teknis pembangunan rumah susun sederhana bertingkat tinggi. - Lokasi harus terhubung atau berdekatan dengan fasilitas transportasi massal dan jalan bebas hambatan, seperti stasiun, terminal, dan halte/shelter bus, dan jalan tol. 2.2.2 Regulasi Rumah Susun Ketentuan teknis apartemen bersubsidi sudah ada dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2007. Peraturan tersebut memuat hal ihwal teknis tata bangunan, keandalan bangunan, persyaratan kesehatan gedung, dan kenyamanan bangunan. Bagian struktur menjadi Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 11

prinsip yang baku. Komponen bahannya tidak bisa dikurangi apalagi diganti. Konstruksi bangunan apartemen bersubsidi harus kokoh dan memperhitungkan pengaruh gempa. 1. Peruntukan dan Intensitas Bangunan - Bangunan rusuna bertingkat tinggi yang dibangun harus memenuhi persyaratan kepadatan (Koefisien dasar Bangunan/KDB) dan ketinggian (Jumlah lantai Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan/KLB) bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah daerah yang bersangkutan, rencana tata bangunan yang ditetapkan serta peraturan bangunan setempat - Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi ketentuan garis sempadan bangunan dan jarak bebas antar bangunan gedung dengan ketentuan sebagai berikut: Bangunan rusuna bertingkat tinggi dibangun berbatasan dengan jalan maka tidak boleh melanggar garis sempadan jalan yang ditetapkan Jarak bebas bangunan rusuna bertingkat tinggi terhadap bangunan gedung lainnya minimum 4 m pada lantai dasar, dan setiap penambahan lantai/tingkat bangunan ditambah 0,5 m dari jarak bebas lantai dibawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12,5 m Jarak bebas antara dua bangunan rusuna bertingkat tinggi dalam suatu tapak diatur sebagai berikut : Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan, maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal 2x jarak bebas yang ditetapkan Dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan/atau berlubang maka jarak antara dinding tersebut minimal 1x jarak bebas yang ditetapkan Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 12

Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan maka jarak dinding terluar minimal 0,5x jarak bebas yang ditetapkan Gbr. 1 Jarak bebas antar gedung Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 13

2. Fisik/Penampilan Bangunan Populasi penghuni rusunami bakal lebih banyak dari apartemen biasa. Kalau apartemen biasa hanya dihuni 40 orang perlantai, pada apartemen bersubsidi bisa mencapai 100 orang. Populasi iakan memberi dampak pada bentuk gedung yang akan dibangun. Populasi penghuni juga bakal menentukan layout denah per unit, akses menuju ke lift, dan tangga darurat. Selain itu, ada target mengejar efisiensi luas lantai dan keindahan bangunan agar unit bisa dijual. Akhirnya akan muncul sebuah sosok gedung yang pipih. Unit-unit yang tidak besar dan dipisahkan oleh koridor. Bangunan yang pipih akan rentan mendapat goyangan akibat gempa. Ada beberapa gedung yang memang rentan terhadap gempa, misalnya yang mengambil bentuk menyerupai huruf L atau U. Yang andal mengambil format kotak atau persegi, meskipun tampilannya berderet mirip kereta. Gedung dengan format L, maka ada satu sayap langsing dan satu sayap tidak langsing. Jadi waktu bergerak terjadi pemisahan di pertemuan. Begitu juga sebaliknya. Jadi ada resiko goyang pada pertemuan. Bentuk huruf L atau U tetap aman asalkan perancangan tahan gempa dilakukan secara mendetail. Jika gedung terlanjur menggunakan format tersebut maka perlu ada perkuatan pada bagian sayap yang tidak mendapat kekakuan penuh. Ada persyaratan khusus untuk itu namun lebih mudah membuat kekakuan struktur degan menggunakan dinding beton, yang tentunya menggunakan frame beton bertulang yang mengikat. Dinding beton unuk mengurangi goyangan kalau terjadi gempa. Cara lain adalah dengan sistem dilatasi (pemisahan) dua bangunan persegi, jadi bangunan tersebut tidak menempel dari lantai dasar hingga lantai atas. Namun, sistem ini perlu juga perhitungan khusus sehingga jika terjadi tumbukan tidak merusak bangunan. Dilatasi itu harus utuh dari atas hingga bawah. Core pun harus diam di salah satu, jangan menyatu. Pondasi pun tidak disambung karena kalau gempa bisa hancur. Jarak dilatasi harus dikaji lagi. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 14

Gbr. 2 Contoh bentuk bangunan Rusuna dengan pemisahan struktur 3. Sarana Lingkungan (Fasum dan Fasos) Regulasi pemerintah tentang rumah susun mengatur sejumlah hal tentang fasum dan fasos diantaranya : a. Lantai dasar apartemen ditentukan sebagai ruang untuk fasos, fasum dan ruang komersial b. Luas, sirkulasi, utilitas dan ruang-ruang bersama maksimum 30% dari total luas lantai bangunan c. Pada setiap tiga lantai harus tersedia ruang bersama yang dapat berfungsi sebagai fasilitas sosialisasi antar penghuni d. Setiap bangunan rusuna diwajibkan menyediakan area parkir dengan rasio 1 (satu) lot parkir kendaraan untuk setiap 5 (lima) unit hunian yang dibangun Sarana lingkungan harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan penghuni rusuna seperti perbelanjaan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan, pendidikan dan sarana lain yang dianggap perlu sesuai Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 15

dengan Permen PU No. 60/PRT/1992 dan Kepmen PU No. 324/M/2004 yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel Sarana Lingkungan Rusuna 2 No Jenis Sarana Fungsi Lokasi Jumlah Penduduk Radius Yang Dilayani Layanan 1 Perbelanjaan a. Warung/Kios Kebutuhan ~Menyebar ~ 250 jiwa b. Pertokoan sembako ~ Pusat ~ 2500 jiwa Maks. 300 m c. Pusat Lingkungan ~ 30,000 jiwa atau Perbelanjaan 600 SRS 2 Pendidikan a, Pra Sekolah Kebutuhan ~ Pusat ~ 1000 jiwa b, Sekolah Dasar dasar Lingkungan ~ 1600 jiwa Maks. 300 m c, SLTP ~ 4800 jiwa d. SLTA ~ 4800 jiwa 3 Kesehatan a, Pos Yandu Kebutuhan ~ Pusat Maks. 200 m b, Balai Pengobatan sehari-hari Lingkungan c, Puskesmas dan darurat 4 Peribadatan a, Musholla Kebutuhan ~Menyebar ~ 1 blok Rusun Maks. 300 m b. Mesjid sehari-hari ~ Pusat ~ Lingkungan Lingkungan Rusun 5 Pemerintahan a, Kantor RT/RW ~ Pelayanan ~Menyebar ~ 1 blok Rusun Keluarga ~ Pusat ~ Lingkungan Maks. 300 m b. Kantor Kelurahan ~ Pelayanan Lingkungan Rusun c. Kantor Kecamatan Lingkungan 4. Sarana Darurat Besarnya populasi penghuni berdampak pada masalah kebakaran. Lebar koridor berkisar antara 1,2 1,6 m sehingga memenuhi syarat untuk apartemen bersubsidi dengan populasi banyak. Tambah besar koridor maka tambah nyaman dan akses evakuasi penghuni lebih mudah. 2 Peraturan Menteri PU No. 60/PRT/1992 dan Kepmen PU No. 324/M/2004 Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 16

Selain koridor, jarak unit ke arah tangga kebakaran tidak kurang dari 40 meter. Akan lebih baik jika jaraknya 25 m dengan minimal dua tangga darurat. Ini termuat dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 60/PRT/1992 tentang Persyaratan Teknis Pembangunan Rumah Susun. Dengan begitu, rute evakuasi tidak terlalu jauh untuk ditempuh. Tangga darurat terlindung pada konstruksi yang dapat menahan kebakaran selama dua jam. Pintu darurat hanya dapat didorong ke dalam (satu arah) sehingga dalam keadaan panik, orang yang berlari menuju tangga darurat tak kesulitan. Akses ke luar pun harus menuju ke tempat aman di lantai dasar atau halaman. Tangga yang disyaratkan selebar minimal 120 cm, lebar bordes minimal 120 cm, lebar injakan anak tangga minimal 22,5 cm. Railing (pagar pengaman) minimal 119 cm dan bentuk railing dengan lubang memanjang, jarak antar sisinya tidak lebih dari 10 cm. Peralatan pemadam kebakaran harus tersedia pada gedung. Gedung perlu mempunyai alat peringatan terhadap kebakaran yang berupa sensor panas atau sensor asap. Sensor ini dihubungkan dengan alarm otomatis ke pusat pengendali gedung. Dengan begitu petugas dapat mendeteksi sumber panas. Untuk deteksi dini, gedung tinggi harus dilengkapi sprinkler. Alat ini otomatis akan menyemburkan air bila terkena temperatur yang lebih tinggi dari ambang ruangan. Sprinkler dapat memperlambat penyebaran api. Paling tidak sebelum petugas pemadam kebakaran datang. Hidran yang berada di lantai gedung dapat dioptimalkan untuk meredam sumber api. Air bertekanan tinggi melalui pipa hidran dapat menjangkau sumber kebakaran. Oleh sebab itu, gedung perlu mempunyai cadangan air untuk pemadaman selama 30-60 menit, waktu yang diperkirakan sebelum petugas pemadam datang. Untuk membantu operasional petugas pemadam, bagian luar gedung harus dilengkapi alat penyambung pipa hidran yang disebut sambungan Siam. Ini untuk menghubungkan peralatan mobil pemadam kebakaran dengan instalasi pipa hidran. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 17

Gbr. 3 koridor + 2 tangga darurat dalam 1 bangunan dengan jarak 25 m Gbr. 4 tangga darurat Berikut beberapa gambar prototype Rusuna berdasarkan pengkajian Direktorat Jenderal (DitJen) Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum : Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 18

Gbr. 5 Prototype Tampak & Potongan Rusuna Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 19

Gbr. 6 Prototype Denah lantai Typical Rusuna Gbr. 7 Prototype Tata Ruang Satuan Rumah Susun Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 20

2.3 Studi Banding dengan Fungsi Bangunan yang sama Studi banding diperlukan sebagai perbandingan dan sebagai pembelajaran sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan sebagai dasar dalam merancang rumah susun sederhana milik ini sehingga yang dihasilkan sebuah hasil akhir yang lebih baik. 2.3.1 Rumah Susun Sederhana Cimahi Lokasi : Cimahi Fungsi : Rumah Susun Sederhana Rusuna Cimahi berlokasi di Kampung Putri, Desa Cigugur, Kecamatan Cimahi Tengah merupakan rumah susun sederhana sewa yang dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah pada tahun 2003 dan dikelola oleh Dinas Tata Kota Cimahi. Rusuna ini menghabiskan dana sebesar 12 milyar rupiah yang terdiri dari 4 gedung yang masing-masing gedung berisi 48 unit hunian. Seluruh unit bertype 21 yang diperuntukan untuk keluarga kecil dengan 1 anak atau maksimal 3 orang dewasa yang berjenis kelamin sama. RRr Gbr. 8 Tampak Rusuna Cimahi Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 21

Gbr. 9 Tampak Rusuna Cimahi Konsep yang di usung bangunan ini adalah sebagai rumah sewa sederhana yang sehat. Target utama pasar adalah para pekerja atau buruh pabrik yang bekerja di Cimahi terutama buruh industri. Tata letak bangunan rusuna ini sudah memperhatikan jarak pertukaran udara terhadap pengaruh arah dan kecepatan angin pada ketinggian ruang dan luas bidang yang terbentuk sehingga menjamin sistem penghawaan alami yang cukup bagi setiap ruang dari unit rusuna dan bangunan lainnya. Ketinggian bangunan juga memperhatikan aspek pencahayaan alami yang cukup antara ruang antar unit rusuna dan bangunan lainnya. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 22

Gbr. 10 Fasade Rusuna Cimahi Rusuna berlantai 5 ini dilengkapi dengan listrik 900 watt untuk masingmasing hunian dan fasilitas air bersih dari sumur bor. Disana juga sudah dilengkapi terowongan sampah di tiap-tiap lantai. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 23

Gbr. 11 Area parkir mobil & motor Rusuna Cimahi Area parkir kendaraan disesuaikan dengan jumlah luas lantai bangunan dan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Penataan parkir berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki, memudahkan aksesibilitas dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan.r ArtAAaraeacc Gbr. 12 koridor/selasar Rusuna Cimahi L Lebar selasar memudahkan sirkulasi orang untuk keluar masuk dan menggunakan bahan yang tahan lama, tidak licin dan mudah dibersihkan. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 24

2.3.2 Rusunawa Belawan, Medan Lokasi : Seruway Labuhan Deli Belawan, Medan Fungsi : Rumah Susun Sederhana Sewa Rusunawa dengan keterbatasan dan kesederhanaan menawarkan cara hidup yang lebih bermartabat, dengan harga yang lebih terjangkau pada lokasi yang tetap dekat dengan sumber penghasilan. Untuk itu, Departemen PU membangun 2 twin blok rusunawa Belawan yang ditujukan bagi pekerja industri di sekitar Belawan pada tahun 2005. Gbr. 13 Tampak Depan & Belakang Blok A Rusuna Medan Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 25

Gbr. 14 Tampak Samping Blok A Rusuna Medan Bentuk massa bangunan rusuna ini dikembangkan berdasarkan bentuk single loaded corridor dimana koridor menghubungkan unit rusuna pada salah satu sisi saja. Dan pada bagian ujung koridor terdapat tangga darurat yang berfungsi sebagai sarana transportasi vertikal dan dalam keadaan darurat, dapat digunakan sebagai sarana evakuasi. Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 26

Gbr. 16 Tampak Samping Blok B Rusuna Medan Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 27

Kesimpulan dari study literatur keseluruhan diatas adalah : bagaimana pengolahan ruang dengan kebutuhan ruang yang beragam menjadi satu kesatuan yang harmonis, dengan pengolahan alur sirkulasi sesuai dengan kebutuhan serta faktor lain sebagai pendukung. Bentuk massa bangunan yang sederhana dapat memberikan banyak kesan apabila kita olah melalui pengolahan garis, bidang dan ruang. Tipologi bentuk massa bangunan rusuna dikembangkan dari tiga bentuk dasar yaitu core, single loaded corridor, dan double loaded corridor (gbr. 17) Gbr. 17 Tipologi bentuk massa bangunan Rusuna Muhammad 4120411-046/Skripsi Angkatan - 55/2008 28