ANGKLUNG TIRTHANIN TAMBLINGAN DI DESA PAKRAMAN SELAT KECAMATAN SUKASADA KABUPATEN BULELENG

dokumen-dokumen yang mirip
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA PADA SEKAA TARUNA PAGAR WAHANA DI DESA ADAT PELAGA KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Bali secara umum memiliki peran di dalam keberlangsungan

SENI BUDAYA BALI. Tradisi Omed Omedan Banjar Kaja Sesetan Bali. Oleh (Kelompok 3) :

TRADISI NYAKAN DI RURUNG DALAM PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI DESA PAKRAMAN BENGKEL KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Kajian Teologi Hindu)

OLEH : I NENGAH KADI NIM Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Pembimbing I

KEMAMPUAN MENGGUNAKAN BAHASA BALI DALAM SIKAP BAHASA SISWA KELAS XI BAHASA 1 SMA NEGERI 2 GEROKGAK

PROFIL DESA PAKRAMAN BULIAN. Oleh: I Wayan Rai, dkk Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab pertama ini akan diuraikan secara berturut-turut : (1) latar

1) Nilai Religius. Nilai Nilai Gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan. Kiriman I Ketut Partha, SSKar., M. Si., dosen PS Seni Karawitan

LAPORAN HIBAH PENELITIAN KETEKNIKSIPILAN

DAMPAK KEGIATAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT EUTROFIKASI DAN JENIS JENIS FITOPLANKTON DI DANAU BUYAN KABUPATEN BULELENG PROVINSI BALI

UPACARA NGADEGANG NINI DI SUBAK PENDEM KECAMATAN JEMBRANA KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Nilai Pendidikan Agama Hindu)

RITUAL MEKRAB DALAM PEMUJAAN BARONG LANDUNG DI PURA DESA BANJAR PACUNG KELURAHAN BITERA KECAMATAN GIANYAR

NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PENEMPATAN PATUNG GANESHA DI DESA MANISTUTU KECAMATAN MELAYA KABUPATEN JEMBRANA

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. tengah berbagai perubahan, lebih jauh lagi mampu menjadikan dirinya secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa

JURNAL PENELITIAN AGAMA HINDU 68

PERGESERAN MAKNA SENI TARI PRAJURITAN DESA TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO

BAB IV ANALISIS DATA. A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan

Lembar Pengesahan TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 28 DESEMBER 2016 NIP NIP

BAB 1 PENDAHULUAN. Konstruksi identitas jender, Putu Wisudantari Parthami, 1 FPsi UI, Universitas Indonesia

Oleh I Gusti Ayu Sri Utami Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA

BAB V KESIMPULAN. Penelitian lapangan ini mengkaji tiga permasalahan pokok. tentang bunyi-bunyian pancagita yang disajikan dalam upacara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang luas, besar, dan memiliki keanekaragaman

BAB 1 PENDAHULUAN. Bali memiliki daya tarik yang kuat dalam dunia pariwisata, baik dinikmati

BAB I PENDAHULUAN. hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu. Hal ini didukung oleh penjelasan Ghazali (2011:63) bahwa dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Manusia terlahir dibumi telah memiliki penyesuaian terhadap lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi

TATA CARA PERHITUNGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS JASA BIRO PERJALANAN WISATA DAN/ JASA AGEN PERJALANAN WISATA PADA PT.

Kreativitas Busana Pengantin Agung Ningrat Buleleng Modifikasi

PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS DESA ADAT DI DESA PENGLIPURAN KABUPATEN BANGLI

PEMANFAATAN LAYANAN REFERENSI DI UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2015

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO

Eksistensi Kulkul Sebagai Media Komunikasi Tradisional

EKSISTENSI PURA TELEDU NGINYAH PADA ERA POSMODERN DI DESA GUMBRIH KECAMATAN PEKUTATAN KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA

Skripsi ini telah diuji oleh tim penguji dan disetujui oleh Pembimbing, serta diuji pada tanggal : 06 Juli 2017

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan

KODE ETIK DOSEN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

DESKRIPSI DUKUH SILADRI. Dipentaskan pada Festival Seni Tradisional Daerah se- MPU di Mataram, Nusa Tenggara Barat 1 Agustus 2010

PATULANGAN BAWI SRENGGI DALAM PROSESI NGABEN WARGA TUTUAN DI DESA GUNAKSA, KABUPATEN KLUNGKUNG (Kajian Estetika Hindu)

BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga

UPACARA NGEREBEG DI PURA DUUR BINGIN DESA TEGALLALANG, KECAMATAN TEGALLALANG KABUPATEN GIANYAR (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

PEMBELAJARAN NILAI MELALUI GENDER WAYANG DI SANGGAR GENTA MAS CITA, PANJER, DENPASAR SELATAN

GEGURITAN SUMAGUNA ANALISIS STRUKTUR DAN NILAI OLEH PUTU WIRA SETYABUDI NIM

PENILAIAN EFEKTIVITAS FUNGSI INTERNAL AUDITOR MENUJU AKUISISI PADA PT. BANK SINAR HARAPAN BALI. Oleh: NI PUTU DEWI SATRIANI

SEKAPUR SIRIH. - Ciptakan kemitraan strategis dengan berbagai stakeholders untuk membangun kekuatan sebagai agent of change.

STUDI KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHA DAGANG BAJU (STUDI KASUS PEDAGANG BAJU BALI MENETAP DAN SEMI MENETAP DI DAERAH KUTA)

ARTIKEL KARYA SENI KAJIAN ESTETIS DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM TARI TELEK DI DESA JUMPAI KABUPATEN KLUNGKUNG

PEMBENTUKAN PORTOFOLIO OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MARKOWITZ PADA SAHAM INDEKS IDX30 DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI. Oleh :

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak merupakan dambaan setiap orang, yang kehadirannya sangat dinanti-natikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I Ketut Sudarsana. > Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Menerapkan Ajaran-Ajaran Tri Kaya Parisudha Dalam Kehidupan Sehari-Hari

PENDEKATAN METODE KONVENSIONAL DAN METODE ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN TARIF SEWA KAMAR PADA HOTEL KUTA PURI BUNGALOWS DI KUTA

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-32, 12 Juni 2010 Sabtu, 12 Juni 2010

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan

PENGARUH KUNJUNGAN WISATAWAN, INFLASI DAN KURS DOLLAR AMERIKA SERIKAT TERHADAP NILAI EKSPOR KERAJINAN BAMBU PROVINSI BALI SKRIPSI

PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN JASA AGENSI PT

Tari Pendet Bali Pergeseran Tarian Sakral Menjadi Tarian Balih-Balihan

Pemodelan Sistem Informasi Gamelan Bali Menggunakan Tree Diagram

DAFTAR PUSTAKA. Agus, Bustanuddin, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama.Jakarta : Raja Grafindo Persada.2007.

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN (Studi kasus pada PT. Stone Kraft-Bali)

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BHAKTI ANAK TERHADAP ORANG TUA (MENURUT AJARAN AGAMA HINDU) Oleh Heny Perbowosari Dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP DISIPLIN KERJA PEGAWAI DI DINAS BALAI BAHASA PROVINSI BALI SKRIPSI. Oleh : KADEK YUDI PRAWIRA JAYA

PEMANFAATAN POTENSI WARISAN BUDAYA PURA MEDUWE KARANG DI DESA KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG SEBAGAI TEMPAT TUJUAN PARIWISATA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH KOMPENSASI, LINGKUNGAN KERJA DAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT

BAB I PENDAHULUAN. berkunjung dan menikmati keindahan yang ada di Indonesia khususnya dalam

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM SEBAGAI PENDEKATAN ALTERNATIF (STUDI KASUS PADA CV. BENTALA BALI DENPASAR)

I GUSTI AYU DEWI SUSTIARI NIM:

MOTIVASI INDIVIDU BERGABUNG DALAM KOMUNITAS PENGGEMAR TIM SEPAKBOLA (STUDI KASUS: LIMA ANGGOTA FANSCLUB UNITED INDONESIA CHAPTER BALI)

PERANG TOPAT 2015 KABUPATEN LOMBOK BARAT Taman Pura & Kemaliq Lingsar Kamis, 26 November 2015

BAB III PENUTUP. diciptakannya. Pencapaian sebuah kesuksesan dalam proses berkarya

BENTUK DAN FUNGSI KESENIAN OJROT-OJROT DI DESA KARANGDUWUR KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penguatan Materi dan Pembelajarannya Bagi Guru-guru SD di Gugus II Kec. Sukasada

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Widdy Kusdinasary, 2013

PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT PENSIUNAN PADA PT. BANK BPD BALI KANTOR CABANG UBUD

PENGARUH PERTUMBUHAN TABUNGAN HARI TUA TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH BALI KANTOR CABANG RENON

27. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD

Aplikasi Mobile Pembelajaran Hari Suci Tumpek Landep Berbasis Android

Sambutan Presiden RI pada Peresmian Pesta Kesenian Bali ke-35, Denpasar, 15 Juni 2013 Sabtu, 15 Juni 2013

1. PENDAHULUAN. berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA

SKRIPSI MILIK ATAS TANAH TANPA AKTA PPAT DI KECAMATAN SUKASADA KABUPATEN BULELENG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa,

Transkripsi:

SKRIPSI ANGKLUNG TIRTHANIN TAMBLINGAN DI DESA PAKRAMAN SELAT KECAMATAN SUKASADA KABUPATEN BULELENG (Kajian Bentuk, Fungsi Dan Makna) OLEH I WAYAN WIDYA DHARMAYASA NIM. 09. 1.4.4.1. 0240 E-Mail : widyadharma2261@yahoo.co.id JURUSAN FILSAFAT TIMUR FAKULTAS BRAHMA WIDYA INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR 2013 Pembimbing I Dra. Ni Made Sokaningsih, M. Ag. Pembimbing II Ni Gusti Ayu Agung Nerawati, S. Ag., M. Si.

ABSTRAK Angklung Tirthanin Tamblingan adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang. Nama Tirthanin Tamblingan berarti air suci yang berasal dari Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan, yang berlokasi di pinggir Danau Tamblingan. jumlah peralatan tabuh secara keseluruhan sebanyak 23 buah, dengan 14 jenis peralatan tabuh yang berbeda. I. PENDAHULUAN Masyarakat Hindu selalu menjunjung tinggi konsep Tri Hita Karana, sebagai landasan dalam berperilaku sehari-hari. Selain taat terhadap semua ajaran agama serta sujud dan bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (prahyangan), juga selalu berusaha menjalin kekerabatan yang harmonis dengan sesamanya ( pawongan), serta tidak terlupakan pula lingkungan sekitar (palemahan) yang kadang bisa menggangu ketentraman apabila melalaikannya. Dari sudut pandang ritual keagamaan, secara tidak langsung nilai Estetika telah berpadu di dalamnya, misalnya berbagai kreasi yang memiliki berbagai versi antara wilayah satu dengan lainnya melalui sarana-sarana/banten di dalam melaksanakan ritual, yang juga memerlukan keterampilan khusus dalam pembuatannya. Begitu juga iringan-iringan tetabuhan yang seantiasa menambah semarak dan meriahnya ritual Agama Hindu, diantaranya adalah iringan Bleganjur, Bonangan, Gender, Angklung, dan yang lainya. Mengingat akan keberadaan Angklung Tirthanin Tamblingan, di Desa Pakraman Selat, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, yang memiliki ciri khas tersendiri serta keunikan yang tidak dimiliki oleh kesenian lainnya, melatar belakangi penelitian ini. Seiring dengan kemajuan zaman dan berkembangnya teknologi saat ini kesenian-kesenian daerah sudah selayaknya untuk dilestarikan dan dikembangkan, agar tidak terkikis oleh perubahan. Bagaimanapun juga kesenian daerah merupakan warisan dari petua-petua terdahulu yang menjadi ciri khas tersendiri bagi daerah tersebut. Perubahan memang sangat diperlukan, tetapi jangan sampai perubahan itu menghilangkan keaslian dari warisan para petua kita, sebab warisan adalah sesuatu yang langka bagi daerah yang memilikinya dan kelangkaan itu tidak lain merupakan modal utama untuk bersaing dengan daerah yang lain di dalam menunjukkan keunikannya. II. METODE Secara sistematis dat akan diuraikan dengan argumentasi dan narasi, serta disajikan dengan pendekatan kualitatif. Selain itu data kuantitatif juga digunakan sebagai tambahan yang akan memperjelas dan mempermudah dalam pemahaman hasil penelitian, yang akan disajikan ke dalam bentuk tabel sesuai dengan jenis dan sumber data, yang dituangkan dalam bentuk tabel serta narasi yang lain. III. HASIL PENELITIAN 3.1 Bentuk Angklung Tirthanin Tamblingan Di Desa Pakraman Selat, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Bentuk Angklung Tirthanin Tamblingan di Desa Pakraman Selat, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, memiliki sejarah tersendiri yang

mendasari terbentuknya Sekeha Angklung ini. Berawal dari gagasan seorang Jro Mangku Desa agar Desa Pakraman Selat membentuk suatu Sekeha Tabuh, mengingat pentingnya iringan tetabuhan disaat ada upacara-upacara keagamaan. Gagasan ini dirembugkan melalui rapat desa dan masyarakat Desa Pakraman Selat sangat mendukung gagasan tersebut. Akhirnya masyarakat Desa Pakraman Selat sepakat untuk membentuk Sekeha Angklung dengan nama Tirthanin Tamblingan, yang berarti air suci dari Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan. Dalam waktu dekat masyarakat Desa Pakraman Selat segera melaksanakan Upacara Piuning ke Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan, dengan tujuan memohon restu dari Ida Bhatara yang melinggih disana agar kelak Angklung Tirthanin Tamblingan dapat bermanfaat bagi Desa Pakraman Selat. Pada tanggal 5 Mei 1985 Desa Pakraman Selat berhasil mendirikan Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan sekaligus meresmikannya dengan Upacara Pemelaspasan. Bagianbagian peralatan tabuh berjumlah 23 buah dengan 14 jenis peralatan tabuh yang berbeda, serta jumlah personilnya sebanyak 23 orang. Angklung Tirthanin Tamblingan memiliki keunikan yang sangat khas, yaitu wajib melaksanakan Piuning ke Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan oleh seluruh anggota Sekeha Angklung dan wajib menghaturkan Tipat Gong pada masing-masing peralatan tabuh sebelum mempergunakannya. 3.2 Fungsi Angklung Tirthanin Tamblingan di Desa Pakraman Selat, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng 3.2.1 Fungsi Keagamaan Dalam bidang keagamaan Angklung Tirthanin Tamblingan memberikan peranan yang sangat besar, khususnya bagi Desa Pakraman Selat. Salah satu peranan besar yang diberikan kepada Desa Pakraman Selat yaitu pada saat ada upacara keagamaan yang berkaitan dengan desa, Angklung Tirthanin Tamblingan selalu berperan serta mengiringi jalannya upacara tersebut, misalnya pada saat ada Odalan atau Karya Nyejer di Desa Pakraman Selat. Dulu sebelum berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan upacara besar tersebut serasa kurang meriah dan kurang menjiwai tanpa adanya suara tetabuhan yang mengiringinya. Namun semenjak Angklung ini berdiri semua upacara yang berkaitan dengan desa berjalan lebih meriah. Dengan iringan suara tabuh masyarakat Desa Pakraman Selat lebih bersemangat dan antusias dalam melaksanakan upacara-upacara di desa. Suara tabuh yang sangat menghibur dan mengundang masyarakat untuk datang turut serta Ngayah ke Pura, sehingga upacara lebih bermakna karena semua masyarakat ikut berpartisipasi dalam upacara tersebut. Angklung Tirthanin Tamblingan dapat menarik perhatian masyarakat Desa Pakraman Selat, dari sedikit masyarakat yang mau berpartisipasi pada saat ada kegiatan-kegiatan di desa, sekarang sudah berbeda dari dulu, masyarakat lebih aktif dan lebih banyak yang datang pada saat Ngayah. Perubahan ke arah yang positif sudah terlihat semenjak berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan sampai sekarang. Angklung mulai ditabuh sejak pagi pada saat akan melaksanakan suatu upacara sampai selesai, biasanya setiap ada Odalan di desa upacara berlangsung dari pagi sampai tengah malam dan keesokan harinya baru dilaksanakan Pemaridan atau Ngelungsur. Begitu pula pada kegiatan-kegiatan lainnya Angklung selalu dipergunakan untuk

mengiringinya. Satu kali iringan berdurasi kurang lebih 25 menit dan diselingi istirahat oleh para penabuh yang kemudian dilanjutkan kembali. Di sisi lain Angklung Tirthanin Tamblingan juga boleh dipergunakan oleh Dadia atau Tunggalan yang sedang melaksanakan upacara di Dadianya masingmasing, misalnya Ngaben atau kegiatan keagamaan lainnya, dengan sarin peras Rp 600.000 perhari. Begitu pula bagi masyarakat Desa Pakraman Selat jika memiliki suatu upacara di rumah atau di keluarganya masing-masing juga diperbolehkan menyewa Angklung ini, dengan tarif sewa yang lebih murah yaitu Rp 400.000 perhari. Demikianlah fungsi Angklung Tirthanin Tamblingan dalam bidang keagamaan. 3.2.2 Fungsi Sosial Kemasyarakatan Dalam bidang sosial kemasyarakatan Angklung Tirthanin Tamblingan juga memberikan peranan yang sama besar. Dengan berdirinya Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan dapat mempererat hubungan sosial kemasyarakatan di Desa Pakraman Selat. Hubungan kekeluargaan antara anggota masyarakat semakin dekat, karena pada setiap ada latihan menabuh mereka selalu berkumpul untuk berlatih bersama dan saling mengisi satu sama lain. Komunikasi yang dulu hanya berlangsung pada setiap ada kegiatan di desa saja kini sudah berubah, khususnya bagi anggota Sekeha Angklung mereka hampir setiap minggu dapat berkumpul pada saat latihan meski mereka berlainan daerah, sehingga rasa persatuan dan kekeluargaan mereka semakin kuat melalui perkumpulan dalam organisasi Angklung Tirthanin Tamblingan. Dulu masyarakat Desa Pakraman Selat lebih banyak beraktivitas hanya pada satu kegiatan saja, namun sejak berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan masyarakat sudah mulai dapat belajar berorganisasi ke hal yang lebih luas yang menjadi bagian dari desa. Melalui perkumpulan yang sering mereka lakukan ini menambah hidup Desa Pakraman Selat, karena setiap minggu selalu terdengar suara tetabuhan dari anggota Sekeha Angklung yang sedang berlatih. Tidak hanya anggota Sekeha Angklung saja, tetapi masyarakat yang dekat dengan Pura Desa juga sering datang untuk menyaksikan mereka berlatih, yang berlokasi di Jabaan Pura Desa. Angklung Tirthanin Tamblingan juga mampu menyadarkan masyarakat Desa Pakraman Selat terhadap pentingnya kebersamaan, dengan berdirinya Sekeha Angklung ini masyarakat sudah mulai belajar untuk menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan sosial. Terbukti ketika ada Odalan di Pura Desa masyarakat lebih aktif dan lebih banyak yang berpartisipasi. Begitu pula pada generasi muda sudah mulai dituntut untuk belajar berorganisasi, karena sejak tahun 2006 sudah diumumkan kepada generasi muda yang memiliki bakat dalam seni tabuh atau yang berminat menjadi anggota Sekeha Angklung, diperbolehkan untuk ikut berlatih. Dengan syarat mereka harus benar-benar serius karena selain mereka akan di Piuningkan ke Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan, mereka juga akan menjadi penerus dari Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan. Demikianlah fungsi sosial kemasyarakatn dari Angklung Tirthanin Tamblingan yang semakin mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat Desa Pakraman Selat.

3.2.3 Fungsi Pelestarian Budaya Kebudayaan Angklung merupakan salah satu budaya yang berkembang didaerah-daerah khususnya di Indonesia. Bahkan ketika Angklung Tirthanin Tamblingan belum berdiri, kebudayaan angklung sudah menyebar luas di Wilayah Kepulauan Indonesia. Kesenian angklung adalah warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan menjadi modal untuk bersaing dengan Negara-negara lain. Dibeberapa daerah di Indonesia terdapat kebudayaan ini dengan berbagai versi dan instrument yang berbeda-beda, serta dengan berbagai keunikan dan fungsi yang berbeda-beda pula, yang menjadi ciri khas yang membedakannya dengan budaya angklung di daerah lain, namun tetap dalam satu lingkup kebudayaan Indonesia, maka dari itu kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepantasnya menjaga kelestarian dan keberadaan budaya ini, karena tidak semua Negara memiliki kebudayaan ini. Dengan berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan sudah pasti akan semakin memperkuat keberadaan Angklung di Indonesia, karena dengan bertambahnya popularitas maka kebudayaan ini akan saling mendukung satu sama lainnya, sehingga kebudayaan Angklung akan tetap eksis dan berlanjut turun-temurun ke generasi berikutnya. Dengan berbagai kebudayaan yang berkembang di Indonesia akan menjadi daya tarik untuk dapat membangun generasi muda yang jauh lebih baik, serta generasi muda yang mengerti tentang perbedaan dan keberagaman sebagai warga Negara Indonesia. Selain dapat menjaga kelestarian angklung di Indonesia, Angklung Tirthanin Tamblingan juga turut melestarikan budaya-budaya di Bali yang tergolong sakral bagi masyarakat Bali. Salah satu di antaranya adalah Budaya Ngaben. Budaya Ngaben sangat terkenal di Bali dan menjadi sorotan bagi wisatawan-wisatawan mancanegara. Seiring dengan terkenalnya budaya tersebut, kebudayaan angklung pun akan semakin eksis menjadi kebudayaan yang tergolong sakral di Bali, karena sejalan dengan fungsinya yang sangat berkaitan dengan Upacara Ngaben, sehingga dua kebudayaan ini akan sangat saling mendukung dan menjadikan keduanya tetap ajeg dan lestari di Pulau Dewata Bali. Khusus bagi Desa Pakraman Selat dengan berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan diharapkan dapat meningkatkan semangat persatuan masyarakat Desa Pakraman Selat, dalam menjaga kelestarian budaya di Desa Pakraman Selat. Karya Nyejer adalah salah satu kebudayaan yang berbau ritual keagamaan yang ada di Desa Pakraman Selat, yang sudah menjadi kebudayaan turun-temurun dari dulu. Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan global, jangan sampai mengikis budaya-budaya setempat yang menjadi warisan sejak dahulu. Begitupula dengan Karya Nyejer di Desa Pakraman Selat serta Angklung Tirthanin Tamblingan yang sangat mendukung dalam pelaksanaan budaya tersebut, sehingga budaya-budaya khususnya yang ada di Desa Pakraman Selat dapat tetap lestari sepanjang masa. Demikianlah fungsi pelestarian budaya yang diberikan oleh Angklung Tirthanin Tamblingan. 3.3 Makna Angklung Tirthanin Tamblingan di Desa Pakraman Selat, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng 3.3.1 Makna Filosofis Angklung Tirthanin Tamblingan merupakan salah satu kebudayaan Hindu di Bali yang memiliki suatu keunikan yang tidak dimiliki oleh kebudayaan yang

lainnya, dan tergolong kebudayaan yang cukup tua. Dari sudut pandang filsafat, Angklung Tirthanin Tamblingan memiliki unsur-unsur metafisika yang sangat kuat melekat di dalamnya, yang paling terlihat adalah adanya unsur keyakinan yang tergolong primitif, karena hanya melibatkan keyakinan masyarakat Desa Pakraman Selat saja. Beberapa keyakinan yang sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Pakraman Selat adalah wajib melaksanakan Piuning ke Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan, dan wajib menghaturkan Tipat Gong pada masing-masing peralatan tabuh sebelum mempergunakannya. Keyakinankeyakinan seperti ini memang sulit ditemui di masa sekarang ini, namun apabila dikaji secara bijak dan mendalam keyakinan ini harus dipercayai keberadaannya, karena sudah terbukti semenjak awal berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan pada tahun 1985 sampai saat ini, Angklung Tirthanin Tamblingan selalu memberikan peranan positif bagi masyarakat Desa Pakraman Selat. Di sisi lain dengan berdirinya Sekeha Angklung ini dapat menjalin hubungan kekerabatan yang lebih dekat antara masyarakat yang berlainan wilayah. Dalam sudut pandang filsafat, secara filosofis dapat dipetik suatu pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat Desa Pakraman Selat, yaitu pelajaran yang mendasarkan keyakinan sebagai dasar untuk melangkah ke depan. Dalam Bhagawadgita IX. 3 dinyatakan sebagai berikut : Asraddhadhanah purusa dharmasyasya paramtapa aprapya mam nivartante mrtyusamsaravartmani Artinya : Mereka yang tidak mempunyai kepercayaan atau keyakinan terhadap jalan yang ditempuh tidak akan mencapai Aku, dan akan kembali kepada jalan kehidupan jasmani yang mengenai kehancuran (Mantra, 1970 : 142). Dari sloka di atas dapat dipetik suatu pelajaran yang menekankan agar menjauhkan rasa ragu dari dalam diri, karena keragu-raguan hanya akan mendatangkan kerugian. Dengan suatu keyakinan yang kuat akan menambah rasa percaya diri yang nantinya akan mendatangkan suatu kesuksesan bagi masyarakat Desa Pakraman Selat. Tingkatkan rasa keyakinan di dalam diri, baik kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan kepada diri sendiri, karena itu adalah modal utama untuk melangkah ke depan. Keyakinan yang kuat akan dapat memacu diri serta memfokuskan pikiran terhadap sesuatu yang dilaksanakan. Angklung Tirthanin Tamblingan dapat berdiri atas dasar keyakinan dari masyarakat Desa Pakraman Selat, mereka meyakini dengan usaha dan memohon restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan dapat mendirikan suatu Sekeha Angklung. Begitu pula pada diri pribadi warga masyarakat Desa Pakraman Selat, dengan keyakinan bahwa akan mampu melaksanakan dan menyelesaikan tugas, bahkan suatu hal yang sangat rumit, maka sudah pasti akan mendapatkan suatu hasil yang maksimal serta memuaskan. Demikianlah makna filosofis yang patut ditanamkan pada diri warga masyarakat Desa Pakraman Selat. 3.3.2 Makna Ke-Tuhanan Makna ke-tuhanan yang dapat diambil dari Angklung Tirthanin Tamblingan adalah mengajarkan kepada warga masyarakat Desa Pakraman Selat untuk selalu mengutamakan Sang Pencipta/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, selalu ingat kepada Beliau baik dalam keadaan susah maupun senang. Selalu ingat berdoa dan memohon restu kepada Beliau setiap sebelum melaksanakan suatu

aktivitas, karena atas Wara Nugraha Beliaulah semua kegiatan akan mendapatkan kelancaran dan keberhasilan. Begitu pula yang biasa dilakukan oleh anggota Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan yang selalu memohon anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebelum mereka melaksanakan aktivitasnya. Semua itu terlihat dari kegiatan yang mereka lakukan pada setiap sebelum mempergunakan peralatan tabuh, yaitu mereka selalu melaksanakan Piuning di Pura Desa dan di Pura Puncak Ulun Danu Tamblingan, yang tidak lain tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan kelancaran bagi semua anggota. Menghaturkan Tipat Gong pada masing-masing peralatan tabuh sebelum mempergunakannya adalah sebagai wujud penghormatan kepada Sang Hyang Pasupati, yang sudah memberikan Wara Nugraha melalui peralatan tabuh yang selalu memberikan suara yang indah. Semua kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat Desa Pakraman Selat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sangat kuat melekat di hati mereka masing-masing. Mereka menyadari bahwa keberhasilan mereka dalam mendirikan Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan adalah berkat Wara Nugraha Ida Sang Hyang Wasa. Hal seperti itu sudah sepantasnya untuk dicermati dan menjadikannya pelajaran hidup, karena dengan selalu ingat kepada Beliau merupakan salah satu wujud rasa syukur yang dapat ditunjukkan atas semua karunia yang diberikan-nya. Jangan sampai melupakan Beliau disaat senang, karena rasa senang dan penderitaan adalah dua hal yang akan selalu mengiringi kehidupan ini. Dalam Bhagawadgita VI. 6 dinyatakan sebagai berikut : Etadyonini bhutani sarvani ti upadharaya aham krtsnasya jagatah prabhavah pralayas tatha Artinya : Ketahuilah bahwa semua makhluk ini asal kelahirannya di dalam alam-ku ini. Aku adalah asal mula dari dunia ini dan juga kehancurannya/pralaya (Mantra, 1970 : 116). Segala yang ada di dunia ini berasal dari-nya dan suatu saat akan kembali lagi kepada-nya, maka dari itu ingatlah selalu kepada Beliau, karena dengan selalu ingat kepada Beliau sama halnya ingat kepada diri sendiri, sehingga khususnya masyarakat pribadi Desa Pakraman Selat dapat berjalan kearah yang benar yang mengarah pada tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan. Demikianlah makna ke-tuhanan dari Angklung Tirthanin Tamblingan yang dapat dijadikan landasan untuk melangkah ke arah yang lebih baik. IV. SIMPULAN Fungsi Angklung Tirthanin Tamblingan melingkupi fungsi keagamaan, yakni sebagai pengiring pada saat ada upacara atau kegiatan di desa. Angklung Tirthanin Tamblingan juga boleh disewa oleh Dadia atau masyarakat pribadi yang memiliki upacara keagamaan tersendiri. Fungsi sosial kemasyarakatan yakni Sekeha Angklung dapat mempererat hubungan kekerabatan masyarakat Desa Pakraman Selat. Fungsi pelestarian budaya, dengan berdirinya Angklung Tirthanin Tamblingan turut melestarikan budaya daerah yang menjadi bagian Indonesia, khususnya kesenian angklung, karena semakin banyak popularitas angklung maka akan semakin memperkuat keberadaan angklung di Indonesia. Makna Angklung Tirthanin Tamblingan melingkupi makna filosofis yang mengajarkan kepada masyarakat untuk dapat berpikir lebih bijak dan tidak

merendahkan keyakinan-keyakinan masyarakat yang bersifat primitif. Makna ke- Tuhanan yang menekankan kepada masyarakat untuk selalu ingat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, baik dalam keadaan susah maupun senang, karena semua yang dinikmati dan semua aktivitas dapat berjalan sampai saat ini, itu semua atas Wara Nugraha dari Beliau. V. SARAN Bagi masyarakat Desa Pakraman Selat agar terus mengembangkan Kesenian Angklung tersebut dan mewariskannya kepada generasi muda dengan melatih serta mengajarkan tata cara menabuh yang benar, sehingga Sekeha Angklung Tirthanin Tamblingan tetap lestari ke generasi berikutnya. Bagi generasi muda agar turut menjaga setiap kebudayaan yang ada di daerahnya masing-masing. Kebudayaan daerah mupun kesenian daerah merupakan warisan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain, maka dari itu sebagai generasi muda wajib menjadi pelopor dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut, karena kebudayaan merupakan bagian utama dari kehidupan ini yang dapat dijadikan panutan untuk berjalan kearah yang lebih baik. Kepada Pemerintah (Dinas Kebudayaan) agar lebih memperhatikan kebudayaan daerah setempat yang keberadaannya sudah mulai berkurang dengan mendirikan suatu sanggar-sanggar seni, misalnya seni tabuh, seni drama, seni pewayangan serta kesenian lainnya. VI. UCAPAN TERIMAKASIH Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan, petunjuk dan bantuan dari berbagai pihak. Berkenaan dengan hal itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D., ( Rektor IHDN Denpasar) yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan pendidikan di IHDN Denpasar. 2. Dr. Drs. I Made Suweta, M. Si., (Dekan Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam menempuh studi di Fakultas Brahma Widya, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. 3. Dra.Ni Wayan Sumertini, M.Ag., (Ketua Jurusan Filsafat Timur IHDN Denpasar) beserta jajarannya yang bersedia memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 4. Dra. Ni Made Sokaningsih, M. Ag., (Pembimbing I) yang telah banyak memberikan koreksi yang sangat konstruktif sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. 5. Ni Gusti Ayu Agung Nerawati, S. Ag., M. Si., (Pembimbing II) yang memberikan penajaman pada penelitian ini. 6. Drs. I Gede Rudia Adiputra, M. Ag., (Penguji I) yang memberikan penajaman, kritik dan saran demi perbaikan penelitian ini. 7. Drs. I Made Girinata, M. Ag., (Penguji II) yang memberikan penajaman, kritik dan saran demi perbaikan penelitian ini. 8. I Gusti Putu Gede Widiana, S. Fil., M. A., (Penguji III) yang memberikan penajaman, kritik dan saran demi perbaikan penelitian ini.

9. Para informan yang telah banyak membantu penulis dalam memberikan informasi-informasi yang sangat mendukung dalam penyusunan skripsi ini. VII. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Ashshofa, Burhan. 2004. Metode Penelitian Hukum. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Jalaluddin, Prof. Dr. H. 2010. Seni Gamelan Nusantara. Jakarta : PT Rajeg Grafindo Persada. Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Budaya. Landung Simatupang (terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi 1. Jakarta : Rineka Cipta.. 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia. Mantra, I B. 1970. Bhagawadgita. Denpasar : Pemda Tingkat I Bali. Masdana, Kadek. 1998. Seni Tabuh Tradisional Bali. (Skripsi) Moleong, Lexi J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. Mulyana, Deddy. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial. Bandung : Remaja Rosdakarya. Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Nurhaeni. 2006. Kesenian Dan Budaya Lokal Setempat Di Nusantara. (Skripsi) Pendit, Nyoman S. 2005. Filsafat Dharma Dari India. Denpasar : Pustaka Bali Post. Santosa, Hadi. 1995. Gamelan, Tuntunan Memukul Gamelan. Jakata : Effhar & Dahara Prize. Sayanacarya. 2005. Atharwa Weda Samhita I. Surabaya : Paramita. Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung : ITB. Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara. Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Wenten, Putu. 1998. Kesenian Angklung Bali. Denpasar : Bali Post.