BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi Asia, tahun 1997 yang ditandai dengan jatuhnya nilai mata

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Perhatian dunia terhadap Good Corporate Governance mulai meningkat

BAB I PENDAHULUAN. asing lagi di telinga kita. Pada negara maju, GCG sudah lama menjadi suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Setelah negara Indonesia dan negara negara di Asia Timur lainnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (2009 : 67) mencoba memberikan definisi dari kinerja, antara lain sebagai

BAB I PENDAHULUAN. mekanisme pengelolaan itu sendiri. Jika kondisi Good Governance dapat dicapai

BAB I PENDAHULUAN. digariskan. Audit internal modern menyediakan jasa- jasa yang mencakup

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Good Corporate Governance (GCG) adalah salah satu pilar dari sistem

BAB I PENDAHULUAN. praktek bisnis yang kurang adil dalam masyarakat. Dalam dunia bisnis manajemen dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Good Corporate Governance. Corporate Governance, antara lain oleh Forum for Corporate

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Keruntuhan ekonomi yang menimpa bangsa ini tidak bisa lepas dari adanya

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan penting dalam pendirian perusahaan adalah untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. dalam maupun luar negeri (Teguh Haryono, 2012). Bank harus memberi prioritas

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi global sangat mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan di

BAB 1 PENDAHULUAN. industri menengah maupun industri besar. Dalam perkembangannya saat ini nampak jelas

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. persaingan usaha yang semakin kompetitif dan kompleks. Keadaan ini menuntut

BAB I PENDAHULUAN. memastikan bahwa proses pengelolaan manajemen berjalan dengan efisien.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

09Pasca. Kewirausahaan, Etika Profesi dan Hukum Bisnis

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi untuk melakukan berbagai tindakan agar bisnisnya tetap bertahan di dunia

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Institute of Internal Auditors (IIA) audit internal dalam Sawyer s et al

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Istilah Good Corporate Governance (GCG) kian populer dan ditempatkan

BAB I PENDAHULUAN. dan pemerintah yang digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengevaluasi kegiatan-kegiatan organisasi yang dilaksanakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Keruntuhan ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia tidak lepas dari

BAB I PENDAHULUAN. Good Corporate Governance (GCG) adalah suatu istilah yang sudah tidak asing lagi

BAB I PENDAHULUAN. Perhatian dunia terhadap Good Corporate Governance (GCG) mulai. yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menyimpulkan

BAB I PENDAHULUAN. Menyambut implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),

BAB I PENDAHULUAN. dari keberadaan isu Corporate Governance (Swasembada, edisi: 09/XXI/28 april-

PIAGAM AUDIT INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh suatu kerangka tata kelola (corporate governance

- 2 - PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 sampai dengan angka 13 Cukup jelas.

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk.

BAB II KERANGKA TEORI. American Accounting Association mendefenisikan sebagai proses. kepada pihak yang berkepentingan (Sawyer et al, 2005:8).

BAB I PENDAHULUAN. Isu mengenai good corporate governance mulai populer khususnya di

Dr. Imam Subaweh, SE., MM., Ak., CA

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT PERTAMINA INTERNASIONAL EKSPLORASI & PRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN. kepentingan para pemegang saham (shareholder) saja dan juga menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sebagai wakil dari pemilik juga memiliki kepentingan pribadi sehingga perilaku

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hasil penelitian Tambunan (2008) yang berjudul Analisis Peran Internal

BAB I PENDAHULUAN. dibuktikan dengan banyak perusahaan-perusahaan baru yang mulai tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. Studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menganalisis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah asing Good Corporate Governance (GCG) tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. Skandal perusahaan-perusahaan publik tidak hanya terjadi di negara-negara besar,

BAB 1 LATAR BELAKANG. dengan munculnya krisis budaya moral. Di beberapa negara Asia pondasi

BAB I PENDAHULUAN. usaha. Mengingat keberadaan sumber daya yang bersifat ekonomis sangat terbatas

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA

BAB I PENDAHULUAN. bangkrut, buruknya kinerja perbankan nasional, banyaknya kredit macet, rendahnya

BAB I PENDAHULUAN. pada perusahaan secara maksimal sehingga laba diharapakan diperoleh juga secara

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi seperti sekarang ini, Indonesia dituntut untuk berperan serta

BAB I PENDAHULUAN. Tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) merupakan konsep

BAB I PENDAHULUAN. kecil, pimpinan perusahaan dapat mengawasi secara langsung kinerja di

Bandung, 14 oktober Kepada Yth, Bapak / Ibu respoden Di tempat

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia bisnis dan ekonomi sudah berkembang

DAFTAR ISI. SK BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI PT BARATA INDONESIA(Persero)

BAB I PENDAHULUAN. dapat memperoleh kesuksesan hanya dengan mengadopsi teknologi baru dengan

BAB I PENDAHULUAN. efektivitas pencapaian tujuan perusahaan. Seiring dengan berkembangnya. mendorong kesinambungan dan kelangsungan hidup perusahaan.

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan dana pensiun dapat dilihat dari tingkat pencapaian tujuan nya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka economy recovery, pemerintah Indonesia dan International

BAB I PENDAHULUAN. yang berkenaan dengan permasalahan Good Corporate Governance (GCG) seketika

BAB I PENDAHULUAN. ini tidak dapat dipungkiri lagi, dalam tatanan ekonomi global tuntutan terciptanya

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. pada sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi. Bila teori agency

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, serta

BAB I PENDAHULUAN. Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan sebuah komunitas negaranegara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate

BAB I PENDAHULUAN. Good Corporate Governance (GCG) di berbagai sektor saat ini telah

BAB I PENDAHULUAN. menentukan antara arah dan kinerja perusahaan (Monks & Minow,

Audit Committee Charter- SSI. PT SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk. PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

BAB I PENDAHULUAN. Governance (2006) untuk mewujudkan tata kelola yang baik, perusahaan harus

SEttEN IN00NESiA GRO IPIEDOMAN KERJA(CHARTER) KOMITE AUDI丁. PToSEMEN丁 ONASA

BAB I PENDAHULUAN. diumumkan di bursa. Peraturan ini tertera dalam Peraturan Bursa No. I-E tahun

KEWRAUSAHAAN, ETIKA PROFESI dan HUKUM BISNIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:9) dan International

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari suatu perusahaan adalah mensejahterahkan kepentingan

BAB I PENDAHULUAN. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance)

PT MULTI INDOCITRA Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT

BAB I PENDAHULUAN. mengenai kemampuan atau kinerja perusahaan dalam menghasilkan return di. strategi bisnis agar terhindar dari kebangkrutan.

BAB 5 PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis mengenai Penerapan Good Corporate Governance

Transkripsi:

BAB I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis ekonomi Asia, tahun 1997 yang ditandai dengan jatuhnya nilai mata uang Thailand, Bath, menyebabkan banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB), krisis yang terjadi di Asia disebabkan oleh lemahnya penerapan corporate governance. Untuk mengatasinya, ADB membuat rekomendasi yang diharapkan mampu menanggulangi krisis, salah satunya dengan peningkatan pengendalian intern perusahaan dan perlindungan terhadap pemegang saham. Dalam jurnalnya yang berjudul Corporate Governance and Finance in East Asia : A Study of Indonesian, Republic Korea, Malaysia, Philippines, dan Thailan Pengendalian intern yang kuat dapat menciptakan iklim Good Corporate Governance (GCG). (Zuang, 2000) Dalam perekonomian modern, manajemen dan pemilik perusahaan semakin nyata dipisahkan kepentingan pengendalian. Pemisahan ini menimbulkan adanya transparansi dalam penggunaan dana pada perusahaan serta keseimbangan

BAB I Pendahuluan 2 yang tepat antara kepentingan-kepentingan yang ada, misalnya antara pemegang saham dengan pengurus dan antara pemegang saham pengendali dengan pemegang saham minoritas. Keadaan ini memaksa manajemen modern yang efektif memerlukan mekanisme untuk memperoleh kepastian yang mamadai bahwa tujuan dan sasaran perusahaan akan tercapai. Mekanisme tersebut disebut pengendalian intern. Untuk mencapai tujuannya, banyak perusahaan yang membangun internal control-nya berdasarkan rekomendasi dari Commitee of Sponsoring Organization of the Tradeway Commision (COSO), yang saat ini merupakan model dominan yang digunakan dalam membangun penegndalian intern. Dalam COSO Framework, pengendalian intern yang efektif dibagi dalam lima komponen yang saling berhubungan, yaitu : (1) Control Environment adalah potensi dasar bagi keempat komponen lainnya, di dalamnya terbentuk nilai etik dan kompetensi pegawai perusahaan (2) Risk Assesment pengidentifikasian dan analisis terhadap resiko-resiko terkait yang dapat menghalangi tujuan perusahaan (3) Control Activities adalah kegiatan yang spesifik untuk mengurangi setiap resiko yang diidentifikasikan diatas (4) Information and Communication System sistem informasi komunikasi yang memungkinkan orang dalam organisasi untuk

BAB I Pendahuluan 3 mendapatkan dan berbagi informasi yang diperlukan untuk mengelola, melaksanakan dan mengendalikan operasi (5) Monitoring adalah evaluasi dan perhitungan kembali pengendalian yang telah dilaksanakan. Manusia merupakan pilar utama dalam membawa organisasi menjadi lebih baik atau sebaliknya. Setiap organisasi memerlukan pengendalian intern yang baik agar tujuan organisasi dan kepentingan-kepentingan stakeholder dapat tercapai secara optimal. Tanpa pengendalian intern yang baik, dewan direksi dan pimpinan, tidak memiliki sumber informasi intern yang bebas mengenai kinerja organisasi. Organisasi juga tidak akan mampu menghadapi kebutuhan-kebutuhan perusahaan yang berubah semakin dinamis. Hal ini yang menyebabkan penerapan corporate governance dalam suatu organisasi tidak berkembang dengan baik. Sistem corporate governance yang baik memberikan perlindungan efektif kepada para pemegang saham dan kreditur, sehingga mereka bisa meyakinkan dirinya akan memperoleh kembali investasinya dengan wajar dan bernilai tinggi. Sistem tersebut juga harus membantu menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan sektor usaha yang efisien dan berkesinambungan. Dengan demikian, corporate governance dapat didefinisikan sebagai : seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola)

BAB I Pendahuluan 4 perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stake holders). Untuk memenuhi tujuan dari corporate governance diperlukan suatu bentuk pengelolaan yang tepat atau yang lebih dikenal dengan sebutan good corporate governance (GCG). Dalam bahasa Indonesia, GCG belum ditemukan padanan verbal yang sesuai. Paling sering diartikan sebagai tata kelola perusahaan yang baik. Pada KEP-117/M-MBU/2002 pasal 3, menetapkan beberapa prinsip yang dibutuhkan untuk membantu membangun suatu budaya yang sehat, yaitu : transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran. Good Corporate Governance adalah sebuah sistem guna mengendalikan dan mengarahkan semua jaringan hubungan formal-informal sektor korporasi, serta konsekuensinya bagi masyarakat umum. Proses pengendalian internal dan GCG yang kuat akan memberikan dampak positif bagi perusahaan untuk melindungi asset, memberikan keyakinan

BAB I Pendahuluan 5 bahwa pegawai telah bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan perusahaan, dan memberikan keyakinan bahwa informasi akuntansi telah ditetapkan secara akurat, sehingga dapat mengurangi fraud dan kerugian perusahaan. Akuntan memegang peran yang penting terhadap terwujudnya GCG. Keterlibatan akuntan meliputi beberapa hal, pertama membuat desain sistem pengendalian manajemen, kedua melakukan pemerikasaan dan pengawasan jalannya sistem pengendalian manajemen serta melaporkannya ke komite audit. Salah satu aplikasi profesi akuntan dalam perusahaan adalah sebagai auditor internal, yang memiliki peran sebagai compliance auditor dan internal business consultant bagi perusahaan dituntut mampu memberikan nilai tambah untuk organisasinya dalam rangka mewujudkan GCG. Salah satu peran kunci auditor internal yaitu untuk menyediakan informasi mengenai kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian manajemen dan kualitas kinerja perusahaan bagi manajemen. Beberapa masalah kemudian timbul berkaitan peran auditor internal, seberapa efektif keberadaan auditor internal dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan?. Sehubungan dengan pentingnya pengendalian intern dan GCG yang tidak dapat dilepaskan dengan peran auditor internal seperti yang telah diuraikan diatas,

BAB I Pendahuluan 6 penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut, dimana diharapkan dari penelitian ini dapat diperoleh informasi peranan apa yang dilakukan oleh auditor melalui pengendalian intern yang dilakukannya dalam pelaksanaan GCG.. Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis merumuskan dengan judul: Peranan Auditor Internal Atas Pengendalian Intern Terhadap Pelaksanaan Good Corporate Governance pada PT. PINDAD (Persero) Bandung 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian, maka dapat diidentifikasikan permasalahan yaitu: 1. Bagaimana hubungan antara auditor internal atas pengendalian intern terhadap pelaksanaan good corporate governance pada PT. PINDAD (Persero) Bandung? 2. Seberapa besar peranan auditor internal atas pengendalian intern dalam mempengaruhi pelaksanaan good corporate governance pada PT. PINDAD (Persero) Bandung?

BAB I Pendahuluan 7 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, mempelajari dan membandingkan teori dengan prakteknya terutama melalui kuesioner mengenai peran auditor internal atas pengendalian intern, khususnya mengenai pelaksanaan GCG pada PT. PINDAD (Persero) Bandung. Selanjutnya data yang diperoleh diolah menggunakan metode statistik untuk menganalisis tingkat signifikan tertentu, yang pada akhirnya dapat diperoleh suatu kesimpulan dari penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui hubungan antara auditor internal atas pengendalian intern terhadap pelaksanaan good corporate governance pada PT. PINDAD (Persero) Bandung. 2. Untuk mendapatkan bukti empiris seberapa besar peranan auditor internal atas pengendalian intern dalam mempengaruhi pelaksanaan good corporate governance pada PT. PINDAD (Persero) Bandung. 1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh penulis diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan 8 1. Bagi penulis Bagi penulis kegunaan penelitian ini adalah untuk dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang good corporate governance, serta mengetahu lebih dalam peran auditor internal melalui pengendalian intern dalam pelaksanaan good corporate governance. Skripsi ini juga merupkan salah satu syarat untuk menempuh ujian sarjana pada Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Bandung. 2. Bagi perusahaan Memperluas wawasan manajemen akan peranan auditor internal atas pengendalian intern dalam pelaksanaan good corporate governance. Selain itu memberikan masukan kepada manajemen hal-hal apa saja yang perlu lebih diperbaiki dalam meningkatkan nilai perusahaan. 3. Bagi masyarakat dan dunia pendidikan Dengan hasil penelitian ini, diharapkan pembaca dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai bahan referensi untuk penelitian

BAB I Pendahuluan 9 selanjutnya, terutama mengenai peran auditor melalui pengendalian intern dalam pelaksanaan good corporate governance. 1.5 Pembatasan Masalah Mengingat luasnya cakupan permasalahan, maka dalam penelitian ini perlu diterapkannya batasan-batasan permasalahan berikut. Peneliti hanya meneliti peran auditor internal dalam pelaksanaan good corporate governance yang dilakukannya atas pengendalian intern perusahaan. 1.6 Kerangka Pemikiran Good corporate governance (GCG) diartikan secara sempit sebagai pertanggungjawaban resmi direksi kepada pemegang saham. Sedangkan secara luas diartikan sebagai semua jaringan hubungan formal-informal sektor korporasi dan konsekuensi bagi masyarakat umum. Berdasarkan pada KEP-117/M-MBU/2002 pasal 3 good corporate governance pada dasarnya meliputi prinsip-prinsip utama: transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran. Transparansi keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan

BAB I Pendahuluan 10 dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Kemandirian keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Akuntabilitas kejelasan fungsi pelaksanaan dan pertanggungjawaban organisasi sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Pertanggungjawaban kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Kewajaran keadaan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan perundang-undangan yang berlaku. Peran penting GCG terletak pada kontribusinya terhadap kemakmuran perusahaan (business prosperity) dan akuntabilitas (accountability). Perusahaan go public merupakan organisasi bisnis yang paling dapat dipertanggungjawabkan (accountable) keberadaannya, sebab dalam kegiatan operasional mereka dituntut untuk memberikan informasi secara lebih terbuka kepada masyarakat. Dalam hal ini Perusahaan Terbuka (PT) lebih transparansi daripada perusahaan yang belum go public. Hal ini karena peraturan yang mengikat perusahaan tersebut mewajibkan hal seperti ini dengan mempertimbangkan kepentingan pemilik

BAB I Pendahuluan 11 perusahaan terbuka yaitu masyarakat luas. Perwujudan GCG ternyata sangat membutuhkan peran akuntan perusahaan, baik peran dari akuntan manajemen maupun peran auditor internal. Adapun auditor internal yang bertugas meneliti dan mengevaluasi bekerjanya sistem akuntansi disamping menilai seberapa jauh kebijakan dan program kerja manajemen, dengan kata lain auditor internal menilai kesesuai pelaksanaan sistem dalam perusahaan melalui pengendalian intern. Definisi penegendalian intern adalah Pengendalian intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan personil lainnya yang mengendalikan kesuksesan suatu bisnis. Sistem ini terdiri dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk memberikan manajemen keyakinan mamadai bahwa tujuan dan sasaran yang penting bagi satuan usaha dapat tercapai. (Ratliff & Loebbecka, 1997 : 261) Pada tahun 1992, COSO (The Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Committee) menegaluarakan laporannya. Internal control Integrated Framework. Laporan COSO memberikan suatu kerangka kerja pengendalian intern umum yang didisain untuk memuasakan kebutuhan dari semua kelompok yang berhubungan dengan pengendalian intern. Tujuan pengendalian COSO berhubungan dengan efektivitas dan efiisiensi operasi yang

BAB I Pendahuluan 12 meliputi organisasi secara keseluruhan dan bermaksud untuk mengaitkan dengan misi dasar entitas-alasan fundamental berada. Tujuan pengendalian menurut COSO adalah : (1) Keandalan dan integritas informasi komponen pengendalian informasi dan komunikasi secara utuh menjelaskan dan mencakup tujuan tersebut. (2) Ketaatan dengan kebijakan, rencana dan prosedur organisasi, menunjukkan bahwa penetapan dan ketaatan yang diperkuat terhadap kebijakan dan peosedur perlu untuk mempertahankan organisasi dalam jalur terhadap pencapaian tujuan. (3) Mengamankan harta, pemakaian sumber daya yang ekonomis dan efisien untuk pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Pengendalian intern mencakup lima kategori dasar kebijakan dan prosedur yang dirancang dan digunakan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan pengendalian dapat dipenuhi, kelima kategori itu yaitu: lingkungan pengendalian, penetapan resiko, aktivitas pengendalian, sistem informasi dan komunikasi akuntansi, serta pemantauan. Berdasarkan komponen diatas, dilakukannya pemeriksaan atas pengendalian intern suatu perusahaan sangat penting terhadap penerapan prinsip good corporate governance untuk memperoleh keyakinan memadai, bahwa tujuan suatu usaha yang spesifik akan dapat dicapai melalui penugasan masing-masing.

BAB I Pendahuluan 13 Kegiatan menguji dan menilai efektivitas serta kecukupan sistem pengendalian yang ada dalam organisasi tidak dapat berjalan tanpa peran dari auditor internal, dewan direksi dan atau pimpinan unit tidak memiliki sumber informasi internal yang bebas mengenai kinerja organisasi. Peran yang sesuai dengan definisi auditor internal ini adalah peran auditor sebagai complience auditor dan internal business consultant. The key establishing and maintaining the internal auditor s new role as internal business consultant is to incorporate a bussiness perspective into current control compliance processes, rather than tacking it on as an afterthrought. The result is a hybrid audit that meets the organization s dual need for comport regarding compliance and for value added suggestion on business improvement. (Stephen R. Thevenin, 1997:58-59) Peran ini sesuai dengan aktivitas utama yang menjadi identitas baru profesi ini, yaitu assurance services dan consulting activities. Aktivitas utama ini diharapkan dapat lebih menghadirkan profesi audit internal secara efektif bagi perusahaan. Dalam mewujudkan good corporate governance, sebagaimana peran auditor internal yang telah dikemukakan diatas yakni sebagai compliance auditor dan intenal business consultant bersama-sama komonen perusahaan yang lain dengan berpijak pada peran profesinya masing-masing : 1. Membantu komite audit dalam menilai resiko dan memberi nasehat pada

BAB I Pendahuluan 14 pihak manajemen 2. Mengevaluasi sistem pengendalian internal dan bertanggungjawab kepada komite audit 3. Menelaah peraturan corporate governance minimal setahun sekali. Berdasarka identifikasi masalah dan kerangka pemikiran di atas, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: Terdapat hubungan yang signifikan antara Peranan Auditor Internal atas Pengendalian Intern terhadap Pelaksanaan Good Corporate Governance 1.7 Metodologi Penelitain Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis dengan pendekatan survei. Metode deskriptif adalah metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari pelaksanaan penelitian adalah membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta, sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta, gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-

BAB I Pendahuluan 15 keterangan secara faktual baik tentang intuisi sosial ekonomi atau politik dari suatu kelompok atau daerah. Sesuai dengan judul penelitian peranan auditor internal atas pengendalian intern dalam pelaksanaan good corporate governance, maka: - Peranan auditor internal atas pengendalian intern sebagai variabel X - Pelaksanaan good corporate governance sebagai variabel Y Ke dua variabel ini merupakan variabel kualitatif yang diukur dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner yang dibagikan kepada auditor internal PT. PINDAD (Persero) Bandung. Rancangan hipotesis ini berkaitan dengan ada tidaknya hubungan antara variable X dan Y, dimana hipotesis null (H0) yaitu suatu hipotesis yang umumnya diformulasikan untuk ditolak dan hipotesis alternatif (HA) yang merupakan hipotesis penelitian dari penulis. Ho dan HA tersebut dinyatakan sebagai berikut: H0 : tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peranan auditor internal atas pengendalian intern terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance HA : terdapat hubungan yang signifikan antara peranan auditor internal atas pengendalian intern terhadap pelaksanaan Good

BAB I Pendahuluan 16 Corporate Governance 1.8 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian Lokasi penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada PT. PINDAD (Persero), yang berlokasi di Jl. Gatot Subroto no 517 Bandung 40284 dan waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 sampai dengan selesai.