BAGIAN 1 NOMOR POKOK WAJIB PAJAK. e-registration melalui laman Direktorat Jenderal Pajak

dokumen-dokumen yang mirip
TATA CARA PENDAFTARAN DAN PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK. Oleh: Suwardi, SE, M.Si, Akt.

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DAN BATAS PEMBAYARAN PAJAK

NPWP & Pengukuhan PKP. Beberapa Pengertian Yang Perlu Diketahui

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-20/PJ/2013 TENTANG

NPWP (NOMOR POKOK WAJIB PAJAK), WAJIB PAJAK NON EFEKTIF, KODE AKUN PAJAK, SSP, JATUH TEMPO PEMBAYARAN

BAB II LANDASAN TEORI. pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. P. J. A. Adriani

KETENTUAN UMUM & TATA CARA PERPAJAKAN

Definisi. SPT (Surat Pemberitahuan)

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Account Representative

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN


SPT (Surat Pemberitahuan) Saiful Rahman Yuniarto

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 38/PJ/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR

SIAPA PEMBAYAR PAJAK: WAJIB PAJAK

PERPAJAKAN I PENDAFTARAN NPWP, PENGAJUAN SPPKP & PEMBAYARAN PAJAK. Deden Tarmidi, SE., M.Ak., BKP. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 38/PJ/2013 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 20 /PJ/2013 TENTANG

PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK INTERNAL DJP; PENGADILAN PAJAK; DAN MAHKAMAH AGUNG.

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DAN BATAS PEMBAYARAN PAJAK

KETENTUAN UMUM & TATA CARA PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

MANFAAT MEMBAYAR PAJAK DAN PENGISIAN SPT BAGI WAJIB PAJAK. Oleh: Amanita Novi Yushita, M.Si.

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 02/PJ/2018 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK

24 Maret STIE Widya Praja Tanah Grogot

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan. Oleh Ruly Wiliandri

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 9/PMK.03/2018

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KUP NPWP DAN SPT. Amanita Novi Yushita, M.Si

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 02/PJ/2018 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III GAMBARAN DATA TENTANG TATA CARA PENGHAPUSAN NPWP DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK PADA KPP PRATAMA BINJAI

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (UU KUP)

BAB III GAMBARAN DAN PENYAJIAN DATA. Secara garis besar dasar hukumnya sebagai berikut :

II. PASAL DEMI PASAL. Pasal I. Angka 1 Pasal 1. Cukup jelas. Angka 2 Pasal 2

PENETAPAN DAN KETETAPAN

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

NPWP dan Pengukuhan PKP

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 20 /PJ/2013 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

MANAJEMEN PERPAJAKAN

RINGKASAN KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

BAB VI KETENTUAN UMUM TATA CARA PERPAJAKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

PERPAJAKAN I KUASA & KONSULTAN PAJAK, PEMERIKSAAN, PENAGIHAN, RESTITUSI PAJAK. Deden Tarmidi, SE., M.Ak., BKP. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENUNJUK UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Self assessment : WP membayar pajak sesuai UU tidak tergantung SKP

PERPAJAKAN I KUP PENDAFTARAN NPWP & PEMBAYARAN PAJAK. By : SUHIRMAN MADJID, SE.,MSi.,AK., CA. HP :

KUP W A J I B P A J A K N P W P P E N G U S A H A K E N A P A J A K N P P K P

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/PMK.03/2015 TENTANG

Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor. 7 Pelayanan Penyelesaian Permohonan a. KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN Ditetapkan tanggal 17 Juli 2007 KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN BESERTA PERATURAN-PERATURAN PELAKSANAANNYA

RESUME SANKSI PERPAJAKAN SANKSI BUNGA

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN BAB I KETENTUAN UMUM.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-undang Nomor 28

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Menurut Andriani (1991) dalam Waluyo (2011), pajak adalah iuran kepada negara

KUP ( Pendaftaran NPWP, Pembayaran Pajak ) FEB AKUNTANSI

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DI INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Modul ke: Pertemuan 2. 02Fakultas EKONOMI. Perpajakan I. Program Studi AKUNTANSI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENUNJUKAN BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK PAJAK NEGARA BAB I

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH definisi pajak yaitu iuran rakyat

PENGANTAR PERPAJAKAN HAK WAJIB PAJAK

OLEH: Yulazri SE. M.Ak. Akt. CPA

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8/PMK.03/2013 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Tata Cara Pengajuan Keberatan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

1

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG

MENTERIKEUANGAN REPUBLlK INDONESIA SALIN AN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. untuk kesejahteraan rakyat. Pajak merupakan salah satu penerimaan terbesar negara perlu terus

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2013 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN

PENGANTAR PERPAJAKAN BENDAHARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENGAMATAN

Pengantar Perpajakan bagi Account Representative Dasar

Lampiran 1 Standar Pelayanan Administrasi Perpajakan. Jenis Pelayanan Persyaratan Yang Diperlukan Waktu Penyelesaian.

Transkripsi:

BAGIAN 1 Sebagaimana yang dipaparkan pada pertemuan sebelumnya bahwa salah satu inti pengertian pajak adalah dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan. Salah satu dasar hukumnya adalah tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang diatur menjadi UU No. 06 Tahun 1983. Undangundang tersebut kemudian terus diubah seiring perkembangan dan perubahan zaman sebagai berikut: Perubahan Pertama : UU No. 09 Tahun 1994 Perubahan Kedua : UU No. 16 Tahun 2000 Perubahan Ketiga : UU No. 28 Tahun 2007 Perubahan Keempat : UU No. 16 Tahun 2009 Inti pokok pembahasan dalam Undang-undang tersebut menjelaskan tentang: 1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 2. Surat Pemberitahuan (SPT) & Batas Pembayaran Pajak 3. Penetapan & Ketetapan Pajak 4. Pengertian Pembukuan/Pencatatan 5. Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan 6. Surat Keterangan Fiskal NOMOR POKOK WAJIB PAJAK Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana administrasi perpajakan yang digunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Dengan demikian, NPWP memiliki fungsi sebagai: 1. Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan; 2. Sebagai identitas wajib pajak; 3. Menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasan administrasi perpajakan; 4. Menjadi persyaratan dalam pelayanan umum, misalnya paspor, kredit bank, lelang, dan sebagainya. Untuk memperoleh NPWP, Wajib Pajak dapat melalui beberapa cara, yaitu: 1. Mendaftarkan diri secara online dengan sistem Aplikasi e-registration melalui laman Direktorat Jenderal Pajak di http://www.pajak.go.id; 2. Mendaftarkan diri langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP). 3. Mengirimkan formulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan administrasi melalui pos tercatat atau perusahaan jasa ekspedisi atau kurir ke KPP atau KP2KP yang sesuai dengan tempat tinggal atau kedudukan atau kegiatan usaha Wajib Pajak. Persyaratan administrasi yang harus disiapkan antara lain: a. Bagi Orang Pribadi a. Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas: 1) fotokopi KTP bagi Warga Negara Indonesia (WNI); 2) fotokopi paspor, Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP), bagi Warga Negara Asing (WNA). b. Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas: 1) Fotokopi pengenal diri sebagaimana tersebut di atas, fotokopi dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan oleh instansi berwenang atau surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari Pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) sekurang-kurangnya Lurah/Kepala Desa atau lembar tagihan listrik dari Perusahaan Listrik/bukti pembayaran listrik; atau

2) Fotokopi e-ktp bagi WNI dan Surat Pernyataan Diri di atas meterai dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa yang bersangkutan benarbenar menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. 2. Bagi Badan a. Badan dan Bentuk Usaha Tetap (BUT), yang berorientasi pada keuntungan (profit oriented): 1) Fotokopi akte pendirian atau dokumen pendirian dan perubahannya bagi badan Wajib Pajak dalam negeri, atau surat keterangan penunjukan dari kantor pusat bagi BUT; 2) Fotokopi Kartu NPWP salah satu pengurus, atau fotokopi paspor dan surat keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemda sekurangkurangnya Lurah atau Kepala Desa bila penanggungjawab adalah WNA; 3) Fotokopi dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh instansi berwenang, atau surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemda sekurangkurangnya Lurah atau Kepala Desa, atau lembar tagihan listrik dari Perusahaan Listrik/bukti pembayaran listrik. b. Badan dan BUT yang tidak berorientasi pada keuntungan (non profit oriented): 1) Fotokopi e-ktp salah satu pengurus badan atau organisasi; 2) Surat Keterangan Domisili dari pengurus Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW). c. Joint Operation (JO): 1) Fotokopi perjanjian kerja sama/akta pendirian sebagai bentuk kerja sama operasi (Joint Operation); 2) Fotokopi Kartu NPWP bagi WNI masing-masing anggota JO yang diwajibkan memiliki NPWP; 3) Fotokopi Kartu NPWP Orang Pribadi salah satu pengurus perusahaan anggota JO, atau fotokopi paspor dan surat keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemda sekurangkurangnya Lurah/Kepala Desa bila penanggungjawab adalah WNA; 4) Fotokopi dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang, atau surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemda sekurangkurangnya Lurah atau Kepala Desa. d. Bendahara sebagai Wajib Pajak Pemungut/Pemotong 1) Surat penunjukan sebagai Bendahara; 2) Fotokopi KTP. 3. Wanita Kawin Wanita Kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, dan wanita kawin yang memilih melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan secara terpisah: a. Fotokopi Kartu NPWP Suami; b. Fotokopi Kartu Keluarga; dan c. Fotokopi surat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, atau surat pernyataan menghendaki melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan terpisah dari suami. Setelah pendaftaran, Wajib Pajak nantinya akan diberikan kartu berisi NPWP yang terdiri dari 15 (lima belas) digit angka yang memiliki arti sebagai berikut: 1. 2 digit pertama merupakan identitas Wajib Pajak 01-03 Wajib Pajak Badan 04 dan 06 Wajib Pajak Pengusaha 05 Wajib Pajak Karyawan 07-09 Wajib Pajak Pribadi 2. 6 digit kedua merupakan nomor registrasi/urut yang diberikan Kantor Pusat Dirjen Pajak kepada KPP 3. 1 digit ketiga merupakan alat pengaman agar tidak terjadi pemalsuan dan kesalahan NPWP yang diberikan oleh KPP 4. 3 digit keempat adalah kode KPP 5. 3 digit terakhir adalah status Wajib Pajak 000 Tunggal atau Pusat 00X Cabang ke-, dan seterusnya Manfaat memiliki NPWP diantaranya: 1. Kemudahan pengurusan administrasi, dalam hal: a. Pengajuan kredit di bank; b. Pembuatan Rekening Koran di bank; c. Pengajuan perizinan usaha; d. Pembayaran pajak; e. Kesempatan ikut lelang di berbagai instansi. 2. Kemudahan layanan perpajakan, dalam hal: a. Pengembalian pajak; b. Pengurangan pembayaran pajak; c. Penyetoran dan pelaporan pajak. Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP dan atas perbuatannya tersebut menimbulkan kerugian pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling

lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar. Pidana ini ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang telah memiliki NPWP, wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) oleh KPP atau KP2KP. Sebagai PKP, diwajibkan untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari setiap pembeli/pemakai jasanya dengan menerbitkan faktur pajak. PPN yang sudah dipungut kemudian dilaporkan dalam laporan bulan (SPT Masa) dan apabila ternyata ada PPN yang harus disetor ke bank atau kantor pos, maka harus disetor terlebih dahulu sebelum dilaporkan ke KPP atau KP2KP tempat Wajib Pajak mendaftar. KPP dapat menerbitkan NPWP dan Pengukuhan PKP secara jabatan (sifat retroaktif), apabila Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, bila berdasarkan data yang dimiliki Dirjen Pajak ternyata Wajib Pajak memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP atau PKP, dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan subyektif dan obyektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan paling lama 5 (lima) tahun sebelum diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkannya sebagai PKP. NPWP yang telah terbit dapat diajukan permohonan penghapusan kepada Dirjen Pajak oleh: 1. Wajib Pajak dan/atau ahli warisnya. Wajib Pajak sudah tidak memenuhi syarat subyektif dan/atau obyektif sesuai ketentuan peraturan perundangan perpajakan, misalnya: a. Wajib Pajak meninggal dan tidak meninggalkan harta warisan, disyaratkan fotokopi akte kematian atau surat keterangan kematian dari instansi berwenang. b. Wajib Pajak meninggal dan meninggalkan warisan. Apabila selesai dibagi kepada ahli warisnya, disyaratkan surat keterangan tentang selesainya warisa tersebut dibagi oleh ahli warisnya. c. Wajib Pajak Orang Pribadi lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai Wajib Pajak, disyaratkan surat pernyataan dan keterangan dari instansi berwenang. 2. Wanita kawin yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat surat perjanjian pemisahan harta serta suaminya telah terdaftar sebagai Wajib Pajak, disyaratkan adanya surat nikah/akte perkawinan dari catatan sipil. 3. Wajib Pajak Badan dalam rangka likuidasi atau telah dibubarkan secara resmi, disyaratkan adanya akte pembubaran. 4. Badan Usaha Tetap (BUT) yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya, disyaratkan adanya permohonan Wajib Pajak yang dilampiri dengan dokumen pendukung bahwa BUT tersebut tidak memenuhi syarat lagi untuk dapat digolongkan sebagai Wajib Pajak. Permohonan penghapusan NPWP/pencabutan pengukuhan PKP akan diverifikasi, serangkaian kegiatan pengujian pemenuhan kewajiban subyektif dan obyektif atau penghitungan dan pembayaran pajak, berdasarkan permohonan Wajib Pajak atau berdasarkan data dan informasi perpajakan yang dimiliki atau diperoleh Dirjen Pajak, terhadap Wajib Pajak yang memenuhi kriteria tertentu. SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) & BATAS PEMBAYARAN PAJAK Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak (WP) digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/ atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Terdapat dua macam SPT yaitu: 1. SPT Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak. 2. SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam UU No. 28 Tahun 2007 adalah sama dengan 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan paling lama 3 (tiga) bulan kalender. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.

SPT memiliki fungsi sebagai berikut: 1. Bagi Wajib Pajak Sebagai sarana Wajib Pajak untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak; b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau nbukan objek pajak; c. harta dan kewajiban; d. pemotongan/pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak. 2. Bagi Pengusaha Kena Pajak Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang: a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. 3. Bagi Pemotong/ Pemungut Pajak Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan. Formulir SPT dapat diambil di KPP atau KP2KP, atau dapat diunduh melalui situs www.pajak.go.id atau mencetak/menggandakan/fotokopi dengan bentuk dan isi yang sama dengan aslinya. Formulir SPT yang telah diisi secara benar, lengkap, jelas dan ditandatangani oleh Wajib Pajak Pribadi atau pengurus/direksi atau kuasanya bagi Wajib Pajak Badan, dapat disampaian dengan cara: 1. Secara langsung ke KPP/KP2KP atau tempat lain yang ditentukan, seperti Drop Box, Pojok Pajak, atau Mobil Pajak Keliling; 2. Melalui pos atau perusahaan jasa ekpedisi atau kurir dengan bukti pengiriman surat; 3. E-Filling yang disediakan oleh Dirjen Pajak maupun jasa penyedia aplikasi (Application Service Provider). Layanan E-Filling hanya melayani penyampaian SPT Tahunan Orang Pribadi yang menggunakan Formulir 1770 S dan 1770 SS. Untuk dapat mengakses layanan ini harus memiliki Electronic Filling Identification Number (e-fin) yang diperoleh melalui KPP atau KP2KP secara langsung. Batas waktu penyampaian SPT ditetapkan sebagai berikut: 1. Untuk SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak; 2. Untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak; 3. Untuk SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak. Batas waktu penyampaian SPT di atas dapat diperpanjang paling lama 2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain, misalnya secara elektronik melalui email, kepada Dirjen Pajak. Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu di atas, termasuk dalam batas waktu perpanjangan maka akan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebagai berikutl 1. SPT Masa PPN sebesar Rp 500.000,- 2. SPT Masa lainnya sebesar Rp 100.000,- 3. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan sebesar Rp 1.000.000,- 4. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Pribadi sebesar Rp 100.000,- Sanksi administrasi tersebut tidak dilakukan terhadap: 1. Wajib Pajak Pribadi yang telah meninggal dunia; 2. Wajib Pajak Pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas; 3. Wajib Pajak Pribadi yang berstatus WNA yang tidak tinggal lagi di Indonesia; 4. BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia; 5. Wajib Pajak Badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai ketentuan berlaku; 6. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran; 7. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; 8. Wajib Pajak lain yang diatur berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

PENETAPAN & KETETAPAN PAJAK Prinsip self assessment dalam pemenuhan kewajiban perpajakan adalah bahwa Wajib Pajak diwajibkan untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan pajak yang terutang sendiri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, sehingga penentuan besarnya pajak yang terutang dipercayakan pada Wajib Pajak sendiri melalui Surat Pemberitahuan (SPT) yang disampaikannya. Penerbitan suatu surat ketetapan pajak hanya terbatas kepada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukannya data yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak berfungsi sebagai: 1. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap Wajib Pajak tertentu yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban materiil dalam memenuhi ketentuan perpajakan. 2. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan. 3. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak. 4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar. 5. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang. Jenis-jenis ketetapan pajak ada dalam beberapa bentuk, yaitu: 1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. 2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan sebelumnya. 3. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. 4. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Daluwarsa penetapan pajak ditentukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau tahun Pajak. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas ketetapan pajak tersebut di atas kepada Kepala KPP atau KP2KP tempat Wajib Pajak terdaftar melalui: 1. Langsung ke KPP atau KP2KP dan akan diberikan Bukti Penerimaan Surat; 2. Melalui pos atau perusahaan jasa ekpedisi atau kurir dengan bukti pengiriman surat; 3. E-Filling yang disediakan oleh Dirjen Pajak maupun jasa penyedia aplikasi (Application Service Provider). Surat keberatan harus memenuhi persyaratan : 1. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia; 2. Wajib menyebutkan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar penghitungan; 3. 1 (satu) keberatan harus diajukan untuk 1 (satu) surat ketetapan pajak per jenis pajak, 1 (satu) pemotongan pajak, atau 1 (satu) pemungutan pajak; 4. Wajib Pajak telah melunasi pajak yang harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan; 5. Diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga kecuali Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur); dan 6. Surat keberatan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, surat keberatan tersebut harus dilampiri dengan surat kuasa khusus. Dalam hal Wajib Pajak memperbaiki surat keberatan yang telah disampaikan, maka tanggal penyampaian perbaikan surat keberatan merupakan tanggal surat keberatan diterima. Untuk keperluan pengajuan keberatan, Wajib Pajak dapat meminta Direktur Jenderal Pajak untuk memberi keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak

atau penghitungan rugi paling lama 2 bulan setelah tanggal pengiriman SKP, dan Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan yang diminta tersebut dalam jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak surat permintaan Wajib Pajak diterima. Jangka waktu pemberian keterangan oleh Direktur Jenderal Pajak tersebut tidak menunda jangka waktu pengajuan keberatan. Pengajuan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan dan tidak diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, dan hal ini wajib diberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak. Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima, harus memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan. Apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) telah lewat dan Direktorat Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima dan wajib diterbitkan Surat Keputusan Keberatan sesuai dengan keberatan Wajib Pajak. Keputusan keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya jumlah pajak terhutang. Apabila Wajib Pajak tidak atau belum puas dengan keputusan yang diberikan atas keberatan, Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak, dengan syarat: 1. Tertulis dalam bahasa Indonesia dan dengan alasan yang jelas; 2. Dalam jangka waktu 3 bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima; 3. Dilampiri salinan Surat Keputusan Keberatan; 4. Terhadap satu keputusan diajukan satu surat banding Putusan Pengadilan Pajak bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan banding, jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen). Dalam hal permohonan banding Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen). Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dapat mengajukan gugatan kepada Peradilan Pajak terhadap: 1. Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang; 2. Keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak; 3. Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang ditetapkan dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan; atau 4. Penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Namun, pihak yang bersengketa dapat mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak dan hanya dapat diajukan satu kali. SUMBER BACAAN Direktorat Jenderal Pajak, Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak. 2011. Jakarta: Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 2011. Jakarta: Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Undang-undang KUP dan Aturan Pelaksanaannya. 2011. Jakarta: Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Waluyo. Perpajakan Indonesia. Edisi 10-Buku 1. 2011. Jakarta: Salemba Empat. ISBN 978-979-061-220-4 www.pajakonline.com. Kode Seri NPWP. diakses 10 Februari 2015