BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Tugas Akhir. Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang paling potensial. Sejak

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. memenuhi pembangunan nasional secara merata, yang dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. adalah Self Assessment System yang berarti wajib pajak diberi kepercayaan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI. Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. ini pemungutnya dilaksakan oleh Pemerintah Pusat khususnya Depertemen

BAB I PENDAHULUAN. agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Dalam hal ini peran masyarakat Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. berbagai faktor pendukung terutama stabilitas ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. langsung berhubungan dengan teori keahlian yang diterima diperkuliahan. Praktik

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi. Sebagaimana tujuan dari negara Indonesia juga dapat sama-sama kita

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang taat pajak. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin tingginya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PRAKTEK KERJA LAPANGAN MANDIRI. Praktik Kerja Lapangan Mandiri adalah kegiatan yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. Keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan nasional sangat ditentukan

BAB I PENDAHULUAN. H. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) hak Negara dan hak warga Negara pembayar pajak. Hak Negara adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang telah berkembang dan menerapkannya dalam pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pajak merupakan sumber pendapatan terbesar bagi Anggaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk. membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2011).

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. mungkin hidup tanpa adanya masyarakat. Negara adalah masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. memperhatikan masalah pembiayaan dan pembangunan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktek Kerja Lapangan Mandiri. yang semula dilakukan Cuma-Cuma dan sifatnya memaksa tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Pajak merupakan sumber penerimaan yang paling potensial di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan berbagai terobosan yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) tengah menggalakkan pembangunan disegala aspek kehidupan masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan ekonomi daerah khususnya pemerintah kota merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) (APBN) terbesar. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan pemerintahan yang

PENDAHULUAN BAB I. terus berupaya dalam memaksimalkan potensi pajak untuk memenuhi APBN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang masih terus

BAB I PENDAHULUAN. H. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Utara, oleh sebab itu mahasiswa/i diwajibkan untuk melakukan riset dan

BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang memiliki

BAB II LANDASAN TEORI. keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 ketentuan Umum dan Tata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan informasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Sebagai salah satu negara berkembang Indonesia sedang melaksanakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang diperjualbelikan, telah dikenai biaya pajak selain dari pada harga pokoknya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) tujuan pembangunan tersebut. Untuk mencapai pembangunan itu maka pemerintah

PERPAJAKAN (SEBUAH PENGANTAR) Disampaikan oleh: Rr. Indah Mustikawati, M.Si., Ak.

Perpajakan, Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh. untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB I PENDAHULUAN. peraturan perundang-undangan tanpa imbalan jasa secara langsung untuk. membiayai penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan

BAB II TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA. Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi. Pajak mempunyai definisi yang berbeda-beda menurut sudut pandang yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan (daya pikul) masing-masing yang dapat dipaksakan untuk membiayai

BAB I PENDAHULUAN. Penerimaan Negara dari sektor perpajakan merupakan sumber utama. untuk pembangunan nasional dan penyelenggaraaan pemerintahan.

BAB I PENDAHULUAN. dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. memiliki sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari hasil Pajak Daerah. Pajak

Perpajakan. Aryo Prasetyo, S.Kom., MMSI Vokasi Akuntansi UI, STIE Dewantara, IBI K-57. (Sesi 1)

BAB I PENDAHULUAN. satu-satunya. Dari berbagai alasan pengenaan pajak, kebijakan pajak di Indonesia akhir-akhir

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagaimana kita ketahui,peranan pajak semakin besar dan penting dalam

LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu sumber penerimaan terbesar dari APBN negara Indonesia adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. disebabkan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui dengan baik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri ( PKLM ) untuk mewujudkannya. Untuk menanggulangi dana yang cukup besar itu,

BAB I PENDAHULUAN. besar pula dalam menjalankan fungsi kenegaraannya.sebagai Negara yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. Praktik kerja lapangan ini adalah salah satu mata kuliah yang harus diambil

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. selalu melakukan pembangunan guna kemajuan bangsa.

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)

ekonomi K-13 PERPAJAKAN K e l a s A. PENGERTIAN PAJAK Semester 1 Kelas XI SMA/MA K-13 Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM) Sebagai mahluk hidup dan juga sosial manusia memerlukan fasilitas-fasilitas

BAB II LANDASAN TEORI. pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. P. J. A. Adriani

kesadaran masyarakatnya dalam mematuhi aturan-aturan yang ditentukan oleh pelayanan dan fasilitas umum maupun penyediaan biaya bagi pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM ) bebas yang menyeluruh (global). Negara Indonesia berusaha segiat-giatnya

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Pajak Pengertian Pajak Rochmat Soemitro (1990;5)

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI. rakyat pada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan)

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengatur keseimbangan kehidupan perekonomian dan pemanfaatan dana

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi pajak menurut undang-undang dan pakar pajak sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. anggaran dana yang besar. Dana tersebut diperoleh dari penerimaan dalam negeri dan

BAB I PENDAHULUAN. Kelangsungan hidup negara juga berarti kelangsungan hidup. cukup dalam membiayai kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. Pelaksanaan praktek kerja lapangan mandiri ( PKLM ) merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktek Kerja Lapangan Mandiri. mahasiswa secara mandiri yang bertujuan memberikan pengalaman praktis di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri ( PKLM ) PKLM adalah suatu kegiatan yang dilakukan mahasiswa secara mandiri yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi pajak menurut Soemitro, S.H (1990) dalam Resmi (2013) adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 ayat 1:

BAB II LANDASAN TEORI. a. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H. ( Resmi, 2013) (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. mempunyai pendapat yang berbeda, antara lain:

BAB II LANDASAN TEORI. pembangunan yang berguna bagi kepentingan bersama. atau definisi pajak yang berbeda-beda, namun demikian berbagai definisi

PENGANTAR PERPAJAKAN. Amanita Novi Yushita, M.Si

Sama seperti pajak, namun terdapat imbalan (kontra-prestasi) secara langsung yang dapat dirasakan oleh pembayar retribusi

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH definisi pajak yaitu iuran rakyat

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Tinjauan Teori Pengertian Pajak

BAB I PENDAHULUAN. kepada keadilan sosial. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, negara harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Theory of Reasoned Action atau Teori Aksi Rencana (TRA)

BAB I PENDAHULUAN. Dimana setiap warga negara yang memenuhi syarat secara hukum, wajib untuk

BAB I PENDAHULUAN. dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran. ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Dasar-dasar Perpajakan. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

BAB II LANDASAN TEORI. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-undang

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. paling populer bagi negara. Hal ini terjadi akibat pengaruh pergeseran penerimaan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tugas Akhir Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang paling potensial. Sejak dilakukannya reformasi pajak yang pertama pada tahun 1984, diharapkan penerimaan pajak sebagai sumber utama pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat dipertahankan kesinambungannya. Sebagai sumber penerimaan yang menjadi sumber utama, otomatis dana dari pajak sangat berperan dalam neraca keuangan pemerintahan. Manfaat pajak bisa dilihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari hampir disemua sektor seperti, fasilitas kesehatan, transportasi, pendidikan, sarana dan prasarana umum, dan lain-lain. Mengingat begitu pentingnya peranan pajak maka dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan penerimaan pajak. Diharapakan upaya yang dilakukan mampu untuk dijadikan sebagai penggerak pembangunan yang sedang dan akan terjadi. Tanggung jawab dibidang perpajakan sebagai pencerminan kewajiban kenegaraan berada pada setiap Warga Negara sebagai Wajib Pajak. Hal ini sesuai dengan sistem self assessment yang dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Artinya setiap Wajib Pajak bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kewajiban pembayaran pajak, pelaporan pajak dan pemberitahuan pajak yang terutang kepada pemerintah, yang dalam hal ini diatur oleh Direktorat Jenderal Pajak. 21

Pembayaran pajak adalah wujud dari kewajiban kenegaraan dan peran serta dari Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sebelum melakukan pembayaran pajak maka Wajib Pajak harus memberitahukan terlebih dahulu jumlah pajak yang terutang kepada fiskus melalui Surat Setoran Pajak (SSP). Setelah membayar pajak melalui Surat Setoran Pajak (SSP) ke bank atau kantor pos, maka Wajib Pajak melaporkan berapa pajak yang dibayar atau dipotong melalui Surat Pemberitahuan (SPT) pajak. Surat Pemberitahuan (SPT) ini berisi informasi perpajakan yang benar dan akurat mengenai besarnya jumlah pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajak kepada pemerintah. Pada awalnya Surat Pemberitahuan (SPT) pajak disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderap Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak secara manual. Artinya Surat Pemberitahuan (SPT) tersebut disampaikan dalam bentuk hardcopy (berbentuk kertas) yang sudah disediakan oleh Kantor Pelayanan Pajak. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pajak dalam meningkatkan penerimaan Negara, salah satu upaya yang telah dilakukan pihak Direktorat Jenderal Pajak dengan menerapkan teknologi informasi dalam pelayanan perpajakan kepada Wajib Pajak melalui perubahan mendasar yang berkaitan dengan modernisasi pajak, yaitu dilaksanakannya pelayanan kepada Wajib Pajak yang baru untuk menfasilitasi penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) menggunakan sistem elektronik (e- Filing). Electronic Filing System (e-filing) yaitu sistem pelaporan atau penyampaian pajak dengan Surat Pemberitahuan (SPT) yang dilakukan secara

elektronik melalui sistem online yang real time. Pemerintah melakukan reformasi berbasis internet ini karena keinginan Wajib Pajak untuk melapor pajak masih tergolong rendah. Hal itu terjadi karena tidak adanya kesadaran, kejujuran, kedisiplinan dan keinginan Wajib Pajak untuk melakukan kewajibannya sesuai peraturan perpajakan yang berlaku. Oleh karena itu dengan penerapan sistem e- Filing ini diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Pada dasarnya penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara e-filing ini merupakan upaya dari Direktorat Jenderal Pajak untuk memberikan kemudahan pelayanan bagi Wajib Pajak dalam melaporkan jumlah pajak yang harus dibayarkannya. Karena Wajib Pajak tidak perlu datang secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT). Sedangkan bagi Aparat Pajak, teknologi e-filing ini mampu memudahkan mereka dalam pengelolaan database karena penyimpanan dokumen-dokumen Wajib Pajak telah dilakukan dalam bentuk digital. Dengan teknologi ini Pemerintah berharap adanya peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dalam pelaksanaan kewajiban perpajakannya. Namun pada kenyataannya proses untuk melakukan efisiensi kewajiban pajak melalui fasilitas e-filing ini tidak semudah yang dibayangkan, misalnya kesulitan yang dialami Wajib Pajak untuk entry data dokumen perpajakannya karena belum memahami sepenuhnya mengenai mekanisme penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) pajak secara elektronik tersebut. Untuk mengetahui gambaran lebih jelas mengenai permasalahan tersebut maka Penulis bermaksud untuk membuat sebuah tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan dalam bentuk Tugas Akhir dengan judul: Tinjauan Atas Tingkat

Kepatuhan Pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi Secara E-Filing Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. B. Tujuan dan Manfaat Tugas Akhir 1. Tujuan Tugas Akhir Adapun tujuan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah : a. Mengetahui mekanisme pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi secara E-Filing pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. b. Mengetahui tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi secara E- Filing pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 2. Manfaat Tugas Akhir Adapun manfaat dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah : a. Bagi Mahasiswa 1. Untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan studi pada Diploma III Administr asi Perpajakan. 2. Sebagai media untuk menambah wawasan dan menguji kemampuan mahasiswa dalam bidang perpajakan khususnya mengenai E-Filing. 3. Guna menciptakan dan mengembangkan rasa tanggung jawab, profesionalitas serta kedisiplinan yang nantinya hal-hal tersebut sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.

4. Memahami modernisasi yang telah dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. b. Bagi Program Studi Administrasi Perpajakan FISIP USU 1. Menciptakan hubungan kerja sama khususnya Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan dengan instansi pemerintah khususnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 2. Membuka interaksi antara Program Studi Administrasi Perpajakan dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Barat dalam memberikan uji nyata mengenai ilmu pengetahuan yang diterima mahasiswa melalui penulisan Tugas Akhir. 3. Untuk mendorong mahasiswa untuk selalu update dengan peraturan-peraturan perpajakan. 4. Guna memberikan penawaran umpan balik bagi kurikulum dengan bertambahnya wawasan pengetahuan. c. Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah 1. Sebagai sarana untuk menciptakan hubungan positif antara Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah dengan Program Studi Administrasi Perpajakan FISIP USU. 2. Menambah ide dan gagasan untuk perbaikan sistem kerja yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 3. Mempromosikan image yang baik tentang Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah kepada masyarakat khususnya wajib pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah.

C. Uraian Teoritis Tugas Akhir 1. Pengertian Pajak a. Menurut Undang- Undang KUP Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat (1) Secara umum, pajak adalah Kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengar tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk kepentingan negara bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. b. Prof. Dr. Rochmat Soemitro Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapa jasa kontraprestasi yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2011:1). c. M.J.H.Smeets dalam bukunya De Economische Betekenis der Belastingen, 1995 Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui normanorma umum, dan yang dapat dipksakan, tanpa ada kalanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual, maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah (Suandy, 2011: 9). d. Soeparman Soemahamidjaja dalam disertasinya yang berjudul Pajak Berdasarkan Asas Gotong Royong, Universitas Padjajaran, Bandung, 1964

Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum (Suandy, 2011: 9). 2. Sistem Pemungutan Pajak Sistem pemungutan pajak dibagi dalam 3 bagian sebagai berikut : a. Official Assesment System Sistem pemungutan yang memberi wewengang kepada pemerintah (fiksus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang olwh Wajib Pajak menurut perundang-undangan perpajakan yang berlaku. b. Self Assesment System Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Wajib Pajak menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar. c. With Holding System Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) utnuk menentukan pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. 3. Unsur Pajak Unsur-unsur yang terdapat pada pengertian pajak, antara lain : a. Pajak dipungut berdasarkan Undang-Undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 23A yang menyatakan, Pajak dan pungutan lain yang

bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur dalam Undang- Undang. b. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi perseorangan) yang dapat ditunjukkan secara langsung. Pajak merupakan salah satu sarana pemerataan pendapatan warga Negara. Ketika membayar pajak dalam jumlah tertentu, wajib pajak tidak langsung menerima manfaat pajak yang dibayar, yang akan wajib pajak dapatkan berupa perbaikan jalan raya, fasilitas kesehatan gratis, beasiswa pendidikan, dan lain-lainnya. c. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan. d. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. e. Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi menisci kas Negara atau anggaran Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan Negara dalam lapangan ekonomi dan social (fungsi mengatur atau regulatif). 4. Fungsi Pajak Terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi budgetair (sumber keuangan Negara atau anggaran) dan fungsi regulerend (pengatur).

a. Fungsi Budgetair Pajak mempunyai fungsi budgetair, artinya pajak merupakan sumber pemasukan keuangan Negara dengan cara mengumpulkan dana atau uang dari wajib pajak ke kas Negara untuk membiayai pembangunan nasional atau pengeluaran Negara lainnya. Sehingga fungsi pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran Negara dengan pendapatan Negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta Bea Materai (BM). b. Fungsi Regulered Pajak mempunyai fungsi mengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, serta mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan. Fungsi mengatur tersebut antara lain : 1. Pajak dapat digunakan untuk menghambat laju inflasi. 2. Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor, seperti : pajak ekspor barang. 3. Pajak dapat memberikan proteksi atau perlindungan terhadap barang produksi dari dalam negeri, contohnya : Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

4. Pajak dapat mengatur dan menarik investasi modal yang membantu perekonomian agar semakin produktif. 5. Jenis-Jenis Pajak Terdapat berbagai jenis pajak yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pengelompokan jenis pajak menurut golongan, menurut sifat, dan menurut lembaga pemungutnya. a. Pajak Menurut Golongannya 1. Pajak Langsung adalah pajak yang diberikan secara berkala kepada wajib pajak berlandaskan surat ketetapan pajak yang dibuat kantor pajak. Di dalam surat ketetapan pajak terdapat jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Pajak langsung harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh). 2. Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang hanya diberikan kepada wajib pajak bila melakukan peristiwa atau perbuatan tertentu. Sehingga pajak tidak langsung tidak dapat dipungut secara berkala, tetapi hanya dapat dipungut bila terjadi peristiwa atau perbuatan tertentu yang menyebabkan kewajiban membayar pajak. Pajak tidak langsung pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

b. Pajak Menurut Sifatnya 1. Pajak Subjektif adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya dan selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan (PPh). 2. Pajak Objektif adalah pajak yang berdasarkan objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai (PPN). c. Pajak Menurut Lembaga Pemungutnya 1. Pajak Pusat adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat melalui instansi terkait dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas barang Mewah. 2. Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah, baik Pemerintah Daerah Tingkat I maupun Tingkat II dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas : a. Pajak Provinsi Contoh : Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak Air Permukaan. b. Pajak Kabupaten/Kota Contoh : Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan.

6. Tarif Pajak Tarif pajak merupakan angka atau persentase yang digunakan untuk menghitung jumlah pajak atau jumlah pajak terutang. Terdapat empat macam tarif pajak, yaitu : a. Tarif Pajak Tetap Tarif pajak tetap, yaitu tarif pemungutan pajak dengan jumlah yang sama untuk setiap jumlah sebagai pengenaan dasar pajak. Sebagai contoh adalah tarif bea materai. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 1.1 Besaran Tarif Pajak Tetap Dasar Pengenaan Pajak Tarif 250.000 sampai dengan 1.000.000 Rp 3.000 Di atas 1.000.000 Rp 6.000 b. Tarif Pajak Sebanding (Proporsional) Tarif pajak sebanding (proporsional), yaitu tarif pemungutan pajak dengan persentase yang tetap untuk setiap jumlah sebagai pengenaan dasar pajak. Hal ini berarti pajak yang terutang akan semakin besar dengan semakin besarnya jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. Sebagai contoh adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yaitu sebesar 10% dari harga jual. c. Tarif Pajak Progresif Tarif pajak progresif, yaitu tarif pemungutan pajak dengan persentase yang semakin besar apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak meningkat. Hal ini berarti, ada beberapa klasifikasi tertentu sesuai dengan jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. Sebagai contoh,

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 sesuai dengan Pasal 17 (1), Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008, bahwa tarif pajak penghasilan pribadi perhitungannya dengan menggunakan tarif progresif sebagai berikut : Tabel 1.2 Tarif Pajak Penghasilan Pribadi Berdasarkan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 Penghasilan Neto Kena Pajak Tarif Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000 5% Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 250.0000.000 15% Rp 250.000.000 sampai dengan Rp 500.000.000 25% Di atas Rp 500.000.000 30% Dalam hal ini, tarif pajak progresif dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : 1. Progresif Proporsional yaitu tarif pemungutan pajak dengan persentase yang naik secara tetap dengan semakin besarnya jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. 2. Progresif Degresif yaitu tarif pemungut pajak dengan persentase yang naik secara menurun dengan semakin besarnya jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. 3. Progresif Progresif yaitu tarif pemungutan pajak dengan persentase yang naik secara menaik dengan semakin besarnya jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. d. Tarif Pajak Degresif Tarif pajak degresif adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase yang semakin kecil dengan semakin besarnya jumlah sebagai dasar pengenaan pajak. Hal ini tidak berarti, pajak yang terutang semakin kecil bahkan akan semakin besar. Akan tetapi kenaikan ini tidak proporsional dengan kenaikan jumlah sebagai dasar pengenaan pajak.

7. Wajib Pajak Menurut UU No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berbunyi: Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Kewajiban Wajib Pajak adalah : a. Kewajiban Mendaftarkan Diri Sesuai dengan self assessment system maka Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat tinggal atau kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). b. Kewajiban Pembayaran, Pemotongan atau Pemungutan, Dan Pelaporan Pajak Wajib Pajak UMKM (orang pribadi atau badan) dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya harus sesuai dengan self assessment system, yaitu wajib melakukan sendiri penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak terutang. c. Kewajiban Dalam Hal Diperiksa Untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, Direktur Jenderal Pajak (DJP) dapat melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap

Wajib Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. 8. Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) Menurut Pasal 1 Undang-Undang KUP No. 28 Tahun 2007, pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) adalah Surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/ atau pembayaran pajak, objek pajak dan/ atau bukan objek pajak, dan/ atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. 9. Electronic Filing Identification Number (E-FIN) E-FIN adalah nomor identitas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kepada pembayar pajak yang melakukan transaksi elektronik dengan DJP. 10. Electronic Filing System (E-Filing) E-Filing adalah suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan atau penyampain pemberitahuan perpanjangan Surat Pemberitahuan Tahunan secara elektronik yang dilaukan secara online yang real time melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau penyedia jasa aplikasi atau Application Service Provider (ASP). 11. Kepatuhan Wajib Pajak Kepatuhan (bahasa Inggris : compliance) berarti mengikuti suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan oleh lembaga atau organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu (id.wikipedia.org). Sedangkan kepatuhan Wajib Pajak merupakan suatu kemauan dan kesadaran Wajib Pajak mengenai

kewajibannya dalam bidang perpajakan. Kemauan dan kesadaran Wajib Pajak akan menjadi perubahan sikap Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban dan hak perpajakannya. D. Ruang Lingkup Tugas Akhir Adapun yang menjadi ruang lingkup Penulisan Tugas Akhir ini adalah : 1. Mekanisme pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi secara E-Filing pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 2. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi secara E-Filing pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. E. Metode Penulisan Tugas Akhir Untuk menyimpulkan data dan informasi yang diperlukan maka penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut : 1. Tahap Persiapan Dalam tahap ini penulis menyediakan persiapan yang dibutuhkan mulai dari pengenalan objek pajak yang akan dibahas, pengajuan judul, persetujuan judul oleh Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan, penyusunan proposal, seminar proposal, berkonsultasi dengan dosen pembimbing yang ditunjuk oleh Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan, dan memohon surat pengantar Penulisan Tugas Akhir dari pihak Fakultas atau Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan.

2. Studi Literatur (Kepustakaan) Dalam tahap ini penulis menyediakan persiapan kegiatan studi mencari data dan informasi dengan membaca landasan teori, menelaah buku-buku literature, peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, catatancatatan, maupun bahan tertulis yang ada hubungannya dengan laporan penelitian. 3. Observasi Lapangan Dalam tahap ini penulis melakukan peninjauan atau pengamatan secara langsung kelapangan, mencari data-data dan informasi mengenai E-Filing dalam memenuhi kewajiban perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 4. Pengumpulan Data Dalam tahap ini penulis mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam menyusun Tugas Akhir yang terdiri dari : a. Data Primer yaitu data-data yang diperoleh dari pihak-pihak yang mengetahui dan memahami tentang pelaporan SPT dengan e-filing di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah dan mewawancarai pegawai pajak yang berkompeten di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. b. Data Sekunder yaitu data-data yang diperoleh dari referensi ilmiah yang mendukung penulisan Tugas Akhir. 5. Analisis Dan Evaluasi Data

Dalam tahap ini penulis menganalisa dan mengevaluasi permasalahan berupa informasi data-data yang telah dikumpulkan secara kualitatif yang akan disajikan secara objektif, jelas dan sistematis. F. Metode Pengumpulan Data Tugas Akhir Untuk menyimpulkan data dan informasi yang diperlukan,maka penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut : 1. Metode observasi Kegiatan mengumpulkan dan mencari data secara langsung dengan terjun ke lapangan untuk melakukan peninjauan dengan mengamati, mendengar, dan meneliti bagaimana tingkat kepatuhan pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi secara E-Filing Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. 2. Metode Wawancara Kegiatan mengajukan beberapa pertanyaan dengan melakukan wawancara secara langsung dengan kepala seksi atau pegawai pajak yang berkompoten dan menambah objektif yang berpotensi mendukung hasil penulisan Tugas Akhir untuk memperoleh data yang dibutuhkan. 3. Dokumentasi Mengumpulkan dan mencari data dengan membuat daftar dokumentasi yang telah diperoleh dari Kantor Pelayanan Pajak Medan Petisah maupun Wajib Pajak, serta penulis melakukan pengamatan yang dilakukan berdasarkan bahan bacaan di perpustakaan, Undang-Undang Perpajakan, Peratuaran Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan Direktorat Jenderal Pajak, Surat Edaran, dan sumber lainnya yang

berhubungan dengan penulisan Tugas Akhir, untuk memperoleh data dan keterangan yang dibutuhkan. G. Sistematika Penulisan Tugas Akhir BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan tujuan dan manfaat, uraian teorotis, ruang lingkup, metode penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan Tugas Akhir. BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK LAPORAN TUGAS AKHIR Pada bab ini penulis menerangkan tentang sejarah singkat, struktur organisasi, uraian tugas pokok dan fungsi, serta gambaran mengenai pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. BAB III GAMBARAN DATA Pada bab ini penulis menguraikan tentang data yang berkaitan teori yang ada dengan data yang diperoleh di lapangan, yaitu dimulai dari pengertian, tujuan dan sasaran, mekanisme pelaporan, serta penyuluhan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI Pada bab ini penulis akan menganalisa penerapan teori yang ada dengan data yang diperoleh lapangan mengenai mekanisme pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi serta tingkatan kepatuhan Wajib di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran penulis sehubungan dengan uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya ang mungkin dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak khusunya di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah.