Mengapa (Perlu) Pendidikan Karakter?



dokumen-dokumen yang mirip
A. Pendahuluan B. Ragam Pendidikan Karakter

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. A. Kesimpulan Hasil Penelitian dan Pengembangan

PENGEMBANGAN KONSEP DASAR PKN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mubarak Ahmad, 2014

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu

KOMPONEN KARAKTER (Thomas Lickona) Oleh: Kuncahyono Pasca UM

PENDIDIKAN PANCASILA (2 SKS)

BAB I PENDAHULUAN. dampak bagi gaya hidup manusia baik positif maupun negatif. Di sisi lain kita

Oleh Herminarto Sofyan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA Darussalam, Banda Aceh

BAB I PENDAHULUAN. yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PROGRAM KERJA WAKIL REKTOR BIDANG KEMAHASISWAAN PEROIDE

BAB I PENDAHULUAN. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PENDIDIKAN KARAKTER

ANALISIS TUJUAN MATA PELAJARAN Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam. Ranah Kompetensi K A P

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik

DINAMIKA KEMAHASISWAAN DAN ARAH KEBIJAKAN UNY DALAM PEMBINAAN KEMAHASISWAAN. Oleh Herminarto Sofyan

PENANAMAN NILAI-NILAI KARAKTER BANGSA DALAM PEMBELAJARAN

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Contoh Pendidikan Karakter Dalam Mata Kuliah: Sikap Mental Etika Profesi

Peran Pendidikan Keluarga dalam Mewujudkan Anak Indonesia Berkarakter

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pendidikan Politik

I. PENDAHULUAN. Upaya pemerintah dalam menanamkan kembali nilai-nilai karakter (luhur) dilatar

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PKN SD

HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Rohiman Lesmana, 2013

om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Oleh: Dr. Marzuki Universitas Negeri Yogyakarta

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI: KAJIAN TEORITIS PRAKTIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Implikasi kompetensi guru dapat dilihat antara lain meliputi : penguasaan bahan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang sangat vital bagi sebuah Negara. Pendidikan

SILABUS MATA KULIAH PENDIDIKAN KARAKTER FAKULTAS ILMU SOSIAL UNY

BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab,

BAB II KAJIAN TEORITIS. menentukan keberhasilan sebagai bentuk dari pencapaian tujuan bersama yang

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah survei pernah dilakukan Mazzola (2003) tentang bullying di sekolah.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KONSEP DASAR KURIKULUM 2004

SILABUS MATA KULIAH PENDIDIKAN KARAKTER FIS UNY

PERATURAN KELUARGA BESAR MAHASISWA FAKULTAS NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG GARIS-GARIS BESAR HALUAN KERJA KELUARGA BESAR MAHASISWA

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa

SILABUS PANCASILA & KEWARGANEGARAAN S1 FARMASI

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. Akhlak sebagai potensi yang bersemayam dalam jiwa menunjukkan

CAPAIAN PEMBELAJARAN BERBASIS KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. teknologi dan seni (Ipteks) yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai

S1 Manajemen. Visi. Misi

BAB I PENDAHULUAN. menjunjung tinggi nilai nilai kesopanan, sehingga dikenal sebagai bangsa yang

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara juga. meningkatkan kualitas pendidikan.

PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN

PENDIDIKAN PANCASILA (Pendahuluan) Modul 1

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI MPK BERBASIS KOMPETENSI

BAB I PENDAHULUAN. pengawasan orang tua terhadap kehidupan sosial anak, kondisi lingkungan anak

No membangun kurikulum pendidikan; penting dan mendesak untuk disempurnakan. Selain itu, ide, prinsip dan norma yang terkait dengan kurikulum

2015 PENERAPAN MODEL VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE (VCT) TIPE ANALISIS NILAI DALAM PEMBELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH. Agus Munadlir Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Wates

STANDAR UNIVERSITAS DHYANA PURA

Kurikulum 2013 MANAJEMEN PEMBELAJARAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Erwin Susanto, 2015

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan kewarganegaraan (PKn) adalah program pendidikan berdasarkan nilainilai

Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomer: 328/PER/2011

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan

No. KOMPETENSI INTI GURU KOMPETENSI GURU TK/ PAUD Kompetensi Pedagodik

TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI (PENDIDIKAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT)

Kurikulum Berbasis KKNI

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang MasalahPendidikan di Indonesia diharapkan dapat

ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN Oleh: Hermanto SP Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa

PEDOMAN PERILAKU MAHASISWA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan.

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN

BAB V PEMBAHASAN. terurai, maka dalam pembahasan ini akan disajikan sesuai dengan permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik

PENDIDIKAN KARAKTER DI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. Dr. Marzuki, M.Ag., dkk. TIM PENDIDIKAN KARAKTER UNY

Disampaikan pada PPM di MAN 2 Wates, 16 Mei

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER PADA MAHASISWA 1

Sasaran dan. Pengembangan Sikap Profesional. Kompetensi Dasar

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

PERAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER BELAJAR DAN SARANA PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA IMPLEMENTASI KTSP DALAM PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. budaya dalam bentuk pola pikir. Sebagai proses transformasi, sudah barang tentu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

Standar Kurikulum Penilaian landasan penumbuh kembangan kompetensi abad 21 dan karakter bangsa

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

PEDOMAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH DASAR UMUM (MKDU)

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP)

Transkripsi:

Mengapa (Perlu) Pendidikan Karakter? Kaji Ulang Pengalaman di FISE Universitas negeri Yogyakarta Oleh: Samsuri E-mail: samsuri@uny.ac.id Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum FISE Universitas Negeri Yogyakarta Sosialisasi Pendidikan Karakter untuk Dosen dan Karyawan FISE UNY Wonosobo, 14 Januari 2011

Pada Mulanya ialah Bertanya Mengapa perlu pendidikan karakter? Apakah karakter dapat dididikkan? Karakter apa yang perlu dididikkan? Bagaimana mendidikkan aspek-aspek karakter secara efektif? Bagaimana mengukur keberhasilan sebuah pendidikan karakter? Siapa yang harus melakukan pendidikan karakter? Bagaimana hubungannnya dengan bidang studi lainnya?

Pendidikan Karakter di FISE UNY Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta telah menjadikan Pendidikan Karakter sebagai sebuah program kurikuler mulai tahun akademik 2009/2010, meski baru diterapkan sejak semester Gasal 2010/2010. Perlu langkah penting untuk mengkaji ulang secara mendalam tentang pendidikan karakter itu sendiri. Pertanyaan lanjutannya: Apakah pendidikan karakter di FISE UNY sebagai sebuah keberanian kebijakan pendidikan fakulter akan terus berlanjut tanpa mengenal pergantian pimpinan fakultas? Jangan sampai terjadi, sebuah mata kuliah lahir karena sebuah kekuasaan tengah berlangsung. Pergantian kepemimpinan (fakultas atau pun universitas) jangan menjadi faktor utama penggantian atau penghapusan sebuah nomenklatur suatu mata kuliah.

Konsep Pendidikan Karakter Substansi Kajian: nilai-nilai, karakter-berbasis nilai. Nomenklatur: Pendidikan Karakter; Pendidikan Nilai; Pendidikan Moral; Pendidikan Budi Pekerti. Sumber nilai : agama, ajaran kebajikan/filosofi, budaya.

Awalnya.. Krisis kepribadian terutama mahasiswa: perilaku terhadap diri sendiri, perilaku terhadap orang lain, perilaku terhadap lingkungan, perilaku akademik dan etos keilmuan. Visi dan Misi UNY KAMPUS CENDEKIA, BERNURANI DAN MANDIRI INISIATIF pimpinan FISE UNY dan bagian besar dosen untuk menjembatani kesenjangan program kurikuler pengembangan kepribadian yang belum optimal Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan. Program pengembangan profesi: Etika Profesi

Awalnya. Pesimisme dan skeptisme sebagian pihak terhadap Pendidikan Karakter sbg program kurikuler mata kuliah tersendiri, over lapping, optimalisasi mata kuliah yang ada (MDU), karakteristik program studi (kependidikan & nonkependidikan)

Eksklusif Beberapa (kemungkinan) perdebatan Politis Penanggung jawab pendidikan karakter Overlapping kajian

Catatan Pengalaman Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (TUBAPI) dan Penataran P4 di masa lampau Pendidikan Karakter sepanjang hayat Pendidikan Karakter di Kampus Pendidikan Karakter di sejumlah Negara: 1. Cross curricular (CE dan Social Studies di USA, Crick Report UK) 2. Separated subject (CE di Canada, Civic and Moral Education Singapore, PMP dan PPKn di Indonesia).

Pendidikan Karakter FISE UNY Tradisi perubahan kurikulum tanpa studi / riset pembaharuan kurikulum Top-down assumption top down policy Bahaya atau Nilai Plus?

Komponen Pendidikan Karakter yang dikembangkan mengadaptasi Lickona (1991)

Pendidikan Karakter: Belajar dari orang lain Apakah nilai-nilai pembangun karakter yang diajarkan dalam setiap mata kuliah harus bersifat ekplisit ataukah implisit saja? Sejarah sebagai sebuah alat untuk membantuk siswa mengembangkan toleransi atau komitmen rasional terhadap nilai-nilai demokratis. Bahasa Inggris sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kemandirian dan menghormati orang lain Pengajaran Bahasa Modern untuk menjamin kebenaran dan integritas personal dalam berkomunikasi Matematika sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan tanggung jawab sosial Ilmu Alam dan Geografi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan sikap-sikap tertentu terhadap lingkungan Desain dan Teknologi sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan nilainilai multikultural dan anti-rasis Ekspresi Seni sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kualitas fundamental kemanusiaan dan tanggapan spiritual terhadap kehidupan Pendidikan Jasmani dan Olah Raga sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan kerjasama dan karakter bermutu lainnya (diadaptasikan dari Halstead dan Taylor, 2000: 173).

Lalu. Pendidikan karakter dapat diselenggarakan sebagai program kurikuler yang berdiri sendiri (separated subject) dan lintas kurikuler (integrated subject). Namun, pendidikan karakter juga dapat dilaksanakan semata-mata sebagai bagian dari program ekstra-kurikuler seperti dalam kegiatan kepanduan, layanan masyarakat (community service), maupun program civic voluntary dalam tindakan insidental seperti relawan dalam mitigasi bencana alam.

Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter FISE UNY 1. Rasa hormat (respect) dan peduli (care) 2. Jujur (honesty) 3. Disiplin dan Tanggungjawab (responsibility) 4. Patriotik (patriotic).

Perspektif Pendidikan Karakter A. Perspektif programatik 1. Habit versus Reasoning. 2. Hard versus Soft virtues. 3. Focus on the individual versus on the environment or community. B. Perspektif Teoritis 1. Community of care (Watson) 2. constructivist approach to sociomoral development (DeVries) 3. child development perspectives (Berkowitz) 4. eclectic approach (Lickona) 5. traditional perspective (Ryan) (the National Commission on Character Education dalam Williams, 2000: 36) C. Strategi-strategi Pengajaran 1. Community of care (Watson) 2. constructivist approach to socio-moral development (DeVries) 3. child development perspectives (Berkowitz) 4. eclectic approach (Lickona) 5. traditional perspective (Ryan) (the National Commission on Character Education dalam Williams, 2000: 36)

Perspektif Pendidikan Karakter - 2 D. Instrumen efektivitas Pendidikan Karakter 1. mempromosikan inti nilai-nilai etis sebagai dasar karakter yang baik (nilai-nilai etis yang pokok dapat berasal dari ajaran agama, kearifan lokal, maupun falsafah bangsa). 2. mengartikan karakter secara utuh termasuk pemikiran, perasaan dan perilaku (cipta, rasa, karsa dan karya dalam slogan pendidikan di UNY). 3. menggunakan pendekatan yang komprehensif, bertujuan dan proaktif untuk perkembangan karakter. 4. menciptakan suatu kepedulian pada masyarakat kampus. 5. memberikan para mahasiswa peluang untuk melakukan tindakan moral. 6. memasukkan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang dengan menghormati semua peserta didik, mengembangkan kepribadiannya, dan membantu mereka berhasil. 7. mendorong pengembangan motivasi diri mahasiswa. 8. melibatkan staf/karyawan kampus sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggungjawab untuk pendidikan karakter serta berupaya untuk mengikuti nilai-nilai inti yang sama yang memandu pendidikan para mahasiswa. 9. memupuk kepemimpinan moral dan dukungan jangka-panjang terhadap inisiatif pendidikan karakter. 10. melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter. 11. menilai karakter kampus, fungsi staf kampus sebagai pendidik karakter, dan memperluas kesempatan para mahasiswa untuk menampilkan karakter yang baik. (Character Education Partnership, 2003:5-15)

PENDIDIKAN NILAI Konsep Pokok Nilai: the principles and fundamental convictions which act as general guides to behaviour, the standards by which particular actions are judged as good or desirable. (Halstead & Taylor, 2000: 169) Konsep Pendidikan Nilai:.any explicit and/or implicit school-based activity to promote student understanding and knowledge of values, and to inculcate the skills and dispositions of students so they can enact particular values as individuals and as members of the wider community. (Curriculum Corporation, 2003: 2)

PENDIDIKAN NILAI KONSEP DASAR: Upaya eksplisit untuk mengajar tentang nilai-nilai, untuk membantu siswa membantu mengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak dengan caracara yang pasti. ( an explicit attempt to teach about values. helps students develop dispositions to act in certain ways). (Curriculum Corporation, 2003: 33) Pendekatan-pendekatan Pendidikan Nilai (yang dominan): Pendekatan pendidikan karakter (prescriptive approach) berpendapat bahwa sekolah harus memainkan peranan lebih ekstensif dalam pengajaran nilai-nilai di masyarakat dengan melalui pengajaran langsung (direct instruction), ataupun program-program yang dirancang secara khusus. Pendekatan perkembangan kognitif berpendapat bahwa pendidikan nilai-nilai atau pendidikan moral harus didukung/dipromosikan melalui pengembangan penalaran dan mengupayakan metode-metode pengajaran seperti penalaran moral dengan menggunakan dilema moral agar dapat dikembangkan kemampuan siswa membuat keputusan-keputusan moral dan klarifikasi nilai.

TIPOLOGI PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI - 1 PENDEKATAN TUJUAN METODE INCULCATION Moral Development untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepada siswa untuk mengubah nilai-nilai dari para siswa yang mereka refleksikan sebagai nilai tertentu yang diharapkan untuk membantu siswa mengembangkan pola-pola penalaran moral yang lebih kompleks berdasarkan seperangkat nilainilai yanglebih tinggi. Untuk mendorong para siswa mendiskusikan alasan-alasan pilihan dan posisi nilai mereka, tidak hanya berbagi dengan lainnya, tapi untuk membantu perubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa modelling penguatan positif/ negatif alternatif permainan game dan simulasi role playing episode dilema moral dengan diskusi kelompok kecil Secara relatif dan argumentatif tanpa menghadirkan sebuah jawaban benar dengan tepat (melalui diskusi). Sumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 2004

TIPOLOGI PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI - 2 PENDEKATAN TUJUAN METODE ANALYSIS untuk membantu siswa menggunakan pikiran logis dan penelitian ilmiah untuk memutuskan masalah dan pertanyaan nilai untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional, prosesproses analitik, dalam menghubungkan dan mengkonseptualisasikan nilai-nilai mereka diskusi rasional terstruktur yang menuntut aplikasi rasio sama sebagai pembuktian pengujian prinsipprinsip Penganalisaan kasus-kasus analog Riset dan debat Untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola-pola perilakunya Sumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 2004

TIPOLOGI PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI - 3 PENDEKATAN TUJUAN METODE KLARIFIKASI NILAI ACTION LEARNING untuk membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mereka miliki juga yang orang lain punyai. Untuk membantu siswa mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka. Untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola perilakunya. Tujuan tindakan dalam pembelajaran didaftar/diurutkan untuk analisis dan klarifikasi nilainilai untuk memberi peluang siswa agar bertindak secara personal ataupun sosial berdasarkan kepada nilainilai mereka Untuk mendorong siswa agar memandang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang tidak secara otonom interaktif dalam hubungan sosial-personal, tapi anggota suatu sistem sosial role-playing games Simulasi Menyusun/menciptakan situasi-situasi nyata/real yang bermuatan nilai latihan-latihan analisis diri (self-analysis) secara mendalam Aktivitas melatih kepekaan (sensitivity) Aktivitas di luar kelas Diskusi kelompok kecil metode-metode didaftar/diurutkan untuk analisis dan klarifikasi nilai-nilai proyek-proyek di dalam sekolah dan praktek kemasyarakatan Ketrampilan praktis dalam pengorganisasian kelompok dan hubungan antar probadi. Sumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 2004

Penilaian 1. Pengamatan (observasi) 2. Penilaian teman sebaya 3. Penilaian diri sendiri (disertai deskripsi diri). 4. Penilaian kelompok 5. Penilaian projek (Project works) Portofolio 6. Karya kreatif 7. Kerja sosial (service learning)/kunjungan sosial 8. Penilaian dosen pengampu (misalnya dengan anecdotal record atau catatan insidental).

Ikhtiar yang tengah berjalan Pendidikan Karakter sebagai mata kuliah wajib di FISE UNY untuk semua prodi (kependidikan & non kependidikan) Buku Panduan Pendidikan Karakter oleh Tim Media pembelajaran berbasis IT (media audio visual) Instrumen penilaian proses dan akhir pembelajaran Ruang Kelas Model ( 8 meja bundar & kursi ala Kafe terdiri untuk 8 kelompok, speaker, LCD, Komputer desktop, bendera merah putih dan bendera FISE, lambang Garuda Pancasila, meja pengajar) Situs-situs/artefak Pendidikan Karakter berupa Semboyan atau pesan moral/motivasi hidup bermartabat

PENUTUP: - Pendidikan Karakter merupakan bagian proyek besar membangun insan cendekia, mandiri dan bernurani civitas akademika UNY. - Perlu pendalaman dan penguatan untuk mencapai tujuan esensial pendidikan karakter.