BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
|
|
|
- Liani Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini menyajikan sejumlah simpulan, implikasi, dan rekomendasi hasil penelitian yang dirumuskan dari deskripsi temuan penelitian dan pembahasan hasil-hasil penelitian dalam bab IV di atas. A. Simpulan Merujuk pada hasil temuan dan pembahasan penelitian yang telah diuraikan terdahulu, maka dapat dirumuskan beberapa simpulan sebagai berikut. 1. PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu dengan identitas bidang kajian eklektik yang dinamakan an integrated system of knowledge, synthetic discipline, multidimensional, dan kajian konseptual sistemik memiliki ontologi yang terdiri atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai landasan pokok, Pancasila sebagai landasan filosofis, UUD 1945 sebagai landasan normatif, dan perilaku warga negara sebagai landasan psikologis sedangkan landasan material meliputi nusantara, manusia sebagai pribadi, kekayaan alam dan budaya, kesadaran sebagai manusia, dan jatidiri sebagai bangsa. 1.1 Esensi ontologi PKn adalah perilaku warga negara dalam konteks kehidupan masyarakat lokal, nasional, dan global yang dikembangkan 324
2 melalui dimensi sosiologis, psikologis, dan historis perkembangan kehidupan masyarakat dan bangsa sebagai sumber pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang mendukung bagi pembangunan karakter. 1.2 Ontologi PKn yang terkait dengan unsur ada secara fisika dan unsur ada secara metafisika sebagai nilai dan moral kebajikan hasil pemikiran kritis, argumentatif, rasional dengan pendekatan secara multidimensional, sintetik, dan terpadu sehingga memunculkan rasa kebanggaan bagi sebuah bangsa dapat membentuk karakter dan pribadi yang baik bila penerapannya dikaitkan dengan nilai-nilai keyakinan yang telah mempribadi dalam diri warga negara. 2. Secara fungsional, PKn memiliki dua tugas, yakni (1) tugas dalam bidang telaah untuk membangun body of knowledge sesuai dengan karakteristiknya sebagai scientific boundary line pendidikan disiplin ilmu yang dikembangkan secara fungsional dan/atau hirarkhi dan (2) tugas dalam bidang pengembangan untuk transformasi konsep, nilai, cita-cita, dan keterampilan hidup berkewarganegaraan. 3. Tiga domain program PKn yang meliputi program kurikuler, program sosial kultural, dan program akademik merupakan satu kesatuan program yang bersinergistik untuk pembangunan karakter bangsa, namun sampai saat ini sinergisme belum optimal karena masih ada persoalan yang dihadapi yang meliputi ketidaklengkapan landasan, organisasi kurikulum, kualitas buku, metodologi, dan kemampuan guru. 325
3 3.1 PKn sebagai domain kurikuler yang mencakup curriculum content dan student behavior yang berada pada paradigma education about democracy dengan sifatnya yang exclusive dan formal sedang mengalami perubahan kearah paradigma education in democracy atau berubah dari sifat minimum menjadi moderate. 3.2 Dalam konteks pembelajaran, isi (content) PKn dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh perbedaan konteks atau lingkungan sosial budaya masyarakat (informal content) namun isi yang bersifat formal structure harus sama dan tidak bisa ditawar-tawar (unnegotiated, given) karena merupakan unsur perekat dan pemersatu bangsa yang akan memperkuat semangat kebangsaan Indonesia sedangkan informal content merupakan unsur pemerkaya dan pendukung pemersatu bangsa. 3.3 Perubahan kurikulum dari paradigma content-based menjadi competency-based pada hakikatnya merupakan perubahan dalam paradigma pengembangan kurikulum yang berdampak terhadap mekanisme dan pendekatan pembelajaran sedangkan penerapannya memerlukan perubahan paradigma dan proses adaptasi dari para praktisi pendidikan sebagai bagian dari dinamika kehidupan sosial kultural kontemporer. 3.4 Program PKn dalam dimensi sosial kultural mencakup kegiatan untuk penanaman wawasan kebangsaan, sosial politik, bela negara, patriotisme, serta perbaikan nilai dan moral warga negara melalui berbagai organisasi kemasyarakatan yang disusun secara sistematis 326
4 dan komprehensif dengan sasaran semua warga negara yang dilaksanakan secara sinergis dan berkesinambungan. 3.5 Program PKn dalam dimensi akademik meliputi program kajian ilmiah yang dilakukan oleh komunitas akademik PKn menggunakan pendekatan dan metode penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah konseptual dan operasional guna menghasilkan generalisasi dan teori berlandaskan pada landasan filosofis negara, sosial kultural, landasan konstitusional, dan landasan ilmiah sebagai perekat dan simpul untuk menjaga objektivitas dan universalitas keilmuan. 4. Fokus pembangunan karakter bangsa melalui PKn adalah perilaku warga negara karena karakter bangsa yang baik akan terbentuk apabila karakter warga negara sudah baik, namun PKn bukan satu-satunya wahana untuk membangun karakter sebab hakikat karakter tidak hanya terkait dengan kehidupan politik dan hukum dalam konteks kehidupan bernegara melainkan termasuk karakter dalam kehidupan di lingkungan keluarga. 4.1 Pembangunan karakter bangsa merupakan tugas yang kompleks, komprehensif, multidimensional, multidisiplin, multipersonal, dan multiinstitusi sesuai dengan lingkungan dimana warga negara itu berkesempatan tumbuh dan berkembang. 4.2 PKn sebagai program untuk membangun karakter warga negara yang berciri kajian multidimensional berfungsi sebagai pendidikan nilai dan moral, pendidikan bela negara, pendidikan politik dan hukum untuk 327
5 membentuk warga negara yang peka terhadap lingkungan strategis, memiliki kemampuan dan keterampilan, peka dalam menyerap informasi dengan cepat, memiliki sistem manajemen informasi, memiliki hubungan interpersonal dan partisipasi sosial, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai dan etika demokrasi bangsa Indonesia. 4.3 Pembangunan karakter bangsa melalui PKn diarahkan sebagai wahana untuk mengembangkan state of mind, konsep pencerdasan, dan laboratorium demokrasi, bukan alat indoktrinasi kecuali dalam konteks unavoidable indoctrination yang diselenggarakan di tiga sarana atau lingkungan pendidikan yakni pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal, namun sarana sebagai peletak dasar pendidikan adalah lingkungan keluarga (informal). 5. Pembangunan karakter bangsa sebagai upaya mengembangkan potensi kepribadian manusia yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku yang konsisten dipengaruhi oleh aspek psikologis, kesehatan mental, dan pribadi individu warga negara, serta konteks kehidupan masyarakat. 5.1 Faktor eksternal dalam pembangunan karakter bangsa meliputi nilai budaya, adat, tatakrama, budi pekerti, nilai agama dan nilai yang baik lainnya yang dianut oleh sebuah bangsa agar bangsa tersebut memiliki nilai-nilai sebagaimana yang dimiliki oleh generasi terdahulu. 5.2 Setiap individu warga negara memiliki potensi internal yang dapat membentuk karakter yang baik, tetapi pengaruh eksternal memiliki 328
6 pengaruh yang lebih dominan dalam membentuk kepribadian dan karakter individu warga negara bahkan karakter bangsa. 5.3 Kesehatan mental akan berpengaruh terhadap karakter individu warga negara sedangkan kesehatan mental yang tinggi memiliki tingkat ketahanan yang dapat memperbaiki keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang pada gilirannya dapat berpengaruh terhadap karakter bangsa. 5.4 Karakter warga negara demokratis yang dapat membangun karakter bangsa Indonesia meliputi rasa hormat dan tanggung jawab kepada sesama, bersikap kritis terhadap kenyataan empiris, membuka adanya dialog, menumbuhkan sikap kemandirian, memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan, dan menempatkan sesuatu secara profesional dan proporsional. 6. Pembangunan karakter bangsa di Indonesia telah dimulai sejak jauh sebelum berdirinya NKRI yakni sejak masa Kebangkitan Nasional yang ditandai oleh pelaksanaan 15 butir program Budi Utomo tahun 1908 dengan tujuan pokok membangkitkan kesadaran seluruh rakyat penghuni wilayah nusantara yang terjajah, agar tumbuh semangat kesadaran akan harkat dan martabatnya sebagai bangsa yang mewarisi watak dan kepemimpinan dari kerajaan-kerajaan besar di wilayah nusantara. 6.1 Pengalaman sejarah masa penjajahan oleh bangsa Barat di wilayah nusantara yang cukup lama telah banyak mempengaruhi karakter bangsa Indonesia bahkan kebiasaan perilaku penjajah dan terjajah 329
7 telah mewarnai dan melekat dalam pola sikap dan perilaku kehidupan bangsa Indonesia di alam kemerdekaan namun unsur agama telah menjadi perekat dalam menumbuhkan kerjasama selain unsur budaya dan kepentingan politik. 6.2 Pada masa jauh sebelum kemerdekaan dan/atau masa penjajahan, penduduk yang menghuni wilayah nusantara adalah bangsa-bangsa yang merdeka namun dalam kurun waktu ratusan tahun, penduduk di wilayah nusantara telah mengalami beberapa kali perubahan dalam berbagai tatanan kehidupan sosial, politik, agama, dan budaya karena pengaruh penjajahan. 6.3 Misi penjajah yang meliputi glory, gold, dan gospel telah mengubah nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kebebasan, dan harga diri rakyat di wilayah nusantara bahkan telah menimbulkan perubahan peta dunia namun sekaligus memberikan inspirasi kepada para perintis, penegak, dan pejuang kemerdekaan untuk mendirikan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7. Sejak setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, upaya pembangunan karakter bangsa melalui jalur pendidikan formal diselenggarakan dalam mata pelajaran Civics, Pendidikan Kewargaan Negara, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan pada tingkat sekolah dasar dan menengah serta pengembangan kepribadian melalui Pendidikan Pancasila, pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Kewiraan, Pendidikan Agama, Pendidikan 330
8 Budi Pekerti, Pendidikan Bahasa, dan Pendidikan Budaya Dasar pada tingkat perguruan tinggi. 7.1 Tantangan PKn dalam upaya pembangunan karakter bangsa di Indonesia meliputi: (1) membangun pribadi-pribadi yang commited terhadap negaranya; (2) implementasi gagasan para pendiri negara; (3) komunikasi antara global reformers dan praktisi di lapangan; (4) kejelasan landasan pengembangan akibat perubahan paradigma; (5) kesepahaman antara masyarakat dan birokrat; (6) kondisional birokrasi saat proses demokratisasi; dan (7) implementasi Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa para era globalisasi. 7.2 Pembangunan karakter bangsa akan terhambat dalam kondisi bangsa yang tidak ada idealisme, tidak ada patriotisme, tidak ada nasionalisme, tidak ada perilaku disiplin, dan tidak ada tanggung jawab kepada sesama manusia dan Tuhan Yang Maha Esa. B. Implikasi Merujuk pada temuan penelitian, pembahasan penelitian, dan simpulan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa implikasi sebagai berikut. 1. Pengembangan PKn di Indonesia memerlukan sebuah paradigma baru yang dapat menjawab tuntutan dan tantangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pengembangan obyek telaah PKn khususnya aspek idiil hendaknya merujuk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai landasan pokok, Pancasila sebagai landasan filosofis, 331
9 UUD 1945 sebagai landasan normatif, dan perilaku warga negara sebagai landasan psikologis. Artinya, pengembangan PKn sebagai program kurikuler, program sosial kultural, dan program akademik harus berlandaskan pada dan tidak bertentangan dengan landasan pokok, filosofis, normatif, dan psikologis. Sedangkan, pengembangan materi pembelajaran untuk pembangunan karakter bangsa seyogianya menjadikan landasan material yang meliputi aspek nusantara, manusia sebagai pribadi, kekayaan alam dan budaya, kesadaran sebagai manusia, dan jatidiri sebagai bangsa sebagai obyek telaah. 2. Dua tugas PKn, yakni dalam bidang telaah dan pengembangan membawa implikasi terhadap para komunitas akademik untuk mengembangkan keilmuan PKn baik secara idiil-filosofis maupun teoritis-konseptual secara lebih mendalam sehingga body of knowledge PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu akan semakin kokoh dan berkembang sesuai dengan karaktersitiknya sebagai scientific boundary line. Sedangkan tugas bidang pengembangan membawa implikasi terhadap para praktisi PKn di lapangan khususnya di lembaga persekolahan maupun lembaga pendidikan guru untuk melakukan proses pembangunan karakter bangsa yang sesuai dengan landasan pokok, filosofis, normatif, psikologis, dan material serta konteks dan masalah kehidupan peserta didik. 3. Isi (content) materi pembelajaran PKn yang bercirikan formal structure harus sama dan tidak bisa ditawar-tawar (unnegotiated, given) untuk semua peserta didik dan/atau semua jenjang dan satuan pendidikan di seluruh tanah air Indonesia bahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia 332
10 karena merupakan unsur perekat dan pemersatu bangsa yang akan memperkuat semangat kebangsaan Indonesia. Isi materi ini hendaknya dikembangkan oleh para ahli, pengembang kurikulum, di tingkat nasional. Sekaitan dengan hal tersebut, semua praktisi pendidikan hendaknya memiliki persepsi dan pemahaman yang sama terhadap isi materi tersebut. Sebaliknya, isi materi pembelajaran yang bersifat informal content memungkinkan akan berbeda-beda karena disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan sosial budaya setempat. Pengembangan isi materi ini merupakan tugas dari para pengembang kurikulum di tingkat meso dan/atau mikro atau pendidik di tiap jenjang dan satuan pendidikan masing-masing. 4. Perubahan kurikulum dari paradigma content-based menjadi competencybased membawa implikasi perlunya perubahan pola pikir bagi setiap praktisi pendidikan dalam mengembangkan kurikulum operasional termasuk pengembangan substansi kajian, kegiatan pembelajaran, metode, dan evaluasi serta mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. 5. Perilaku warga negara sebagai fokus pembangunan karakter bangsa membawa implikasi bahwa upaya pembangunan karakter bangsa merupakan proses yang kompleks, komprehensif, multidimensional, multidisiplin, multipersonal, dan multiinstitusi. Dalam hal ini, penyelenggaraan pendidikan karakter seyogianya melibatkan pihak-pihak yang terkait secara komprehensif, multidimensional, multidisiplin, multipersonal, dan multiinstitusi. 333
11 6. Faktor eksternal lebih kuat (dominan) pengaruhnya terhadap pengembangan kepribadian bangsa. Dalam hal ini, upaya membangun karakter menjadi sangat penting dan menentukan bagi perkembangan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, faktor eksternal dalam pembangunan karakter bangsa yang meliputi nilai budaya, adat, tatakrama, budi pekerti, nilai agama dan nilai yang baik lainnya perlu diadopsi dan diadaptasi menjadi bahan pembelajaran. 7. Watak dan kepemimpinan dari kerajaan-kerajaan besar nusantara, kemerdekaan penduduk nusantara, dan unsur agama sebagai perekat dalam menumbuhkan kerjasama selain unsur budaya dan kepentingan politik seyogianya menjadi inspirasi dan pengalaman berharga yang dapat dijadikan bahan telaah dalam upaya pembangunan karakter bangsa di era kemerdekaan. C. Rekomendasi Merujuk pada simpulan dan uraian implikasi di atas, rekomendasi yang diusulkan sebagai berikut. 1. Komunitas akademik dalam bidang PKn yang ada di perguruan tinggi (LPTK) dianjurkan agar mengembangkan PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu dalam lingkup kajian ontologi, epistemologi dan aksiologi secara lebih mendalam sesuai dengan karakteristik kajian ini sebagai scientific boundary line. Pengembangan PKn ini hendaknya berlandaskan pada NKRI sebagai landasan pokok, Pancasila sebagai 334
12 landasan filosofis, UUD 1945 sebagai landasan normatif, dan perilaku warga negara sebagai landasan psikologis. 2. Komunitas akademik dan praktisi PKn di tiap jenjang dan satuan pendidikan seyogianya mengembangkan program PKn melalui dua tugas, yakni tugas bidang telaah dan bidang pengembangan baik dalam dimensi kurikuler, sosial kultural maupun akademik secara sinergis. Pengembangan bidang telaah berlandaskan pada landasan pokok, filosofis, normatif, psikologis, dan material sedangkan bidang pengembangan berfokus pada pembangunan perilaku warga negara yang dilandasi oleh pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap dan nilai (attitudes and values) peserta didik. 3. Para pengembang kurikulum di tingkat nasional hendaknya mengembangkan kompetensi dan substansi kajian materi pembelajaran PKn yang bercirikan formal structure yang harus sama dan tidak bisa ditawar-tawar (unnegotiated, given) sehingga menjadi standar nasional yang akan menjadi acuan atau pedoman guru dalam pembelajaran untuk semua peserta didik dan/atau semua jenjang dan satuan pendidikan di seluruh tanah air bahkan untuk seluruh warga negara Indonesia. 4. Para pengembang kurikulum di tingkat nasional, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), hendaknya mengembangkan standar kompetensi mata pelajaran PKn dan standar tenaga pendidiknya memanfaatkan landasan-landasan idiil bidang telaah sebagai rujukan sehingga pengembangan formal structure tidak menyimpang dari 335
13 hakikat PKn sebagai perekat dan pemersatu bangsa yang akan memperkuat semangat kebangsaan Indonesia. 5. Pakar di universitas dan/atau pengembang kurikulum di tingkat birokrasi perlu mengembangkan PKn yang sesuai dengan paradigma competency-based namun berlandaskan pada landasan pokok, filosofis, normatif, psikologis, dan material. Hal ini diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pola pikir yang dialami para praktisi pendidikan di jenjang dan satuan pendidikan. 6. Para pengembang kurikulum dan penulis buku teks PKn hendaknya mengembangkan PKn untuk peserta didik yang ada di tiap satuan pendidikan berlandaskan pada landasan pokok, filosofis, normatif, psikologis, dan material serta karakteristik peserta didik sebagai informal structure. 7. Lembaga/instansi pemerintah dan swasta hendaknya mengembangkan program PKn dalam dimensi sosial kultural secara sinergistik yang mencakup kegiatan untuk penanaman wawasan kebangsaan, sosial politik, bela negara, patriotisme, serta perbaikan nilai dan moral warga negara dengan sasaran semua warga negara yang dilakukan secara berkesinambungan. 8. Pakar sebagai global reformers, pengembang kurikulum, dan praktisi dianjurkan agar mengembangkan PKn sebagai program kurikuler, program sosial-kultural dan program akademik dilakukan secara 336
14 sinergistik sehingga penyelenggaraan PKn dalam rangka membangun karakter bangsa tidak berjalan secara sendiri-sendiri. 9. Pakar peneliti yang ada di program studi S1, S2, dan S3 PKn agar mengembangkan bidang telaah PKn melalui kajian aspek idiil-filosofis dan teoritis-konseptual yang lebih mendalam dan luas untuk memperkokoh body of knowledge PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu dengan merujuk pada hipotesis sementara hasil temuan yang ditawarkan dalam disertasi ini. 10. Para pengambil kebijakan dan pakar hendaknya mulai mempertimbangkan program kurikuler PKn di lingkungan pendidikan nonformal, khususnya yang terkait dengan program sosial-kultural yang selama ini terabaikan setelah program penataran P4 yang dikelola oleh BP7 dibubarkan. 337
MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi MANAJEMENT MODUL 1 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN SUMBER : BUKU ETIKA BERWARGANEGARA,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. Bab ini menyajikan sejumlah kesimpulan yang meliputi kesimpulan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI Bab ini menyajikan sejumlah kesimpulan yang meliputi kesimpulan umum dan khusus, implikasi, dan rekomendasi penelitian. Kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi
BAB I PENDAHULUAN. memiliki eksistensi yang lebih bermartabat. Pendidikan formal pada hakikatnya
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini peneliti akan menyajikan terkait dengan latar balakang masalah yang ada dilapangan yang membuat peneliti tertarik melakukan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan rumusan
I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan siswa guna mencapai tujuan pendidikan nasional
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil enelitian yang telah dilakukan, penulis memperoleh beberapa
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil enelitian yang telah dilakukan, penulis memperoleh beberapa temuan penelitian yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan berikut ini
LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA
LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA 1. BPUPKI dalam sidangnya pada 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945 membicarakan. a. rancangan UUD b. persiapan kemerdekaan c. konstitusi Republik Indonesia Serikat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu wacana yang dominan dalam studi globalisasi adalah hipotesis tentang "homogenitas budaya" (Hannerz, 1990: 250). Prediksi ini didasarkan pada asumsi
BAB I PENDAHULUAN. berkarakter dalam mengisi kemerdekaan. Namun, memunculkan jiwa yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perjuangan untuk lepas dari tangan penjajah negara asing sudah selesai sekarang bagaimana membangun negara dengan melahirkan generasi-generasi berkarakter dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Thomy Sastra Atmaja, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini kecenderungan prilaku menyimpang yang dilakukan oleh seorang anak masih mudah ditemukan. Berbagai kasus kriminal yang pernah terjadi tidak sedikit
BAB I PENDAHULUAN. yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem politik Indonesia dewasa ini sedang mengalami proses demokratisasi yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan politik nasional,
PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA
PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA (Makalah Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas MK Pendidikan Pancasila) Dosen : Abidarin Rosidi, Dr, M.Ma. Disusun Oleh: Nama : WIJIYANTO
BAB I PENDAHULUAN. kearah suatu tujuan yang dicita-citakan dan diharapkan perubahan tersebut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sebagai salah satu proses perubahan pada pembentukan sikap, kepribadian dan keterampilan manusia untuk menghadapi masa depan. Dalam proses pertumbuhan dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia hidup tidak terlepas dari pendidikan. Peran pendidikan menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan
- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI
- 1 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL TAHUN 2015-2019. BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia agar memiliki karakter, integritas, dan kompetensi yang bermakna dalam kehidupan.
BAB I PENDAHULUAN. suatu upaya melalui pendidikan. Pendidikan adalah kompleks perbuatan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Maju mundurnya suatu bangsa ditandai oleh sumber daya manusia yang bermutu. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang bermutu, itu diperlukan suatu upaya melalui
Kewarganegaraan. Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan. Uly Amrina ST, MM. Kode : Semester 1 2 SKS.
Modul ke: Kewarganegaraan Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan Fakultas Teknik Uly Amrina ST, MM Program Studi Teknik Industri Kode : 90003 Semester 1 2 SKS Deskripsi Mata
Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK
Modul ke: Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pada Modul ini kita akan mempelajari tentang arti penting serta manfaat pendidikan kewarganegaraan sebagai mata kuliah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan proses pembelajaran. Di dalam proses
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi setiap insan manusia. Pendidikan dapat dilakukan baik secara formal maupun non formal. Setiap pendidikan tidak
om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
www.kangmartho.c om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (PKn) Pengertian Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Materi Kuliah. Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan. Modul 1
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Materi Kuliah Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan Modul 1 0 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami
BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk karakter individu yang bertanggung jawab, demokratis, serta berakhlak mulia.
BAB I PENDAHULUAN. Membangun Nasionalisme kebangsaan tidak bisa dilepas pisaahkan dari konteks
BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Membangun Nasionalisme kebangsaan tidak bisa dilepas pisaahkan dari konteks wawasan kebangsaan yang merupakan pandangan seorang warga negera tentang negaranya, dan pembentukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha sadar untuk membekali warga negara agar menjadi warga negara yang memiliki kecerdasan dan kepribadian yang baik. Hal tersebut sesuai
BAB 1 PENDAHULUAN. berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan
BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kepemimpinan adalah bagian dari kehidupan manusia, dan haruslah
1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Masalah Kepemimpinan adalah bagian dari kehidupan manusia, dan haruslah dipupuk sejak dini sehingga generasi penerus bangsa mampu menjadi pemimpin berdedikasi tinggi
BAB I PENDAHULUAN. berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
2015 IMPLEMENTASI MODEL WORD SQUARE DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tertuang dalam konstitusi negara bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, tujuan yang dirumuskan oleh para
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat (PP No.19 tahun 2005). Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini, secara berturut-turut akan diuraikan tentang hal-hal berikut : latar belakang penelitian; identifikasi masalah; rumusan masalah; tujuan penelitian; manfaat penelitian,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu hal penting yang harus dikembangkan dalam upaya meningkatkan kualitas individu. Untuk meningkatkan kualitas tersebut, maka
PLEASE BE PATIENT!!!
PLEASE BE PATIENT!!! CREATED BY: HIKMAT H. SYAWALI FIRMANSYAH SUHERLAN YUSEP UTOMO 4 PILAR KEBANGSAAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER BANGSA PANCASILA NKRI BHINEKA TUNGGAL IKA UUD 1945 PANCASILA MERUPAKAN DASAR
WAWASAN NUSANTARA. Dewi Triwahyuni. Page 1
WAWASAN NUSANTARA Dewi Triwahyuni Page 1 WAWASAN NUSANTARA Wawasan Nusantara adalah cara pandang suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya yang dijabarkan dari dasar falsafah dan sejarah bangsa itu sesuai
13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (PKn) Pengertian Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan UU Nomor
: Pendidikan Kewarganegaraan (PKN)
KTSP Perangkat Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) PERANGKAT PEMBELAJARAN STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR Mata Pelajaran Satuan Pendidikan Kelas/Semester : Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. dengan pradigma baru yang dapat mengembangkan kelas sebagai democratic. terbentuk dimulai dari lingkungan sekolah.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peranan yang amat penting sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nilai nasionalisme merupakan jiwa bangsa Indonesia yang akan terus melekat selama bangsa Indonesia masih ada. Nasionalisme bukanlah suatu pengertian yang sempit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang sangat penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL* 1
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BERBASIS KEARIFAN LOKAL* 1 Oleh Drs. H. Syaifuddin, M.Pd.I Pengantar Ketika membaca tema yang disodorkan panita seperti yang tertuang dalam judul tulisan singkat
SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian prasyarat Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Kewarganegaraan ROSY HANDAYANI A.
PENGARUH PERSEPSI MAHASISWA TENTANG PROFESIONALITAS GURU DAN MOTIVASI UNTUK MENJADI GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN YANG PROFESIONAL TERHADAP KEDISIPLINAN BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN FKIP
I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang majemuk, yang terdiri dari
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai keragaman sosial, suku bangsa, kelompok etnis, budaya, adat istiadat, bahasa,
PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing,
1 I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan siswa guna mencapai tujuan pendidikan nasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya dari aspek jiwa, manusia memiliki cipta rasa dan karsa sehingga dalam tingkah laku dapat membedakan benar atau salah, baik atau buruk, menerima atau menolak
PEMBINAAN KARAKTER KEWARGANEGARAAN MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia. Berhubungan dengan hal itu, pendidikan memiliki peranan
BAB I PENDAHULUAN. teknologi informasi mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara baik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki masa globalisasi dan meningkatnya perkembangan teknologi informasi mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara baik secara ekonomi, politik, sosial
BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, dunia pendidikan menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Fenomena merosotnya karakter kebangsaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bertambah dalam menghadapi era globalisasi, untuk menghadapi globalisasi dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan pembangunan Indonesia dimasa mendatang akan lebih bertambah dalam menghadapi era globalisasi, untuk menghadapi globalisasi dan menatap masa depan,
I. PENDAHULUAN. satu usaha pembangunan watak bangsa. Pendidikan ialah suatu usaha dari setiap diri
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan menentukan maju mundurnya suatu bangsa, karena pendidikan merupakan salah satu usaha pembangunan watak bangsa. Pendidikan ialah suatu usaha dari setiap diri
BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan Indonesia merupakan inti utama untuk menunjang pengembangan sumber daya manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan
BAB I PENDAHULUAN. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara juga. meningkatkan kualitas pendidikan.
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini bangsa Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudaya demokrasi, berkeadilan dan menghormati hak-hak
Mata Kuliah Kewarganegaraan
Mata Kuliah Kewarganegaraan Modul ke: 01 Fakultas Design Komunikasi dan Visual Program Studi Pokok Bahasan PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN Dosen : Cuntoko, SE., MM. Informatika
KEWARGANEGARAAN. Ruang Lingkup Mata Kuliah Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : Etika Berkewarganegaraan. Rizky Dwi Pradana, M.Si PSIKOLOGI PSIKOLOGI
Modul ke: KEWARGANEGARAAN Ruang Lingkup Mata Kuliah Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : Etika Berkewarganegaraan Fakultas PSIKOLOGI Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id Rizky Dwi Pradana, M.Si
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan kehidupan dalam masyarakat bangsa dan Negara, karena dengan pendidikan dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air selalu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. memberi dorongan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komponen pendidikan merupakan komponen yang memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembentukan karakter warga negaranya terutama karakter dari setiap
BAB I PENDAHULUAN. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, oleh sebab itu hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa. Karakter
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan kewarganegaraan pada hakekatnya adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati
PENGARUH MANAJEMEN PEMBELAJARAN REMIDIAL DENGAN TUGAS BERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA
PENGARUH MANAJEMEN PEMBELAJARAN REMIDIAL DENGAN TUGAS BERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA (STUDI EKSPERIMEN DI SMA NEGERI 2 SURAKARTA) PROPOSAL TESIS Diajukan Untuk
BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR
BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DIMENSI PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (Dapat Dijadikan Bahan Perbandingan dalam Mengembangkan Proses Belajar dan Pembelajaran pada Lembaga Diklat
BAB I PENDAHULUAN Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Tipe Quiz Team Dengan Keterampilan Bertanya Probing Question
1 BAB I PENDAHULUAN Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Tipe Quiz Team Dengan Keterampilan Bertanya Probing Question untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa pada Pembelajaran PKn (Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. yang mempengaruhi kehidupan manusia. Di dalam proses pembelajaran, guru
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan pendidikan tidak terlepas dari kecenderungan globalisasi yang mempengaruhi kehidupan manusia. Di dalam proses pembelajaran, guru mempunyai peran
Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Sebagaimana lazimnya semua mata pelajaran, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan memiliki visi, misi, tujuan, dan ruang lingkup isi. Visi mata
BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai salah satu proses perubahan pada pembentuk sikap, kepribadian dan keterampilan manusia untuk menghadapi masa depan. Dalam proses pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mubarak Ahmad, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan selama ini dipercaya sebagai salah satu aspek yang menjembatani manusia dengan cita-cita yang diharapkannya. Karena berhubungan dengan harapan,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang menimbulkan kondisi dan tuntutan berbeda sesuai dengan zamannya.
I. PENDAHULUAN. suku bangsa, ras, bahasa, agama, adat-istiadat, maupun lapisan sosial yang ada
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Hal ini terlihat dari keberagaman suku bangsa, ras, bahasa, agama, adat-istiadat, maupun lapisan sosial yang ada
BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merosotnya moralitas bangsa terlihat dalam kehidupan masyarakat dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, kesetiakawanan sosial (solidaritas),
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pendidikan Politik
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pendidikan Politik Melalui Pembelajaran PKn Dalam Mengembangkan Kompetensi (Studi Kasus di SMA Negeri 2 Subang)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar manusia menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga memiliki fungsi yang sangat fundamental. Selain bersifat yuridis formal, yang mengharuskan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional dalam UU Sistem Pendidikan Nasional
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin. Topik Makalah. RUH 4 PILAR KEBANGSAAN DIBENTUK OLEH AKAR BUDAYA BANGSA Kelas : 1-IA21
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin Topik Makalah RUH 4 PILAR KEBANGSAAN DIBENTUK OLEH AKAR BUDAYA BANGSA Kelas : 1-IA21 Tanggal Penyerahan Makalah : 25 Juni 2013 Tanggal Upload
BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Tujuan utama pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdasarkan tujuan tersebut
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN MUATAN LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN
LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ASOSIASI DOSEN PGSD INDONESIA KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya rumusan capaian pembelajaran
REVITALISASI PKN SEBAGAI PENDIDIKAN IDEOLOGI PANCASILA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SISTEM PENDIDIKAN GURU
REVITALISASI PKN SEBAGAI PENDIDIKAN IDEOLOGI PANCASILA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SISTEM PENDIDIKAN GURU Prof. Dr. Suwarma Al Muchtar, SH Makalah disajikan pada Seminar Internasional dan Kongres AP3KNI
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. motivasi pokok penanaman pendidikan karakter negara ini. Pendidikan karakter perlu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Gambaran situasi masyarakat dan dunia pendidikan di Indonesia menjadi motivasi pokok penanaman pendidikan karakter negara ini. Pendidikan karakter perlu ditanamkan
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Kewarganegaraan. Mengetahui Unsur, Fungsi Negara dan Pemerintahan yang berjalan. Yustiarti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas FAKULTAS TEKNIK
Modul ke: Kewarganegaraan Mengetahui Unsur, Fungsi Negara dan Pemerintahan yang berjalan Fakultas FAKULTAS TEKNIK Yustiarti, M.Ikom Program Studi ELEKTRO www.mercubuana.ac.id Kontrak Perkuliahan Kewarganegaraan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konsep dan proses pendidikan dalam pengertian generik merupakan proses yang sengaja dirancang dan dilakukan untuk mngembangkan potensi individu dalam interaksi
29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)
29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D) A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara
I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang sangat vital bagi sebuah Negara. Pendidikan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat vital bagi sebuah Negara. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni.
BAB I PENDAHULUAN. digunakan sebagai alat pemersatu bangsa demi merebut kemerdekaan (Rawantina,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nasionalisme merupakan paham untuk menumbuhkan sikap cinta tanah air yang berdasarkan persamaan sejarah kemudian bergabung menjadi satu untuk mempertahankan dan loyalitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyatuan materi, media, guru, siswa, dan konteks belajar. Proses belajar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Belajar Proses belajar mengajar merupakan aktivitas antara guru dengan siswa di dalam kelas. Dalam proses itu terdapat proses pembelajaran yang berlangsung akibat penyatuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah gerbang yang utama dan pertama dalam usaha
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah gerbang yang utama dan pertama dalam usaha mewujudkan sumber daya manusia yang lebih baik. Pendidikan harus mampu dalam perbaikan dan pembaharuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Demokrasi menjadi bagian bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Demokrasi menjadi bagian bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya untuk mewujudkan kekuasaan warga negara untuk dijalankan oleh pemerintahan
BAB I PENDAHULUAN. kualitas kepribadian serta kesadaran sebagai warga negara yang baik.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan di bidang pendidikan yang dialami bangsa Indonesia pada saat ini adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pembentukan watak
Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Peran Kebudayaan dalam Pembangunan Pendidikan Berkelanjutan Salah satu fungsi pendidikan
I. PENGANTAR Latar Belakang. Kualitas sumber daya manusia yang tinggi sangat dibutuhkan agar manusia
I. PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Kualitas sumber daya manusia yang tinggi sangat dibutuhkan agar manusia dapat melakukan peran sebagai pelaksana yang handal dalam proses pembangunan. Sumber daya manusia
LANDASAN FALSAFAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN
LANDASAN FALSAFAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN 1 FALSAFAH PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN TENTANG KEBENARAN DAN TENTANG ARTI KEBERADAAN SESUATU (KUBI 96) KEGIATAN PEMIKIRAN YANG MENDALAM DAN MENYELURUH, SERTA UJUD HASIL
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan masyarakat yang begitu cepat sebagai dampak dari kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi, membawa akibat positif dan sekaligus akibat
BAB II PERSPEKTIF PENDIDIKAN POLITIK
BAB II PERSPEKTIF PENDIDIKAN POLITIK Untuk lebih mendalami hakekat pendidikan politik, berikut ini disajikan lagi beberapa pendapat ahli mengenai pendidikan politik. Alfian (1986) menyatakan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan Tutor Oleh Gugus PAUD Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Tutor PAUD Di Desa Cangkuang Rancaekek
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Anak Usia Dini non formal dipandang memiliki peran penting dalam pembentukan sumber daya manusia ke depan. Namun kesiapan tenaga pendidik di lembaga PAUD
I. PENDAHULUAN. tujuan pendidikan sangat sarat dengan kompetansi sosial, personal dan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemampuan bangsa dan negara. Hal ini karena pendidikan merupakan proses budaya yang bertujuan untuk meningkatkan
