PT GOLDEN RETAILINDO Tbk

dokumen-dokumen yang mirip
PT GOLDEN RETAILINDO Tbk

Daftar Isi. Laporan Posisi Keuangan Laporan Laba Rugi Komprehensif Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas...

PT GOLDEN RETAILINDO Tbk

PT GOLDEN RETAILINDO Tbk. Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2013 Dan 2012 Dan Laporan Auditor Independen

PT GOLDEN RETAILINDO Tbk. Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2012 Dan 2011 Dan Laporan Auditor Independen

PT GOLDEN RETAILINDO Tbk

PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT)

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2011 DAN 2010 (MATA UANG INDONESIA)

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2010 DAN 2009 (MATA UANG INDONESIA)

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA)

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

Pihak ketiga Pihak berelasi 2e,

PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PER 30 JUNI 2014 DAN 31 DESEMBER 2013

PT SURYA TOTO INDONESIA Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 30 Juni 2010 dan 2009 ( Dalam Rupiah )

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk LAPORAN KEUANGAN

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2011 DAN 30 JUNI 2010 (MATA UANG INDONESIA)

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tahun 2011 Tahun 2010

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2009 dan 2008

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

4. Bertanggung jawab atas sistem pengendalian intern PT Golden Retailindo Tbk. Jakarta, 20 Maret :~~76e ~:a4~d C: Tbk.

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016

PT. PUSAKO TARINKA, Tbk

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1 3. Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 4-5. Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 6-7

PT DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk. LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2012 DAN 2011

REKSA DANA SCHRODER PRESTASI GEBYAR INDONESIA II DAFTAR ISI. Halaman. Laporan Auditor Independen 1

PT Citatah Tbk Laporan Posisi Keuangan 30 September 2011 dengan angka perbandingan 31 Desember 2010 (Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008

PT SIDOMULYO SELARAS Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT SIDOMULYO SELARAS Tbk Dan ANAK PERUSAHAAN

PT LIPPO SECURITIES Tbk

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2012 DAN 30 JUNI 2011 (MATA UANG INDONESIA)

PT ALKINDO NARATAMA TBK

PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Per 30 Juni 2010 dan 2009

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk

LAPORAN TAHUNAN ANNUAL REPORT

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk

PT SIANTAR TOP Tbk. LAPORAN KEUANGAN INTERIM UNTUK TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT)

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk

PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2013 DAN 31 MARET 2012 (MATA UANG INDONESIA)

PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED)

PT SURABAYA AGUNG INDUSTRI PULP & KERTAS Tbk

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

BAB III GAMBARAN UMUM ATAS PT MMS. Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk


PT TRUST FINANCE INDONESIA Tbk LAPORAN POSISI KEUANGAN 31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017 (Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE Tbk CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 DAN 2010

PT ALKINDO NARATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK

Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) sampai dengan 31 Desember 2008

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk


PT TIPHONE MOBILE INDONESIA Tbk DAN ENTITAS ANAK

PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2014 (TIDAK DIAUDIT)

PT PENYELENGGARA PROGRAM PERLINDUNGAN INVESTOR EFEK INDONESIA

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

Salinan Surat Pernyataan tentang Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan untuk Tahun-tahun yang Berakhir 31 Desember 2010 dan 2009 PT Citatah Tbk

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2015 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2014 (Diaudit) Serta Untuk

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 30 September 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2013 (Diaudit) Serta Untuk

PT SUPARMA Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 31 MARET 2018 DAN 2017

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk

PT. PELITA SEJAHTERA ABADI Tbk Catatan Atas Laporan Keuangan Untuk Periode Yang Berakhir 31 Desember 2010 dan 2009

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2015 dan 2014 Beserta LAPORAN AUDITOR

PT YULIE SEKURINDO TBK

PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT SKYBEE Tbk DAN ENTITAS ANAK

PT ANEKA KEMASINDO UTAMA Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2009 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2008 (MATA UANG INDONESIA)

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT TUNAS ALFIN Tbk LAPORAN KEUANGAN DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN TANGGAL 31 DESEMBER 2016 DAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2017 dan 2016 (Tidak diaudit)

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk

DAFTAR ISI. Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian Laporan Laba Rugi Dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian... 3

PT STAR PETROCHEM Tbk DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian 31 Maret 2016 (Tidak Diaudit) dan 31 Desember 2015 (Diaudit) Serta Untuk

PT LIONMESH PRIMA Tbk

Daftar Isi. Laporan Posisi Keuangan Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Laporan Perubahan Ekuitas...

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk

LAPORAN KEUANGAN. 31 Maret 2018 dan (Tidak diaudit) PT. SARANACENTRAL BAJATAMA, Tbk

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk

PT LIONMESH PRIMA Tbk LAPORAN KEUANGAN PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 MARET 2015 ( TIDAK DIAUDIT )

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK

PT LIPPO SECURITIES Tbk

PT. NUSANTARA INTI CORPORA, Tbk

Untuk Periode Tiga Bulan yang Berakhir 31 Maret 2018 (tidak diaudit) dan 31 Maret 2017 (tidak diaudit)

PT EVER SHINE TEX Tbk DAN ENTITAS ANAKNYA

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk

Transkripsi:

Laporan Keuangan (Mata Uang Indonesia)

LAPORAN KEUANGAN (Mata Uang Indonesia) Daftar Isi Halaman Neraca... Laporan Laba Rugi... Laporan Perubahan Ekuitas... Catatan atas Laporan Keuangan...

NERACA 31 Maret 2011 Dengan Angka Perbandingan 31 Maret 2010 A S E T ASET LANCAR Kas dan setara kas 43.013.626.047 16.193.499.368 Piutang usaha 2.020.783.380 1.441.100.835 Piutang lain-lain 2.600.270 3.064.000 Persediaan 1.270.174.394 753.711.093 Pajak dibayar di muka 205.226.969 - Biaya dibayar di muka 348.839.015 145.319.598 Uang muka 500.878.945 334.285.000 Jumlah Aset Lancar 47.362.129.020 18.870.979.896 ASET TIDAK LANCAR Aset pajak tangguhan 1.086.839.459 1.001.944.176 Penyertaan saham 346.962.542 346.962.542 Aset tetap bersih 21.360.748.240 14.001.411.301 Aset tidak lancar lainnya 519.605.333 4.382.000 Jumlah Aset Tidak Lancar 23.314.155.574 15.354.700.019 JUMLAH ASET 70.676.284.594 34.225.679.915

NERACA (lanjutan) 31 Maret 2011 Dengan Angka Perbandingan 31 Maret 2010 KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha Pihak ketiga 4.920.566.236 5.681.593.358 Hutang pajak 1.303.113.922 834.756.354 Beban masih harus dibayar 1.781.329.034 1.571.227.888 Pendapatan sewa diterima di muka 326.785.571 - Jumlah Kewajiban Lancar 8.331.794.763 8.087.577.600 KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Uang jaminan pelanggan 930.999.265 851.542.335 Kewajiban diestimasi atas imbalan kerja Karyawan 2.641.927.953 2.116.647.561 Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 3.572.927.218 2.968.189.896 JUMLAH KEWAJIBAN 11.904.721.981 11.055.767.496 EKUITAS Modal saham - nilai nominal Rp 100 pada tahun 2010 dan Rp 100.000 pada tahun 2009 Modal dasar 800.000.000 saham pada tahun 2010 dan 50.000 saham pada tahun 2009 Modal ditempatkan dan disetor penuh - 286.000.000 saham pada tahun 2010 dan 16.500 saham pada tahun 2009 28.600.000.000 20.000.000.000 Tambahan modal disetor bersih 20.594.902.093 - Saldo laba 9.576.660.520 3.169.912.419 JUMLAH EKUITAS 58.771.562.613 23.169.912.419 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 70.676.284.594 34.225.679.915

LAPORAN LABA RUGI Untuk Tahun yang Berakhir Pada Tanggal 31 Maret 2011 PENDAPATAN BERSIH 25.781.660.731 21.256.814.229 BEBAN POKOK PENDAPATAN 16.886.589.189 14.664.065.681 LABA KOTOR 8.895.071.542 6.592.748.547 BEBAN USAHA Penjualan 3.532.018.877 1.266.992.59 Umum dan administrasi 4.171.828.427 3.217.460.555 Jumlah Beban Usaha 7.703.846.585 4.800.981.581 LABA USAHA 1.191.224.957 1.791.766.966 PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Penghasilan bunga bersih 464.079.415 - Laba (rugi) selisih kurs bersih (332.712) 225.945 Beban bunga (8.968.233) (5.978.826) Lain-lain bersih 31.606.728 (908.828.258) Jumlah Penghasilan Lain-lain Bersih 486.385.218 (914.581.139) LABA SEBELUM MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN 1.677.610.175 877.185.827 MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN Kini (419.402.544) (219.296.440) Jumlah Beban Pajak Penghasilan Bersih (419.402.544) (219.296.440 ) LABA BERSIH 1.258.207.631 657.889.320 LABA BERSIH PER SAHAM DASAR 4,40 3,29

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Dengan Angka Perbandingan Tahun 2010 Modal Saham Tambahan Modal Disetor Bersih Saldo Laba Jumlah Ekuitas Saldo 1 Januari 2011 28.600.000.000 20.594.902.093 8.318.452.889 57.513.354.982 Laba bersih Maret 2011 - - 1.258.207.631 1.258.207.631 Saldo 31 Desember 2010 28.600.000.000 20.594.902.093 9.576.660.520 58.771.562.613

1. UMUM a. Pendirian Perusahaan PT Golden Retailindo Tbk (Perusahaan) didirikan dengan nama PT Bima Nuansa Cempaka berdasarkan Akta Notaris Afdal Gazali, S.H., No. 136 tanggal 8 November 1995. Akta tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C-7.HT.03.02 Tahun 1995 tanggal 2 Januari 1995 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 36, Tambahan No. 4144 tanggal 3 Mei 1996. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris P. Suandi Halim, S.H., No. 42 tanggal 20 Juli 2010 sehubungan dengan realisasi jumlah saham yang diterbitkan saat penawaran umum perdana. Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar, ruang lingkup kegiatan Perusahaan antara lain bergerak dalam bidang perdagangan umum termasuk perdagangan eceran secara bagi hasil dan pengelolaan ruangan dengan merk dagang Golden Truly. Saat ini kegiatan usaha utama Perusahaan adalah sebagai manajemen perdagangan retail dan pengelolaan mal termasuk di dalamnya department store dan pengelola ruang sewa komersial untuk berbagai tenant seperti toko buku, supermarket, food court, restaurant, salon, pakaian dan lain-lain. Perusahaan saat ini memiliki beberapa gerai toko yang berada di Jakarta, Depok dan Batam. Perusahaan berkedudukan di Jl. Gunung Sahari Raya No. 59, Jakarta Pusat. b. Penawaran Umum Saham Perusahaan Pada tanggal 25 Juni 2010, Perusahaan memperoleh Pernyataan Efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) melalui Surat No. S-5756/BL/2010 untuk melakukan penawaran umum perdana saham biasa atas nama sejumlah 86.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham kepada masyarakat melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada harga penawaran Rp 350 per saham. Pada tanggal 7 Juli 2010, seluruh saham Perusahaan telah dicatat pada BEI. c. Pengurus, Komite Audit, Sekretaris Perusahaan dan Karyawan Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2009 adalah sebagai berikut: 2011 Komisaris Utama : Ong Budiman Direktur : Kenny Wirya Komisaris : Sulysa Direktur tidak terafiliasi : Poppy Susanti Darsono Komisaris Independen : Marzuki Usman Komite Audit : Marzuki Usman 2010 Komisaris Utama : Ong Budiman Direktur : Kenny Wirya Komisaris : Sulysa Pada tanggal 31 Maret 2011, Sekretaris Perusahaan dijabat oleh Ester Kusnandar.

1. UMUM (lanjutan) c. Pengurus, Komite Audit, Sekretaris Perusahaan dan Karyawan (lanjutan) Jumlah gaji dan tunjangan yang diberikan kepada Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebesar Rp 202.500.000 dan Rp. 127.500.000 masing-masing untuk tahun 2011 dan 2010. Pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010, Perusahaan memiliki masing-masing 71 dan 85 orang karyawan tetap (tidak diaudit). 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan Laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan peraturan BAPEPAM-LK, khususnya Peraturan No. VIII.G.7 yang merupakan Lampiran dari Keputusan Ketua BAPEPAM No. Kep-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 mengenai Pedoman Penyajian Laporan Keuangan dan Lampiran 9 dari Surat Edaran Ketua BAPEPAM No. SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perdagangan (sepanjang tidak bertentangan dengan PSAK). Dasar penyusunan laporan keuangan, kecuali untuk laporan arus kas adalah dasar akrual. Laporan keuangan tersebut disusun berdasarkan biaya perolehan (historical cost), kecuali beberapa akun tertentu yang disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method), yang menyajikan penerimaan serta pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan adalah Rupiah. b. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sesuai dengan PSAK No. 7, Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Seluruh transaksi signifikan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa telah diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. c. Instrumen Keuangan Perusahaan telah menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. Penerapan PSAK ini dilakukan secara prospektif sejak tanggal 1 Januari 2010 dan penerapan tersebut tidak memiliki dampak penyesuaian yang signifikan terhadap penyajian awal laporan keuangan Perusahaan tahun 2010.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) c. Instrumen Keuangan (lanjutan) Aset Keuangan Aset keuangan diakui apabila Perusahaan memiliki hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain. Pada saat pengakuan awal, dalam hal aset keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value through profit and loss), aset keuangan diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung. Setelah pengakuan awal, aset keuangan dapat dikelompokan ke dalam 4 kategori berikut: (i) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value through profit and loss) di mana aset tersebut diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan oleh manajemen (apabila memenuhi kriteria-kriteria tertentu) untuk diukur pada kelompok ini. Aset keuangan dalam kelompok ini diukur pada nilai wajarnya dan seluruh keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar tersebut, termasuk bunga dan dividen, diakui pada laporan laba rugi. Perusahaan tidak memiliki aset keuangan yang diklasifikasikan ke dalam kategori ini. (ii) Pinjaman yang diberikan dan piutang (loan and receivable) di mana merupakan aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. Kelompok aset keuangan ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Kelompok aset keuangan ini meliputi akun kas, setara kas, seluruh piutang dan uang jaminan. (iii) Aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity) yaitu aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan serta Perusahaan mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Kelompok aset ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Perusahaan tidak memiliki aset keuangan yang diklasifikasikan ke dalam kategori ini. (iv) Aset keuangan yang tersedia untuk dijual (available for sale) adalah aset keuangan non-derivatif yang tidak dikelompokan ke dalam tiga kategori di atas. Perubahan nilai wajar aset keuangan ini diakui secara langsung dalam ekuitas (kecuali untuk kerugian akibat penurunan nilai dan keuntungan atau kerugian akibat perubahan nilai tukar) sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat penghentian pengakuan, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi dan diakui pada laporan laba rugi. Tidak ada aset keuangan yang diklasifikasikan ke dalam kategori ini. Seluruh pembelian atau penjualan aset keuangan secara reguler diakui dengan menggunakan akuntansi tanggal perdagangan yaitu tanggal di mana Perusahaan berketetapan untuk membeli atau menjual suatu aset keuangan. Pengakuan aset keuangan dihentikan, jika dan hanya jika, hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut telah berakhir atau Perusahaan telah, secara substansial, mengalihkan aset keuangan tersebut berikut dengan seluruh risiko dan manfaat yang terkait kepada entitas lain.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) c. Instrumen Keuangan (lanjutan) Kewajiban Keuangan Perusahaan mengakui kewajiban keuangan pada saat timbulnya kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada entitas lain. Pada saat pengakuan awal, dalam hal kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL), kewajiban keuangan diukur pada nilai wajar dikurangi biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung. Setelah pengakuan awal, Perusahaan mengukur seluruh akun kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Perusahaan menghentikan pengakuan kewajiban keuangan, jika dan hanya jika, kewajiban kontraktual telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. Instrumen Ekuitas Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas, jika dan hanya jika, tidak terdapat kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada entitas lain. Biaya transaksi yang timbul dari transaksi ekuitas, sepanjang dapat diatribusikan secara langsung dengan transaksi ekuitas tersebut, dicatat sebagai pengurang ekuitas (setelah dikurangi dengan manfaat pajak penghasilan yang terkait). Saling Hapus Antar Aset dan Kewajiban Keuangan Aset dan kewajiban keuangan dapat saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam neraca, jika dan hanya jika, 1) Perusahaan saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan 2) berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan kewajibannya secara simultan. Estimasi Nilai Wajar Nilai wajar untuk instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan berdasarkan harga kuotasi di pasar aktif yang berlaku pada tanggal neraca. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif, Perusahaan dapat menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian yang meliputi penggunaan transaksi pasar wajar terkini antar pihak-pihak yang mengerti, referensi atas nilai wajar terkini dari instumen yang secara substansial sama, analisis arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. d. Kas dan Setara Kas Kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan deposito berjangka dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatannya di mana tidak dipergunakan sebagai jaminan atas pinjaman dan tidak dibatasi penggunaannya.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) e. Penurunan Nilai dan Tidak Tertagihnya Aset Keuangan Sesuai dengan PSAK No. 55 (Revisi 2006) (lihat Catatan 2c), seluruh aset keuangan, kecuali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, dievaluasi terhadap kemungkinan penurunan nilai. Dalam kaitannya dengan itu, pada setiap tanggal neraca manajemen mengevaluasi apakah terdapat bukti yang objektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Penurunan nilai dan kerugian penurunan nilai diakui, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang objektif mengenai penurunan nilai di mana: i. Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi, kerugian diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut. Nilai tercatat aset keuangan tersebut, disajikan setelah dikurangi baik secara langsung maupun menggunakan pos penyisihan. Kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. Manajemen pertama kali akan menentukan bukti objektif penurunan nilai individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Jika tidak terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai aset keuangan individual, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan dengan risiko kredit yang serupa dan menentukan penurunan nilai secara kolektif. ii. Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan (termasuk investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal), kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan dengan tingkat pengembalian yang berlaku di pasar untuk aset keuangan serupa. Kerugian penurunan tersebut tidak dapat dipulihkan. iii. Untuk aset keuangan yang tersedia untuk dijual, kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. Jumlah kerugian kumulatif tersebut adalah selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi. f. Persediaan Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value). Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang (weighted average method). Penyisihan penurunan nilai persediaan karena keusangan, kerusakan, kehilangan dan lambatnya perputaran (slow moving) ditentukan berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan masing-masing persediaan pada akhir tahun. g. Biaya Dibayar di Muka Biaya dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method) selama jangka waktu manfaat biaya. h. Penyertaan Saham Penyertaan saham dengan kepemilikan kurang dari 20% yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal serta dimaksudkan untuk investasi jangka panjang dinyatakan sebesar biaya perolehan (cost method) dikurangi penyisihan atas penurunan nilai jika ada.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) i. Aset Tetap Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap dan memilih model biaya sebagai kebijakan akuntansi untuk pengukuran aset tetapnya. Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan. Biaya perolehan termasuk seluruh biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Penyusutan dimulai sejak aset tersebut siap untuk digunakan dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap yang bersangkutan dengan rincian sebagai berikut: Tahun Bangunan 20 Peralatan kantor 4 Mesin 8 Kendaraan 8 Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan ditelaah setiap akhir tahun dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif. Seluruh biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya. Aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat pelepasan atau tidak adanya manfaat ekonomis di masa akan datang yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba dan rugi yang muncul dari penghentian pengakuan aset tetap (diperhitungkan sebagai selisih antara nilai tercatat aset dan hasil penjualan bersih) dimasukkan pada laporan laba rugi tahun berjalan. j. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan PSAK No. 48 tentang Penurunan Nilai Aset mensyaratkan manajemen Perusahaan untuk menelaah nilai aset non-keuangan atas setiap penurunan jika terjadi peristiwa atau perubahan keadaan yang menunjukkan bahwa nilai tercatat aset non-keuangan tersebut tidak dapat diperoleh kembali. Bila nilai tercatat suatu aset non-keuangan melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara harga jual neto atau nilai pakai. k. Kewajiban Diestimasi atas Imbalan Kerja Karyawan Sesuai dengan PSAK No.24 (revisi 2004) mengenai imbalan kerja, Perusahaan mencatat kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan yang dihitung berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tanggal 25 Maret 2003 tentang Ketenagakerjaan. Perhitungan imbalan pasca kerja dilakukan dengan menggunakan metode aktuarial Projected Unit Credit. Keuntungan atau kerugian aktuarial diakui sebagai pendapatan atau beban apabila akumulasi bersih dari keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian aktuarial ini diakui selama perkiraan rata-rata sisa masa kerja karyawan. Selanjutnya, biaya jasa lalu yang timbul dari penerapan suatu program imbalan pasti atau perubahan-perubahan dalam hutang imbalan kerja dari program yang sudah ada diamortisasi sampai imbalan tersebut telah menjadi hak karyawan. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti pada neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui serta biaya jasa lalu yang belum diakui.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) l. Tambahan Modal Disetor Bersih Tambahan modal disetor merupakan selisih antara agio saham (yaitu kelebihan setoran pemegang saham di atas nilai nominal) dengan biaya-biaya saham yang terkait langsung dengan penerbitan efek ekuitas Perusahaan. m. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pendapatan dari: - Penjualan diakui pada saat penyerahan barang kepada pelanggan, - Sewa diakui sesuai dengan masa manfaat sewa, - Penjualan barang konsinyasi dicatat sebesar jumlah aktual penyerahan barang konsinyasi kepada pelanggan dikurangi beban pokok konsinyasi yang dibayarkan kepada pemilik barang konsinyasi (consignor). Penerimaan sewa yang belum memenuhi kriteria pangakuan pendapatan ditangguhkan dan dicatat sebagai akun Pendapatan Sewa Diterima di Muka pada neraca. Beban diakui pada saat terjadinya (basis akrual). n. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing Transaksi dalam mata uang asing dicatat ke dalam Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disajikan ke dalam mata uang Rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada tanggal tersebut. Laba atau rugi kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan. o. Pajak Penghasilan Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam tahun yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. Perusahaan menerapkan metode penangguhan pajak untuk menentukan taksiran pajak penghasilan sesuai dengan PSAK No. 46 mengenai Akuntansi Pajak Penghasilan. PSAK ini mensyaratkan pengakuan aset dan kewajiban pajak tangguhan atas pengaruh pajak di masa akan datang yang berasal dari perbedaan temporer (beda waktu) antara dasar pajak dan dasar pelaporan komersial dari aset dan kewajiban serta atas rugi fiskal kumulatif. Pengaruh pajak dari beda waktu dan akumulasi rugi fiskal, yang dapat berupa aset ataupun kewajiban, disajikan dalam jumlah bersih. Aset dan kewajiban pajak tangguhan diukur pada tarif pajak yang diharapkan akan digunakan pada periode ketika aset direalisasi atau ketika kewajiban dilunasi berdasarkan tarif pajak (dan peraturan perpajakan) yang berlaku atau secara substantial telah diberlakukan pada tanggal neraca. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.5/2002 tanggal 23 Maret 2002, pendapatan sewa atas tanah dan/atau bangunan merupakan subjek dari pajak penghasilan final yaitu sebesar 10% dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan di atas tidak dapat dikurangkan untuk tujuan perhitungan pajak penghasilan.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) p. Laba Bersih per Saham Dasar Sesuai dengan PSAK No. 56, Laba Per Saham, laba bersih per saham dihitung dengan membagi laba bersih selama tahun berjalan dengan rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan setelah memperhitungkan pengaruh retroaktif perubahan nilai nominal saham Perusahaan dari Rp 100.000 menjadi Rp 100 di mana seolah-olah telah dilakukan sejak tanggal 1 Januari 2009. q. Informasi Segmen Perusahaan mengklasifikasikan segmen usaha sebagai segmen primer yaitu komponen usaha yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa (baik sebagai produk atau jasa individual atau sebagai kelompok barang atau jasa yang berhubungan) dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan segmen lainnya. Dalam hal ini segmen usaha Perusahaan dibagi berdasarkan kelompok usaha yaitu Department Store dan usaha lainnya. r. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dari jumlah yang diestimasi. 3. KAS DAN SETARA KAS Akun ini terdiri dari: Kas Rupiah 458.530.437 182.000.000 Mata uang lainnya 19.115.571 6.214.443 Sub-jumlah 477.646.008 188.214.443 Bank - Rupiah PT Bank Internasional Indonesia Tbk 1.492.034.360 9.910.941 PT Bank Central Asia Tbk 172.519..033 109.781.483 PT Bank OCBC NISP Tbk 5.129.332.293 943.276.697 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 69.025.657 541.629.473 PT Bank CIMB Niaga Tbk 243.068.696 - PT Bank Windu Kentjana Internasional Tbk - 686.332 Sub-jumlah 7.105.980.039 1.605.284.926

3. KAS DAN SETARA KAS (lanjutan) Deposito berjangka - Rupiah 35.430.000.000 14.400.000.000 Sub-jumlah 35.430.000.000 14.400.000.000 Jumlah 43.013.626.047 16.193.499.369 Tingkat suku bunga deposito berjangka pada tahun 2011 dan 2010, masing-masing berkisar antara 5,5% - 7% dan 5,5% - 7% per tahun dengan jangka waktu penempatan 1 hingga 3 bulan dan dapat diperpanjang secara otomatis (automated roll over). 4. PIUTANG USAHA Akun ini adalah tagihan kepada para penyewa (tenant) atas sewa sebesar Rp 2.020.783.380 dan Rp 1.441.100.835 masing-masing untuk tahun 2011 dan 2010. Seluruh saldo piutang usaha pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 adalah dalam mata uang Rupiah. Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat bukti objektif penurunan nilai dan seluruh saldo piutang usaha tersebut dapat tertagih sehingga tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai piutang. Pada tanggal-tanggal 31 Maret 2011 dan 2010, tidak terdapat piutang usaha yang digunakan sebagai jaminan. 5. PIUTANG LAIN-LAIN Akun ini adalah piutang karyawan sebesar Rp 2.600.270 dan Rp 3.064.000 masing-masing untuk tahun 2011 dan 2010. Seluruh saldo piutang lain-lain pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 adalah dalam mata uang Rupiah. Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat bukti objektif penurunan nilai dan seluruh saldo piutang lain-lain tersebut dapat tertagih sehingga tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai piutang. 6. PERSEDIAAN Rincian persediaan adalah sebagai berikut: Barang dagangan (milik sendiri) 499.244.681 13.267.553 Kantong plastik 106.107.150 68.351.210 Lainnya 664.822.563 672.092.330 Jumlah 1.270.174.394 753.711.093 Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir tahun, manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat indikasi penurunan nilai persediaan.

7. BIAYA DIBAYAR DI MUKA Rincian akun ini adalah sebagai berikut: Asuransi 105.353.478 121.497.784 Lain-lain 243.485.537 23.821.814 Jumlah 348.839.015 145.319.598 8. UANG MUKA Rincian akun ini adalah sebagai berikut: Pembelian 500.878.945 49.285.000 Lain-lain - 285.000.000 Jumlah 500.878.945 334.285.000 9. PENYERTAAN SAHAM Pada tahun 2011 dan 2010, akun ini seluruhnya merupakan penyertaan pada PT Golden Prima Retailindo dengan rincian sebagai berikut: Persentase Pemilikan Saham Nilai tercatat Metode Biaya PT Golden Prima Retailindo 19.00% 346.962.542 Perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam bentuk wewenang untuk berpartisipasi dalam keputusan yang menyangkut kebijakan keuangan serta operasional PT Golden Prima Retailindo.

10. ASET TETAP Rincian dan mutasi aset tetap adalah sebagai berikut: 2011 Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir Biaya Perolehan Bangunan 25.539.970.486 172.124.227-25.712.094.173 Peralatan kantor 5.989.362.344 254.296.927-6.243.658.271 Mesin 92.478.384 7.890.000-100.368.384 Kendaraan 2.189.858.731 117.118.182-2.306.976.913 Jumlah Biaya Perolehan 33.811.669.945 551.428.796-34.363.098.741 Akumulasi Penyusutan Bangunan 7.514.573.553 305.201.449-7.819.775.002 Peralatan kantor 4.163.366.019 436.388.628-4.599.754.647 Mesin 64.693.538 13.364.577-78.058.115 Kendaraan 413.325.114 91.437.623-504.762.737 Jumlah Akumulasi Penyusutan 12.155.958.224 846.392.277-13.002.350.501 Nilai Buku 21.655.711.721 21.360.748.240 2010 Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir Biaya Perolehan Bangunan 17.358.566.502 297.959.936-17.656.526.438 Peralatan kantor 4.985.192.966 29.985.675-5.015.178.641 Mesin 92.478.384 - - 92.478.384 Kendaraan 928.384.731 1.077.000.000-2.005.384.731 Jumlah Biaya Perolehan 23.364.622.583 1.404.945.611-24.769.568.194 Akumulasi Penyusutan Bangunan 6.447.070.780 200.812.863-6.647.883.643 Peralatan kantor 3.761.995.448 89.329.220-3.851.324.668 Mesin 53.585.192 2.777.085-56.362.277 Kendaraan 160.890.957 51.695.348-212.586.305 Jumlah Akumulasi Penyusutan 10.423.542.377 344.614.516-10.768.156.893 Nilai Buku 12.941.080.206 14.001.411.301

Penyusutan dibebankan pada beban usaha tahun berjalan dengan rincian sebagai berikut : Penjualan 123.223.221 28.086.083 Umum dan administrasi 713.891.056 316.528.433 Jumlah 837.114.277 344.614.516 Pada tanggal 31 Maret 2011, aset tetap telah diasuransikan melalui PT Asuransi Central Asia dan PT Asuransi AIU Indonesia (seluruhnya pihak ketiga) terhadap risiko kerugian akibat kerusuhan, kebakaran, sabotase dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan masingmasing sebesar Rp 10.752.690.000 dan $AS 3.500.000. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul dari risiko-risiko tersebut. Berdasarkan penelaahan manajemen Perusahaan tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahanperubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset tetap pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010. 11. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA Rincian akun ini adalah sebagai berikut: Jaminan 506.890.000 4.382.000 Lain-lain 12.715.333 - Jumlah 519.605.333 4.382.000 12. HUTANG USAHA - PIHAK KETIGA Akun ini seluruhnya merupakan merupakan hutang usaha dalam mata uang Rupiah kepada para pemasok sebesar Rp 4.920.566.234 dan Rp 5.681.593.357 masing-masing pada tahun 2011 dan 2010. Tidak ada jaminan yang diberikan oleh Perusahaan sehubungan dengan hutang usaha di atas.

13. PERPAJAKAN a. Pajak Dibayar di Muka Pada tanggal 31 Maret 2011, akun ini merupakan pajak dibayar di muka atas pajak pertambahan nilai yang dapat dikompensasi. b. Hutang Pajak Akun ini terdiri dari: Pajak penghasilan: Pasal 4 (2) 217.264.766 208.000.000 Pasal 21 21.847.839 16.647.097 Pasal 23 1.150.973 12.918.883 Pasal 29 1.003.714.058 526.897.829 Pajak restoran 38.396.173 43.216.948 Pajak parkir 20.740.113 22.659.700 Pajak pertambahan nilai - 4.415.897 Jumlah 1.303.113.922 834.756.354 Pada bulan September 2008, Undang-undang No. 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan telah diubah untuk ke empat kalinya dengan Undang-undang No. 36 Tahun 2008. Perubahan tersebut juga mencakup perubahan tarif pajak penghasilan badan dari sebelumnya menggunakan tarif pajak bertingkat menjadi tarif tunggal yaitu 28% untuk tahun fiskal 2009 dan 25% untuk tahun fiskal 2010 dan seterusnya. Undang-undang ini berlaku efektif sejak 1 Januari 2009. 13. UANG JAMINAN Pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010, saldo akun ini merupakan uang jaminan atas sewa ruangan yang diterima dari para penyewa (tenant) masing-masing sebesar Rp 930.999.265 dan Rp 851.542.335. 14. BEBAN MASIH HARUS DIBAYAR Rincian beban masih harus dibayar adalah sebagai berikut: Utilities 651.599.462 653.311.058 Sewa 346.666.666 346.666.666 Hutang retensi 14.406.331 18.536.331 Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 50.000.000) 768.656.574 552.713.833 Jumlah 1.781.329.033 1.571.227.888

15. KEWAJIBAN DIESTIMASI ATAS IMBALAN KERJA KARYAWAN Pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010, Perusahaan mencatat kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan berdasarkan perhitungan aktuaris independen yang dilakukan oleh PT Sakura Aktualita Indonesia dengan menggunakan metode Projected Unit Credit dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: Umur pensiun normal 55 tahun 55 tahun Tingkat kenaikan gaji 10% per tahun 10% per tahun Tingkat bunga diskonto 9% per tahun 11% per tahun Mutasi kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2010 dan 2009 adalah sebagai berikut: Saldo awal 2.491.927.953 1.991.647.561 Beban tahun berjalan (lihat Catatan 21) 150.000.000 125.000.000 Saldo Akhir 2.641.927.953 2.116.647.561 17. MODAL SAHAM Susunan pemegang saham Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut: 2011 Jumlah Persentase Saham Ditempatkan Kepemilikan Pemegang Saham dan Disetor Penuh (%) Jumlah PT Pasifik Atlanta Retailindo 160.000.000 55,94 16.000.000.000 Kenny Wirya (Direktur) 40.000.000 13,99 4.000.000.000 Masyarakat 86.000.000 30,00 8.600.000.000 Jumlah 286.000.000 100,00 28.600.000.000

2010 Jumlah Persentase Saham Ditempatkan Kepemilikan Pemegang Saham dan Disetor Penuh (%) Jumlah PT Pasifik Atlanta Retailindo 160.000.000 80,00 16.000.000.000 Kenny Wirya (Direktur) 40.000.000 20,00 4.000.000.000 Jumlah 200.000.000 100,00 20.000.000.000 Berdasarkan Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sebagaimana dinyatakan dalam Akta No. 147 dari Notaris Doktor Irawan Soerodjo, S.H., M.Si., tanggal 14 Januari 2010, para pemegang saham telah menyetujui antara lain: - Rencana Perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham kepada masyarakat (IPO) dan mencatat saham Perusahaan di bursa efek di Indonesia serta perubahan status Perusahaan dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka (Tbk); - Perubahan nama Perusahaan menjadi PT Golden Retailindo Tbk; - Perubahan nilai nominal saham Perusahaan dari semula sebesar Rp 100.000 per saham menjadi sebesar Rp 100 per saham; - Peningkatan modal dasar Perusahaan dari semula sebesar Rp 5.000.000.000 menjadi sebesar Rp 80.000.000.000 serta modal ditempatkan dan disetor dari sebesar Rp 1.650.000.000 menjadi sebesar Rp 20.000.000.000. Dalam peningkatan modal tersebut diterbitkan sebanyak 183.500.000 saham baru, dengan nilai nominal sebesar Rp 100 sehingga seluruhnya bernilai nominal sebesar Rp 18.350.000.000 yang diambil bagian oleh para pemegang saham Perusahaan, yaitu: 1. PT Pasifik Atlanta Retailindo sejumlah 146.800.000 saham dengan nilai nominal seluruhnya sebesar Rp 14.680.000.000; 2. Kenny Wirya sejumlah 36.700.000 saham dengan nilai nominal seluruhnya sebesar Rp 3.670.000.000. Penyetoran atas saham baru tersebut berasal dari kapitalisasi saldo laba Perusahaan sampai dengan tahun buku 2009 sebesar Rp 18.350.000.000. Akta perubahan tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-02774 tanggal 2 Februari 2010 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. AHU-0008436.AH.01.09 Tahun 2010 tanggal 2 Februari 2010. Terkait dengan rencana IPO di atas, Perusahaan pada tanggal 25 Juni 2010 telah mendapat Surat Pernyataan Efektif dari Ketua BAPEPAM-LK No. S-5756/BL/2010 untuk melakukan penawaran umum perdana saham biasa kepada masyarakat sejumlah 86.000.000 saham dengan nominal Rp 100 per saham.

18. PENDAPATAN BERSIH Pendapatan bersih Rp 25.781.660.731 dan Rp 21.256.814.229 masing-masing untuk tahun 2011 dan 2010. 19. BEBAN POKOK PENDAPATAN Beban Pokok Pendapatan Rp 16.886.589.189 dan Rp 14.664.065.681 masing-masing untuk tahun 2011 dan 2010. 20. BEBAN USAHA Rincian beban usaha adalah sebagai berikut: Penjualan 3.532.018.877 1.266.992.593 Umum dan administrasi 4.171.828.427 3.533.989.088 Jumlah 7.703.846.585 4.800.981.581 21. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Dalam kegiatan usahanya, Perusahaan melakukan beberapa transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang dilakukan pada tingkat harga dan persyaratan sebagaimana disepakati bersama. Rangkuman saldo dari transaksi-transaksi tersebut adalah sebagai berikut: Jumlah Persentase terhadap Total Aset/ Pendapatan Bersih 2011 2011 Aset Piutang usaha (lihat Catatan 4) PT Tekko Sejahtera Bersama 59.072.150 19.097.960 0,08% 0,05% Piutang lain-lain (lihat Catatan 5) PT Golden Prima Retailindo 20.488.383 10.858.996 0,03% 0,03%

21. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) Sifat hubungan dan jenis transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut diikhtisarkan sebagai berikut: No Pihak Hubungan Istimewa Sifat Hubungan Istimewa Transaksi 1. PT Tekko Sejahtera Bersama Direktur Perusahaan Bagi hasil adalah juga Komisaris PT Tekko Sejahtera Bersama 2. PT Golden Prima Retailindo Direktur Perusahaan adalah Penyertaan saham juga Komisaris PT Golden Prima Retailindo 22. LABA PER SAHAM DASAR Perhitungan laba bersih per saham dasar untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Maret 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut: Laba bersih 1.258.207.631 657.889.320 Rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar selama tahun berjalan 286.000.000 200.000.000 Laba bersih per saham dasar 4,40 3,29 23. INFORMASI SEGMEN Untuk segmen primer, evaluasi manajemen didasarkan pada jenis segmen usaha dengan rincian sebagai berikut: 2011 Department Store Lain-lain Jumlah Laba Rugi Pendapatan bersih 23.049.621.952 2.732.038.779 25.781.660.731 Beban pokok pendapatan (14.998.578.635) (1.888.010.554) (16.886.589.189) Beban usaha (6.777.884.939) (925.961.646) (7.703.846.585) Penghasilan lain-lain - bersih 364.788.914 121.596.305 486.385.218 Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan 1.637.947.292 39.662.884 1.677.610.175 Pajak penghasilan kini (409.486.823) 9.915.721 419.402.544 Laba Bersih 1.228.460.469 29.747.163 1.258.207.631

23. INFORMASI SEGMEN (lanjutan) 2010 Department Store Lain-lain Jumlah Laba rugi Pendapatan bersih 18.687.400.295 2.569.413.933 21.256.814.228 Beban pokok pendapatan (14.393.022.354) (271.043.327) (14.664.065.681) Beban usaha (3.600.736.186) (1.200.245.463) (4.800.981.649) Penghasilan lain-lain bersih (685.935.854) (228.645.285) (914.581.139) Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan 7.705.901 869.479.859 877.185.760 Pajak penghasilan kini 1.926.475 217.369.965 219.296.440 Laba Bersih 5.779.426 652.109.894 657.889.320 24. PERJANJIAN DAN IKATAN PENTING Pada tanggal 11 Juni 2007, berdasarkan perubahan (perpanjangan) perjanjian sewa, PT Mustafa Centre, PT Truly Indah dan PT Mustafa Indonesia setuju untuk memperpanjang penyewaan bangunan kepada Perusahaan. Perjanjian perpanjangan sewa tersebut selama 69 bulan yang dimulai dari tanggal 01 Juli 2008 sampai dengan tanggal 31 Maret 2014. Nilai sewa sebesar Rp 2.080.000.000 untuk per 3 bulan (bersih tidak termasuk pajak yang berkaitan) atau setahun sebesar Rp 8.320.000.000.