Bab 4 Hasil Dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
Bab 3 Metode Dan Perancangan Sistem

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

PENELITIAN ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA LAHAN PESISIR DAN LAUTAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN BAB I PENDAHULUAN

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan jenis sumberdaya hayati pesisir dan laut seperti rumput laut dan lain-lain telah lama dilakukan oleh masyarakat nelayan Kecamatan Kupang

V. KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA

ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

TINJAUAN PUSTAKA. meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tim Peneliti KATA PENGANTAR

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kawasan Pesisir dan Pantai Kawasan pesisir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2 Tinjauan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KAWASAN LINDUNG MENJADI KAWASAN BUDIDAYA

BOKS 2 HASIL KAJIAN POTENSI RUMPUT LAUT DI KABUPATEN ROTE NDAO

PENANGANAN TERPADU DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DI WILAYAH PESISIR, LAUTAN DAN PULAU

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA PENCEMARAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PENENTUAN TATA RUANG BUDIDAYA IKAN KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK AMBON

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan

Amonia (N-NH3) Nitrat (N-NO2) Orthophosphat (PO4) mg/l 3 Ekosistem

Rencana Pengembangan Berkelanjutan Kelautan dan Perikanan di Pulau Maratua

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan

ANALISIS TUTUPAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SITU BURUNG, DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

3. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

LAPORAN IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI OBYEK WISATA ALAM DI KARANGTEKOK BLOK JEDING ATAS. Oleh : Pengendali EkosistemHutan

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

KAJIAN PERMUKIMAN DI KAWASAN HUTAN BAKAU DESA RATATOTOK TIMUR DAN DESA RATATOTOK MUARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

- 3 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA

PERNYATAAN ABSTRAK ABSTRACT KATA

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 14 TAHUN 2006

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA. utara. Kawasan pesisir sepanjang perairan Pemaron merupakan kawasan pantai

6 PERTIMBANGAN KAWASAN KARST DALAM PENYUSUNAN ZONASI TNMT

BAB I PENDAHULUAN. besar sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, disisi lain masyarakat yang sebagian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kawasan Pesisir dan Pantai

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG

TINJAUAN PUSTAKA. Data menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia telah. Olehkarenanya, sektor ini menjadi sangat potensial untuk dikembangkan

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL

Hutan Mangrove Segara Anakan Wisata Bahari Penyelamat Bumi

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

Transkripsi:

Bab 4 Hasil Dan Pembahasan 4.1. Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Potensi sumberdaya lahan pesisir di Kepulauan Padaido dibedakan atas 3 tipe. Pertama adalah lahan daratan (pulau). Pada pulau-pulau berpenduduk, lahan dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman penduduk, kebun dan ladang, lokasi beberapa prasarana dan sarana sosial serta hutan sekunder. Pada pulaupulau tidak berpenduduk, lahan daratan merupakan semakbelukar, pepohonan kelapa dan hutan (primer dan sekunder). Luas total daratan pulau-pulau meliputi areal seluas 5.520,682 ha atau 3,17% dari luas wilayah. Kedua adalah daratan pantai pasang-surut (pasut), yaitu lahan pesisir yang mengalami proses pasut air laut yang berlangsung 2 kali dalam sehari (semidiurnal). Potensi Lahan ini meliputi rataan terumbu Atol Wundi, rataan terumbu pulau-pulau, Laguna dan Lagoon Wundi. Lahan tersusun dari berbagai jenis substrat dasar, seperti pasir, lumpur, patahan karang dan campuran substrat-substrat tersebut. Di atas lahan ini tumbuh dan berkembang berbagai jenis komunitas, seperti karang, lamun dan mangrove dengan berbagai jenis flora dan fauna pantai dan laut yang berasosiasi. Karang menempati tepi pantai yang berbatasan dengan daratan pulau. Lamun terletak di antara kedua komunitas tersebut. Lahan dimanfaatkan oleh penduduk sebagai tempat 54

pencaharian ikan dan hasil laut lain, lokasi budidaya rumput laut, jalur pelayaran dan tempat tambatan perahu nelayan serta tempat rekreasi dan pariwisata pantai. Lahan mencakup areal seluas 13228,003 ha atau 7,228% dari luas wilayah. Ketiga adalah potensi sumberdaya lahan perairan laut. Lahan ini merupakan perairan dalam dengan luas 169771,997 ha atau 92,772% dari luas wilayah. Kawasan ini dimanfaatkan sebagai tempat penangkapan ikan pelagis (kecil dan besar) dan ikan demersal serta sebagai jalur pelayaran perahu nelayan. Dari ketiga lahan tersebut, lahan pesisir pasang-surut memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan dibandingkan dengan lahan daratan pulau yang terbatas luasnya. Namun demikian, sebelum kedua lahan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan perlu dilakukan dengan metode Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) agar pemanfaatannya berlangsung secara optimal dan berkelanjutan. Analisis kesesuaian lahan kawasan pesisir Gugusan Pulau- Pulau Padaido ditunjukan untuk menetapkan jenis-jenis penggunaan lahan. Jenis penggunaan lahan yang direncanakan adalah kawasan lindung, kawasan konservasi dan pemanfaatan (pariwisata, rekreasi, budidaya rumput laut, budidaya teripang dan budidaya ikan dalam keramba) serta perikanan tangkap (ikan karang dan ikan pelagis). 55

Persyaratan penggunaan lahan didasarkan pada berbagai hasil kajian dari beberapa peneliti dan instansi terkait dengan melakukan modifikasi seperlunya. Umumnya persyaratan dan kriteria untuk masing-masing penggunaan lahan didasarkan pada aspek-aspek fisik lahan. Berdasarkan hasil survei lapangan dilakukan perbandingan antara persyaratan masing-masing pengunaan lahan dengan karakteristik atau kualitas yang dimiliki oleh setiap satuan lahan. Pemaduan (matching) ini menghasilkan kelas kesesuaian lahan untuk masing-masing penggunaan lahan yang dikelompokkan atas empat kelas. Pertama adalah kelas sangat sesuai (S1). Pada kelas ini, lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang diberikan, atau hanya mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang diberikan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap produksi dan tidak akan menaikan masukan yang telah biasa dilakukan. Kedua adalah kelas sesuai (S2). Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi produksi atau keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas ketiga adalah sesuai bersyarat (S3). Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas yang lebih besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang diperlukan. Keempat 56

adalah kelas tidak sesuai (N). Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Analisis menggunakan pendekatan metode tumpang susun (overlay) dari SIG untuk menampilkan kelas-kelas kesesuaian lahan dalam bentuk peta kesesuaian lahan dan besaran luasnya. Kelas-kelas kesesuaian lahan diberikan warna yang berbeda untuk menunjukan kekonstasannya sehingga mudah dibedakan. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk jenis-jenis penggunaan lahan yang direncanakan. 4.2. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Untuk Perikanan Budidaya Analisis kesesuaian lahan pesisir untuk perikanan budidaya bertujuan untuk menetapkan kesesuaian lahan pesisir untuk penggunaan usaha budidaya rumput laut, budidaya teripang dan budidaya ikan dengan Keramba Jaring Apung (KJA). Analisis dilakukan dengan memadukan persayaratan dari masing-masing penggunaan lahan dengan karakteristik atau kualitas satuan lahan pesisir (perairan pantai) di Gugusan Pulau-Pulau Padaido. Persyaratan dan kriteria dari masing-masing penggunaan lahan telah dijelaskan pada Bab 3. Berikut adalah hasil analisis kesesuaian lahan pesisir untuk penggunaan perikanan budidaya. 57

4.2.1. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Untuk Budidaya Rumput Laut Sebanyak 20 satuan lahan yang terdiri atas 3 kelompok di Distrik Padaido dianalisis kesesuaian lahannya. Kelompok pertama adalah lahan pesisir GPP Padaido Bawah yang terdiri dari 5 satuan lahan, yaitu dataran terumbu pulau-pulau Atol Wundi, perairan Lagoon Atol Wundi, perairan Laguna Auki, rataan terumbu Wurki dan Gosongan karang. Kelompok kedua adalah lahan pesisir GPP Padaido Atas. Lahan ini terdiri atas 11 rataan terumbu pulau, 1 perairan rawa Padaidori dan 3 perairan Laguna. Kelompok ketiga adalah perairan laut dalam. Lahan ini merupakan laut dalam dengan kedalaman di atas 100 m. Dari ketiga kelompok lahan tersebut, kelompok pertama dan kedua dianalisis kesesuaian lahannya, sedangkan kelompok ketiga tidak dianalisis karena secara fisik tidak sesuai untuk penggunaan budidaya rumput laut. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan yang disajikan pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1. diperoleh 3 kelas kesesuaian lahan untuk penggunaan budidaya rumput laut. Pertama adalah kelas sangat sesuai (S1). Kelas memiliki nilai kesesuaian lahan yang berkisar antara 80,87% sampai 94,8%. Lahan kelas ini tersebar di GPP Padaido Atas. Luas total lahan sebesar 12704,136 ha atau 6,94% dari luas kawasan. Luas kelas lahan sangat sesuai di GPP Padaido Bawah, tiga kali lebih besar dari lahan di GPP Padaido Atas. Lahan dataran terumbu pulau-pulau Atol Wundi 58

dan Lagoon Atol Wundi memberikan kontribusi terbesar. Pada lahan ini metode budidaya yang sesuai adalah metode lepas dengan sistem tali tunggal, metode apung dengan sistem tali panjang (long time) dan rakit terapung. Metode lepas dasar dengan sistem tali tunggal dengan pemagaran diterapkan pada lahan dataran terumbu pulau-pulau Atol Wundi dan rataan terumbu pulau-pulau, sedangkan metode apung dengan sistem tali panjang dan rakit terapung diterapkan pada perairan Lagoon Atol Wundi dan Laguna. Kedua adalah kelas sesuai bersyarat (S3). Lahan ini memiliki nilai kesesuaian sebesar 68,696% dan hanya terdapat di rawa Padaidori, dengan luas 79,596 ha. Lahan ini memiliki faktor pembatas yang serius untuk pengembangannya yaitu faktor fisik perairan, seperti arus, kedalaman air, dasar perairan dan kecerahan. Keempat faktor tersebut memiliki nilai yang rendah dibandingkan dengan 14 parameter lain yang disyaratkan. Namun demikian, lahan ini masih dapat dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut dengan syarat pilihan metode budidaya yang digunakan harus sesuai dengan kondisi setempat. Metode apung dengan sistem tali panjang dan rakit terapung untuk membudidayakan rumput laut sesuai diterapkan di lokasi ini. Ketiga adalah kelas lahan tidak sesuai (N). Kelas ini terdapat di dataran pulau-pulau Atol Wundi, Gosong karang dan perairan dalam di sekitar GPP Padaido. Lahan ini tidak mendukung pengembangan budidaya rumput laut karena memiliki faktor-faktor pembatas yang permanen, seperti laut 59

yang dalam, angin dan arus yang kencang dan gelombang besar. Faktor-faktor ini merupakan faktor alam yang sulit dikontrol. Tabel 4.1. Analisis Potensi Berdasarkan Kelas Kesesuaian Dan Luas Lahan (ha) Budidaya Rumput Laut. Kelas Kesesuaian Lahan No. Gugus Pulau Sangat Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai (S1) (S2) (S3) Sesuai (N) I. Padaido Bawah 1. Dataran P. P. Atol Wundi 6504,949 115,232 2. Lagoon Atol Wundi 3404,132 3. Laguna Auki 67,315 4. Wurki 71,225 5. Gosong Karang 38,970 Jumlah 10047,651 154,202 II. Padaido Atas 1. Pakreki 30,599 2. Padaidori 1272,205 79,596 3. Laguna Padaidori 20,475 4. Mbromsi 132,928 5. Pasi 84,15 6. Mangguandi 564,954 7. Laguna Mangguandi 17,103 8. Kebori 54,378 9. Rasi 50,629 10. Workbondi 67,527 11. Dauwi-Nukori 423,325 12. Laguna Dauwi- Nukori 108,277 13. Womsoi 116,503 14. Runi 278,705 Jumlah 3221,758 79,596 III. Perairan Dalam 169771,997 Jumlah Total 13269,409 79,596 169926,199 Hasil Analisis Menggunakan Metode ESDA 60

Gambar 4.1. Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Untuk Budidaya Rumput Laut. 4.2.2. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Untuk Budidaya Teripang Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan untuk penggunaan budidaya teripang yang disajikan pada Tabel 4.2 dan Gambar 4.2 diperoleh 4 kelas kesesuaian lahan. Pertama adalah kelas sangat sesuai (S1). Kelas ini hanya terdapat di 2 satuan lahan, yaitu dataran terumbu pulau-pulau Atol Wundi dan rataan terumbu Pulau Mangguandi, dengan luas total 7069,903 ha. Kedua lahan masing-masing memiliki nilai persentase analisis sebesar 83,158% untuk rataan pulau-pulau Atol Wundi dan 61

82,11% untuk Pulau Mangguandi. Faktor-faktor yang menentukan lahan sangat sesuai adalah faktor keterlindungan lokasi, tidak ada pencemaran, keamanan, ketersediaan benih dan faktor kondisi BioFisik lahan untuk kehidupan teripang, seperti kecerahan perairan, salinitas, suhu, oksigen terlarut dan ph. Kedua adalah kelas sesuai (S2). Lahan terbesar di 8 lokasi, 3 di GPP Padaido Bawah dan 5 di GPP Padaido Atas. Luas total lahan adalah 5480,025 ha. Nilai prosentase kesesuaian lahan berkisar antara 70,526% sampai 77,89%. Faktor-faktor yang mendukung lahan sesuai untuk budidaya teripang adalah keterlindungan, tidak ada pencemaran, ketersediaan benih dan kondisi BioFisik lahan untuk kehidupan teripang. Faktor-faktor yang kurang mendukung adalah ketersediaan sarana penunjang, keamanan serta kedalaman air saat surut. Ketiga adalah kelas sesuai bersyarat (S3). Lahan ini hanya terdapat di GPP Padaido Atas yang tersebar di 9 lokasi, yang mana 7 lahan berupa lahan pasang-surut pulau (rataan terumbu), 1 lahan berupa rawa dan 1 lahan berupa Laguna dengan luas total 69,47%. Pada lahan ini, faktor yang kurang mendukung adalah kurangnya keamanan, sarana penunjang, tanaman air (lamun) dan tingginya ketinggian air saat pasang. Faktor-faktor yang mendukung adalah keterlindungan relatif cukup, ketersediaan bibit dan kondisi BioFisik lahan sesuai untuk kehidupan teripang. 62

Keempat adalah kelas tidak sesuai (N). Lahan ini meliputi terumbu karang dalam dan Gosong karang di GPP Padaido Bawah dan perairan dalam sekitar GPP Padaido Atas. Lahan ini memiliki faktor pembatas permanen, seperti kedalaman perairan dan keterlindungan. Tabel 4.2. Analisis Potensi Berdasarkan Kelas Kesesuaian Dan Luas Lahan (ha) Budidaya Teripang. Kelas Kesesuaian Lahan No. Gugus Pulau Sangat Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai (S1) (S2) (S3) Sesuai (N) I. Padaido Bawah 1. Dataran P. P. Atol Wundi 6504,949 115,232 2. Lagoon Atol Wundi 3404,132 3. Laguna Auki 67,315 4. Wurki 71,225 5. Gosong Karang 38,970 Jumlah 6504,949 3542,702 154,202 II. Padaido Atas 1. Pakreki 30,599 2. Padaidori 1272,205 79,596 3. Laguna Padaidori 20,475 4. Mbromsi 132,928 5. Pasi 84,15 6. Mangguandi 564,954 7. Laguna Mangguandi 17,103 8. Kebori 54,378 9. Rasi 50,629 10. Workbondi 67,527 11. Dauwi-Nukori 423,325 12. Laguna Dauwi-Nukori 108,277 13. Womsoi 116,503 14. Runi 278,705 Jumlah 564,954 1937,323 798,987 III. Perairan Dalam 169771,997 Jumlah Total 7069,903 5480,025 798,987 169926,199 Hasil Analisis Menggunakan Metode ESDA 63

Gambar 4.2. Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Untuk Budidaya Teripang. 4.2.3. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Untuk Pariwisata Pesisir Pariwisata pesisir merupakan jenis pariwisata yang memanfaatkan pantai dan tepian laut sebagai objek dan daya tarik wisata dan rekreasi. Menikmati keindahan alam pantai, berolah raga pantai, berjemur (sun bathing), menikmati burung-burung (birds watching), menikmati keindahan tebing karang, berekreasi, berkemah, berenang, snorkling, menyelam, memancing dan berlayar merupakan kegiatan-kegiatan wisata pesisir yang berlangsung di daerah pantai, lahan pasut, terumbu karang, Gosong karang dan perairan laut. 64

Sebanyak 11 lahan pesisir yang dikelompokan atas Gugus pulau, pulau dan Lagoon dianalisis untuk penggunaan pariwisata pesisir. Pengelompokan pulau dilakukan berdasarkan jarak, akses dan ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata pesisir. Gugus Pulau Auki terdiri atas P. Auki, P. Yumni, P. Rarsbar, P. Wurki dan beberapa pulau tebing karang dan Laguna. Gugus Pulau Wundi terdiri atas P. Wundi, P. Urev, P. Mansurbabo dan Gosong karang. Gugus Pulau Padaidori terdiri atas P. Padaidori, P. Yeri, P. Yeri Kecil, Laguna dan rawa. Gugus Pulau Mangguandi terdiri atas P. Mangguandi, P. Kebori, P. Rasi dan Laguna. Gugus Pulau Dauwi terdiri atas P. Workbondi, P. Samakur, P. Nukori, P. Dauwi, P. Wamsoi, P. Runi dan Laguna. Lahan terdiri atas pantai kering, lahan pasut (rataan terumbu pulau), Gosong karang, Laguna, Lagoon, rawa dan terumbu karang yang memiliki objek dan daya tarik untuk pengembangan pariwisata dan rekreasi pantai dan laut. Analisis dilakukan dengan membandingkan (memadukan) karakteristik lahan dengan persyaratan penggunaan pariwisata pesisir. Persyaratan lahan untuk penggunaan pariwisata pesisir dikelompokan atas 2 parameter, yaitu kondisi bentang alam dan fasilitas pariwisata, yang dijelaskan dalam Bab 3. Penelitian menggunakan cara pembobotan dan skoring untuk menghasilkan kelas kesesuaian lahan. Hasil analisis kesesuaian lahan untuk penggunaan pariwisata pesisir disajikan pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.3. 65

Berdasarkan hasil analisis potensi sumberdaya lahan pesisir GPP Padaido untuk penggunaan pariwisata pesisir dikelompokan dalam 4 kelas. Pertama adalah kelas lahan sangat sesuai (S1) yang memiliki nilai kesesuaian berkisar antara 80 sampai 86,667%. Lahan tersebar di 5 lokasi, yaitu Gugus Pulau Auki, Gugus Pulau Wundi, Pulau Pai, Lagoon Atol Wundi dan Gugus Pulau Dauwi. Luas total lahan diperkiraan sebesar 7778,453 ha. Objek dan daya tarik lahan untuk pariwisata dan rekreasi pesisir adalah pantai pasir putih dan tebing karang, perkebunan kelapa sepanjang garis pantai, hutan pantai, perairan jernih dan tenang, burung-burung pantai, hamparan terumbu karang dan padang lamun, serta topografi dasar laut. Kegiatan pariwisata pesisir yang berlangsung di lahan adalah menikmati keindahan alam pantai pulau, olah raga pantai, berjemur, rekreasi atau piknik pantai, berkemah, menikmati burung-burung pantai di Pulau Samakur, berenang, berlayar, menikmati pemandangan bawah laut melalui selam dan snorkling, serta jalan-jalan di zona pasang-surut ketika air surut. Fasilitas pendukung, seperti sarana transportasi dan pondok wisata serta air tawar tersedia, sedangkan sarana kelistrikan dan telekomunikasi belum terpasang. Kedua adalah lahan kelas sesuai (S2) yang memiliki nilai kesesuaian antara 73,33% sampai 76,191%. Lahan tersebar di Gugus Pulau Padaidori dan Gugus Pulau Mangguandi dengan luas total sebesar 2270,784 ha. Lahan memiliki objek dan daya tarik wisata pesisir yaitu pantai berpasir putih, rataan terumbu 66

pulau (zona pasut), perairan jernih, terumbu karang, hamparan padang lamun dan hutan mangrove, Laguna dan rawa serta beberapa pulau kecil yang tidak berpenduduk. Kegiatan wisata pesisir yang dapat dilakukan antara lain: menikmati keindahan alam pulau, berenang, snorkling, olah raga pantai, piknik/rekreasi, berkemah, berlayar, berjemur dan jalan-jalan di zona pasut ketika air surut. Fasilitas pendukung, seperti pondok wisata, kelestarian dan telekomunikasi belum tersedia kecuali sarana transportasi dan air tawar. Tabel 4.3. Analisis Potensi Berdasarkan Kelas Kesesuaian Dan Luas Lahan (ha) Parwisata Pesisir. Kelas Kesesuaian Lahan No. Gugus Pulau Sangat Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai (S1) (S2) (S3) Sesuai (N) I. Padaido Bawah 1. Gugus Pulau Auki 982,674 2. Gugus Pulau Wundi 2259,119 3. Nusi 1092,046 4. Pai 138,191 5. Lagoon Atol Wundi 3404,132 Jumlah 6784,116 1092,046 II. Padaido Atas 1. Pakreki 19,976 2. Gugus Pulau Padaidori 1372,276 3. Mbromsi 132,928 4. Pasi 84,15 5. Gugus Pulau Mangguandi 898,508 6. Gugus Pulau Dauwi 994,337 Jumlah 994,337 2270,784 237,054 Jumlah Total 7778,453 2270,784 1329,100 Hasil Analisis Menggunakan Metode ESDA 67

Gambar 4.3. Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Untuk Pariwisata Pesisir. Ketiga adalah kelas lahan sesuai bersyaratan (S3) yang memiliki nilai kesesuaian berkisar antara 6067,6%. Lahan terbesar di 4 lokasi, yaitu Pulau Nusi, P. Pakreki, P. Mbromsi dan P. Pasi, dengan luas total lahan sebesar 1329,100 ha. Kawasan memiliki pantai pasir putih, pantai tebing karang, zona pasut yang pendek, topografi dasar laut yang beralur-alur (rugousity), ekosistem terumbu karang dan ikan pelagis sebagai objek dan daya tarik wisata. Berenang, menyelam, snorkling, memancing, menikmati pemandangan alam pantai merupakan kegiatan wisata pesisir yang dapat berlangsung di kawasan. Namun demikian, 68

kawasan memiliki faktor pembatas seperti kurangnya sarana transportasi dan tidak adanya sarana akomodasi, kelistrikan dan telekomunikasi serta kondisi perairan yang selalu dinamis pada musim-musim tertentu. Keempat adalah kelas lahan tidak sesuai (N). Lahan merupakan laut dalam dan secara fisik tidak sesuai untuk pengembangan kegiatan pariwisata pesisir. Cuaca dan kondisi perairan yang dinamis merupakan faktor pembatas lahan yang permanen pada musim-musim tertentu untuk aktivitas pariwisata pesisir. 4.2.4. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Untuk Daerah Penangkapan Ikan Karang Sebanyak kurang lebih 20 satuan lahan terumbu karang dianalisis untuk daerah penangkapan ikan karang. Satuan lahan merupakan terumbu karang dangkal, dalam dan karang kosong yang dikelompokan kedalam 10 satuan gugusan pulau dan pulau. Hasil analisis kesesuaian lahan disajikan pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.4. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan dengan memadukan persyaratan daerah penangkapan ikan karang dan karakteristik terumbu karang, daerah penangkapan ikan karang dikelompokan atas 3 kelas, yaitu kelas sangat sesuai (S1), kelas sesuai (S2) dan kelas sesuai bersyarat (S3). Kelas sangat sesuai (S1) memiliki nilai potensi kesesuaian lahan sebesar 80% dan dijumpai pada Gugusan Pulau Wundi dan Gugusan Pulau Dauwi. 69

Gugusan Pulau Wundi terdiri dari terumbu karang P. Wundi, P. Urev, P. Mansurbabo dan karang Gosong. Gugusan Pulau Dauwi terdiri dari terumbu karang P. Nukori, P. Dauwi, P. Wamsoi, P. Runi, P. Workbondi, karang Urbinai dan karang Kasinampia. Parameter pendukung lahan kelas ini adalah kedalaman perairan, kecerahan, kondisi terumbu karang dan kelimpahan ikan karang, sedangkan faktor yang kurang mendukung adalah perubahan cuaca. Kelas sesuai (S2) memiliki nilai kesesuaian sebesar 7276%. Kelas tersebar di terumbu karang Gugus Pulau Auki, P. Nusi, P. Pakreki, P. Mbromsi dan P. Pasi. Gugus Pulau Auki terdiri dari P. Auki, P. Rarsbar dan P. Yumni. Dibandingkan dengan kelas sangat sesuai, faktor yang kurang mendukung adalah kelimpahan ikan karang dan perubahan cuaca, sedangkan faktor lain cenderung sama. Kelas sesuai bersyarat (S3) memiliki nilai kesesuaian sebesar 64% dan tersebar di terumbu karang Pulau Pai, karang Insarorki, karang Wundumimas, Gugus Pulau Padaidori dan Gugus Pulau Mangguandi, terumbu karang Gugus Pulau Padaidori terdiri dari P. Padaidori, P. Yeri besar dan P. Yeri kecil. Faktor yang kurang mendukung selain kelimpahan ikan karang juga topografi dasar perairan dan perubahan cuaca. 70

No. Tabel 4.4. Analisis Potensi Berdasarkan Kelas Kesesuaian Daerah Penangkapan Ikan Karang. Gugus Pulau I. Padaido Bawah 1. Gugus Pulau Auki 2. Gugus Pulau Wundi 3. Nusi Kelas Kesesuaian Lahan Sangat Sesua i Bersyara t Sesuai (S1) (S2) (S3) 4. Pai 5. Karang Insarorki 6. Karang Wundumimas II. Padaido Atas 1. Pakreki 2. Gugus Pulau Padaidori 3. Mbromsi 4. Pasi Gugus Pulau 5. Mangguandi 6. Gugus Pulau Dauwi 7. Karang Mansawayomni 8. Karang Urbinai 9. Karang Kasinampia Hasil Analisis Menggunakan Metode ESDA Tidak Sesuai (N) 71

Gambar 4.4. Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Untuk Daerah Penagkapan Ikan Karang. 4.2.5. Analisis Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Untuk Daerah Penangkapan Ikan Pelagis Berdasarkan hasil analisis kesesuaian daerah penangkapan ikan pelagis yang disajikan pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.5. perairan laut di Kepulauan Padaido, baik yang mengelilingi Gugusan Pulau-Pulau Padaido Bawah dan Gugusan Pulau-Pulau Padaido Atas maupun perairan laut Lagoon. Atol Wundi sesuai untuk daerah penangkapan ikan pelagis dengan nilai kesesuaian sebesar 82,222% sampai 86,667%. Perairan Lagoon Atol Wundi sesuai untuk daerah penangkapan ikan pelagis kecil, sedangkan 72

perairan laut dalam yang mengelilingi Gugusan Pulau-Pulau Padaido sesuai untuk daerah penangkapan ikan pelagis kecil dan besar. Faktor yang mendukung perairan sesuai untuk daerah penangkapan ikan pelagis adalah parameter oseanografi perairan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan perairan dan tidak adanya pencemaran. Faktor yang kurang mendukung adalah perubahan cuaca. Tabel 4.5. Analisis Potensi Berdasarkan Kelas Kesesuaian Daerah Penagkapan Ikan Pelagis. Kelas Kesesuaian Lahan No. Lokasi Sesuai Tidak Sesuai (S) (N) 1. Perairan Pulau-Pulau Atol Wundi 2. Perairan Pulau Pakreki 3. Perairan Gugus Pulau Mbromsi 4. Perairan Gugus Pulau Dauwi 5. Perairan Lagoon Atol Wundi Hasil Analisis mengguankan Metode ESDA 73

Gambar 4.5. Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Untuk Daerah Penagkapan Ikan Pelagis. 74