Bab 3 Metode Dan Perancangan Sistem

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab 3 Metode Dan Perancangan Sistem"

Transkripsi

1 Bab 3 Metode Dan Perancangan Sistem Dalam bab 3 akan dibahas tentang metode dan perancangan sistem potensi sumberdaya lahan pesisir dalam pengembangan usaha perikanan di Kepulauan Padaido (GPP Padaido Bawah dan GPP Padaido Atas). Metode perancangan sistem ini akan menggunakan metode ESDA (Exploratory Spatial Data Analysis). Untuk itu akan dibahas setiap tahapan yang ada dalam metode tersebut antara lain: elemen spasial analisis yang terdiri dari generalisasi, distribusi data, inferensi spasial serta kerangka analisis dan proses penyusunan kesesuaian lahan, juga parameter dan bobot beserta skor kesesuaian lahan. Hasil dan perancangan sistem ini nantinya akan diimplementasikan dan akan dibahas pada bagian selanjutnya Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Auki dan Pulau Wundi, yang termasuk dalam kawasan Gugusan Pulau-Pulau Padaido Bawah dan Pulau Pai dan Pulau Nusi di kawasan Gugusan Pulau-Pulau Padaido Atas (Gambar 3.1). 24

2 Gambar 3.1. Lokasi Penelitian (COREMAP, 2010). Penelitian ini berlangsung sejak SeptemberNovember 2011 yang dilakukan dalam tiga tahap. Pertama studi pustaka, bertujuan untuk memperoleh data dan informasi sekunder. Kegiatan ini berlangsung selama 1 bulan. Kedua survei, bertujuan untuk memperoleh data primer, berlangsung selama 3 minggu. Kegiatan ini mencakup pengamatan dan pengumpulan data BioGeoFisik, dan ketiga adalah analisis data dan penulisan tesis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari survei lapangan dan wawancara berkuisioner dengan responden (masyarakat). Data sekunder adalah data yang belum atau telah diolah oleh suatu instansi dan hasil pengolahannya didokumentasikan dalam bentuk laporan. Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel

3 Tabel 3.1. Jenis Data Yang Dibutuhkan Dalam Penelitian. No. Jenis Data Metode Keterangan 1. Data Primer (Luas pulau, topografi, Instansi terkait dan kemiringan pantai, tipe pantai, survei insitu: lebar pantai, panjang pantai, pulau-pulau material pantai, penutup lahan, berpenduk dan Survei Lapangan ketersediaan air tawar, pasang surut, tidak berpenduduk kedalaman perairan, kecepatan dan arah arus, kecerahan, kualitas air, jenis tutupan). 2. Data Sekunder (Batas wilayah, monografi kampung, Penelusuran dokumen Kampung dan Kantor batas kelola kampung adat, hasil-hasil hasil penelitian dan Distrik Padaido, penelitian di lokasi, (terumbu karang, dokumentasi pada Pesisir Biak Timur, lamun dan mangrove), aktivitas perpustakaan kantor Biak Kota, masyarakat, kegiatan pemerintah dan daerah dan instansi COREMAP serta non-pemerintah yang pernah dan lain terkait. instansi terkait lain Sedang dilakukan di lokasi penelitian). di luar Kabupaten Biak Numfor Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data profil sumberdaya pesisir serta sosial ekonomi dan budaya dengan melibatkan partisipasi masyarakat digunakan metode pengkajian sumberdaya pesisir secara partisipasi Participatory Coastal Resources Assesment (PCRA) (Walters, et al., 2010). Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan gugusan pulau, yaitu GPP Padaido Bawah dan GPP Padaido Atas. Pengambilan data dilakukan pada stasiun penelitian yang ditetapkan, sedangkan data kondisi terumbu karang diperoleh dari hasil survei COREMAP (2009 & 2010). Penentuan stasiun penelitian dilakukan secara purpossive mencakup seluruh lokasi penelitian. 26

4 Pengumpulan data primer (BioFisik dan SosEkBud) menerapkan pencatatan langsung dan wawancara, sedangkan pengumpulan data sekunder menerapkan metode penelusuran informasi yang terdokumentasi di berbagai lembaga, pemerintah dan masyarakat (Tabel 3.2). Tabel 3.2. Metode Pengumpulan Data Penelitian. No. Jenis Data Metode Keterangan I. Data Primer Pengamatan/Pengukuran -Insitu Langsung di Lapangan 1. Profil SDA Pesisir Dan Laut: Terumbu Karang -Transek Intersep Linear (LIT) -COREMAP, Trnsek Kuadrat Linear Rumput Laut -Sensus -COREMAP, 2010 Ikan Karang -Transek Kuadrat Linear -COREMAP, 2010 Lamun -Pengamatan Langsung -Insitu Mangrove -Pengamatan Langsung -Insitu 2. Profil Pantai Dan Perairan -Analisis Citra + SIG -Insitu -Lab. SIG Wawancara: 3. SosEkBud -PCRA -Individu -Kelompok -Distrik Padaido II. Data Sekunder Penelusuran dokumen -Distrik Padaido dan laporan hasil kajian instansi terkait -Biak Kota -Wilayah Lain 3.3. Analisis Data Data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dikelompokkan berdasarkan lokasi dan kepentingan analisis untuk menjawab permasalahan dan tujuan penelitian. Kerangka analisis data potensi dan kesesuaian lahan GPP Padaido disajikan pada Gambar

5 Gambar 3.2. Kerangka Analisis Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido. Analisis keruangan dalam penelitian ini menggunakan SIG dengan metode ArcView, yaitu sistem informasi spasial menggunakan komputer yang melibatkan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), pemakaian data-data yang mempunyai fungsi pokok untuk menyimpan, memperbaharui, menganalisis dan menyajikan kembali semua bentuk informasi spasial. Proses penyusunan zonasi GPP Padaido dengan menggunakan SIG disajikan pada Gambar

6 Gambar 3.3. Proses Penyusun Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Analisis Kesesuaian Lahan Pesisir GPP Padaido Analisis kesesuaian lahan pesisir Gugusan Pulau-Pulau Padaido untuk berbagai peruntukan, pariwisata pesisir, budidaya rumput laut, budidaya teripang, daerah penangkapan ikan karang dan daerah penangkapan ikan pelagis dilakukan dengan teknik yang sama. 29

7 Pertama, penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan skoring. Untuk masing-masing peruntukan, penetapan persyaratan tidak sama. Parameter yang menentukan diberikan skor tertinggi. Kedua, penghitungan nilai peruntukan lahan. Nilai suatu lahan ditentukan berdasarkan total hasil perkalian Bobot (B) dan Skor (S) dibagi dengan total Nilai Bobot dikurang Skor dikalikan 100. Ketiga, pembagian kelas lahan dan nilainya. Dalam penelitian ini kelas lahan dibagi dalam 4 kelas yang didefinisikan sebagai berikut: Kelas S1: Sangat Sesuai (Highly Suitable) Pada kelas ini lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk mengelola yang diberikan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap kegiatan atau produksi hasil. Kelas S2: Sesuai (Moderately Suitable) Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi aktivitas atau produksi dan keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas S3: Sesuai Bersyarat (Marginally Suitable) Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas yang lebih besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas akan mengurangi aktivitas atau produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang diperlukan. 30

8 Kelas N: Pada kelas ini lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Sesuai dengan faktor pembatas dan tingkat keberhasilan yang dimiliki oleh masing-masing lahan, lahan kelas S1 dinilai sebesar 80100%; S2 dinilai sebesar 7079%; S3 dinilai sebesar 6069% dan N dinilai sebesar <60%. Semakin kecil faktor pembatas dan peluang keberhasilan atau produksi suatu lahan, semakin besar pula nilainya. Keempat, membandingkan nilai lahan dengan nilai masingmasing kelas lahan. Dengan cara ini, kelas kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu diperoleh. Kelima, pemetaan kelas kesesuaian lahan. Pemetaan kelas lahan dilakukan dengan program pemetaan spasial ArcView Pariwisata Pesisir Kesesuaian lahan untuk pariwisata pesisir dianalisis dengan menggunakan parameter dan kriteria lahan dari Suharsono dan Leatemia (2011). Parameter, pemboboton dan skoring kriteria kesesuaian lahan untuk pariwisata pesisir disajikan pada Tabel

9 Tabel 3.3. Parameter, Bobot Dan Skor Sistem Penilaian Lahan Untuk Pariwisata Pesisir. No. Parameter Sat. I. Kondisi Alam: Bobot Skor (S) (B) Jenis Pantai 3 pasir lumpur pantai karang pasir putih & karang 2. Tutupan Lahan Pantai 1 hutan, semak semak, kelapa kelapa, semak, hutan 3. Kejernian Air m 2 < >10 4. Temperatur Air ⁰C 1 < >28 5. Bentuk Tubir 2 landai <45⁰C >45⁰C 6. "Rugousity" 1 rata lorong-lorong goa-goa 7. Tutupan Karang 3 rendah sedang tinggi 8. Jenis Live Form Jenis 3 <6 6-9 >10 9. Jenis Ikan Karang Jenis 3 < > Jenis Lamun Jenis 3 <3 4-5 >6 11. Jenis Mangrove Jenis 3 <3 4-5 >6 12. Estetika 3 rendah sedang tinggi 13. Kemudahan 2 rendah sedang tinggi 14. Keselamatan 2 rendah sedang tinggi 15. Cuaca Tenang Bin >5 II. Fasilitas: 1. Transportasi 1 kurang cukup baik 2. Air Tawar 3 kurang cukup baik 3. Pondok Wisata 2 kurang cukup baik 4. Listrik 1 kurang cukup baik 5. Telekomunikasi 1 kurang cukup baik (COREMAP, 2010) 3.6. Budidaya Rumput Laut Kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut dianalisis menggunakan persyaratan (parameter dan kriteria) yang dikemukakan dalam DKP, Matriks parameter, bobot dan skor sistem penilaian kesesuaian lahan disajikan pada Tabel

10 No. Tabel 3.4. Parameter, Bobot Dan Skor Sistem Penilaian Lahan Untuk Budidaya Rumput Laut. Parameter Skor (S) Bobot (B) 1. Keterlindungan Kurang Sedang Baik 2 2. Gelombang (cm) > < Arus (cm/det) <10 & > & Kedalaman Air (m) <0,5 & >5 1-2,5 2, Dasar Perairan Pasir/Lumpur Pasir karang mt, makro alga, pasir 6. Salinitas (ppm) <30 & > Suhu (⁰C) <20 & > ph <7,3 & >8,2 7,3-7,8 7,8-8, Kecerahan (cm) < Kesuburan Perairan Kurang Cukup Baik Ketersediaan Benih Kurang Sedang Banyak Sarana Penunjang Kurang Cukup Baik Pencemaran Tercemar Sedang Tidak Ada Keamanan Kurang Cukup Aman 1 (COREMAP, 2010) Budidaya Teripang Kesesuaian lahan untuk budidaya teripang dianalisis menggunakan persyaratan yang dikemukakan oleh Sutaman (2009). Parameter, bobot, skor sistem penilaian lahan untuk budidaya teripang disajikan pada Tabel

11 No. Tabel 3.5. Parameter, Bobot Dan Skor Sistem Penilaian Lahan Untuk Budidaya Teripang. Parameter Yang Diukur 1. Faktor Penunjang Skor (S) Bobot (B) a. Keterlindungan Kurang Cukup Baik 3 b. Pencemaran Ada Sedikit Tidak Ada 1 c. Keamanan Kurang Sedang Baik 1 d. Sarana Penunjang Kurang Cukup Baik 1 2. Faktor Utama a. Dasar Perairan b. Kedalaman Air (m) Saat Surut c. Ketersediaan Tanaman Air d. Ketersediaan Sumber Benih Pasir / Pasir & Pasir & Lumpur Lumpur Patahan Karang >1 <0,5 0,5-1 2 Tidak Ada Jarang Padat 2 Dekat Jauh Sangat Jauh 2 e. Kecerahan Air (cm) < f. Salinitas (ppm) < g. Suhu Air Laut (⁰C) h. Oksigen Terlarut (mh/l) < i. ph <7,5 7,5-8,0 8,1-8,6 1 (COREMAP, 2010) Daerah Tangkapan Ikan Karang Kesesuaian lahan untuk daerah tangkapan ikan karang dianalisis menggunakan persyaratan, pembobotan dan skoring yang disajikan pada Tabel 3.6. Parameter kedalaman perairan, topografi dasar, perubahan cuaca, kondisi terumbu karang dan kelimpahan ikan target diboboti terbesar karena menentukan lokasi atau lahan sebagai daerah tangkapan ikan karang. 34

12 No. Tabel 3.6. Parameter, Bobot Dan Skor Sistem Penilaian Lahan Untuk Daerah Tangkapan Ikan Karang. Parameter Skor (S) Bobot (B) 1. Kedalaman Perairan (m) <3 3-5 > Topografi Dasar Perairan Landai Landai - Curam Curam 2 3. Kecerahan Perairan (m) < > Perubahan Cuaca Sering Sedang Jarang 2 5. Kondisi Terumbu Karang Buruk Sedang Baik 2 6. Pencemaran Ada Sedikit Tidak Ada 1 7. Kelimpahan Ikan Target (ind/350 m 2 ) < >200 2 (COREMAP, 2010) 3.9. Daerah Tangkapan Ikan Pelagis Kesesuaian lahan untuk daerah tangkapan ikan pelagis dianalisis menggunakan persyaratan, pembobotan dan skoring yang disajikan pada Tabel 3.7. Parameter dipilih berdasarkan tingkah laku distribusi dan kondisi oseanografi dari jenis-jenis ikan pelagis. Suhu dan perubahan cuaca memiliki bobot terbesar karena menentukan lahan atau lokasi sebagai daerah tangkapan ikan pelagis. Tabel 3.7. Parameter, Bobot Dan Skor Sistem Penilaian Lahan Untuk Daerah Tangkapan Ikan Pelagis. No. Parameter Skor (S) Bobot (B) 1. Suhu (⁰C) < > Salinitas (ppt) < > Kedalaman (m) < > Oksigen Terlarut (mg/l) <3 03-Mei > Kecerahan Perairan (m) < > Perubahan Cuaca Sering Sedang Jarang 2 7. Pencemaran Ada Sedikit Tidak Ada 1 (COREMAP, 2010) 35

13 3.10. Lingkungan BioGeoFisik Teresterial Topografi Dan Relief Pantai Gugusan Pulau-Pulau Padaido memiliki konfigurasi permukaan tanah relatif datar dan bergelombang dengan kemiringan antara 0 5%. Topografi datar dijumpai pada daerah pesisir pantai, sedangkan konfigurasi sedikit bergelombang dijumpai pada bagian TengahUtara pulau, kira m dari pantai. Pulau-pulau yang memiliki konfigurasi tanah datar antara lain Pulau Wundi, P. Nusi, P. Urev, P. Mansurbabo, P. Rarsbar, P. Warek, P. Kebori, P. Rasi, P. Workbondi, P. Nukori, P. Dauwi, P. Wamsoi, P. Runi dan P. Samakur. Pulau-pulau yang memiliki konfigurasi tanah datar dan sedikit bergelombang adalah Pulau Auki, P. Pai, P. Pakreki, P. Padaidori, P. Mbromsi, P. Pasi dan P. Mangguandi (COREMAP, 2009) Iklim Iklim adalah keadaan cuaca yang berlangsung di suatu tempat pada periode waktu yang panjang. Berdasarkan pengamatan terhadap unsur-unsur cuaca di Kabupaten Biak Numfor yang tercatat pada Stasion Meteorologi Klas I Frans Kaisepo Biak, iklim di Kepulauan Padaido termasuk iklim tropis basah dengan jumlah curah hujan antara 2000 mm/thn sampai 3000 mm/thn, jumlah curah hujan rata-rata di atas 150 mm/bulan dan jumlah hari hujan sebanyak lebih dari 200 hari setiap tahunnya (COREMAP, 2010). 36

14 Tipe Dan Asal Pembentukan Pulau Gugusan Pulau-Pulau Padaido terdiri dari dua tipe pulau. Tipe pertama adalah pulau-pulau karang timbul (raised coral island), yaitu pulau-pulau yang terbentuk oleh terumbu karang yang terangkat ke atas permukaan laut kira-kira 70 m dpl dengan tebing karang setinggi 510 m, karena adanya gerakan ke atas (uplift) dan gerakan ke bawah (subsidence) dari dasar laut karena proses geologi. Pulau-pulau tipe ini terdapat di kawasan GPP Padaido Atas. Tipe kedua adalah pulau-pulau Atol, yaitu pulaupulau karang yang berbentuk cincin dimana pada bagian tengahnya terdapat Lagoon. Pulau-pulau tipe ini terdapat di kawasan GPP Padaido Bawah (COREMAP, 2010). Gugusan Pulau-Pulau Padaido terbentuk dari batuan induk kapur (karst) dan batu gamping koral (formasi mokmer). Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, pulau-pulau ini mengalami perubahan bentuk, bertambah tinggi pada salah satu bagian pulau atau seluruhnya, sebagai akibat dari aktivitas tektonik. Aktivitas tektonik berupa gempa terjadi dan tercatat di sekitar kawasan Kepulauan Padaido dan Pulau Biak telah berlangsung dalam 3 periode waktu, yaitu periode tahun , dan Pada periode tercatat satu gempa dengan kekuatan 6 Skala Reichter yang berpusat di dekat Pulau Padaidori pada kedalaman <120 km (Koswara, 2008). 37

15 3.11. Perancangan ESDA Pada Sistem Lingkungan BioFisik Perairan Batimetri Gugusan Pulau-Pulau Padaido merupakan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah Timur-Tenggara Pulau Biak. GPP ini dikelilingi oleh laut yang relatif dalam, berkisar antara m. Kedalaman di atas 500 m berada di bagian Utara, Selatan dan Timur. Namun demikian, 90% kedalaman perairan berada dibawah 500 m (Gambar 3.4). Jarak ke arah laut dalam sangat pendek dari batas luar rataan terumbu dan pada beberapa pulau tertentu topografi pantainya langsung curam mencapai kedalaman >200 m. Perairan dangkal, umumnya, terdapat di sekitar rataan terumbu, pesisir pulau dan perairan Lagoon dengan kedalaman perairan berkisar antara 125 m. Gambar 3.4. Profil Batimetri GPP Padaido (COREMAP, 2010). 38

16 Suhu, Salinitas Dan Kecerahan Perairan Suhu permukaan di perairan GPP Padaido berkisar antara 2830ºC. Pada kedalaman 50 m suhu berkisar antara 2628ºC (Hutahaean, et al., 2005). Salinitas permukaan perairan GPP Padaido berkisar pada nilai ppm, sedangkan kecerahan perairan berkisar pada nilai >15 m (Hutahaean, et al., 2005) Gelombang Dan Arus Tinggi gelombang laut di perairan GPP Padaido berkisar antara m. Gelombang tinggi biasanya terjadi pada bulan Mei dan Juli, sedangkan gelombang rendah terjadi pada bulan September dan Maret (Direktorat Jenderal PHPA, 2009). Arus di GPP terjadi pada bulan FebruariJuli arus permukaan bergerak ke Timur dengan kecepatan antara 2475 cm/det dengan arah ke Barat. Kecepatan arus pada bulan-bulan tersebut tergolong kuat (Direktorat Jenderal PHPA, 2009) Terumbu Karang Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem yang khas di daerah tropis. Selain mempunyai produktifitas organik yang tinggi, ekosistem ini memiliki keanekaragaman biota (flora dan fauna) yang berasosiasi dengannya. Penelitian terumbu karang di GPP Padaido telah dilakukan oleh berbagai pihak baik pemerintah, perguruan tinggi maupun masyarakat (lembaga swadaya masyarakat) selama 6 tahun terakhir dengan skala dan kepentingan yang berbeda-beda. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa GPP 39

17 Padaido memiliki empat jenis terumbu karang, yaitu: 1) terumbu karang pantai; 2) terumbu karang penghalang; 3) terumbu karang Atol; dan 4) terumbu karang Gosong. Atol hanya terdapat di GPP Padaido Bawah, yaitu Atol Wundi. Terumbu karang penghalang hanya terdapat di GPP Padaido Atas, yaitu dekat P. Runi. Terumbu karang tepi terdapat di perairan pesisir pulau-pulau, sedangkan terumbu Gosong terdapat baik di GPP Padaido Bawah maupun GPP Padaido Atas. Gambar 3.5. Kondisi Karang Di GPP Padaido (COREMAP, 2010) Ikan Karang Ikan karang merupakan salah satu sumberdaya hayati yang menghuni terumbu karang. Sedangkan ikan target adalah jenis-jenis ikan karang yang dikelompokan sebagai ikan konsumsi/pangan karena memiliki nilai ekonomi. Di GPP Padaido ditemukan kurang lebih 101 jenis ikan karang di GPP 40

18 Padaido Bawah dan 127 jenis di GPP Padaido Atas. Ikan indikator adalah jenis-jenis ikan karang yang berasosiasi sangat erat dengan terumbu karang. Keberadaan jenis-jenis ikan ini digunakan sebagai indikator untuk mempelajari kondisi terumbu karang. Di perairan terumbu karang GPP Padaido ditemukan kurang lebih 34 jenis di GPP Padaido Bawah dan 29 jenis di GPP Padaido Atas. Ikan mayor adalah jenis-jenis ikan yang tidak termasuk dalam kedua kelompok di atas dan belum diketahui peranan utamanya dalam rantai makanan di alam. Ikan-ikan ini berukuran kecil dan sebagian besar tergolong ikan hias. Di perairan GPP Padaido terdapat kurang lebih 151 jenis di GPP Padaido Bawah dan 185 jenis di GPP Padaido Atas (Hukom, et al., 2009; COREMAP, 2009, COREMAP, 2010). Gambar 3.6. Kondisi Ikan Karang Di GPP Padaido (COREMAP, 2010). 41

19 Rumput Laut Rumput laut merupakan alga berukuran besar (makroalga) yang hidup menancap atau melekat pada dasar laut yang keras, seperti karang mati atau fragmen karang yang bercampur dengan pasir. Rumput laut telah dimanfaatkan dan dikembangkan secara luas dalam berbagai industri, seperti industri makanan, obatobatan, farmasi, kosmetik, bioteknologi dan mikrobiologi (Chapman, 2008; Okazaki, 2008; Atmadja, et al., 2009) Ikan Pelagis Ikan pelagis adalah kelompok ikan yang mendiami suatu lapisan pelagis, yaitu lapisan air yang masih dapat dicapai sinar matahari. Berdasarkan ukuran, ikan pelagis dibedakan atas ukuran yaitu: ikan pelagis besar adalah ikan pelagis yang berukuran besar, seperti ikan cakalang, tongkol, tenggiri, layar dan jenis-jenis ikan tuna. Ikan pelagis kecil adalah ikan pelagis yang berukuran kecil, seperti ikan kembung, kawalinya, momar, make dan puri/teri. Di Gugusan Pulau-Pulau Padaido, ikan pelagis berpotensi untuk dikembangkan di masa-masa mendatang sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat selain ikan karang. Di pasar Bosnik, ikan pelagis yang banyak dipasarkan adalah ikan cakalang. Perairan yang menjadi daerah penangkapan ikan pelagis adalah perairan sekitar Pulau Pakreki, P. Dauwi dan perairan perbatasan (Barat, Timur, Utara dan Selatan). 42

20 3.12. Lingkungan Sosial, Ekonomi Dan Budaya Kependudukan Berdasarkan sensus pertanian tahun 2011, jumlah penduduk GPP Padaido sebanyak jiwa (laki-laki jiwa dan perempuan jiwa) dengan jumlah keluarga sebesar 975 kepala keluarga yang tersebar di 19 kampung dalam 8 pulau. Distribusi penduduk berdasarkan kampung dan pulau disajikan pada Tabel 3.8. Berdasarkan tingkat pendidikan, penduduk GPP Padaido yang tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) sebesar 9.71%, yang tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 20.13% dan yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD) sebesar 30.79%. Penduduk yang tidak sekolah sebesar 39.20% (Kabupaten Biak Numfor, 2011). Tabel 3.8. Kondisi Penduduk GPP Padaido, Distrik Padaido. No. Pulau Kampung Penduduk Jumlah Keluarga Laki-Laki Perempuan 1. Auki Auki Sandidori Wundi Wundi Sorina Nusi Nusi Nusi Babaruk Pai Pai Imbeyomi Padaidori Sasari Mnupisen Yeri

21 Tabel 3.8. Lanjutan 6. Mbromsi Nyansoren Saribra Mbromsi Karabai Pasi Pasi Samber Pasi Mangguandi Mangguandi Suprima Jumlah Hasil Sensus Pertanian Maret 2011, BPS Biak Numfor Sarana Sosial Sarana sosial yang terdapat di GPP Padaido, Distrik Padaido, meliputi sarana pendidikan SD sebanyak (12 bangunan) yang tersebar di pulau-pulau yang berpenduduk, SMP (1 bangunan) di Pulau Mbromsi, sedangkan SMU tidak dijumpai di Distrik Padaido. Sarana kesehatan terdiri dari Puskesmas (2 bangunan) dan puskesma pembantu juga (2 bangunan), sedangkan posyandu terdapat di seluruh kampung. Sarana peribadatan ada (12 gereja) dijumpai di setiap pulau yang berpenduduk, sedangkan sarana peribadatan lain tidak ada. Sarana perekonomian GPP Padaido berupa kios-kios penduduk yang melayani kebutuhan sembako (supermi, rokok, gula, kopi, beras, minyak dan lain-lain). Paling sedikit terdapat 1 kios di tiap kampung/pulau yang berpenduduk. 44

22 Tabel 3.9. Pendidikan Penduduk GPP Padaido, Distrik Padaido. No. Pulau Kampung Tidak Tidak Tamat Tamat Sekolah Tamat SD SMP SMU 1. Auki Auki Sandodori Wundi Wundi Sorina Nusi Nusi Nusi Babaruk Pai Pai Imbeyomi Mangguandi Meomangguandi Supraima Pasi Samber Pasi Pasi Nyansoren Mbromsi Mbromsi Karabai Saribra Mnupisen 8. Padaidori Yeri Sasari Jumlah Prosentase 39.20% 30.79% 20.13% 9.71% (Kabupaten Biak Numfor, 2011) Selain sarana sosial tersebut pada Tabel 3.9, terdapat pula sarana pariwisata dan sarana angkutan nelayan. Sarana pariwisata berupa pondok wisata sebanyak 3 bangunan terletak di P. Wundi (1 bangunan) dan P. Dauwi (2 bangunan). Sarana angkutan umum, seperti kapal atau perahu motor yang melayani GPP Padaido dengan Pulau Biak pergi-pulang belum tersedia. Penduduk GPP Padaido yang akan ke Biak menumpang perahu motor nelayan pada setiap hari pasar (selasa, kamis dan sabtu) dengan membayar sejumlah uang, rata-rata Rp untuk pergi-pulang. 45

23 Perekonomian Dan Industri Berdasarkan sensus pertanian 2011, perekonomian penduduk GPP Padaido berasal dari bidang pertanian tanaman pangan (ketela pohon dan umbi-umbian), perkebunan (kelapa), peternakan (babi, ayam, itik) dan perikanan (penangkapan ikan dan budidaya kerang, teripang dan rumput laut) (BPS Kabupaten Biak Numfor, 2011). Tabel Keadaan Keluarga Pertanian GPP Padaido, Distrik Padaido. No. Pulau Kampung Tanaman Perke- Peter- Penang- Budidaya Pangan bunan nakan kapan Ikan Laut 1. Auki Auki Sandidori Wundi Wundi Sorina Nusi Nusi Nusi Babaruk Pai Pai Imbeyomi Padaidori Sasari Mnupisen Yeri Mbromsi Nyansoren Saribra Mbromsi Karabai Pasi Pasi Samber Pasi Mangguandi Mangguandi Suprima Jumlah Porsentase 15.49% 66.36% 18.77% 86.56% 4.72% Hasil Sensus Pertanian Maret 2011, BPS Kabupaten Biak Numfor, 2011 Sarana perikanan tangkap di GPP Padaido terdiri dari perahu tak bermotor dan perahu motor tempel. Alat penangkapan ikan yang umum digunakan adalah jaring insang dan pancing, panah dan tombak (Kabupaten Biak Numfor, 2010). 46

24 Tabel Sarana Perikanan Tangkap Di GPP Padaido, Distrik Padaido. No. Pulau Perahu Tidak Perahu Motor Bermotor Tempel Jumlah 1. Auki Wundi Nusi Pai Padaidori Mbromsi Pasi Mangguandi Jumlah (Kabupaten Biak Numfor, 2011) Penggunaan Lahan Saat Ini Lahan yang digunakan di GPP Padaido adalah lahan daratan dan perairan. Umumnya di pesisir pantai terdapat perkampungan, sedangkan agak ke tengah pulau terdapat fasilitas sosial, seperti gereja, sekolah, puskesmas/posyandu dan sarana lain. Lahan lain berupa perkebunan kelapa yang tersebar di sekeliling pulau serta kebun campuran, semak belukar dan hutan lindung. Lahan perairan dangkal digunakan untuk menangkap ikan karang, kerang-kerangan, siput, gurita, teripang, udang karang dan budidaya rumput laut. Lahan perairan laut dalam digunakan untuk menangkap ikan pelagis dan transportasi perahu motor. 47

25 Kondisi Kepariwisataan Pada tanggal 13 Februari 1997, wilayah Distrik Padaido ditetapkan sebagai Kawasan Taman Wisata Kepulauan Padaido oleh Pemerintah dengan luas ha. Wilayah ini mencakup pulau-pulau dan perairannya (SK Menhut No. 91/Kpts-VI/1997). Berdasarkan ketetapan ini, wilayah GPP Padaido diperuntukan sebagai kawasan pariwisata dan rekreasi. Asal dan jumlah wisatawan yang mengunjungi GPP Padaido disajikan pada Tabel Wisatawan manca negara yang mengunjungi GPP Padaido sebanyak 115 orang yang berasal dari kurang lebih 14 negara dengan total lama tinggal 82 hari selama periode Pada periode JanuariJuni 2010, wisatawan yang mengunjungi GPP Padaido sebanyak 54 orang yang berasal dari 11 negara dengan total lama tinggal 26 hari. Tabel Kunjugan Wisatawan Manca Negara Di GPP Padaido, Distrik Padaido, Periode 2009Juni T a h u n No. N e g a r a 2009 Januari Juni 2010 Jumlah Tinggal (hr) Jumlah Tinggal (hr) 1 Australia Belgia ,5 3 British Cekoslowakia Dutch France ,5 7 Germany Indonesia ,5 48

26 Tabel Lanjutan 9 Italy Poland Slovenia Spain Sweden USA ,5 15 New Zeland Japan Taiwan 1 2 Jumlah (Dive, 2010) Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) Analisis spasial ini adalah membuat model prosedur analisis keruangan dengan memanfaatkan fasilitas SIG. Dalam penentuan kriteria dan parameter/variabel tersebut mengacu pada model-model sebelumnya telah dibuat oleh Purwadhi (2000), Widodo, dkk (1996), Bakosurtanal (1996). Kriteria, yang digunakan dalam analisis alokasi ruang adalah kriteria umum dan parameter yang masih bersifat sementara. Analisis spasial menggunakan formula matematis sebagai berikut. P (x) = f (Abiotik) + f (Biotik) + f (Sosek) + f (RTRW) di mana: P (x) = daerah potensial untuk pengembangan usaha x. 49

27 3.14. Analisis Potensi Kesesuaian Lahan Analisis lahan dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pengunaan lahan tertentu. Dalam menentukan tingkat kesesuaian lahan ditentukan dengan metode pengharkatan dengan mengambil beberapa parameter serta pembobotan dalam menentukan tingkat kesesuaiannya. Kesesuaian lahan untuk perikanan tambak yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut. PT = S (E) + LR (< 3) + R (< 2000) + P (< 4000) + PL (r, b) + MP (n) + J (< 2000) + RTRW (B) Keterangan: PT = Wilayah potensial untuk perikanan tambak S = Jenis tanah Entisol (E) LR = Kelerengan datar : (0 3%) R = Jarak dari sungai ( meter) P = Jarak dari pantai ( meter) PL = Jenis penggunaan lahan : rawa (r) atau belukar (b) MP = Mata pencaharian penduduk nelayan (n) J = Jarak dari jalan ( meter) RTRW= Rencana penggunaan lahan untuk Budidaya (B) Kesesuaian lahan pariwisata pesisir yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut. PP = P (p) + J (c) + B (< 5) + V (k, pp) + PL (It) + MP (n, d) + J (< 500) + S (at, h) + RTRW (P) 50

28 Keterangan: PP = Wilayah potensial untuk pariwisata pesisir P = Jenis pantai: berpasir (p) i = Kecerahan perairan: cerah B = Kedalaman perairan (0 5 meter) V = Vegetasi: kelapa (k), pines pantai (pp) PL = Penggunaan lahan: lahan terbuka (lt) MP = Mata Pencaharian Penduduk: nelayan (n), pedagang (d) J = Jarak dari jalan (0 500 meter) S = Sarana: air tawar (at), hotel (h) RTRW= Rencana penggunaan lahan untuk: Pariwisata (P) Kesesuaian lahan kawasan konservasi yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut. PK = S (E) + V (p, m) + PL (h) + RTRW (K) Keterangan: P = Wilayah potensial untuk kawasan konservasi S = Jenis tanah : Entisol (E) V = Vegetasi : pinus (p), mangrove (m) PL = Penggunanan Lahan : hutan (h) RTRW = Rencana penggunaan lahan untuk : Konservasi (K) 51

29 Analisis kesesuaian lahan pesisir Kepulauan Padaido untuk berbagai peruntukan, budidaya perikanan tambak, pariwisata bahari (renang dan rekreasi pantai) dan konservasi wilayah pesisir dilakukan dengan teknik yang sama. Pertama, penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan skoring. Untuk masing-masing peruntukan, penetapan persyaratan tidak sama. Parameter yang menentukan diberikan bobot terbesar sedangkan kriteria, (batas-batas) yang sesuai diberikan skor tertinggi. Parameter, bobot dan skor sistem penilaian masingmasing kesesuaian lahan disajikan dalam bentuk matriks kesesuaian lahan. Kedua, perhitungan nilai peruntukan lain. Penghitungan kesesuaian dilakukan dengan mengalikan bobot dengan skor, untuk sesuai (skor 3), sesuai bersyarat (skor 2) dan tidak sesuai (skor 1). Ketiga, pembagian kelas lahan. Berdasarkan perkalian bobot dan skor tersebut pembagian kelas lahan dan nilainya dalam penelitian ini dibagi dalam 3 kelas: Kelas S1: Sesuai; Kelas S2: Sesuai Bersyarat dan Kelas N: Tidak Sesuai. Klasifikasi tingkat kesesuaian lahan berdasarkan jumlah perkalian bobot dan skor, kesesuaian lahan untuk budidaya, perikanan tambak, pariwisata dan kawasan konservasi (Tabel 3.13). Keempat, membandingkan nilai lahan dengan nilai masing-masing kelas lahan. Kelima, penyajian grafis (spasial) hasil analisis berupa peta kesesuaian lahan. 52

30 Tabel Klasifikasi Tingkat Kesesuaian Lahan Berdasarkan Total Bobot Skor x Total Skor Pada Tingkat Budidaya Pariwisata Kawasan Kesesuaian Lahan Perikanan Tambak Bahari Konservasi Sesuai Sesuai Bersyarat <60 < 50 <34 Tidak Sesuai Hasil Analisis 53

Bab 4 Hasil Dan Pembahasan

Bab 4 Hasil Dan Pembahasan Bab 4 Hasil Dan Pembahasan 4.1. Potensi Sumberdaya Lahan Pesisir Potensi sumberdaya lahan pesisir di Kepulauan Padaido dibedakan atas 3 tipe. Pertama adalah lahan daratan (pulau). Pada pulau-pulau berpenduduk,

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Diketahui bahwa Papua diberi anugerah Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Sumberdaya tersebut dapat berupa sumberdaya hayati dan sumberdaya non-hayati. Untuk sumberdaya

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya 1 Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya PENDAHULUAN Wilayah pesisir merupakan ruang pertemuan antara daratan dan lautan, karenanya wilayah ini merupakan suatu

Lebih terperinci

PENELITIAN ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA LAHAN PESISIR DAN LAUTAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN BAB I PENDAHULUAN

PENELITIAN ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA LAHAN PESISIR DAN LAUTAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan (archipelago state), keberadaan pulau-pulau kecil sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan, bukan saja karena jumlahnya

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 21 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Umum Fisik Wilayah Geomorfologi Wilayah pesisir Kabupaten Karawang sebagian besar daratannya terdiri dari dataran aluvial yang terbentuk karena banyaknya sungai

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Pulau Pramuka secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu, Kotamadya Jakarta

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL Nam dapibus, nisi sit amet pharetra consequat, enim leo tincidunt nisi, eget sagittis mi tortor quis ipsum. PENYUSUNAN BASELINE PULAU-PULAU

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya

III. METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut ini berada di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi,

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Analisis parameter kimia air laut

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI IV.1 Gambaran Umum Kepulauan Seribu terletak di sebelah utara Jakarta dan secara administrasi Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut dan hampir sepertiga penduduknya mendiami daerah pesisir pantai yang menggantungkan hidupnya dari

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian METODOLOGI. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini terdiri dari tahapan, yakni dilaksanakan pada bulan Agustus 0 untuk survey data awal dan pada bulan FebruariMaret 0 pengambilan data lapangan dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis dan Batasan Wilayah

HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis dan Batasan Wilayah 67 HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Letak Geografis dan Batasan Wilayah Kepulauan Padaido merupakan kumpulan pulau-pulau kecil sebanyak 32 pulau yang terletak di bagian timur-tenggara

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang V. KEADAAN UMUM WILAYAH 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang Wilayah Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari 12 pulau dan memiliki kondisi perairan yang sesuai untuk usaha budidaya. Kondisi wilayah

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK Penelitian tentang karakter morfologi pantai pulau-pulau kecil dalam suatu unit gugusan Pulau Pari telah dilakukan pada

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisa kesesuaian lahan perairan Abalon ini

METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisa kesesuaian lahan perairan Abalon ini III METODE PENELITIAN.. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Lokasi dan objek penelitian analisa kesesuaian lahan perairan Abalon ini berada di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Lebih terperinci

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA PERENCANAAN WILAYAH 1 TPL 314-3 SKS DR. Ir. Ken Martina Kasikoen, MT. Kuliah 10 BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA Dalam KEPPRES NO. 57 TAHUN 1989 dan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang PEDOMAN

Lebih terperinci

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM 69 4. DESKRIPSI SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN PENELITIAN 4.1 Kondisi Ekologi Lokasi studi dilakukan pada pesisir Ratatotok terletak di pantai selatan Sulawesi Utara yang termasuk dalam wilayah administrasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pantai adalah wilayah perbatasan antara daratan dan perairan laut. Batas pantai ini dapat ditemukan pengertiannya dalam UU No. 27 Tahun 2007, yang dimaksud dengan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU Urip Rahmani 1), Riena F Telussa 2), Amirullah 3) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan USNI Email: [email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekitar 78 % wilayah Indonesia merupakan perairan sehingga laut dan wilayah pesisir merupakan lingkungan fisik yang mendominasi. Di kawasan pesisir terdapat

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan 13 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di kawasan Pantai Santolo, Kabupaten Garut. Pantai Santolo yang menjadi objek penelitian secara administratif berada di dua

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini disebabkan karena Indonesia

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Barat-Propinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu di kawasan pesisir Kecamatan Sekotong bagian utara, tepatnya di Desa Sekotong

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang terpanjang di dunia, lebih dari 81.000 KM garis pantai dan 17.508 pulau yang membentang

Lebih terperinci

STUDI KESESUAIAN LOKASI SEA RANCHING TERIPANG DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MODEL SEA FARMING-SASIEN DI PULAU PAI KEPULAUAN PADAIDO KABUPATEN BIAK NUMFOR

STUDI KESESUAIAN LOKASI SEA RANCHING TERIPANG DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MODEL SEA FARMING-SASIEN DI PULAU PAI KEPULAUAN PADAIDO KABUPATEN BIAK NUMFOR STUDI KESESUAIAN LOKASI SEA RANCHING TERIPANG DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MODEL SEA FARMING-SASIEN DI PULAU PAI KEPULAUAN PADAIDO KABUPATEN BIAK NUMFOR Yunus P. Paulangan 1 1 Program Studi Ilmu Kelautan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran 15 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, baik karakteristik, dinamika dan potensi. Pembangunan yang semakin meningkat di wilayah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pulau-Pulau Kecil 2.1.1 Karakteristik Pulau-Pulau Kecil Definisi pulau menurut UNCLOS (1982) dalam Jaelani dkk (2012) adalah daratan yang terbentuk secara alami, dikelilingi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Wilayah pesisir dan pengembangan pariwisata pesisir 2.1.1 Wilayah pesisir Pada umumnya wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Berdasarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan pesisir yang cukup luas, dan sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi mangrove yang lebarnya dari beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Indonesia terkenal memiliki potensi sumberdaya kelautan dan pesisir yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam suatu wilayah pesisir terdapat beragam sistem lingkungan (ekosistem). Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang,

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN Geografis dan Administratif Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru terbentuk di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 tahun

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut Menurut UU No. 26 tahun 2007, ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai II. TINJAUAN PUSTAKA A. Mangrove Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 34 BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 4.1. Desa Karimunjawa 4.1.1. Kondisi Geografis Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) secara geografis terletak pada koordinat 5 0 40 39-5 0 55 00 LS dan 110 0 05 57-110

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Geografi dan Topografi Kawasan Sendang Biru secara administratif merupakan sebuah pedukuhan yang menjadi bagian dari Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa 27 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian a. Sejarah dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Botutonuo berawal dari nama satu dusun yang berasal dari desa induk Molotabu. Dinamakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian berlokasi di Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan yang berada di kawasan Taman Wisata Perairan Gili Matra, Desa Gili Indah,

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Desa Lebih terletak di Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali dengan luas wilayah 205 Ha. Desa Lebih termasuk daerah dataran rendah dengan ketinggian

Lebih terperinci

Rencana Pengembangan Berkelanjutan Kelautan dan Perikanan di Pulau Maratua

Rencana Pengembangan Berkelanjutan Kelautan dan Perikanan di Pulau Maratua Rencana Pengembangan Berkelanjutan Kelautan dan Perikanan di Pulau Maratua Pulau Maratua berada pada gugusan pulau Derawan, terletak di perairan laut Sulawesi atau berada dibagian ujung timur Kabupaten

Lebih terperinci

STUDI KESESUAIAN PANTAI LAGUNA DESA MERPAS KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR SEBAGAI DAERAH PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KONSERVASI

STUDI KESESUAIAN PANTAI LAGUNA DESA MERPAS KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR SEBAGAI DAERAH PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KONSERVASI STUDI KESESUAIAN PANTAI LAGUNA DESA MERPAS KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR SEBAGAI DAERAH PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN KONSERVASI Oleh Gesten Hazeri 1, Dede Hartono 1* dan Indra Cahyadinata 2 1 Program Studi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia berada tepat di pusat segi tiga karang (Coral Triangle) suatu

I. PENDAHULUAN. Indonesia berada tepat di pusat segi tiga karang (Coral Triangle) suatu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia berada tepat di pusat segi tiga karang (Coral Triangle) suatu kawasan terumbu karang dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi dunia. Luas terumbu karang Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Seribu adalah kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 150 km dari pantai Jakarta Utara. Kepulauan Seribu terletak pada 106

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur. Wilayah

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur. Wilayah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara maritim, kurang lebih 70 persen wilayah Indonesia terdiri dari laut yang pantainya kaya akan berbagai jenis sumber daya hayati dan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM. 4.1 Letak Geografis

KEADAAN UMUM. 4.1 Letak Geografis III. KEADAAN UMUM 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bangka Selatan, secara yuridis formal dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka

Lebih terperinci

KESESUAIAN EKOWISATA SNORKLING DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA JAWA TENGAH. Agus Indarjo

KESESUAIAN EKOWISATA SNORKLING DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA JAWA TENGAH. Agus Indarjo Jurnal Harpodon Borneo Vol.8. No.. April. 05 ISSN : 087-X KESESUAIAN EKOWISATA SNORKLING DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA JAWA TENGAH Agus Indarjo Universitas Diponegoro Jl. Prof.Soedarto,SH. Tembalang.Semarang.Tel/Fax:

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu

Lebih terperinci

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Bab 2 Tinjauan Pustaka Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Penelitian Terdahulu Kabupaten Biak Numfor secara administratif termasuk ke dalam wilayah Provinsi Papua. Kabupaten ini terdiri dari 19 distrik dan di antaranya terdapat Distrik

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/PERMEN-KP/2016 TENTANG PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI DALAM PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan pulau pulau kecil merupakan arah kebijakan baru nasional dibidang kelautan. Berawal dari munculnya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dibandingkan daratan, oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pulau Biawak merupakan suatu daerah yang memiliki ciri topografi berupa daerah dataran yang luas yang sekitar perairannya di kelilingi oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Potensi sumberdaya ini perlu dikelola dengan baik

Lebih terperinci

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL SUKANDAR, IR, MP, IPM (081334773989/[email protected]) Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sebagai DaerahPeralihan antara Daratan dan Laut 12 mil laut

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 17 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi penelitian ditentukan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah teritorial Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir dan laut kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam ini berpotensi untuk dimanfaatkan bagi

Lebih terperinci

Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah

Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah Ilham Marasabessy 1 Coauthor Achmad Fahrudin 1, Zulhamsyah Imran 1, Syamsul Bahri Agus

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH

KARAKTERISTIK WILAYAH III. KARAKTERISTIK WILAYAH A. Karakteristik Wilayah Studi 1. Letak Geografis Kecamatan Playen terletak pada posisi astronomi antara 7 o.53.00-8 o.00.00 Lintang Selatan dan 110 o.26.30-110 o.35.30 Bujur

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA

REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA LAPORAN PRAKTIKUM REKLAMASI PANTAI (LAPANG) REKLAMASI PANTAI DI PULAU KARIMUN JAWA Dilaksanakan dan disusun untuk dapat mengikuti ujian praktikum (responsi) mata kuliah Reklamasi Pantai Disusun Oleh :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulaunya yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulaunya yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulaunya yang mencapai 17.508 pulau dengan luas lautnya sekitar 3,1 juta km 2. Wilayah lautan yang luas tersebut

Lebih terperinci

3.1 Metode Identifikasi

3.1 Metode Identifikasi B A B III IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR DAS PENYEBAB KERUSAKAN KONDISI WILAYAH PESISIR BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR 3.1 Metode Identifikasi Identifikasi adalah meneliti,

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 40 IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Kondisi Lokasi Penelitian Kabupaten Bima sebagai bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di ujung Timur Pulau Sumbawa secara geografis terletak

Lebih terperinci

TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP

TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP Lailla Uswatun Khasanah 1), Suwarsito 2), Esti Sarjanti 2) 1) Alumni Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan

Lebih terperinci

RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU- PULAU KECIL WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TANJUNG JABUNG TIMUR

RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU- PULAU KECIL WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TANJUNG JABUNG TIMUR RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU- PULAU KECIL WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL TANJUNG JABUNG TIMUR Arlius Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Lebih terperinci

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA

TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA TINJAUAN ASPEK GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN PULAU JEMUR KABUPATEN ROKAN HILIR PROPINSI RIAU PADA WILAYAH PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA - MALAYSIA Tito Latif Indra, SSi, MSi Departemen Geografi FMIPA UI

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Posisi Geografis dan Kondisi Perairan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terdiri atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang dan asosiasi biota penghuninya secara biologi, sosial ekonomi, keilmuan dan keindahan, nilainya telah diakui secara luas (Smith 1978; Salm & Kenchington

Lebih terperinci

KEASLIAN PENELITIAN...

KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii KATA PENGANTAR... iii PENGANTAR KEASLIAN PENELITIAN... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii INTISARI... x ABSTRAK...

Lebih terperinci

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 4. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 4.1. Kondisi Umum Kepulauan Karimunjawa secara geografis berada 45 mil laut atau sekitar 83 kilometer di barat laut kota Jepara, dengan ketinggian 0-605 m dpl, terletak antara

Lebih terperinci

C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia

C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar. Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim dengan potensi kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan terletak di daerah beriklim tropis. Laut tropis memiliki

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Dunia, yang terdiri dari 17.508 pulau dan garis pantai sepanjang 95.181 km (terpanjang ke empat di Dunia setelah Canada,

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan pulau-pulau kecil yang walaupun cukup potensial namun notabene memiliki banyak keterbatasan, sudah mulai dilirik untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau-pulau kecil memiliki potensi pembangunan yang besar karena didukung oleh letaknya yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan serta adanya ekosistem

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI WILAYAH CIREBON

PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI WILAYAH CIREBON PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI WILAYAH CIREBON Oleh : Darsiharjo Pendahuluan Akhir-akhir ini masyarakat mulai menyadari bahwa dalam kehidupan tidak hanya cukup dengan pemenuhan pangan, papan dan sandang

Lebih terperinci

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah negara bahari dan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati laut terbesar (mega marine biodiversity) (Polunin, 1983).

Lebih terperinci

Oleh: HAZMI C SKRlPSl Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Perikanan Dan llmu Kelautan

Oleh: HAZMI C SKRlPSl Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Perikanan Dan llmu Kelautan or4 APLlKASl SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN PENGINDERAAN JAUH DALAM PENENTUAN WILAYAH POTENSIAL WISATA BAHARI TERUMBU KARANG Dl PULAU SATONDA, DOMPU, NUSA TENGGARA BARAT HAZMI C06498017 PROGRAM STUD1

Lebih terperinci

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir BAB V ANALISIS Bab ini berisi analisis terhadap bahasan-bahasan pada bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai komponen-komponen utama dalam pembangunan wilayah pesisir, analisis mengenai pemetaan entitas-entitas

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. B. Metode Penelitian dan Analisis Data. kuisioner, pengambilan gambar dan pengumpulan data sekunder. Menurut

TATA CARA PENELITIAN. B. Metode Penelitian dan Analisis Data. kuisioner, pengambilan gambar dan pengumpulan data sekunder. Menurut IV. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kawasan ekowisata hutan lindung mangrove dan penangkaran buaya di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang

Lebih terperinci

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU MELALUI PERANCANGAN MODEL SPASIAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU MELALUI PERANCANGAN MODEL SPASIAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) ANALISIS KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU MELALUI PERANCANGAN MODEL SPASIAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Yulian Fauzi *, Boko Susilo ** dan Zulfia Memi Mayasari * * Dosen Fakultas

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 14 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di kawasan Pantai Lampuuk Kabupaten Aceh Besar, Provinsi NAD. Secara geografis Kabupaten Aceh Besar terletak pada 5,2º-5,8º

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selat Lembeh merupakan suatu kawasan khas yang terletak di wilayah Indonesia bagian timur tepatnya di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara dengan berbagai potensi sumberdaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu ekosistem pulau-pulau kecil di Indonesia, yang terdiri atas 48 pulau, 3 gosong, dan 5 atol. Terletak antara 5 o 12 Lintang Selatan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di sepanjang jalur ekowisata hutan mangrove di Pantai

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di sepanjang jalur ekowisata hutan mangrove di Pantai III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di sepanjang jalur ekowisata hutan mangrove di Pantai Sari Ringgung, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, pada bulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam kehidupan manusia, mulai hal yang terkecil dalam

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam kehidupan manusia, mulai hal yang terkecil dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Pembangunan Nasional adalah masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dikembangkan dan dikelola sumberdaya yang tersedia. Indonesia

Lebih terperinci

DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG SELATAN

DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG SELATAN SEMINAR NASIONAL PERIKANAN DAN KELAUTAN 2016 Pembangunan Perikanan dan Kelautan dalam Mendukung Kedaulatan Pangan Nasional Bandar Lampung, 17 Mei 2016 DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata memiliki peran yang semakin penting dan memiliki dampak positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013). Dengan adanya misi

Lebih terperinci