VI IDENTIFIKASI RISIKO PERUSAHAAN

dokumen-dokumen yang mirip
VII PENGUKURAN DAN STRATEGI PENANGANAN RISIKO

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Data perubahan parameter kualitas air

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Patin Siam ( Pangasius hypopthalmus 2.2. Transportasi Ikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Patin Siam

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian 2.2 Prosedur Kerja Penelitian Pendahuluan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan

II. BAHAN DAN METODE

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus sampai September 2011 bertempat di

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan 2.2 Tahap Penelitian

KAJIAN PEMBERIAN MINYAK CENGKEH PADA KEPADATAN YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN KADAR GLUKOSA DARAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus)

I. PENDAHULUAN. Akuakultur merupakan kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik di

IV. HASIL DA PEMBAHASA

Potensi Ekonomi, Pengangkutan, dan Pengolahan Ikan Balita (Studi Kasus: Ikan Nila Gift (Oreochromis Sp.) Desa Ngrajek Kec Mungkid Kota Magelang)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Gurami ( Osphronemus gouramy ) adalah salah satu ikan air tawar bernilai

PENDAHULUAN. yang sering diamati antara lain suhu, kecerahan, ph, DO, CO 2, alkalinitas, kesadahan,

Jurnal Mina Sains ISSN: Volume 2 Nomor 1, April

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli Benih ikan patin siam di

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. BAHAN DAN METODE

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab V Hasil dan Pembahasan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pestisida

HASIL DAN PEMBAHASAN Padat Tebar (ekor/liter)

4 KAJIAN RISIKO KPIH Opened Hull

Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan udara

HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

EFISIENSI TRANSPORTASI BENIH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) PADA UKURAN DAN KEPADATAN YANG BERBEDA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Prosedur kerja Kemampuan puasa ikan Tingkat konsumsi oksigen Laju ekskresi amoniak

BAB I PENDAHULUAN. utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Kendaraan bermotor merupakan

II. METODELOGI 2.1 Waktu dan Tempat 2.2 Alat dan Bahan 2.3 Tahap Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan Benur Udang Vannamei dan Pengemasan

BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan jumlah penduduk, ekonomi, industri, serta transportasi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan udara

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNIK PEMBIUSAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH PADA SISTEM TRANSPORTASI UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) TANPA MEDIA AIR 1

EFEKTIFITAS SISTEM AKUAPONIK DALAM MEREDUKSI KONSENTRASI AMONIA PADA SISTEM BUDIDAYA IKAN ABSTRAK

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan

II. METODOLOGI 2.1 Waktu dan Tempat 2.2 Tahap Penelitian 2.3 Alat dan Bahan Alat dan Bahan untuk Penentuan Kemampuan Puasa Ikan

I. PENDAHULUAN. Jagung manis atau dikenal juga dengan sebutan sweet corn merupakan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%)

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor

PENCEMARAN LINGKUNGAN. Purwanti Widhy H, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur

BAB 1 : PENDAHULUAN. beberapa tahun terakhir ini. Ekonomi kota yang tumbuh ditandai dengan laju urbanisasi yang

Tingkat Kelangsungan Hidup

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Mas (SGR)

I PENDAHULUAN. terhadap PDB Indonesia membuat sektor perikanan dijadikan penggerak utama (prime mover)

I. PENDAHULUAN. dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia. Budidaya ikan lele

I. PENDAHULUAN. Udang vannamei merupakan salah satu jenis udang yang potensial untuk

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan darat

II. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Nilem tiap Perlakuan

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

TINJAUAN PUSTAKA. Ikan gurami merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk badan oval

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

Konsentrasi (mg/l) Titik Sampling 1 (4 April 2007) Sampling 2 (3 Mei 2007) Sampling

I. PENDAHULUAN. Semakin meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan udara

Seluk-Beluk Jasa Pengiriman Barang yang Perlu Diketahui

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, menyebabkan

Penambahan garam dalam air media yang berisi zeolit dan arang aktif pada transportasi sistem tertutup benih ikan gurami Osphronemus goramy Lac.

BAB I PENDAHULUAN. serta lapisan kerak bumi (Darmono, 1995). Timbal banyak digunakan dalam

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. yakni perbandingan terhadap satuan mobil penumpang. Penjelasan tentang jenis. termasuk di dalamnya jeep, sedan dan lain-lain.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TEKNIK PENANGANAN PASCA PANEN R i n i Y u l i a n i n g s i h

Tanggung Jawab Pengangkut di Beberapa Moda Transportasi

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERANGKAT UJI PUPUK ORGANIK (PUPO) (ORGANICFERTILIZER TEST KIT )

Transkripsi:

VI IDENTIFIKASI RISIKO PERUSAHAAN 6.1 Sumber-sumber Risiko pada Usaha Pemasaran Benih Ikan Patin PT Mitra Mina Nusantara (PT MMN) dalam menjalankan kegiatan usahanya menghadapi risiko operasional. Risiko operasional ini mempengaruhi banyaknya benih ikan patin yang berhasil dikirim, sehingga akan mempengaruhi penerimaan perusahaan. Semakin tinggi risiko operasional yang dihadapi perusahaan maka tingkat penerimaan akan semakin kecil. Kemungkinan kejadian merugikan atau risiko yang terjadi di PT MMN dikategorikan sebagai risiko operasional yang disebabkan oleh sumberdaya manusia, teknologi, alam, serta proses yang tidak sesuai. Pengelompokkan risiko didasarkan pada penyebab utama untuk risiko sumberdaya manusia, teknologi, alam, dan proses. Output atau hasil dari identifikasi risiko adalah daftar risiko. Risiko-risiko yang mungkin muncul dan membahayakan bagi perusahaan kemudian dimasukkan ke dalam daftar risiko pada Tabel 5, 6, 7, dan 8. Risiko-risiko yang terdapat pada Tabel 5, 6, 7, dan 8 diidentifikasi dari setiap aktivitas yang dilakukan di bagian penanganan dan distribusi yang telah teridentifikasi kemudian dikelompokkan sesuai dengan faktor penyebab di risiko operasional. Setelah semua risiko yang perlu diketahui teridentifikasi dan daftar risiko telah dibuat kemudian risiko-risiko yang ada pada daftar risiko tersebut diukur. Dengan demikian proses selanjutnya setelah identifikasi risiko adalah pengukuran risiko. 6.1.1 Risiko Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia (SDM) merupakan aset terpenting dalam perusahaan namun manusia dapat pula menjadi sumber risiko bagi perusahaan. Ada tiga hal dari manusia yang dapat menyebabkan risiko yaitu menyangkut kompetensi, moral, dan selera. Beberapa risiko operasional yang terjadi pada PT MMN yang bersumber dari manusia antara lain kecelakaan kerja yang terjadi pada kegiatan distribusi yang menyebabkan seorang supir PT MMN meninggal. Pemilihan kendaraan untuk pengiriman benih juga dapat memberikan risiko apabila kendaraan tersebut tidak mengantarkan benih dalam waktu yang diperkirakan sebelumya. Hal ini pernah terjadi ketika perusahaan menggunakan bus sebagai

kendaraan yang mengangkut benih. Bus digunakan dengan perkiraan wilayah pengiriman dilalui oleh bus tersebut dan biaya yang dikeluarkan lebih sedikit sehingga biaya pengiriman dapat ditekan. Kelalaian dalam pengepakan yang menyebabkan benih ikan mati, ketidaktelitian dalam pengepakan terutama untuk penggunaan sistem terbuka dimana gentong yang digunakan untuk pengiriman kemasukan bahan kimia yang dapat membunuh benih ikan di dalamnya, serta ketidaktelitian dalam persiapan pengepakan yang dapat memperlambat waktu benih diluar kondisi seharusnya juga merupakan keadaan yang dapat menyebabkan risiko. Kelalaian adalah sikap ketidakhati-hatian dan berlambat-lambat dalam mengerjakan kewajiban atau pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Risiko lainnya yaitu kesalahan dalam melihat kondisi ikan dalam proses pengecekan, sehingga ikan yang tidak telalu sehat diikutsertakan dalam pengiriman. Tabel 5. Daftar Risiko Sumberdaya Manusia No. Risiko (Kejadian yang Merugikan) Penyebab 1. Ketidaktelitian dalam melihat kondisi ikan SDM 2. Ketidaktelitian dalam sampling benih ikan SDM 3. Ketidaktelitian dalam pengepakan yang SDM menyebabkan benih ikan mati 4. Kelalaian dalam pengepakan SDM 5. Ketidaktelitian dalam persiapan pengepakan SDM 6. Pemilihan kendaraan yang salah SDM 7. Pembajakan tenaga kerja SDM 8. Kecelakaan yang menyebabkan benih ikan mati SDM 9. Berkurangnya motivasi pimpinan SDM 10. Berubahnya status pekerja yang membuat SDM

permintaan gaji lebih besar 11. Lupa memeriksa benih ikan yang masuk SDM 12. Lupa membawa serta peralatan pengepakan SDM 6.1.2 Risiko Teknologi Risiko teknologi merupakan potensi penyimpangan hasil karena teknologi yang digunakan tidak lagi sesuai dengan kondisi. PT MMN memiliki keunggulan dalam hal teknologi pengiriman benih ikan. Benih ikan yang berukuran kecil, mudah mati dan tidak tahan goncangan dikemas sedemikian rupa hingga tahan untuk perjalanan kurang lebih 2 hari. Sebelumnya PT MMN juga mengalami berbagai masalah terkait pengemasan ikan yang kurang baik sehingga ikan lebih cepat mati, namun berkat beberapa trial and error akhirnya didapat standar baku dalam hal pengepakan ikan yang akan dikirim. Teknologi tersebut terletak pada waktu pemuasaan ikan serta standar tingkat kepadatan pada tiap pengiriman. Standar pengiriman menggunakan kargo bandara, adalah satu box terdiri dari 6 kantong ukuran 40x60 cm. Tiap kantong diisi 2,5 liter air dengan isi ikan tergantung ukuran, target lokasi kirim, dan skill penerima. Oksigen yang digunakan kurang lebih 3 kali volume air. Pengiriman darat dapat dilakukan dengan sistem terbuka maupun tertutup. Pengiriman menggunakan kantong dilakukan apabila jaraknya tidak terlalu jauh. Kantong ukuran 40x60 cm diisi 10 liter air dengan kadar oksigen semaksimal mungkin. Kantong tersebut berisi 750 hingga 1000 ekor ikan tergantung ukuran dan jarak. Penggunaan gentong digunakan apabila pesanan dilakukan dalam jumlah besar dan jarak yang jauh namun dapat ditempuh lewat jalur darat. Air yang digunakan dalam gentong kirakira 200 liter (hingga gentong penuh) dengan jumlah ikan ukuran ¾ inchi 35.000-50.000 ekor, ukuran 1 inchi 30.000-40.000 ekor, 1,5 inchi berisi 17.000-25.000 dan untuk ikan ukuran 2 inchi akan diisi 10.000-15.000 ekor. Pada pengiriman yang dilakukan oleh PT Mitra Mina Nusantara, ada beberapa hal yang sangat diperhatikan, yaitu suhu, kadar oksigen terlarut, kadar amoniak, dan sebisa mungkin mencegah ikan stress. Hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Mukti (2010) mengenai efektivitas penambahan zeolit dan karbon aktif terhadap kelangsungan hidup benih ikan patin Pangasionodon sp. pada pengangkutan sistem tertutup yang dilakukan di PT Mitra Mina Nusantara. Suhu merupakan suatu variabel kualitas air yang sangat mempengaruhi variabel kualitas air yang lainnya (Jensen 1990). Suhu yang meningkat akan meningkatkan proses biokimia yang terjadi pada tubuh ikan. Sebaliknya, saat terjadi penurunan suhu, maka proses metabolisme dalam tubuh ikan mengalami penurunan. Stickney (1979) menyebutkan bahwa fluktuasi suhu yang membahayakan bagi ikan adalah 5 o C dalam satu jam, sedangkan selama proses pengangkutan fluktuasi suhu harian hanya sebesar 1-2 o C selama 24 jam. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) dalam media pengepakan menunjukkan DO semakin menurun seiring bertambahnya waktu. Merkens dan Dwoning (1957) dalam Boyd (1990) menyebutkan bahwa ketika konsentrasi oksigen rendah maka toksisitas amoniak akan meningkat. kandungan oksigen terlarut yang baik untuk transportasi ikan harus lebih dari 2 mg O 2 /l (Pescod 1971). Selain itu Gomes et al 2006 menyatakan bahwa konsentrasi DO di bawah 2 mg/l dapat menyebabkan kematian sebagian besar ikan pada transportasi sistem tertutup. Feses ikan yang keluar pada saat transportasi menyebabkan kekeruhan yang dapat meningkatkan kematian ikan, karena kekeruhan yang berlebihan dapat menyumbat insang dalam proses respirasi ikan yang menyebabkan kematian pada ikan. Ikan yang mati pada proses pengepakan dapat menyebabkan meningkatnya kekeruhan dan meningkatkan konsentrasi TAN (amoniak) dalam media air. Van Wayk et al (1999) dalam Ghozali (2007) menyebutkan bahwa kandungan protein ikan terdapat pada unsur nitrogen yang merupakan komponen utama senyawa metabolitoksik. Degradasi gugus amin ini di dalam perairan akan menghasilkan senyawa nitrogen NO 2 dan amoniak yang menyebabkan makin tingginya konsentrasi NH 3 di dalam media pengepakan. NH 3 merupakan amoniak yang lebih bersifat toksik oleh organisme perairan, toksisitas amoniak terhadap organisme akuatik akan meningkat jika di dalam media pengangkutan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut (DO), meningkatnya ph dan suhu (Effendi, 2003). Boyd (1990) menyatakan bahwa konsentrasi NH 3 yang tinggi di dalam air mempengaruhi permeabilitas ikan oleh air dan juga mengurangi konsentrasi ion di

dalam tubuh. Amoniak juga meningkatkan konsumsi oksigen oleh jaringan, merusak insang, dan mengurangi kemampuan darah untuk mengangkut oksigen yang dapat menyebabkan kematian ikan. Meningkatnya stres pada ikan dalam pengepakan menyebabkan ikan akan membutuhkan oksigen dalam jumlah yang banyak untuk pernafasan sehingga CO 2 sebagai hasil pernafasan tersebut meningkat. (Wedemeyer, 1996) merekomendasikan bahwa selama transportasi konsentrasi CO 2 dipertahankan dibawah 30-40 mg/l. Teknologi bisa menjadi sumber risiko pada PT MMN dalam hal kesesuaian teknologi yang digunakan saat ini tidak lagi dapat memberikan hasil yang maksimal, misalnya teknologi pengepakan yang sudah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Perubahan kualitas dan spesifikasi benih juga dapat menyebabkan teknologi pengemasan saat ini tidak lagi sesuai. Penurunan kualitas pada penerapan teknologi karena teknologi yang salah digunakan dapat menimbulkan risiko pada perusahaan karena tidak sesuai dengan kondisi internal maupun eksternal perusahaan (lingkungan, keadaan di jalan). Teknologi yang digunakan salah ataupun tidak sesuai standar juga mencerminkan bahwa cara sesuai standar lebih baik dalam pengiriman benih. Tabel 6. Daftar Risiko Teknologi No. Risiko (Kejadian yang Merugikan) Penyebab 1. Teknologi yang salah digunakan Teknologi 2. Teknologi penanganan tidak sesuai standar Teknologi 3. Alat aerasi rusak Teknologi 6.1.3 Risiko Alam Risiko alam adalah potensi penyimpangan hasil karena ketidakmampuan perusahaan dalam mengadapi alam. Alam bisa menjadi sumber risiko ketika banjir ataupun bencana alam lain membuat suatu sarana umum menjadi rusak sehingga proses pengiriman menjadi terhambat. Kondisi alam dan makhluk alam

juga dapat menjadi penyebab munculnya risiko alam. Kegiatan penanganan dan distribusi sangat akrab dengan risiko alam. Perubahan suhu yang sering terjadi menyebabkan munculnya jamur dan protozoa yang dapat mengganggu keberlangsungan hidup ikan. Alat transportasi yang digunakan untuk mengirimkan benih ikan patin antara lain pesawat terbang, bus, mobil, dan motor. Pengiriman lewat jalur udara sangat tergantung dengan kondisi cuaca baik di daerah pengiriman maupun tujuan. Terganggunya jadwal pesawat akibat adanya hujan, angin kencang, maupun kondisi cuaca lain yang menyebabkan pesawat tersebut tidak dimungkinkan untuk terbang membuat pengiriman tertunda. Tertundanya waktu pengiriman membuat benih ikan yang sudah dikemas memiliki kemungkinan untuk mati diperjalanan karena sudah melebihi perkiraan waktunya. Bencana alam yang pernah membuat jembatan putus pada jalur lintas Sumatera membuat pengiriman via jalan darat tidak dapat dilakukan. Adanya deviasi waktu membuat perkiraan waktu bertahan benih ikan dalam kemasan tidak lagi sesuai sehingga tingkat mortalitas benih menjadi tinggi. Tabel 7. Daftar Risiko Alam No. Risiko (Kejadian yang Merugikan) Penyebab 1. Banjir membuat proses pengiriman menjadi terhambat. Alam 2. Perubahan suhu yang sering terjadi menyebabkan munculnya jamur dan protozoa yang dapat mengganggu keberlangsungan hidup ikan 3. Terganggunya jadwal pesawat akibat adanya hujan, angin kencang, maupun kondisi cuaca lain yang menyebabkan pesawat tersebut tidak dimungkinkan untuk terbang membuat pengiriman tertunda 4. Bencana alam yang pernah membuat jembatan putus pada jalur lintas sumatera membuat pengiriman via jalan darat Alam Alam Alam

tidak dapat dilakukan 6.1.4 Risiko Proses Risiko proses adalah risiko mengenai potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan dari proses karena ada penyimpangan atau kesalahan dalam kombinasi sumberdaya (SDM, keahlian, metode, peralatan, teknologi, dan material) dan karena perubahan lingkungan. Proses pada risiko proses disini adalah serangkaian langkah sistematis atau tahapan yang jelas dan dapat ditempuh berulang kali, untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kegiatan pemasaran benih ikan patin terkait dengan adanya proses untuk pengadaan benih, menangani benih ikan yang datang, proses penanganan benih, proses pembagian benih ke beberapa daerah dan konsumen sesuai pesanan, dan proses distribusi. Risiko kegagalan proses merupakan risiko yang terkait dengan kegagalan proses atau prosedur untuk menangani produk lebih lanjut di dalam perusahaan selama proses penanganan benih berlangsung hingga kegiatan distribusi benih. Perwujudan risiko proses pada unit pemasaran di PT MMN adalah tidak lengkapnya informasi yang diterima mengenai benih. Hal ini dapat menyebabkan tidak diketahuinya keadaan mengenai benih, apakah benih ini sehat atau tidak. Perwujudan lainnya berupa kesalahan informasi lokasi pengiriman, dokumen perjalanan yang kurang lengkap, perkiraan penggantian gas terhambat, kepadatan pengiriman tinggi, dan kejadian merugikan lainnya pada penanganan dan distribusi benih ikan. Tabel 8. Daftar Risiko Proses No. Risiko (Kejadian yang Merugikan) Penyebab 1. Barang yang diterima tidak sesuai dengan standar perusahaan Proses 2. Adanya musibah yang menimpa supplier Proses 3. Benih ikan mati ketika dikirim dari supplier Proses

4. Penanganan pasca panen benih ikan tidak dilakukan dengan baik oleh perusahaan Proses 5. Jumlah barang yang datang tidak sesuai pesanan Proses 6. Kesalahan informasi lokasi pengiriman benih Proses 7. Tidak lengkapnya informasi mengenai benih yang diterima sehingga mempengaruhi perlakuan terhadap benih tersebut Proses 8. Supplier tidak dapat mengirim benih lagi Proses 9. Dokumen perjalanan yang kurang lengkap Proses 10. Perkiraan penggantian gas terhambat Proses 11. Pengiriman terhambat karena kondisi jalan (macet dan jalan berlubang) Proses