BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pada produk notebook yang diteliti secara keseluruhan, ko-orientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya tidak terbukti memiliki hubungan positif dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice. Pengaruh ko-orientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya berbeda-beda, sesuai dengan status orang tersebut dan harga notebook yang dibelinya, sehingga tidak dapat digeneralisasikan. 2. Ko-orientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice, hanya terhadap kelompok tertentu dengan penyebab yang berbeda pula, misalnya pada kelompok pelajar, ko-orientasi mempengaruhi keputusan pemilihan produk notebook yang dibeli karena kelompok pelajar ingin terlihat setara dengan kelompoknya. Pada kelompok karyawan, ko-orientasi mempengaruhi kepercayaan seorang anggota kelompok terhadap informasi yang diterimanya karena kelompok tersebut memiliki nilai-nilai yang sama. 3. Ko-orientasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Group influence on product choice baik pada kelompok laki-laki maupun kelompok wanita. Hal ini 96
97 menunjukkan bahwa semakin erat dan setara seseorang (laki-laki atau wanita) dengan kelompok acuan informalnya, semakin besar pengaruh kelompok itu pada keputusan pembeliannya. Dalam hal hubungan ko-orientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya dengan Group influence on product choice tidak ditentukan oleh jenis kelamin orang tersebut. Kelompok laki-laki lebih mempercayai informasi yang diperoleh secara tidak langsung (Comparative appraisal) dari kelompok acuan informalnya, mereka tidak bertanya secara terbuka kepada kelompok acuan informalnya, tetapi mereka mengamat-amati produk yang digunakan kelompok tersebut. Hal ini dapat disebabkan karena arogansi yang menghalangi mereka bertanya secara langsung. Sebaliknya pada kelompok wanita, tidak ada hubungan koorientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya dengan Source credibility. Hal ini disebabkan karena wanita menganggap kelompoknya sebagai golongan konsumen yang tingkat keterlibatannya rendah pada keputusan pembelian karena memiliki sedikit pengalaman dengan produk (Assael, 2004). 4. Ko-orientasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Information seeking dan Source credibility pada kelompok yang membeli notebook mahal (harga di atas Rp 10 juta). Hal ini menunjukkan bahwa seseorang lebih mencari informasi dan rasa aman dari kelompok acuan informalnya untuk meminimalkan financial risk-nya (Assael, 2004). Ko-orientasi tidak memiliki hubungan positif dengan Group influence on product choice pada kelompok ini. Hal ini menunjukkan bagi konsumen kelompok ini memandang notebooknya sebagai sesuatu yang pribadi dan berharga, sehingga dalam penentuan pilihan produknya tidak dipengaruhi oleh kelompok acuan informalnya (Assael, 2004)
98 5. Ko-orientasi tidak memiliki hubungan positif dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice pada kelompok yang membeli notebook murah dan menengah. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak mementingkan ko-orientasi dengan kelompok acuan informalnya bila financial risk yang ditanggungnya terbatas. (Assael, 2004). 6. Ko-orientasi memiliki hubungan positif dengan Group influence on product choice pada kelompok pelajar, walaupun tidak memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Information seeking, dan Source credibility. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok ini, keeratan dan kesetaraan dengan kelompok acuan informalnya tidak berhubungan dengan keinginan anggota kelompok pelajar untuk mendapatkan dan mempercayai informasi dari kelompoknya. Hal ini dapat disebabkan karena kelompok pelajar umumnya adalah golongan Techno-strivers yang mencari dan mendapatkan informasi dari berbagai sumber (Kotler, 2005). Sebaliknya kesetaraan dengan kelompoknya penting bagi kelompok pelajar, sehingga mereka memilih produk notebook yang disarankan oleh kelompoknya. Hal ini dapat disebabkan karena kelompok pelajar umumnya adalah golongan yang memiliki komitmen yang kuat dengan kelompoknya, sehingga ia bertingkah-laku dan melakukan hal-hal yang membuatnya merasa diterima oleh kelompoknya (Hawkins et al, 2003). 7. Ko-orientasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Source credibility pada kelompok karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok karyawan, keeratan dan kesetaraan dengan kelompok acuan informalnya mempengaruhi tingkat kepercayaannya terhadap informasi yang diterimanya dari kelompoknya. Tingkat kepercayaan seseorang meningkat bila anggota kelompok memiliki orientasi nilai
99 yang sama, sehingga komunikasi antara anggota kelompok dapat terjalin (Jones dan Gerard, 1967). 8. Ko-orientasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice pada kelompok wirausaha, ibu rumah-tangga dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok ini, keeratan dan kesetaraan dengan kelompok acuan informalnya mempengaruhi keinginan seseorang untuk mencari dan mempercayai informasi dari kelompok acuan informalnya, serta menjadikannya bahan penentuan pembelian notebooknya. Hal ini dapat terjadi karena umumnya golongan wirausaha adalah kelompok Hand-shakers, yang menyerahkan urusan komputer kepada asisten yang lebih muda (Kotler, 2005). Ibu rumah-tangga umumnya masuk ke golongan konsumen yang tidak keterlibatannya rendah pada keputusan pembelian karena memiliki sedikit pengalaman dengan produk (Assael, 2004). 9. Ko-orientasi tidak memiliki hubungan positif dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice pada semua kelompok usia yang diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa usia bukan faktor penentu, tetapi faktor-faktor lainnya, misalnya profesi dan harga notebook. 5.2. Saran Akibat perbedaan hubungan ko-orientasi seseorang dengan kelompok acuan informalnya, cara-cara mempromosikan notebook harus disesuaikan dengan kelompok konsumen yang dituju. 1. Pada kelompok pelajar, kegiatan promosi harus ditekankan kepada kesetaraan seorang pelajar dengan anggota kelompok pelajar lainnya.
100 Memilih produk yang berbeda dengan kelompoknya akan membuat anggota kelompok tersebut tidak diterima oleh kelompoknya. Pemasar notebook sebaiknya menyampaikan informasi melalui media yang biasa digunakan oleh kelompok pelajar (misalnya majalah komputer dan IT, website tertentu dan lain-lain), karena kelompok ini giat mencari informasi dari berbagai sumber di luar kelompoknya. 2. Pada kelompok karyawan, kegiatan promosi ditujukan kepada pemimpin kelompok atau influencer, sehingga keputusa yang diambilnya akan diikuti oleh anggota kelompoknya. 3. Kegiatan promosi notebook sebaiknya tidak ditujukan pada kelompok jenis kelamin tertentu bila hal itu dikaitkan dengan kelompok acuan informal, karena kelompok ini memberikan efek yang sama bagi kelompok laki-laki maupun wanita. 4. Kegiatan promosi notebook sebaiknya tidak sebaiknya tidak ditujukan pada kelompok usia tertentu bila hal itu dikaitkan dengan kelompok acuan informal, karena ko-orientasi seseorang dengan kelompoknya pada berbagai golongan usia tidak ada hubungannya dengan Information seeking, Source credibility dan Group influence on product choice. 5. Kegiatan promosi notebook yang mahal sebaiknya ditujukan untuk pemberian informasi sebanyak-banyaknya kepada konsumen, karena konsumen notebook mahal biasanya mencari informasi sebanyakbanyaknya untuk meminimalkan risiko keuangannya.
101 6. Kegiatan promosi notebook yang ditujukan untuk kelompok konsumen wirausaha dan ibu rumah-tangga, sebaiknya ditujukan kepada influencer kelompok ini, karena kelompok ini menyerahkan proses pembelian notebooknya kepada pihak yang lebih kompeten (Kotler, 2005). Penelitian ini tidak dilakukan kepada konsumen notebook yang membeli merek-merek tertentu, sehingga tidak tertutup kemungkinan pada merekmerek tertentu hubungan ko-orientasi seorang anggota kelompok dengan kelompok acuan informalnya untuk mendapatkan informasi, mempercayai informasi tersebut serta menjadikannya bahan pengambilan keputusan pembelian produk akan berbeda dengan hasil penelitian ini. Diharapkan di masa yang akan datang, ada penelitian lebih lanjut untuk hal-hal yang belum dibahas pada penelitian ini.