BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Dalam melakukan penelitian mengenai hubungan self-efficacy terhadap kinerja manajer, penulis melakukan observasi untuk memperoleh data yang diperlukan. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan November 2012, pada PT. X yang berlokasi di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. PT. X didirikan pada tanggal 5 Desember 1933. Perusahaan ini terdaftar 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya setelah mendapat persetujuan dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pada tanggal 16 November 1981. Perusahaan ini memproduksi sabun, deterjen, margarin, makanan berbasis susu, es krim, minuman berbasis teh dan produk kosmetik. PT. X mulai beroperasi secara komersil pada tahun 1933. PT. X telah berkembang menjadi perushaan pertama dari Home Care and Personal Care dan juga produk Foods and Ice Cream di Indonesia. Portofolio PT. X terdiri dari merek-merek terbaik di dunia. Pada saat ini, tujuan PT. X yaitu bekerja untuk membuat masa depan yang lebih baik setiap harinya, membantu orang untuk merasa baik, terlihat baik dan lebih menikmati kehidupan dengan merek dan jasa yang baik untuk mereka dan orang lain, mengilhami orang-orang untuk mengambil tindakan kecil setiap hari yang dapat membuat perbedaan besar pada dunia dan mengembangkan cara-cara baru untuk 19
melakukan bisnis yang dapat berkembang sementara mengurangi dampak pada lingkungan kita. 3.2 Definisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini, penulis merumuskan dua macam variabel yang terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel self-efficacy (X), sedangkan variabel terikat adalah variabel kinerja manajer (Y). 3.2.1 Self-efficacy Definisi dari self-efficacy adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya untuk melakukan suatu tugas spesifik pada level kinerja yang spesifik (Bandura, 1978). Berdasarkan dimensi self-efficacy terdapat 3 dimensi yang dapat mengukur self-efficacy, yaitu magnitude, strength, dan generality. Terkait dengan 3 dimensi tersebut, penulis membuat 40 item untuk mengukur tingkat self-efficacy dari manajer di PT. X, 40 item tersebut adalah sebagai berikut : No. Pernyataan SS S R TS STS 1 2 3 Saya berpandangan optimis dalam mengerjakan pekerjaan. Usaha yang dilakukan dapat meningkatkan prestasi kerja dengan baik. Menyikapi situasi yang berbeda dengan baik dan berpikir positif. 4 Saya berminat terhadap pekerjaan saya. Saya memiliki komitmen dalam 5 menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. 20
Saya menjadikan pengalaman 6 kehidupan sebagai jalan mencapai kesuksesan. Saya mengembangkan kemampuan dan 7 prestasi. Saya percaya dan mengetahui 8 keunggulan yang dimiliki. 9 Saya suka mencari situasi baru. Saya membuat rencana dalam 10 menyelesaikan tugas. Saya memiliki kegigihan dalam 11 menyelesaikan pekerjaan. Saya dapat mengatasi segala situasi 12 dengan efektif. Saya merasa yakin dapat melakukan 13 dan menyelesaikannya. Saya memiliki tujuan yang positif 14 dalam melakukan berbagai hal. 15 16 17 18 19 Saya senang mencoba tantangan baru. Saya melihat pekerjaan yang sulit sebagai suatu tantangan. Saya memiliki motivasi yang baik terhadap diri sendiri untuk pengembangan diri. Jika seseorang menghambat tujuan saya, saya akan mencari cara untuk mecapai tujuan saya. Saya bertindak selektif dalam mencapai tujuan saya. 20 Pemecahan pekerjaan yang sulit selalu berhasil bagi saya, kalau saya berusaha. Dalam situasi yang tidak terduga saya 21 selalu tahu bagaimana saya harus bertingkah laku. 22 Saya tidak mempunyai kesulitan untuk melaksanakan niat dan tujuan saya. Saya dapat mengidentifikasi cara untuk 23 membangun kelebihan yang saya miliki. Kalau saya akan berkonfrontasi dengan sesuatu yang baru, saya tahu 24 bagaimana saya dapat menanggulanginya. 21
25 Dalam kejadian yang tidak terduga, saya yakin bahwa saya akan dapat menanganinya dengan baik. 26 Saya dapat mengembangkan kelebihan yang saya miliki melalui latihan. Untuk setiap masalah, saya memiliki 27 pemecahannya. Apapun yang terjadi saya siap 28 menanganinya. Saya percaya bahwa saya dapat 29 mengembangkan kekuatan yang saya miliki. 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Saya dapat menghadapi kesulitan dengan tenang, karena saya selalu dapat mengandalkan kemampuan saya. Saya dapat menggunakan kelebihan yang saya miliki tanpa kesulitan. Saya dapat menghitung seberapa berkembangnya kelebihan yang saya miliki. Kalau saya menghadapi kesulitan, biasanya saya mempunyai banyak ide untuk mengatasinya. Saya percaya diri untuk menggunakan kelebihan yang saya miliki dalam pekerjaan saya. Saya percaya bahwa saya dapat menggunakan kelebihan yang saya miliki dalam menjalin hubungan dalam pekerjaan. Saya percaya bahwa saya dapat menggunakan kelebihan yang saya miliki dalam berbagai situasi. Saya percaya dengan cara yang saya pilih untuk menggunakan kelebihan yang saya miliki. Saya dapat menggunakan kelebihan yang saya miliki untuk meningkatkan hubungan saya dengan rekan kerja saya. Saya dapat mengaplikasikan kelebihan yang saya miliki terhadap apa yang saya lakukan pada kegiatan sehari-hari. 22
40 Saya dapat mengetahui bahwa kelebihan yang saya miliki dapat membantu saya dalam segi apa saja. Tabel 3.1 Indikator Self-efficacy 3.2.2 Kinerja Definisi dari kinerja adalah sejauh mana harapan atau tujuan telah dipenuhi (Lussier, 2008). Pendekatan yang digunakan oleh PT. X adalah the comparative approach dengan metode ranking. Dalam pelaksanaannya Human Resources (HR) akan mengisi form tentang karyawan yang akan diberi penilaian dan HR juga memberikan form yang harus diisi oleh supervisor dan manajer. HR akan membuat kesimpulan berdasarkan form yang telah diisi tersebut dan akan diberi tahu kepada karyawan yang bersangkutan (manajer) tentang hasilnya. Ketika HR memberi tahu nilai kinerja, supervisor dan manajer yang bersangkutan akan berada pada satu ruangan dan hasil akan dibahas secara terbuka. Variabel kinerja karyawan menggunakan data yang diambil dari data penilaian kinerja karyawan yang berlaku di perusahaan dengan variabel sebagai berikut : 1. Managerial skill Managerial skill dinilai dari kemampuan karyawan dalam merencanakan pekerjaan, kemampuan mengkoordinir, kemampuan pengawasan untuk mengembangkan staf, kemampuan memecahkan persoalan dan mengambil keputusan. 2. Professional skill 23
Professional skill dinilai dari pengetahuan teknis profesi yang dimiliki karyawan, kemampuan menerapkan pengetahuan teknis profesi, kemampuan menganalisa persoalan, kemampuan menyajikan laporan tertulis. 3. Personality Personality karyawan dinilai dari kreatifitas, kemampuan berpikir secara rasioanl, tanggung jawab terhadap tugas, disiplin kerja, fleksibilitas, kerjasama, kemampuan membina hubungan dengan mitra usaha, semangat, kematangan pribadi. 4. Absensi dan Ketepatan Waktu Kerja Absensi dan ketepatan waktu kerja didapat dari jumlah hari tidak masuk kerja (diluar cuti dan tugas dinas) dan jumlah hari terlambat. Adapun peraturan absensi dan ketepatan waktu kerja untuk manajer adalah sebagai berikut: Manajer memiliki hari kerja mulai dari hari Senin-Sabtu. Khusus untuk hari Sabtu, manajer diperbolehkan untuk tidak hadir jika berhalangan, tetapi manajer diharuskan datang minimal 2x dalam 1 bulan. Memiliki jatah cuti 12 hari dalam 1 tahun. Manajer memiliki jam kerja efektif mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00 24
3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan oleh penulis adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data murni yang diperoleh langsung dari obyek penelitian. Data primer digunakan untuk mengukur variabel self-efficacy (X) dengan menggunakan skor dari metode kuesioner dari manajer yang bersangkutan. Data sekunder adalah data yang diperoleh penulis melalui HR. Data sekunder menggunakan data performance appraisal manajer yang diperoleh dari penilaian langsung perusahaan terhadap manajer. 3.3.2 Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah manajer PT. X yang berjumlah 180 orang. Dengan pertimbangan bahwa populasi dapat diketahui maka dalam menentukan besarnya sampel peneliti menggunakan rumus Slovin : n = N 180 = N. D 2 + 1 180. (0,1) 2 + 1 = 64,28 Keterangan : n = sampel N = populasi d = rata-rata ketelitian (10%) Berdasarkan rumus Slovin maka diketahui besar sampel yang dibutuhkan adalah 64 orang (pembulatan) dengan harapan sampel yang digunakan dapat mewakili keseluruhan populasi. Sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan probability sampling dan teknik yang digunakan adalah simple random sampling, 25
karena populasi bersifat homogen dan setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk ditarik sebagai sampel. 3.4 Metode Pengolahan Data Dalam pengolahan data, penulis melakukan pemberian skor kepada setiap data primer yang berasal dari kuesioner. Sedangkan untuk data sekunder, penulis mendapatkan dari HR. Dalam penilaian hasil pengumpulan data primer penulis menggunakan skala Likert terhadap variabel self-efficacy adalah : 1. Jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) mendapatkan skor 1. 2. Jawaban Tidak Setuju (TS) mendapatkan skor 2. 3. Jawaban Ragu-ragu (R) mendapatkan skor 3. 4. Jawaban Setuju (S) mendapatkan skor 4. 5. Jawaban Sangat Setuju (SS) mendapatkan skor 5. Sedangkan untuk variabel kinerja manajer, penulis menggunakan dasar penilaian karyawan yang berasal dari PT. X dengan dasar penilaian sebagai berikut : 1. Penilaian A = 851-1000, mendapatkan skor 5. 2. Penilaian B = 701-859, mendapatkan skor 4. 3. Penilaian C = 551-700, mendapatkan skor 3. 4. Penilaian D = 401-550, mendapatkan skor 2. 5. Penilaan E = <401, mendapatkan skor 1. 3.5 Metode Analisis Data Untuk mengetahui hubungan self-efficacy dengan kinerja manajer, penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan bentuk pengolahan data dengan statistika induktif. Dimana statistika induktif merupakan proses yang menggunakan 26
sampel untuk menarik kesimpulan pada populasi. Data yang diterima akan dilakukan analisa dengan skala pengukuran statistik parametrik dan menggunakan teknik statistik : 3.5.1 Uji Validitas Uji validitas, menurut Azwar (2002), digunakan untuk mengetahui seberapa cermat suatu alat pengukuran melakukan fungsi ukurnya. Menurut Sudarmanto (2002), butir pernyataan yang dikatakan valid adalah butir yang memiliki korelasi (r) dengan total skor lebih dari 0,250. 3.5.2 Uji Reliabilitas Suatu instrumen pengukuran dikatakan reliabel bila memberikan hasil skor yang konsisten pada setiap pengukuran (Uyanto, 2006). Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur indikator-indikator dan variabel, mengetahui bagaimana butir-butir pertanyaan dalam kuesioner saling berhubungan. Skala pengukuran yang reliabel sebaiknya memiliki nilai Alpha Cronbach > 0,7. Alpha Cronbach diinterpretasikan sebagai korelasi dari skala yang diamati (observed scale) dengan semua kemungkinan pengukuran skala lain yang mengukur hal yang sama dan menggunakan jumlah butir pertanyaan yang sama. 3.5.3 Analisis Nilai Rata-rata (Mean Score dan Overall Mean Score) Setelah selesai dengan uji validitas dan reliabilitas, penulis menganalisis data self-efficacy yang telah diterima dengan skala evaluasi (rating scale), yang menggunakan skala Likert. Untuk analisis lebih lanjut, akan dihitung rata-rata indikator dari variabel self-efficacy dan kinerja PT. X dengan rumus berikut : 27
Setelah itu, untuk memperoleh data secara menyeluruh (overall mean score) dari tiap-tiap indikator variabel X dan Y, digunakan rumus sebagai berikut : Nilai rata-rata tersebut akan dijadikan analisa ke dalam rentang skala dengan mempertimbangkan nilai interval. Interval tersebut menggunakan rumus sebagai berikut : Dengan demikian, tingkat self-efficacy dan kinerja manajer PT. X dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Nilai ratarata Keterangan 1.00-1.80 Sangat rendah 1.81-2.60 Rendah 2.61-3.40 Menengah 3.41-4.20 Tinggi 4.21-5.00 Sangat tinggi Tabel 3.2 Deskriptif Penelitian 3.5.4 Analisis Korelasi Pearson Analisis Koefisien Korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel dimana variabel lainnya dianggap berpengaruh dikendalikan atau dibuat tetap. Besarnya nilai korelasi (r) menurut J. Supranto (2002) adalah berkisar antara 1 sampai - 28
1, nilai mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin kuat sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah. Nilai positif menunjukkan hubungan searah dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik. Koefisien korelasi dapat diukur menggunakan rumus sebagai berikut : 3.5.5 Hasil Reliabilitas dan Validitas Uji Coba (Pilot Study) Penulis melakukan uji coba alat ukur sebelum penelitian dilaksanakan terhadap responden yang karakteristiknya sesuai dengan karakteristik sampel dari penelitian ini. Uji coba dilakukan pada tanggal 28-29 Desember 2012 kepada 66 orang manajer yang bekerja pada perusahaan PT. X. Responden terdiri dari 42 orang pria dan 24 orang wanita. Usia mereka antara 25 tahun hingga 64 tahun. Pengujian construct validity dari skala self-efficacy dilakukan dengan teknik internal consistency dan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Dari 40 iteam yang diujikan dengan taraf signifikansi 0,25 terdapat 6 item yang tidak valid dan 34 item yang valid. Item-item yang tidak valid adalah item nomor 1, 2, 3, 5, 12 dan 13. Item-item ini kemudian dibuang, sehingga mendapatkan validitas dan reliabilitas alat ukur. Hasil uji validitas item yang valid dan tidak valid dapat dilihat pada tabel 3.3. 29
No. Dimensi Indikator Perilaku No. Item Jumlah Item 1 Magnitude - menilai tingkat kesulitan tugas - keyakinan dapat menyelesaikan tugas 4, 9, 14, 15, 16, 20, 25, 26, 28, 30, 39, 40. 12 2 Strength - keyakinan individu untuk tetap bertahan 7, 10, 11, - melakukan berbagai cara untuk menghadapi tantangan 17, 19, 22, 23, 27, 29, 35, 36, 37. 12 3 Generality - kemampuan individu untuk menyelesaikan tantangan 6, 8, 18, 21, 24, 31, 32, 33, 34, 38. 10 Tabel 3.3 Hasil Uji Coba Validitas Skala Self-efficacy Berdasarkan hasil perhitungan dari 40 item skala ini, diperoleh koefisien korelasi alpha sebesar α=0,935. Dengan demikian skala ini sudah dapat dikatakan reliabel, karena menurut Kaplan dan Saccuzzo (2005) batasan koefisien reliabilitas untuk penelitian dasar adalah antara 0,7-0,8. 30