IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Kecepatan Kematian. nyata terhadap kecepatan kematian (lampiran 2a). Kecepatan kematian Larva

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Biologi Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

Hasil pengamatan awal kematian larva setelah dianalisis sidik ragam. pemberian ekstrak biji jarak berpengaruh tidak nyata terhadap instar Spodoptera

BAB I PENDAHULUAN. Vektor demam berdarah adalah Aedes aegypti dan Aedes Albopictus.

UJI BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK BIJI PINANG

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis insektisida nabati dan waktu aplikasinya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

PENGARUH EKSTRAK ETANOL CABAI MERAH

BAB I PENDAHULUAN. mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama atau penyakit tanaman

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

I. PENDAHULUAN. lebih dari setengah penduduk menggantungkan hidupnya pada beras yang

Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf kecil berbeda nyata menurut uji DNMRT pada taraf 5% setelah di transformasi log Y.

I. PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakann penyakit yang. berkaitan erat dengan kenaikan populasi vektor Aedes aegypty.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pengendalian hama dan penyakit melalui insektisida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Masyarakat luas telah menyadari bahwa pestisida merupakan senyawa yang dapat

I. PENDAHULUAN. khususnya di area persawahan hingga saat ini semakin meningkat, dan dapat

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

PENGARUH EKSTRAK DAUN MIMBA (Azedirachta indica) TERHADAP MORTALITAS ULAT DAUN (Plutella xylostella) PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Jarak cina (Jatropha multifida Linn) sebagai pestisida nabati pengendali hama

I. PENDAHULUAN. mengganggu kenyamanan hidup manusia karena meninggalkan bau yang

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. menghasilkan tingkat penolakan yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan

UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN MIMBA TERHADAP LARVA DOLESCHALLIA POLIBETE CRAMER (NYMPHALIDAE: LEPIDOPTERA) PADA TANAMAN HANDEULEUM (GRAPTOPHYLLLUM PICTUM)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gejala pada Larva S. litura

III. BAHAN DAN METODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sirih hijau (Piper betle L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella tanaman

I. PENDAHULUAN. ketersediaan beras di suatu daerah. Salah satu hal yang mempengaruhi

BAB I PENDAHULUAN. menyerang produk biji-bijian salah satunya adalah ulat biji Tenebrio molitor.

BAB I PENDAHULUAN. kedelai dan industri pakan ternak. Rata rata kebutuhan kedelai setiap tahun sekitar ± 2,2 juta

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

UJI EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica) DAN EKSTRAK DAUN KLUWEK (Pangium edule) TERHADAP KEMATIAN ULAT GRAYAK (Spodoptera sp.

MORTALITAS LARVA 58 JAM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Isolat M. anisopliae pada Berbagai Konsentrasi terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI JARAK PAGAR (Jatropha Curcas L.) TERHADAP MORTALITAS KEONG EMAS (Pomacea sp.) DI RUMAH KACA

By Muhammad Abdul Gani Under Supervision by Dr. Rusli Rustam, SP., MSi and Ir. Desita Salbiah, MSi

Mahasiswa Fakultas Pertanian UR.

ABSTRACT

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan ini memiliki

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. satu hama daun yang penting karena hama ini bersifat polifag atau mempunyai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dataran tinggi pada lahan basah dan lahan kering. Hasil produksi tomat di Indonesia dari tahun


PEMANFAATAN EKSTRAK KLOROFORM KULIT BATANG TUMBUHAN NYIRI BATU (Xylocarpus moluccensis (Lamk) M. Roem.) (Meliaceae) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di Laboratorium Proteksi

BAB I PENDAHULUAN. ulat grayak merupakan hama penting pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum

I. PENDAHULUAN. kalorinya dari beras. Ketersediaan beras selalu menjadi prioritas pemerintah. karena menyangkut sumber pangan bagi semua lapisan

Feri Hartini 1 dan Yahdi 2 1 Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram 2 Dosen Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram.

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan produksi kubis di Indonesia banyak mengalami hambatan, di

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu resiko yang harus dihadapi. Kehilangan hasil akibat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Waktu Fermentasi Terhadap Pemanfaatan Limbah Dari Hasil Perternakan Kambing Sebagai Pestisida Cair

Insektisida sintetik dianggap sebagai cara yang paling praktis untuk

Pembuatan Pestisida Nabati

III. METODE PENELITIAN. Desain Penelitian pada penelitian ini adalah eksperimental dengan

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa ayat di dalam Al-Qur an menunjukkan tanda-tanda akan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap

BAB I PENDAHULUAN. (OPT). Pestisida nabati bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam. dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang.

UJI PENGGUNAAN TEPUNG SERAI WANGI (Cymbopogon nardusl.) DALAM MENGENDALIKAN RAYAP (Coptotermes curvignatus) PADA SKALA LABORATORIUM

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Proses ekstraksi

Keterangan : Yijk = H + tti + Pj + (ap)ij + Sijk. Sijk

I. PENDAHULUAN. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang. disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk betina

PENGUJIAN BIOINSEKTISIDA DARI EKSTRAK KLOROFORM KULIT BATANG TUMBUHAN Bruguiera gymnorrhiza Lamk. (RHIZOPHORACEAE)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

Aristya Rahadiyan, Desita Salbiah dan Agus Sutikno Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Pekanbaru.

Lalat rumah (Musca domestica) adalah lalat yang banyak terdapat di Indonesia. Lalat ini merupakan

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus

III. BAIIAN DAN METODE

I. PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara negara

AKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK BUAH CABAI JAWA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman semusim yang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini berbentuk eksperimen semu (Quasi ekspperiment) yaitu meneliti

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, FMIPA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Daya tolak ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) terhadap nyamuk Ae. aegypti pada berbagai konsentrasi.

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan Indonesia merupakan negara tropik yang mempunyai kelembaban

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dikembangkan adalah produk alam hayati (Sastrodiharjo et al.,

I. PENDAHULUAN. yang ditularkan ke manusia dengan gigitan nyamuk Aedes Aegypty.

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Pakan Pembiakan Serangga Uji

APLIKASI PESTISIDA NABATI BUAH BINTARO (Cerbera manghas L.) TERHADAP HAMA ULAT PADA BUAH MELON

Gontor AGROTECH Science Journal Vol. 3 No. 1, Juni 2017

I. PENDAHULUAN. lain terjadinya pencemaran di lingkungan perairan yang dapat mengakibatkan kerusakan

UJI BEBERAPA KONSENTRASI TEPUNG DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L.) UNTUK MENGENDALIKAN HAMA Sitophilus zeamais M. PADA BIJI JAGUNG DI PENYIMPANAN

UJI BEBERAPA KONSENTRASI TEPUNG DAUN GAMAL (Gliricidia sepium Jacq.) TERHADAP HAMA Sitophilus zeamais M. PADA BIJI JAGUNG DI PENYIMPANAN

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas dan Kecepatan Kematian. Tingkat mortalitas walang sangit pada aplikasi kontak dengan konsentrasi

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium pada suhu rata-rata 27,7 C dan kelembaban 91,5% (Lampiran 4), dengan hasil sebagai berikut: 4.L Awal Kematian Rayap (Jam) Hasil pengamatan awal kematian rayap setelah dianalisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai konsentrasi tepung daun mimba (Azadirachta indicd) memberikan pengaruh yang nyata terhadap awal kematian rayap Coptotermes curvignathus (Lampiran 1), hasil uji lanjut DNMRT pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata awal kematian rayap setelah pemberian beberapa konsentrasi tepung daun mimba (jam). Konsentrasi tepung daun mimba Awal kematian (jam) 0 g/100 g serbuk gergaji 48,00 c 5 g/100 g serbuk gergaji 9,00 b 10 g/100 g serbuk gergaji 7,75 b 15 g/100 g serbuk gergaji 6,25 a 20 g/100 g serbuk gergaji 5,00 a KK = 6,24 % Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT pada taraf 5% Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi tepung daun mimba 0 g/100 g serbtik gergaji berbeda nyata dengan perlakuan laiimya sampai pada waktu 48 jam setelah perlakuan. Sedangkan perlakuan dengan konsentrasi tepimg daun mimba 5 g/100 g serbuk gergaji berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi tepimg daim mimba 10 g/100 g serbuk gergaji, akan tetapi kedua perlakuan ini berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 15 g/100 g dan 20 g/100 g serbuk gergaji. Aplikasi tepimg daun mimba pada beberapa konsentrasi mampu menyebabkan awal kematian rayap pada kisaran waktu 5-9 jam setelah aplikasi. Pada tabel 1 terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi tepung daun mimba yang digunakan maka semakin cepat awal kematian rayap yang terjadi. Jumlah bahan aktif yang terkandung pada tepung daun mimba sangat dipengaruhi oleh konsentrasi yang ada. Aplikasi dengan konsentrasi tepung daun mimba 20 g/100 g

serbuk gergaji mempengaruhi awal kematian yang cepat terjadi yaitu 5 jam setelah aplikasi. Senyawa Azadirachtin yang terkandung dalam tepung daun mimba bekerja sebagai racun kontak dan racun perut. Aktifitas makan rayap yang memakan serbuk gergaji yang tercampur dengan tepung daun mimba menyebabkan kematian akibat bahan yang tercampur dengan makanan tersebut. Awal kematian rayap dengan aplikasi tepung daun mimba lebih cepat dibandingkan dengan kerja insektisida nabati dari tepung daun sirsak yaitu awal kematiannya paling cepat terjadi pada 12 jam setelah aplikasi (Khafiat, 2010). 4.2. Persentase Mortalitas Harian Hasil pengamatan mortalitas harian rayap Coptotermes curvignathus menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi tepung daun mimba {Azadirachta indicd) memberikan pengaruh yang nyata terhadap kematian rayap uji. Kematian rayap mengalami penurunan, terlihat bahwa pada jam ke 24 pengamatan semua perlakuan dapat mematikan hama rayap berisar antara 25% - 43,5% kecuali perlakuan dengan konsentrasi tepung daun mimba 0 g/100 g serbuk gergaji yang tidak terjadi kematian rayap uji dapat dilihat pada gambar 3. 50 40 r i u GA a «2 30-20 10 24 35 48 - -TDM Og/lOOgSG HB-TDM 5g/100g SG -T*r-TDM log/loog SG -»^TDM 15g/100gSG -*-TDM 20g/100g SG Waktu (jam) Gambar 3. Grafik mortalitas harian rayap Coptotermes curvignathus Holmgren Ket : TDM = tepung daun mimba SG = serbuk gergaji Gambar 3 memperlihatkan bahwa mortalitas harian rayap Coptotermes curvignathus telah terjadi pada jam ke 12 setelah perlakuan. Persentase mortalitas harian tertinggi terjadi pada jam ke 24 pada perlakuan konsentrasi 20 g/100 g 17

serbuk gergaji yaitu 43,50%, sedangkan yang terendah terjadi pada perlakuan konsentrasi 5 g/ 100 g serbuk gergaji yaitu 25,00%. Hal ini diduga karena tingginya konsentrasi tepung daun mimba yang digunakan sehingga daya racunnya akan semakin besar, dan semakin rendah konsentarsi yang digunakan maka akan semakin sedikit rancun yang terkandvmg pada tepimg daun mimba. Perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 20 g/100 g serbuk gergaji menunjukkan tingkat kematian rayap uji telah mencapai 100%, sedangkan pada konsentrasi lainnya masih terdapat rayap uji yang bertahan hidup. Hal ini teijadi karena efek dari racun yang terkandung pada tepung daun mimba masuk sebagai racun kontak dan racun perut. Racun kontak adalah insektisida yang masuk ke dalam tubuh hama melalui kulit dan lubang alami pada tubuh atau langsung mengenai mulut hama. Sedangkan racun perut adalah insektisida yang membunuh hama sasaran dengan cara masuk ke pencemaan melalui makanan. Insektisida akan masuk ke organ pencemaan hama dan diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasi ke tempat sasaran yang mematikan (Dewi, 2010). 4.3. Persentase M ortalita Total Hasil pengamatan persentase mortalitas total rayap Coptotermes curvignathus setelah dianalisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan berbagai konsentrasi tepung daun mimba memberikan pengaruh nyata terhadap persentase mortalitas total rayap (Lampiran 2), dan hasil uji lanjut DNMRT pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Rata-rata persentase mortalitas total rayap Coptotermes curvignathus dengan pemberian beberapa konsentrasi tepung daun mimba (%). Konsentrasi tepung daun mimba Mortalitas total (%) 0 g/100 g serbuk gergaji 0,00 d 5 g/100 g serbuk gergaji 78,75 c 10 g/100 g serbuk gergaji 91,25 b 15 g/100 g serbuk gergaji 96,25 b 20 g/100 g serbuk gergaji 100,00 a KK = 5,67% Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT pada taraf 5% setelah di transformasi dengan formula Arcsin Vy. 18

Tabel 2 diatas memperlihatkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi tepung daim mimba 20 g/100 g serbuk gergaji berbeda nyata dengan perlakuan laiimya. Perlakuan dengan konsentrasi tepimg daun mimba 10 g/100 g serbuk gergaji berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 15 g/100 g serbuk gergaji namun berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 5 g/100 g serbuk gergaji. Hal ini disebabkan senyawa Azadirachtin yang terkandung dalam tepung daun mimba yang sifatnya mudah terurai dan terdegradasi sehingga residunya berkurang setiap hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Setyowati (2004) bahwa bahan-bahan nabati cepat terurai dan residunya mudah hilang karena senyawa kimia yang ada dalam bahan nabati mudah terdegradasi oleh lingkungan. Perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 20 g/100 g serbuk gergaji memberikan persentase mortalitas total tertinggi yaitu 100%. Mortalitas yang teijadi pada rayap menunjukkan bahwa tepung daun mimba dapat mematikan hama rayap dan efektif digunakan sebagai pestisida nabati. Hal ini disebabkan karena efek racun dari daun mimba yang mengandung senyawa Azadirachtin yang berperan menghambat proses pertumbuhan rayap dan Salanin yang berperan sebagai penurun nafsu makan (Antifeedant) yang mengakibatkan daya serang rayap menurun. Oleh karena itu, dalam menggunakan pestisida nabati dari daun mimba, memerlukan waktu beberapa hari untuk mematikan hama sasaran. Cara kerja dari senyawa Azadirachtin ini awalnya menempel pada bagian tubuh rayap dan termakan oleh rayap, kemudian pada kondisi ini terjadi racun kontak dan racun perut. Senyawa Azadirachtin masuk melalui mulut bersamaan dengan bahan makanan yang dimakan. Kemudian senyawa ini akan masuk ke organ pencemaan dan diserap oleh dinding usus selanjutnya ditranslokasi menuju ke pusat saraf. Akibatnya sistem saraf akan terganggu dan dapat mempengaruhi keseimbangan ion-ion yang ada dalam sel saraf sehingga menyebabkan kematian pada rayap (Tanimingkeng, 2001). Rayap yang mati dapat ditandai dengan adanya pembahan morfologi rayap yaitu tubuh rayap mengkerut dan berwama hitam. 19

4.4. Lethal Concentration (LC50)(%) Berdasarkan nilai hasil analisis probit Lethal Concentration (LC) yang merupakan tolak ukur toksisitas suatu bahan, tepimg daun mimba yang efektif terhadap rayap Coptotermes curvignathus dengan LC50 dan LC95 yaitu berturutturut 2,44% dan 11,71%. (Lampiran 3). Hasil dari analisis probit dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Penduga parameter toksisitas tepung daun mimba terhadap rayap Coptotermes curvignathus. Parameter Konsentrasi (%) SK 95%(%) LC50 2,44 (1,02-3,59) LC95 11,71 (9,73-17,01) Ket. SK = Selang Kepercayaan Tabel 3 menunjukkan bahwa pelakuan dengan konsentrasi 2,44% tepung daun mimba telah mampu mematikan 50% hama rayap Coptotermes curvignathus. Sementara itu pada konsentrasi 11,71% tepung daun mimba mampu mematikan 95% hama rayap Coptotermes curvignathus. Hal ini berarti bahwa tepung daun mimba cukup efektif untuk mengendalikan hama rayap Coptotermes curvignathus. Hasil analisis Probit Lethal Concentration (LC), pada konsentrasi 11,71% merupakan konsentrasi yang baik untuk mengendalikan hama rayap Coptotermes curvignathus, yaitu sebesar 95%. Hal ini sesuai dengan pengamatan mortalitas total hama rayap Coptotermes curvignathus pada konsentrasi tepung daun mimba 15 g/100 g serbuk gergaji mampu mematikan rayap uji sebesar 96,25%, sehingga daun mimba dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati dan cukup efktif dalam mengendalikan hama rayap Coptotermes curvignathus. Grainge dan Ahmed (1988) dalam Martono, dkk (2004), menyakan bahwa efektifitas suatu bahan nabati yang digunakan sebagai pestisida nabati sangat tergantung pada bahan yang dipakai. Sifat bioaktif atau sifat racun dari suatu senyawa aktif tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman dan jenis dari tanaman yang akan diguanakan sebagai pestisida nabati. 20

4.5. Lethal Time (LTsoXJam) Hasil pengamatan Lethal time 50 setelah dianalisis ragam menvmjukkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi tepimg daun mimba memberikan pengaruh yang nyata terhadap waktu yang dibutuhkan untuk mematikan rayap Coptotermes curvignathus 50% (Lampiran 1), dan hasil dari uji lanjut DNMRT pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Rata-rata lethal time 50% dengan pemberian beberapa konsentrasi tepung daun mimba (jam). Konsentrasi tepung daun mimba Lethal time G^m) 0 g/100 g serbuk gergaji 48,00 d 5 g/100 g serbuk gergaji 24,75 c 10 g/100 g serbuk gergaji 22,25 c 15 g/100 g serbuk gergaji 19,50 b 20 g/100 g serbuk gergaji 16,00 a KK = 6,37% Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT pada taraf 5% Tabel 4 memperlihatkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi tepung daun mimba 5 g/100 g serbuk gergaji berdeda tidak nyata dengan konsentrasi 10 g/100 g serbuk gergaji. Sedangkan perlakuan konsentrasi tepung daun mimba 15 g/100 g serbuk gergaji berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 20 g/100 g serbuk gergaji. Berdasarkan tabel 4 nilai LT50 dari perlakuan berbagai konsentrasi tepung daun mimba berkisar dari 16-24,75 jam. Semakin tinggi konsentrasi tepung daun mimba yang diberikan maka semakin banyak senyawa Azadirachtin yang terkandung dalam tepung daun mimba tersebut. Sehingga semakin banyak pula senyawa tersebut yang menempel dan termakan dengan bahan makanan yang dimakan rayap uji tersebut. Akibatnya rayap akan semakin lemah untuk bergerak dan akhimya mati. Aplikasi tepung daun mimba pada konsentrasi 20 g/100 g serbuk gergaji membutuhkan waktu yang paling cepat untuk mematikan 50% hama rayap yaitu 16 jam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kandungan bahan aktif senyawa azadirachtin yang masuk sebagai racun perut dan bekerja sebagai rancun saraf Menurut Aminah (1995) menyatakan bahwa senyawa yang terkandung dalam insektisida yang tinggi maka pengaruh yang ditimbulkan terhadap kematian serangga uji semakin tinggi. 21