2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Perikanan Tangkap

dokumen-dokumen yang mirip
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi dan Peran Pelabuhan Perikanan

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/PERMEN-KP/2014 TENTANG SISTEM LOGISTIK IKAN NASIONAL

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG

Pelabuhan secara umum adalah daerah yang terlindung

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan Pengertian pelabuhan perikanan

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari daerah perairan yang mengandung

I. PENDAHULUAN. dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi penggerak utama (prime mover)

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN Pelabuhan Perikanan. Pengertian pelabuhan perikanan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pelabuhan Perikanan

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Pengertian distribusi

PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP)

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN TEMPAT PELELANGAN IKAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2005

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dirubah yakni dari ikan yang dijual sendiri-sendiri menjadi ikan dijual secara lelang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan 2.2 Fungsi Pelabuhan Perikanan

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

BAB I PENDAHULUAN. terhadap sektor perikanan dan kelautan terus ditingkatkan, karena sektor

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Kepelabuhan. Perikanan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2012 TENTANG KEPELABUHANAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 72 TAHUN 2008 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kehadiran pelabuhan yang memadai berperan besar dalam menunjang mobilitas barang dan

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Pukat merupakan semacam jaring yang besar dan panjang untuk. menangkap ikan yang dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Pengertian dan pengklasifikasian pelabuhan perikanan

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

DOKUMEN PROSEDUR PENERBITAN IZIN PERIKANAN

MENTERI TRANSMIGRASI DAN PEMUKIMAN PERAMBAH HUTAN R.I. KEPUTUSAN MENTERI TRANSMIGRASI DAN PEMUKIMAN PERAMBAH HUTAN REPUBLIK INDONESIA

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Pengertian, klasifikasi dan fungsi pelabuhan perikanan

BAB II LANDASAN TEORITIS. Pengertian pasar telah banyak didefinisikan oleh ahli-ahli ekonomi. Pasar

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Fungsi pelabuhan perikanan

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPMEN NO. 96 TH 1998

melakukan kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi kebutuhan perbekalan untuk menangkap ikan di

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 127/KEPMEN-KP/2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Lamongan merupakan daerah yang berada pada jalur pantai utara,

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi sumber daya alam

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN METODOLOGI

2 ekspor Hasil Perikanan Indonesia. Meskipun sebenarnya telah diterapkan suatu program manajemen mutu terpadu berdasarkan prinsip hazard analysis crit

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Di dunia bisnis, kenaikan volume penjualan menjadi keinginan dari

URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG MERUPAKAN KEWENANGAN DAERAH PROVINSI Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2015, No ruang wilayah Kabupaten Manggarai Barat sebagaimana yang direkomedasikan oleh Bupati Manggarai Barat melalui surat Nomor BU.005/74/IV

BERITA NEGARA. No.955, 2011 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Juknis. DAK. Tahun 2012 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III DESKRIPSI AREA

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 52 TAHUN 2002 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. perembesan air asin. Kearah laut wilayah pesisir, mencakup bagian laut yang

RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN

BUPATI BELITUNG TIMUR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR SUMATERA BARAT

PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2016 T E N T A N G TATA CARA PERIZINAN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

c. memantau, mengevaluasi dan menilai hasil kerja bawahan dalam

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

KOMPONEN AGRIBISNIS. Rikky Herdiyansyah SP., MSc

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN.

6 KEBUTUHAN FASILITAS TERKAIT PENANGANAN HASIL TANGKAPAN DI PPI MUARA ANGKE

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perikanan Tangkap Perikanan dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (UU nomor 45 tahun 2009 jo UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan). Hal ini sejalan dengan pemikiran Kesteven (1973) dalam Monintja dan Yusfiandayani (2001) yang menyatakan bahwa perikanan tangkap merupakan suatu sistem, yang terdiri beberapa elemen atau sub sistem yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Elemen-elemen atau sub sistem tersebut antara lain : sarana produksi, usaha penangkapan, prasarana (pelabuhan), unit pengolahan, unit pemasaran dan masyarakat pembina/penyedia layanan pendukung. 2.2 Dinamika Perikanan Tangkap Charles (2001) menyatakan bahwa kedinamikaan perikanan tangkap dipengaruhi oleh adanya perubahan pada 3 (tiga) sistem yaitu sistem alam, sistem manusia dan sistem manajemen. Sistem alam sendiri terdiri dari ikan/biota yang menjadi target tangkapan, ekosistem dan lingkungan biophisik. Sistem manusia terdiri dari nelayan termasuk alat tangkap, kegiatan pasca panen dan konsumen, rumah tangga perikanan dan komunitas serta kondisi sosial ekonomi dan budaya sekitarnya. Pada sistem manajemen perikanan, yang termasuk didalamnya adalah kebijakan perencanaan perikanan, manajemen perikanan, pengembangan dan penelitian perikanan. Berdasar pada ketiga sub sistem tersebut, apabila ada salah satu elemen yang berubah, maka nelayan sebagai aktor utama dalam kegiatan penangkapan akan langsung beradaptasi guna menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dengan demikian, effort atau upaya dalam melakukan penangkapan juga akan mengalami perubahan yang pada akhirnya merubah pola penangkapan.

8 Hal yang senada juga diungkapkan Hilborn dan Waters (1992) yang menyatakan bahwa dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan faktor eksternal, nelayan akan menerapkan strategi penangkapan ikan tertentu dengan mengalokasikan alat tangkapnya. Kedinamikaan upaya penangkapan tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingkat keuntungan dan teknologi yang diterapkan. Selain itu, Charles (2001) menyatakan bahwa perubahan ini dipengaruhi oleh faktor kelimpahan dan distribusi ikan, harga ikan dan pengelolaan sumberdaya yang diterapkan. 2.3 Pelabuhan Perikanan Pelabuhan perikanan dapat diartikan sebagai tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan (Permen KP Nomor : PER. 16/MEN/2006). Pelabuhan perikanan merupakan interface (pertemuan) antara daratan dan lautan. Keberadaan pelabuhan perikanan dapat menunjang berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pra produksi hingga pasca produksi. Oleh karena itu, keberadaan pelabuhan perikanan memliki peranan yang sangat penting dalam kerangka pemanfaatan sumber daya perikanan (Solihin, 2008). Hal ini diperkuat oleh UU No.45 tahun 2009 jo UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan, yang menyebutkan bahwa pelabuhan perikanan memiliki fungsi pemerintahan dan pengusahaan guna mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari prapoduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Keberadaan pelabuhan perikanan dapat digolongkan menjadi 4 (empat) tipe (Permen KP Nomor : PER. 16/MEN/2006), yaitu : Pelabuhan Perikanan Samudra / PPS (Tipe A), Pelabuhan Perikanan Nusantara / PPN (Tipe B), Pelabuhan Perikanan Pantai / PPP (Tipe C) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Pengolonggan pelabuhan perikanan tersebut didasarkan pada antara lain : daerah

9 penangkapan, fasilitas tambat labuh, panjang dermaga, luasan kolam pelabuhan, daearah tujuan pemasaran dan ketersediaan lahan / fasilitas lainnya. 2.4 Pemasaran Menurut Hanafiah dan Saefuddin (1986), pemasaran adalah kegiatan yang bertalian dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa. Tujuan dari kegiatan pemasaran adalah menempatkan barang-barang ke tangan konsumen akhir. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan adanya berbagai kegiatan pemasaran yang dibangun berdasarkan arus barang yang meliputi proses pengumpulan (konsentrasi), proses pengimbangan (equalisasi) dan proses penyebaran (dispersi). Menurut Kotler (2000), pemasaran umumnya dipandang sebagai tugas untuk menyiptakan, memperkenalkan, dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen. Asosiasi pemasaran Amerika diacu dalam Kotler (2000) juga mendefinisikan bahwa pemasaran merupakan proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi. Kotler (2000) juga memberikan pengertian bahwa konsep pemasaran tidak sama dengan konsep penjualan. Konsep pemasaran mempunyai gagasan untuk memuaskan pelanggan, sedangkan konsep penjualan hanya berfokus pada kebutuhan penjual. Konsep pemasaran dimulai dengan proses pengidentifikasian pasar yang baik, berfokus pada kebutuhan pelanggan, mengkoordinasikan semua aktifitas yang akan mempengaruhi pelanggan, dan menghasilkan laba dengan memuaskan pelanggan. Hal ini sangat berbeda dengan konsep penjualan yang berfokus pada produk-produk yang ada dan menuntut penjualan dan promosi dengan cara keras untuk menghasilkan penjualan yang dapat menghasilkan laba. Oleh karena itu dalam kegiatan pemasaran diperlukan strategi-strategi dan langkah-langkah yang diambil oleh pemasar agar produknya dapat bersaing di pasaran.

10 2.5 Sistem Distribusi Perikanan Distribusi dapat diartikan sebagai kegiatan penyaluran suatu barang dari produsen ke konsumen (Limbong dan Sitorus, 1987). Hanafiah dan Saefuddin (1986), juga memberikan pengertian bahwa distribusi merupakan proses pemindahan barang-barang dari tempat produksi ke berbagai tempat atau daerah yang membutuhkan. Dengan demikian, adanya distribusi barang dapat menciptakan nilai kegunaan tempat. Apabila distribusi ini dilakukan tepat waktu, maka fungsi distribusi ini juga akan menciptakan kegunaan waktu. Rahardi (2005), menyebutkan ada tiga komponen pendukung yang memegang peranan penting dalam sistem distribusi perikanan yaitu : konsumen, produsen dan pedagang atau perantara. Lebih lanjut Rahardi mengemukakan yang dimaksud konsumen adalah pembeli akhir dari suatu produk perikanan dan produsen adalah orang yang menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan besaran yang didapat. Sedangkan pedagang atau perantara adalah orang / lembaga yang berperan sebagai penyalur produk dari produsen ke tangan konsumen. Secara umum pola sistem distribusi pemasaran produk perikanan dapat dibedakan menjadi dua yaitu perikanan untuk kebutuhan industri (bahan baku) dan perikanan untuk kebutuhan konsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan industri, pola pemasaran produk perikanan golongan bahan mentah adalah sebagai berikut (Gambar 3) :

11 Produsen (Nelayan dan Pembudidaya ikan) Pedagang Pengumpul lokal Gradding dan Standarisasi Perusahaan (pengolah) Gradding dan Standarisasi Pedagang Pengumpul besar Pasar domestik Pasar eksport Gambar 3 Pola distribusi produk perikanan golongan bahan mentah. Sedangkan pola pemasaran produk perikanan golongan barang konsumsi biasanya dipasarkan dalam kondisi segar atau bahkan masih hidup. Secara umum pola distribusinya adalah sebagai berikut (Gambar 4): Produsen (Nelayan dan Pembudidaya ikan) Pedagang Pengumpul lokal Pedagang Pengumpul besar Gradding dan Standarisasi Pasar Eksport Pasar Lokal (dalam kabupaten) Pasar Regional (dalam propinsi) Pasar Nasional (luar propinsi) Cold Storage (Pengepakan) Konsumen Eksport Gambar 4 Pola distribusi produk perikanan golongan barang konsumsi.

12 2.6 Harga Harga suatu barang adalah nilai tukar yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang (Hanafiah, 1986). Secara ilmu ekonomi (Hirshleifer, 1985), jika faktor lain dianggap sama / stabil maka harga suatu komoditas memiliki hubungan yang negatif dengan jumlah / kuantitas yang akan diminta dan akan memiliki hubungan positif dengan jumlah yang ditawarkan. Dengan kata lain, semakin tinggi harga suatu barang maka jumlah permintaan akan semakin turun demikian sebaliknya jika harga suatu komoditas turun maka permintaan akan naik. Namun, hal yang berbeda pada jumlah penawaran. Jumlah barang yang ditawarkan akan naik jika harga barang tersebut mengalami kenaikan dan jika jika harga turun maka penawaranpun akan turun (Gambar 5). Harga (P) Penawaran (S) P 1 P 0 P 2 Permintaan (D) Q 1 Q 0 Q 2 Jumlah (Q) Gambar 5 Konsep keseimbangan permintaan dan penawaran (Hirshleifer, 1985).

13 Pendekatan umum yang sering digunakan dalam penetapan harga adalah (Kotler, 1997): a. Berdasarkan biaya Metode ini dilakukan dengan cara menambah angka standar pada biaya produk. Beberapa alasan dalam menggunakan metode ini yaitu, pertama karena pedagang lebih memastikan soal biaya daripada jumlah permintaan. Kedua, jika semua perusahaan dalam industri menggunakan metode ini, harga cenderung seragam dan persaingan harga dapat diminimalkan. Ketiga, banyak orang merasa bahwa penetapan harga dengan menambahkan angka pada biaya lebih wajar bagi pembeli dan penjual. b. Berdasarkan analisis titik impas dan laba sasaran Metode ini merupakan cara penetapan harga yang sebanding dengan biaya membuat dan memasarkan produk atau penetapan harga untuk memperoleh laba sasaran yang diinginkan. Metode ini lebih sering digunakan oleh penggelola sarana umum yang tidak boleh melakukan pengembalian yang wajar atas investasi mereka. c. Berdasarkan nilai Penetapan harga berdasarkan nilai berarti bahwa pemasar tidak dapat merancang produk, program pemasaran dan harga. Harga dibentuk / dipertimbangkan tidak hanya berdasar pada biaya penjualan melainkan secara bersama dengan persepsi pembeli mengenai nilai. d. Berdasarkan persaingan Pendekatan ini terdiri dari dua jenis yaitu, penetapan harga menurut keadaan dan penawaran tertutup. Pertama, penetapan harga menurut keadaan didasarkan atas harga dari pesaing dan kurang memperhatikan biaya serta permintaannya sendiri. Pada kasus ini, pemasar dapat memberikan harga lebih rendah, sama atau lebih tinggi dari pesaingnya. Kedua, penawaran tertutup lebih berdasar pada

14 pendapat mereka mengenai bagaimana pesaing menetapkan harga dibandingkan pada biaya atau permintaannya sendiri. Metode ini lebih sering digunakan pada cara memenangkan nilai kontrak dengan memberikan harga lebih rendah dibanding pesaingnya. 2.7 Penelitian Terdahulu Alfranca, Oca dan Reig (2004) melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk memperkirakan dinamika yang terjadi pada kegiatan perikanan akibat adanya gejolak harga di pusat pasar ikan Kota Barcelona Spanyol. Pendekatan autoregresi vektor digunakan untuk menjelaskan dinamika yang terjadi. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa setiap perubahan peraturan umum atau hal-hal yang mempengaruhi proses produksi akan selalu direspon oleh pelaku kegiatan dibidang perikanan. Biasanya, perubahan yang terjadi adalah mengarah pada keseimbangan baru dalam jangka waktu tertentu tergantung pada pola dan kecepatan penyesuaian, sifat dan derajat ketidakseimbangan dalam sebuah sistem perikanan. Vasisht dan Singh (2004), melakukan suatu kajian untuk mengamati stuktur pasar yang ada, harga pasar dan dampaknya terhadap hasil tangkapan ikan laut di pantai Orissa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyaknya pedagang perantara yang terlibat dalam rantai pemasaran akan menurunkan nilai fisherman net share. Selain itu, hasil penelitian juga menyebutkan secara signifikan bahwa setiap kenaikan harga ikan ditingkat grosir sebesar 1 % akan meningkatkan jumlah ikan yang didaratkan sebesar 2,01% (dalam jangka pendek) 1,42% (dalam jangka panjang). Suherman dan Adhyaksa pada tahun 2009 telah melakukan sebuah penelitian di PPN Brondong yang bertujuan untuk menganalisis dampak sosial ekonomi pembangunan dan pengembangan PPN Brondong. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya dampak positif dari adanya pembangunan dan pengembangan PPN Brondong. Hal tersebut dilihat dari adanya kesempatan lapangan kerja baru dan berkembangnya usaha dibidang perikanan dan kelautan di sekitar PPN Brondong.