BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rezki Puteri Syahrani Nurul Fatimah, 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. akan dapat diterima orang lain, sehingga tercipta interaksi sosial sesama

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Atik Rahmaniyar, 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Bayu Dwi Nurwicaksono, 2013

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

BAB I PENDAHULUAN. Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi

2015 PENGAKUAN KEESAAN TUHAN DALAM MANTRA SAHADAT SUNDA DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KABUPATEN BEKASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan seloka. Sedangkan novel, cerpen, puisi, dan drama adalah termasuk jenis sastra

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap etnik (suku) di Indonesia memiliki kebudayaan masing-masing yang berbeda

keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada (Yamin, 2010:64). Tetapi terkadang dalam

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Pradopo (1988:45-58) memberi batasan, bahwa karya sastra yang bermutu

BAB V MODEL PELESTARIAN NYANYIAN MBUE-BUE PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Setiap kelompok etnik tersebut memiliki

PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG BERBAHASA DAN BERPAKAIAN MELAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Sambutan Presiden RI pd Penganugerahan Gelar Kehormatan Adat Budaya Banjar tgl. 24 Okt 2013 Kamis, 24 Oktober 2013

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bahasa Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal yang wajib

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sosial masyarakat karena tanpa bahasa masyarakat akan sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Indonesia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang. kampung adat yang secara khusus menjadi tempat tinggal masyarakat

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

BAB I PENDAHULUAN. beberapa pulau, daerah di Indonesia tersebar dari sabang sampai merauke.

2013 POLA PEWARISAN NILAI-NILAI SOSIAL D AN BUD AYA D ALAM UPACARA AD AT SEREN TAUN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum Nasional merupakan pengembangan dari Kurikulum 2013 yang

2016 DAMPAK KEBIJAKAN SUMEDANG PUSEUR BUDAYA SUNDA TERHADAP PENANAMAN NILAI-NILAI KESUNDAAN

BAB I PENDAHULUAN. Bima itu. Namun saat adat istiadat tersebut perlahan-lahan mulai memudar, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang tumbuh dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau

BAB I PENDAHULUAN. Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang majemuk, yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. turun temurun. Kebiasaan tersebut terkait dengan kebudayaan yang terdapat dalam

BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah penutur lebih dari satu juta jiwa (Bawa, 1981: 7). Bagi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2015 PENANAMAN NILAI-NILAI KESUND AAN MELALUI PROGRAM TUJUH POE ATIKAN ISTIMEWA D I LINGKUNGAN SEKOLAH KABUPATEN PURWAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelilitian

BAB I PENDAHULUAN KAJIAN KETERBACAAN DAN NILAI KARAKTER TEKS ARTIKEL HARIAN KOMPAS SERTA UPAYA PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR MEMBACA KRITIS

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terkenal sebagai salah satu negeri terbesar penghasil kain tenun tradisional yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan

BAB I PENDAHULUAN. Nilai budaya yang dimaksud adalah nilai budaya daerah yang dipandang sebagai suatu

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh

A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik pada aspek pengetahuan, sikap

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang sangat kompleks. Didalamnya berisi struktur-struktur yang

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang luas di dunia, karena Indonesia tidak

BAB I PENDAHULUAN. menghawatirkan, baik dari segi penyajian, maupun kesempatan waktu dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Sastra tidak terlepas dari kehidupan manusia karena sastra merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014

commit to user BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Papua seperti seekor burung raksasa, Kabupaten Teluk Wondama ini terletak di

BAB I PENDAHULUAN. asia, tepatnya di bagian asia tenggara. Karena letaknya di antara dua samudra,

BAB I PENDAHULUAN. Sastra secara nyata memang berbeda dengan psikologi. Psikologi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. memiliki makna yang sama. Salah satu fungsi dari bahasa adalah sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan masa lampau, karena naskah-naskah tersebut merupakan satu dari berbagai

BUPATI KLATEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA JAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. digunakan Dalihan na tolu beserta tindak tutur yang dominan diujarkan. Temuan

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Buton dalam kehidupannya terikat kuat oleh tradisi lisan.

PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN PENGETAHUAN TRADISIONAL & EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL. Dra. Dewi Indrawati MA 1

BAB I PENDAHULUAN. kewibawaan guru di mata peserta didik, pola hidup konsumtif, dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1

BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pada bab ini dipaparkan (1) latar belakang penelitian (2) rumusan penelitian (3) tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. berbagai segi kehidupan. Kenyataan menunjukkan bahwa pemakaian bahasa. dalam suatu pembelajaran di lembaga pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DISFUNGSIONAL PERAN KARANG TARUNA DALAM PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL DI KAMPUNG CIREUNDEU

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Dalam Acara ORIENSTASI STUDI DAN PENGENALAN KAMPUS BAGI MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2016/2017. Drs. Suprijatna

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya kebudayaan. Kebudayaan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. peran orang tua sebagai generasi penerus kehidupan. Mereka adalah calon

I. PENDAHULUAN. suku bangsa, ras, bahasa, agama, adat-istiadat, maupun lapisan sosial yang ada

2015 RELEVANSI GAYA BAHASA GURIND AM D UA BELAS KARYA RAJA ALI HAJI D ENGAN KRITERIA BAHAN AJAR PEMBELAJARAN BAHASA D AN SASTRA IND ONESIA D I SMA

2015 KESENIAN RONGGENG GUNUNG DI KABUPATEN CIAMIS TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. ini. Akan tetapi, perkembangan teknologi dan industri yang menghasilkan budaya teknokrasi

BAB I PENDAHULUAN. hingga sekarang. Folklor termasuk dalam suatu kebudayaan turun-temurun yang

BAB 1 PENDAHULUAN. kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini oleh dilambangkan oleh bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dengan bangsa lainnya. Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat suatu bangsa

Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB I PENGANTAR Latar Belakang. Kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi pembentukan pola

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tradisi lisan merupakan warisan budaya nenek moyang yang merefleksikan karakter masyarakat pendukung tradisi tersebut. Signifikansi tradisi lisan dalam kehidupan manusia terbukti dari pemanfaatannya selama beberapa generasi secara turun temurun untuk menata kehidupan sosial budaya secara arif. Tradisi lisan tidak sekadar mencerminkan kehidupan budaya suatu kelompok masyarakat, penggalian nilai-nilai moral dalam tradisi lisan membawa fungsi sebagai pengendali perilaku manusia. Tataran ini menggambarkan fungsi tradisi lisan sebagai sarana pendidikan karakter yang berbasis pengetahuan dan kearifan lokal. Selain itu, masyarakat menjadikan tradisi lisan sebagai wadah untuk menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai hukum tak tertulis dan sumber pengetahuan. Masyarakat Melayu Tapung (MMT) memiliki tradisi lisan besesombau yang mengandung muatan normatif yang dijadikan oleh masyarakat sebagai hukum tak tertulis dan sumber pengetahuan. Bahkan, tradisi ini menjadi acuan dalam melaksanakan beberapa kegiatan sosial sebagai masyarakat yang berbudaya. Besesombau tumbuh dan berkembang dalam kehidupan etnik Melayu Tapung sejak ratusan tahun yang lalu. Besesombau berasal dari kata sesombau atau sesembahan. Kata sembah dalam KBBI (2008, hlm. 1301) didefinisikan sebagai (1) pernyataan hormat dan khidmat; (2) kata atau perkataan yang ditujukan kepada orang yang dimuliakan. Sesuai dengan definisi KBBI tersebut, kata-kata yang digunakan dalam besesombau merupakan kata-kata terpilih yang disampaikan dengan penuh hormat atau santun. Dalam praktiknya besesombau merupakan seni bertutur berupa pidato adat dalam suatu perundingan atau musyawarah. Besesombau disajikan dalam rangkaian upacara adat, pertemuan-pertemuan penting, atau aktivitas budaya lainnya dalam kehidupan sosial budaya MMT. Besesombau digunakan sebagai media untuk 1

menyampaikan pendapat, keinginan, maksud, gagasan, pemikiran, dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang santun, berseni, dan bersayap. Bahasa yang santun maksudnya adalah bahasa yang mempertimbangkan etika melalui kata-kata yang digunakan dan cara penyampaiannya. Penggunaan bahasa yang santun sangat dipentingkan dalam besesombau, hal ini sesuai dengan prinsip hidup orang Melayu yang sangat mengutamakan budi bahasa untuk menunjukkan kesantunan dan peradaban yang tinggi. Keutamaan budi bahasa ini tercermin dalam peribahasa Melayu hidup dalam pekerti, mati dalam budi dan usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa yang berseni maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mengandung unsur estetika atau keindahan. Estetika dalam besesombau terlihat dari pilihan kata dan rangkaian kata yang mengandung rima. Dalam besesombau sering dimunculkan kata-kata arkaik dan ungkapan-ungkapan lama yang puitis dan filosofis. Keindahan tersebut semakin terasa dengan adanya pantun, bidal, peribahasa, ungkapan, syair, gurindam, dan bentuk-bentuk lainnya yang menggunakan kata-kata yang disusun sedemikian rupa. Penggunaan kata-kata bersayap dapat dimaknai sebagai penyampaian maksud yang tidak langsung mengena atau mengandung makna kiasan. Penyampaian makna kiasan dalam kehidupan orang Melayu didukung oleh keahlian mereka dalam merangkai kata dan menyembunyikan maksud sebenarnya dalam rangkaian kata-kata tersebut. Penggunaan kata-kata bersayap sering dimunculkan dengan gaya bahasa atau majas. Besesombau Melayu Tapung dapat dikatakan memiliki kesamaan dengan pidato adat persembahan yang ada di daerah bersuku Melayu lainnya, seperti Melayu Deli, Melayu Riau Pesisir, dan Minangkabau. Masyarakat Melayu Deli dan Melayu Pesisir menyebut pidato adat persembahan dengan nama sesembahan sedangkan masyarakat Minangkabau menyebutnya dengan istilah pasambahan. Di Bangkinang tradisi lisan berupa pidato adat persembahan ini dikenal dengan nama basiocuong. Tradisi lisan pasambahan di Minangkabau (Media Sastra Kasih, 1994) dan basiocuong di Bangkinang (Zulfa, 2012) memiliki kesamaan yang 2

cukup signifikan dengan besesombau. Terdapat kemiripan bahasa, isi yang disampaikan, dan kegunaan tetapi masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri sesuai dengan warna sosial budaya masyarakat setempat. Komunitas pendukung besesombau tersebar di kawasan Tapung yang meliputi puluhan desa. Salah satu desa di kawasan Tapung (tepatnya di Kecamatan Tapung Hilir) adalah Desa Sekijang. Desa ini merupakan kampung tua yang sudah berusia ratusan tahun dengan penduduk asli etnik Melayu Tapung. Besesombau di Desa Sekijang tumbuh dan berkembang seiring dengan dibukanya kampung tersebut. Keberadaan tradisi lisan besesombau dalam kehidupan MMT Sekijang diperkirakan sudah ada sejak kampung ini dibuka (wawancara dengan Bapak Bustami, 24 Januari 2013; Bapak H. Abu Nawas, 25 Januari 2013: Bapak Zamzami, 25 Januari 2013). Tradisi lisan besesombau bertolak dari karakter MMT Sekijang yang memiliki rasa kebersamaan yang tinggi dan menerapkan konsep saling menghormati dalam hidup bermasyarakat. Rasa kebersamaan yang tinggi diwujudkan dengan menjadikan permasalahan ataupun kepentingan tertentu sebagai tanggung jawab bersama. Untuk itu diperlukan perundingan atau musyawarah yang dilakukan secara terbuka sehingga keputusan atau solusi yang diambil merupakan kesepakatan bersama dengan mengutamakan kepentingan bersama. Penerapan konsep saling menghormati diwujudkan dengan sikap menghargai pendapat orang lain, tidak bersikap arogan, dan mengedepankan kesantunan. Dengan demikian dibutuhkan suatu aturan yang menata tata cara berunding atau bermusyawarah tersebut. Hal ini yang mendorong dilaksanakannya besesombau dalam berbagai acara adat, yaitu perundingan yang menggunakan tata cara, bahasa, dan aturan-aturan tertentu sesuai konvensi sosial MMT Sekijang. Besesombau merupakan pengejawantahan perilaku MMT Sekijang jika dilihat dari perspektif bahasa sebagai bagian budaya. Budaya lokal orang Melayu yang penuh dengan simbol dan menjunjung tinggi kesantunan tercermin dari etika dan estetika yang terangkum dalam teks dan performansi besesombau. 3

Sebagai aktivitas sosial budaya yang mengandung aspek estetika dan moral, besesombau merupakan seni bertutur yang berfungsi berdasarkan kemampuannya dalam menyebarkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Artinya, tradisi lisan ini memiliki muatan nilai-nilai dan kearifan lokal yang dapat berfungsi untuk pengendalian sosial dan pembinaan karakter anggota masyarakat. Aspek spiritual menjadi muatan tambahan dalam tradisi lisan besesombau karena MMT merupakan komunitas yang menyandarkan berbagai sendi kehidupan pada ajaran Islam. Berbagai aturan adat dan konvensi-konvensi sosial didasarkan pada hukum Islam. MMT Sekijang dikenal sebagai masyarakat religius yang mengutamakan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Besesombau yang merupakan pidato adat berisikan serangkaian kata yang memiliki peran sebagai pengendali perilaku masyarakat dalam aktivitas sosial budaya. Misalnya, dalam acara makan bersama diadakan besesombau makan yang menata perilaku masyarakat untuk tertib selama acara berlangsung. Hal ini membuktikan bahwa besesombau memiliki fungsi yang kuat dalam aktivitas sosial budaya MMT. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa besesombau bertolak dari karakter masyarakat, memproyeksikan kehidupan MMT Sekijang, mengandung kearifan lokal, memiliki fungsi yang kuat, dan menjadi acuan perilaku dalam kehidupan masyarakat. Besesombau diwariskan secara turun temurun dan digunakan secara berkesinambungan dalam kehidupan MMT Sekijang dari masa ke masa sebagai kebiasaan yang akhirnya menjadi tradisi. Bagaimanakah kondisi eksistensi besesombau di Desa Sekijang di tangan generasi sekarang? Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan dengan pemuka adat dan anggota masyarakat Desa Sekijang, tradisi lisan besesombau dalam 2 tahun terakhir semakin jarang dipertunjukkan dalam acaraacara adat. Artinya, dewasa ini terjadi pergeseran sikap sebagian MMT Sekijang terhadap tradisi lisan besesombau. Jika masyarakat tidak melakukan upaya-upaya tertentu untuk menyelamatkan tradisi ini disinyalir tradisi lisan besesombau Melayu Tapung di Desa Sekijang akan punah. 4

Kondisi ini disebabkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi seiring perkembangan yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan MMT Sekijang. Perubahan sosial, perkembangan ekonomi, heterogenitas penduduk, dan persentuhan dengan budaya lain berpengaruh terhadap eksistensi besesombau dalam aktivitas sosial budaya MMT Sekijang. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan MMT Sekijang diawali dengan perubahan ekologi. Ketika hutan-hutan di kawasan Tapung ditebangi untuk dijadikan daerah pengeboran minyak, lahan perkebunan kelapa sawit, dan jalan raya; perubahan ekologi pun terjadi secara masif di kawasan ini. Secara ekologik terjadi perubahan lingkungan yang sangat drastis. Hutan rimba Tapung yang sebelumnya terkenal sebagai penghasil kayu, damar, rotan, dan madu lebah; berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Jika sebelumnya hutan dan sungai menjadi sumber pencarian, setelah transformasi hutan menjadi kebun kelapa sawit masyarakat beralih menjadi petani atau buruh perkebunan kelapa sawit. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Sekijang sebagai berikut: buruh atau karyawan perkebunan kelapa sawit 62%, petani kelapa sawit 30%, nelayan 3%, wiraswasta 3%, dan pegawai negeri sipil 2% (sumber: Kantor Kepala Desa Sekijang, Januari 2015). Perubahan ekologi juga menimbulkan perubahan kehidupan sosial. Secara demografik terjadi perubahan komposisi penduduk yang bermukim di Desa Sekijang. Perkembangan ekonomi karena adanya perkebunan kelapa sawit menjadikan Desa Sekijang sebagai destinasi para pendatang. Kehidupan sosial semakin majemuk dan kompleks dengan kedatangan penduduk dari berbagai daerah. Data awal tahun 2015 menyebutkan jumlah penduduk Desa Sekijang sebanyak 9548 jiwa, dengan jumlah penduduk asli hanya sekitar 955 jiwa (sumber: Kantor Kepala Desa Sekijang, Januari 2015). Artinya, jumlah penduduk asli Sekijang (etnik Melayu Tapung) hanya 10% dari keseluruhan jumlah penduduk. Selain berpengaruh pada perubahan demografi dan sosial ekonomi, perubahan ekologi juga berpengaruh pada perubahan kehidupan budaya. Tradisi lisan besesombau, sebagai aktivitas budaya MMT Sekijang, turut mengalami perubahan. 5

Bahkan, besesombau untuk menyelesaikan konflik sudah tidak dipraktikkan selama bertahun-tahun seiring dengan melemahnya fungsi kepala adat sebagai pemimpin formal. Penyelesaian konflik ditangani oleh aparatur pemerintah dan pihak kepolisian. Tentu saja musyawarah dalam menyelesaikan sebuah konflik yang dilakukan oleh nenek moyang dengan besesombau berbeda dengan cara yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dan pihak kepolisian. Besesombau lainnya yang menghilang dalam kehidupan MMT Sekijang adalah besesombau menjalang mamak. Besesombau menjalang mamak merupakan pidato persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada mamak (pemimpin suku), baik mamak pucuok maupun mamak soko untuk menyampaikan maksud tertentu. Berkurangnya penyajian tradisi lisan besesombau dalam acara-acara adat, ternyata berakibat pada perubahan perilaku MMT Sekijang dalam aktivitas sosial budaya. Rasa kebersamaan yang menjadi dasar lahirnya tradisi lisan besesombau memudar seiring dengan perubahan gaya hidup yang cenderung berorientasi ekonomi dan mengutamakan individu. Sikap saling menghormati dalam berinteraksi juga mulai tergantikan dengan bahasa yang tidak mementingkan kesantunan dan norma-norma. Faktor penyebab lainnya yang mengakibatkan semakin terpinggirkannya besesombau dalam kehidupan MMT Sekijang ialah aturan adat tentang penampil besesombau dan perubahan sikap pemimpin adat terhadap besesombau itu sendiri. Di satu sisi, kemampuan besesombau tidak lagi menjadi syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pemuka adat Melayu Tapung sebagai mamak pucuok, mamak soko, dan ketuo sejoghah. Di sisi lain, persyaratan yang mengharuskan orang-orang yang besesombau adalah orang-orang yang ditinggikan dalam persukuan tetap dipegang kuat oleh masyarakat Desa Sekijang. Fenomena lainnya yang menunjukkan semakin melemahnya eksistensi tradisi lisan besesombau dalam kehidupan MMT Sekijang adalah pengabaian besesombau oleh generasi muda di Desa Sekijang. Selain itu, generasi penerus besesombau terus berkurang karena rendahnya upaya transmisi atau pewarisan. Dalam hal ini pemuka 6

masyarakat dinilai tidak maksimal melakukan upaya transmisi untuk mencetak generasi penerus besesombau. Berdasarkan latar belakang tersebut teridentifikasi sejumlah masalah yang berkaitan dengan tradisi lisan besesombau di Desa Sekijang sebagai berikut. 1. Perubahan ekologi, sosial ekonomi, dan demografi sangat signifikan di Desa Sekijang yang berlangsung sangat cepat dan masif sehingga berpengaruh terhadap sikap dan kepedulian masyarakat pada tradisi dan budaya lokal. 2. Fungsi tradisi lisan besesombau mengalami perubahan, bahkan menghilang, seiring dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam kehidupan MMT Sekijang; 3. Ketika tradisi lisan besesombau semakin terpinggirkan terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam aktivitas budaya dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain terjadi kecenderungan pengabaian norma-norma dan aturan adat. MMT Sekijang menganggap besesombau mampu mengendalikan perilaku masyarakat dan keadaan sosial dalam aktivitas sosial budaya dan kehidupan sehari-hari sesuai dengan norma, aturan, dan nilai-nilai yang bertolak dari kearifan lokal; 4. Teridentifikasi adanya pengabaian terhadap tradisi lisan besesombau oleh anggota masyarakat usia muda di Desa Sekijang; 5. Rendahnya upaya transmisi atau pewarisan sehingga generasi penerus besesombau semakin langka. Meskipun terdapat indikasi yang menunjukkan semakin terpinggirkannya tradisi lisan besesombau, eksistensi besesombau masih memiliki peran dan fungsi yang kuat dalam kehidupan sosial budaya MMT Sekijang. Ternyata, MMT Sekijang memiliki rasa yang kuat terhadap besesombau sehingga mereka menganggap acara-acara adat yang tidak menampilkan besesombau sebagai acara yang tidak beradat. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa besesombau masih memiliki kemampuan dan kekuatan hidup sebagai tradisi yang menandai identitas masyarakat Tapung yang sarat dengan nilai-nilai dan kearifan lokal. Kondisi ini menumbuhkan kesadaran untuk menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi secara arif tanpa harus melepaskan karakteristik lokal. Dewasa ini 7

muncul keinginan para pemuka adat dan pejabat pemerintah untuk melakukan upaya pelestarian tradisi lisan besesombau. Hal ini berarti bahwa tradisi lisan besesombau masih memiliki peluang untuk dihidupkan kembali atau direvitalisasi dalam kehidupan MMT Sekijang. Diharapkan tradisi lisan besesombau kembali berfungsi dalam acara-acara adat di Sekijang dan menjadi acuan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Revitalisasi yang dimaksud bukan sekadar pendokumentasian dalam bentuk perekaman dan pengaksaraan tetapi dihidupkan kembali dalam aktivitas sosial budaya masyarakat. B. Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1. Bagaimanakah struktur tradisi lisan besesombau Melayu Tapung? 2. Bagaimanakah fungsi tradisi lisan besesombau dalam kehidupan MMT Sekijang dan perubahan yang terjadi dewasa ini? 3. Bagaimanakah upaya revitalisasi tradisi lisan besesombau yang dilakukan oleh MMT Sekijang? 4. Bagaimanakah pemanfaatan tradisi lisan besesombau bagi kehidupan sosial budaya MMT Sekijang? 5. Bagaimanakah implikasi tradisi lisan besesombau sebagai sebuah seni bertutur pada ranah pembelajaran bahasa lokal? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian disesuaikan dengan rumusan masalah yang diajukan, sebagai berikut. 1. Mengkaji struktur performansi tradisi lisan besesombau Melayu Tapung yang meliputi partisipan, alat ekspresif, interaksi sosial, rangkaian tindakan, teks, konteks, dan koteks tradisi lisan besesombau Melayu Tapung. 2. Mengkaji fungsi tradisi lisan besesombau dan perubahannya dalam kehidupan MMT Sekijang. Pengkajian fungsi menjelaskan kemampuan bertahan tradisi lisan 8

besesombau yang digunakan untuk menentukan arah pengembangan dan pembinaannya. 3. Menjelaskan program revitalisasi tradisi lisan besesombau yang dilakukan oleh MMT Sekijang. Analisis program revitalisasi yang dilakukan masyarakat memaparkan efektivitas dan tingkat keberhasilan upaya pewarisan dan pengaktifan kembali tradisi lisan besesombau dalam kehidupan MMT Sekijang. 4. Menjelaskan pemanfaatan tradisi lisan besesombau dalam kehidupan sosial budaya MMT Sekijang. 5. Mengkaji implikasi tradisi lisan besesombau pada ranah pembelajaran bahasa lokal (bahasa Melayu Tapung). D. Manfaat/Signifikansi Penelitian Manfaat penelitian ini ditinjau dari beberapa aspek yang terkait dengan keberadaan besesombau, yaitu: 1. Sebagai masukan, sumbangan pemikiran, dan motivasi bagi MMT Sekijang untuk mempertahankan eksistensi besesombau dalam kehidupan mereka. Kesadaran akan pentingnya pemertahanan besesombau harus bertolak dari keinginan MMT Sekijang untuk melawan kepunahan dengan merevitalisasi besesombau secara nyata dalam aktivitas sosial budaya masyarakat. 2. Sebagai masukan dan sumbangan pemikiran bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk lebih memperhatikan dan memperjuangkan eksistensi berbagai karya budaya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Karya budaya yang memiliki nilai-nilai luhur dan mengandung kearifan lokal hendaknya dipertahankan sebagai identitas masingmasing suku di Indonesia pada era global ini. 3. Sebagai masukan dan sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah, lembaga adat Melayu, laskar dan hulubalang Melayu untuk mengangkat dan memungsikan kembali tradisi yang diwariskan nenek moyang dan memperkuat keberadaan dan peran lembaga adat dan pemimpin adat diperkuat dalam struktur masyarakat. Pemerintah daerah, lembaga adat Melayu, laskar dan hulubalang Melayu merupakan pihak-pihak yang berwenang dalam 9

menegakkan tuah dan marwah orang Melayu menghadapi berbagai cabaran kehidupan di zaman yang semakin mengglobal ini. 4. Sebagai informasi bagi akademisi dan pencinta budaya untuk mengenali salah satu tradisi lisan MMT Sekijang. Sejauh ini belum ada penelitian ataupun dokumentasi, cetak ataupun rekam, tentang kebudayaan MMT Sekijang. Bahkan, berbagai seni dan tradisi yang terdapat di kawasan Tapung tidak tercantum dalam atlas budaya Provinsi Riau yang dijadikan sebagai referensi budaya di Riau. Artinya, daerah ini sangat minim publikasi dan perhatian dari berbagai pihak (termarginalkan) dalam khazanah kebudayaan Melayu Riau. 5. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang mengkaji bidang yang sama atau subjek yang sama. E. Struktur Organisasi Disertasi Disertasi ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu pendahuluan; kajian pustaka; metodologi penelitian; pemaparan struktur dan fungsi tradisi lisan besesombau, deskripsi data dan pembahasan tentang revitalisasi, pemanfaatan bagi masyarakat, dan implikasinya pada pembelajaran bahasa lokal; dan simpulan yang disertai saran dengan perincian sebagai berikut. Bab 1 merupakan bagian pendahuluan yang diawali dengan memaparkan latar belakang penelitian. Latar belakang penelitian diawali dengan signifikansi tradisi lisan, definisi dan eksistensi besesombau, identifikasi masalah, serta pentingnya upaya pengkajian dan pelestarian besesombau. Selanjutnya disajikan rumusan masalah yang membatasi masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan organisasi penelitian. Bab 2 menyajikan hasil kajian teoretis yang meliputi konsep dan teori tradisi lisan, struktur performansi tradisi lisan, fungsi tradisi lisan, revitalisasi tradisi lisan, pembelajaran bahasa, penelitian yang relevan, dan paradigma penelitian. Bab 3 menjelaskan tentang metodologi penelitian yang meliputi metode atau rancangan penelitian, lokasi dan subjek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Penjelasan tersebut tentang metode dan alasan menggunakan metode tersebut, subjek penelitian, instrumen yang digunakan, 10

cara-cara mengumpulkan data, langkah-langkah menganalisis data penelitian, dan kondisi lokasi penelitian. Bab 4 diawali dengan pemaparan tentang struktur performansi mendeskripsikan komponen-komponen partisipan, alat ekspresif, interaksi sosial, rangkaian tindakan, teks, konteks, dan koteks tradisi lisan besesombau Melayu Tapung. Selanjutnya dibahas tentang fungsi tradisi lisan besesombau dan perubahannya dalam kehidupan orang Tapung di Desa Sekijang dari masa ke masa. Bab 5 menyajikan hasil temuan dan pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mengkaji revitalisasi tradisi lisan besesombau yang dilakukan oleh MMT Sekijang, pemanfaatan tradisi lisan besesombau bagi MMT Sekijang, dan implikasinya pada ranah pembelajaran bahasa. Pada bagian revitalisasi dipaparkan tentang dasar pemikiran diadakannya revitalisasi tradisi lisan besesombau, permasalahan atau kendala yang dihadapi, serta pelaksanaan dan evaluasi revitalisasi tradisi lisan besesombau di Desa Sekijang. Pemanfaatan tradisi lisan besesombau bagi MMT Sekijang ditinjau dari 3 aspek, yaitu pemanfaatan sebagai pengendali perilaku sosial, sebagai wadah pemertahanan bahasa lokal, dan media penyelesaian konflik. Implikasi tradisi lisan besesombau pada ranah pembelajaran keterampilan berbahasa (bahasa lokal) adalah penjelasan aspek-aspek keterampilan berbahasa yang terkandung dalam tradisi lisan besesombau dan model pembelajaran keterampilan berbicara dengan bahan ajar tradisi lisan besesombau. Bab 6 merupakan bagian penutup yang memuat simpulan dan saran. Simpulan yang disajikan merupakan intisari jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan. Saran-saran ditujukan kepada para pembuat kebijakan, pengguna hasil penelitian, dan peneliti yang berminat melakukan penelitian selanjutnya. 11