LAPORAN PENDAHULUAN CA. COLON

dokumen-dokumen yang mirip
Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

DEFINISI Kanker kolon adalah polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitar.

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE, INTRA, POST OPERASI HAEMOROIDEKTOMI DI RUANG DIVISI BEDAH SENTRAL RS. Dr.

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA OVARIUM DI RUANG B3 GYNEKOLOGI RS Dr. KARIADI SEMARANG

BAB II. Mega kolon adalah dilatasi dan atonikolon yang disebabkan olah. Mega kolon suatu osbtruksi kolon yang disebabkan tidak adanya

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

KONSEP TEORI. 1. Pengertian

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Tumor IntraAbdomen. Kelompok IV

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

KEBUTUHAN ELIMINASI BOWEL

PERAWATAN KOLOSTOMI Pengertian Jenis jenis kolostomi Pendidikan pada pasien

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.

ASUHAN KEPERAWATAN CA.LAMBUNG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan

LAPORAN PENDAHULUAN Konsep kebutuhan mempertahankan suhu tubuh normal I.1 Definisi kebutuhan termoregulasi

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. priyanto,2008). Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus

BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi

BAB I PENDAHULUAN. siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:

LAPORAN PENDAHULUAN. memperlihatkan iregularitas mukosa. gastritis dibagi menjadi 2 macam : Penyebab terjadinya Gastritis tergantung dari typenya :

BAB 1 PENDAHULUAN. mengobati kondisi dan penyakit terkait dengan proses menua (Setiati dkk, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

BAB I KONSEP DASAR. saluran cerna tinggi artinya disertai dengan pengeluaran banyak aliran cairan dan

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

Satuan Acara penyuluhan (SAP)

K35-K38 Diseases of Appendix

BAGIAN 1: MENGAPA PERLU DETOKS?

1. Pengertian Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh

DIVERTICULITIS DIVERTICULITIS

HIPOGLIKEMIA PADA PASIEN DIABETES MELLITUS

BAB I PENDAHULUAN. Kanker payudara adalah keganasan yang terjadi pada sel-sel yang terdapat

STUDI KASUS PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS APENDIKSITIS DI RUANG FLAMBOYAN RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN. sampai 6 gram. Ovarium terletak dalam kavum peritonei. Kedua ovarium melekat

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

BAB II TINJAUAN TEORI. penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer, 1999).

Kanker Testis. Seberapa tinggi kasus kanker testis dan bagaimana kelangsungan hidup pasiennya?

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

MONITORING DAN ASUHAN KEPERAWATANA PASIEN POST OPERASI

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB I KONSEP DASAR A.

aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

asuhan keperawatan Tinnitus

BAB I PENDAHULUAN. rektum yang khusus menyerang bagian sekum yang terjadi akibat gangguan

LAPORAN PENDAHULUAN PERAWATAN KOLOSTOMI Purwanti,

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Insidens

Gambaran Radiologi Tumor Kolon

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiforis, biasanya

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP PADA KLIEN DENGAN PERDARAHAN SALURAN CERNA

MASALAH ELIMINASI FECAL

ASUHAN KEPERAWATAN HPP

Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan

BAB III PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan membahas tentang permasalahan yang

LAPORAN PENDAHULUAN CA RECTI

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

TUGAS BIOLOGI DASAR DIARE. Oleh : Nama : Yunika Dewi Wulaningtyas NIM : Prodi : Pendidikan Matematika (R) Angkatan : 2008/2009

BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN STADIUM EWING S SARCOMA. pada jaringan lunak yang mendukung, mengelilingi, dan melindungi organ tubuh.

2. Pengkajian Kesehatan. a. Aktivitas. Kelemahan. Kelelahan. Malaise. b. Sirkulasi. Bradikardi (hiperbilirubin berat)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

SAKIT PERUT PADA ANAK

PATHWAY THALASEMIA. Mutasi DNA. Produksi rantai alfa dan beta Hb berkurang. Kelainan pada eritrosit. Pengikatan O 2 berkurang

BAB I PENDAHULUAN. melalui struktur yang secara normal berisi (Ester, 2001).

BAB I PENDAHULUAN. kematian pada perempuan. Penyakit ini telah merenggut nyawa lebih dari

sex ratio antara laki-laki dan wanita penderita sirosis hati yaitu 1,9:1 (Ditjen, 2005). Sirosis hati merupakan masalah kesehatan yang masih sulit

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,

OLEH : KELOMPOK 5 WASLIFOUR GLORYA DAELI

SISTEM PENGELUARN (EKSKRESI )

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Tujuan C. Manfaat

Transkripsi:

LAPORAN PENDAHULUAN CA. COLON I. KONSEP DASAR A. DEFINISI Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu pada tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas (FKUI,2008 : 268). Sedangkan Kanker adalah suatu penyakit yang di tandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel dan fungsi lainnya (Gale, 2000 : 177). Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal / neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari kolon. Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya( Brunner and Suddarth,2001: 810 ) Dari beberapa pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa kanker kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat di sekitar kolon (usus besar). B. ETIOLOGI Penyebab dari kanker kolon antara lainnya : 1) Diet Makanan yang mengandung zat kimia menyebabkan kanker pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak trutama lemak hewan dari daging merah, menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker di dalam usus besar. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dlam usus besar. Beberapa kelommpok menyarankan diet yang mengandung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran & buah-buahan (e.g Mormons, seventh Day Adventists). Makanan yang harus di hindari :

Daging merah, lemak hewan, makanan berlemak, daging atau ikan goreng panggang, karbohidrat yang di saring (example: sari yang di saring). Makanan yang harus di konsumsi Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis (seperti brokoli, brussels sprouts), butir padi yang utuh, cairan cukup terutama air. 2) Kelainan kolon Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma. Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna karsinoma. Kondisi ulserative : penderita colitis ulserativa menahun mempunyai risiko terkena karsinoma kolon. 3) Genetik Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon mempunyai frekuensi 3 ½ kali lebih banyak dari pada anak-anak yang orang tuanya sehat. C. PATOFISIOLOGI 1) Anatomi fisiologi kolon Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon tediri dari kolon menanjak (ascending), kolon melintang transverse), kolon menurun (descending), sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintng sering di sebut dengan kolon kanan, sedangkan bagian sisanya serng di sebut dengan kolon kiri. 2) Perubhan patologi Karsinoma kolon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala muncul secara perlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut, mencapai serosa dan mesenterikfat, kemudian umor ini mulai mendekat pada organ yang ada di sekitarnya, kemudian meluas ke dalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limfa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsumg masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limfa, setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi, biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tampat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain di antaranya :

Kelenjar Adrenalin, Ginjal, Kulit, Tulang, Otak. Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limfa dan sistem sirkulasi, tumor kolon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor di lakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor di hilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial. D. KLASIFIKASI Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut: A: Kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis. B1: kanker telah meinfiltrasi lapisan muskularis mukosa. B2: kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria. C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu sampai empat buah C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari lima buah. D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas dan tidak dapat di operasi lagi. E. KOMPLIKASI Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melalui penyebaran metastase yang termasuk : Perforasi usus besar yang di sebabkan peritonitis Pembentukn abses Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan perdarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akhirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada di sekitarnya (uterus, urinary bladder, dan ureter) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker. F. MANIFESTASI KLINIS KANKER KOLON Gejala sangat di tentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi. 1. Kanker kolon kanan Isi kolon berupa cairan, cenderung teteap tersamar hingga stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus besar dan feses

masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samar dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes sederhana yang dapat di lakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadangkadang pada epigatrium. 2. Kanker kolon kiri dan rectum Cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses bisa kecil dan berbentuk pita. Baik mucus maupun darah segar sering terihat pada feses. Dapat terjadi anemia karena kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenairadiks saraf, pembuluh limfe atau vena, menimbulkan gejalagejala pada tungkai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat-alat tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkapsetelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah. G. STADIUM KLINIS Tabel : stadium pada ca. Kolon yang di temukan dengan system TMN STADIUM TIS T1 T2 T3 T4 N M TINGKAT PENYEBARAN Carsinoma in situ Belum mengenai otot dinding, polipoid/papiler Sudah mengenai otot dinding Semua lapis dinding terkena, penyebaran ke sekitar Sama dengan T3 dengan fistula Limfonodus terkena Ada metastasis H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1) Endoskopi Pemeriksaan endoskopi perlu di lakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi.

2) Radiologis Pemeriksaan radiologis yang dapat di lakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon ( barium enema). Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum di lakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy. 3) Computer Tomografi (CT) Membantu memperjelas adanya massa dan luas penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis. 4) Histopatologi Biopsy di gunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel. 5) Laboratorium Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan. Nilai hemoglobin dan hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Pasien harus menghindari daging, makanan yang mengandung peroksidase (tanaman lobak dan gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. 6) Ultrasonografi (USG) Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di abdomen dan hati. I. PENATALAKSANAAN MEDIS Bila sudah pasti karsinoma kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai berikut ; a. Pembedahan (operasi) Operasi adalah penanganan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastasis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. b. Penyinaran (Radioterapi) Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar gamma, di fokuskan untuk merusak daerah yang di tumbuhi tumor,

merusak genetik sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak se-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara lain sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung dan usus, sel darah.. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan. c. Kemotherapy Chemotherapy memakai obat anikanker yang kuat, dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau di makan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus. d. Kolostomi Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. Tujuan Pembuatan Kolostomi adalah. Untuk tindakan dekompresi usus pada kasus sumbatan / obstruksi usus. Sebagai anus setelah tindakan operasi yang membuang rektum karena adanya tumor atau penyakit lain. Untuk membuang isi usus besar sebelum dilakukan tindakan operasi berikutnya untuk penyambungan kembali usus (sebagai stoma sementara). Jenis-Jenis Kolostomi. 1. Jenis kolostomi berdasarkan sifatnya: a. Sementara Indikasi untuk kolostomi sementara : 1). Hirschprung disease 2). Luka tusuk atau luka tembak 3). Atresia ani letak tinggi 4). Untuk mempertahankan kelangsungan anastomosis distal usus setelah tindakan operasi (mengistirahatkan usus). 5). Untuk memperbaiki fungsi usus dan kondisi umum sebelum dilakukan tindakan operasi anastomosis. b. Permanen Indikasi untuk kolostomi permanen : Penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak memungkinkan tindakan operasi reseksi-anastomosis usus.

2. Jenis kolostomi berdasarkan letaknya : Colostoy Asendens Colostomy Transversal Colostomi Desendens Lokasi Colon Asendens Colon Colon Desendens Tansversum Konsistensi Cair atau lunak Lunak Padat feses Iritasi kulit Mudah terjadi, Mungkin terjadi Kadang terjadi karena kontak dengan enzim pencernaan karena lembab terus menerus Komplikasi Striktur atau retraksi stoma 3. Jenis kolostomi berdasarkan tekhnik pembuatan : a. Single Barreled Colostomy b. Double Barreled Colostomy c. Loop Colostomy

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a) Pengkajian yang dilakukan pada pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan adalah kebiasaan olahraga pada pasien, kemudian diit rendah serat, selain itu juga perlu dikaji mengenai kebiasaan klien tentang minum kurang dari 1.000 cc/hari minimal. b) Pengkajian mengenai pola nutrisi metabolik pada klien adalah mengenai berat badan klien apakah mengalami obesitas atau tidak. Selain itu juga perlu dikaji apakah klien mengalami anemia atau tidak. Pengkajian mengenai diit rendah serat (kurang makan sayur dan buah) juga penting untuk dikaji. c) Pengkajian pola eliminasi pada klien adalah mengenai kondisi klien apakah sering mengalami konstipasi atau tidak. Keluhan mengenai nyeri waktu defekasi, duduk, dan saat berjalan. Keluhan lain mengenai keluar darah segar dari anus. Tanyakan pula mengenai jumlah dan warna darah yang keluar. Kebiasaan mengejan hebat waktu defekasi, konsistensi feces, ada darah/nanah. d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan pada klien mengenai kurangnya aktivitas dan kurangnya olahraga pada klien. Pekerjaan dengan kondisi banyak duduk atau berdiri, selain itu juga perlu dikaji mengenai kebiasaan mengangkat barang-barang berat. e) Pengkajian pola persepsi kognitif yang perlu dikaji adalah keluhan nyeri pada anus. f) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah apakah klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri atau tidak. g) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap penyakit. Koping yang digunakan dan alternatif pemecahan masalah 2. Diagnosa Keperawatan a. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia misalnya penggunaan obat-obat farmasi, hipoksia, lingkungan terapeutik yang terbatas misalnya stimulus sensori yang berlebihan ; stress fisiologis. b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan tubuh secara oral, pengeluaran integritas pembuluh darah c. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan, trauma muskuloskletal, kehancuran yang terus-menerus (misalnya lokalisasi) d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka pembedahan.

e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual / muntah f. Konstipasi berhubungan dengan penurunan asupan cairan dan serat, kelemahan otot abdomen sekunder akibat mekanisme kanker kolon. g. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis stuasi atau krisis maturasi. 3. Intervensi Keperawatan No Diagnosa Tujuan dari Rencana Rasional keperawatan kriteria hasil Tindakan 1. Perubahan proses Tujuan : Orientasikan R : karena pasien telah piker meningkatkan kembali pasien meningkat kesadarannya, berhubungan tingkat kesadarn. secara terus- maka dukungan dan dengan gangguan Criteria hasil: menerus setelah jaminan akan membantu aktivitas dan pasien mampu keluar dari menghilangkan ansietas. kerja kognitif mengenali pengaruh anastesi (misalnya, pikiran keterbatasan diri ; nyatakan bahwa sadar, orientasi dan mencari operasi telah realita, sumber bantuan selesai dilakukan pemecahan sesuai kebutuhan. masalah, dan Bicara dengan R : tidak dapat di penilaian yang pasien dengan tentukan kapan pasien terjadi pada suara yang jelas akan sadar penuh, namun individu) dan normal tanpa sensori pendengaran membentak, sadar merupakan kemampuan penuh akan apa yang pertama kali akan yang di ucapkan pulih Gunakan R : berikan keamanan bantalan pada tepi bagi pasien selama tahap tempat tidur, darurat, mencegah lakukan terjadinya cedera pada pengikatan jika kepala dan ekstermits diperlukan bila pasien melakukan

perlawanan selama masa disorientasi 2. Kekurangan Tujuan : Ukur dan catat R : dokumentasi yang volume cairan keseimbangan pemasukan dan akurat akan membantu berhubungan cairan tubuh pengeluaran. dalam mengidentifikasi dengan adekuat Tinjau ulang pengeluaran pembatasan Criteria hasil : catatan intra cairan/kebutuhan pemasukan cairan tidak ada tanda- operasi. penggantian dan pilihan tubuh secara oral tanda dehidrasi yang mempengaruhi (tanda-tanda vital intervensi stabil, kualitas denyut nadi baik, Kaji pengeluaran R : mungkin akan terjadi turgor kulit urinarius, penurunan ataupun normal, membrane terutama untuk penghilangan setelah mukosa lembab tipe prosedur prosedur pada sistem dan pengeluaran operasi yang di genitourinarius dan urine yang sesuai) lakukan struktur yang berdekatan mengindikasikan malfungsi ataupun obstruksi sistem Pantau tandatanda vital urinarius R : hipotensi, takikardi, peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer. R : kulit yang dingin/lembab, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan di butuhkan untuk penggantian cairan tumbuhan. 3. Nyeri Tujuan : pasien Evaluasi rasa sakit R : sediakan informasi berhubungan mengatakan bahwa secara reguler, mengenai

dengan insisi rasa nyeri telah catat karakteristik, kebutuhan/efektivitas pembedahan, terkontrol atau lokasi dan intervensi trauma hilang. intensiltas (0-10) musculoskeletal Criteria hasil : pasien tampak Kaji tanda-tanda R : dapat rileks, dapat vital, perhatikan mengindikasikan rasa beristirahat / tidur takikardi, sakit akut dan dan melakukan hipertensi dan keidaknyamanan pergerakan yang peningkatan berarti sesuai pernapasan, toleransi. bahkan jika pasien menyangkal adanya rasa sakit. Berikan R : pahami penyebab iinformasikan ketidaknyamanan, mengenai sifat sedangkan jaminan ketidaknyamanan, emosional sesuai kebutuhan Observasi efek R : respirasi mungkin analgetik menurun pada pemberian narkotik, dan mungkin menimbulkan efek-efek sinergestik dengan zatzat anastesi. 4. Kerusakan Tujuan : mencapai Kaji kulit dan R : mengetahui sejauh integritas kulit penyembuhan luka identifikasi pada mana perkembangan berhubungan pada waktu yang tahap luka mempermudah dengan sesuai. perkembangan dalam melakukan perubahan Criteria hasil : luka tindakan yang tepat. keadaan kulit tidak ada tanda- yang tidak di tanda infeksi Kaji lokasi, R : mengindentifikasi inginkan seperti pus ukuran, warna, tingkat keparahan luka luka bersih bau, serta jumlah akan mempermudah tidak lembab dan dan tipe cairan intervensi.

tidak kotor luka tanda-tanda vital dalam batas Pantau R : suhu tubuh yang normal atau dapat peningkatan suhu meningkat dapat di toleransi. tubuh diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan Jika pemulihan R : agar benda asing atau tidak terjadi jaringan terinfeksi tidak kolaborasi menyebar luas pada area tindakan lanjutan, kulit normal lainnya. misalnya debridement. Setelah R : balutan dapat di ganti debridement, satu atau dua kali sehari ganti balutan tergantung kondisi sesuai dengan parah/tidaknya luka, agar kebutuhan. tidak terjadi infeksi Kolaborasi R : antibiotik berguna pemberian untuk mematikan antibiotik sesuai mikroorganisme patogen indikasi pada daerah yang beresiko terjadi infeksi 5. Perubahan nutrisi Tujuan : klien Kaji sejauh mana R : menganalisa kurang dari mampu ketidakadekuatan penyebab melaksanakan kebutuhan tubuh mempertahankan nutrisi pasien intervensi. berhubungan & meningkatkan dengan mual / intake nutrisi. Timbang berat R : mengawasi muntah Criteria hasil : badan sesuai kefektifan secara diet klien akan indikasi memperlihatkan perilaku Anjurkan makan R : tidak memberi rasa mempertahankan sedikit tapi sering bosan dan pemasukan atau meningkatkan nutrisi dapat di berat badan tingkatkan

dengan nilai Tawarkan minum R : dapat mengurangi laboratorium saat makan bila mual dan menghilangkan normal. toleran gas. Klien mengrti dan mengikuti Kolaborasi R : Menstimulasi nafsu anjuran diet dengan ahli gizi makan dan Tidak ada mual pemberian mempertahankan intake / muntah. makanan yang nutrisi yang adekuat. bervariasi 6. Konstipasi Tujuan : pola kaji warna dan R : penting untuk berhubungan eliminasi dalam konsistensi feses, menilai keefektifan dengan rentang yang di frekuensi, intervensi, dan penurunan harapkan : feses keluarnya flatus, memudahkan rencana frekuensi lembut dan bising usus dan selanjutnya. defekasi yang berbentuk. nyeri tekan normal pada Criteria hasil abdomen R : keadaan ini dapat seseorang di klien akan pantau tanda menjadi penyebab sertai dengan menunjukkan gejala rupture kelemahan otot abdomen kesulitan pengetahuan akan usus. dan penurunan peristaltik keluarnya feses program defekasi usus, yang dapat yang tidak yang di butuhkan menebabkan konstipasi. lengkap atau melaporkan R : mengetahui dengan keluarnya feses keluarnya feses Kaji faktor jelas faktor penyebab yang keras dan dengan penyebab memudahkan pilihan kering berkurangnya konstipasi intervensi yang tepat nyeri dan mengejan 7. Ansietas Tujuan : ansietas Kaji dan R : memudahkan berhubungan berkurang atau dokumentasikan intervensi dengan perasaan terkontrol. tingkat ketidaknyamanan Criteria hasil : kecemasan yang tidak mudah klien mampu pasien. atau dread yang merencanakan di sertai dengan stategi koping Kaji mekanisme R : mempertahankan respons untuk situasi yang koping yang di mekanisme koping autonomis membuat stress. gunakan pasien adaftif, meningkatkan Klien mampu untuk mengatasi kemampuan mengontrol mempertahankan ansietas di masa ansietas

penampilan peran Klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori Klien melaporkan tidak ada manisfestasi kecemasan secara fisik. lalu Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. R : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata. Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

FESES TETAP DIIT SERAT,KONSUMSI PENCAHAR, MINUM KONSTIPASI GAS PECAH KOLOSTOMI KEMBUNG BAB BERCAMPUR RESIKO INFEKSI KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT RESIKO DEFISIT VOLUME

PATHWAY FAKTOR STADIUM I TERAPI KURANG PENGETUHAN DIIT TINGGI LEMAK-ALKOHOLIK- <AKTIVITAS STADIUM II STADIUM III STADIUM IV CEMAS JINAK NEOPLASMA ASCENDEN (DIARE) GANAS KOLONOSKOPI,BEDA H,KHEMOTERAPI RAWAT LUKA, PENKES KHEMOTERAPI DESCENDEN (KONSTIPASI) OBSTRUKSI ALIRAN BALIK KE VENA SIGMOID DAN RECTUM PENUMPUKAN KOMPENSASI DISTENSI PERUT VASODILATASI (FESES LENDIR,DARAH,NYERI BAWAH PINGGUL) MERANGSANG SYARAF NYERI HEMOROID TEKANAN