Pancasakti Science Education Journal

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS AKHIR METODE DISTILASI VAKUM UNTUK PEMBUATAN MINYAK JERUK PURUT DENGAN MENGGUNAKAN AIR SEBAGAI PELARUT. Solvent)

Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana

I. PENDAHULUAN. Bentuk jeruk purut bulat dengan tonjolan-tonjolan, permukaan kulitnya kasar

FORMULASI SEDIAAN BALSEM DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum SanctumLinn) DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI OBAT TRADISIONAL

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BASAH DAN SIMPLISIA KERING DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) Tiara Mega Kusuma, Nurul Uswatun

BAB I PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

Kumpulan Laporan Praktikum Kimia Fisika PERCOBAAN VI

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-234

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium.

FORMULASI SABUN CAIR MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus Hystrix) SEBAGAI ANTIJERAWAT terhadap Propionibacterium Acnes

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini

1. Formula sediaan salep dengan golongan basis salep hidrokarbon atau berlemak

UJI AKTIFITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT TERONG (SOLANUM MELONGENA L.) DAN UJI SIFAT FISIKA KIMIA DALAM SEDIAAN KRIM

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

Jurnal Bahan Alam Terbarukan

Seminar Nasional Inovasi Dan Aplikasi Teknologi Di Industri 2017 ISSN ITN Malang, 4 Pebruari 2017

FORMULASI OBAT JERAWAT GEL MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D.C) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP Propionibacterium acne SECARA IN VITRO

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. diketahui kandungan airnya. Penetapan kadar air dapat dilakukan beberapa cara.

I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH

Penetapan Kadar Sari

I. PENDAHULUAN. diramu sendiri dan memiliki efek samping merugikan yang lebih kecil

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi

TUGAS AKHIR. Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya D3 Farmasi. Oleh : Prakhas Adhitya J.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Hasil Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia

FORMULASI SEDIAAN SABUN MANDI CAIR MINYAK ATSIRI JERUK PURUT (Citrus hystrix DC.) DENGAN KOKAMIDOPROPIL BETAIN SEBAGAI SURFAKTAN SKRIPSI

atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Selain itu, semakin tinggi kadar patchouli alcohol maka semakin tinggi pula indeks bias yang dihasilkan.

SIFAT KIMIA DAN TINGKAT KESUKAAN PERMEN KERAS (Hard Candy) SARI BUAH PALA (Myristica fragrans houtt famili myristicaseae)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) F-39

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang didukung dengan studi pustaka.

Jurnal Bahan Alam Terbarukan

I PENDAHULUAN. mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga pohon ini sering disebut pohon

FORMULASI DAN UJI STABILITAS SIRUP TEPUNG KANJI. Program Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung Semarang 2

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu industri rumah tangga (IRT) tahu di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian Jurusan

Isolasi dan Identifikasi Komponen Kimia Minyak Atsiri dari Daun, Batang dan Bunga Tumbuhan Salembangu (Melissa sp.)

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini

II. METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. alam. Sebagai salah satu negara yang memiliki wilayah pantai terpanjang dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium kimia Analis Kesehatan,

UJI STABILITAS FISIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI PALA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. mengganggu aktivitas seseorang. Menurut Wijayakusuma (2008), bau. (Lundstrom dan Olsson, 2010). Bau yang dihasilkan disebabkan oleh

BAB III METODOLOGI PENGUJIAN. 3.1 Penetapan Kadar Minyak Atsiri dari Biji Pala. Contoh dipotong-potong kecil, dimasukkan ke dalam labu didih.

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di industri rumah tangga terasi sekaligus sebagai

KINERJA DESTILASI RIMPANG JAHE SECARA KOHOBASI DAN DESTILASI UAP-AIR

FORMULASI SEDIAAN KRIM TIPE M/A EKSTRAK BIJI KEDELAI ( Glycine max L) : UJI STABILITAS FISIK DAN EFEK PADA KULIT SKRIPSI

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei hingga Agustus 2015 dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENGARUH TEMPAT TUMBUH DAN LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN MINYAK ATSIRI RAMBU ATAP

APPLICATION OF STAR ANISE

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh : PUJI ASTUTI A

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian. asetat daun pandan wangi dengan variasi gelling agent yaitu karbopol-tea, CMC-

FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYUH (Euphatorium odoratum L.) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA TERBUKA PADA KELINCI SKRIPSI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan dari formula Hair Tonic sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA Isolasi Trimiristin dan Asam Miristat dari Biji Buah Pala Penyabunan Trimiristin Untuk Mendapatkan Asam Miristat

METODE DESTILASI AIR MINYAK ATSIRI PADA HERBA SERAI WANGI (Andropogon nardus Linn.) Indri Kusuma Dewi, Titik Lestari Poltekkes Kemenkes Surakarta

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penentuan rancangan formula krim antinyamuk akar wangi (Vetivera zizanioidesi

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

KARAKTERISTIK MINYAK ATSIRI BUNGA KAMBOJA CENDANA (Plumeria alba) PADA PERLAKUAN LAMA PROSES DISTILASI

TERAPI WEWANGIAN MINYAK ESSENSIAL BUNGA MAWAR (ROSE) DENGAN CARA INHALASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DAN TERHADAP RASA NYERI

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan oleh masyarakat serta bahan-bahannya banyak terdapat di

BAB I PENDAHULUAN. diutamakan. Sedangkan hasil hutan non kayu secara umum kurang begitu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. Alat yang digunakan yaitu pengering kabinet, corong saring, beaker glass,

Minyak Atsiri dari Tanaman Baru cina (Artemisia vulgaris) Sebagai Obat Antibakteri dengan Spektrum Spesifik

Metoda-Metoda Ekstraksi

PEMBUATAN SEDIAAN KRIM ANTIAKNE EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK

BAB II METODE PENELITIAN. A. Kategori Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan di laboratorium Kimia Universitas

Isolation and Characterization of Rice Bran Protein Using NaOH Solution

EFEKTIVITAS LECITHIN SEBAGAI EMULGATOR DALAM SEDIAAN EMULSI MINYAK IKAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Muhammadiyah Malang mulai bulan April 2014 sampai Januari 2015.

Reaksi Dehidrasi: Pembuatan Sikloheksena. Oleh : Kelompok 3

FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata L.) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA BAKAR PADA KELINCI SKRIPSI

SEMINAR SKRIPSI PENGAMBILAN MINYAK ATSIRI DARI KULIT JERUK DENGAN PEMANFAATAN GELOMBANG MIKRO (MICROWAVE)

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Flavor jeruk merupakan flavor yang banyak dipergunakan dalam

Lampiran 1. Gambar 1. Talus Segar Rumput Laut Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfus. Universitas Sumatera Utara

EVALUASI MUTU SALEP DENGAN BAHAN AKTIF TEMUGIRING, KENCUR DAN KUNYIT

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu bagian tanaman pepaya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan

FORMULASI LOTION EKSTRAK BUAH RASPBERRY(Rubus rosifolius) DENGAN VARIASI KONSENTRASI TRIETANOLAMIN SEBAGAI EMULGATOR SERTA UJI HEDONIK TERHADAP LOTION

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMANFAATAN MINYAK KEDELAI SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN LILIN AROMA TERAPI MENGGUNAKAN PRESS BERULIR DENGAN OPTIMALISASI SUHU

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya adalah dengan menggunakan obat kumur antiseptik. Tujuan berkumur

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. identitas tanaman tersebut, apakah tanaman tersebut benar-benar tanaman yang

I. PENDAHULUAN. maupun tujuan lain atau yang dikenal dengan istilah back to nature. Bahan

I. PENDAHULUAN. Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris (Essential oil volatile) yang

BAB I PENDAHULUAN. terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Alat-alat gelas, Neraca Analitik (Adam AFA-210 LC), Viskometer

Lampiran 1. Surat keterangan hasil identifikasi tumbuhan jahe merah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Tanaman ini termasuk jenis tumbuhan dari

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai uji klinis dan di pergunakan untuk pengobatan yang berdasarkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

Transkripsi:

PSEJ 1 (1) (2016) 7-11 Pancasakti Science Education Journal http://e-journal.ups.ac.id/index.php/psej email: adminpsej@upstegal.ac.id FORMULASI MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D.C.) SEBAGAI SEDIAAN AROMATERAPI Heru Nurcahyo Politeknik Harapan Bersama Tegal, Jawa Tengah, Indonesia Info Artikel SejarahArtikel: DiterimaJuli 2016 DisetujuiAgustus 2016 DipublikasikanOktober 2016 Kata Kunci: Minyak atsiri, daun jeruk purut, Citrus hystrix, aromaterapi Keywords: Essential oils, kaffir lime leaves, Citrus hystrix, Aromatherapy Abstrak Minyak atsiri jeruk purut sangat bermanfaat selain sebagai rasa pada makanan juga bisa dimanfaatkan sebagai sediaan aromaterapi yang sangat bermanfaat sebagai pengembangan produk terapy non farmakologi. Penelitian ini dilakukan dengan membuat tiga formula secara eksperimen laboratorium dengan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) yang berbeda yaitu 1%, 2%, 3% yang selanjutnya dilakukan diuji sifat fisika untuk mengetahui konsentrasi yang paling baik yang digunakan untuk sediaan aromaterapi. Uji sifat fisika meliputi uji organoleptis, uji ph, uji homogenitas, dan kesukaan. Berdasarkan penelitian tentang uji fisika bahwa semua formula menunjukkan hasil yang baik yang selanjutnya dilakukan uji kesukaan dengan responden sejumlah 50 orang untuk mencoba masing-masing formula dan didapatkan kesimpulan bahwa Formula III dengan konsentrasi 3% mendapatkan respon peserta sejumlah 50%. Abstract Essential oils of lime, in addition are very beneficial for the lime flavor to food, it can be used as an aromatherapy preparations that are very useful as non-pharmacological teraphy product development. This research was carried out by making three formulas in laboratory experiments with different concentrations of essential oil of lime leaves (Citrus hystrix DC) 1%, 2%, 3%, which is then performed tested physical properties to determine the concentration of the most well used for the preparation of aromatherapy. Test physical properties include organoleptic test, ph test, homogeneity, and preferences. Based on research on the physics test that all the formulas show good results and further test respondents' favrite with a number of 50 people to try out each formula and it is concluded that the Formula III with a concentration of 3% get a 50% participant response. 2016UniversitasPancasaktiTegal Alamat korespondensi: D3 Farmasi Politeknik Harapan Bersama Jl. Mataram No 9 Kota Tegal 52142, Indonesia Telp. (0283) 352000 E-mail: herunurcahyo7770@gmail.com ISSN 2528-6714 7

Heru Nurcahyo / PSEJ 1 (1) (2016) 7-11 PENDAHULUAN Indonesia telah dikenal akan kekayaan alamnya yang luar biasa. Pengobatan herba adalah ramuan turun-temurun dari leluhurnya agar dipertahankan dan dikembangkan. Bahanbahan herba sendiri diambil dari tumbuhtumbuhan yang ada di Indonesia baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu. Hampir semua bahan alami yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pengobatan herbal selain itu banyak obat dan pengobatan tradisional juga dengan memanfaatkan minyak atsiri. Pada mulanya istilah minyak atsiri adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri dari campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik didih yang berbeda-beda. Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diuapkan (Suryaningrum, 2009). Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri sebagai pemberi aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat ditentukan oleh kualitas minyak dan kadar komponen utamanya. Minyak atsiri yang berasal dari daun jeruk purut disebut combava petitgrain(dalam bahasa afrika) yang banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan. Minyak daun jeruk purut dalam perdagangan internasional disebut kaffir lime oil. Minyak atisiri ini banyak diproduksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Harga kaffir lime oilasal Indonesia yaitu sebesar USD 65,00-75,00 per kilogram (Feryanto, 2007). Aromaterapi merupakan istilah modern yang dipakai untuk proses penyembuhan kuno yang menggunakan sari tumbuhan aromatik murni. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan tubuh, pikiran dan jiwa. Sari tumbuhan aromaterapi yang dipakai melalui berbagai cara pengolahan dan di kenal dengan minyak essensial atau minyak atsiri. Banyak faedah minyak atsiri sehingga menjadi terkenal. Menurut Koensoemardiyah Apt, SU ahli aromaterapi, senyawa pada minyak atsiri itu masuk kedalam tubuh dan mempengaruhi sistem limbik alias pengatur emosi. Molekul-molekul senyawa minyak atsiri sangat halus dan berukuran kecil atau nano patikel. Ketika aroma minyak atsiri tercium oleh hidung, molekul itu akan berikatan dengan reseptor-reseptor penangkap aroma yang terdapat dalam hidung. Selanjutnya senyawa itu akan mengirim sinyalsinyal kimiawi melalui jalur syaraf ke sistem limbik di otak. Sistem itulah yang mengatur keadaan emosi seseorang. Dengan membangkitkan semangat, tubuh terdorong untuk menyembuhkan diri sendiri. Salah satu tanaman yang digunakan sebagai aromaterapi adalah daun jeruk purut (Koensoemardiyah, 2009). Tujuan penelitian ini sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui rendemen minyak atsiri daun jeruk purut dengan metode ekstraksi destilasi air. 2. Untuk mengetahu hasil uji fisika formulasi aromaterapi dengan minyak atsiri daun jeruk purut 3. Untuk mengetahui hasil uji kesukaan dari formulasi aromaterapi dengan minyak atsiri daun jeruk purut METODE Peneliti menggunakan metode eksperimen dengan melakukan penyulingan minyak atsiri daun jeruk purut menggunakan metode destilasi air. Daun jeruk purut yang didestilasi sebanyak 400gram dan pelarut yang digunakan adalah aquades 750ml. Dari hasil minyak atsiri yang diperoleh dilakukan uji identifikasi minyak atsiri dan uji organoleptis pada minyak atsiri dan dibuat sediaan aromaterapi. Aromaterapi dibuat dengan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut sebanyak 1%, 2%, 3%. Dan sediaan aromaterapi dilakukan uji 8

ph, uji homogenitas, uji Organoleptis dan dilakukan uji kuisioner kepada 40 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Serangkaian destilasi air dengan kapasitas 1000 ml di susun sesuai dengan bagiannya, selanjunya dilakukan sortasi basah terhadap sampel daun jeruk purut yang selanjutnya dilakukan pencucian dengan air mengalir sebanyak 3 kali pengulangan agar kotoran dapat terpisahkan dengan baik, dan dilanjutkan dengan pemilihan daun yang sesuai untuk dilakukan penyulingan agar didapatkan mutu minyak atsiri yang baik. Proses destilasi dilakukan selama kurang lebih 3jam. Prinsip metode ini adalah merebus bahan dengan api langsung, kemudian uapnya didinginkan kembali oleh kondensor dan menjadi tetesan air dan minyak melalui pipa alonga. Destilat yang di dapat dilakukan pemisahan dengan corong pisah dengan penambahan Na 2 SO 4 yang bertujuan sebagai pengikat air, sehingga kandungan air dan minyak yang terdapat dalam destilat terpisah. Pada destilat akan tampak dua lapisan cairan yang mana bagian bawah merupakan fase air dan bagian atas merupakan fase minyak atau minyak atsiri dari daun jeruk purut. Hal ini dikarenakan bobot jenis minyak atsiri umumnya lebih rendah jika dibandingkan dengan bobot jenis aquadest. Hasil minyak atsiri daun jeruk purut yang diperoleh sebanyak 3 gram. Kemudian dilakukan uji organoleptis meliputi bentuk, warna, bau, rasa. Hasil uji organoleptis yaitu pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil uji organoleptis minyak atsiri daun jeruk purut Organoleptis Minyak atsiri Hasil Bentuk Cairan jernih + Warna Kuning muda + Rasa Hangat dikulit + Bau Khas jeruk + Heru Nurcahyo / PSEJ 1 (1) (2016) 7-11 Keterangan : (+) menunjukkan bahwa minyak atsiri daun jeruk purut tersebut sama dengan pustakanya. Selanjutnya hasil minyak atsiri daun jeruk purut dilakukan identifikasi dengan menggunakan pereaksi sudan III yang tertera pada Tabel 2. Tabel 2 Hasil Uji Identifikasi Minyak Atsiri Uji Hasil Hasil Sampel minyak atsiri + 1 tetes sudan III Merah + positif minyak atsiri Keterangan : (+) menunjukkan bahwa minyak atsiri tersebut sama dengan pustakanya. Dari tabel hasil uji identifikasi minyak atsiri didapatkan bahwa secara organoleptis dan reaksi identifikasi menggunakan pereaksi sudan III menunjukkan bahwa minyak atsiri hasil isolasi yang digunakan benar-benar minyak atsiri. Minyak atsiri yang dihasilkan selanjutnya dibuat formulasi dengan bahan tambahan lain dengan berdasarkan pustaka dan literatur dengan hasil berikut fomulasi aromaterapi sebagai berikut ini : Tabel 3 Formulasi aromaterapi Nama Formula Formula Formula bahan Minyak atsiri daun jeruk purut I II III 1% 2% 3% Menth 10% 10% 10% ol Camphora 4% 4% 4% Olive oil Ad 10ml Ad 10ml Ad 10ml Setelah ditentukan formula aromaterapi selanjutnya dibuat sediaan dan hasil sediaan tersebut dimasukkan dalam wadah tertutup dan dilakukan uji evaluasi fisika. Selanjutnya dilakukan uji evaluasi sediaan aromaterapi. Uji yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji ph, dan uji kesukaan dengan kuisioner. 9

Pada uji organoleptis diperoleh aromaterapi dengan formula I dan formula II menghasilkan rasa hangat saja dikulit hal ini disebabkan karena minyak atsiri daun jeruk purut yang digunakan terlalu sedikit. Pada aromaterapi dengan formula III menghasilkan rasa aromaterapi yang sangat hangat dikulit, karena minyak atsiri daun jeruk purut yang digunakan konsentrasinya lebih tinggi. Semua aromaterapi memiliki warna hijau kekuningan, bau khas jeruk purut, dan berbentuk cair. Berdasarkan uji homogenitas menunjukan bahwa semua formula mempunyai susunan yang homogen. Hal ini menunjukan bahwa adanya pencampuran tiap bahan pada masing-masing formula telah tercampur baik sehingga aromaterapi terlihat homogen dan memiliki tekstur yang tidak kasar. Berdasarkan hasil pengukuran ph menunjukan bahwa pada masing-masing formula masih dalam standar ph sediaan topikal. Uji ph Tabel 4 Hasil Uji ph Heru Nurcahyo / PSEJ 1 (1) (2016) 7-11 Hasil Formula 1 6 Formula 2 6 Formula 3 6 ph yang diperoleh pada formula I, II, III yaitu 6, Hal ini menunjukan sediaan aromaterapi semua formula dalam penelitian ini sesuai dengan persyaratan ph untuk sediaan topikal yaitu berkisar antara 4,5-6,5 (Dewi dkk, 2014). Uji kesukaan kuisioner bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan dengan melakukan kuisioner terhadap 50 orang dengan mencoba mengoleskan sediaan aromaterapi dan mengamati rasa dikulit dengan formula yang berbeda-beda. Setelah melakukan uji percobaan hasil produk aromaterapi pada responden yang dilaksanakan secara wawancara langsung didapatkan hasil 50 responden tersebut menghasilkan pilihan sebagai berikut : 1. Formula 1 sejumlah 9 responden 2. Formula 2 sejumlah 10 responden 3. Formula 3 sejumlah 25 responden 4. 6 responden tidak menentukan pilihan Tingkat kesukaan dilihat dari jumalh responden dibagi dengan jumlah total sampel yang selanjutkan dibuat prosentase pada masingmasing formula sediaan menghasilkan data pada Tabel 5. Tabel 5 Uji kesukaan Formula Formula Formula 3 1 2 18 % 20 % 50 % Pada formula I diperoleh nilai rata-rata kesukaan 18 %, pada formula II yaitu 20% dan pada formula III yaitu 50 %. Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa tingkat kesukaan tertinggi pada formula III dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu 45 % artinya sediaan pada formula III paling baik dan banyak disukai dari pada formula I dan formula II. Penelitian tersebut hasilnya sama dengan penelitian Anggraini (2016) bahwa konsentrasi minyak atsiri sebesar 3% menjadi pilihan tertinggi responden dengan nilai kisaran 30%. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya minyak atsiri pada daun jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) dengan hasil destilasi sebesar 3 gram dengan prosentase hasil sebesar 0,4 %, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai sediaan aromaterapi. Hasil uji kesukaan pada sediaan aromaterapi yaitu pada konsentrasi 3% sejumlah 50% responden. DAFTAR PUSTAKA Anggraini, G, Pemanfaatan,inyak atsiri daun mint (Mintha piperitae L., sebagai sediaan aromaterapi, KTI, Politeknik Harapan Bersama Tegal, 2016 Anonimous. 2009. Minyak Atsiri Trubus Info Kit, PT Trubus Swadaya, Jakarta Backer, A., and Van Den Brink, B., 1968, Flora of Java (Spermatophytes only), Vol I, 79-80, Marcell Dekker Inc, New York Dewi, R., Anwar, E., Yunita, K., 2014, Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang Mengandung Ekstrak Kacang Kedelai 10

Heru Nurcahyo / PSEJ 1 (1) (2016) 7-11 (Glycine max), Pharm Sci Res ISSN 2407-2354, December 2014 (Vol. 1 No. 3), diakses tanggal 9 agustus 2016 Koensoemardiyah, 2009. Aromaterapi Untuk Kesehatan, Kebugaran dan Kecantiakan. Edisi I. Yogyakarta: Lily Publisher Munawaroh, S. & handayani, PA, 2010, Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Negeri Semarang, Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 2, No.1, Novemberi 2010, diakses tanggal 8 Agustus 2016 Suryaningrum, S. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Buah Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Surakarta. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/5186/1/k 100050195.pdf. diakses tanggal 9 agustus 2016. 11