PENDAHULUAN Latar Belakang Perubahan paradigma pengembangan wilayah dari era comparative advantage ke competitive advantage, menjadi suatu fenomena baru dalam perencanaan wilayah saat ini. Di era kompetitif, pembangunan ekonomi wilayah yang hanya mengejar pertumbuhan tinggi dengan mengandalkan keunggulan wilayah berupa kekayaan alam berlimpah, upah buruh murah dan posisi strategis, sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Michael E. Porter dalam bukunya The Competitive Advantage Nation (1990) menggambarkan bahwa faktor keunggulan komparatif telah dikalahkan oleh kemajuan teknologi (Alkadri et al., 2001). Lahirnya undang-undang otonomi daerah saat ini menjadikan persaingan antar wilayah semakin meningkat. Daerah-daerah yang miskin dengan sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan teknologi (tiga pilar pengembangan wilayah) berusaha keras melaksanakan berbagai strategi untuk meningkatkan daya saingnya (Alkadri et al., 2001). Ida dalam Saragih (2003) mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga esensi dari otonomi daerah. Pertama, pengelolaan kekuasaan berpusat pada tingkat lokal yang berbasis pada rakyat. Kedua, dimensi ekonomi artinya dengan otonomi daerah, maka daerah-daerah diharapkan mampu menggali dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi yang ada di wilayahnya. Adanya kemampuan daerah untuk membiayai dirinya sendiri paling tidak memperkecil ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Ketiga dimensi budaya, artinya dengan otonomi daerah masyarakat lokal harus diberikan kebebasan untuk berekspresi dalam mengembangkan kebudayaan lokal. Di sinilah pentingnya memikirkan kembali strategi pembangunan secara mendasar, yakni pada upaya membangun ekonomi berbasis komunitas lokal. Salah satu daya saing wilayah yang sarat dengan muatan lokal dan dapat berkompetisi di era keterbukaan saat ini adalah sektor pariwisata. Dalam skala nasional, peningkatan peran sektor pariwisata semakin membuka peluang dalam pembangunan di Indonesia saat ini, baik secara ekonomi maupun sosial budaya.
Sektor pariwisata memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada pendapatan devisa negara, selain tentunya juga terhadap peningkatan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Pada era otonomi saat ini sektor pariwisata juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian lokal maupun regional. Potensi wisata yang cukup besar pada suatu daerah otonom masih memungkinkan bagi peningkatan pendapatan/penerimaan daerah dari sektor pariwisata. Meskipun demikian, sektor pariwisata sangat rentan terhadap faktor-faktor lingkungan alam, keamanan dan aspek aspek global lainnya. Permasalahan yang juga merupakan subyek utama dalam pembangunan kepariwisataan adalah mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pariwisata. Sumberdaya pariwisata ini selain dalam bentuk masalah kelangkaan, juga dalam konteks pemanfaatan yang sesuai dengan peruntukan dan kepemilikan. Pembangunan pariwisata yang harus tetap memperhatikan faktor lingkungan ini sejalan dengan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism development). Dalam sustainable tourism development, pembangunan pariwisata diharapkan dapat mengurangi kerusakan lingkungan akibat kegiatan ekonomi lain seperti industrialisasi dan pertambangan (Holden, 2000). Oleh karena itu pengelolaan pembangunan pariwisata memiliki keterkaitan dengan sektor lain yang menyangkut banyak stakeholder seperti swasta, pemerintah dan masyarakat, baik sebagai wisatawan maupun penduduk asli. Pengembangan pariwisata di suatu daerah juga dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan wilayah seperti peningkatan perekonomian wilayah. Menurut Frechtling dalam Gunn (1988) dampak positif dari pariwisata akan memperkuat perekonomian wilayah melalui peningkatan pendapatan orang-orang yang berada di sekitar daerah pariwisata karena adanya aktifitas wisata. Adanya peningkatan pendapatan penduduk di suatu wilayah dapat memberikan indikasi yang baik bagi pengembangan wilayah secara keseluruhan. Walaupun demikian kegiatan pariwisata juga dapat memberikan dampak negatif bagi perekonomian maupun sosial pada masyarakat di daerah wisata.
Perubahan dari masyarakat dengan latar belakang ekonomi pertanian menjadi tenaga kerja di sektor pariwisata menyebabkan terjadinya beberapa hal sebagai berikut (Gunn, 1988) : 1. Tenaga kerja yang terserap oleh investasi sektor pariwisata lebih rendah 23 % dari tenaga kerja yang terserap dalam investasi di sektor pertanian; 2. Walaupun rata-rata pendapatan keluarga meningkat tetapi sebenarnya pendapatan setiap tenaga kerja menurun. 3. Pariwisata memerlukan lebih banyak tenaga kerja per keluarga untuk menghasilkan pendapatan yang sama besarnya dengan pendapatan dari sektor pertanian. 4. Sektor pariwisata memerlukan lebih sedikit tenaga trampil dibandingkan sektor pertanian. 5. Walaupun memberikan peluang bagi tenaga kerja yang beralih dari pertanian ke pariwisata tetapi membutuhkan tambahan biaya untuk perumahan, transportasi dan rekreasi. 6. Pariwisata memerlukan investasi yang lebih besar untuk infrastruktur jika dibandingkan dengan industrialisasi pertanian. 7. Jika tenaga kerja non pertanian dan non pedesaan tertarik bekerja sebagai tenaga pariwisata di pedesaan tidak akan memberikan pendapatan yang terusmenerus bagi buruh migran tersebut. Kegiatan pengembangan pariwisata juga akan berdampak negatif pada keadaan sosial masyarakat yang menimbulkan permasalahan sosial seperti obatobatan terlarang, homoseksual, nudis, dan anak-anak muda yang meniru budaya wisatawan asing yang tidak sesuai dengan status sosial ekonomi mereka (Gunn, 1988). Oleh karena itu pengembangan kegiatan pariwisata harus benar-benar dilakukan sesuai dengan potensi yang ada di wilayah tersebut, baik dari segi fisik, maupun sosial ekonomi sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif bagi pengembangan wilayah. Dalam era otonomi daerah saat ini, pengelolaan pariwisata yang tidak tepat akan menyebabkan konflik dan tumpang tindih kepentingan antar stakeholders. Provinsi Banten yang ditetapkan dengan UU No. 23 Tahun 2000 sebagai provinsi baru, memiliki potensi pariwisata yang sangat potensial untuk
dikembangkan dan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Provinsi Banten secara keseluruhan. Posisi Provinsi Banten yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara memberikan keuntungan terhadap perkembangan perekonomian wilayah, sehingga peluang ini perlu dimanfaatkan dengan maksimal terutama melalui upaya peningkatan promosi dan aksesibilitas ke lokasi-lokasi wisata yang berada tidak jauh dari DKI Jakarta ini. Dari sisi lain keuntungan lokasi ini juga didukung dengan letaknya yang berada di ujung barat Pulau Jawa dan menjadi penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera serta memiliki akses langsung ke Samudera Indonesia. Dengan lokasinya yang sangat strategis tersebut dan sebagai pintu gerbang pergerakan barang dan jasa antar pulau yang sangat potensial, maka peluang ini perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan sektor pariwisata di Provinsi Banten. Kondisi tersebut juga ditunjukkan dengan tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan sebesar 11 % tahun 2002 dan 13,23 % tahun 2003 untuk wisatawan nusantara. Sementara itu pada tahun yang sama, walaupun menunjukkan penurunan, jumlah wisatawan mancanegara memiliki prosentase yang lebih tinggi dibanding dengan wisatawan nusantara yaitu sebesar 26, 83 % pada tahun 2002 dan 24,04 % pada tahun 2003 (RIPP Provinsi Banten, 2004). Dalam upaya mengembangkan sektor pariwisatanya secara maksimal, Provinsi Banten menerbitkan Perda No. 9 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) yang mengelompokkan daerah wisatanya menjadi beberapa kawasan wisata. Di Provinsi Banten, kawasan wisata yang menjadi primadona adalah kawasan wisata pantai, yang salah satunya berada di sepanjang koridor Cilegon-Pandeglang. Pengembangan pariwisata di sepanjang koridor Cilegon-Pandeglang sebenarnya telah dilakukan ketika Banten masih merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Meskipun demikian pada kenyataannya kegiatan pariwisata yang ada saat ini di wilayah tersebut masih belum memperlihatkan perkembangan yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sejalan dengan pembentukan Banten sebagai provinsi baru. Melihat kenyataan tersebut dan perkembangan kegiatan pariwisata yang semakin berkembang di era pasar bebas saat ini Provinsi Banten sudah seharusnya
melakukan terobosan untuk mencari dan menggali potensi pariwisata untuk mendukung pembangunan wilayahnya. Potensi pariwisata yang ada di sepanjang koridor Cilegon-Pandeglang ini meliputi kegiatan pariwisata yang berbasis pantai/laut dengan dukungan kesenian daerah seperti debus, gendreh, pencak silat, dan lain-lain yang berkembang karena adanya budaya keagamaan yaitu agama Islam. Beraneka ragamnya kegiatan pariwisata di sepanjang koridor Cilegon- Pandeglang ini belum terpetakan dengan baik, sehingga dibutuhkan pengembangan dan perencanaan yang komprehensif agar dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan wilayah Provinsi Banten. Pemetaaan potensi kawasan wisata yang baik dan informatif dapat memberikan masukan positif untuk mengetahui prospek pengembangan pariwisata di Provinsi Banten yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi masyarakat Banten secara keseluruhan. Perumusan Masalah Koridor Cilegon-Pandeglang dalam RIPP Provinsi Banten Tahun 2005 terdiri dari 3 kawasan wisata, yaitu Kawasan Wisata Pantai Barat Serang- Cilegon, Kawasan Wisata Pantai Barat Pandeglang dan Kawasan Wisata Pantai Sumur. Semua lokasi wisata yang ada sangat mengandalkan potensi pantai/laut yang memang berada di sepanjang koridor tersebut. Oleh karena itu pemanfaatan lahan-lahan di sepanjang pantai menjadi sangat penting dalam mengembangkan kegiatan pariwisata yang ada, dengan dukungan kondisi fisik kawasan serta asset wisata lain seperti budaya asli yang dapat dipromosikan. Hal ini menyebabkan eksploitasi terhadap sumberdaya fisik menjadi sangat berlebihan misalnya dengan pembangunan hotel-hotel yang jaraknya kurang dari 75 meter dari bibir pantai dan menutup akses masyarakat yang bukan pengunjung hotel. Kondisi demikian telah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama pada saat Banten masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat karena adanya pemberian HGU (Hak Guna Usaha) yang mencapai waktu 90 tahun untuk pengembang pariwisata dan lemahnya pengawasan oleh pemerintah di wilayah tersebut.
Di sisi lain pembangunan yang saat ini dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Banten, masih belum menemui bentuk dan arah yang jelas dalam upaya pengembangan pariwisata dalam mendukung pembangunan wilayah. Adanya RIPP masih merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata belum dapat dijalankan karena tidak adanya dukungan langsung baik dari pemerintah sendiri maupun dari masyarakat yang ada di sekitar kawasan wisata. Keterbatasan sumberdaya manusia yang ada saat ini menjadi salah satu kendala mengapa asset pariwisata Banten yang cukup banyak tidak termanfaatkan secara optimal. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka permasalahan yang timbul dalam pengembangan kawasan wisata yang ada di sepanjang koridor Cilegon- Pandeglang diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana memetakan setiap kawasan wisata dengan baik dan informatif sehingga memiliki keterkaitan dan orientasi antar satu dengan lainnya. 2. Bagaimana prospek pengembangan setiap kawasan wisata berdasarkan sumberdaya yang dimilikinya. Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan permasalahan dalam prospek pengembangan kawasan wisata di sepanjang koridor Cilegon-Pandeglang, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Memetakan kawasan wisata dengan masing-masing keunggulannya sehingga memiliki orientasi dan keterkaitan satu dengan lainnya. 2. Mengetahui prospek pengembangan masing-masing kawasan wisata berdasarkan sumberdaya yang dimilikinya dilihat dari faktor internal, eksternal dan kompetitif kawasan. Manfaat Penelitian Sebagai sebuah tesis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Bagi Pemerintah Provinsi Banten dapat menjadi masukan dalam mengkaji potensi dan prospek pengembangan pariwisata yang ada di wilayahnya,
terutama di sepanjang koridor Cilegon-Pandeglang serta dapat menjadi model pengembangan wisata di lokasi lain. 2. Bagi pihak swasta/masyarakat dapat menjadi masukan dan peluang untuk melakukan investasi di bidang pariwisata dalam rangka mendorong pembangunan wilayah Provinsi Banten serta menjadi salah satu pertimbangan bagi penggalian potensi wisata di masa datang. 3. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat menambah perbendaharaan kajian terhadap pengembangan pariwisata, terutama dalam era otonomi yang memungkinkan daerah mengelola sendiri sumberdayanya untuk pembangunan daerah.