30 VI. LINGKUP PEKERJAAN PENGAWASAN 6.1. Pekerjaan Pendahuluan Pekerjaan pendahuluan merupakan pekerjaan yang dilakukan sebelum dilaksanakannya pekerjaan di lapangan. Jenis pekerjaan pendahuluan mencakup sejumlah pemeriksaan terhadap : 1) aspek legal kontrak, 2) pemahaman terhadap rencana dan prosedur kerja, serta 3) pemeriksaan (review) disain lanskap yang digunakan pada lanskap jalan tol ruas CTC. 6.1.1. Pemeriksaaan Aspek Legal Kontrak Aspek legal kontrak berkaitan dengan hukum dan peraturan yang mengatur tentang kontrak jasa pemborongan dan merupakan kelengkapan administratif yang dibutuhkan, baik oleh kontraktor maupun konsultan pengawas sebagai dasar landasan hukum untuk melaksanakan semua kegiatan pekerjaan. Kegiatan pertama yang dilaksanakan oleh konsultan pengawas adalah pemeriksaaan terhadap lembar data proyek, pemeriksaan tersebut penting dilakukan untuk memeriksa ada atau tidaknya cacat hukum dalam ketentuan kontrak kerja. Lembaran data proyek yang terdapat dalam pekerjaan penataan lanskap jalan tol ruas CTC terangkum di dalam Tabel 7. Tabel 7. Rangkuman lembar data proyek penataan lanskap jalan tol ruas CTC Nama Proyek : Pengawasan Teknik Pekerjaan Penataan Lanskap pada Jalan Tol Cawang Tomang Cengkareng Tujuan Proyek : Melaksanakan penataan lanskap pada jalan tol Cawang - Tomang Cengkareng dan meningkatkan kualitas visual bagi kenyaman pengguna jalan tol. Pemilik Proyek : PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Cabang Cawang Tomang Cengkareng Kepala Cabang : Ir. David Wijayatno Konsultan Perencana : PT Beutari Nusakreasi Konsultan Pengawas : PT Beutari Nusakreasi Kontraktor : PT Sinar Kemala Total Nilai Pekerjaan : Rp. 989.996.000,- (termasuk PPN 10%) Sumber Dana : Semua dibiayai terlebih dulu oleh Kontraktor (CPF) Kontrak Dimulai : Tanggal 05 November 2007 Masa Penanaman : 75 hari Kalender Masa Perawatan : 90 hari Kalender
31 Masa Pemeliharaan : 90 hari Kalender Cakupan Proyek : Pekerjaan Penataan Lanskap pada Median dan Damija, Ruas Jagorawi, Ruas Cengkareng dan Revitalisasi Nurseri Cipinang Ruang Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan Softscape, didominasi oleh pekerjaan penanaman Lanskap pohon, palm, perdu, semak dan rumput, sedangkan pekerjaan hardscape meliputi pemasangan instalasi pot serta revitalisasi nurseri Cipinang Sumber : dokumen kontrak pelaksanaan kerja (kontraktor) dan konsultan pengawas Lembar data tersebut di atas kemudian dilengkapi dengan surat keputusan yang diterbitkan oleh pemberi tugas yang menegaskan keabsahan administratif masing-masing pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam pelaksanaannya, kontraktor diatur oleh peraturan dan ketentuan sebagaimana yang berlaku di dalam kontrak kerja berdasar kepada surat keputusan yang dikeluarkan oleh pihak pemberi kerja yang tercantum pada Tabel 8. Tabel 8. Aspek legal kontrak pelaksana kerja (kontraktor) No ASPEK LEGAL NOMOR TANGGAL 1 Persetujuan dan Penetapan Pemenang FE.06.PM.01.1955 23 Oktober 2007 Pelelangan Terbatas 2 Pengumuman Pemenang Pelelangan Terbatas FE.06.4.PTPL.22 24 Oktober 207 3 Pemberian Pelaksanaan Pekerjaan (Gunning) FE.06.PM.01.1986 31 Oktober 2007 4 KJP 05 November FE.06.SPK.134 (Kontrak Jasa Pemborongan) 2007 5 Berita Acara Serah Terima Lahan 020/BAST/FE.06/2007 06 November 2007 6 SPMK 07 November FE.06.PM.01.2108 (Surat Perintah Mulai Kerja} 2007 7 Jaminan Pelaksanaan oleh Kontraktor 288/KC19/PM/SJPP/KASK/2007 12 Agustus 2008 Jaminan : 02 November 02 November 2007 sd. 2007 Asuransi Tenaga Kerja 8 (Jamsostek) - - 9 C A R S - - Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, didapatkan bahwa kontraktor belum melengkapi kelengkapan yang diperlukan secara sempurna. Kontraktor
32 belum menyerahkan bukti keikutsertaannya dalam program asuransi perlindungan tenaga kerja (Jamsostek), yang penting untuk menjamin perlindungan dan keselamatan pekerja selama masa konstruksi di lapangan. Sedangkan CAR S (Contractor All RiskS) merupakan salah satu bentuk asuransi yang melimpahkan segala bentuk klaim dari pihak ketiga disaat terjadi kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol lokasi pekerjaan lanskap yang disebabkan oleh adanya kelalaian kontraktor atau kecelakaan lain yang disebabkan oleh adanya kegiatan dari proyek tersebut. Konsultan pengawas kemudian menginformasikan kekurangan tersebut kepada pihak pemberi kerja maupun kepada kontraktor melalui pernyataan tidak resmi pada rapat pendahuluan (Pre-Construction Meeting - PCM) yang dilaksanakan tanggal 8 November 2007, hal tersebut kemudian dipertegas dengan dikeluarkannya surat resmi 001/CTC-BNK/XI/2007 yang ditujukan kepada kontraktor menyangkut hal tersebut. Dalam pelaksanaannya, kontraktor baru dapat memenuhi persyaratan keikutsertaan dalam program asuransi tenaga kerja pada terakhir dengan menyerahkan bukti secara langsung kepada pihak pemberi kerja. Sedangkan aspek legal kontrak yang berkenaan dengan keabsahan administratif konsultan pengawas dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Aspek legal kontrak konsultan pengawas No ASPEK LEGAL NOMOR TANGGAL 1 Berita Acara Pembuktian Kualifikasi Seleksi Langsung Pekerjaan Jasa FE.06.4.PLPL.14 19 September 2007 Konsultasi Penataan Lanskap 2 Pengumuman Pemenang Pelelangan Terbatas FE.06.4.PLPL 21 September 2007 3 Persetujuan Pemenang Seleksi Langsung FE,06.PM.01.1833 20 September 2007 4 Pemberian Pelaksanaan Pekerjaan (Gunning) FE.06.PM.01.1823 26 September 2007 5 Surat Penetapan Hasil Negoisasi FE.06.PPHm.082.1.1 20 September 2007 6 Berita Acara Hasil Evaluasi FE.06.4.PLPL.13 18 September 2007 7 Penawaran Pihak Kedua beserta Lampiran-Lampirannya 749 / BNK - / IX / 2007 17 September 2007 8 Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) FE.06.PM.01.1900 3 oktober 2007 Sumber : dokumen kontrak konsultan pengawas
33 Berdasarkan ketentuan dalam dokumen kontrak konsultan pengawas, pekerjaan pengawasan yang dilaksanakan oleh konsultan pengawas secara resmi dimulai pada tanggal 3 Oktober 2007 dengan diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Jangka waktu yang tersedia sebelum dikeluarkannya SPMK bagi kontraktor dimanfaatkan untuk memahami rencana dan prosedur kerja yang diajukan dan melakukan pemeriksaan terhadap gambar rencana dan gambar kerja yang digunakan. 6.1.2. Pemahaman Rencana Proyek dan Alur Kerja Pengawasan Rencana proyek merupakan dokumen inti dari manajemen pelaksanaan pekerjaan (Westland 2006). Pemahaman tim konsultan pengawas terhadap rencana proyek dan prosedur kerja yang digunakan merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui rencana dan tindakan kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan waktu dan mutu pekerjaan yang telah ditetapkan. Untuk memudahkan pemahaman terhadap rencana proyek, dilakukan pembagian lingkup pekerjaan kedalam rangkaian hirarki tahapan pekerjaan, aktifitas dan tugas yang harus dilaksanakan untuk dapat menjalankan pekerjaan dengan baik. Istilah ini lebih dikenal dengan Work Breakdown Structure (WBS). WBS adalah pembagian rangkaian pekerjaan ke dalam bentuk pohon hierarki yang berorientasi pada hasil akhir (induk cabang). Aplikasi dari metode WBS dalam proyek ini dapat dilihat pada Lampiran 22. Secara garis besar, dalam pekerjaan penataan lanskap jalan tol ruas CTC rencana proyek yang diperiksa dan diawasi pelaksanaanya oleh konsultan pengawas dikategorikan kedalam dua kelompok utama, yaitu rencana pekerjaan non-penanaman dan rencana pekerjaan penanaman. 6.1.2.1. Pemeriksaan Rencana Pekerjaan Non-Penanaman Pemeriksaan terhadap rencana kerja non-penanaman merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap rencana kerja selain kegiatan penanaman, baik pra-penanaman maupun pasca-penanaman. Rencana pekerjaan nonpenanaman yang dilaksanakan oleh kontraktor mencakup 2 (dua) jenis pekerjaan, yaitu : 1. Pekerjaan persiapan lahan, terdiri atas recana sub-pekerjaan : a. Mobilisasi dan demobilisasi kontraktor
34 b. Pengadaan kantor dan gudang lapang c. Pengadaan tempat penampungan tanaman (nurseri) sementara d. Pengadaan kelengkapan keamanan dan keselamatan kerja e. Pengaturan lalu-lintas f. Pengadaan foto proyek g. Pengadaan alat bantu kerja h. Pembersihan lahan penanaman i. Pekerjaan pematokan (staking) tanaman j. Pengadaan penopang bambu 2. Pekerjaan revitalisasi nurseri, terdiri atas rencana sub-pekerjaan : a. Pembersihan lahan b. Instalasi paranet dan tiang penyangga c. Maintenance path paving d. Pengadaan titik air e. Pemangkasan pohon eksisting, dan f. Pembuatan lubang pengolahan kompos Berdasarkan rencana kerja kontraktor yang terdapat pada Lampiran 23, dapat diketahui bahwa distribusi sumberdaya yang digunakan oleh kontraktor akan banyak digunakan pada minggu-2 dan minggu-3 yang mencakup hampir seluruh sub-jenis pekerjaan kecuali : pengadaan P3K, pengaturan lalu lintas dan pengadaan foto proyek. Dalam rencana tersebut, pekerjaan pengaturan lalu lintas tidak didistribusiakan secara merata dan hanya dilaksanakan pada minggu ke-1, minggu-5 dan minggu-10 padahal kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat penting dalam mengiringi pelaksanaan pekerjaan penanaman. Sedangkan pekerjaan revitalisasi nurseri dikonsentrasikan pada minggu-4 sampai dengan minggu-6 dengan perhatian utama pada pekerjaan pemasangan (instalasi) paranet dan pembuatan titik air. Waktu yang direncanakan kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan tersebut dirasakan kurang cocok mengingat peran nurseri yang sangat penting sebagai lokasi aklimatiasasi tanaman. 6.1.2.2. Pemeriksaan Rencana Pekerjaan Penanaman Rencana pekerjaan penanaman yang dilaksanakan oleh kontraktor mencakup item pekerjaan sebagai berikut : 1) Pekerjaan pembentukan tanah, yang mencakup sub-pekerjaan : a. Pemberian tanah subur
35 b. Pemberian pupuk kandang c. Pembentukan dan pengolahan tanah d. Pembuatan lubang tanam 2) Pekerjaan penanaman ruas Cengkareng; dan 3) Pekerjaan penanaman ruas Jagorawi Jenis tanaman, lokasi ruas penanaman serta jumlah tanaman yang digunakan dalam penataan lanskap jalan tol ruas CTC dapat dilihat pada Lampiran 19. Jenis tanaman yang digunakan pada lanskap jalan tol ruas Jagorawi dan lanskap jalan tol ruas Cengkareng secara keseluruhan didominasi oleh pohon dan palm, sedangkan tanaman semak, groundcovers dan rumput hanya digunakan pada lokasi tertentu sebagai aksen (accent). Sedangkan spesifikasi dari masing-masing jenis tanaman yang digunakan dalam pekerjaan penataan lanskap dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Spesifikasi tanaman lanskap yang digunakan dalam pekerjaan No. RUAS CENGKARENG SPESIFIKASI Pohon/Palem 1 Palem Anggur (Latania sp) 2.5 m oht 2 Bintaro (Cerbera odollam) 3.0 m oht (branching) 75 mm dia 3 Thevetia (Thevetia peruviana) 1.2 m oht (branching) 4 Ki Hujan (Samanea saman) 3.0 m oht (branching), 150 mm dia 5 Kamboja (Plumeria rubra) 3.0 m oht (branching) 6 Kamboja Bali (Plumeria fragrans) 3.0 m oht (branching) 7 Palem Jepang (Ptycosperma macharthurii) 2.0 m oht 8 Bunga Merak (Caesalpinia pulcerrima) 0.8 m oht 9 Pucuk Merah (Eugenia oleana) 1.0 m oht Shrubs & Ground Covers 1 Bunga Mentega (Nerium oleander) 300 mm oht 2 Bunga Mentega Var. (Nerium oleander var.) 300 mm oht 3 Pandan Kuning (Pandanus pygmeus) 300 mm oht 4 Lili Air Mancur (Hymenocallis speciosa) 200 mm oht 5 Pisang Hias (Helliconia sp.) 300 mm oht 6 Lantana (Lantana spp) 300 mm oht 7 Rumput Paetan (Axonopus compresus) close turfing RUAS JAGORAWI SPESIFIKASI Pohon/Palem 1 Palem Sadeng (Livistona rotundifolia) 2.5 m oht 2 Palem Sadeng (Livistona rotundifolia) 3.0 m oht 3 Palem Sadeng (Livistona rotundifolia) 3-4 m oht 4 Bunga Kupu-kupu (Bauhinia purpurea) 3.0 m oht (branching) 75 mm dia
36 5 Kamboja (Plumeria rubra) 2.5 m oht (branching) 6 Ki Hujan (Samanea saman) 3.0 m oht (branching), 150 mm dia 7. Pucuk Merah (Eugenia oleana) 1.0 m oht Shrubs & Ground Covers 1 Pandan Kuning (Pandanus pygmeus) 300 mm oht 2 Pisang Hias (Helliconia psittacorum) 300 mm oht 3 Nusaenda (Musaenda philipinensis) 300 mm oht 4 Lili Air Mancur (Hymenocallis speciosa) 200 mm oht 5 Euphorbia (Euphorbia millii) 300 mm oht 6 Bunga Kertas (Bougainvillea glabra) 500 mm oht 7 Rumput Paetan (Axonopus compresus) close turfing Sumber : dokumen kontrak konsultan pengawas Keterangan : OHT (Overall Hight Trunk) Close turfing : penanaman rumput dengan metode sodding Melalui pemeriksaan terhadap jenis pekerjaan yang terdapat dalam kesepakatan dokumen kontrak, pekerjaan penataan lanskap didominasi oleh pekerjaan penataan elemen lanskap lunak (softscape) berupa penanaman tanaman palm, pohon, semak, perdu, groundcovers dan rumput dengan perincian tanaman sebanyak 2.373 pohon, 456 palm, 114.464 polybag semak, 1.865 perdu dan 1.419 m 2 rumput. Gambar 6. Persentase jenis tanaman lanskap berdasarkan jumlah Dalam klasifikasi persentase berdasarkan jumlah, dapat dilihat bahwa tanaman semak mendominasi lanskap keseluruhan sebesar 95 %, diikuti dengan pohon 1.97 %, perdu 1.55 %, rumput 1.18 % dan palm sebesar 0.38 %. Pengklasifikasian ini berfungsi untuk memberikan pemahaman dan Gambaran mental (mental image) kepada anggota konsultan pengawas mengenai bentukan lanskap yang akan terbentuk berkaitan dengan pekerjaan pengawasan di lapangan. Sedangkan pengklasifikasian kedua dilakukan berdasarkan nilai bobot pekerjaan dipergunakan oleh konsultan pengawas dalam membantu kontraktor
37 menentukan prioritas dan rangkaian proses pekerjaan lanskap yang harus diselesaikan dalam memenuhi tenggat waktu pekerjaan serta urutan dari jenis tanaman yang dipersiapkan agar dapat tersedia dalam waktu dan jumlah yang tepat. Persentase bobot pekerjaan penanaman per kategori tanaman dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Persentase jenis tanaman lanskap berdasarkan bobot pekerjaan Dalam penentuan bobot dari masing-masing jenis pekerjaan lanskap tersebut, digunakan persamaan : B n = Σ Pekerjaan n x 100 % Σ Nilai Kontrak Keseluruhan dimana, B n Σ Pekerjaan n Σ Nilai Kontrak Keseluruhan = Bobot pekerjaan ke-n = (nilai kontrak item pekerjaan ke-n x Σ item-n) = Σ (nilai kontrak item pekerjaan 1+2+ +n) Sebagai contoh, tanaman palm anggur (Latania sp.) dengan bobot pekerjaan yang tercantum dalam kontrak adalah sebesar 6.85 % dan diperoleh dari perhitungan : Bobot pekerjaan penanaman palm anggur = 112 x Rp. 550.000 Rp. 899.997.083 x 100 % = 6,85 %
38 Dalam perhitungan tersebut, jumlah tanaman palm anggur (Latania sp.)sesuai dengan kesepakatan kontrak adalah sebanyak 112 buah pohon dengan harga satuan yang diajukan oleh kontraktor sebesar Rp. 550,000. Kedua angka tersebut dikalikan dan hasilnya kemudian dibagi dengan nilai kontrak keseluruhan yang bernilai Rp. 899,997,083 sehingga diperoleh bobot kerja penanaman palm anggur sebesar 6,85 %. Nilai kontrak yang digunakan untuk pembagian tersebut merupakan nilai kontrak yang telah dikurangi oleh kewajiban pajak sebesar 10 %. Persamaan tersebut tidak hanya digunakan untuk mengetahui bobot pekerjaan penanaman masing-masing jenis tanaman, tetapi juga untuk mengkalkulasikan bobot seluruh jenis pekerjaan yang ada dalam dokumen kontrak, termasuk di dalamnya seluruh jenis pekerjaan non-penanaman.secara keseluruhan, urutan bobot pekerjaan penanaman per kategori tanaman pada kedua ruas jalan tersebut secara berturut-turut adalah semak, pohon, palm, perdu dan rumput. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, pembobotan tersebut kemudian lebih dirincikan kembali dengan mengelompokannya berdasarkan masing-masing ruas pekerjaan dan jenis tanaman tersebut, sebagaimana yang terlihat pada Tabel 11 dan Tabel 12. Tabel 11. Bobot pekerjaan penanaman per jenis tanaman pada lanskap jalan tol ruas Cengkareng No. Jenis Tanaman Jumlah Satuan Bobot Pekerjaan (%) A. Pohon/Palm 1 Palm Anggur (Latania sp) 112 ph 6.845 2 Bintaro (Cerbera odollam) 790 ph 4.169 3 Thevetia (Thevetia peruviana) 538 ph 1.196 4 Ki Hujan (Samanea saman) 150 ph 2.500 5 Kamboja (Plumeria rubra) 40 ph 0.333 6 Kamboja Bali (Plumeria fragrans) 10 ph 0.222 7 Palm Jepang (Ptycosperma macharthurii) 225 ph 0.875 8 Bunga Merak (Caesalpinia pulcerrima) 265 ph 0.368 9 Pucuk Merah (Eugenia oleana) 255 ph 1.983 SUB TOTAL A 18.491 B. Shrubs & Ground Covers 1 Bunga Mentega (Nerium oleander) 10,500 plb 2.042 2 Bunga Mentega Var. (Nerium oleander var.) 10,500 plb 2.625 3 Pandan Kuning (Pandanus pygmeus) 1,800 plb 0.225 4 Lili Air Mancur (Hymenocallis speciosa) 1,800 plb 0.140 5 Pisang Hias (Helliconia sp.) 1,600 plb 0.178
39 6 Lantana (Lantana spp) 16,000 plb 1.778 7 Rumput Paetan (Axonopus compresus) 50 m2 0.017 Sumber : dokumen kontrak konsultan pengawas Dari bobot pekerjaan penanaman pada lanskap jalan tol ruas Cengkareng yang terdapat dalam Tabel 16, didapatkan hasil sebagai berikut : tanaman palm anggur (Latania sp.) merupakan jenis tanaman dengan bobot pekerjaan yang paling tinggi yaitu sebesar 6,85 %, diikuti dengan bintaro (Cerbera odolam) 4,62 % dan ki hujan (Samanea saman) sebesar 2,50 %. Pada tanaman semak dan groundcovers urutan bobot pekerjaan berurut dengan bunga mentega (Nerium oleander) dengan bobot pekerjaan sebesar 4,67 % sebagai jenis semak dengan bobot pekerjaan tertinggi, diikuti oleh lantana (Lantana sp.) sebesar 1,78 %, pandan kuning (Pandanus pygmeus) sebesar 0,23 % dan Lili air mancur (Hymenocalis speciosa) sebesar 0,14 % sebagai jenis tanaman dengan bobot pekerjaan terkecil pada lanskap jalan tol ruas Cengkareng. Sedangkan berdasarkan bobot pekerjaan penanaman pada lanskap jalan tol ruas Jagorawi dapat dilihat pada pada Tabel 12. Tabel 12. Bobot pekerjaan penanaman per jenis tanaman pada lanskap jalan tol ruas Jagorawi No. Jenis Tanaman Jumlah Satuan Bobot Pekerjaan (%) 1 Palm Sadeng (Livistona rotundifolia) 45 ph 1.563 2 Palm Sadeng (Livistona rotundifolia) 24 ph 1.000 3 Palm Sadeng (Livistona rotundifolia) 50 ph 2.500 4 Bunga Kupu-kupu (Bauhinia purpurea) 250 ph 2.778 5 Kamboja (Plumeria rubra) 89 ph 0.742 6 Ki Hujan (Samanea saman) 18 ph 0.300 7. Pucuk Merah (Eugenia oleana) 233 ph 1.812 SUB TOTAL A 10.694 B. Shrubs & Ground Covers 1 Pandan Kuning (Pandanus pygmeus) 23,904 plb 2.988 2 Pisang Hias (Helliconia psittacorum) 21,904 plb 2.434 3 Nusaenda (Musaenda philipinensis) 1,600 plb 1.111 4 Lili Air Mancur (Hymenocallis speciosa) 23,904 plb 1.859 5 Euphorbia (Euphorbia millii) 2,507 plb 2.437 6 Bunga Kertas (Bougainvillea glabra) 45 plb 0.030 7 Rumput Paetan (Axonopus compresus) 1,369 m2 0.456 SUB TOTAL B 11.315 Sumber : dokumen kontrak konsultan pengawas
40 Tanaman palm sadeng (Livistonia rotundifolia) keseluruhan merupakan jenis tanaman dengan bobot pekerjaan yang paling tinggi yaitu sebesar 5,06 %, diikuti dengan bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) 2,79 %, pucuk merah (Euginia oleana) sebesar 1,81 % dan ki hujan (Samanea saman) sebagai jenis tanaman dengan bobot pekerjaan terkecil yaitu sebesar 0,30 %. Pada tanaman semak dan groundcovers, pandan kuning (Pandanus pygmeus) merupakan tanaman dengan bobot pekerjaan tertinggi dengan bobot sebesar 2,99 %, euphorbia (Euphorbia milii) sebesar 2,44 %, pisang hias (Helliconia psitacorum) sebesar 2,43 % dan bunga kertas (Bougenvillea glabra) sebagai jenis semak dengan bobot pekerjaan terkecil yaitu sebesar 0,03 %. Dengan mengetahui bobot dari masing-masing pekerjaan penanaman, diketahui bahwa tanaman palm anggur (Latania sp.) merupakan tanaman yang memiliki bobot pekerjaaan terbesar terhadap kemajuan (progress) pekerjaan penanaman pada penataan lanskap jalan tol ruas Cengkareng, sedangkan palm sadeng (Livistonia rotundifolia) memiliki bobot pekerjaan terbesar terhadap kemajuan pekerjaan pada lanskap jalan tol ruas Jagorawi. Hasil tersebut bukan merupakan suatu hal yang positif dikarenakan beberapa sebab, yaitu : 1) tanaman palm, baik palm sadeng dan palm anggur merupakan tanaman yang rentan terhadap perlakuan penanaman kembali (transplanting), terutama bila perawatan pasca-penanaman tidak dilaksanakan dengan baik. Perhatian lebih diberikan pada tanaman tersebut mengingat kondisi lanskap jalan tol yang kurang mendukung terhadap pertumbuhan tanaman, 2) memiliki nilai ekonomis tinggi dibandingkan jenis tanaman lain dan 3) ketersediaannya di pasaran terbatas, terutama bila harus memenuhi spesifikasi yang terdapat dalam dokumen kontrak. Dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, konsultan pengawas memberikan perhatian khusus terhadap penangan tanaman palm pada kedua ruas jalan tersebut. Sejumlah saran dan masukan juga diberikan kepada pekerja penanaman di lapangan untuk meningkatkan keberhasilan penanaman, terutama tanaman-tanaman yang memiliki bobot pekerjaan yang cukup besar terhadap kemajuan pekerjaan secara keseluruhan seperti tanaman palm dan pohon berukuran besar lainnya. Saran juga diberikan terhadap jenis tanaman yang diprediksikan akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan jalan tol yang kurang bersahabat seperti tanaman Lantana sp yang ditanam pada ruas Cengkareng Km 25+000 sampai dengan Km 27+000.
41 Adapun saran yang diberikan dalam untuk meningkatkan kemungkinan hidup tanaman palm setelah perlakuan penanaman kembali (transplanting) adalah : 1) khusus untuk tanaman palm, apabila belum tiba waktu penanaman, tanaman hanya diperkenankan untuk ditaruh pada tempat ternaungi untuk waktu 2-3 hari dengan penyiraman secara rutin yang ditujukan untuk menjaga kelembaban bola akar 2) tanaman palm harus diusahakan untuk ditanam dengan kedalaman yang sama dengan lokasi asalnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pembusukan atau timbulnya penyakit akar 3) seluruh tanaman yang baru ditanam harus disiram hingga tanah disekitar tanaman tersebut basah hingga kedalaman ± 20 cm atau sesuai dengan ketentuan pada dokumen kontrak Tanaman palm yang belum tiba masa tanamnya ditempatkan pada sebuah lubang tanam sementara yang disediakan khusus untuk menampung tanaman palm hingga tiba waktu penanamannya, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan perawatan tanaman tersebut selama masih berada di nurseri sementara seperti yang tampak pada Gambar 8. Gambar 8. Tanaman palm pada lokasi tempat penampungan (nurseri) sementara Sedangkan pada pekerjaan penanaman semak dan rumput diprediksi tidak akan menimbulkan hambatan terhadap kemajuan (progress) pekerjaan jika dilaksanakan sesuai dengan panduan pekerjaan penanaman dengan
42 menggunakan tenaga penanaman yang terampil dan berpengalaman. Hal yang disarankan untuk diperhatikan oleh kontraktor dalam melakukan penanaman semak dan rumput antara lain : 1) tanaman semak dipindahkan dengan cara dipegang polybagnya dan bukan pada bagian batangnya 2) waktu penanaman merupakan hal yang harus diperhatikan. Penanaman hanya diperkenankan pada pagi atau sore hari Dalam pemeriksaan terhadap rencana kerja proyek secara keseluruhan diperoleh hal seperti berikut : pekerjaan persiapan memiliki bobot 17,89 %, pekerjaan pengadaan tanah sebesar 9,94 %, pekerjaan revitalisasi nurseri 2,58 %, pekerjaan penanaman 53,71 %, pekerjaan perawatan 9,81 % dan pekerjaan pemeliharaan sebesar 5,97 %. Kegiatan magang yang dilangsungkan pada masa penanaman mencakup seluruh jenis pekerjaan kecuali pekerjaan yang terdapat pada masa perawatan dan masa pemeliharaan. Bobot kerja pada masa penanaman itu sendiri secara keseluruhan adalah sebesar 84,50 % terhadap penyelesaian proyek. Berdasarkan pemeriksaaan terhadap rencana proyek kontraktor, dapat diketahui bahwa rencana kerja tersebut menggunakan pendekatan (iterative). Pendekatan ini merupakan pendekatan pelaksanaan kerja yang dilaksanakan secara simultan. Sejumlah pekerjaan dilaksanakan pada waktu yang bersamaan dengan pola distribusi kerja secara paralel (Idad, 2003). Hal yang perlu diperhatikan pada pengaplikasian rencana kerja dengan menggunakan pendekatan semacam itu adalah distribusi bobot kerja per minggu terbesar dengan jenis pekerjaan kerja yang paling banyak. Pada distribusi kerja dalam rencana kerja kontraktor dapat diketahui bahwa jumlah bobot kerja terbesar terdapat pada minggu-8 yang mencapai bobot kerja hingga 11,709 %. Implikasi dari penerapan pendekatan tersebut adalah tingginya tuntutan terhadap kemampuan kontraktor dalam menyediakan dan mendistribusikan alat, bahan dan tenaga kerja pada masing-masing lokasi pekerjaan yang berjauhan satu sama lain. 6.1.3. Pemeriksaan Disain Pemeriksaan terhadap konsep dan disain lanskap merupakan salah satu tugas pendahuluan yang dilakukan oleh konsultan pengawas yang dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman terhadap konsep dan rancangan yang hendak
43 diterapkan oleh tim perencana dan memeriksa apakah konsep tersebut dapat diterapkan di lapang melalui pembandingan terhadap ketentuan teknis penanaman lanskap jalan yang telah ditentukan oleh Dirjen Bina Marga tahun 1996 mengenai Tata Cara Perencanaan Teknik Lanskap Jalan. Pemeriksaan terhadap disain lanskap dilaksanakan selama satu minggu sebelum pekerjaan lanskap dimulai, kegiatan tersebut mencakup pemeriksaan terhadap konsep lanskap, gambar kerja, gambar rencana dan dokumen spesifikasi lanskap. Pemeriksaan (review) disain dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan silang (cross-references) antar dokumen yang tersedia dan melakukan pembahasan secara langsung dengan perwakilan tim perencana. Disain penataan lanskap jalan tol ruas Cawang Tomang Cengkareng secara garis besar dibagi atas dua jalur utama, yaitu jalur median dan damija (daerah milik jalan) yang masing-masing berada di ruas jalan tol Jagorawi sepanjang 2,8 km dan ruas Cengkareng sepanjang 11,8 km. Adapun jadwal kerja dalam melaksanakan pemeriksaan disain lanskap pada kedua ruas jalan tol Jagorawi dan Cengkareng dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Alokasi waktu pemeriksaan konsep dan gambar kerja No Kegiatan 1 Pemeriksaan konsep lanskap a. Ruas Cengkareng b. Ruas Jagorawi 2 Pemeriksaan Gambar rencana dan Gambar kerja a. Ruas Cengkareng b. Ruas Jagorawi Oktober - November 2007 31 1 2 3 4 5 6 Dari jadwal kegiatan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh konsultan pengawas pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pemeriksaan terhadap gambar kerja ruas Cengkareng memerlukan waktu yang lebih dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya. Hal ini disebabkan karena minimnya kelengkapan gambar yang dihasilkan oleh konsultan perencana pada lanskap jalan tersebut sehingga diperlukan waktu dan pemahaman yang lebih dalam melakukan pemeriksaan dan koreksi. Sebagai hasil akhir dari kegiatan pemeriksaan (review) disain, konsultan pengawas memberikan sejumlah koreksi terhadap kekurangan dan kesalahan yang ada pada gambar kerja kedua ruas jalan tersebut.
44 Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari pihak perencana, konsep yang hendak diterapkan pada lanskap ruas jalan tol CTC adalah sebuah penataan lanskap dengan disain sederhana (simple) berkesan formal, modernminimalis menggunakan tanaman eksotis yang disusun menggunakan pola geometris. Tanaman yang digunakan, disusun dan ditanam secara berkelompok (mass planting) pada titik-titik tertentu, terutama pada lokasi yang memiliki nilai visualitas rendah (bad view). Fungsi utama tanaman dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan jalan menempatkan tanaman sebagai elemen penghias (ornament), penyangga (buffer), pemersatu (unity) dan penghalang (screen). Kelompok tanaman ditata dan ditanam dalam jarak tertentu, baik jarak antar tanaman maupun jarak tanaman terhadap badan jalan. Kontinuitas jarak dan tema penanaman ditujukan untuk memberikan pengaruh terhadap psikologis pengguna jalan. Dengan penataan teratur dan konsep lanskap yang jelas, kesan visual yang baik terhadap tapak diharapkan akan semakin kuat. 6.1.3.1. Konsep lanskap ruas jalan tol Cengkareng Penataan lanskap ruas jalan tol Cengkareng dititik beratkan pada : 1) areal bahu jalan, 2) areal median; dan 3) gerbang bandara sebagaimana yang tampak pada Gambar 9. Gambar 9. Konsep umum penataan lanskap Cengkareng Konsep penataan lanskap ruas jalan tol Cengkareng direncanakan dan dirancang lebih lembut dibandingkan konsep lanskap ruas Jagorawi. Rancangan
45 bertema semi-formal diambil untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna jalan tol mengingat kondisi lingkungan pada areal ini yang kurang mendukung bagi pertumbuhan tanaman secara optimal. Penerapan pola semi-formal diterapkan melalui pemilihan jenis tanaman dan penataannya yang menggunakan pola penanaman tidak teratur (irregular). Kehadiran tanaman bertajuk lebar dengan komposisi ragam tanaman ditujukan untuk menciptakan kesan teduh dan nyaman. Penanaman tanaman secara berkelompok (mass planting) dan rapat pada bahu jalan ditujukan untuk mengurangi kesan keras (harsh) pada lingkungan di sepanjang jalan tol. Elemen keras lanskap (hardscape) yang terekspos pada bagian ruas tertentu dikamuflasekan dengan penggunaan tanaman penghalang (screen) untuk menghasilkan kesan lembut dan juga estetis. 6.1. 3.1.1. Konsep areal gerbang bandara Konsep dan Gambar kerja untuk penataan areal gerbang bandara yang tidak disertakan dalam dokumen kerja mempersulit kegiatan pemeriksaaan (review) dan penerapan di lapangan sehingga dibutuhkan inisiatif tersendiri dari konsultan pengawas dengan saran dan masukan dari konsultan perencana. 6.1.3.1.2. Konsep areal median dan bahu jalan Penataan tanaman pada area median dan bahu jalan pada ruas Cengkareng dapat dilihat di Gambar 10. cm cm AREA MEDIAN TAMPAK ATAS AREA TANGGUL Gambar 10. Konsep penataan tanaman pada median dan bahu jalan Konsep penataan pada areal median dan bahu jalan bertemakan semi formal. Pada median jalan penyeragaman tema jenis tanaman yang digunakan
46 berlaku hingga jarak tertentu guna mempertegas kesan lanskap jalan tol yang berbunga dan untuk mengefisiesikan pemeliharaan. Pergantian tema tanaman pada bagian median jalan difungsikan untuk memecah kemonotonan dalam perjalanan. Hal yang membedakan penanaman ruas Cengkareng dengan ruas Jagorawi terletak pada adanya penanaman semak di sepanjang garis tanggul, namun sayangnya konsep penanaman tersebut tidak dilengkapi dengan Gambar kerja penanaman sehingga konsep tersebut sulit untuk dipahami dan dikhawatirkan mengakibatkan kesalahan pemahaman terutama bagi para pekerja di lapangan. Dengan penataan lanskap jalan tol ruas Cawang-Tomang-Cengkareng, diharapkan damija dan median yang ada akan lebih tertata dengan baik dengan adanya pohon-pohon hijau dan tanaman bunga berwarna-warni yang ditata secara masal. Jalan tol yang memiliki pohon yang berbunga berwarna-warni pada damija dan median jalan diharapkan akan dapat menciptakan karakter yang khas dalam membentuk sebuah gardening toll road khususnya pada lanskap jalan tol ruas Cengkareng. 6.1.3.2. Konsep lanskap ruas jalan tol Jagorawi Konsep umum penataan lanskap jalan tol ruas Jagorawi diperlihatkan pada Gambar 11. Gambar 11. Konsep umum penataan lanskap ruas Jagorawi Sebagaimana tampak pada Gambar 11, lokasi tanam antar masingmasing lokasi berdekatan satu sama lain. Penataan lanskap ruas jalan tol Jagorawi memiliki daerah tanaman yang lebih kecil dibandingkan dengan lokasi
47 penanaman pada ruas Cengkareng, sehingga penanaman hanya dititik beratkan pada : 1) areal gerbang tol, 2) areal kantor cabang, 3) areal bahu jalan (damija), 4) areal median jalan, dan 5) area penerimaan (entrance area) nurseri. 6.1.3.2.1. Konsep areal gerbang tol Gerbang tol merupakan salah satu bagian jalan tol yang didominasi oleh struktur bangunan yang berfungsi melaksanakan fungsi pelayanan pembayaran pengguna jalan (tol). Penataan lanskap yang dapat dilakukan pada areal ini sangat terbatas dikarenakan tidak tersedianya ruang dan media tanam alami yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman. Salah satu metode umum yang digunakan dalam melembutkan suasana yang terdapat pada lanskap gerbang tol adalah dengan melakukan penanaman pada sebuah pot yang disusun menyerupai penataan sebuah container garden dengan menggunakan elemenelemen keras berwarna monokromatik.tanaman ditata dengan prinsip container garden menggunakan pot dengan disain sederhana (simple) dan alur penataan memanjang (linear) seperti yang tampak pada Gambar 12. TAMPAK ATAS TAMPAK SAMPING Gambar 12. Konsep penataan gerbang tol Pot yang diusulkan pada ruas jalan tol Cawang diletakkan pada gerbang tol Cililitan 2 (gerbang tol satelit), sedangkan pada ruas jalan tol Cengkareng diletakan pada gerbang tol Prof. Dr. Sedyatmo dengan jumlah pot pada masingmasing gerbang sebanyak 44 buah pot tipe A berukuran kecil dan 22 pot tipe B
48 berukuran besar. Dalam konsep yang digunakan, tidak ditentukan jenis dan jumlah tanaman pada masing-masing pot tersebut. Jenis tanaman yang digunakan pada masing-masing pot ditentukan dalam rapat Pre-Construction Meeting (PCM) dengan menggunakan jenis tanaman yang disarankan satgas dan kontraktor. Untuk tanaman utama digunakan tanaman bunga kertas (Bougenvillea sp.) untuk pot tipe A dan pandan bali untuk pot tipe B. Sedangkan untuk tanaman pelengkapnya digunakan pandan kuning (Pandanus pygmeus) pada kedua jenis pot tersebut. 6.1.3.2.2. Konsep areal kantor cabang Penerapan konsep lanskap pada areal kantor cabang ditata untuk menciptakan kesan lembut dengan tema semi-formal melalui penerapan disain dengan berpola semi-organik dan pemilihan tanaman berwarna hangat sebagaimana yang terlihat pada Gambar 13. Gambar 13. Konsep penataan lanskap areal kantor cabang Penggunaan pohon bertajuk lebar dipadukan dengan kelompok groundcover dari ragam yang berbeda. Gradasi ketinggian dan warna tanaman yang digunakan, baik dari jenis groundcover hingga pohon ditujukan untuk membuat lanskap eksisting terkesan lembut dan juga untuk menciptakan aksen lanskap yang berbeda (distinctive) dengan bentuk lanskap lain yang ada disekitar areal kantor cabang. 6.1.3.2.3. Konsep areal bahu jalan Konsep lanskap pada bahu jalan lebih mengutamakan penataan berdasarkan perbedaan tinggi tanaman melalui pengkomposisian beragam jenis tanaman. Pohon, semak, perdu dan groundcovers ditata dengan teratur sehingga dapat menutupi bagian yang tidak diinginkan. Agar fungsi ekologis tanaman mencapai hasil maksimal, tanaman ditanaman secara massal dan cukup rapat.
49 Melalui pemilihan jenis tanaman yang tepat, diharapkan area ini mampu memberikan suasana yang berbeda saat masa pembungaan. Konsep penataan areal bahu jalan terlihat pada Gambar 14. Gambar 14. Konsep penataan areal bahu jalan ruas Jagorawi cm 6.1.3.2.4. Konsep penataan areal median jalan Konsep penanaman yang diterapkan pada median jalan pada ruas Jagorawi dapat dilihat pada Gambar 15. TAMPAK ATAS Gambar 15. Konsep penataan areal median jalan ruas Jagorawi Ukuran median jalan yang cukup lebar pada ruas jalan tol Jagorawi memungkinkan adanya penanaman dengan menggunakan pohon berukuran besar. Hal ini dimanfaatkan dengan melakukan penanaman tanaman palm yang dikombinasikan dengan tanaman pucuk merah yang digunakan untuk memecah kemonotonan tanaman yang ada pada median. 6.1.3.2.5. Konsep welcome area nurseri Konsep penataan lanskap pada area penerimaan (welcome area) nurseri diterapkan dengan bentukan disain non-formal melalui penataan tanaman secara acak (random) namun dengan tetap memperhatikan gradasi serta komposisi
50 tanaman secara harmonis. Konsep penataan areal penerimaan nurseri yang dilampirkan dalam dokumen perencanaan lanskap Jagorawi tidak disertakan dalam rancangan detil yang terdapat pada gambar kerja, termasuk di dalamnya jenis dan jumlah tanaman yang akan digunakan sehingga rancangan pada area ini tidak dapat diterapkan di lapangan. Konsep penataan areal penerimaaan nurseri tampak pada Gambar 16. TAMPAK ATAS Gambar 16. Konsep penataan area penerimaan nurseri Secara garis besar, bentuk disain yang hendak diterapkan dalam lanskap jalan tol CTC lebih ditujukan sebagai pelembut suasana jalan tol yang terkesan monoton. Sasaran pekerjaan lanskap adalah untuk meningkatkan kualitas visual lanskap melalui penataan lanskap dengan disain sederhana pada kedua ruas jalan tersebut yang diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kenyamanan pengguna jalan tol. 6.1.4. Pemeriksaan (review) Gambar Kerja Gambar kerja (shop drawings) yang digunakan sebagai panduan pelaksanaan kontraktor dalam pekerjaan di lapangan dapat dilihat pada Lampiran 7 sampai dengan Lampiran 18. Sejumlah koreksi diberikan terhadap gambar kerja yang dikoreksi oleh konsultan pengawas. Ringkasan hasil pemeriksaan pada gambar kerja tersebut disajikan pada Tabel 14. Tabel 14. Ringkasan pemeriksaan (review) gambar kerja dan gambar rencana lanskap jalan tol ruas Cengkareng dan Jagorawi No LOKASI KETERANGAN 1 Penataan Lansekap pada Ruas Jagorawi STA : 1 + 000 STA 3 + 800 Area : Median dan Damija Gambar : 4 lembar Skala : tidak ada Arah Utara : tidak ada
51 No LOKASI KETERANGAN 2 Penataan Lansekap pada Ruas Cengkareng STA : 21 + 000 STA 32 + 800 Area : Median dan Damija Gambar : 6 lembar Skala : Tidak ada Arah Utara : tidak ada 3 Revitalisasi Nursery Cipinang Lokasi : STA : 3 + 800 lajur arah Bogor, bersebelahan dengan pool derek PT Jasa Marga Gambar : tidak ada Sumber : laporan bulanan pertama konsultan pengawas Melalui kegiatan pemeriksaan disain lanskap (review design) dan pemeriksaan gambar kerja, diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi anggota tim pengawas lapangan terhadap konsep yang akan diterapkan maupun persyaratan material dan alat yang akan digunakan. Melalui kegiatan tersebut juga, diharapkan agar perubahan-perubahan yang mungkin terjadi di lapangan tidak berbeda jauh atau bahkan merubah konsep awal yang hendak diterapkan oleh perencana lanskap. Dalam kegiatan pemeriksaan gambar kerja, masalah-masalah yang timbul akibat kesalahan produksi atau pembuatan gambar kerja diantisipasi dan dicarikan alternatif solusi yang mungkin ditempuh sehingga masalah tersebut tidak menghambat proses pekerjaan ketika gambar tersebut digunakan di lapangan. Perincian dari hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Hasil pemeriksaan dan koreksi terhadap gambar kerja penataan lanskap jalan tol ruas Cengkareng dan Jagorawi No. URAIAN Gambar BQ SELISIH SOLUSI 1. RUAS CENGKARENG A. Pohon/Palm 1 Palm anggur (Latania sp) 112 112 0 2 Bintaro (Cerbera odollam) 704 790 86 3 Thevetia (Thevetia peruviana) 433 538 105 4 Ki hujan (Samanea saman) 120 150 30 5 Kamboja (Plumeria rubra) 40 40 0 6 Kamboja Bali (Plumeria fragrans) 10 10 0 7 Palm jepang (Ptycosperma macharthurii) 180 225 45 8 Bunga merak (Caesalpinia pulcerrima) 212 265 53 9 Pucuk merah (Eugenia oleana) 204 255 51 86 phn ditambahkan pada gambar 105 phn ditambahkan pada gambar 30 phn ditambahkan pada gambar 45 phn ditambahkan pada gambar 53 phn ditambahkan pada gambar 51 phn ditambahkan pada gambar
52 No. URAIAN Gambar BQ SELISIH SOLUSI B. Shrubs & Ground Covers 1 Bunga mentega (Nerium oleander) 11000 10,500-500 2 Bunga mentega Var. (Nerium oleander var.) 10500 10,500 0 3 Pandan kuning (Pandanus pygmeus) 1800 1,800 0 4 Lili air mancur (Hymenocallis speciosa) 1800 1,800 0 5 Pisang hias (Helliconia sp.) 1600 1,600 0 6 Lantana (Lantana spp) 16000 16,000 0 7 Rumput paetan (Axonopus compresus) 50 50 C. Suplai dan Instalasi Pot + Tanaman 1. Pot Type A 0 44 44 2. Pot Type B 0 22 22 D. Pemindahan Tanaman Existing dari Median ke Damija 1 Cassia sp. 0 12600 12,600 E. Pemangkasan Eksisting Pohon di Damija 1. Pohon 0 60 60 A. Pohon/Palm 1 Palm sadeng (Livistona rotundifolia) 45 45 2 Palm sadeng (Livistona rotundifolia) 24 24 3 Palm sadeng (Livistona rotundifolia) 50 50 4 Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) 265 250-15 5 Kamboja (Plumeria rubra) 89 89 0 6 Ki hujan (Samanea saman) 17 18 1 7. Pucuk merah (Eugenia oleana) 233 233 0 B. Shrubs & Ground Covers 1 Pandan Kuning (Pandanus pygmeus) 24033 23,904-129 2 Pisang hias (Helliconia psittacorum) 21775 21,904 129 3 Nusaenda (Musaenda philipinensis) 1666 1,600-66 4 Lili air mancur (Hymenocallis speciosa) 24033 23,904-129 500 nos dihilangkan pada gambar Lokasi pada gambar kerja tidak ada Tipe A pada gambar dirubah menjadi Tipe B Lokasi pada gambar kerja tidak ada Tipe B pada gambar dirubah menjadi Tipe A Lokasi pada gambar kerja tidak ada Lokasi pada gambar kerja tidak ada Tidak terdapat referensi foto lokasi Lokasi pada gambar kerja tidak ada 15 phn dikurangi pada gambar 1 phn ditambahkan pada gambar 129 nos dikurangi pada gambar 129 nos ditambahkan pada gambar 66 nos dikurangi pada gambar 129 nos dikurangi pada gambar
53 No. URAIAN Gambar BQ SELISIH SOLUSI 5 Euphorbia (Euphorbia millii) 2517 2,507-10 6 7 C. Bunga kertas (Bougainvillea glabra) Rumput paetan (Axonopus compresus) Suplai dan Instalasi Pot + Tanaman 45 45 0 1369 1,369 0 1. Pot Type A 44 44 0 2. Pot Type B 22 22 0 10 nos dikurangi pada gambar Jenis tanaman belum ditentukan Jenis tanaman belum ditentukan D. Revitalisasi Nursery Cipinang 1 Pembersihan lahan 1,500 1,500 2 Instalansi paranet + tiang penyangga 500 500 Gambar belum ada 4 Titik air 5 Gambar belum ada 5 Prunning existing pohon 30 30 Gambar teknisnya belum ada 6 Pembuatan lubang tanam Lokasi pada gambar 3 kompos kerja tidak ada Catatan Tambahan hasil periksa Gambar rencana a Layout Planting Plan jumlah lembar : 10 b Layout Detaill Penanaman Jumlah lembar : 4 Daftar Isi dan Judul : c masing2 satu lembar Lembar Gambar belum d ditandatangani Sumber : dokumen kontrak kontraktor Kesalahan yang paling banyak dijumpai pada pemeriksaan tersebut adalah ketidaksesuaian antara keterangan yang terdapat pada gambar kerja dengan keterangan pada dokumen harga dan jumlah material kerja (Bill of Quantity - BQ). Kekurangan lainnya adalah adanya ketidak-lengkapan notasi gambar kerja seperti skala dan orientasi arah mata angin. Kekurangankekurangan tersebut akan sangat menghambat pekerjaan bila tidak ada tindakan koreksi yang dilakukan. Tindakan yang diperlukan sebagai koreksi dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui penggambaran ulang gambar kerja pada masing-masing ruas baik pada ruas Cengkareng maupun pada ruas Jagorawi. Dalam penerapan skala gambar kerja, digunakan skala gambar sebagai mana yang dikemukakan oleh Hakim (2005) yang mengelompokkan skala gambar proyek kedalam tiga kelompok utama, yaitu gambar rencana, gambar
54 detil dan gambar presentasi. Ketentuan dalam pengguaan skala pada masingmasing gambar tersebut diperlihatkan pada Tabel 16. Tabel 16. Acuan skala gambar kerja No Jenis Gambar Keterangan Skala I. Gambar perencanaan (Planning in design drawings) 1 Lay Out Plan Rencana Dasar 1 : 1 000 2 Landscape Plan Rencana Lanskap 1 : 500 3 Planting Plan Rencana Pola Tata Hijau 1 : 500 4 Elevation Plan Rencana Tampak 1 : 500 5 Section Plan Rencana Potongan 1 : 500 6 Lighting Plan Rencana Pencahayaan 1 : 500 7 Topography Plan Rencana Muka Tanah 1 : 500 8 Drainage Plan Rencana Saluran Drainase 1 : 500 9 Maintenance Plan Rencana Pemeliharaan 1 : 500 II. Gambar detil (Design engineering detail) 10 Landscape Design Development Disain Pengembangan 1 : 200 11 Planting Design Disain Penanaman 1 : 200 1 : 100 1 : 200 12 Section and Elevation Potongan dan Tampak 1 : 100 13 Landscape Furniture Detail Detil Elemen Keras 1 : 100 Lanskap 1 : 50 14 Hard Materials Detail Detil Pola Perkerasan 1 : 100 1 : 50 15 Planting Constructions Detail Detil Panduan 1 : 50 Penanaman 1 : 20 III. Gambar detil (Design engineering detail) 16 Sketsa Perspektif - Tanpa Skala 17 Animasi - Tanpa Skala 18 Raw Concept Konsep Awal Tanpa Skala Secara keseluruhan, sebagian besar masalah yang terdapat dalam gambar rencana dan gambar kerja adalah kurangnya detil. Gambar kerja dirasakan masih mentah dan dapat mengakibatkan kesalahan penafsiran yang berdampak pada ketidaksesuaian konsep yang direncanakan terhadap aplikasi di lapangan. Berdasarkan keterangan dari tim perencana, faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya kekurangan dan kesalahan tersebut adalah:
55 1) kurangnya jangka waktu untuk melaksanakan kegiatan perencanaan dan perancangan yang dibutuhkan 2) tidak terdapat data dan informasi yang akurat mengenai kondisi lapangan 3) minimnya pemahaman konsultan perencana terhadap tapak secara keseluruhan. 6.2. Pengawasan Pekerjaan Persiapan Pekerjaan persiapan merupakan segala jenis pekerjaan yang meliputi persiapan lahan dengan segala kelengkapannya sebelum dilaksanakannya pekerjaan penanaman. Pengawasan pekerjaan persiapan dalam penataan lanskap jalan tol ruas CTC mencakup 10 (sepuluh) sub-pekerjaan yang terdiri atas : pemeriksaan terhadap mobilisasi dan demobilsasi kontraktor, pengadaan kantor dan gudang lapangan, pengadaan tempat penampungan tanaman (nurseri) sementara, pengadaan kelengkapan keamanan dan keselamatan kerja, pengaturan lalu-lintas, pengadaan foto proyek, pengadaan alat bantu kerja, pembersihan lahan penanaman, pekerjaan pematokan tanaman dan pengadaan penopang bambu. Seluruh sub-pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan pendahuluan dalam mempersiapkan alat dan bahan serta area kerja. 6.2.1. Mobilisasi dan Demobilisasi Kontraktor Pekerjaan mobilisasi merupakan pekerjaan pemindahan alat, material dan tenaga kerja yang dipergunakan oleh kontraktor, baik untuk memasuki maupun ke luar dari lokasi pekerjaan dan juga mencakup pekerjaan demobilisasi (pembongkaran atau pemulangan kembali) apabila pekerjaan telah selesai dan atau peralatan yang diperlukan tidak digunakan lagi. Tujuan utama dari pekerjaan ini adalah untuk memindahkan alat dan material yang diperlukan sehingga dapat dipastikan tersedia di lapangan dalam kondisi yang baik tanpa adanya kekurangan atau gangguan kerusakan. Dalam melaksanakan pekerjaan tersebut, kontraktor menggunakan kendaraan proyek yang digunakan untuk kegiatan mobilisasi dan demobilisasi kontraktor yang dibagi atas : 1) kendaran milik sendiri yang digunakan untuk memindahkan peralatan dan tenaga kerja dan 2) kendaran sewa yang digunakan untuk memindahkan materi dan material yang diperlukan ke dalam atau ke luar lokasi pekerjaan. Berdasarkan keterangan kontraktor, jumlah armada yang dapat digunakan tergantung tuntutan kondisi pekerjaan yang dibutuhkan. Penambahan
56 armada kendaraan hanya dilakukan terbatas pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada saat dilakukannya pengiriman tanaman atau tanah merah. Sedangkan untuk kendaraan operasional sehari-hari hanya digunakan kendaraan bak terbuka. Kendaraan yang digunakan dalam pekerjaan mobilisasi dan demobilisasi dapat dilihat pada Gambar 17. Gambar 17. Kendaraan yang digunakan dalam mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja dan material ke dalam dan ke luar tapak Selain memiliki keterbatasan jumlah kendaraan operasional tetap, kontraktor juga tidak memiliki program mobilisasi yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk memprediksikan kebutuhan mobilisasi yang diperlukan. Dalam melaksanakan pekerjaan mobilisasi, kontraktor seharusnya sudah terlebih dahulu mempersiapkan program kerja mobilisasi yang mencakup : 1) lokasi pusat-pusat kegiatan seperti : kantor, tempat penyimpanan material dan nurseri sementara yang disertai denahnya 2) rencana pengangkutan material tanaman dan alat dari dan ke tempat tujuan, jadwal dan cara pengiriman serta tahapan menurut prioritas 3) perubahan kerja Hal tersebut di atas dibahas bersama dengan konsultan pengawas dan pihak PT. Jasa Marga untuk dikoreksi dan diperbaiki. Hal ini merupakan sesuatu yang cukup penting, mengingat bahwa pihak PT. Jasa Marga tidak mengizinkan adanya pekerjaan lanskap yang dilaksanakan pada siang hari yang diperkirakan akan menimbulkan kemacetan seperti pekerjaan pengiriman tanah, pada ruas Cengkareng. Perencaaan program mobilisasi dan mobilisasi yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam pekerjaan penanaman pada lanskap jalan tol, hal ini dikarenakan kondisi ruas jalan tol tidak memungkinkan kontraktor
57 untuk melakukan pemindahan material atau alat kerja dari satu jalur ke jalur jalan lainnya secara langsung. Penilaian terhadap kegiatan mobilisasi dan demobilisasi kontraktor dilakukan terhadap intensitas atau frekuensi distribusi alat dan material yang dilaksanakan oleh kontraktor setiap minggunya. 6.2.2. Pengadaan Kantor dan Gudang Lapangan Kantor dan gudang lapangan merupakan sarana kelengkapan yang dibuat oleh kotraktor yang berfungsi sebagai pusat korodinasi kontraktor dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. Adapun persyaratan minimal yang harus dipenuhi dalam mendirikan kantor dan gudang lapangan adalah : 1) memperhatikan dan mentaati peraturan PT. Jasa Marga dalam menempatkan dan melaksanakan pemasangan/instalasi bangunan kantor dan gudang lapangan 2) kantor dan gudang lapangan harus baik secara struktur, kedap terhadap cuaca dengan lantai yang lebih tinggi dari permukaan tanah. 3) dimensi bangunan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan pada masing-masing lokasi 4) kantor dan gudang lapangan harus dilengkapi dengan peralatan P3K dengan utilitas bangunan kantor ditentukan berdasarkan kebutuhan kontraktor menggunakan biaya sendiri Daerah kerja yang terdapat dalam kontrak kerja penataan lanskap jalan tol ini terbagi menjadi 3 (tiga) wilayah kerja, yaitu : lanskap jalan ruas Cengkareng, lanskap jalan ruas Jagorawi dan nurseri Cipinang yang letaknya berjauhan satu sama lain. Kondisi tersebut mengakibatkan kotraktor harus memiliki tempat yang dapat dijadikan sebagai kantor dan gudang lapangan pada masing-masing wilayah. Untuk daerah pekerjaan di Cengkareng, kontraktor tidak mendirikan kantor dan gudang lapangan (direksi kit) dan memilih untuk mengontrak pada rumah warga yang terletak disekitar Km-32. Pada area kerja ruas jalan tol Jagorawi, kontraktor mendirikan kantor dan gudang lapangan pada lahan kosong disekitar area kantor cabang dengan terlebih dahulu meminta persetujuan kepada pihak PT. Jasa Marga. Lokasi ini dipilih karena pertimbangan ukurannya yang cukup luas, tersedia utilitas eksisting seperti saluran air bersih dan listrik yang dapat dimanfaatkan oleh kontraktor, memiliki aksesibilitas yang baik dan tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan tol. Namun bangunan yang
58 digunakan tidak memenuhi standar yang telah ditentukan, bangunan hanya berupa tenda darurat yang dapat digunakan oleh pekerja untuk beristirahat pada malam hari. Keterbatasan anggaran merupakan alasan utama kontraktor untuk tidak membangun kantor dan gudang lapangan sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan. Sedangkan pada area pekerjaan nurseri Cipinang, kontraktor menyewa bangunan pengelola milik PT. Jasa Marga. Kantor dan gudang lapangan pada lanskap jalan tol ruas Jagorawi dan nurseri dapat dilihat pada Gambar 18. Gambar 18. Kantor dan gudang sementara pekerjaan lanskap ruas Jagorawi 6.2.3. Pengadaan Penampungan Tanaman (nurseri) Sementara Penampungan tanaman (nurseri) sementara merupakan lokasi yang digunakan dalam proses aklimatisasi untuk membantu tanaman agar dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Lokasi tempat penampungan (nurseri) sementara diusahakan tidak berada jauh dari lokasi pekerjaan, memiliki kondisi lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman, tidak mengganggu pengguna jalan tol dan mendapatkan persetujuan satgas pelaksana. Selain hal tersebut, tempat penampungan tanaman (nurseri) sementara juga digunakan sebagai lokasi penilaian yang dilakukan konsultan terhadap kualitas dan kuantitas dari masing-masing jenis tanaman yang akan ditanam. Pada awalnya, lokasi nurseri ditetapkan pada 2 (dua) lokasi berbeda, yang masing-masing berada dibawah pengelolaan PT. Jasa Marga. Lokasi tersebut yaitu pada nurseri Cipinang dan nurseri gerbang tol Kapuk. Namun, konsultan pengawas menyaranakan adanya lokasi penampungan tanaman lain selain dua lokasi tersebut. Lokasi penampungan tanaman sementara dapat dilihat pada Gambar 19.
59 Gambar 19. Lokasi penampungan tanaman (nurseri) sementara Adapun pertimbangan dalam penambahan lokasi tempat penampungan (nurseri) sementara antara lain dikarenakan: 1) luasan nurseri milik PT. Jasa Marga tidak mencukupi untuk menampung seluruh tanaman yang didatangkan oleh kontraktor, 2) lokasi nurseri yang diusulkan oleh pemberi kerja berada jauh dari lokasi pekerjaan akan dilaksanakan dan 3) keterbatasan armada pengangkutan yang dimiliki oleh kotraktor. Selain itu, lokasi yang disarankan juga memiliki kondisi lingkungan yang serupa dengan kondisi lokasi penanaman. 6.2.4. Pengadaan Keamanan dan Keselamatan Kerja Kelangkapan keamanan dan keselamatan kerja mencakup kelengkapan keamanan dan keselamatan yang digunakan oleh pekerja yang ada di lapangan. Kelengkapan tersebut antara lain : helm proyek, sepatu bot, rompi proyek dan perlengkapan P3K. Kondisi lingkungan di sekitar jalan tol, terutama suhu udara dan tingkat penyinaran yang tinggi menyebabkan kondisi udara tidak nyaman, sehingga menyebabkan para pekerja di lapangan enggan untuk menggunakan kelengkapan keselamatan kerja walaupun telah disediakan oleh kontraktor. Para pekerja mengeluhkan bahwa kelengkapan keselamatan tersebut menyebabkan mereka tidak nyaman dalam melaksanakan pekerjaan, terutama pada pelaksanaan pekerjaan pembuatan lubang tanam dan pekerjaan penanaman. Pada Gambar 20 dapat dilihat kondisi para pekerja di lapangan yang tidak dilengkapi dengan keselamatan dan keamanan kerja.
60 Gambar 20. Kondisi kelengkapan keselamatan para pekerja lapangan Rendahnya kesadaran terhadap keselamatan dan keamanan kerja merupakan hal yang sangat disayangkan dalam pelaksanaan pekerjaan lanskap jalan tol. Hal tersebut juga dapat dilihat dari perilaku tenaga kerja penanaman yang terkadang menyebrang secara langsung melalui jalan tol. Para pekerja beralasan tidak semua ruas jalan tol lokasi pekerjaan memiliki unit jembatan penyebrangan yang dapat digunakan oleh pekerja atau dalam upayanya mengalokasikan alat dan material menuju lokasi pekerjaan pada jalur jalan tol disebrangnya. 6.2.5. Pengaturan Lalu-lintas Pekerjaan pengaturan lalu lintas ditujukan untuk menjada kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. Hal ini dilakukan melalui pemasangan sejumlah rambu lalu-lintas, lampu, papan peringatan dan perlengkapan lainnya yang perlu sesuai dengan petunjuk satgas. Pengaturan lalu lintas pada jalan tol yang disediakan jalur pemisah (median) atau pada jalan yang lain dalam mana pekerjaan sedang dikerjakan, harus dilaksanakan untuk panjang tertentu dan Kontraktor dalam usahanya agar lalu lintas tetap lancar harus menyediakan sarana pemisah jalur berupa rubber cone dan sarana pengatur lalu-lintas lainnya. Kontraktor harus selalu mengusahakan dalam setiap pelaksanaan pekerjaannya, agar hambatan-hambatan, kesulitan-kesulitan dan kelambatankelambatan lalu lintas dihindari. Dalam pelaksanaan kerja, kontraktor sudah seharusnya atau bila konsultan pengawas menghendaki, maka kontraktor harus menyediakan tenaga/pekerja yang dialokasikan khusus untuk memberi tandatanda kepada lalu lintas agar kelancaran dan keamanan terjamin.
61 6.2.6. Pengadaan Foto Proyek Foto proyek merupakan dokumentasi terhadap setiap pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh kontraktor. Setiap jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor didokumentasikan kedalam dokumentasi foto proyek yang terdiri atas 3 (tiga) jenis dokumentasi, yaitu foto 0%, foto 50% dan foto 100%. Foto 0% merupakan kondisi awal dari lokasi pekerjaan sebelum adanya kegiatan sama sekali, foto ini juga dikenal dengan nama foto eksisting. Foto 50% merupakan foto kemajuan pekerjaan pada saat setengah rampung, sedangkan foto 100% adalah foto lokasi proyek setelah pekerjaan selesai. Setiap jenis foto tersebut diharuskan untuk diambil dengan menggunakan sudut pandang dan obyek yang sama. Dokumentasi tersebut digunakan sebagai materi kelengkapan pada laporan visualisasi terhadap hal-hal penting dalam pekerjaan dan merupakan kelengkapan didalam laporan visualisasi pada materi rapat mingguan, laporan bulanan yang diterbitkan oleh konsultan pengawas, dokumen penagihan kontraktor dan arsip PT. Jasa Marga. 6.2.7. Pengadaan Alat Bantu Kerja Alat bantu kerja yang dimaksudkan dalam pekerjaan ini adalah pengadaan sumber listrik yang diperlukan bagi pekerjaan di lapangan, terutama dalam kegiatan pekerjaan yang dilakukan pada malam hari. Pada pekerjaan ini, kontraktor tidak mengadakan kelengkapan listrik kerja pada pekerjaan malam hari. Pada ruas jalan tol Jagorawi, penerangan yang berasal dari lampu jalan dirasakan telah cukup memadai bagi para pekerja. Sedangkan pada ruas jalan tol Cengkareng, tidak ada pekerjaan yang dilaksanakan pada malam hari, kecuali pengiriman tanaman ke lokasi tanamnya. 6.2.8. Pembersihan Lahan Penanaman Kegiatan pembersihan lahan mencakup pekerjaan pengelupasan permukaan tanah (peeling) dari rumput atau tanaman eksisting yang tidak termasuk dalam rencana atau Gambar kerja untuk memungkinkan pekerjaan pengolahan tanah dan pembuatan lubang tanam pada lokasi tertentu. Dalam pekerjaan pembersihan lahan, puing, sampah dan batu yang ada kerja dibersihkan dan dikeluarkan dari lokasi pekerjaan. Pembersihan lahan
62 penanaman hanya dilaksanakan pada areal kantor cabang dan median yang terdapat di sekitar gerbang bandara Soekarno-Hatta. Gambar 21. Pekerjaan pembersihan lahan penanaman 6.2.9. Pekerjaan Pematokan Lubang Tanam Pekerjaan pematokan lubang tanam dilaksanakan untuk menentukan titik tanam yang akan dijadikan sebagai acuan dalam pematokan titik tanam berikutnya. Pada Gambar 22 dapat dilihat pekerjaan pematokan lubang tanam acuan. Gambar 22. Pekerjaan pematokan lubang tanam pada ruas Cengkareng yang didampingi oleh konsultan pengawas Pematokan lebih diutamakan untuk menentukan lokasi titik tanam tanaman pohon dan palm, sedangkan untuk tanaman semak dan groundcover pematokan hanya dilakukan terhadap area penanamannya. Penilaian atau pembobotan terhadap pekerjaan pematokan lubang tanam didasarkan pada
63 jumlah lubang tanam yang telah ditentukan (dipatok). Data pematokan diperoleh dari laporan harian yang dilaporkan oleh para pekerja di lapangan setelah diperiksa ulang oleh konsultan pengawas. Alat dan bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah patok bambu, martil, blencong dan meteran gulung. Pematokan lubang tanam dilakukan terhadap seluruh jenis tanaman. Dalam menentukan titik lubang tanam acuan, para pekerja lapangan didampingi oleh anggota konsultan pengawas, sedangkan setelah ditetapkan titik lubang tanam acuan maka pekerjaan pematokan selanjutnya diserahkan kepada pekerja di lapangan. 6.2.10. Pengadaan Penopang Bambu Penopang digunakan untuk menyokong posisi tanaman agar dapat berdiri dengan baik pada tempat penanamannya yang baru. Penggunaan penopang merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman baru pada tempat-tempat yang memiliki intensitas dan kecepatan angin yang dapat menyebabkan tanaman baru (transplanting) tumbang. Sedangkan untuk tanaman pada lokasi yang tidak memiliki angin yang kuat atau intensif, penggunaan penopang tanaman merupakan hal yang tidak disarankan. Penopang yang digunakan dalam pekerjaan adalah bilah bambu dengan ukuran panjang 1,5 m dan diameter ± 8 cm. Sedangkan tali yang digunakan untuk mengikat penopang digunakan tali ijuk dan tali rafia. Ketentuan pemasangan penopang pada masing-masing tanaman dapat dilihat pada Lampiran 20. Jumlah penopang yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini adalah sebanyak 9.375 bilah bambu yang digunakan pada 3.245 tanaman yang terdiri atas pohon dan palm. Setiap tanaman diberikan satu set penopang yang terdiri dari bambu penyangga sebanyak 3 buah yang diikat dengan menggunakan tali rafia atau tali lainnya yang diperkirakan akan mengalami dekomposisi. Penilaian atau pembobotan terhadap pekerjaan pengadaan penopang bambu didasarkan pada jumlah penopang yang telah dipersiapkan oleh kontraktor sesuai dengan jumlah tanaman yang akan dipasangkannya. Walaupun pemasangan penopang dengan menggunakan tali rafia merupakan hal yang tidak disarankan, namun dalam aplikasinya di lapangan kontraktor tetap menggunakan bahan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya operasional secara keseluruhan yang harus dikeluarkan pada kegiatan tersebut.
64 6.3. Pengawasan Pekerjaan Revitalisasi Nurseri Nurseri yang digunakan oleh kontraktor dalam melaksanakan kewajibannya dibagi atas dua macam bentuk, yaitu nurseri sementara dan nurseri permanen. Nuseri sementara adalah nurseri yang berupa tempat penampungan tanaman yang berada di lapangan sebelum dilaksanakannya penanaman terhadap tanaman tersebut, sedangkan nurseri permanen adalah nurseri milik PT. Jasa Marga cabang CTC yang terletak di daerah Cipinang atau tepatnya pada Km-1 jalan tol Cililitan dan bersebelahan dengan pool derek Jagorawi. Pekerjaan revitalisasi nurseri hanya dilakukan pada nurseri permanen dan tidak pada nurseri sementara. Kondisi eksisting nurseri Cipinang dapat dilihat pada Gambar 23. Gambar 23. Kondisi eksisting nurseri Cipinang Nurseri yang dimaksudkan dalam pekerjaan ini merupakan lokasi yang cukup luas dengan penataan dan fasilitas tertentu yang digunakan untuk memelihara dan mempersiapkan tanaman sehingga siap untuk dipindahkan dan ditanam ke lokasi dan tidak digunakan sebagai tempat perbanyakan tanaman sebagaiman fungsi nurseri pada umumnya. Fungsi nurseri dalam pekerjaan penataan lanskap jalan tol CTC adalah sebagai area aklimatiasasi, lokasi penilaian tanaman dan sebagai tempat penyimpanan semua peralatan dan bahan pembantu pemeliharaan yang berkaitan dengan kegiatan penanaman. Kegiatan revitalisasi nurseri mencakup sub-pekerjaan : 1) pembersihan lahan, 2) instalasi paranet dan tiang penyangga, 3) maintenance path paving, 4) pengadaan titik air, 5) pemangkasan terhadap pohon eksisting, dan 6) pembuatan lubang pengolahan kompos.
65 6.3.1. Pembersihan Lahan Pekerjaan pembersihan lahan yang dimaksudkan dalam pekerjaan ini adalah pemindahan tanaman eksisting yang merupakan tanaman tampungan milik PT. Jasa Marga cabang CTC ke lokasi lain di dalam nurseri tersebut sebagai bagian dari persiapan nurseri untuk menampung tanaman yang akan didatangkan oleh kontraktor untuk proses aklimatisasi. Kondisi nurseri setelah dikerjakannya pekerjaan pembersihan lahan dapat dilihat pada Gambar 24. Gambar 24. Kondisi nurseri setelah dilaksanakannya pekerjaan pembersihan lahan Dalam pekerjaan ini, kontraktor melaksanakan pemindahan tanaman ke lokasi sebelah Barat dari nurseri tersebut yang merupakan lahan kosong. Pekerjaan pemindahan tanaman dilakukan oleh 4 (empat) orang tenaga kerja, pekerjaan dimulai pada pukul 07.00 hingga selesai. Alat yang digunakan dalam pekerjaan tersebut hanyalah gerobak kayu. Gerobak kayu digunakan untuk memindahkan tanaman yang berukuran cukup besar, sedangkan tanaman yang berukuran kecil dipindahkan secara manual dengan cara mengangkat dan memindahkannya ke lokasi penampungan yang baru. Tanaman yang dipindahkan dalam pekerjaan itu antara lain : pangkas kuning, nusa indah, lidah mertua, palm kuning dan euphorbia. 6.3.2. Instalasi Paranet Dan Tiang Penyangga Modul kerangka yang digunakan dalam membentuk tiang penyangga pada nuseri Cipinang disesuaikan dengan bentukan nurseri yang memanjang ke arah Barat dengan luas area yang mampu digunakan sebesar ± 400 m 2. Untuk tiang penyangga digunakan pipa besi dengan diameter 10 cm dengan tinggi 3 m,
66 tiang tersebut kemudian dilas terhadap rangka atap besi sehingga menyerupai bentukan sebuah patio. Setelah rangka selesai dikerjakan, paranet kemudian dipasangkan dengan diikat menggunakan tali rafia. Paranet yang digunakan dalam pekerjaan ini memiliki kerapatan 50 %. Pada Gambar 25 dapat dilihat paranet dan tiang penyangga yang telah selesai didirikan oleh kontraktor pada lokasi nurseri Cipinang. Gambar 25. Pekerjaan pemasangan paranet dan tiang penyangga Pekerjaan pembuatan tiang penyangga dan instalasi paranet dilaksanakan pada malam hari selama 4 hari kerja. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaian pekerjaan ini disebabkan karena kontraktor hanya menyewa tenaga kerja pengelasan serta peralatannya pada malam hari. Pekerjaan pengelasan dimulai pada pukul 19.30 dan berakhir sekitar pukul 24.00. Pelaksanaan pekerjaan juga tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai dan hanya menggunakan lampu penerangan berupa senter. 6.3.3. Pemeliharaan Jalur Sirkulasi Pekerjaan pemeliharaan jalur sirkulasi (maintenance path paving) dalam pekerjaan ini pada dasarnya adalah pekerjaan pembersihan rutin. Tapak disekitar nurseri dijaga kebersihannya dengan melakukan penyapuan dan membuang sampah daun yang berada disekitar jalur sirkulasi utama. Tenaga kerja yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah 3 (tiga) orang tenaga kerja, sedangkan peralatan yang digunakan mencakup sapu lidi, pengki, dan gerobak kayu. Pekerjaan pemeliharaan jalur sirkulasi dapat dilihat pada Gambar 25.
67 Gambar 26. Pekerjaan pemeliharaan jalur sirkulasi 6.3.4. Pengadaan Titik Air Titik air yang terdapat pada nurseri Cipinang berupa keran air berjumlah 5 (lima) buah yang tersebar di dalam nurseri yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyiraman. Titik air yang ada pada nurseri Cipinang dapat dilihat pada Gambar 27. Gambar 27. Pekerjaan pengadaan tiitik air penyiraman 6.3.5. Pemangkasan Pohon Eksisting Pemangkasan pohon eksisting dilakukan untuk mempermudah instalasi tiang penyangga untuk pemasangan paranet. Pemangkasan hanya dilakukan pada tanaman-tanaman berukuran besar yang diperkirakan akan mempersulit
68 pemasangan paranet. Pekerjaan pemangkasan dapat dilihat pada Gambar 28. Gambar 28. Pekerjaan pemangkasan tanaman eksisting pada lokasi nurseri Cipinang Tanaman yang dipangkas dalam pekerjaan ini hanya dilakukan terhadap 3 (tiga) pohon besar yang ditujukan sebagai pemangkasan pengangkatan tajuk (crown raising). Pengangkatan tajuk adalah pemangkasan yang ditujukan untuk menghilangkan percabangan pohon yang terdekat dengan permukaan tanah untuk menciptakan ruang yang lebih luas. 6.3.6. Pembuatan Lubang Pengolahan Tanah Lubang pengolahan tanah merupakan lubang yang digunakan sebagai lokasi tempat penyampuran tanah dengan kompos atau pupuk kandang sebelum digunakan sebagai media tanam. Lubang pengolahan tanah yang digunakan dalam pekerjaan berukuran 3 x 9 x 1 m. Pekerjaan pembuatan lubang pengolahan tanah pada nurseri Cipinang dapat dilihat pada Gambar 29. Pekerjaan pembuatan lubang pengolahan tanah merupakan satu-satunya subpekerjaan revitalisasi nurseri yang dilakukan terpisah dan dilakukan sebelum pekerjaan revitalisasi nurseri dilakukan. Hal ini dikarenakan tanah hasil buangan dari pekerjaan tersebut kemudian digunakan sebagai tanah urugan pada pekerjaan penanaman. Dalam ketentuan BQ, kontraktor hanya diwajibkan untuk membuat sebuah lubang pengolahan tanah. Namun, untuk memenuhi kebutuhan dalam mendatangkan tanah urugan, kontraktor membuat dua buah lubang pengolahan tanah, dengan satu lubang tambahan dikhususkan sebagai tempat pengambilan tanah urugan.
69 Gambar 29. Pekerjaan pengadaan lubang pengolahan tanah 6.4. Pengawasan Pekerjaan Penanaman Dalam penanaman pada pekerjaan penataan lansksap jalan tol ruas CTC, terdapat beberapa ketentuan umum yang harus dipenuhi masing-masing jenis tanaman. Ketentuan tersebut menyangkut : kriteria dan kualitas tanaman, metode pemindahan, spesifikasi ukuran lubang tanam, pengolahan lahan dan persiapan media tanam, metode penanaman dan pemeliharaan pasca penanaman. 6.4.1. Pemeriksaan Kriteria dan Kualitas Tanaman Tanaman yang akan ditanam harus memiliki kesesuaian ukuran dan spesies sesuai dengan yang tercantum dalam daftar spesifikasi tanaman yang terdapat dalam rencana proyek. Tanaman yang telah ditempatkan di nurseri kemudian diperiksa terlebih dahulu oleh konsultan pengawas dan diberikan persetujuan atau penolakan terhadap kualitas tanaman yang diajukan tersebut. Tanaman yang akan digunakan harus berasal dari kebun pembibitan, dengan kualitas yang baik dan dalam kondisi tanaman telah tumbuh. Dalam hal ini, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari sub-kontraktor, tanaman yang ada diperoleh dari beberapa pengada yang berada di daerah Cipanas, Parung dan Jawa Tengah. Seluruh tanaman yang diambil dari pengada (sulplier) atau nurseri tanaman yang telah didatangkan ke lokasi kerja disarankan untuk tidak ditanam secara langsung dan perlu diadaptasikan (aklimatiasasi) dengan lokasi tanam berikutnya dengan cara menempatkan tanaman tersebut pada nurseri sementara yang berada di lapangan selama 3 hingga 7 hari.kegiatan pemeriksaan tersebut dapat dilihat pada gambar 30.
70 Gambar 30. Pemeriksaan tanaman yang akan digunakan dalam proyek Kriteria penilaian tanaman dilakukan melalui pemeriksaan secara visual dan pencacahan langsung. Penilaian secara visual dilakukan untuk menentukan kualitas tanaman, Agesta (2007) memberikan panduan penilaian secara visual dalam menentukan kualitas pohon yang baik, antara lain : 1) batang utama utama tidak memiliki cabang (berbentuk huruf Y), 2) memiliki ukuran bola akar cukup besar, 3) tidak dipotong untuk memenuhi spesifikasi yang ditentukan 4) secara visual bebas dari hama dan penyakit tanaman, 5) tidak terdapat luka pada batang utama dan 6) tanaman tidak berada di nurseri lebih dari 2 (dua) tahun, hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya akar yang membelit pembungkus bola akar. Penilaian juga dilakukan terhadap kuantitas tanaman dengan melakukan pencacahan terhadap jumlah tanaman yang telah ditempatkan di nurseri. Jumlah tanaman yang didatangkan oleh kontraktor harus sesuai dengan ketentuan kotrak. Kontraktor melalui perwakilan dari pihak pengada (suplier) tanaman melakukan pengiriman tanaman ke lokasi nurseri secara bertahap dan disertai dengan bukti surat jalan yang ditandatangani oleh pengada (suplier) yang mengirimkan tanaman tersebut yang disetujui oleh perwakilan konsultan pengawas. Seluruh tanaman yang telah didatangkan kemudian direkap untuk kemudian dilihat kekurangan yang harus dipenuhi hingga mencapai jumlah seperti yang telah ditentukan. Tujuan dilakukannya penilaian terhadap tanaman tersebut adalah untuk memisahkan tanaman yang sesuai dengan tanaman yang tidak sesuai standar
71 spesifikasi kontrak. Tanaman yang tidak memenuhi spesifikasi atau tidak memiliki kualitas yang baik dipisahkan dan dikeluarkan dari lokasi tempat penampungan (nurseri) sementara. Tanaman tersebut tidak diizinkan untuk ditanam pada lokasi proyek. Visualisasi tanaman yang tidak diterima dan tidak diizinkan untuk ditanam dapat dilihat pada Gambar 31. Gambar 31. Visualisasi tanaman yang ditolak dalam pekerjaan penanaman 6.4.2. Metode Pemindahan Tanaman Pemindahan tanaman (transplanting) merupakan perlakuan pemindahan tanaman dewasa dari satu lokasi ke tanah pada lokasi yang berbeda (Anonim, 2006). Pemindahan tanaman (transplanting) dilaksanakan dikarenakan dua alasan utama, yaitu 1) untuk mendapatkan bentukan lanskap yang segera (instant) dan 2) lokasi yang dirancang atau direncanakan tidak memungkinkan penanaman dengan cara penyemaian (Agesta 2007). Tanaman yang akan mendapat perlakuan penanaman kembali (transplanting) disarankan untuk dipangkas pada ujung-ujung percabangannya. Mahkota pohon dipangkas hingga 40-50 %, tujuannya adalah untuk mengurangi laju evapotranspirasi, menciptakan struktur dan bentuk yang seimbang, mengurangi berat tanaman dan meminimalkan hambatan angin dalam proses pemindahan (Rurit, 2007). Dalam pekerjaan ini terdapat pekerjaan pemindahan tanaman yang dilakukan terhadap tanaman dewasa khususnya pohon dan palm.
72 Sebelum melaksanakan kegiatan pemindahan, kontraktor diminta untuk menjelaskan metode yang digunakan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari pelaksana penanaman di lapangan dan hasil pemeriksaan, metode pemindahan tanaman yang digunakan oleh kontraktor adalah metode sistem parit dan sistem bola akar. 1) Sistem parit Sistem pemindahan (transplanting) ini digunakan pada pohon berukuran besar. Dalam pekerjaan ini hanya diterapkan pada pohon ki hujan (Samanea saman). Sistem ini digunakan untuk mengisolasi sistem perakaran tanaman yang menyebar, membantu membatasi perkembangan akar sehingga akan membentuk sistem perakaran yang lebih menyatu. Caranya adalah dengan membuat parit di sekeliling tanaman yang akan dipindahkan, diameter lingkaran dibuat 2 hingga 3 kali dari diameter batang utama. Dalam pembuatan parit tersebut, akar tanaman dipotong. Setelah akar tanaman dipotong, parit yang sudah dibuat kemudian diisi dengan tanah yang dicampur pasir. Tanaman secara teratur disiram dan dipertahankan posisinya minimal selama 2 (dua) minggu sebelum dipindahkan. 2) Sistem bola akar Sistem bola akar merupakan lanjutan pekerjaan dari sistem parit. Pada masa ini, akar tanaman diangkat kepermukaan untuk dibungkus dengan menggunakan karung. Setelah selesai dibungkus, bola akar disiram dan didiamkan selama satu hari sebelum tanaman siap untuk dipindahkan. Dalam melakukan pengiriman tanaman berukuran besar seperti pohon dan palm, kontraktor melakukan pengiriman dengan jadwal yang telah diatur sedemikian sehingga tanaman tersebut tiba pada lokasi tanam pada malam hari. Tanaman yang dipindahkan harus benar-benar terlindung dan tertutup, untuk mencegah kerusakan tanaman tersebut pada pemindahan dari lokasi asal sampai ke nurseri. Tanaman tersebut tidak boleh diikat dengan tali atau kawat yang dapat mengakibatkan batang/cabang tanaman rusak dan patah. Untuk mencegah kerusakan perakaran, tanaman yang akan ditanam harus dalam polybag/pot. Polybag adalah kantong plastik dengan bentuk khusus yang dibuat guna membungkus akar dan ujung bagian bawah tanaman beserta tanah yang melekat padanya. Tanaman yang dimaksudkan adalah pohon atau perdu yang sedang dalam proses pemindahan untuk menuju penanaman akhir. Bahan plastik tersebut tidak mudah hancur baik di atas atau di dalam tanah. Walaupun
73 ketebalan bahan plastik polybag dapat ditembus oleh pertumbuhan akar pohon di dalam tanah, tetapi akar perdu tidak cukup kuat menembusnya. Polybag memiliki ciri-ciri berupa kantong berlubang yang memungkinkan air berlebihan di dalamnya dapat keluar sehingga tanaman dapat hidup. Polybag memiliki berbagai ukuran, sehingga ukuran polybag yang dipergunakan dipilih sesuai dengan ukuran besarnya akar dan tanah yang membutuhkannya. Bibit tanaman yang akan ditanam sampai di tempat penampungan (nurseri) senantiasa harus dalam keadaan sehat mulai dari akar, batang dan daun, serta pemilihan tanaman harus rata keadaannya baik tinggi tajuk maupun lebar tajuk. Semua jenis tanaman yang akan dipilih harus sesuai dengan ukuran yang diberikan dalam daftar kuantitas. Yang menjadi pedoman dalam penentuan jenis tanaman adalah nama latin atau botani dari tanaman tersebut. Untuk penyimpanan tanaman sementara, tanaman diletakkan pada tempat yang teduh di sekitar nurseri sementara dan disusun dalam bentuk bedeng dengan keadaan tanah datar dan telah dibersihkan. Tanaman yang telah didatangkan ke lokasi proyek disiram dan dipelihara hingga tiba wakktu penanaman. Di dalam tempat penampungan (nurseri sementara), pemeriksaan terhadap kondisi tanaman menyangkut pertumbuhan dan perkembangan dilakukan setiap minggu sekali selama tanaman tersebut belum ditanam. Tanaman yang mati atau yang tidak sesuai dengan spesifikasi dikeluarkan dari nurseri selambat-lambatnya 2 hari setelah pemeriksaan. 6.4.3. Spesifikasi Lubang Tanam Pengolahan tanah merupakan kegiatan awal dari rangkaian kegiatan penanaman. Dengan menerapkan metode pengolahan tanah yang baik, diharapkan tanaman akan memperoleh tempat dan media tanam yang menguntungkan bagi pertumbuhannya. Sebelum dilakukan pembuatan lubang tanam, setiap titik lubang tanam yang telah ditentukan oleh kontraktor dengan menggunakan titik acuan yang diberikan oleh konsultan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu. Peninjauan lapang sebelum dilakukan pembuatan lubang tanam dilakukan secara bersama-sama oleh konsultan dan kontraktor. Pemeriksaan lubang tanam dilakukan terhadap dimensi panjang, lebar dan kedalaman lubang. Lubang tanam yang tidak memenuhi spesifikasi lubang tanam tidak disarankan untuk
74 dilakukan penanaman hingga lubang tersebut diperbaiki hingga memenuhi ketentuan spesifikasi lubang tanam sebagaimana yang terdapat dalam Tabel 17 kecuali apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan. Faktor penghambat di lapangan yang tidak memungkinkan dibuatnya lubang tanam sesuai dengan ketentuan spesifikasi lubang tanam antara lain luas median atau damija lokasi penanaman yang tidak memungkinkan dan tinggi muka air tanah yang rendah. Tabel 17. Ketentuan ukuran lubang tanam UKURAN LUBANG GALIAN (M) NO NAMA LOKAL NAMA LATIN Panjang Lebar Kedalaman 1 Palem sadeng Livistona rotundifolia 1.0 1.0 1.0 2 Latania Latania sp. 1.0 1.0 1.0 3 Palem Jepang Ptycosperma macharthurii 0.6 0.6 0.6 4 Ki Hujan Samanea Saman 1.0 1.0 1.0 5 Bintaro Cerbera odolla, 1.0 1.0 1.0 6 Bunga kupu-kupu Bauhinia purpurea 1.0 1.0 1.0 7 Kamboja Plumeria rubra 1.0 1.0 1.0 8 Euginia Euginia oleana 0.5 0.5 0.5 9 Bunga Kertas Baugainvillea glabra 0.5 0.5 0.5 10 Thevetia Thevetia peruviana 0.5 0.5 0.5 11 Bunga Merak Caesalpinia pulcerrima 0.5 0.5 0.5 12 Bunga Mentega Nerium oleander Hanya dilakukan pengolahan 13 Bunga Mentega var Nerium oleander var. Hanya dilakukan pengolahan 14 Pandan Kuning Pandanus pygmeus Hanya dilakukan pengolahan 15 Pisang Hias Heliconia psittacorum Hanya dilakukan pengolahan 16 Nusaenda Mussaenda Hanya dilakukan pengolahan 17 Lili Air Mancur Hymenocallis speciosa Hanya dilakukan pengolahan 18 Euphorbia Euphorbia millii Hanya dilakukan pengolahan 19 Rumput paetan Axonopus compresus Hanya dilakukan pengolahan Kondisi tersebut terutama dijumpai pada lokasi penanaman jalan tol ruas Cengkareng yang pada umumnya didominasi oleh tanah rawa bakau (mangrove) yang memiliki ketinggian muka air tanah sangat rendah atau berada dekat dengan permukaan tanah. Untuk lokasi pembuatan lubang tanam yang tidak dapat memenuhi ketentuan, konsultan pengawas memberikan sejumlah alternatif cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut, antara lain : 1) Memindahkan lokasi titik tanam ke lokasi lain 2) Membuat lubang tanam yang ditinggikan Ukuran lubang tanam yang relatif besar bagi tanaman pohon dan palm ditujukan untuk memberikan media tanam yang baik bagi tanaman. Setelah pembuatan lubang tanah selesai, lubang tanam disarankan untuk dibiarkan
75 selama 3 (tiga) hingga 1 (satu) minggu untuk mendapatkan aerasi yang baik. Pada Gambar 32 dapat dilihat proses pengerjaan lubang tanam. Gambar 32. Pekerjaan pembuatan lubang tanam Tanah hasil galian harus dibuang keluar tapak dan tidak diperkenankan digunakan kembali sebagai media tanam. Lubang tanam kemudian diisi kembali dengan menggunakan top soil dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Salah satu aspek teknis yang harus diperhatikan dalam penanaman di sepanjang lanskap jalan tol adalah lokasi titik tanam. Lokasi titik tanam, terutama tanaman berukuran besar harus ditanam pada lokasi-lokasi spesifik dengan mempertimbangkan aspek keamanan pengguna jalan dan kemudahan kegiatan pemeliharaan dimasa yang akan datang, sedangkan aspek lain yang juga harus diperhatikan mencakup ukuran lubang penanaman dan kondisi lahan eksisting. Sedangkan ukuran lubang tanam yang digunakan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman pada awal masa adaptifnya terhadap lingkungan yang baru. Polomsky (2005) mengatakan bahwa ukuran lubang tanam berpengaruh besar pada posisi tanaman terhadap muka air tanah serta efisiensi penyiraman tanaman. Pada tanah yang memiliki drainase tanah yang baik,
76 lubang penanaman sebaiknya tidak digali lebih dalam dari ketinggian bola perakaran. Meletakan pohon pada tanah yang terlalu gembur akan mengakibatkan tenaman tenggelam lebih dalam ke dalam tanah. Pada tanah berdrainase baik, lubang penanaman sebaiknya memiliki ukuran dua hingga lima kali lebih lebar dari ukuran bola akar. Akar akan tumbuh lebih cepat pada tanah yang gembur, yang akhirnya akan mempercepat waktu petumbuhan dan adaptasi tanaman pada tapak. Sedangkan pada tanah yang berdrainase kurang baik atau pada tanah yang telah mengalami pemadatan berat, tanaman sebaiknya ditempatkan lebih tinggi daripada ketinggian lubang penanaman aslinya hingga ketinggian 10 hingga 15 cm dari ketinggian tanah yang berada di sekelilingnya. 6.4.4. Metode Penanaman Metode penanaman yang diterapkan oleh para pekerja di lapangan dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu metode penanaman pada tanaman keras dan metode penanaman pada tanaman lunak. 6.4.4.1. Penanaman Tanaman Keras Tanaman keras yang dimaksudkan dalam pekerjaan penataan lanskap jalan tol ruas Cawang Tomang Cengkareng adalah semua jenis tanaman berkayu atau tanaman berkambium dengan tinggi tanaman 50 cm atau lebih. Jenis tanaman ini mencakup semua jenis palm, pohon dan perdu yang ada dalam dokumen daftar harga, kuantitas dan kualitas kerja (Bill of Quantity). Penanaman tanaman keras dilakukan setelah lubang tanam dan media penanaman telah tersedia dan siap untuk digunakan. Metode penanaman untuk tanaman keras yang digunakan oleh para pekerja di lapangan adalah sebagai berikut : 1) Tanaman dimasukkan ke dalam lubang yang tersedia dengan kondisi tetap dalam pembungkus akar (pada tanaman yang menggunakan karung goni). Apabila pembungkus bola akar terbuat dari bahan lain, terutama bahan yang tidak dapat terdekomposisi seperti plastik maka pembungkus bola akar dibuka terlebih dahulu 2) Sebelum dilakukan pengurugan, dilakukan beberapa tindakan antisipasi seperti pengaplikasian fungisida pada lubang tanam dan penggunaan zat perangsang akar disekitar bola akar
77 3) Setelah tanaman ditempatkan pada lubang tanam, kemudian lubang diisi kembali sampai melebihi batas permukaan tanah, tetapi tidak melebihi leher akar 4) Disekitar lubang tanam dibuat cekungan sebagai media untuk menampung air agar tidak melimpah keluar 5) Setelah lubang tanam diurug dengan menggunakan media tanamnya, maka batang pohon diberikan penguat tanaman atau penopang dan diikat dengan kuat menggunakan ijuk atau tali organik lainnya Seluruh tanaman keras yang digunakan dalam pekerjaan ini diharuskan untuk dilengkapi dengan penopang untuk menjaga posisi tanaman tetap berdiri dengan tegak. Metode pemasangan penopang yang diterapkan oleh para pekerja lapangan merupakan salah satu hal yang diperhatikan oleh konsultan pengawas. Umumnya, penopang dipasang dengan bentuk penyangga kaki tiga (tripod) dengan batang utama tanaman berada di pusat pemasangan penopang. Metode pemasangan seperti ini pada umumnya digunakan pada area dengan intensitas angin yang cukup kuat (Hillock dan Schenelle, 2008), namun dapat merusak dan melukai batang utama tanaman apabila tidak diaplikasikan dengan benar. Metode penanaman dan pemasangan penopang tanaman yang baik dapat dilihat pada Gambar 33. Kayu atau bambu ditancapkan dengan jarak lebih besar dari diameter lubang tanam Tali pengikat Cekungan air Diameter lubang dibuat 1.5-2x lebar tajuk Gambar 33. Metode penanaman dan pemasangan penopang tanaman yang ideal
78 Pemasangan penopang seperti ini tidak akan melukai batang maupun akar tanaman sekaligus memberikan ruang yang cukup bagi tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik (Hillock dan Schenelle, 2008). Namun, metode pemasangan seperti ini akan memerlukan biaya dan waktu lebih dibandingkan dengan pemasangan menggunakan metode tripod. Kesalahan yang umum dijumpai pada pekerjaan pemasangan penopang antara lain : 1) Penggunaan material yang tidak sesuai Pada pemeriksaan terhadap material, didapatkan bahwa penopang yang digunakan pada tanaman tidak seluruhnya sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Sedangkan tali yang digunakan oleh kontraktor adalah tali rafia yang tidak disarankan oleh konsultan pengawas. 2) Metode pemasangan yang kurang baik Di lapangan banyak dijumpai metode pemasangan penopang yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada pada Gambar kerja. Pada beberapa lokasi pekerjaan, ditemukan bahwa kontraktor hanya menggunakan dua buah penopang pada masing-masing pohon. Hal ini kemudian diperburuk dengan kondisi penopang yang tidak ditancapkan dengan baik sehingga terdapat sejumlah tanaman yang rubuh. 6.4.4.2. Penanaman Tanaman Lunak Sedangkan tanaman lunak yang dimaksudkan adalah semua jenis tanaman selain tanaman keras yang akan digunakan pada pekerjaan penanaman. Tanaman yang termasuk ke dalam kategori tanaman lunak adalah semak, rumput dan tanaman penutup tanah (groundcover). Rumput merupakan tumbuhan yang menutup tanah yang mempunyai kemampuan bertahan pada kondisi pemangkasan dan pemakain yang teratur. Turgeon (1980) menyatakan rumput ini sebagai rufgrass. Sedangkan tanaman penutup tanah (groundcover) adalah tanaman rendah dengan tingkat persebaran dan kerapatan tanaman yang relatif tinggi. Tanaman penutup tanah (groundcover) umumnya digunakan sebagai tanaman perintis (pioner) untuk mengatasi permasalahan pada lahan yang sulit ditanami dengan menggunakan pohon atau tanaman berukuran besar. Adapun permasalahan yang dapat diatasi dengan menggunakan penanaman dengan menggunakan tanaman penutup tanah (groundcover) mencakup : 1) Kontrol erosi pada lahan dengan kemiringan yang curam
79 2) Daerah naungan di bawah pohon atau semak. 3) Pada lokasi dimana perakaran tanaman berada dekat dengan permukaan sehingga tidak memungkinkan penanaman dengan menggunakan tanaman lain 4) Pada lokasi yang sangat lembab atau sangat kering Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam melakukan penanaman tanaman penutup tanah adalah pekerjaan persiapan tanah yang ditujukan untuk membersihkan area penanaman dari gulma. Hal ini disebabkan karena banyak dari jenis tanaman penutup tanah memiliki tingkat kompetisi yang rendah terhadap gulma (Kluepfel, 2001). Dalam pekerjaan penanaman rumput, penanaman dilakukan dengan menggunakan sistem sodding (titik tanam). Setelah penanaman selesai dilakukan, permukaan tanah tempat penanaman kemudian dipadatkan dengan cara diinjak atau dipukul-pukul dengan potongan balok untuk merapikan permukaan tanah, setelah itu tanah disiram. Dalam penanaman tanaman dengan menggunakan cara seperti ini, harus memperhatikan sistem perembesan dan pengaliran air ke dalam tanah. Sedangkan untuk tanaman semak atau perdu, lubang tanaman diisi dengan tanah subur / top-soil yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang sudah matang (berumur 2 bulan) dan pasir dengan ukuran perbandingan campuran top soil 0,04 m³ - 0,144 m³/pohon, pupuk kandang / kompos 10 kg, pasir sebanyak ± 0,004 m³ s/d 0,048 m³ /lubang tanam pohon dan tanah merah yang dicampurkan secara merata pada tempat terpisah sehingga masing-masing lubang tanam tertimbun dengan baik. Tanah kemudian dipadatkan dengan cara diinjak atau dipukul-pukul dengan menggunakan cangkul atau papan. Pupuk yang dipakai sebagai media tanam adalah pupuk kandang yang mempunyai kriteria sebagai berikut : 1) berasal dari kotoran hewan sapi, kerbau, atau kambing yang sudah mengalami pelapukan dimana kotoran sudah menjadi tanah 2) tidak berbau kotoran dan lebih ringan dari tanah biasa 3) berwarna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan dan keabu-abuan 4) terbebas dari hama atau gulma Sebelum diisi dengan tanah, dasar lubang diberi furadan/pembasmi rayap, dengan dosis 20 gram/m² atau sesuai petunjuk yang ada pada kemasan. Dalam pekerjaan ini, kontraktor disarankan untuk melakukan penggemburan terhadap tanah yang digunakan untuk pengurugan. Bongkahan yang terdapat pada saat
80 pengurugan menyebabkan terjadinya kerusakan pori-pori udara yang berada di dalam tanah disekitar bola akar dan dapat menghambat pertumbuhan sistem perakaran dan kemampuan tumbuh tanaman (Polomsky, 2005). Untuk proses penanaman, tanaman ditempatkan pada lubang tanam dalam posisi berdiri tegak dan dengan kedalaman yang tepat, kemudian lubang tanam tersebut diurug hingga setengah lubang tanam di sekeliling bola akar terisi penuh. Penyelesaian penanaman dilakukan dengan pengisian lubang tanam dengan mengunakan tanah gembur yang dipadatkan secara ringan dengan melakukan penginjakan. 6.5. Pemeliharaan Pasca Tanam Kegiatan pemeliharaan pasca penanaman dilakukan untuk meningkatkan kemungkinan hidup tanaman setelah kegiatan pemindahan tanaman (transplanting). Kemungkinan hidup tanaman yang telah melalui proses pemindahan akan lebih besar ketika tanaman tersebut telah melalui masa shock nya. Kegiatan pemeliharaan pasca tanam yang dilaksanakan oleh kontraktor mencakup: pemupukan, penyiraman, pendangiran dan pemangkasan. 6.5.1. Pemupukan Pupuk yang digunakan dalam pemeliharaan pasca tanam adalah pupuk alami atau pupuk kandang. Digunakan pupuk kandang yang bermutu baik, yang telah melalui masa penimbunan selama minimum 6 (enam) bulan, sebagai campuran tanah gembur dengan penggunaan sebagai berikut : untuk 1 (satu) pohon digunakan 0,128 m 3 pupuk kandang dan untuk semak, perdu, penutup tanah digunakan 0,.2 m 3 per m 2 lubang tanam dan untuk rumput digunakan 0,1 m 3 per m 2 lokasi penanaman. Pupuk alami yang digunakan merupakan pupuk yang berasal dari sisa sisa pembusukan yang berasal dari hewan ataupun tanaman baik yang terjadi secara alamiah ataupun dengan bantuan manusia. Pupuk ini kemudian disebut sebagai pupuk kandang dan kompos. Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari hewan sedangkan kompos merupakan pupuk alami yang berasal dari tumbuhan. 6.5.2. Penjarangan Penjarangan hanya dilakukan terhadap tanaman penutup tanah (groundcover) sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan dengan tujuan untuk mengurangi kerapatan tanaman atau membuang bagian tanaman yang mati atau
81 terserang hama penyakit. 6.5.3. Penyiraman Walaupun pekerjaan penanaman dilaksanakan pada musim hujan, namun kontraktor harus tetap melakukan penyiraman terhadap setiap tanaman yang telah ditanam. Tanaman yang baru ditanam harus disiram sampai benarbenar basah perakarannya, atau diperkirakan minimum untuk setiap pohon membutuhkan air sebanyak 10 liter dan perdu sebanyak 3 liter dengan cara penyiraman yang dilakukan sedemikan rupa sehingga tanaman tidak rusak. Hal ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa walaupun pekerjaan penanaman dilaksanakan pada musim penghujan, namun hujan sangat jarang turun pada kedua ruas jalan tersebut. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh pengawas di lapangan, hujan hanya turun di daerah Jagorawi hanya sebanyak 6 (enam) kali dalam satu bulan kerja. Untuk penyiraman, harus digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali atau salinitas yang tinggi dan bahan-bahan organik lainnya yang dapat menyebabkan kematian tanaman. Untuk daerah penanaman di sekitar lokasi pekerjaan lanskap jalan tol Jagorawi, sumber air diperoleh dari sumur bor yang dibuat oleh kontraktor yang ditampung pada wadah penampungan air (water toren). Sedangkan untuk penyiraman pada lokasi pekerjaan lanskap jalan tol Cengkareng, sumber air diperoleh dari sungai di sekitar Bandara yang diangkut dengan menggunakan kendaraan tangki air. Jadwal penyiraman yang disarankan untuk dilakukan oleh kontraktor adalah sebagai berikut : 1) Minimal satu kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan rumput yang baru ditanam dan semua tanaman yang masih berada di tempat penampungan sementara 2) Penyiraman dilakukan sebelum pukul 10.00 (pukul 06.00 s/d 09.00) pada pagi hari atau sesudah pukul 15.30 (pukul 16.00 s/d 18.00) pada sore hari Tanaman disiram hingga diperkirakan tanaman tersebut telah tumbuh atau dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru Ketentuan yang diijinkan dalam melakukan kegiatan penyiraman adalah dengan cara sebagai berikut : 1) Penyiraman tersebut dapat dilakukan dengan cara menggunakan truk tangki air untuk lokasi yang mudah dijangkau. Sedangkan untuk lokasi
82 yang jauh dari jangkauan semprotan truk air, penyiraman dilakukan secara manual. Selama operasional truk air harus dilengkapi dengan lampu rotator sebanyak 2 (dua) buah yang ditempatkan diatas kap kendaraan serta dilengkapi rambu kerja yang cukup 2) Memakai alat khusus untuk menyiram tanaman seperti emrat yang memiliki lubang banyak pada ujung keluarnya air sehingga dapat menyebarkan air secara merata ke seluruh permukaan tanah yang disiram 3) Memakai slang air terbuat dari plastik yang dihubungkan dengan kran / sumber air yang terdekat. Penyiraman dilakukan dengan cara memancarkan air menggunakan nozzle atau sprinkler 4) Penyiraman dilakukan secara teratur terutama di musim kemarau bagi tanaman dan rumput yang baru ditanam dan juga bagi tanaman dalam tempat penampungan Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, terdapat ketentuan jumlah air minimal yang harus diberikan kepada setiap tanaman berdasarkan jenisnya masing-masing dan dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Jumlah air yang digunakan untuk penyiraman masing-masing tanaman NO NAMA LOKAL NAMA LATIN JUMLAH AIR 1 Palem sadeng Livistona rotundifolia 10 l/phn 2 Palem Jepang Ptycosperma macharthurii 10 l/phn 3 Latania Latania sp. 10 l/phn 4 Ki Hujan Samanea Saman 10 l/phn 5 Bintaro Cerbera odollam 10 l/phn 6 Bunga kupu-kupu Bauhinia purpurea 10 l/phn 7 Kamboja Plumeria rubra 10 l/phn 8 Thevetia Thevetia peruviana 10 l/phn 9 Euginia Euginia oleana 10 l/phn 10 Bunga Kertas Baugainvillea glabra 10 l/phn 11 Bunga Merak Caesalpinia pulcerrima 10 l/phn 12 Bunga Mentega Nerium oleander 10 l/m2 13 Bunga Mentega var Nerium oleander var. 10 l/m2 14 Pandan Kuning Pandanus pygmeus 10 l/m2 15 Pisang Hias Heliconia psittacorum 10 l/m2 16 Nusaenda Mussaenda 10 l/m2 17 Lili Air Mancur Hymenocallis speciosa 10 l/m2 18 Euphorbia Euphorbia millii 10 l/m2 19 Rumput paetan Axonopus compresus 10 l/m2
83 Selain penyiraman terhadap tanaman yang baru ditanam, kontraktor juga diharuskan untuk melakukan penyiraman terhadap seluruh tanaman yang berada di tempat penampungan (nurseri). Dalam melakukan pemeriksaan apakah jumlah air yang diberikan pada pekerjaan penyiraman yang dilakukan terhadap tanaman yang baru ditanam. Dalam melakukan pemeriksaan jumlah air yang diperlukan dalam penyiraman, konsultan pengawas menyarankan melakukan pemeriksaan terhadap kandungan air yang terjerap dalam tanah. Polomsky (2005) menyarankan melakukan pemeriksaan dengan cara sebagai berikut : pada minggu pertama setelah penanaman, buatlah lubang kecil pada bagian terluar lubang tanam dengan kedalaman setengah dari lubang tanam dari tanaman yang diperiksa. Hal ini dilakukan untuk mengambil sampel tanah dari lubang pemeriksaan tersebut. Apabila tanah yang diperoleh meneteskan air ketika diremas, maka penyiraman terlalu banyak, apabila tanah tersebut hancur maka penyiraman terlalu sedikit, namun apabila tanah tersebut tidak hancur dan tidak meneteskan air maka jumlah penyiraman diperkirakan telah sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan beberapa jam setelah penyiraman. Pemeriksaan ini merupakan cara yang mudah dan cepat tanpa memerlukan perlatan khusus untuk dilakukan. 6.5.4. Pemangkasan dan Perbaikan Pemangkasan dilakukan sebagai penyempurnaan dari pekerjaan penananaman (transplanting). Semua tanaman dapat dipangkas atau diperbaiki dari kerusakan-kerusakan akibat proses pemindahan tanaman atau proses yang terjadi selama penanaman dan masa adaptasi yang dibutuhkan oleh tanaman. Pemangkasan pada masing-masing tanaman dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak merubah bentuk dan sifat tanaman juga tidak mengakibatkan adanya perubahan terhadap desain secara keseluruhan. Bagian tanaman yang dipangkas merupakan bagian tanaman yang tidak berguna atau menyebabkan ketidak-indahan secara visual seperti bagian tanaman yang kering dan mati, bagian dengan pertumbuhan yang tidak merata (khusus pada tanaman penutup tanah) atau pada bagian yang terserang hama penyakit. Sedangkan pemangkasan bagian batang atau ranting (prunning) yang bertujuan untuk mengurangi shock tidak disarankan dilakukan pada tanaman yang telah ditanam (transplanting). Agesta (2007) mengatakan bahwa pemangkasan terhadap batang atau ranting tidak membantu mengurangi shock
84 pada tanaman yang mengalami pemindahan (transplanting). Shock pada tanaman pada umumnya lebih baik untuk diatasi dengan memberikan penyiraman yang cukup terhadap tanaman tersebut selama masa adaptifnya dengan melakukan penyiraman secara rutin dalam jumlah yang tepat. 6.5.5. Penyiangan/Pendangiran Pekerjaan penyiangan/pendangiran meliputi penggemburan tanah dan pembersihan tanaman/rumput liar/gulma di sekitar tempat tumbuh tanaman. Pelaksanaan pekerjaan penggemburan tanah harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak akar tanaman. Alat yang digunakan adalah alat khusus yang digunakan untuk pekerjaan penyiangan/pendangiran yaitu garpu, sekop dan blencong. Pekerjaan ini dilakukan sebulan dua kali secara terusmenerus, atau apabila media tanam telah ditumbuhi rumput. Kondisi media tanam disekitar tanaman diusahakan harus selalu bersih dan gembur. Tujuan dari kegiatan pendangiran adalah untuk membersihkan tanah yang terdapat di sekitar tanaman agar tidak ditumbuhi oleh gulma. Hal ini penting dilakukan terutama pada tanaman-tanaman baru untuk mengurangi tingkat persaingan dalam memperoleh nutrisi dari tanah. Seluruh tanaman dalam pekerjaan ini diupayakan untuk disiangi atau didangir minimal sekali dalam dua minggu, khususnya tanaman-tanaman lunak pada minggu awal setelah penanaman. 6.5.6. Pemupukan Awal Pada dasarnya, kegiatan pemupukan yang dimaksudkan dalam pekerjaan merupakan jenis pekerjaan yang termasuk pada masa perawatan. Pemupukan awal dilakukan pada tanaman yang telah tumbuh lebih kurang 3 bulan pasca tanam, karena penanaman awal tanah sudah diberi pupuk kandang maka pada pemupukan ini hanya berupa pupuk anorganik (KCl,NPK atau Urea) sesuai kebutuhan tanaman. Dosis yang diberikan sebanyak 25 gram/pohon atau 100 gram/m², sedangkan untuk perdu 40 gram/ m². Pemupukan ini diberikan secara taburan, yang ditaburkan pada keliling pokok tanaman dengan jarak 40 cm dari pokok tanaman yang sebelumnya, dibuatkan galian yang ditujukan khusus bagi pekerjaan pemupukan. Galian lubang pemupukan berukuran lebih kurang 10 cm mengelilingi tajuk pohon dengan jarak 60 cm atau sesuai dengan ukuran tajuk masing-masing tanaman.
85 Sebagai bahan pertimbangan dalam pekerjaan di masa mendatang, pohon atau palm yang dinyatakan sehat atau baik dan memenuhi syarat diberi keterangan tertulis yang diikatkan secara longgar pada masing-masing batang tanaman dengan menyebutkan jenis tanaman, nomor urut dan tanggal masuk. Keterangan berupa label tersebut dari kertas karton manila ukuran 5 x 10 cm yang dibungkus plastik dan digantung menggunakan tali rapia. Semua tanaman yang masuk atau keluar nurseri dicatat. Semua jenis tanaman yang ditanam harus berasal dari bedeng atau nurseri dan telah mendapat persetujuan pengawas. Pengiriman tanaman dari nurseri ke lokasi tanam dicatat pada label. Walaupun tidak ada penilaian khusus terhadap metode penanaman dan penanganan tanaman yang dilakukan oleh kontraktor selama masa penanaman, namun cara dan metode penanaman yang baik dan benar merupakan hal penting yang dapat menjamin keberlangsungan hidup tanaman terutama pada masa adaptifnya. Keberhasilan penanaman merupakan salah satu hal yang akan menjadi keuntungan bagi semua pihak, terutama kontraktor. Hal ini disebabkan kontraktor tidak diwajibkan untuk mengadakan penyulaman atau penggantian terhadap tanaman yang mati. 6.6. Pengawasan Pekerjaan Gerbang Tol Pekerjaan lanskap gerbang tol adalah pekerjaan pemasangan (instalasi) pot pada gerbang tol satelit Cililitan 2 dan gerbang tol Prof. Dr. Sedyatmo. Pot yang digunakan adalah pot dengan bentuk dan ukuran yang sesuai dengan gambar kerja yang terdapat pada Lampiran 21 dan merupakan pot pesanan khusus yang diadakan oleh kontraktor. Jumlah keseluruhan pot yang digunakan pada masing-masing gerbang tol adalah sebanyak 132 buah pot. 6.6.1. Kriteria Pemilihan Tanaman Tanaman yang akan digunakan pada masing-masing jenis pot pada awalnya tidak ditentukan oleh konsultan perencana. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada pemilik (PT. Jasa Marga) dan kontraktor dalam menentukan jenis tanaman yang ingin digunakan. Dalam pelaksanaannya, kontraktor diberi kebebasan penuh oleh satgas pelaksana untuk menentukan jenis tanaman yang hendak digunakan asalkan telah mendapat persetujuan.
86 Dalam menentukan jenis tanaman yang hendak digunakan, kontraktor meminta masukan kepada konsultan pengawas untuk menentukan jenis tanaman serta disain penanaman yang dilakukan pada rapat koordinasi minggu- 2 (dua). Dalam rapat koordinasi minggu-3 (tiga) konsultan pengawas memberikan usulan secara resmi beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan untuk masing-masing tipe pot dengan terlebih dahulu mendiskusikan hal tersebut secara terpisah dengan pihak pemberi tugas. Pertimbangan utama dalam pemilihan tanaman adalah dimensi ruang yang diperkenankan untuk digunakan di dalam pekerjaan penataan tanpa mengganggu aktifitas yang berlangsung pada gerbang tersebut. Tanaman yang dipilih untuk ditanam pada lokasi ini disarankan untuk tidak memiliki bentuk tajuk yang menyebar (irregular) dengan ukuran tinggi maksimal tanaman dewasa kurang dari 4 m dan tinggi keseluruhan pot beserta tanaman tidak boleh lebih tinggi dari 6 m. 6.6.2. Mekanisme Pekerjaan Pemasangan Pot Sebelum dapat dilaksanakannya pekerjaan instalasi pot pada gerbang tol, maka pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah pekerjaan pemindahan pot eksisting ke lokasi lain. Berdasarkan masukan dari satuan tugas (satgas), pot eksisting dipindahkan ke trotoar yang terdapat pada masing-masing gerbang tol lokasi pekerjaan. Selain untuk menghemat biaya (cost) yang harus dikeluarkan oleh kontraktor, kepala cabang PT. Jasa Marga juga menghendaki bahwa pot yang lama yang masih baik kondisinya untuk dapat dipergunakan kembali. Visualisasi pekerjaan instalasi pot dapat dilihat pada Gambar 34. Gambar 34. Pelaksanaan pekerjaan instalasi pot
87 Pekerjaan instalasi pot dan tanamannya pada gerbang tol hanya dapat dilakukan malam hari dengan menggunakan sistem buka tutup. Sistem buka tutup ini makskudnya adalah penutupan gerbang tol bagian terluar pada saat pekerjaan pengedropan pot ke lokasi pengumpul (dropping zone), sedangkan pemindahan pot beserta media tanam dan tanamannya ke lokasinya masingmasing dilakukan secara manual dengan menggunakan grobak atau dengan menggunakan kendaraan forklift, tergantung pada ukuran pot yang akan dipindahkan. Setelah pekerjaan pengedropan selesai dilakukan, gerbang tol kemudian dibuka kembali. Pada saat pot sudah berada pada lokasinya masingmasing, para pekerja kemudan memasang media tanam pada masing-masing pot. Penanaman baru dapat dilaksananakan pada malam berikutnya dengan menggunakan sistem yang sama. Tanaman yang pertama ditanam adalah tanaman utama, kemudian setelah dilakukan penambahan tanah dan pupuk kandang maka penanaman dilanjutkan dengan melakukan penanaman tanaman penutup. 6.7. Kegiatan Administrasi Konsultan Pengawas Kegiatan administrasi yang dilaksanakan oleh konsultan pengawas mencakup pekerjaan sebagai berikut : 01. Menyusun materi rapat mingguan dan notulennya, 02. Pelaporan hasil pengawasan berkala yang dilakukan bulanan dan 03. Penerbitan surat yang berkenaan dengan kemajuan (progress) pekerjaan dan perubahannya. Kegiatan administrasi kantor berkaitan dengan kegiatan manajemen informasi yang dilakukan oleh konsultan pengawas. 6.7.1. Penyusunan Materi Rapat Kegiatan rapat manajemen (mangement meeting) dilaksanakan setiap hari Kamis pukul 14.00 sampai dengan selesai di ruang rapat kantor PT. Jasa Marga cabang CTC yang dihadiri oleh perwakilan masing-masing pihak (stake holder) pelaksanaan pekerjaan. Permasalahan yang dijumpai di lapangan dijadikan sebagai bahan penyusunan materi rapat dan disampaikan dalam rapat tersebut untuk dicarikan jalan keluar yang terbaik. Dalam Tabel 19 dapat dilihat jadwal rapat manajemen yang diselenggarakan stake holder. Tabel 19. Jadwal pelaksanaan rapat manajemen (mangement meeting)
Tabel 19. Jadwal pelaksanaan rapat manajemen (mangement meeting) (lanjutan) 88 No Rapat Tanggal 1 Pra PCM 08 Nov 2007 2 PCM 15 Nov 2007 3 Rapat Koordinasi ke-1 22 Nov 2007 4 Rapat Koordinasi ke-2 29 Nov 2007 5 Rapat Koodinasi ke-3 06 Des 2007 6 Rapat Koordinasi 4 13 Des 2007 7 Rapat Koordinasi 5 19 Des 2007 8 Rapat Koordinasi 6 21 Des 2007 9 Rapat Koordinasi 7 27 Des 2007 10 Rapat Koordinasi 8 03 Jan 2008 11 Rapat Koordinasi 9 10 Jan 2008 Dalam rapat manajemen dibahas mengenai tingkat pelaksanaan pekerjaan dan hal-hal yang menghambat kemajuan pekerjaan di lapangan. Dalam rapat manajemen, informasi yang disebarkan kepada stake holder selanjutnya digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Selain rapat manajemen tersebut juga diadakan rapat tak resmi yang dilaksanakan dilapangan (kick-off meeting) yang dilakukan untuk membahas permasalahan aktual lapangan. 6.7.2. Penerbitan Surat Resmi Pada setiap surat yang diterbitkan oleh konsultan pengawas, akan dibuat salinan bagi masing-masing pihak yang terlibat dalam pekerjaan untuk dipergunakan sebagai arsip. Dalam Tabel 20 dapat dilihat daftar surat resmi yang dikeluarkan oleh konsutaln pengawas berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. Tabel 20. Daftar surat resmi yang diterbitkan oleh konsultan pengawas No Nomor surat Perihal 1 001/CTC-BNK/XI/2007 Pemasukan tanaman baru 2 002/CTC-BNK/XI/2007 Penerapan K3 3 003/CTC-BNK/XI/2007 Keterlambatan Progres Pekerjaan 4 004/CTC-BNK/XI/2007 Penyediaan Mobil Tangki Air 5 005/CTC-BNK/XI/2007 Penting, meliputi : Mobilisasi kontraktor
89 No Nomor surat Perihal Surat Kuasa GS Keterlambatan Progress (Kumulatif Deviasi : -13.088%) Laporan Harian Droping Tanaman Pematokan Pembuatan Lubang Tanam Mobilisasi Tangki AIr Tabel 20. Daftar surat resmi yang diterbitkan oleh konsultan pengawas (lanjutan) 6 006/CTC-BNK/XII/2007 Upaya Pencapaian Progress Minimal 50 % Sebelum Tanggal 27 Desember 2007 7 007/CTC-BNK/XII/2007 Pengantar Laporan Bulan November 8 008/CTC-BNK/XII/2007 Pengantar Laporan Bulan Desember 9 009/CTC-BNK/I/2008 Perkiraan Alokasi Waktu Droping Tanah Untuk Penanaman Lantana Pada Ruas Cengkareng 6.7.3. Penyusunan Laporan Bulanan Konsultan Pengawas Laporan bulanan merupakan salah satu bentuk kewajiban yang harus dilaksanakan oleh konsultan dalam mempertanggung jawabkan pekerjaan pengawasan secara berkala kepada pihak pemberi kerja (PT. Jasa Marga). Hal yang dilaporkan dalam laporan bulanan mencakup kemajuan (progress) pekerjaan kontraktor dan keterlambatannya baik dalam bentuk laporan tertulis maupun pada kurva-s ataupun segala hal yang berkaitan dengan perubahan kerja yang terjadi selama kurun waktu pengawasan. Laporan kegiatan pengawasan dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap, yaitu 1 rangkap laporan menggunakan hardcover dan 4 (empat) rangkap laporan menggunakan softcover dengan susunan laporan sebagai berikut : a) Sampul laporan (cover), b) Dafar isi, c) Bab 1. Rangkuman eksekutif, d) Bab 2. Organisasi proyek, e) Bab 3. Laporan kegiatan konsultan pengawas, f) Bab 4. Waktu proyek, g) Bab 5. Progres pekerjaan, h) Bab 6. Laporan visualisasi dan i) Lampiran. Laporan tersebut diserahakan kepada satuan tugas (satgas) selambatnya satu minggu setelah akhir setiap bulan pengawasan. Dalam menyerahkan hasil laporan bulanan, konsultan pengawas menerbitkan surat pengantar yang
90 ditujukan kepada pihak PT. Jasa Marga. Secara keseluruhan, laporan bulanan yang disusun dalam kegiatan pengawasan pekerjaan penanaman terdiri atas tiga buah laporan bulanan, yang dimulai dari laporan konsultan pengawas bulan Desember sampai dengan bulan Februari yang menandai diakhirinya pengawasan terhadap pekerjaan penanaman.