BAB IV ANALISIS DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS. 4.1 Data Teknis Data teknis yang diperlukan berupa data angin, data pasang surut, data gelombang dan data tanah.

BAB V PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

BAB V ANALISIS DATA. Tabel 5.1. Data jumlah kapal dan produksi ikan

BAB IV ANALISIS DATA

BAB IV ANALISIS DATA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4.1 Air Laut Menggenangi Rumah Penduduk

Perencanaan Bangunan Pemecah Gelombang di Teluk Sumbreng, Kabupaten Trenggalek

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. yang digunakan dalam perencanaan akan dijabarkan di bawah ini :

ANALISIS TRANSPOR SEDIMEN MENYUSUR PANTAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE GRAFIS PADA PELABUHAN PERIKANAN TANJUNG ADIKARTA

BAB VI PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN PANTAI

II. TINJAUAN PUSTAKA WRPLOT View (Wind Rose Plots for Meteorological Data) WRPLOT View adalah program yang memiliki kemampuan untuk

5. BAB V ANALISA DATA

Gambar 2.1 Peta batimetri Labuan

BAB VII PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN PELINDUNG PANTAI

BAB II STUDI PUSTAKA

3 Kondisi Fisik Lokasi Studi

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN PEMECAH GELOMBANG PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP

BAB III LANDASAN TEORI

Gambar 15 Mawar angin (a) dan histogram distribusi frekuensi (b) kecepatan angin dari angin bulanan rata-rata tahun

BAB III METODOLOGI 3.1. Tahap Persiapan 3.2. Metode Perolehan Data

BAB III METODOLOGI. 3.1 Tahap Persiapan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA DATA

ANALISIS KARAKTERISTIK GELOMBANG PECAH DI PANTAI NIAMPAK UTARA

STUDI KARAKTERISTIK GELOMBANG PADA DAERAH PANTAI DESA KALINAUNG KAB. MINAHASA UTARA

Erosi, revretment, breakwater, rubble mound.

KAJIAN KINERJA DAN PERENCANAAN PELABUHAN PERIKANAN MORODEMAK JAWA TENGAH

BAB III METODOLOGI 3.1 Diagram Alir Penyusunan Laporan Tugas Akhir

BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR

PERENCANAAN BANGUNAN PENGAMANAN PANTAI PADA DAERAH PANTAI MANGATASIK KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA

PENUNTUN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI FISIKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ada dua istilah tentang kepantaian dalam bahasa Indonesia yang sering rancu

3.2. SURVEY PENDAHULUAN

BAB IV METODOLOGI 4.1. TAHAP PERSIAPAN

BAB III METODOLOGI 3.1 PERSIAPAN PENDAHULUAN

3.1 PERSIAPAN PENDAHULUAN

BAB III METODOLOGI 3.1 PERSIAPAN PENDAHULUAN

KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 4 ANALISA HIDRO-OSEANOGRAFI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. - Sebelah Utara : Berbatasan dengan laut Jawa. - Sebelah Timur : Berbatasan dengan DKI Jakarta. Kabupaten Lebak.

PERENCANAAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI DI PANTAI PAL KABUPATEN MINAHASA UTARA

PREDIKSI PARAMETER GELOMBANG YANG DIBANGKITKAN OLEH ANGIN UNTUK LOKASI PANTAI CERMIN

KATA PENGANTAR Perencanaan Pelabuhan Perikanan Glagah Kab. Kulon Progo Yogyakarta

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum

BAB II KONDISI LAPANGAN

PERENCANAAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI PADA DAERAH PANTAI KIMA BAJO KABUPATEN MINAHASA UTARA

HIBAH PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS UDAYANA JUDUL PENELITIAN STUDI ANALISIS PENDANGKALAN KOLAM DAN ALUR PELAYARAN PPN PENGAMBENGAN JEMBRANA

BAB III METODOLOGI. 3.1 Persiapan

PERENCANAAN GROIN PANTAI TIKU KABUPATEN AGAM

ANALISIS STATISTIK GELOMBANG YANG DIBANGKITKAN OLEH ANGIN UNTUK PELABUHAN BELAWAN DIO MEGA PUTRI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II STUDI PUSTAKA. 2.1 Tinjauan Umum

BAB III DATA DAN ANALISA

BAB III METODOLOGI. 3.1 Diagram Alir Penyusunan Laporan Tugas Akhir

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN PELABUHAN PERIKANAN GLAGAH KAB. KULON PROGO YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II STUDI PUSTAKA

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORITIS

Bab III METODOLOGI PENELITIAN. Diagram alur perhitungan struktur dermaga dan fasilitas

DAFTAR ISI Hasil Uji Model Hidraulik UWS di Pelabuhan PT. Pertamina RU VI

BAB IV IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA DATA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rancu pemakaiannya, yaitu pesisir (coast) dan pantai (shore). Penjelasan mengenai

Perencanaan Layout dan Penampang Breakwater untuk Dermaga Curah Wonogiri

STUDI PENGARUH GELOMBANG TERHADAP KERUSAKAN BANGUNAN PANTAI HYBRID ENGINEERING DI DESA TIMBULSLOKO, DEMAK

ANALISIS KARAKTERISTIK TINGGI GELOMBANG EKSTREM DAN NILAI TRANSFOMRASI GELOMBANG PANTAI KUTA BALI. Muhamad Adi Nurcahyo, Engki A.

PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

PERENCANAAN REVETMENT MENGGUNAKAN TUMPUKAN BRONJONG DI PANTAI MEDEWI JEMBRANA

STUDI PERENCANAAN BANGUNAN JETTY UNTUK STABILISASI MUARA KUALA BEURACAN KABUPATEN PIDIE JAYA PROVINSI ACEH JURNAL

Gambar 1. Diagram TS

MODEL PREDIKSI GELOMBANG TERBANGKIT ANGIN DI PERAIRAN SEBELAH BARAT KOTA TARAKAN BERDASARKAN DATA VEKTOR ANGIN. Muhamad Roem, Ibrahim, Nur Alamsyah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS DIMENSI DAN KESTABILAN PEMECAH GELOMBANG PELABUHAN PERIKANAN LAMPULO BANDA ACEH

Oleh: Ikhsan Dwi Affandi

BAB III METODOLOGI. 3.1 Pengumpulan Data. Data dikelompokkan menjadi data primer dan data sekunder Data Primer

Pengertian Pasang Surut

STUDI PENGAMAN PANTAI DI DESA SABUAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

Oleh : Rodo Lasniroha, Yuniarti K. Pumpun, Sri Pratiwi S. Dewi. Surat elektronik :

KAJIAN BEBERAPA ALTERNATIF LAYOUT BREAKWATER DESA SUMBER ANYAR PROBOLINGGO

BAB VII PERENCANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERENCANAAN ELEVASI DERMAGA PERIKANAN STUDI KASUS PELABUHAN PERIKANAN TUMUMPA SULAWESI UTARA

PERENCANAAN DIMENSI GROIN MENGGUNAKAN MATERIAL BATU ALAM PANTAI PASIR BARU DISISI BARAT KABUPATEN PADANG PARIAMAN

Analisis Transformasi Gelombang Di Pantai Matani Satu Minahasa Selatan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJI ULANG DIMENSI DAN MATERIAL KONTRUKSI PEMECAH GELOMBANG METODE GROIN PADA KONTRUKSI AMPIANG PARAK PESISIR SELATAN

DESAIN DAN PERHITUNGAN STABILITAS BREAKWATER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG PADA PANTAI KUWARU, DUSUN KUWARU, DESA PONCOSARI, KECAMATAN SRANDAKAN, KABUPATEN BANTUL

EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA

4 HASIL. Gambar 4 Produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

ANALISIS STABILITAS BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG BATU BRONJONG

PERENCANAAN PEMECAH GELOMBANG PELABUHAN TNI AL PONDOK DAYUNG JAKARTA UTARA

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

Transkripsi:

BAB IV ANALISIS DATA 4.1.Tinjauan Umum Perencanaan pelabuhan perikanan Glagah ini memerlukan berbagai data meliputi: data angin, Hidro oceanografi, peta batimetri, data jumlah kunjungan kapal dan data jumlah produksi hasil tangkapan ikan. 4.2 Data Angin 4.2.1 Data angin bulanan Januari 2002 Desember 2006 Data angin yang diperlukan berupa data kecepatan dan arah angin yang didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika Cilacap, yaitu data bulanan angin Januari 2002 Desember 2006. Dari data tersebut kemudian dibuat penggolongan kecepatan berdasarkan jumlah kecepatan dan arah angin. Tabel 4.1 Data angin bulanan tahun 2002 2006 Tahun Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 2002 2003 2004 2005 2006 Kec (km/jam) 3,4 3,4 3,4 4,9 6,3 8,1 9,9 10,4 9,9 7,7 5,9 3,4 Arah S B TG TG TG TG TG TG TG TG TG TG Kec (km/jam) 4,9 4,1 4,9 6,7 6,1 9,5 9,0 9,0 11,7 8,5 5,4 4,1 Arah BD BD TG TG TG TG TG T TG TG TG TG Kec (km/jam) 4,0 4,0 4,1 5,9 5,4 7,2 8,5 10,3 11,9 9,0 6,5 4,3 Arah BD BD B TG TG TG TG TG TG TG TG TG Kec (km/jam) 4,1 4,9 4,9 5,0 7,4 6,8 9,2 9,2 9,9 6,5 4,5 Arah BD S S TG S TG TG TG TG TG TG BD Kec (km/jam) 2,6 2,5 2,6 3,0 3,4 5,8 5,4 6,3 4,1 4,0 3,9 2,9 Arah BL BD BD TG TG TG TG TG TG TG TG TG 1

Tabel 4.2 Penggolongan data kecepatan dan arah angin bulanan tahun 20022006 Kecepatan (km/jam) Arah angin dalam jumlah data U TL T TG S BD B BL Jumlah data 15 13 3 9 1 1 27 >510 1 27 1 29 >1015 4 4 Jumlah 1 44 4 9 1 1 60 Tabel 4.3 Prosentase kecepatan dan arah angin bulanan tahun 20022006 Kecepatan (km/jam) Arah angin (%) U TL T TG S BD B BL Jumlah (%) 15 21,66 5,00 15,00 1,67 1,67 45,00 >510 1,67 45,00 1,67 48,34 >1015 6,66 6,66 Jumlah 1,67 73,32 6,67 15,00 1,67 1,67 100,00 2

Dari tabel di atas dapat dibuat gambar windrose seperti pada gambar 4.1. U BL TL B 0 % 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% T BD TG S 15 km/jam 510 km/jam 1015 km/jam Gambar 4.1 Wind rose data angin bulanan tahun 20022006 3

Dari gambar Wind rose di atas dapat dilihat bahwa arah angin terbanyak adalah pada arah tenggara dengan prosentase 73,32 % kemudian disusul arah barat daya dengan prosentase 15,00 %, sedangkan kecepatan angin dominan terjadi pada interval 510 km/jam. Untuk perencanaan, arah angin yang dipakai adalah arah tenggara dan barat daya. 4.3 Data Hidro Oceanografi 4.3.1 Data Gelombang Tinggi gelombang (H) dan periode gelombang (T) dicari dengan cara perhitungan berdasarkan data angin dengan penentuan panjang Fetch. Panjang fetch ditentukan berdasarkan jarak titik tinjauan dengan daratan sekitarnya. Jarak ini diukur dengan sudut tertentu berdasarkan arah datangnya angin. Panjang fetch pada perencanaan ini diperhitungkan untuk tenggara dan barat daya. Data gelombang ini tidak diperoleh secara langsung, tapi berasal dari bangkitnya gelombang yang dipengaruhi beberapa faktor seperti di bawah ini: Kecepatan dan arah angin di permukaan laut Untuk arah dan kecepatan angin maksimum permukaan yang terjadi digunakan data angin bulanan tahun 20022006. Data tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 Data kecepatan dan arah angin maksimum tahun 20022006 Waktu kejadian Kecepatan Tahun Bulan Arah Km/jam m/dt 2002 Januari S 16,20 4,50 Februari B 18,00 5,00 Maret TG 14,40 4,00 April TG 18,00 5,00 Mei TG 16,20 4,50 4

Juni TG 19,80 5,50 Juli TG 21,60 6,00 Agustus TG 21,60 6,00 September TG 27,00 7,50 Oktober TG 18,00 5,00 November TG 18,00 5,00 Desember TG 12,60 3,50 2003 Januari BD 18,00 5,00 Februari BD 18,00 5,00 Maret TG 18,00 5,00 April TG 18,00 5,00 Mei TG 18,00 5,00 Juni TG 19,80 5,50 Juli TG 19,80 5,50 Agustus T 19,80 5,50 September TG 25,20 7,00 Oktober TG 25,20 7,00 November TG 21,60 6,00 Desember TG 27,00 7,50 2004 Januari BD 16,20 4,50 Februari BD 18,00 5,00 Maret B 16,20 4,50 April TG 16,20 4,50 Mei TG 21,60 6,00 Juni TG 27,00 7,50 Juli TG 27,00 7,50 Agustus TG 27,00 7,50 September TG 30,60 8,50 Oktober TG 27,00 7,50 November TG 25,20 7,00 5

Desember TG 25,20 7,00 2005 Januari BD 25,20 7,00 Februari SS 25,20 7,00 Maret TG 19,80 5,50 April S 18,00 5,00 Mei TG 16,20 4,50 Juni TG 18,00 5,00 Juli TG 23,40 6,50 Agustus TG 23,40 6,50 September TG 25,20 7,00 Oktober TG 25,20 7,00 November TG 21,60 6,00 Desember BD 23,40 6,50 2006 Januari BL 5,00 1,39 Februari BD 5,00 1,39 Maret BD 5,00 1,39 April TG 5,00 1,39 Mei TG 7,00 1,95 Juni TG 9,00 2,50 Juli TG 7,00 1,95 Agustus TG 10,00 2,78 September TG 6,00 1,67 Oktober TG 18,00 5,00 November TG 18,00 5,00 Desember TG 28,00 7,78 (Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Cilacap) 6

Fetch tenggara dan barat daya untuk data bulanan tahun 20022006 Feth yaitu panjang daerah pembangkitan gelombang dimana angin mempunyai kecepatan dan arah konstan. Fetch dapat dihitung dengan rumus: F eff= XiCosα Cosα Dimana: Xi = Panjang segmen yang diukur dari titik observasi gelombang ke ujung akhir fetch. α = Deviasi dari kedua sisi arah angin. F eff = Panjang fetch. 7

U B T S TG Gambar 4.2 Penentuan fetch tenggara dari titik observasi gelombang 8

Tabel 4.5 Panjang fetch efektif untuk arah tenggara dengan panjang fetch maks = 200 km No α Cos α Jarak ( x ) ( km ) x. Cos α g 42 0,743 f 36 0,809 e 30 0,866 d 24 0,914 c 18 0,951 11,2 10,651 b 12 0,978 200 195,6 a 6 0,995 200 199 0 0 1 200 200 A 6 0,995 200 199 b 12 0,978 200 195,6 C 18 0,951 200 190,2 d 24 0,914 200 182,8 E 30 0,866 200 173,2 F 36 0,809 200 161,8 g 42 0,743 200 148,6 13,512 1863,65 F eff xi. Cos α 1863,65 137,92 138 km Cos α 13,512 9

Tabel 4.6 Panjang fetch efektif untuk arah tenggara dengan panjang fetch maks = 400 km No α Cos α Jarak ( x ) ( km ) x. Cos α g 42 0,743 f 36 0,809 e 30 0,866 d 24 0,914 c 18 0,951 11,2 10,65 b 12 0,978 400 391,20 a 6 0,995 400 398,00 0 0 1 400 400,00 A 6 0,995 400 398,00 b 12 0,978 400 391,20 C 18 0,951 400 380,40 d 24 0,914 400 365,6 E 30 0,866 400 346,4 F 36 0,809 400 323,6 g 42 0,743 400 297,2 13,512 3702,251 F eff xi. Cos α 3702,251 273,99 274 km Cos α 13,512 10

U B T BD S Gambar 4.3 Penentuan fetch barat daya dari titik observasi gelombang 11

Tabel 4.7 Panjang fetch efektif untuk barat daya dengan panjang fetch maks = 200 km No α Cos α Jarak ( x ) ( km ) x. Cos α g 42 0,743 200 148,6 f 36 0,809 200 161,8 e 30 0,866 200 173,2 d 24 0,914 200 182,8 c 18 0,951 200 190,2 b 12 0,978 200 195,6 a 6 0,995 200 199 0 0 1 200 200 A 6 0,995 200 199 b 12 0,978 200 195,6 C 18 0,951 200 190,2 d 24 0,914 200 182,8 E 30 0,866 200 173,2 F 36 0,809 200 161,8 g 42 0,743 200 148,6 13,512 2702,4 F eff xi. Cos α 2702,4 200 km Cos α 13,512 12

Tabel 4.8 Panjang fetch efektif untuk barat daya dengan panjang fetch maks = 400 km No α Cos α Jarak ( x ) ( km ) x. Cos α g 42 0,743 400 297,2 f 36 0,809 400 323,6 e 30 0,866 400 346,4 d 24 0,914 400 365,6 c 18 0,951 400 380,4 b 12 0,978 400 391,2 a 6 0,995 400 398,0 0 0 1 400 400,0 A 6 0,995 400 398,0 b 12 0,978 400 391,2 C 18 0,951 400 380,4 d 24 0,914 400 365,6 E 30 0,866 400 346,4 F 36 0,809 400 323,6 g 42 0,743 400 297,2 13,512 5404,8 F eff xi. Cos α 5404,8 400 km Cos α 13,512 13

Perhitungan tinggi dan periode gelombang berdasarkan fetch dan UA Pada umumnya bentuk gelombang di alam adalah sangat kompleks dan sulit untuk digambarkan secara matematis karena ketidaklinieran,tiga dimensi dan mempunyai bentuk yang random. Beberapa teori yang ada hanya menggambarkan bentuk gelombang yang sederhana dan merupakan pendekatan gelombang alam. Disini, dalam perhitungan gelombangnya digunakan teori gelombang yang paling sederhana yaitu teori gelombang linier atau amplitudo kecil, yang pertama kali dikemukakan oleh Airy pada tahun 1845, dan selanjutnya disebut dengan teori gelombang Airy. Bangkitan gelombang yang ditimbulkan angin sebagai berikut: 1. Berdasarkan kecepatan maksimum yang terjadi tiap bulan (tabel 4.4) dicari nilai RL dengan menggunakan grafik hubungan antara kecepatan angin di laut dan di darat ( lihat gambar 4.4 ). Gambar 4.4 Hubungan antara kecepatan angin di laut di darat Misal: Arah Barat Daya, kecepatan angin 5,00 m/ det (kolom 4). Berdasarkan grafik didapat nilai RL=1,45 (kolom 5). 14

2. Hitung UW dengan rumus: UW = UL RL (Bambang Triatmodjo. 1996 hal.99) = 5,00 1,45 = 7,25 m/ det (kolom 6) 3. Hitung UA dengan rumus: UA = 0,71 UW¹ ²³ ((Bambang Triatmodjo. 1996 hal.99) = 0,71 7,25¹ ²³ = 8,118 m/ det (kolom 7) 4. Berdasarkan nilai UA dan besarnya fetch, tinggi dan periode gelombang dapat dicari dengan menggunakan grafik peramalan gelombang ( lihat gambar 4.5 ). Gambar 4.5 Grafik peramalan gelombang 15

Tabel 4.9 Perhitungan bangkitan gelombang akibat angin dan fetch tenggara dengan panjang fetch maks = 200 km Waktu kejadian Kec. UW UA Gelombang Arah RL UL Thn Bulan (m/ det) (m/ det) Tinggi Periode (m/ det) (m) (det) 1 2 3 4 5 6 9 10 2002 Januari S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 Februari B 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Maret TG 4,00 1,50 6,00 6,430 1,25 6,0 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Mei TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,55 6,5 Juli TG 6,00 1,34 8,04 9,219 1,7 6,7 Agustus TG 6,00 1,34 8,04 9,219 1,7 6,7 September TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Desember TG 3,50 1,52 5,32 5,550 1,15 5,9 2003 Januari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Maret TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Mei TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,55 6,5 Juli TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,55 6,5 Agustus T 5,50 1,38 7,59 8,589 1,55 6,5 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 1,7 6,7 Desember TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 2004 Januari BD 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Maret B 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 16

April TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 Mei TG 6,00 1,34 8,04 9,219 1,7 6,7 Juni TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 Juli TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 Agustus TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 September TG 8,50 1,20 10,20 12,354 2,3 7,4 Oktober TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,1 7,1 November TG 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 Desember TG 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 2005 Januari BD 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 Februari S 7,00 1,28 8,96 10,534 1,9 7 Maret S 5,50 1,38 7,59 8,589 1,55 6,5 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Mei S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,35 6,2 Juni TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Juli TG 6,50 1,36 8,84 10,360 1,8 6,9 Agustus TG 6,50 1,36 8,84 10,360 1,8 6,9 September TG 7,00 1,28 8,96 10,360 1,8 6,9 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,360 1,8 6,9 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 1,7 6,7 Desember BD 6,50 1,36 8,84 10,360 1,8 6,9 2006 Januari BL 1,39 1,88 2,613 2,313 0,95 4,1 Februari BD 1,39 1,88 2,613 2,313 0,95 4,1 Maret BD 1,39 1,88 2,613 2,313 0,95 4,1 April TG 1,39 1,88 2,613 2,313 0,95 4,1 Mei TG 1,95 1,78 3,471 3,281 0,95 4,1 Juni TG 2,50 1,70 4,25 4,208 0,95 4,1 Juli TG 1,95 1,78 3,471 3,281 0,95 4,1 Agustus TG 2,78 1,68 4,670 4,726 0,95 4,1 September TG 1,67 1,82 3,093 2,786 0,95 4,1 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,5 6,4 Desember TG 7,78 1,26 9,802 11,764 2,2 7,1 17

Untuk perencanaan bangunanbangunan pantai biasanya dipakai gelombang signifikan (Hs) yaitu H33 atau 1/3 nilai tertingi dari pencatatan gelombang yang telah diurut, begitu juga dengan periodenya. Sehingga tinggi dan gelombang signifikan yang dipakai berdasarkan fetch dan UA dengan n = 33,3 % X 60 = 20 data, yaitu : Tabel 4.10 Gelombang dan periode yang telah diurutkan ( berdasarkan fetch tenggara dan UA dengan panjang fetch maks = 200 km) Gelombang No Tinggi (m) Periode (s) 1 2,3 7,4 2 2,2 7,2 3 2,1 7,1 4 2,1 7,1 5 2,1 7,1 6 2,1 7,1 7 2,1 7,1 8 1,9 7 9 1,9 7 10 1,9 7 11 1,9 7 12 1,9 7 13 1,9 7 14 1,9 7 15 1,9 7 16 1,9 7 17 1,8 6,9 18 1,8 6,9 19 1,7 6,7 20 1,7 6,7 18

H 33 =( 2,3+2,2+2,1+2,1+2,1+2,1+2,1+1,9+1,9+1,9+1,9+1,9+1,9+1,9 +1,9+1,9+1,8+1,8+1,7+1,7): 20 = 2,01 m T 33 = ( 7,4+7,2+7,1+7,1+7,1+7,1+7,1+7+7+7+7+7+7+7 +7+7+6,9+6,9+6,7+6,7) : 20 = 7,06 detik 19

Tabel 4.11 Perhitungan bangkitan gelombang akibat angin dan fetch tenggara dengan panjang fetch maks = 400 km Waktu kejadian Kec. UW UA Gelombang Arah RL UL Thn Bulan (m/ det) (m/ det) Tinggi Periode (m/ det) (m) (det) 1 2 3 4 5 6 9 10 2002 Januari S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 Februari B 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Maret TG 4,00 1,50 6,00 6,430 1,7 6,5 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Mei TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,3 8,7 Juli TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,4 9,4 Agustus TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,4 9,4 September TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,9 11,5 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Desember TG 3,50 1,52 5,32 5,550 1,5 5,6 2003 Januari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Maret TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Mei TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,3 8,7 Juli TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,3 8,7 Agustus T 5,50 1,38 7,59 8,589 2,3 8,7 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,4 9,4 Desember TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,0 11,7 2004 Januari BD 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Maret B 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 20

April TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 Mei TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,4 9,4 Juni TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,0 11,5 Juli TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,0 11,5 Agustus TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,0 11,5 September TG 8,50 1,20 10,20 12,354 3,3 12,6 Oktober TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,0 11,5 November TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 Desember TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 2005 Januari BD 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 Februari S 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,7 Maret S 5,50 1,38 7,59 8,589 2,3 8,7 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Mei S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,9 7,4 Juni TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Juli TG 6,50 1,36 8,84 10,360 2,7 10,4 Agustus TG 6,50 1,36 8,84 10,360 2,7 10,4 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,6 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,8 10,6 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,4 9,4 Desember BD 6,50 1,36 8,84 10,360 2,7 10,4 2006 Januari BL 1,39 1,88 2,613 2,313 1,3 5,1 Februari BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,3 5,1 Maret BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,3 5,1 April TG 1,39 1,88 2,613 2,313 1,3 5,1 Mei TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,3 5,1 Juni TG 2,50 1,70 4,25 4,208 1,3 5,1 Juli TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,3 5,1 Agustus TG 2,78 1,68 4,670 4,726 1,3 5,1 September TG 1,67 1,82 3,093 2,786 1,3 5,1 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,2 8,3 Desember TG 7,78 1,26 9,802 11,764 3,1 12,0 21

Untuk perencanaan bangunanbangunan pantai biasanya dipakai gelombang signifikan (Hs) yaitu H33 atau 1/3 nilai tertingi dari pencatatan gelombang yang telah diurut, begitu juga dengan periodenya. Sehingga tinggi dan periode gelombang signifikan yang dipakai berdasarkan fetch dan UA dengan n = 33,3 % X 60 = 20 data, yaitu : Tabel 4.12 Gelombang dan periode yang telah diurutkan ( berdasarkan fetch tenggara dan UA dengan panjang fetch maks = 400 km) Gelombang No Tinggi (m) Periode (s) 1 3,3 12,6 2 3,0 11,5 3 3,0 11,5 4 3,0 11,5 5 3,0 11,5 6 3,0 11,5 7 3,0 11,5 8 3,0 11,5 9 2,8 10,7 10 2,8 10,7 11 2,8 10,7 12 2,8 10,7 13 2,8 10,7 14 2,8 10,7 15 2,8 10,7 16 2,8 10,7 17 2,7 10,4 18 2,7 10,4 19 2,7 10,4 20 2,4 9,4 22

H 33 =( 3,3+3,0+3,0+3,0+3,0+3,0+3,0+3,0+2,8+2,8+2,8+2,8+2,8 +2,8+2,8+2,8+2,7+2,7+2,7+2,4): 20 = 2,86 m T 33 = ( 12,6+11,7+11,7+11,7+11,7+11,7+11,7+11,7+10,7+10,7+10,7 +10,7+10,7+10,7+10,7+10,7+10,4+10,4+10,4+9,4): 20 = 11 detik 23

Tabel 4.13 Perhitungan bangkitan gelombang akibat angin dan fetch barat daya dengan panjang fetch maks = 200 Km Waktu kejadian Kec. UW UA Gelombang Arah RL UL Thn Bulan (m/ det) (m/ det) Tinggi Periode (m/ det) (m) (det) 1 2 3 4 5 6 9 10 2002 Januari S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 Februari B 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Maret TG 4,00 1,50 6,00 6,430 1,50 6,8 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Mei TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,90 7,5 Juli TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,0 7,7 Agustus TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,0 7,7 September TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Desember TG 3,50 1,52 5,32 5,550 1,70 6,6 2003 Januari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Maret TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Mei TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,90 7,5 Juli TG 5,50 1,38 7,59 8,589 1,90 7,5 Agustus T 5,50 1,38 7,59 8,589 1,90 7,5 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,0 7,7 Desember TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 2004 Januari BD 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Maret B 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 24

April TG 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 Mei TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,0 7,7 Juni TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 Juli TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 Agustus TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 September TG 8,50 1,20 10,20 12,354 2,8 8,5 Oktober TG 7,50 1,26 9,45 11,247 2,6 8,2 November TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 Desember TG 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 2005 Januari BD 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 Februari S 7,00 1,28 8,96 10,534 2,3 8,0 Maret S 5,50 1,38 7,59 8,589 1,9 7,5 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Mei S 4,50 1,48 6,66 7,313 1,65 7,0 Juni TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Juli TG 6,50 1,36 8,84 10,360 2,2 7,9 Agustus TG 6,50 1,36 8,84 10,360 2,2 7,9 September TG 7,00 1,28 8,96 10,360 2,2 7,9 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,360 2,2 7,9 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,0 7,7 Desember BD 6,50 1,36 8,84 10,360 2,2 7,9 2006 Januari BL 1,39 1,88 2,613 2,313 1,15 6,2 Februari BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,15 6,2 Maret BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,15 6,2 April TG 1,39 1,88 2,613 2,313 1,15 6,2 Mei TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,15 6,2 Juni TG 2,50 1,70 4,25 4,208 1,15 6,2 Juli TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,15 6,2 Agustus TG 2,78 1,68 4,670 4,726 1,15 6,2 September TG 1,67 1,82 3,093 2,786 1,15 6,2 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 1,85 7,4 Desember TG 7,78 1,26 9,802 11,764 2,7 8,4 25

Untuk perencanaan bangunanbangunan pantai biasanya dipakai gelombang signifikan (Hs) yaitu H33 atau 1/3 nilai tertingi dari pencatatan gelombang yang telah diurut, begitu juga dengan periodenya. Sehingga tinggi dan gelombang signifikan yang dipakai berdasarkan fetch dan UA dengan n = 33,3 % X 60 = 20 data, yaitu : Tabel 4.14 Gelombang dan periode yang telah diurutkan ( berdasarkan fetch barat daya dan UA dengan panjang fetch maks = 200 km) Gelombang No Tinggi (m) Periode (s) 1 2,8 8,5 2 2,7 8,4 3 2,6 8,2 4 2,6 8,2 5 2,6 8,2 6 2,6 8,2 7 2,6 8,2 8 2,3 8,0 9 2,3 8,0 10 2,3 8,0 11 2,3 8,0 12 2,3 8,0 13 2,3 8,0 14 2,3 8,0 15 2,3 8,0 16 2,3 8,0 17 2,2 7,9 18 2,2 7,9 19 2,0 7,7 20 2,0 7,7 26

H 33 = ( 2,8+2,7+2,6+2,6+2,6+2,6+2,6+2,3+2,3+2,3+2,3+2,3+2,3 +2,3+2,3+2,3+2,2+2,2+2,0+2,0): 20 = 2,45 m T 33 = ( 8,5+8,4+8,2+8,2+8,2+8,2+8,2+8,0+8,0+8,0+8,0+8,0+8,0 +8,0+8,0+8,0+7,9+7,9+7,7+7,7): 20 = 8,12 detik 27

Tabel 4.15 Perhitungan bangkitan gelombang akibat angin dan fetch barat daya dengan panjang fetch maks = 400 km Waktu kejadian Kec. UW UA Gelombang Arah RL UL Thn Bulan (m/ det) (m/ det) Tinggi Periode (m/ det) (m) (det) 1 2 3 4 5 6 9 10 2002 Januari S 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 Februari B 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Maret TG 4,00 1,50 6,00 6,430 2,0 7,9 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Mei TG 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,7 10,5 Juli TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,8 11,3 Agustus TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,8 11,3 September TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Desember TG 3,50 1,52 5,32 5,550 1,7 6,8 2003 Januari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Maret TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Mei TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Juni TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,7 10,5 Juli TG 5,50 1,38 7,59 8,589 2,7 10,5 Agustus T 5,50 1,38 7,59 8,589 2,7 10,5 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,8 11,3 Desember TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 2004 Januari BD 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 Februari BD 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Maret B 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 28

April TG 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 Mei TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,8 11,3 Juni TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 Juli TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 Agustus TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 September TG 8,50 1,20 10,20 12,354 3,8 15,1 Oktober TG 7,50 1,26 9,45 11,247 3,5 13,8 November TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 Desember TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 2005 Januari BD 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 Februari S 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 Maret S 5,50 1,38 7,59 8,589 2,7 10,5 April TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Mei S 4,50 1,48 6,66 7,313 2,3 8,9 Juni TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Juli TG 6,50 1,36 8,84 10,360 3,2 12,7 Agustus TG 6,50 1,36 8,84 10,360 3,2 12,7 September TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 Oktober TG 7,00 1,28 8,96 10,534 3,3 12,9 November TG 6,00 1,34 8,04 9,219 2,8 11,3 Desember BD 6,50 1,36 8,84 10,360 3,2 12,7 2006 Januari BL 1,39 1,88 2,613 2,313 1,6 8,0 Februari BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,6 8,0 Maret BD 1,39 1,88 2,613 2,313 1,6 8,0 April TG 1,39 1,88 2,613 2,313 1,6 8,0 Mei TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,6 8,0 Juni TG 2,50 1,70 4,25 4,208 1,6 8,0 Juli TG 1,95 1,78 3,471 3,281 1,6 8,0 Agustus TG 2,78 1,68 4,670 4,726 1,6 8,0 September TG 1,67 1,82 3,093 2,786 1,6 8,0 Oktober TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 November TG 5,00 1,45 7,25 8,118 2,5 9,9 Desember TG 7,78 1,26 9,802 11,764 3,7 14,4 29

Untuk perencanaan bangunanbangunan pantai biasanya dipakai gelombang signifikan (Hs) yaitu H33 atau 1/3 nilai tertingi dari pencatatan gelombang yang telah diurut, begitu juga dengan periodenya. Sehingga tinggi dan gelombang signifikan yang dipakai berdasarkan fetch dan UA dengan n = 33,3 % X 60 = 20 data, yaitu : Tabel 4.16 Gelombang dan periode yang telah diurutkan ( berdasarkan fetch barat daya dan UA dengan panjang fetch maks = 400 km ) Gelombang No Tinggi (m) Periode (s) 1 3,8 15,1 2 3,5 13,8 3 3,5 13,8 4 3,5 13,8 5 3,5 13,8 6 3,5 13,8 7 3,5 13,8 8 3,5 13,8 9 3,3 12,9 10 3,3 12,9 11 3,3 12,9 12 3,3 12,9 13 3,3 12,9 14 3,3 12,9 15 3,3 12,9 16 3,3 12,9 17 3,2 12,7 18 3,2 12,7 19 3,2 12,7 20 2,8 11,3 30

H 33 = ( 3,8+3,5+3,5+3,5+3,5+3,5+3,5+3,5+3,3+3,3+3,3+3,3+3,3+3,3 +3,3+3,3+3,2+3,2+3,2+2,8): 20 = 3,4 m T 33 = ( 15,1+13,8+13,8+13,8+13,8+13,8+13,8+13,8+12,9+12,9+12,9 +12,9+12,9+12,9+12,9+12,9+12,7+12,7+12,7+11,3): 20 = 13,2 detik Sehingga perhitungan tinggi dan periode gelombang berdasarkan fetch dan UA dengan 2 (dua) arah angin dominan dan 2 (dua) panjang fetch maksimum yang berbeda akan menghasilkan tinggi dan periode gelombang seperti tabel di bawah : Tabel 4.17 Hasil perhitungan Tinggi dan Periode Gelombang Arah Angin H(m) T(detik) Tenggara, dengan Panjang fetch maksimum 200 km Panjang fetch maksimum 400 km Barat Daya, dengan Panjang fetch maksimum 200 km Panjang fetch maksimum 400 km 2,01 2,86 2,45 3,4 7,06 11 8,12 13,2 31

Sebagai bahan referensi, dalam kaitan dengan pekerjaan pengendalian banjir Sungai Tipar, telah dilakukan pengukuran tinggi gelombang sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1989 dan 1992 oleh Puslitbang Air. Pengukuran tinggi gelombang pada tahun 1989 hanya dilakukan selama 4,5 bulan, sedang pada tahun 1992 dilakukan selama satu tahun (Maret 1992 sampai Februari 1993). Hasil analisis data gelombang tersebut dapat dilihat dalam Tabel 4.11., dengan distribusi arah gelombang adalah sebagai berikut: dari arah tenggara 12,39 %, arah selatan 65,79 % dan arah barat daya 21,82 %. Tabel 4.18 Data Frekuensi Gelombang Tinggi Gelombang Frekuensi H (m) 1989 (4,5 bln) 1992 (12 bln) 0,0 < 0,5 7,16 18,41 0,5 < 1,0 41,90 44,78 1,0 < 1,5 29,70 33,00 1,5 < 2,0 14,08 3,20 2,0 < 2,5 4,08 0,10 2,5 < 3,0 1,68 0,01 3,0 < 3,5 0,40 > 3,5 0,20 32

LAPORAN TUGAS AKHIR Berdasar hasil studi yang dilakukan oleh JICA (1989) pada pekerjaan pengamanan daerah pantai Bali, didapatkan data gelombang laut dalam di selatan pulau Jawa seperti tertera pada mawar gelombang yang terdapat dalam Gambar 4.6. Gambar 4.6. Mawar Gelombang dari US Army. Data gelombang tersebut didapat dari buku U.S. Navy Marine Climatic Atlas of the World volume 3 Indian Ocean (1976). Mawar gelombang tersebut dibuat berdasar data gelombang yang dikumpulkan selama 120 tahun. Dalam pekerjaan Java Flood Control Project pada tahun 1996, Sogreah melakukan kombinasi data yang diperoleh dari pengukuran gelombang oleh Puslitbang air untuk pekerjaan sungai Tipar dan data peramalan gelombang berdasar data angin di Cilacap, yang hasilnya adalah: 33

Tabel 4.19 Gelombang dengan periode ulang Kala Ulang (Tahunan) Tinggi gelombang (m) 1 2,1 10 2,6 25 2,8 50 3,1 Dari data gelombang US Army dan BCEOM, gelombanggelombang besar mempunyai periode gelombang antara 1015 detik(bambang Triatmodjo, hal 345,1999). Selanjutnya dalam perencanaan ini digunakan tinggi gelombang rencana sebesar Ho = 2,8 m dengan periode gelombang = 11 detik 34

Perhitungan tinggi gelombang pada kedalaman tertentu. Untuk perencanaan pemecah gelombang diperlukan data besarnya tinggi gelombang pada lokasi konstruksi (Bambang Triatmodjo, hal 73,1996), diperhitungkan juga terjadinya refraksi gelombang. Elevasi dasar adalah 12,0 m ( lihat lampiran ) dibawah muka air laut ratarata (LWL). Arah gelombang yang diperhitungkan dari tenggara (α = 45 0 ). Ho = 2,8 m dan T = 11 det. Panjang gelombang laut dalam : Lo = 1,56 x T 2 = 1,56 x ( 11 ) 2 = 188,76 m. d/lo = 12/ 188,76 = 0,064 Co = Lo / T = 188,76 / 11 = 17,16 m/dt. Untuk nilai d/lo, dengan tabel (A1,hal 269) didapat : d/l = 0,1082 L = 12/0,10821= 110,895 m. C = L / T = 110,895 / 11 = 10,081 m/dt. Arah datang gelombang pada kedalaman 12,0 m : Sin α 1 = (C / Co) sin α 0. = (10,081 /17,16) sin 45 0 α 1 = 24,52 0. Koefisien refraksi dihitung dengan rumus : Kr = (cosα 0 / cosα1) = 0,777 Dengan tabel (A1, hal 269) untuk d / Lo = 0,154 didapat : n 1 =0,8737 dan n 0 = 0,5 (laut dalam): Koefisien pendangkalan dihitung dengan rumus : Ks = n L / n ) ( 0. 0 1. L1 = 0,987 Maka tinggi gelombang pada kedalaman 12 m didapat : H 1 = Ks. Kr. Ho = 0,987 x 0,777 x 2,8 = 2,147 m. H 1 < H 0 35

Perhitungan tinggi dan kedalaman gelombang pecah. Kemiringan dasar laut diambil 0,005. Gelombang pada laut dalam Ho = 2,8 m dan T = 11 detik, Kr = 0,777 H o = Kr. Ho = 0,777 x 2,8 = 2,176 m. H o/g.t 2 = 2,176/ (9,81 x (11) 2 = 0,001833. Dari grafik ( lihat gambar 4.4 ),untuk nilai diatas dengan m = 0,005, diperoleh : Hb / H o = 1,6 Hb = 3,48 m. Gambar 4.7 Tinggi gelombang pecah 36

Menghitung kedalaman gelombang pecah : Hb /g.t 2 = 3,48/ (9,81 x (11) 2 = 0,00293 Dari grafik ( lihat gambar 4.5 ), untuk nilai diatas dengan m = 0,005, diperoleh : db / Hb = 0,96 ~ db = 3,341 m. Gambar 4.8 Kedalaman gelombang pecah dari perhitungan di atas didapat : Tinggi gelombang pecah (Hb) = 3,48 m. Kedalaman gelombang pecah (db) = 3,34 m. 37

4.3.2 Data Pasang Surut Didalam perencanaan pelabuhan diperlukan data pengamatan pasang surut minimal 15 hari yang digunakan untuk menentukan elevasi muka air rencana. Dengan pengamatan selama 15 hari tersebut telah tercakup satu siklus pasang surut yang meliputi pasang purnama dan pasang perbani. Pengamatan lebih lama (30 hari atau lebih) akan memberikan data yang lebih lengkap. Dalam perencanaan ini data pasang surut yang digunakan didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika Cilacap, yaitu data jam jaman JanuariDesember 2006. Dari data pasang surut akan dicari elevasi HHWL, MHWL, MSL, MLWL, dan LLWL. Dengan melihat hasil analisis data pasang surut yang diperhatikan dalam kurva tersebut ( lihat lampiran ), maka untuk perencanaan dermaga digunakan : Muka air tinggi tertinggi (HHWL) = 220 cm. Muka air tinggi rerata (MHWL) = 2510 = 210 cm 12 Muka air laut rerata (MSL) = 2700 = 112,5 cm 24 Muka air rendah rerata (MLWL) = 190 = 16 cm 12 Muka air rendah terendah (LWL) = 10 cm. Bila LLWL diasumsikan memiliki elevasi sebesar ± 0,00 maka didapat data : HHWL = + 220 10 = +210 cm MHWL = + 210 10 = + 200 cm MSL = + 112,5 10 = + 102,5 cm MLWL = + 16 10 = + 6 cm LWL = ± 0,00 38

Sebagai bahan referensi, yaitu pengukuran yang dilakukan dalam pekerjaan Pembuatan Detail Desain Pelabuhan Glagah (Pustek Kelautan, 2003). Pengukuran dilakukan di muara sungai Serang selama 17 hari dan dimulai pada tanggal 15 Mei 2003. Data pasang surut yang diperoleh dari pekerjaan tersebut mengaitkan hasil pengukuran di muara Sungai Serang dan pengamatan AWLR (Automatic Water Level Recorder) di Pelabuhan Sadeng.Hasil pengamatan pasang surut menghasilkan beberapa elevasi muka air berikut ini : HHWL = 215 cm MHWL = 165 cm MSL = 105 cm MLWL = 45 cm LLWL = 20 cm 4.4 Elevasi Muka Air Rencana Data Teknis : Tinggi gelombang (Ho) = 2,8 m Periode gelombang (T) = 11 detik Kemiringan dasar laut (m) = 0,005 Perhitungan wave set up : Tinggi dan kedalaman gelombang pecah dari perhitungan sebelumnya didapatkan Hb = 3,48m dan db = 3,34 m. Wave setup dihitung dengan rumus sebagai berikut : Sw = 0,19 [1 2,82 [ Hb / (g T 2 )] Hb = 0,19 [1 2,82 [3,48/ (9,81 x 7,06 2 )] 3,48 = 0,56 m. 56 cm. Pemanasan global ( SLR = sea level rise ) Pemansan global terjadi karena efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh gas gas seperti uap air, karbon dioksida, metana, nitrat oksida, dan ozon. Peningkatan konsentrasi gas gas tersebut diatmosfer menyebabkan kenaikan suhu bumi, dampak dari kenaikan suhu bumi ini adalah curah hujan cenderung meningkat dan mencairnya gunung gunung es di kutub, yang menimbulkan permukaan air laut cenderung meningkat. 39

Untuk memperkirakan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global pada tahun 2030 maka digunakan grafik (Bambang Triatmodjo, hal. 115,1996). Dari grafik tersebut diperkirakan kenaikan muka air laut pada tahun 2030 sebesar 20 cm. Dari perhitungan parameterparameter penentu DWL ( design water level ) maka untuk perencanaan Pelabuhan digunakan : DWL = HWL + wave set up + SLR = 210 + 56 + 20 = 286 cm Elevasi DWL = + 2,86 LLWL 40

4.5 Data Jumlah Kapal dan Jumlah Produksi Ikan Analisis data dilakukan terhadap aktifitas penangkapan ikan yang telah dilakukan di sepanjang garis pantai propinsi D.I.Y. Propinsi D.I.Y. memiliki pantai samudra Indonesia sepanjang ± 110 km yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat besar (Tabel 4.20). Jenis Ikan Tabel 4.20 Potensi lestari sumberdaya ikan di Samudera Indonesia Perikanan Pantai (1000 ton) Lepas Pantai dan Samudera Samudera Selatan Jawa Indonesia (1000 ton) (1000 ton) Pelagis kecil Demersial Tuna besar Cakalang Tongkol Tengiri Cucut Udang Penaeid Lobster Cumicumi 3,2 0,4 0,55 0,04 0,1 159,0 112,7 32,0 10,0 5,5 0,4 1,0 430,0 135,0 92,0 113,0 55,0 36,0 28,0 11,0 1,6 3,75 Jumlah 4,29 320,6 905,35 (Sumber:Pustek Kelautan 2001) Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Usaha penangkapan ikan masih tradisional dengan menggunakan perahu motor kecil, yang hanya dapat beroperasi di wilayah pantai. Sehingga diharapkan dengan pembangunan pelabuhan perikanan di daerah tersebut, nantinya dapat memicu perkembangan dalam usaha penangkapan ikan di daerah tersebut. Kegiatan penangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi angin dan gelombang. Pada musim gelombang besar dan angin kencang pada bulan Juni sampai Agustus kegiatan penangkapan ikan menurun atau nelayan tidak melakukan penangkapan ikan. Lokasi pendaratan ikan tersebar di lima pantai yaitu Pantai Terisik,Bugel,Glagah,Karangwuni dan Congot. Daerah yang 41

memiliki tempat pendaratan ikan masingmasing adalah Pantai Terisik, Bugel dan lokasi pendaratan ikan bersama di Pantai Karangwuni dan Glagah. Perencanaan dilakukan dengan melihat jumlah kapal yang ada, dan untuk produksi ikan perencanaan dilakukan dengan melihat produksi ikan di ketiga TPI diatas selama kurun waktu tiga tahun, dari trend perkembangannya dilakukan prediksi produksi ikan sampai 10 tahun kedepan. Kemudian data yang diperoleh digunakan sebagai acuan pada Perencanaan Pelabuhan Perikanan Glagah. 4.5.1 Jumlah Kapal Tabel 4.21 Jumlah kapal di ketiga tempat pendaratan ikan pada tahun 2000 Lokasi Jenis Jumlah kapal yang masuk Terisik KM 15 23 Bugel KM 15 10 GlagahKrngwuni KM 15 3 (Sumber : Pustek Kelautan 2001) Panjang kapal ratarata adalah 8m, dalam 1m dan lebar 1m dengan tambahan cadik pada sisi kiri dan kanan kapal dengan lebar ratarata 3m. Berdasarkan karakteristik sarana penangkapan ikan yang dimilikinya, usaha perikanan di daerah tersebut termasuk usaha perikanan skala kecil. Dalam perencanaan ini, pelabuhan direncanakan sebagai Pelabuhan Perikanan Pantai dengan kapasitas menampung kapal disesuaikan dengan PER.16/MEN/2006 yaitu fasilitas tambat sebesar 1030 GT dan kapasitas menampung kapal >300 GT (ekivalen dengan 30 buah kapal berukuran 10 GT). 42

4.5.2 Jumlah Produksi Ikan Tabel 4.22 Jumlah Produksi Ikan Tahun Jumlah Produksi Ikan (Kg) 1998 43.668 1999 66.238 2000 82.129 (Sumber : Pustek Kelautan 2001) Prediksi Jumlah Ikan Menggunakan Analisis Geometrik r1 = [ 66.238 43.668] x 100% = 51,68% 43.668 r2 = [ 82.129 66.238] x 100% = 23,99% 66.238 r = r = 75,67 = 37,83% n 2 maka diperoleh persamaan Geometrik : Pn = 43.668 ( 1 + 0,3783 ) n Prediksi Jumlah Produksi Ikan Dari hasil perhitungan di atas, diperoleh prediksi jumlah produksi ikan pertahun pada tahun kesepuluh mendatang yaitu sebesar 10.209.563 kg. Jadi untuk produksi ikan dalam satu harinya adalah sebesar 10.209.563/365 = 27.971 kg / hari. 43