ANALISIS EFISIENSI RAW GRIDING MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN

SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO

ANALISIS UNJUK KERJA GRATE CLINKER COOLER PADA PROSES PRODUKSI SEMEN

BAB II LANDASAN TEORI

C 3 S C 2 S C 3 A C 4 AF

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA

ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1

Nama Kelompok. 1. Himawan Sigit Satriaji 2. Ahlan Haryo Pambudi. dosen PEMBIMBING Ir. Budi Setiawan, MT

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA

48 juta ton naik 17,7%

BAB III TURBIN UAP PADA PLTU

Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering. Oleh : Lailatus Sa adah ( ) Sunu Ria P. ( )

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN II. LANDASAN TEORI

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )

2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL)

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

BAB I PENDAHULUAN. Pembangkit Listrik Tenaga Air Panglima Besar Soedirman. mempunyai tiga unit turbin air tipe Francis poros vertikal, yang

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB VIII PELUMAS. Pelumas adalah suatu zat (media) yang berfungsi untuk melumasi bagian bagian yang bergerak.

Bab III CUT Pilot Plant

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ANALISA HIDROLIK SISTEM LIFTER PADA FARM TRACTOR FOTON FT 824

1. EMISI GAS BUANG EURO2

BAB IV PENGENALAN BALL MILL

BAB III PERANCANGAN PROSES

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump)

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

PENGERINGAN REMPAH-REMPAH MENGGUNAKAN ALAT ROTARY DRYER

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

I. PENDAHULUAN. Mesin pengering merupakan salah satu unit yang dimiliki oleh Pabrik Kopi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

PRARANCANGAN PABRIK AMMONIUM NITRAT PROSES STENGEL KAPASITAS TON / TAHUN

PENENTUAN LAJU PENGERINGAN GABAH PADA ROTARY DRYER

BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Modul Praktikum Penentuan Karakterisasi Rangkaian Pompa BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI

Uji kesetimbangan kalor proses sterilisasi kumbung jamur merang kapasitas 1.2 ton media tanam menggunakan tungku gasifikasi

UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PENULISAN ILMIAH

PENGURANGAN KELEMBABAN UDARA MENGGUNAKAN LARUTAN CALSIUM CHLORIDE (CACL2) PADA WAKTU SIANG HARI DENGAN VARIASI SPRAYING NOZZLE

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 12: Penentuan total partikel secara isokinetik

BAB II LANDASAN TEORI

Ash/sisa abu yang menempel pada permukaan pipa pipa boiler di bagian evaporator.

PENGARUH GRANULATED BLAST FURNACE SLAG

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II MODUL 7 WETTED WALL COLUMN

Pertemuan 6: SISTEM PENGHAWAAN PADA BANGUNAN

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI

BAB I PENDAHULUAN. uap dengan kapasitas dan tekanan tertentu dan terjadi pembakaran di

BAB II DASAR TEORI 0,93 1,28 78,09 75,53 20,95 23,14. Tabel 2.2 Kandungan uap air jenuh di udara berdasarkan temperatur per g/m 3

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2

BAB II LANDASAN TEORI. panas. Karena panas yang diperlukan untuk membuat uap air ini didapat dari hasil

PENGERING PELLET IKAN DALAM PENGUATAN PANGAN NASIONAL

BAB II LANDASAN TEORI

Bab 3 Perancangan dan Pembuatan Reaktor Gasifikasi

Analisa Kebocoran Silinder Hidrolik pada Mesin Gravity Casting di Industri Manufaktur

KONVERSI ENERGI PANAS BUMI HASBULLAH, MT


Bagian tabung vortex dapat digambarkan sebagai berikut, Gambar 7.1 : Bagian tabung vortex

OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR

Perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur besi baja ini sudah banyak menghasilkan produk seperti kawat baja, plat baja, maupun baja

PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM)

BAB IV HASIL PENGAMATAN & ANALISA

BAB III METOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGOLAHAN DATA

PERHITUNGAN KEBUTUHAN COOLING TOWER PADA RANCANG BANGUN UNTAI UJI SISTEM KENDALI REAKTOR RISET

Gambar 2.21 Ducting AC Sumber : Anonymous 2 : 2013

PENINGKATAN EFISIENSI PRODUKSI MINYAK CENGKEH PADA SISTEM PENYULINGAN KONVENSIONAL

Pipa pada umumnya digunakan sebagai sarana untuk mengantarkan fluida baik berupa gas maupun cairan dari suatu tempat ke tempat lain. Adapun sistem pen

Abstrak. 1. Pendahuluan. 2. Penelitian

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

PETUNJUK PRAKTIKUM MESIN KAPAL JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN MARINE ENGINEERING

ANALISA PERFORMANSI HEAT EXCHANGER PADA SISTEM PENDINGIN MAIN ENGINE FIREBOAT WISNU I (Studi Kasus untuk Putaran Main Engine rpm)

No. Karakteristik Nilai 1 Massa jenis (kg/l) 0, NKA (kj/kg) 42085,263

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

KERJA PEAKTEK BAB III MANAJEMEN PEMELIHARAN SISTEM KERJA POMPA OLI PADA PESAWAT PISTON ENGINE TIPE TOBAGO TB-10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ENGINE STAND. yang diharapkan. Tahap terakhir ini termasuk dalam tahap pengetesan stand

Kekurangannya adalah: - Kekuatan tarik yang rendah, keuletan yang rendah dan beberapa penyusutan.

Tekad Sitepu, Sahala Hadi Putra Silaban Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara

Oleh sebab itu pembuatan silinder diperlukan ketelitian yang tinggi.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses

Transkripsi:

ANALISIS EFISIENSI RAW GRIDING MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN Budi Setiyana 1) Abstract Raw grinding mill sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen mempunyai peranan yang cukup penting. Selain berfungsi untuk menggiling atau menghaluskan material bahan mentah semen, juga sekaligus sebagai pengering material dengan menggunakan gas panas yang diperoleh gas panas sisa dari kiln. Perhitungan efisiensi panas pada Raw Grinding Mill dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu, perhitungan dengan neraca massa dan perhitungan dengan neraca panas. Perhitungan neraca massa diperlukan untuk perhitungan neraca panas Dari perhitungan neraca panas maka dapat diketahui efisiensi panas dari Raw Grinding Mill. Nilai unjuk kerja sistem Raw Grinding Mill dapat dicari dengan menghitung efisiensi panas dari Raw Grinding Mill, yaitu perbandingan panas untuk reaksi dengan panas yang disediakan. Efisiensi panas Raw Grinding Mill merupakan indikator baik atau tidaknya pengoperasian Raw Grinding Mill. PENDAHULUAN Pada masa sekarang ini efisiensi energi mutlak diperlukan dalam menghadapi perkembangan industri. Industri yang tidak memperhatikan efisiensi energinya akan kesulitan menghadapi persaingan usaha dan menjaga berlangsungnya industri tersebut. Efisiensi energi dalam industri dapat mencakup penggunaan bahan bakar atau panas dalam suatu peralatan. Di dalam proses produksi, meskipun suatu alat dirancang sedemikian rupa untuk kapasitas produksi tertentu, pada kenyataannya sangat dimungkinkan adanya massa dan panas yang hilang sehingga berakibat turunnya produksi. Raw Grinding Mill merupakan peralatan untuk menggiling dan mengeringkan bahan mentah semen. Pada proses produksi semen, posisi Raw Grinding Mill diberikan pada diagram dibawah ini, dimana pengeringan dan penggilingan merupakan tahap kedua dari tahapan proses produksi secara umum Material yang digiling dengan mesin Raw Grinding Mill ini yaitu limestone, clay, silika sand dan iron sand. Ukuran material yang dikecilkan ( kecuali iron sand ) dari ukuran panjang 5 7 cm menjadi partikel debu sampai dengan 0 9 mikron serta mengurangi kelembaban dari material tersebut dengan cara dikeringkan. Mesin ini bekerja selama 24 jam sehari secara terus menerus. PENAMBANGAN ( MINING ) PENGERINGAN DAN PENGGILINGAN ( DRYING AND GRINDING ) PEMBAKARAN DAN PENDINGINAN CLINKER ( BURNING AND COOLING ) PENGGILINGAN AKHIR ( FINISHING MILL ) Gambar 2. Raw Grinding Mill PENGANTONGAN ( PACKING ) Gambar 1. Tahapan Produksi Semen 1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin FT-UNDIP TINJAUAN TENTANG RAW GRINDING MILL Bagian-bagian Raw Grinding Mill Roller mill secara umum tersusun dari shell, kerangka utama, stand, table, roller arm, gear reducer, roller-pressing unit dan separator. Secara umum detail dari bagian-bagian Raw Grinding Mill diberikan dibawah ini : ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 60

Gambar 3. Bagian-bagian raw mill a. Shell dan bagian-bagiannya 1. Shell (Cangkang) Shell atau cangkang terdiri dari tiga bagian dan setiap bagian dihubungkan dengan baut juga pada bagian atas separator dan dilas pada dudukan bagian bawah serta pada balok penghubung. Tutup dari roller dibaut pada mill shell dan tutup dibuka pada kondisi swing out yaitu roller ditegakan. 2. Wind Box (Kotak Udara) Wind box atau tempat udara bertekanan terbuat dari plat besi yang diletakan pada sekeliling table dan dilas dengan dudukan/stand serta pada balok penghubung. Pada wind box ini terdapat 2 inlet udara panas dan 2 saluran pembuang material yang jatuh. 3. Nozzle dan Armour Ring Nozzle terbuat dari plat besi dengan kelilingnya terbagi menjadi 12 bagian yang dibuat dengan keliling yang dibagi 6 bagian yang dibaut dengan nozzle. b. Kerangka Utama / Stand 1. Kerangka Utama Kerangka utama merupakan struktur yang dilas dari baja dan plat baja, dimana baut pada pondasi dan dicor dengan sement. Gear reducer dibuat tetap pada bagian kerangka utama dengan tiga stand pada kelilingnya. Selanjutnya sisi luar pada stand dilengkapi tiga tempat untuk swing-out cylinder. 2. Stand dan Balok Penghubung Bagian atas stand terbuat dari baja coran pada bagian bawah terbuat dari baja yang dihubungkan dengan balok penghubung. Pada permukaan bagian atas dari stand, sebuah arm bearing dibaut tetap dan ujung dudukan silinder hidrolik yang terhubung dengan pin tetap pada bagian bawah stand. Pada stand dilengkapi dengan stopper untuk mencegah kontak langsung dari roller dan table. 3. Motor Base Motor base merupakan struktur yang dilas pada profil baja H dan plat baja tetap dengan baut pondasi pada kerangka utama dan pondasi kemudian di cor dengan semen. c. Table Table yang terbuat dari baja cor ini dihubungkan dengan gear reducer memakai pin dan baut. Bagian atas dari table terbuat dari baja cromium tingkat tinggi anti abrasive. Table Linier disusun dari 16 segmen dan cekung pada permukaan atas pada sisi jalur penggiling. Pada bagian bawah permukaan table terdapat scrapper yang akan mengeluarkan material yang jatuh, juga pada bagian atas permukan table yang terdapat sebuah scrapper untuk menyeimbangkan ketebalan bubuk lapisan. d. Roller Roller terbuat dari high Chromium cast iron yang memiliki ketahanan terhadap gesekan dan dipasang pada hubungan silinder dan ditahan oleh tapered ring dari baja cor. Hubungan terpasang pada poro roller melalui roller silinder dan bantalan tipe tapered roller. Roller ketika berputar melakukan penggilingan material secara menjepit diantara roller dan grinding table. Roller diberi pelumas dengan unit pelumas bantalan roller dengan system pelumas bertekanan. Oli pelumas dipompa dari tanki setelah melewati saringan, oli didinginkan oleh oil cooler untuk dapat dikontrol temperatur oli tersebut sebelum oli tersebeut dialirkan kedalam roller. Untuk pipa pelumasan dilengkapi beberapa unit penunjang keamanan seperti Flowmeter untuk setiap pipa pelumasan sebelum mengalir kedalam roller, termocouple untuk setiap aliran kembali ke pompa dan level switch pada tanki oli. Tanki oli dilengkapi dengan pemanas untuk dapat beroperasi pada musim dingin. Gambar 4. Roller e. Arm (lengan) Poros roller dihubungkan dengan lengan roller (roller arm) yang terbuat dari baja cor. Roller arm dihubungkan dengan lengan silinder (cylinder arm), diujung atas pasak dengan pin dan dibawah dihubungkan dengan silinder hidrolik sebagai pemberi gaya yang menekan roller. Pada ujung pangkal roller arm dilengkapi dengan pin seat untuk mengangkat roller arm dengan silinder hidrolik swing out. f. Mill Reducer Gear reducer diletakan pada kerangka utama, sebagai penurun kecepatan motor sesuai dengan kecepatan yang ditentukan juga ditransmisikan ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 61

pada table pada saat yang sama untuk mendukung gaya tekan roller. Reducer terdiri dari level gear dan planetary gear dengan input horizontal dan output vertical. g. Roller-Pressing System (Sistem Tekanan Roller) System pemberi tekanan roller terdiri dari unit hidrolik, akumulator, silinder hidrolik penekan roller dan silinder hidrolik swing out. Unit hidrolik terdiri dari tanki oli, pompa hidrolik berbagai jenis katup, yang berfungsi sebagai pemberi tekanan pada silinder hidrolik dan sebagai pemberi tekanan pada silinder hidrolik dan sebagai pemberi gaya tekan. Gaya tekan yang dihasilkan dari silinder hidrolik yang ditransmisikan pada roller melalui lengan silinder, lengan roller digunakan untuk menggiling material yang dijepit antar roller dan table. Variasi gaya tekan berdasarkan kondisi penggilingan diatur oleh dua N 2 sebagai kandungan gas dari akumulator yang dipasang pada setiap silinder hidrolik. setelah material dipecah oleh magnet separator. Tiga roller dirancang pada jarak yang sama pada jalur penggilingan yang juga didukung oleh bantalan melalui roller arm dan cylinder arm. Setiap cylinder arm pada bagian bawahnya ada sebuah hidrolik cylinder yang memberi gaya tekan yang dipindahkan pada roller. h. Sistem penyemprotan (Water-Spraying System) Jika material yang akan digiling terlalu kering maka akan sukar digiling oleh roller dan mill akan menghasilkan getaran yang abnormal. Untuk mencegah hal ini maka disemprotkan air pada mill tube. Air dipompakan dari tangki air menuju pipa-pipa air dimana pipa-pipa tersebut memiliki katup yang dilengkapi dengan motor, flowmeter, katup selenoid, check valve dan alat ukur tekanan. Cara Kerja Raw Grinding Mill Cara kerja roller mill ini terdiri dari roller yang memiliki bentuk roller grinding yang dapat menghasilkan kehalusan yang baik dan pada bagian atasnya terdapat classifying part dari baling-baling berputar tipe separator dengan bagian dalam berbentuk kerucut. Material yang telah dipisahkan dan ditransportasikan dengan tipe belt tertutup diumpankan pada ruangan tertutup ditengah-tengah mill. Material yang akan digiling sekali melewati roller mill akan dibawa oleh gaya sentrifugal yang dihasilkan dari putaran table dan digiling, dikeringkan dan dibawa oleh aliran gas yang naik dari nozzle diluar table sehingga dapat memasuki separator pada mill bagian dalam. Separator memisahkan partikel kasar dari material yang akan digiling dan mengeluarkan partikel halus sebagai produk sepanjang aliran gas dan ditangkap oleh Dust Collector (Electrostatic Precipitator). Partikel kasar jatuh pada bagian dinding kerucut dibagian dalam mill dan kembali ketengah table untuk digiling kembali. Disisi lain partikal kasar yang tidak dapat ditiup oleh nozzle untuk naik keruang penggilingan akan dikeluarkan dari mill. Material kasar yang dikeluarkan termasuk besi dikembalikan kedalam mill dan digiling kembali Gambar 5. Sketsa Proses kerja Raw Mill Roller kemudian menekan dan berputar karena putaran table sehingga memungkinkan penggilingan material secara berkelanjutan. Bantalan dari roller dilengkapi dengan system sirkulasi pelumasan bertekanan dari unit pelumasan oli. Gaya utama dari roller mill dihasilkan dari motor elektrik dimana setelah memutar table gaya tersebut dipindahkan melewati material yang digiling ke roller. PERHITUNGAN EFISIENSI RAW GRINDING MILL Perhitungan Neraca Massa Perhitungan neraca massa merupakan perhitungan untuk mencari kesetimbangan antara massa yang masuk dan yang keluar Raw Grinding Mill. Dibawah ini diberikan contoh komposisi dan laju alir dari material atau bahan baku yang masuk ke Raw Grinding Mill untuk tipe tertentu di pabrik semen yang diberikan pada tabel 1 berikut. Tabel 1. bahan baku dan Laju alir masuk Raw Mill ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 62

Lime Stone 27,6 9,35 2,9 188,2 3,3 25,87 Clay 6,87 2,32 0,77 1,3 0,25 1,4 Silica sand 4,69 0,24 0,07 0,04 0,00 0,36 Iron Sand 0,6 0,77 3,74 0,06 0,23 0,31 Total 257,2 12,91 5,4 5,71 13,49 3,81 2,19 70,44 1,18 8,89 Laju Massa 910,575 257,175 147,825 4.754,7 79,65 600,08 Laju alir ( Feed ) tiap komponen : Lime Stone : 257,2 ton/jam ( 91,1 % ) Clay : 12,9 ton/jam ( 4,8 % ) Silika Sand : 5,4 ton/jam ( 2,0 % ) Iron Sand : 5,71 ton/jam ( 2,1 % ) Total Feed Rate = 282,5 ton/jam ( 100 % ) Bahan baku tersebut diatas merupakan bahan yang dipakai sebagai masukan dari Raw Grinding Mill. Bahan baku tersebut dapat diuraikan menjadi 3 bagian utama, yaitu massa umpan kering, massa dan massa debu yang dari preheater seperti yang ditampilkan pada tabel 2 sampai dengan tabel 4. Tabel 2. dan Umpan Kering 13,49 3,81 2,19 70,44 1,18 8,89 910,575 257,175 147,825 4.754,7 79,65 600,08 Total 100 6.750 Tabel 3. dan dalam Umpan Masuk O 2 N 2 2,2 22,8 75,0 14,136 146,504 481,918 Total 100 642,558 Material yang keluar Raw Mill juga dapat diuraikan menjadi 3 bagian utama, yaitu massa produk kering, massa keluar Raw Mill dan massa dalam Umpan Raw Mill seperti yang ditampilkan pada tabel 5 sampai dengan tabel 7. Total 100 6.750 Tabel 5. dan Produk Raw Mill Kering 13,49 3,81 2,19 70,44 1,18 8,89 Laju Massa 906,333 255,977 147,136 4.731,58 79,279 597,28 Total 100 6.717,558 Tabel 6. dan Keluar ke Raw Mill O 2 N 2 2,2 22,8 75,0 14,85 153,9 506,25 Total 100 675 Tabel 7. dan dalam Umpan Raw Mill CO CO 2 SO 2 NO 2 O 2 N 2 0 40,55 0,18 0,17 4,15 3,00 51,95 0 2.737,13 12,15 11,475 280,125 202,5 3.506,63 Total 100 6.750 Tabel 4. dan Debu dari Preheater Sehingga berdasar uraian dari tabel 2 sampai tabel 7, dapat dibuat neraca massa yang masuk dan keluar Raw Mill seperti yang diberikan pada tabel 8 dibawah ini. ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 63

Tabel 8. Neraca Massa Raw Grinding Mill Aliran Massa Masuk (kg) Keluar (kg) Massa umpan kering (m1 ) 6.750.000 Massa H2O dalam umpan masuk (m2 ) 642.558 Massa debu dari preheater (m3 ) 6.750.000 Massa produk Raw Mill kering (m4 ) 6.718.558 Massa H2O keluar Raw Mill (m5 ) 675.000 Massa H2O dalam umpan Raw Mill (m6 ) 6.750.000 Total 14.142.55 14.142.55 Perhitungan Neraca Panas Dengan data tentang massa yang berproses di Raw Grinding Mill, maka dapat dihitung nilai kalor yang dibawa oleh masing-masing komponen massa tersebut berdasarkan hasil pengukuran temperatur dan nilai kapasitas panasnya. Dari hasil perhitungan maka didapat neraca kesetimbangan seperti yang diberikan pada tabel dan diagram dibawah ini. Tabel 9. Neraca Panas di Raw Grinding Mill Keterangan Input (kcal) Output (kcal) Panas yang dibawa umpan kering masuk Raw Mill (1) 24.907.500,000 Panas yang dibawa dust loss dari SP (2) 50.139.603,000 Panas sensibel H2O yang terkandung dalam umpan masuk 3.468.750,000 Raw Mill (3) Panas dari gas hasil pembakaran SP yang masuk 337.441.554,88 Raw Mill (6) Panas yang dibawa Feed Keluar Raw Mill (7) 102.337.075,50 Panas dari penguapan H2O feed yang masuk Raw Mill (4) 23.793.750,000 Panas laten penguapan H2O (5) 268.438.050,00 Panas yang hilang (8) 21.409.532,380 1 Total 415.978.407,88 415.978.407,88 2 4 5 Keterangan : 1 : Panas yang dibawa umpan bahan baku Raw Mill 3 RAW MILL 6 8 7 2 : Panas yang dibawa debu dari Suspension Preheater 3 : Panas sensible dalam umpan masuk 4 : Panas penguapan dalam umpan masuk Raw Mill 5 : Panas laten penguapan 6 : Panas gas hasil pembakaran dari Suspension Preheater 7 : Panas yang dibawa Feed keluar Raw Mill 8 : Panas yang hilang Perhitungan efisiensi termal Perhitungan efisisensi termal dilakukan untuk dua jenis efisiensi, yaitu efisiensi peralatan (Raw Grinding Mill) η 1, yang menyatakan tentang kecilnya tingkat kebocoran panas yang keluar dari peralatatan, dan efisiensi proses η 2 yaitu yang menyatakan tingkat penggunaan kalor yang dipakai untuk proses pengeringan. Perhitungan dilakukan sebagai berikut : Panas yang hilang (%) = Efisiensi Peralatan, η 1 = total = 94,86 % total 8 x 100% total = 5,14 % - Efisiensi Proses di Raw Mill η 2 8 x 100% = 6 - ( 7 8 ) x100 % = 63,3 % PENUTUP 6 Dari perhitungan diatas didapat bahwa efisiensi termal untuk peralatan Raw Grinding Mill adalah sebesar 94,86 % yang menunjukkan harga yang relatif baik, karena panas yang hilang atau yang bocor dari peralatan hanya sebesar 5,14%, sebab umumnya batas toleransi panas yang hilang sebesar 12 22 %. Hal ini menunjukan bahwa bagian-bagian saluran udara panas pada raw mill masih befungsi dengan baik. Sedang untuk efisiensi termal yang berkaitan dengan proses yang terjadi pada Raw Grinding Mill adalah sebesar 63,3 %, yang dinilai masih cukup baik karena masih dibawah harga efisiensi minimal yang disyaratkan yaitu 50 %. Umumnya efisiensi yang jenis terakhir inilah yang sering dipakai dalam dunia industri. Dalam perancangan biasanya efisiensi di rancang sebesar 75 %, maka efisiensi ini sudah ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 64

mengalami penurunan. Penurunan efisiensi tersebut merupakan hal yang wajar khususnya jika alat tersebut sudah beroperasi selama beberapa tahun. Penurunan efisiensi termal akibat adanya panas yang hilang ke sekeliling disebabkan antara lain oleh : - Menipisnya bagian-bagian Raw Mill. - Kemungkinan adanya kebocoran dalam saluran udara panas raw mill - Feed yang masuk masih banyak mengandung senyawa alkali yang mengakibatkan terbentuknya coating di Raw mill Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Raw Grinding Mill yang dianalisis masih layak untuk dioperasikan, karena nilai efisiensinya masih berada diatas batas minmal yang disyaratkan. DAFTAR PUSTAKA 1. Alsop, P. A., Cement Plant Operation Handbook for Dry Process Plant. 4 Th edition, Tradeship Publication, Ltd., 2005. 2. Duda, W.H., Cement data Book: International Process Engineeering in The Cement Industries, 3 rd ed., Bauverlag GMBH Weis Baden and Berlin, Mc. Donald and Evan, London, 1976. 3. Perray, K.E., Cement Manufacturer s Hand Book, Chemical Publishing Co., Inc., New York, 1979. 4. Perry, R.H. and Clinton, C.H., Chemical Engineer s Hand Book, 5 th edition, International Student, Mc. Graw Hill, Kogakhusa. Ltd., 1973. 5. Wijaya,Handi., Cement Technology, Industrial Relation Division Training&Development departement, PT. Indocement tunggal Prakarsa Tbk., 1994. 6. Chapman,AJ, Heat Transfer,4 th edition, Macmillan Publishing Company, New York, 1984 ROTASI Volume 9 Nomor 1 Januari 2007 65