BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II PARAMETER PARAMETER AKUSTIK RUANGAN


I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penggunaan sebuah ruang untuk lebih dari satu fungsi akustik sudah menjadi

BAB I PENDAHULUAN. pembahasan Tugas Akhir yang berjudul Penilaian Kualitas Akustik Auditorium

BAB IV HASIL PENGUKURAN PARAMETER AKUSTIK DAN ANALISA

KAJIAN PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP AKUSTIK STUDI KASUS: RUANG AUDITORIUM MULTIFUNGSI GEDUNG P1 DAN P2 UNIVERSITAS KRISTEN PETRA

Penilaian Subjektif Kondisi Akustik di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini, Jakarta

AKUSTIKA RUANG KULIAH RUANG SEMINAR 5 LANTAI 4 TEKNIK FISIKA. Dani Ridwanulloh

PERANCANGAN AKUSTIK RUANG MULTIFUNGSI PADA TEATER A ITS DENGAN DESAIN MODULAR

UTS TF-3204 AKUSTIK ANALISIS KARAKTERISTIK AKUSTIK GEDUNG AULA BARAT ITB. Oleh. Vebi Gustian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ujian Tengah Semester - Desain Akustik Ruang AULA BARAT INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

STUDI KELAYAKAN AKUSTIK PADA RUANGAN SERBA GUNA YANG TERLETAK DI JALAN ELANG NO 17. Disusun Oleh: Wymmar

UJIAN TENGAH SEMESTER TF 3204 AKUSTIK AKUSTIK RUANG PADA GEDUNG INDOOR DAGO TEA HOUSE BANDUNG OLEH: NAMA : SITI WINNY ADYA M NIM:

Penilaian Kondisi Akustik Ruangan TVST B pada Gedung TVST ITB Secara Subjektif

Konsultasi Akustik dengan Ease Simulation untuk Akustik Ruang

TAKE HOME TEST AKUSTIK TF MASJID dan AKUSTIK RUANG

PERANCANGAN ULANG RUANG AULA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO DARI SEGI AKUSTIK

METODE PENELITIAN. A. Bahan dan Materi Penelitian. Dikarenakan objek studi masih dalam rupa desain prarancangan maka bahan

Ujian Tengah Semester. Akustik TF Studi Analisis Kualitas Akustik Pada Masjid Salman ITB

LATAR BELAKANG UTS TF AKUSTIK [NARENDRA PRATAKSITA ]

APLIKASI VARIABEL PENYERAP BUNYI SEDERHANA UNTUK WAKTU DENGUNG FREKUENSI MENENGAH ATAS PADA AUDITORIUM FAKULTAS KEDOKTERAN UGM

UTS TF-3204 Akustik / Parulian F

Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi UTS TF 3204 Akustik) Khanestyo

MAKALAH UNTUK MEMENUHI NILAI UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH TF-3204 AKUSTIK

UJIAN TENGAH SEMESTER TF 3204 AKUSTIK SAUNG ANGKLUNG UDJO. Oleh : Firda Awal Gemilang

ANALISIS GANGGUAN BISING JALAN GANESHA TERHADAP AKUSTIK RUANGAN UTAMA MASJID SALMAN ITB

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.3 Desember 2017 Page 3892

Take Home Test Akustik TF3204 Laporan Kondisi Ruangan Aula Barat ITB

PERANCANGAN AKUSTIK RUANG MULTIFUNGSI PADA TEATER A ITS DENGAN DESAIN MODULAR

PENILAIAN KUALITATIF KONDISI AKUSTIK RUANG KONFERENSI ASIA AFRIKA

AKUSTIK ADAPTIF PADA BANGUNAN CONCERT HALL DI JAKARTA

Perancangan Ulang Akustik pada Auditorium STIKES Bina Sehat PPNI Mojokerto

RUANGAN 9231 GKU TIMUR ITB

ANALISIS PENGARUH PEMASANGAN ABSORBER DAN DIFFUSOR TERHADAP KINERJA AKUSTIK PADA DINDING AUDITORIUM (KU )

UTS Akustik (TF-3204) Dosen : Joko sarwono. Kriteria Akustik Gedung Serba Guna Salman ITB

PENERAPAN SISTEM AKUSTIK PADA RUANG AUDITORIUM BALAI SIDANG DI SURAKARTA

STUDI SUBJEKTIF KELAYAKAN GEDUNG KESENIAN DAN KEBUDAYAAN RUMENTANG SIANG BANDUNG DARI SEGI AKUSTIK

Perancangan Tata Suara Balairung Utama Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Optimalisasi Kenyamanan Akustik Ruang pada JX International Surabaya

OPTIMASI MATERIAL AKUSTIK UNTUK PENINGKATAN KUALITAS BUNYI PADA RUANG AUDITORIUM MULTI-FUNGSI

Evaluasi Subjektif Kondisi Akustik Ruangan Utama Gedung Merdeka

UJIAN TENGAH SEMESTER TF3204 AKUSTIK

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENGARUH PEMASANGAN ABSORBER DI LANGIT-LANGIT TERHADAP PERFORMANSI AKUSTIK DI RUANG RAPAT P213 GEDUNG P UNIVERSITAS TELKOM

[ANALISIS JUDGMENT SUBJEKTIF KUALITAS AKUSTIK GEDUNG TEATER TERTUTUP DAGO TEA HOUSE]

AKUSTIKA RUANG KULIAH

PENILAIAN KARAKTERISTIK AKUSTIK PADA TEATER TERTUTUP TAMAN BUDAYA (DAGO TEA HOUSE)

Analisis Karakteristik Akustik Pada Ruang Peribadatan Masjid : Studi Kasus Masjid Istiqamah

UJIAN TENGAH SEMESTER TF-3204 AKUSTIK

Analisis Akustik Ruangan Aula Barat ITB

Nama : Beni Kusuma Atmaja NIM : Kelas : 02 Topik : Ruang Konser

LAPORAN PENELITIAN AKUSTIK RUANG 9311 ditujukan untuk memenuhi nilai UTS mata kuliah TF3204 Akustik. Oleh : Muhammad Andhito Sarianto

BAB V KAJIAN TEORI. yang dipadukan dengan sentuhan arsitektur modern yang. dalam kehidupan masyarakat serta keselarasan antara alam, bangunan, dan

PUSAT SENI PERTUNJUKAN DI BANDUNG

Penilaian Akustika Ruang Kuliah TVST B Institut Teknologi Bandung

OPTIMALISASI KINERJA PARAMETER AKUSTIK DENGAN MEMODIFIKASI KONFIGURASI DISTRIBUSI SPEAKER PADA MASJID SYAMSUL ULUM

1.1. Latar Belakang Setiap ruangan harus memiliki 3 aspek yang harus diperhatikan, akustik, thermal dan pencahayaan. Aspek-aspek ini memiliki

RUANG 9231 GKU TIMUR ITB

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS

ANALISIS KINERJA AKUSTIK PADA RUANG AUDITORIUM MONO-FUNGSI (STUDI KASUS RUANG JELANTIK JURUSAN ARSITEKTUR ITS)

Laporan Penilaian Subjektif Akustik Ruangan Gedung TVST B ITB

UTS TF3204 Akustik. Gedung Gajah, Dago Tea House. Studi Akustik Sederhana Sebuah Ruangan. Program Studi Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung

ANALISA AKUSTIK RUANG KULIAH 9222 GKU TIMUR ITB UTS TF 3204-AKUSTIK. Disusun Oleh: Suksmandhira H ( )

UTS TF-3204 AKUSTIK PENILAIAN DAN OBSERVASI RUANG TVST C ITB

DAFTAR ISI.. HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK...

BAB V HASIL RANCANGAN

Kondisi Akustik TVST B

Kondisi akustik ruangan 9231 GKU Timur ITB

Teater Universitas Diponegoro, Semarang

AUDITORIUM MUSIK KLASIK DI BANDUNG

BAB IV KONSEP 4.1 IDE AWAL

PENILAIAN KUALITATIF AKUSTIK GEDUNG TEATER TERTUTUP TAMAN BUDAYA JAWA BARAT (DAGO TEA HOUSE)

BAB V KAJIAN TEORI. Tema desain yang digunakan pada proyek Komples Wisata Budaya di Kota

BAB I PENDAHULUAN. 1 Leslie L.Doelle dan L. Prasetio, Akustik Lingkungan, 1993, hlm. 91

PENGARUH PENAMPANG ASIMETRIS TERHADAP KINERJA AKUSTIK PADA RUANG AUDIO VISUAL GEDUNG S2 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TELKOM

Room (Concert Hall) Acoustic : NHK Hall, Shibuya, Tokyo, Japan

Evaluasi Kinerja Akustik Dari Ruang Kedap Suara Pada Laboratorium Rekayasa Akustik Dan Fisika Bangunan Teknik Fisika ITS

TF4041- TOPIK KHUSUS A

REDESAIN INTERIOR GEDUNG SENI PERTUNJUKAN CAK DURASIM SURABAYA BERDASARKAN AKUSTIK RUANGAN

Kekerasan (loudness) yang cukup Kekerasan menjadi masalah karena ukuran ruang yang besar Energi yang hilang saat perambatan bunyi karena penyerapan da

UTS TF AKUSTIK Laporan Pengamatan Gedung Aula Barat

PENGAMATAN AKUSTIK CIWLAK XXI LOUNGE Oleh : Imanda Aryaganda / Mata kuliah : Akustik TF-3204 Dosen : Joko Sarwono Kelas : Ganjil

BAGIAN III : AKUSTIK

DENDY D. PUTRA 1, Drs. SUWANDI, M.Si 2, M. SALADIN P, M.T 3. Abstrak

LAPORAN PENELITIAN AKUSTIK RUANG 9231 GKU TIMUR

Penilaian Karakteristik Akustik Bangunan. Masjid Salman ITB

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Concert Hall di Jakarta

ANALISIS KINERJA AKUSTIK PADA RUANG AUDITORIUM MULTIFUNGSI Studi kasus: Auditorium Universitas Kristen Petra, Surabaya

BAB 5 KAJIAN TEORI Uraian Interpretasi dan Elaborasi Tema Desain. a. Pengertian Arsitektur Neo- Vernacular

Desain Akustik Ruang Kelas Mengacu Pada Konsep Bangunan Hijau

BAB 5 HASIL RANCANGAN

Perbandingan Soundscape Pada Ruang Kelas SD, SMP, dan SMA di Kota Bandung

LAPORAN PERANCANGAN AR 40Z0 STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER I TAHUN 2007/2008 JAKARTA MUSIC ARENA. oleh: FAHRY ADHITYA PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

Penilaian Kondisi Akustik Di Dalam Ruang Kelas Melalui Program Simulasi Odeon 5.0 (Studi Kasus: SMP Negeri 4 Banda Aceh)

OPTIMALISASI PERFORMA AKUSTIK RUANG PADA RUANG IBADAH UTAMA DI GEREJA KATHOLIK PAROKI SANTO THOMAS KELAPA DUA DEPOK JAWA BARAT

UJIAN TENGAH SEMESTER TAKE HOME TEST MATA KULIAH AKUSTIK TF-3204 SIDNEY OPERA HOUSE

PENGARUH LAY OUT BANGUNAN DAN JENIS MATERIAL SERAP PADA KINERJA AKUSTIK RUANG KELAS SEKOLAH DASAR DI SURABAYA TITI AYU PAWESTRI

ABSTRAK. Penghargaan ini berguna untuk memotivasi mereka menampilkan musik yang terbaik. Dan tolak

TAKE HOME TEST TF 3204 AKUSTIK EVALUASI KONDISI AKUSTIK RUANG KULIAH 9212 GEDUNG KULIAH UMUM ITB

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia terdapat banyak auditorium multifungsi yang mewadahi berbagai macam kegiatan. Efisiensi dan biaya menjadi alasan dalam pemilihan auditorium multifungsi. Keberagaman fungsi ini mempengaruhi kualitas akustik tertentu di dalamnya karena bentuk bangunan utama tidak mungkin berubah sehingga menuntut perlakuan akustik yang fleksibel. Upaya untuk menyesuaikan kualitas akustik dalam ruang yang memiliki fungsi beragam dapat dilakukan dengan melakukan penyesuaian terhadap elemen fisik ruang (passive design) dan penentuan sistem bunyi elektronik (active design) di dalamnya, namun pendekatan desain fisik ruang selalu menjadi pertimbangan utama (Barron, 2010). Kualitas akustik dalam sebuah ruang ditentukan oleh parameter objektif dan subjektif. Parameter objektif yang mempengaruhi kualitas akustik seperti waktu dengung, G strength, early decay time, C80, D50, centre time, lateral fraction, dan Speech Transmission Index telah dideskripsikan (Barron, 2010). Parameter subjektif seperti fullness, definition/clarity, intimacy, liveness, spaciousness dan loudness untuk menilai kualitas akustik sebuah ruang telah dipaparkan (Beranek, 2004). Untuk mencapai desain akustik ruang yang baik, diperlukan pemahaman yang cukup dalam memahami hubungan antara parameter objektif dan subjektif. Sebuah desain akustik ruang yang baik untuk percakapan (speech), sering bertolak belakang dengan fungsi untuk musik. Untuk mencapai kejelasan suara manusia yang baik, volume ruang dan waktu dengung sebaiknya kecil, pantulan awal sebaiknya diutamakan datang dari langit-langit, dan tidak membutuhkan difusi bunyi yang banyak. Sebaliknya, ruang yang didesain untuk musik tanpa pengeras bunyi membutuhkan waktu dengung yang panjang, bunyi yang lebih keras, diutamakan pantulan yang berasal dari samping dibandingkan dari atas, dan membutuhkan difusi bunyi yang banyak (Long, 2006). Formasi elemen akustik dalam sebuah ruangan akan menentukan kinerja akustik ruang tersebut sesuai dengan fungsinya (Sarwono, 2013). 1

2 Kemajuan teknologi komputer memungkinkan kita untuk melakukan pemodelan dan simulasi dalam desain akustik modern. Walaupun studi dengan menggunakan model skala tetap sebagai alat yang kuat, namun pemodelan dan simulasi dalam komputer terus berkembang sejak algoritma menjadi lebih mudah, akurat, dan murah (Garrido, Zamarreño, & Girón, 2012). Salah satu keuntungan dari pemodelan dalam komputer adalah fleksibilitas dalam perubahan geometri dan properti material (Kuttruff, 2009). Keunggulan simulasi dalam komputer sering digunakan untuk melakukan eksperimen atau prediksi terhadap desain akustik ruang (Dalenback, 2002). Semua material bangunan memiliki kemampuan untuk menyerap bunyi dalam angka tertentu (Doelle, 1980). Namun dalam praktiknya, perubahan terhadap elemen bangunan yang permanen sulit dilakukan sehingga untuk memenuhi berbagai kebutuhan akustik dalam sebuah ruang, maka eksperimen dengan menggunakan elemen ruang yang bervariasi dapat dilakukan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan variasi dinding pembatas untuk menambah atau mengurangi volume ruang dengan tujuan memanipulasi nilai waktu dengung. Selain itu, penggunaan variasi bahan penyerap atau pemantul dengan tujuan memanipulasi energi pantulan awal juga berpotensi mempengaruhi parameter akustik ruang. Variasi tersebut dapat diterapkan dalam bentuk panel pemantul atau penyerap bunyi sebagai elemen langit-langit (Barron, 2010). Penggunaan variasi elemen ruang tersebut diharapkan dapat menjadi solusi dalam mewadahi kebutuhan akustik untuk berbagai fungsi. 1.2 Latar Belakang Masalah Grha Sabha Pramana (GSP) merupakan gedung serba guna yang dimiliki Universitas Gadjah Mada dan terletak di tengah kampus. Gedung GSP diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1994 dengan fungsi untuk mewadahi berbagai kegiatan seperti wisuda, seminar, pameran, ataupun pertunjukan seni dan musik. Gedung ini memiliki 2 lantai dengan skala yang berbeda. Di lantai 1 terdapat ruangruang pertemuan dengan ruang terbesar berada di tengah dan sering difungsikan sebagai ruang resepsi pernikahan, pertemuan, pameran, dan ruang ujian. Di lantai

3 2 terdapat sebuah auditorium yang mewadahi beragam kegiatan (multifunction auditorium) seperti pertunjukan seni dan musik, acara wisuda, pameran, seminar, dan konferensi. Auditorium berbentuk simetris dengan tribun yang berada di sisi timur, barat, dan selatan yang dapat menampung hingga 5000 orang. Auditorium yang berada di lantai 2 ini memiliki bentuk ruang yang menyerupai rumah Joglo dengan langit-langitnya yang khas (tumpang sari) namun dengan material konstruksi yang berbeda dengan rumah Joglo pada umumnya. Berdasarkan survei yang telah dilakukan, terdapat beberapa permasalahan akustik di auditorium ini seperti distribusi bunyi dari panggung yang tidak merata ke seluruh ruangan, bunyi dari panggung tidak terdengar jelas di bawah tribun, bunyi dari panggung tidak terdengar jelas di beberapa kursi di tribun terutama bagian atas, serta bising latar belakang dari area parkir dan jalan yang masuk ke tribun (Utami & Fela, 2015). Selain itu, terdapat keluhan baik dari pihak GSP UGM maupun dari kalangan mahasiswa yang merasa kurang jelas dalam mendengarkan bunyi terutama ketika acara wisuda. 1.3 Rumusan Permasalahan Berdasarkan permasalahan diatas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Berapa nilai kualitas akustik ruang di dalam auditorium Grha Sabha Pramana saat ini ditinjau dari fungsi musik dan pidato (speech)? 2. Seberapa besar pengaruh penerapan variasi elemen ruang dalam meningkatkan kualitas akustik untuk fungsi tertentu? 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang akan dicapai adalah untuk meningkatkan kualitas akustik ruang saat terdapat bunyi musik atau manusia yang dihadirkan dalam ruang dengan metode respon impuls melalui variasi elemen ruang yang berpengaruh terhadap perubahan volume ruang, tingkat penyerapan bunyi, dan posisi audiens.

4 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik untuk bidang ilmu arsitektur maupun dalam dunia praktek perancangan arsitektur. Manfaat dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk bidang ilmu arsitektur, penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan terkait akustik ruang untuk fungsi musik dan pidato (speech). 2. Hasil temuan dalam penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi para arsitek khususnya yang bergerak di bidang akustik ruang dalam perancangan ruang-ruang dengan kebutuhan akustik yang beragam. 1.6 Keaslian Penelitian Tabel 1. Penelitian-penelitian Terdahulu Tentang Akustik Auditorium No Judul Penelitian Pengarang Objek Penelitian 1 Studi Perbaikan S.S. Utami, Grha Sistem Tata Bunyi R. F. Fela Sabha Gedung Grha Pramana Sabha Pramana UGM Universitas Gadjah Mada 2 Akustik Panggung Untuk Pertunjukan Orkestra di Grha Sabha Pramana 3 Acoustical Design of An Adjustable Acoustics Recital Hall for Indonesian Traditional Music Based on Optimum Acoustic Parameters Timotius Aristyo H. Alexander C. Nugroho, Shani S. Rohmah, IGN Merthayasa, Joko Sarwono Grha Sabha Pramana UGM Model Hipotetik Recital Hall Isi Penelitian membahas mengenai kondisi akustik ruang di GSP UGM dengan menggunakan software CATT dan EASE. Hasil penelitian menunjukkan adanya distribusi SPL yang tidak merata serta mencoba memberikan rekomendasi desain aktif dari peletakan dan jenis pengeras bunyi (loudspeaker) Penelitian membahas mengenai kondisi akustik panggung di GSP UGM dengan mengambil secara langsung data respons impuls di atas panggung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah panggung GSP membutuhkan acoustic treatment agar musisi lebih nyaman dalam bermain musik. Dalam penelitian ini dilakukan eksperimen terhadap formasi komponen adjustable acoustic yang berupa panel pemantul dan penyerap dalam sebuah recital hall yang dapat mewadahi kebutuhan akustik musik gamelan Jawa, gamelan Bali, dan Angklung. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan software CATT. Hasil penelitian merupakan rekomendasi formasi komponen adjustable acoustic.

5 4 Acoustical Analysis of a Multipurpose Hall by Computer Simulation Method: METU Northern Cyprus Campus Auditorium (NCCA) as A Case Study (2005) 5 Acoustics in The Multipurpose Halls of The New Main Library and The New Munch Museum in Oslo 6 Virtual Model for The Prediction of Acoustic Fields of Manuel de Falla Auditorium in Granada, Spain (2012) 7 Acoustical Remodelling of a Large Fan-Type Auditorium to Enhance Sound Strength and Spatial Responssiveness for Symphonic Music (2012) Tansu Yilmaz Jens Holger Rindel Jose A. Garrido, Teofilo Zamarreno, Sara Giron Jin Yong Jeon, Jae Ho Kim, Chun Ki Seo METU Northern Cyprus Campus Auditorium (NCCA) New Main Library and The New Munch Museum in Oslo Manuel de Falla Auditorium The Grand Theater in The Sejong Performin g Arts Center in Seoul, Korea Dalam penelitian ini dilakukan analisis akustik menggunakan software ODEON terhadap aula serba guna yang mewadahi fungsi pertunjukan musik maupun auditorium. Analisis dilakukan dengan 2 kondisi aula yang berbeda perlakuan desain akustiknya yaitu mode auditorium dan mode concert hall. Kesimpulan yang didapat adalah ruang tersebut membutuhkan kontrol energi frekuensi rendah. Rekomendasi berupa resonator yang dapat mengontrol energi bunyi pada frekuensi 125 Hz. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan software ODEON terhadap 2 ruang serba guna. Eksperimen dilakukan dengan mengubah-ubah variabel material penyerap yaitu tirai-tirai yang dapat disesuaikan. Hasil penelitian merupakan rekomendasi komposisi tirai-tirai yang dapat mempengaruhi waktu dengung untuk kebutuhan fungsi tertentu yaitu musik dan pidato. Penelitian ini mempresentasikan hasil simulasi terhadap kondisi akustik auditorium terutama pengaruh 44 lampu yang menjadi ikon auditorium tersebut. Hasil penelitian ini menyatakan pengaruh lampu yang tidak signifikan serta mengkonfirmasi pemilihan posisi tempat duduk yang baru sebagai posisi yang sesuai. Penelitian ini melakukan analisis terhadap kondisi akustik teater berdasarkan parameter RT, G Strength, dan binaural quality index (BQI). Modifikasi elemen pemantul dilakukan untuk meningkatkan kualitas akustik musik simfoni. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai G Strength sebesar 5dB dan BQI sebesar 0,25 serta waktu dengung yang dapat bervariasi antara 1,47 sampai 2,24 detik

6 Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan dalam tabel 1, ditemukan 2 penelitian terkini yang mengambil objek di Grha Sabha Pramana UGM lantai 2, namun dalam penelitian ini belum dilakukan adanya pengkajian tentang kondisi akustik yang terletak di area audiens. Dalam penelitian tersebut juga disebutkan adanya permasalahan terhadap kondisi akustik ruang yang terdapat di dalamnya. Kedua penelitian tersebut menjadi dasar dalam penelitian ini untuk mengambil lokus di Grha Sabha Pramana UGM lantai 2. Selain itu juga ditemukan penelitian-penelitian bersifat eksperimental yang berhubungan dengan akustik auditorium multifungsi (multifunction auditorium). Nugroho, et. al. melakukan eksperimen terhadap tiga jenis musik yaitu gamelan Jawa, gamelan Bali, dan Angklung yang membutuhkan kondisi akustik ruang yang berbeda dengan menggunakan panel-panel pemantul sebagai elemen langit-langit dan dapat disesuaikan ketinggian dan sudutnya, serta tirai-tirai yang dipasang di sebagian tembok yang dapat dibentangkan atau ditarik. Yilmaz (2005) melakukan evaluasi terhadap kualitas akustik auditorium yang berfungsi untuk mewadahi fungsi musik dan pidato (speech) serta mencoba melakukan eksperimen dengan menggunakan resonator sebagai elemen lantai panggung guna menambah waktu dengung. Rindel melakukan eksperimen dengan menggunakan komposisi tirai-tirai sebagai elemen dinding yang dapat dibentangkan atau ditarik secara fleksibel untuk mengatur tingkat penyerapan material di dalam ruang. Pengaturan komposisi tirai tersebut mempengaruhi waktu dengung di dalam ruang yang dibutuhkan untuk fungsi tertentu. Garrido, et. al. (2012) memodelkan dan melakukan simulasi terhadap auditorium Manuel de Falla dengan menggunakan komputer sehingga dapat diketahui pengaruh elemen-elemen ruang di dalamnya terutama terhadap 44 lampu yang menjadi ikon auditorium tersebut. Selain itu, simulasi juga ditujukan untuk mengkonfirmasi posisi dan tata letak audiens yang baru. Jeon, et. al. (2012) mencoba melakukan eksperimen dengan menggunakan panel-panel pemantul sebagai elemen langit-langit yang disesuaikan untuk fungsi musik simfoni guna meningkatkan nilai kekuatan suara (G Strength) dan suasana meruang atau binaural

7 quality index (BQI). Eksperimen dilakukan baik dengan simulasi dalam komputer maupun model skala. Hasil eksperimen adalah terdapat peningkatan nilai G Strength dan variasi waktu dengung. Dalam penelitian-penelitian yang membahas mengenai ruang serba guna dalam tabel 1, dilakukan eksperimen terhadap elemen-elemen ruang yang bervariasi sebagai elemen dinding, lantai, dan langit-langit. Di dalam penelitian ini akan dilakukan eksperimen terhadap variasi elemen ruang khususnya elemen dinding dan langit-langit serta kemungkinan untuk mengkombinasikan elemenelemen tersebut sehingga memenuhi kondisi akustik yang disarankan. 1.7 Batasan Penelitian Ruang lingkup dan batasan dalam penelitian ini adalah: 1. Peneliti hanya membahas mengenai auditorium di dalam gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada yang berada di lantai 2. 2. Peneliti hanya akan melakukan pendekatan terhadap desain fisik (passive design). Penggunaan desain aktif (elektro-akustik) bukan merupakan bagian dari rekayasa akustik ruang (Kuttruff, 2009). 3. Peneliti hanya berfokus pada fungsi akustik ruang untuk pertunjukan musik dan percakapan satu arah / pidato (speech) dengan sumber bunyi berada di panggung. Pembatasan terhadap fungsi ruang dilakukan karena dalam akustik ruang, bunyi yang paling dipertimbangkan adalah bunyi dari alat musik dan suara manusia. 4. Pengukuran dan parameter yang ditinjau adalah berdasarkan ISO 3382-1:2009 Part 1: Performance Spaces.