INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH

dokumen-dokumen yang mirip
INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH

INDIKATOR he AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH & ASESMEN SUBSEKTOR EKONOMI

INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI

INDIKATOR he AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH & ASESMEN SUBSEKTOR EKONOMI

Kata Pengantar KATA PENGANTAR Nesparnas 2014 (Buku 2)

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI

INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI

Analisis Perkembangan Industri

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA SEPTEMBER 2011

Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M. Kementerian Perdagangan

IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET 2008

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA OKTOBER 2009

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN DESEMBER 2015

BPS PROVINSI JAWA BARAT

Tinjauan Pasar Minyak Goreng

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

BPS PROVINSI JAWA BARAT

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)

BPS PROVINSI JAWA BARAT

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MEI 2011

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

Ekspor Indonesia Masih Sesuai Target 2008: Pemerintah Ambil Berbagai Langkah Guna Antisipasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Dunia

BPS PROVINSI JAWA BARAT

PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN FEBRUARI 2002

BPS PROVINSI JAWA BARAT

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

PROVINSI JAWA BARAT JUNI 2017

BPS PROVINSI JAWA BARAT

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2015

MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Tel: /Fax:

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha.

KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Jakarta, Mei 2010

BPS PROVINSI JAWA BARAT

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

BERITA RESMI STATISTIK

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN DESEMBER 2016

Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Jawa Timur

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MEI 2016

LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh

BERITA RESMI STATISTIK

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA MEI 2012

Ekspor Bulan Juni 2014 Menguat. Kementerian Perdagangan

RINGKASAN LAPORAN PERKEMBANGAN PERDAGANGAN BULAN JULI 2011

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

PDB per kapita atas dasar harga berlaku selama tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 13,8% (yoy) menjadi Rp30,8 juta atau US$ per tahun.

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR

Analisis Perkembangan Industri

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2015

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

SURVEI KEGIATAN DUNIA USAHA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN DESEMBER 2014

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN NOVEMBER 2016

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN DESEMBER 2016

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Perdagangan Indonesia

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

Analisis Perkembangan Industri

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH AGUSTUS 2017

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara

PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR IMPOR SUMATERA SELATAN MARET 2017

Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010

Transkripsi:

Produksi Minyak Mentah Produksi Kondensat Produksi Kendaraan Non Niaga Penjualan Kendaraan Non Niaga Produksi Kendaraan Niaga Penjualan Kendaraan Niaga Produksi Sepeda Motor Penjualan Sepeda Motor Konsumsi Semen Ekspor Besi Baja Ekspor Kayu Lapis Ekspor Kayu Gergajian Penjualan Minyak Diesel Penjualan Listrik u/ Industri Penjualan Listrik u/ Perdag. Penjualan Listrik Total Kunj. Wisman Hotel Occupancy Jkt Hotel Occupancy Bali Produksi Minyak Mentah Produksi Kondensat Produksi Kendaraan Non Niaga Penjualan Kendaraan Non Niaga Produksi Kendaraan Niaga Penjualan Kendaraan Niaga Produksi Sepeda Motor Penjualan Sepeda Motor Konsumsi Semen Ekspor Besi Baja Ekspor Kayu Lapis Ekspor Kayu Gergajian Penjualan Minyak Diesel Penjualan Listrik u/ Industri Penjualan Listrik u/ Perdag. Penjualan Listrik Total Kunj. Wisman Tingkat Hunian Hotel - Jkt Tingkat Hunian Hotel - Bali INDIKATOR AKTIVITAS EKONOMI TERPILIH Desember 21 Secara tahunan, sebagian besar indikator aktivitas ekonomi terpilih tumbuh positif. Secara bulanan, ekspor kayu lapis mengalami ekspansi terbesar sementara produksi sepeda motor menunjukkan kontraksi terbesar. Sepanjang tahun 21, hampir seluruh indikator aktivitas ekonomi tumbuh kecuali produksi minyak mentah. Pertumbuhan produksi subsektor tanaman perkebunan pada periode 22-21 rata-rata sebesar 7,26% terutama berasal dari komoditas kelapa sawit. Pertumbuhan Beberapa Indikator Ekonomi: Tahunan Sebagian besar indikator aktivitas ekonomi terpilih non migas pada Desember 21 menunjukkan pertumbuhan yang positif secara tahunan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada penjualan kendaraan niaga (64,48%). Terus meningkatnya penjualan kendaraan niaga dapat menjadi cerminan dari peningkatan investasi alat angkut. Sementara itu, indikator aktivitas ekonomi migas yaitu produksi minyak mentah dan produksi kondensat mengalami pertumbuhan negatif masing-masing sebesar - 5,3% dan -1,65%. Selama Desember 29 Desember 21, pertumbuhan tahunan tertinggi terjadi pada ekspor kayu lapis (131,4%) yang terjadi pada Januari 21. Sebaliknya, ekspor besi baja mengalami kontraksi terbesar (-25,95%) pada September 21 (Grafik. 1). Bulanan Secara bulanan, indikator aktivitas ekonomi di bulan Desember 21 mengalami pertumbuhan yang bervariasi. Ekspor kayu lapis mengalami ekspansi terbesar (15,77%) () dan sebaliknya, indikator produksi sepeda motor mengalami kontraksi terdalam (-22,48%). Selama periode Desember 29 Desember 21, pertumbuhan bulanan tertinggi dan terendah dialami oleh indikator yang sama yaitu ekspor besi & baja. Pertumbuhan tertinggi pada bulan Oktober 21 (94,13%) dan pertumbuhan terendah pada bulan April 21 (-44,3%) (Grafik. 2). (% ) 15 1 5-5 -1 (% ) 1 75 5 25-25 -5 Grafik 1. Pertumbuhan Tahunan s.d Desember 21 Desember 29 - Desember 21 Tertinggi Desember 21 Desember 29 - Desember 21 Terendah Grafik 2. Pertumbuhan Bulanan s.d Desember 21 Desember 29 - Desember 21 Tertinggi Desember 21 Desember 29 - Desember 21 Terendah Metodologi Perkembangan Indikator Aktivitas Ekonomi Terpilih (IAE) merupakan laporan perkembangan beberapa indikator ekonomi serta analisis mengenai perkembangan subsektor ekonomi terpilih. Pada laporan ini fokus analisis mengenai sub sektor tanaman perkebunan. Data dan informasi diperoleh dari sektor riil baik dari Bank Indonesia maupun pihak eksternal, diantaranya Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero),Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Asosiasi Industri Perkembangan Sepeda Motor Indikator Indonesia Sektor (AISI) serta Riil instansi/departemen terpilih terkait lainnya. 1

Pertumbuhan Indikator Ekonomi Kumulatif Secara kumulatif selama tahun 21 (Januari-Desember), hampir seluruh indikator aktivitas ekonomi terpilih mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi dan penjualan kendaraan niaga tumbuh tertinggi diantara indikator lainnya yaitu masing-masing sebesar 83,39% dan 82,59%. Tingginya produksi dan penjualan kendaraan niaga selama tahun 21 merupakan indikasi mulai meningkatnya investasi khususnya untuk pemenuhan kebutuhan alat angkut. Disisi lain, produksi minyak mentah mengalami pertumbuhan negatif sepanjang tahun 21 yaitu sebesar -,62% (Tabel 1). Tabel 1 Perkembangan Indikator Aktivitas Ekonomi Terpilih 29 21 Pertumbuhan (%) Indikator Satuan Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Desember 21 ytd* Migas - Produksi Minyak Mentah ribu barel 25.944 25.39 23.399 26.5 25.339 26.272 25.185 25.451 26.63 24.8 24.194 24.26 24.57-5,3 1,51 -,62 - Produksi Kondensat ribu barel 3.74 3.878 3.42 3.795 3.633 3.86 3.625 3.79 3.716 3.574 3.66 3.459 3.678-1,65 6,34,5 Non Migas - Produksi Kendaraan Non Niaga unit 46.53 36.693 34.428 4.371 41.598 37.813 45.528 46.969 41.997 31.273 47.497 46.987 45.391-1,44-3,4 41, - Penjualan Kendaraan Non Niaga unit 35.733 38.856 39.68 46.559 45.57 41.276 534 51.598 46.45 34.789 49.61 48.771 49.647 38,94 1,8 5,9 - Produksi Kendaraan Niaga unit 1.295 12.877 14.81 16.851 17.575 17.57 19.77 2.795 18.58 12.82 18.578 16.68 16.152 56,89-3,17 83,39 - Penjualan Kendaraan Niaga unit 11.222 13.74 14.629 17.416 17.97 17.898 18.91 18.867 17.187 12.98 17.98 18.747 18.458 64,48-1,54 82,59 - Produksi Sepeda Motor unit 539.594 515.962 528.32 628.967 651 636.23 664.767 695.974 733.21 476.354 69.194 662.363 513.461-4,84-22,48 25,69 - Penjualan Sepeda Motor unit 553.33 53.84 5467 611.142 657.185 641.871 655.363 71.432 734.439 481.615 698.342 656.597 516.751-6,56-21,3 25,79 - Ekspor Besi dan Baja ton 12.281 133.171 125.175 149.53 83.18 12.624 79.845 13.61 142.239 8.631 156.529 15.34 145.73 41,84-3,48 7,8 - Konsumsi Semen ribu ton 3.825 3.362 2.99 3.386 3.189 3.272 3.397 3.74 3.615 2.556 3.832 3.532 3.97 2,13 1,61 6,32 - Ekspor Kayu Lapis ton 153.34 165.928 27.43 195.985 162.841 1798 168.424 159.949 167.561 121.397 176.638 146.744 169.887 1,82 15,77 23,24 - Ekspor Kayu Gergajian ton 36.23 33.68 31.777 36.847 39.323 36.821 36.393 4.858 472 25.79 39.488 38.34 42.889 18,47 12,77 25,39 - Penjualan Minyak Diesel kiloliter 1.678 1.524 14.571 11.857 13.944 11.378 15.737 11.648 14.352 13.143 1.315 12.29 12.769 19,58 3,9 17,65 - Penjualan Listrik ke Sektor Industri juta KWH 4.47 4.145 4.263 3.897 4.424 4.317 4.396 4.35 4.472 4.29 3.556 4.575 4.361 7,75-4,67 11,5 - Penjualan Listrik ke Bisnis/ Perdagangan juta KWH 1.981 2.61 2.1 1.938 2.86 2.184 2.188 2.17 2.146 2.25 2.155 2.413 2.29 15,6-5,9 13,45 - Penjualan Listrik Total juta KWH 11.71 11.987 11.686 11.2 12.167 12.442 12.669 12.575 12.592 12.587 11.722 13.296 12.648 8,1-4,87 1,86 - Kunjungan Wisman orang 521.63 511.314 523.135 594.242 555.915 631 613.422 658.476 586.53 56.367 594.654 578.152 644.221 23,5 11,43 3,59 - Tingkat Hunian Hotel Berbintang di Jakarta persen 55 53 47 54 58 59 58 61 5 48 59 56 56,98,25 3,28 - Tingkat Hunian Hotel Berbintang di Bali persen 6 53 57 59 59 6 65 66 61 62 65 6 61 1,86 2,17 2,3 Ekspor Non Migas Utama - Barang dari Logam Tidak Mulia ribu ton 221 35 222 287 296 2 181 29 256 173 263 261 256 16,1-1,83 2,89 - Batubara ribu ton 27.72 24.318 23.676 26.185 23.231 21.7 24.65 23.115 24.126 21.371 22.946 24.935 27.564 1,82 1,54 23,7 - Biji Tembaga ribu ton 349 12 188 38 143 242 15 262 181 315 92 189 277-2,56 46,65-1,8 - Peralatan Listrik ribu ton 57 62 6 69 65 62 65 67 72 62 74 68 67 18,2 -,6 18,99 - Makanan Olahan ribu ton 177 139 126 14 135 127 141 189 194 126 197 28 244 38,12 17,73 5,77 - Karet Olahan ribu ton 211 27 214 253 244 246 252 261 248 228 261 243 243 15,38,11 18,95 - Bahan Kertas dan Kertas ribu ton 65 477 52 587 68 552 513 464 69 673 676 65 746 23,35 23,31 8,56 - Tekstil dan Produk Tekstil ribu ton 169 152 158 173 165 159 163 181 185 14 173 159 176 3,98 1,67 12,7 - Alat Angkutan dan Bagiannya ribu ton 5 53 48 61 4 38 136 55 75 69 5 67 54 7,81-19,21 15,91 - Minyak Nabati ribu ton 261 98 1339 149 992 1235 1323 1259 2528 141 25 245 1843-29,14-9,88-3,27 Sumber data : Bank Indonesia, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Keterangan : - Data penjualan kendaraan niaga, non niaga dan sepeda motor mulai ditambahkan ke dalam publikasi Indikator Aktivitas Ekonomi Terpilih (IAE) sejak edisi September 21 dengan data series kebelakang. - Data tingkat hunian Hotel Berbintang di wilayah Jakarta dan Bali mulai ditambahkan ke dalam publikasi Indikator Aktivitas Ekonomi Terpilih (IAE) sejak edisi Juli 21 dengan data series kebelakang. Data ekspor 1 komoditas utama ekspor non migas (selanjutnya disebut Ekspor Non Migas Utama) mulai ditambahkan ke dalam publikasi IAE sejak edisi Mei 29. Ekspor Non Migas Utama dipilih berdasarkan pangsa ekspor terhadap total ekspor periode Januari- Desember 28. Sampai dengan periode laporan, indikator Ekspor Non Migas belum masuk dalam analisis indikator aktivitas ekonomi secara bulanan, tahunan dan kumulatif. Analisis indikator aktivitas ekonomi Ekspor Non Migas Utama akan dilakukan pada saat ketersediaan data pertumbuhan secara bulanan (), tahunan () dan kumulatif (ytd) telah mencukupi 12 periode. *) Pertumbuhan kumulatif (ytd) dihitung dengan cara membandingkan data kumulatif dari bulan Januari hingga periode laporan denga n periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perhitungan pertumbuhan kumulatif mulai dilakukan pada periode Laporan IAE September 28. Khusus untuk indikator Tingkat Hunian Hotel, pertumbuhan dihitung dengan cara membandingkan rata-rata data dari bulan Januari sampai dengan periode laporan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. n/a Data sampai dengan laporan disusun belum tersedia. 2

ASSESMEN ASSESMEN SUBSEKTOR SUBSEKTOR EKONOMI EKONOMI (SUBSEKTOR (SUBSEKTOR TANAMAN REAL PERKEBUNAN) ESTATE) Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, PDB subsektor tanaman perkebunan secara konsisten mengalami pertumbuhan yang positif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,72% per tahun. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, subsektor tanaman perkebunan memiliki peluang yang besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta masih dijadikan andalan sebagai subsektor yang menyerap cukup banyak tenaga kerja sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan. Tingginya potensi yang dimiliki oleh subsektor perkebunan tersebut membuat perbankan lebih banyak mengucurkan dananya pada subsektor ini dibandingkan dengan subsektor lainnya dalam sektor pertanian. Pertumbuhan produksi subsektor tanaman perkebunan pada periode 22-21 rata-rata sebesar 7,26% dengan pertumbuhan tertinggi di tahun 26. Tingginya pertumbuhan pada tahun 26 tersebut di dorong oleh peningkatan produksi pada komoditi kelapa sawit. Pangsa komoditas kelapa sawit terhadap total produksi subsektor perkebunan sebesar 43,62% dan merupakan pangsa terbesar dalam subsektor perkebunan. Indonesia merupakan salah satu penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia. Tingginya permintaan dunia terhadap produk kelapa sawit seiring dengan penggunaannya sebagai bahan bakar nabati alternatif pengganti minyak menyebabkan harga produk tersebut meningkat cukup signifikan. Hal ini membuat komoditas kelapa sawit dijadikan sebagai salah satu komoditas perkebunan andalan yang menyokong penerimaan devisa. Untuk mendukung peningkatan daya saing komoditas sawit di pasar internasional, saat ini pemerintah telah siap menerapkan standar produksi minyak sawit berkelanjutan (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO). A. Peranan Subsektor Tanaman Perkebunan dalam PDB Selama 1 tahun terakhir (21-21) subsektor tanaman perkebunan selalu mencatat pertumbuhan positif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,72%. Di dalam sektor pertanian, pertumbuhan subsektor tanaman perkebunan lebih tinggi dari subsektor kehutanan (2,1%) dan subsektor tanaman bahan makanan (1,8%), namun masih di bawah subsektor perikanan (5,9%) dan subsektor peternakan & hasil-hasilnya (4,1%). Dalam kurun waktu 1 tahun, pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 21 (7,8%) dan terendah pada tahun 24 (,4%). Pertumbuhan subsektor tanaman perkebunan cenderung berada dalam tren yang menurun sejak tahun 21. Kontribusi subsektor tanaman perkebunan rata-rata sebesar,9% terhadap pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya (21 sd. 21). Pada tahun 21 subsektor tanaman perkebunan hanya memberikan kontribusi sebesar,5% terhadap perekonomian yang tumbuh 6,1%, atau naik tipis dibandingkan tahun 29 (,4%). (, %) 12 1 8 6 4 2 Grafik 3. Pertumbuhan Tahunan Sektor Pertanian Subsek. Tanaman bahan makanan Subsek. Tanaman perkebunan Subsek. Peternakan Subsek. Kehutanan Subsek. Perikanan Grafik 4. Kontribusi Pertumbuhan Terhadap PDB (%).8 Sektor Pertanian Subsek. Tanaman bahan makanan.7 Subsek. Tanaman perkebunan Subsek. Peternakan.6 Subsek. Kehutanan Subsek. Perikanan.5.4.3-2 -4 21 22 23 24 25 26 27 Sumber: BPS, diolah.2.1 -.1 21 22 23 24 25 26 27 Berdasarkan struktur ekonomi, distribusi subsektor tanaman perkebunan cenderung stabil dari tahun ke tahun dengan rata-rata sebesar 2,14% dari total ekonomi (21-21). Dibandingkan subsektor lainnya di sektor pertanian, distribusi subsektor tanaman perkebunan merupakan ketiga terbesar setelah subsektor tanaman bahan makanan (7,27%) dan subsektor perikanan (2,48%). Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, distribusi subsektor tanaman perkebunan menyentuh level terendahnya 3

pada tahun 26 sebesar 1,9% dan tertinggi terjadi pada tahun 22 sebesar 2,36%. Pada tahun 21, distribusi subsektor tanaman perkebunan sebesar 2,11%. Indeks deflator subsektor tanaman perkebunan tahun 21 naik 18,42% dibandingkan tahun 29 dan merupakan kenaikan terbesar dalam subsektor pertanian. Tingginya kenaikan indeks deflator tersebut disebabkan oleh kenaikan harga komoditi tanaman perkebunan. Grafik 5. Pangsa Subsektor Terhadap PDB Total (pangsa, %) 2 Sektor Pertanian Subsek. Tanaman bahan makanan 18 Subsek. Tanaman perkebunan Subsek. Peternakan 16 Subsek. Kehutanan Subsek. Perikanan 14 12 1 8 6 4 2 Grafik 6. Indek Deflator Subsektor (Indek Deflator) 45 Sektor Pertanian Subsek. Tanaman bahan makanan 4 Subsek. Tanaman perkebunan Subsek. Peternakan 35 Subsek. Kehutanan Subsek. Perikanan 18,42% 3 25 2 15 1 5 21 22 23 24 25 26 27 Sumber: BPS, diolah 21 22 23 24 25 26 27 Orientasi penjualan produk tanaman perkebunan adalah domestik. Berdasarkan Tabel Input Output Indonesia Updating 28, orientasi penjualan produk tanaman perkebunan didominasi oleh pasar domestik, dan hanya komoditas kopi dan tanaman perkebunan lainnya yang diekspor dengan porsi masing-masing sebesar 61,31% dan 52,33%. Sementara itu, produksi tanaman perkebunan mayoritas dialokasikan untuk memenuhi permintaan antara sektor/subsektor lain. Komoditi kelapa sawit dan tebu merupakan komoditi yang hasil produksinya paling besar digunakan untuk memenuhi permintaan antara yaitu masing-masing sebesar 99,62% dan 98,3%. Tabel 2. Input Output Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Sektor Permintaan (%) Pangsa Thd Pangsa Thd Penawaran (%) Permintaan Akhir Output Total Output Permintaan Investasi Perubahan Output (%) Sektor (%) Antara Konsumsi Ekspor Impor (PMTB) Stok Domestik 1 Padi 1.61 14.37 98.22 - - 1.78 99.99 1 2 Tanaman kacang-kacangan.14 1.25 55.88 36.93-7..19 63.43 36.57 3 Jagung.71 6.33 5.27 53.35 - (3.86).24 98.86 1.14 4 Tanaman umbi-umbian.28 2.47 36.99 68.7 - (5.96).27 99.42.58 5 Sayur-sayuran dan buah-buahan 1.72 15.37 27.94 (2.88).16 95.51 4.49 6 Tanaman bahan makanan lainnya 2.15 96.99 2.91 - (.15).25 7. 93. 7 Karet.34 3.5 96.86 -.59 2.28.26 99.74.26 8 Tebu.1.88 98.3.61-1.8 1 99.95 5 9 Kelapa.18 1.6 58.77 41.66 1.29 (3.16) 1.44 99.99 1 1 Kelapa sawit.74 6.58 99.62 -.89 (.89).39 99.87.13 11 Tembakau 4.33 85.57 18.25 - (3.82) - 1-12 Kopi.1.92 37.56 5.99 1.73 (6.59) 61.31 99.55.45 13 Teh 1 9 83.69 13.8 1.22 (.23) 2.25 99.18.82 14 Cengkeh 3.25 91.8 8 1.44 (.47) 7.87 99.88.12 15 Hasil tanaman serat 1 7 97.69 - - 1.92.39 6.14 93.86 16 Tanaman perkebunan lainnya.19 1.66 4.85 5.95.31.56 52.33 95.56 4.44 17 Tanaman lainnya.21 1.87 88.35 1.59 -.36.71 99.96 4 18 Peternakan.72 6.42 72.6 28.77.93 (2.28).53 94.72 5.28 19 Pemotongan hewan.79 7.5 36.34 63.15 -.5 1 99.7.3 2 Unggas dan hasil-hasilnya 1.3 9.15 48.69 57.42 - (6.11) 99.61.39 21 Kayu.42 3.73 89.97 4.59-5.18.26 99.3.97 22 Hasil hutan lainnya 9.84 68 32.22-4.81 2.89 98.16 1.84 23 Perikanan 1.75 15.55 39.62 61.32 - (2.49) 1.55 99.89.11 11.22 1 Sumber : Tabel Input Output Indonesia Updating 28 (diolah) 4

B. Produksi dan Produktivitas Komoditi pada Subsektor Tanaman Perkebunan Pertumbuhan produksi subsektor tanaman perkebunan dalam 9 (sembilan) tahun terakhir (22-21) rata-rata sebesar 7,26% dengan pertumbuhan tertinggi di tahun 26 (28,6%). Tingginya pertumbuhan pada tahun 26 tersebut di dorong oleh peningkatan produksi pada komoditi kelapa sawit sebesar 46,28%. Setelah tahun 26 pertumbuhan produksi subsektor tanaman perkebunan mengalami perlambatan dan mencapai titik terendah pada tahun 28 (,22%). Namun demikian, dalam dua tahun terakhir pertumbuhan produksi subsektor tanaman perkebunan mulai menunjukkan tren yang meningkat. Dari 11 komoditi pada subsektor tanaman perkebunan, komoditas kelapa sawit mempunyai porsi terbesar yakni rata-rata 58,68% (produksi dari 21 s.d. 21), kemudian disusul oleh kelapa (13,95%), karet (9,53%), dan tebu (9,43%). Produktivitas tanaman perkebunan selama 22-21 rata-rata tumbuh sebesar 4,51%. Pada tahun 21 produktivitas naik cukup signifikan sebesar 3,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar,72%. Sementara itu pada tahun 28 produktivitas tanaman perkebunan mengalami pertumbuhan negatif yang disebabkan oleh lebih rendahnya pertumbuhan produksi dibandingkan dengan pertumbuhan luas lahan. Diantara komoditi tanaman perkebunan, komoditi tebu memiliki produktivitas tertinggi dan pada tahun 21 produktivitasnya mencapai 6,2 ton/ha, sedangkan komoditi perkebunan yang produktivitas paling rendah adalah komoditi jambu mete yang hanya,25 ton/ha di tahun 21. Grafik 7. Produksi Komoditi Tanaman Perkebunan Grafik 8. Produktivitas Komoditi Tanaman Perkebunan (ribu ton) 3,5 3, 2,5 2, 1,5 (ribu ton) 25, 2, 15, 1, (ton/ha) 7. 6. 5. 4. 3. 21 22 23 24 25 26 1, 5 21 22 23 24 25 26 27 Karet Kakao Kelapa Kopi Tebu Tembakau Sawit (sb.kanan) Teh Lada Kapas Jambu Mete 5, 2. 1. 27 28 29 21 Sumber: Ditjen Perkebunan Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah Kesejahteraan petani pada subsektor tanaman perkebunan rakyat berada di atas kesejahteraan petani sektor pertanian secara umum. Hal ini tercermin dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat yang selalu berada di atas indeks NTP total. Tingginya peningkatan NTP tanaman perkebunan rakyat pada tahun 28 diperkirakan di dorong oleh tingginya harga komoditas internasional beberapa komoditi seperti CPO dan Kakao yang menyebabkan peningkatan penerimaan petani. Setelah itu, memasuki periode krisis akhir tahun 28 NTP tanaman perkebunan turun cukup drastis mencapai level terendahnya sebesar 1,1 pada bulan Desember. Selanjutnya indeks NTP mulai menunjukkan tren peningkatan walaupun kenaikannya belum dapat menyamai tahun 28. Indeks NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat pada bulan Februari 211 sebesar 15,79, berada diatas indeks NTP sektor pertanian yaitu 13,33%. 5

Grafik 9. Perkembangan Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat indeks 12 115 11 15 1 95 9 85 4 35 3 25 2 15 1 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 211 NTP Perkebunan Rakyat NTP Total CPO (Sb.Kanan, MYR/MT) Cocoa (Sb.Kanan, USD/MT) Sumber: BPS C. Perkembangan Neraca Perdagangan Data ekspor impor subsektor tanaman perkebunan tercermin dari data ekspor impor kelompok kopi, teh, coklat, rempah-rempah (SITC-7); kelompok tembakau & olahan tembakau (SITC-12); kelompok biji-bijian mengandung minyak (SITC-22); dan kelompok karet mentah (SITC-23). Untuk selanjutnya data ekspor impor dari keempat kelompok tersebut akan disebut data ekspor impor subsektor tanaman perkebunan. Proporsi ekspor dan impor subsektor tanaman perkebunan terhadap total ekspor dan impor relatif rendah. Pada tahun 21, proporsi ekspor subsektor tanaman perkebunan terhadap total ekspor Indonesia sebesar,9%, sedangkan proporsi impor subsektor tanaman perkebunan terhadap total impor hanya,2%. Neraca perdagangan subsektor tanaman perkebunan mengalami net ekspor (tahun 26 s.d. 21). Dalam kurun waktu tersebut net ekspor subsektor tanaman perkebunan rata-rata sebesar USD5,98 miliar. Net ekspor subsektor tanaman perkebunan pada tahun 21 mencapai angka tertinggi sebesar USD8,92 miliar. Angka ekspor tercatat USD11,24 miliar, atau naik 233% dibandingkan tahun 29, sementara impor mengalami kenaikan 123%. Kenaikan ini terutama didorong oleh kenaikan ekspor karet dari USD1,62 miliar pada tahun 29 menjadi USD7,3 miliar di tahun 21, atau naik sebesar 352%. Negara tujuan ekspor karet terbesar yaitu ke negara-negara Asia (terutama negara Cina, Jepang, dan Singapura) sebesar USD 3,6 miliar (49,32%) dan negara-negara di kawasan Amerika (terutama ke negara Amerika Serikat, Brazil, dan Kanada). sebesar USD2,45 miliar (33,59%) Peningkatan nilai ekspor subsektor tanaman perkebunan disebabkan oleh peningkatan harga komoditi 1 tanaman perkebunan. Sementara itu, pertumbuhan volume ekspor cenderung stagnan. Harga komoditi tanaman perkebunan pada tahun 21 meningkat 197,22% dibandingkan tahun 29, sedangkan pertumbuhan volume ekspor hanya 12,6%. 1 Perhitungan harga komoditi menggunakan pendekatan nilai ekspor dibagi dengan volume ekspor 6

Grafik 1. Ekspor Impor Tanaman Perkebunan (Miliar USD) 12. 1 8. 8.92 7.37 6. 5.92 5.38 4. 2. 2.33 26 27 Net Ekspor Ekspor Impor Sumber: Data EXIM BI Grafik 11. Neraca Perdagangan Komoditi Tanaman Perkebunan (Miliar USD) 1 8. 6. 4. 2. -2. 5.38 5.92 -.3 -.45 7.37 2.33 -.8 -.58 26 27 TOBACCO AND TOBACCO MFD. COFFEE, TEA, COCOA, SPICES OIL SEEDS, NUTS & KERNELS CRUDE RUBBER Total 8.92-1.8 Grafik 12. Perkembangan Nilai, Volume, dan Harga Ekspor Tanaman Perkebunan (Nilai/Volume) 3. 2.5 Nilai (miliar USD. Sb. Kanan) P Vol (Sb.kanan) Linear (Vol (Sb.kanan)) 12. 1 2. 8. 1.5 6. 1. 4..5 2. 26 27 - Sumber: Data EXIM BI D. Keterkaitan dengan Sektor Lain Berdasarkan pendekatan linkages dalam tabel Input Output Indonesia Updating 28, komoditas dalam subsektor tanaman perkebunan tercermin dari karet, tebu, kelapa, kelapa sawit, tembakau, kopi, teh, cengkeh, hasil tanaman serat, dan tanaman perkebunan lainnya. Komoditi tembakau memiliki derajat daya penyebaran (power of dispersion) sebesar 1,14, lebih tinggi dibandingkan komoditi tanaman perkebunan yang lain. Derajat penyebaran sebesar 1,14 berarti 1 unit output komoditi tembakau akan mendorong output komoditi sektor ekonomi lainnya sebesar 1,14 unit. Sementara itu, komoditi kelapa sawit memiliki derajat kepekaan (degree of sensitivity) tertinggi dibandingkan komoditi lainnya yaitu 1,2, yang berarti untuk menghasilkan 1 unit output komoditas kelapa sawit dibutuhkan input dari sektor ekonomi lainnya sebesar 1,2 unit. Tabel 3. Derajat Kepekaan dan Daya Penyebaran Komoditi Subsektor Tanaman Perkebunan Keterangan Indeks Derajat Kepekaan Indeks Derajat Penyebaran Karet.86.94 Tebu.97.87 Kelapa.7.86 Kelapa sawit 1.2.96 Tembakau.64 1.14 Kopi.68.98 Teh.62.76 Cengkeh.64.79 Hasil tanaman serat.63.75 Tanaman perkebunan lainnya.78.93 Sumber: Data I-O Updating 28 BPS, diolah 7

Input utama komoditi tanaman perkebunan adalah benih komoditas tanaman perkebunan kemudian diikuti oleh pupuk dan pestisida, khusus komoditi kelapa sawit diikuti oleh lembaga keuangan. Berdasarkan alokasi outputnya, produksi tanaman perkebunan adalah hasil produksi komoditas tanaman perkebunan dan indutri pengolahan (industri minuman, industri barang karet dan plastik, industri gula, industri minyak & lemak, industri rokok, industri makananan lainnya, dan industri pemintalan). Tabel 4. Input Utama dan Alokasi Output Komoditi Subsektor Tanaman Perkebunan Input Utama % Komoditi Alokasi Output % Karet 74.11 Karet 8.71 Industri pupuk dan pestisida 7.16 Industri barang karet dan plastik 1.52 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 4.42 Karet Kegiatan yang tak jelas batasannya 2.6 Industri kimia 3.91 Industri tekstil, pakaian dan kulit 1.1 Perdagangan 1.97 Jasa lainnya.87 Tebu 72.63 Tebu 65.5 Industri pupuk dan pestisida 6.82 Industri gula 28.4 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 3.84 Tebu Industri minuman 2.46 Bangunan 3.62 Industri makanan lainnya.92 Lembaga keuangan 2.77 Industri tepung, segala jenis.65 Kelapa 73.8 Kelapa 9.64 Industri pupuk dan pestisida 7.76 Industri minyak dan lemak 4.78 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 4.2 Kelapa Industri gula 1.54 Bangunan 2.43 Industri tepung, segala jenis.53 Lembaga keuangan 1.73 Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun.48 Kelapa sawit 67.52 Kelapa sawit 63.14 Lembaga keuangan 5.72 Industri minyak dan lemak 25.49 Industri pupuk dan pestisida 5.1 Kelapa sawit Industri kimia 2.89 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 3.3 Industri makanan lainnya 1.1 Bangunan 2.93 Peternakan.66 Tembakau 54.3 Tembakau 96.99 Industri pupuk dan pestisida 17.35 Industri rokok 2.96 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 9.16 Tembakau Restoran dan hotel 3 Perdagangan 3.16 Angkutan udara Lembaga keuangan 2.97 Angkutan air Kopi 66.43 Kopi 95.94 Industri pupuk dan pestisida 11.11 Industri makanan lainnya 2. Penambangan minyak, gas dan panas bumi 5.98 Kopi Unggas dan hasil-hasilnya.77 Lembaga keuangan 4.76 Peternakan.34 Perdagangan 3.8 Pemotongan hewan.21 Teh 8.73 Teh 98.78 Industri pupuk dan pestisida 6.34 Industri makanan lainnya.49 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 3.38 Teh Industri minuman.24 Lembaga keuangan 1.95 Unggas dan hasil-hasilnya.19 Perdagangan 1.71 Peternakan 8 Cengkeh 78.42 Cengkeh 97.61 Industri pupuk dan pestisida 9.12 Industri rokok 2.33 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 4.77 Cengkeh Restoran dan hotel 3 Perdagangan 2.3 Industri minuman 1 Lembaga keuangan.82 Industri kimia Hasil tanaman serat 82.4 Hasil tanaman serat 98.87 Industri pupuk dan pestisida 5.9 Industri pemintalan.63 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 3.19 Hasil tanaman serat Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun.27 Peternakan 1.12 Industri tekstil, pakaian dan kulit.15 Perdagangan.9 Industri bambu, kayu dan rotan 4 Tanaman perkebunan lainnya 67.51 Tanaman perkebunan lainnya 8.32 Industri pupuk dan pestisida 11.65 Kegiatan yang tak jelas batasannya 12.22 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 6.17 Tanaman perkebunan lainnya Industri makanan lainnya 1.65 Perdagangan 2.4 Industri minuman 1.4 Bangunan 2.34 Industri kimia.81 Sumber: Data I-O Updating 28 BPS, diolah E. Pembiayaan Kredit Subsektor Tanaman Perkebunan Kredit pada subsektor tanaman perkebunan terus meningkat dan mendominasi nilai kredit di sektor pertanian. Kredit pada tanaman perkebunan memiliki share yang dominan di dalam kredit sektor pertanian, yakni rata-rata sebesar 66,95%. Nilai kredit subsektor tanaman perkebunan pada tahun 21 tercatat sebesar Rp.74.433 miliar, atau 82,78% dari penyaluran kredit di sektor pertanian yang mencapai Rp.89.922 miliar. Selama periode 2-21 penyaluran kredit subsektor tanaman perkebunan meningkat rata-rata sebesar 16,35% per tahun dari Rp.13.368 miliar di tahun 2. Dalam kurun waktu tersebut, pertumbuhan kredit tanaman perkebunan mencapai puncaknya pada tahun 21 sebesar 42,8%. Komoditas tanaman perkebunan yang dominan dibiayai oleh kredit perbankan antara lain kelapa sawit, tembakau, karet, tebu, dan teh. 8

Grafik 13. Pembiayaan Kredit Subsektor Tanaman Perkebunan (miliar Rp) 1, 9, 8, 7, 6, 5, 4, (%) 45 4 35 3 25 2 Grafik 14. Rata-rata Share Kredit Subsektor Tanaman Perkebunan Tanaman Pangan 7% Kehutanan dan pemotongan kayu(logging) 3% Perikanan 5% Peternakan 6% Sarana pertanian 1% Perburuan % 3, 2, 1, - 2 21 22 23 24 25 26 27 Total Kredit Pertanian 19,389 2,359 21,788 23,671 32,286 36,598 44,946 55,864 66,95 75,392 89,922 Kredit Kelompok Tanaman Perkebunan 13,368 14,81 15,246 16,148 17,891 22,48 29,557 38,822 45,183 52,125 74,433 Growth Kredit Tanaman Perkebunan 1.79 2.94 5.92 1.79 25.65 31.48 31.35 16.39 15.36 42.8 15 1 5 Lainnya 11% Tanaman Perkebunan 67% Sumber: LBU, Bank Indonesia Sumber: LBU, Bank Indonesia 9

BOKS : Gambaran Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit dan CPO di Indonesia Indonesia merupakan salah satu penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia, luas areal dan produksi kelapa sawit berdasarkan publikasi dari data statistik Ditjen Perkebunan adalah seluas 7,82 juta ha dengan produksi 19,84 juta ton pada tahun 21 yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, penyebaran paling banyak adalah di daerah Sumatera diperkirakan seluas 5,29 Juta hektar. Berdasarkan data Oil World, 47% minyak kelapa sawit (Palm Oil) dunia pada tahun 21 di produksi oleh Indonesia dan produksi terbesar kedua adalah Malaysia sebesar 39%. Selebihnya negara pemasok minyak kelapa sawit lainnya berasal dari negara Nigeria, Thailand, Kolombia, Ekuador, Papua Nugini, Pantai Gading, dan Brazil. Tabel 5. Peran Indonesia dalam Produksi Minyak Kelapa Sawit Dunia1993 21 Keterangan 1993 2 27 28 29 21 Malaysia Indonesia Nigeria Thailand Kolombia Lainnya Dunia Produksi 7,43 3,421 645 297 324 1,716 13,86 ( ton) Share (%) 53.62 24.78 4.67 2.15 2.35 12.43 1 Produksi 1,842 7, 74 525 524 2,196 21,827 ( ton) Share (%) 49.67 32.7 3.39 2.41 2.4 16 1 Produksi 15,823 17,373 835 1,2 732 2,89 38,673 ( ton) Share (%) 4.91 44.92 2.16 2.64 1.89 7.47 1 Produksi 17,735 19,2 86 1,16 8 3,149 42,94 ( ton) Share(%) 41.34 44.75 2. 2.7 1.86 7.34 1 Produksi ( ton) 17,565 19,4 N.A N.A N.A N.A N.A Share(%) - - - - - - - Produksi ( ton) 16,994 2,48 N.A N.A N.A N.A 43,574 Share(%) 39. 47. - - - - - Sumber: Oil World dan MPOB, Ditjen Perkebunan, CEIC A. Perkembangan Luas Lahan dan Produksi Produksi kelapa sawit Indonesia terutama berasal dari perkebunan swasta dengan rata-rata jumlah produksi selama 1 tahun terakhir sebesar 7,17 juta ton atau sekitar 5% dari rata-rata jumlah produksi nasional sebesar 14,22 juta ton. Seiring dengan penambahan luas areal perkebunan serta berkembanganya industri kelapa sawit di berbagai wilayah serta membaiknya harga CPO dunia, mendorong produksi kelapa sawit nasional terus meningkat setiap tahun. Pertumbuhan produksi kelapa sawit nasional sebesar rata-rata 1,72% per tahun dengan pertumbuhan produksi tertinggi tahun 26 (25,28%). Produksi kelapa sawit sempat mencatat pertumbuhan negatif pada tahun 28 akibat turunnya produksi yang berasal dari perkebunan milik negara (-8,45%) dan perkebunan swasta (-5,56%), sementara produksi kelapa sawit dari perkebunan tanaman rakyat justru meningkat 8,88%. Grafik 15. Produksi Kelapa Sawit Grafik 16. Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit juta ton 25. 2 17.35 17.66 17.54 18.64 19.84 %, 3 25. 2 Perkebunan Rakyat Perkebunan Swasta Perkebunan Negara Total 15. 1 8.4 9.62 1.44 1.83 11.86 15. 1 5. 5. -5. 21 22 23 24 25 26 27 28 29*) 21**) -1-15. Perkebunan Rakyat Perkebunan Swasta Perkebunan Negara Total -2 22 23 24 25 26 27 28 29*) 21**) Sumber: Ditjen Perkebunan Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah 1

198 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 28 29*) 21**) Kepemilikan lahan kelapa sawit telah mengalami pergeseran semenjak tahun 199-an. Semula perkebunan kelapa sawit sebagian besar dimiliki oleh perkebunan milik negara kemudian setelah terjadi investasi besar-besaran dari perkebunan swasta maka kini perkebunan swasta mendominasi perkebunan kelapa sawit. Luas areal lahan kelapa sawit milik swasta pada tahun 21 sendiri sebesar 3,89 juta ha, sementara milik perkebunan rakyat dan milik negara masing-masing 3,31 juta ha dan,62 juta. Produktivitas rata-rata perkebunan kelapa sawit tahun 21-21 sebesar 2,25 ton/ha. Pada tahun 21, produktivitas perkebunan kelapa sawit mencapai 2,54 ton/ha atau tumbuh 2,15% dibanding tahun 29. Grafik 17. Luas Areal & Kepemilikan Perkebunan Kelapa Sawit (ribu ha) 45 4 35 3 25 2 15 1 5 Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah B. Konsumsi Pada tahun 21, sekitar 59% produksi minyak kelapa sawit (CPO) diekspor ke luar negeri, sementara sisanya diserap untuk konsumsi dalam negeri. Konsumsi minyak kelapa sawit domestik dominan digunakan oleh industri minyak goreng (25%), sedangkan sisanya digunakan untuk kepentingan biofuel (7%), industri oleokimia (4%), margarine (3%), dan sabun (2%). Grafik 18. Konsumsi Kelapa Sawit ekspor Migor Biofuel Oleokimia Margarin sabun Ekspor 7% 59% 41% Domestik 25% 4% 3% 2% Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah 11

C. Harga Seiring dengan meningkatnya permintaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu komoditi yang digunakan dalam pembuatan bio energy untuk alternatif bahan bakar, harga minyak kelapa sawit mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Sejak tahun 22, harga komoditi tersebut telah meningkat 14,8% dari MYR1.355,87/MT menjadi MYR2.776,6/ MT. Harga minyak kelapa sawit mencapai puncaknya pada tahun 28 sebesar MYR 2.836,78/MT, kemudian mengalami penurunan sebesar 2,11% pada tahun 29 akibat krisis ekonomi global yang terjadi di akhir tahun 28. Setelah mulai mengalami perbaikan ekonomi, harga komoditi tersebut kembali meningkat sebesar 22,52% di tahun 21. Hingga bulan Maret 211 secara rata-rata harga minyak kelapa sawit telah meningkat 34,97% dan berada pada level MYR3.747,67/MT. Tingginya harga CPO internasional mendorong terjadinya inflasi komoditi minyak goreng dalam Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) dan Indeks Harga Konsumen (IHK). Dengan rata-rata kenaikan harga CPO Internasional sebesar 11,72%/tahun (23-21), IHK dan IHPB minyak goreng rata-rata mengalami inflasi sebesar 9,26% dan 4,74% per tahun. Inflasi IHK minyak goreng tertinggi terjadi pada tahun 27 (38,86%) seiring dengan pertumbuhan harga CPO internasional yang mencapai 61,42%. Grafik 19. Perkembangan Harga CPO & Inflasi Minyak Goreng (Indeks) 18 16 14 12 1 8 6 4 2 14,78 % 38,86 % 22 23 24 25 26 27 (MYR/MT) 3 25 2 15 1 5 IHPB_Migor IHK_migor Harga CPO Internasional Sumber: BPS, CEIC D. Perkembangan Ekspor Komoditas minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berkontribusi terhadap penerimaan devisa negara yang dapat diandalkan. Hal ini tercermin dari nilai dan volume ekspor minyak kelapa sawit yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 21, share ekspor komoditi minyak kelapa sawit terhadap total ekspor non migas adalah sebesar 1,54% atau berada di urutan kedua setelah komoditi batubara 13,81%. Nilai ekspor pada tahun 21 mencapai USD13,65 miliar dengan jumlah volume ekspor 16,16 juta ton. Nilai ekspor tersebut telah meningkat 578,5% dibandingkan tahun 22, sementara volume ekspor naik 172,4%. Negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar periode Januari 211 yaitu India (26,6%), Malaysia (2,4%), Belanda (7,8%), dan Singapura (6,9%). Jumlah impor produk minyak kelapa sawit tidak terlalu signifikan dibandingkan jumlah ekspor. Walaupun mengalami pertumbuhan sebesar 87,9%, namun nilai impor minyak kelapa sawit pada tahun 29 hanya sebesar 16,82 juta ton dengan volume 24.484 ton. 12

Grafik 2. Perkembangan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Grafik 21. Perkembangan Impor Minyak Kelapa Sawit 18, 16, 14, 12, 1, 8, 6, 4, 2, MYR/MT 3 25 2 15 1 5 22 23 24 25 26 27 Volume (ribu ton) Nilai (juta USD) Harga CPO (sb.kanan) (ribu USD) 18, Nilai (Sb.Kiri) Volume (Sb.Kanan) 16,822 16, 14, 12, 1, 8,366 8,953 8, 7,36 6, 4,745 5,94 4, 2, 3,267 2,494 22 23 24 25 26 27 28 29 (Ton) 3, 25, 2, 15, 1, 5, Sumber: Bank Indonesia, CEIC Sumber: Ditjen Perkebunan Untuk melindungi kebutuhan konsumsi domestik mengingat tingginya harga CPO internasional, maka pemerintah mengenakan pajak ekspor yang besarnya tergantung terhadap Harga Patokan Ekspor (HPE) CPO dengan berpedoman pada harga rata-rata minyak sawit mentah (Cost Insurance and Freight/CIF) di Rotterdam, Belanda. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.11/28 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, Bea Keluar (BK) produk kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya untuk bulan Maret 211 sebesar 25% atau tetap dibandingkan bulan sebelumnya dengan harga referensi CPO bulan Maret sebesar USD1.294,53/ metrik ton. Sementara BK untuk bulan April 211 ditetapkan sebesar 22,5% dengan HPE USD1.27,53 per metrik ton. E. Permasalahan dan Kebijakan Pemerintah Isu lingkungan yang menyebabkan produk CPO Indonesia sulit menembus pasar Uni Eropa. Produk CPO Indonesia diisukan tidak ramah lingkungan dan berasal dari penggundulan hutan dan lahan gambut. Pengembangan kebun sawit ini diperkirakan melepaskan jutaan ton karbon dioksida (CO2) dan membuat Indonesia menjadi kontributor emisi CO2 terbesar ketiga di dunia sehingga menimbulkan efek rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim. Saat ini di UE terdapat aturan EU Directive mengenai ketentuan emisi rumah kaca yang akan diberlakukan pada 211. Dalam aturan tersebut negara UE tidak bisa mengimpor CPO karena dianggap komoditas tersebut tidak memenuhi ketentuan mengenai pembatasan emisi mereka. Akibatnya, CPO tidak bisa masuk ke pasar UE 2. Namun demikian saat ini Pemerintah sedang menjajagi kerjasama dengan Serbia-Montenegro untuk ekspor CPO ke negara tersebut. Hal ini dilihat sebagai potensi bagi produk CPO Indonesia untuk dapat memasuki pasar kawasan Eropa Timur. Infrastruktur industri CPO nasional termasuk akses jalan dan konektivitasnya dengan pengangkutan di pelabuhan masih kurang memadai. Selama ini jalan di sentra-sentra perkebunan sawit, terutama di kabupaten, untuk mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit) masih banyak yang rusak. Masalah lain yang dihadapi industri CPO adalah pertumbuhan industri yang kurang selaras dengan pertumbuhan industri turunannya. Pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini hanya diikuti pertumbuhan industri hulu, seperti industri fatty acid, fatty alcohol, glycerine, methyl esther. Pemanfaatan CPO belum dilakukan secara optimal untuk pengembangan industri hilir. Produk 2 Sumber : http://www.sawitwatch.or.id; http://www.datacon.co.id/cpo2-29sawit.html 13

industri hilir hasil olahan CPO seperti surfactant, farmasi, kosmetik, dan produk kimia dasar organik pengembangannya masih cukup minim 4. Program pembangunan perkebunan tahun 21-214 hanya satu yaitu peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan. Kegiatan yang fokus dilakukan terkait dengan komoditi kelapa sawit yaitu revitalisasi perkebunan, penyediaan bahan tanaman sumber bahan bakar nabati/bio-energi, pengembangan komoditi ekspor, serta dukungan pengembangan tanaman perkebunan berkelanjutan. Tabel 5. Fokus pembangunan perkebunan tahun 211 Sumber: Dirjen Perkebunan Pemerintah telah siap menerapkan standar produksi minyak sawit berkelanjutan (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO) untuk mendukung peningkatan daya saing komoditas sawit di pasar internasional. ISPO merupakan rangkuman dari beberapa produk hukum terkait penyelenggaraan industri minyak sawit seperti undang-undang tentang kehutanan, undang-undang tentang perkebunan, undang-undang tentang lingkungan hidup dan undang-undang tentang tenaga kerja. Tujuan ISPO untuk meningkatkan kepedulian pentingnya memproduksi kelapa sawit berkelanjutan, meningkatkan tingkat kompetisi minyak kelapa sawit Indonesia di pasar dunia, dan mendukung komitmen Indonesia dalam pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Saat ini sifat ISPO masih berupa Surat Edaran dan belum menjadi kewajiban sampai dengan 212 3. 3 Sumber : http://www.investor.co.id ; 21/1/211 14

GRAFIK PERTUMBUHAN INDIKATOR TERPILIH 24. Grafik 22. Produksi Minyak Mentah (% ) (% ) 16. 1 Grafik 23. Produksi Kondensat (% ) (% ) 15. 2 12. 5. 1 16. 12. 8. 4. -4. 8. 4. -4. -8. -5. -1-15. 5. -5. -1-8. -12. -2-15. Grafik 24. Produksi Kendaraan Non Niaga Grafik 25. Penjualan Kendaraan Non Niaga (% ) (% ) (% ) (% ) 8 6 1 5 6 4 2 5 4 3 2 1 8 6 4 2 4 3 2 1-2 -4-6 -1-2 -3-4 -2-4 -1-2 -3 Grafik 26. Produksi Kendaraan Niaga Grafik 27. Penjualan Kendaraan Niaga (% ) (% ) 12 8 1 6 8 6 4 4 2 2-2 -2-4 -4-6 -8-6 (% ) (% ) 14 5 12 4 1 3 8 2 6 1 4 2-1 -2-2 -4-3 -6-4 15

8 6 4 2-2 -4 Grafik 28. Produksi Sepeda Motor (% ) (% ) 6 5 4 3 2 1-1 -2-3 -4 8 6 4 2-2 -4 Grafik29. Penjualan Sepeda Motor (% ) (% ) 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 111 12 5 4 3 2 1-1 -2-3 -4 Grafik 3. Ekspor Besi dan Baja Grafik 31. Konsumsi Semen (% ) 8 6 4 2-2 -4-6 -8 (% ) 12 1 8 6 4 2-2 -4-6 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 (% ) (% ) 8 8 6 6 4 4 2 2-2 -2-4 -4 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 Grafik 32. Ekspor Kayu Lapis Grafik 33. Ekspor Kayu Gergajian (% ) 15 (% ) 1 (% ) (% ) 75. 1 125. 1 75. 5 25. -25. -5-75. 75. 5 25. -25. -5-75. 5 25. -25. -5-75. -1 75. 5 25. -25. -5 16

(% ) 1 75. 5 25. -25. -5-75. Grafik 34. Penjualan Minyak Diesel (% ) 1 75. 5 25. -25. -5 (% ) 3 25. 2 15. 1 5. -5. -1-15. -2 Grafik 35. Penjualan Listrik ke Sektor Industri 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11112 (% ) 35. 3 25. 2 15. 1 5. -5. -1-15. -2 (% ) 25. 2 15. 1 5. Grafik 36. Penjualan Listrik ke Bisnis/Perdagangan (% m-t-m ) 14. 12. 1 8. 6. 4. 2. -2. -4. -6. (% ) 18. 16. 14. 12. 1 8. 6. 4. 2. -2. -4. Grafik 37. Penjualan Listrik Total (% ) 15. 1 5. -5. -1 Grafik 38. Kunjungan Wisman (% ) (% ) 5 4 3 2 1-1 -2 4 3 2 1-1 -2-3 Grafik 39. Tingkat Hunian Hotel - Jakarta (% ) (% ) 3 25. 2 15. 1 5. -5. -1-15. -2 4 3 2 1-1 -2-3 17

Grafik 4. Tingkat Hunian Hotel - Bali (% ) (% ) 15. 1 5. -5. -1-15. -2-25. 4 3 2 1-1 -2-3 18