1 LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG DI PT. KALPATARU SAWIT PLANTATION DESA BATU-BATU KECEMATAN MUARA BADAK KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Oleh : EMILIANA HULAU LIMAN NIM : 110 500 053 PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2014
HALAMAN PENGESAHAN Judul : Laporan Praktek kerja Lapang di PT. Kalpataru Sawit Plantation Desa Batu-Batu Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur Nama : Emiliana Hulau Liman Nim : 110 500 053 Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Manajemen Pertanian Menyetujui, Pembimbing Penguji I Penguji II Yuanita, SP, MP NIP.19661125200112001 Ir. Budi Winarni, MSi, NIP.196109141990012001 Nurlaila, SP, MP NIP.197110302001122001 Menyetujui/Mengesahkan Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Lulus pada tanggal : Nur Hidayat, SP, MSc NIP. 197210257200112100
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) dengan tepat. Dalam kesempatan ini saya sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Kedua Orang Tua yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik secara moril maupun materil kepada penulis. 2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 3. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku ketua Jurusan Manajemen Pertanian 4. Bapak Nur Hidayat, SP, MSc, selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan 5. Ibu Yuanita, SP, MP selaku Dosen Pembimbing 6. Ibu Ir. Budi Winarni, MSi dan Ibu Nurlaila, SP, MP selaku dosen penguji PKL. 7. Bapak Bimo Febrianto selaku General Manager PT. Kalpataru Sawit Plantation. 8. Para Karyawan Lapangan (Staf) yang telah memberikan banyak bimbingan selama kegiatan praktek Kami. 9. Rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyusunan materi laporan maupun dari segi pengetahuan. Namun demikian penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pembaca. Penulis, Kampus Sungai Keledang Juni 2014
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii iv I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Maksud dan Tujuan... 3 C. Hasil Yang Diharapkan... 3 II. III. KEADAAN UMUM PETRUSAHAAN A. Tinjauan Umum Perusahaan... 4 B. Lokasi dan Waktu Kegiatan... 5 HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG A. Pembibitan Utama.... 6 1. Pengendalian Gulma... 6 2. Pemupukan... 8 3. Penyiraman... 9 4. Pengendalian Hama... 11 5. Pengendalian Penyakit... 12 B. Penanaman... 14 C. Perawatan TBM... 16 1. Pemupukan... 17 2. Pengendalian Gulma di Piringan... 19 D. Perawatan TM.... 20 1. Pemupukan... 21 E. Panen dan Pengangkutan... 22 1. Sensus Produksi... 23 2. Melakukan Potong buah... 24 3. Pengangkutan TBS... 26 IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 28 B. Saran... 29 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Struktur Organisasi Perusahaan... 33 2. Dokumentasi PKL DI PT. Kalpataru Sawit Plantation 34
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komoditas kelapa sawit memegang peran yang cukup stategis bagi perekonomian Indonesia. Minyak sawit merupakan bahan baku utama produk pangan maupun non pangan. Komoditas ini mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan yang mempunyai nilai yang tinggi apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. untuk itu pemerintah telah menetapkan kebijakan pendirian perusahaan perkebunan besar dan plasma, terutama di Kalimantan Timur. Selain itu dengan diadakannya pengembangan perkebunan kelapa sawit maka akan terbuka peluang besar dalam penerimaan tenaga kerja di bidang perkebunan (Selardi, 2003). Kelapa sawit di Indonesia dewasa ini merupakan komoditas primadona, luasnya terus berkembang dan tidak hanya merupakan monopoli perkebunan besar negara atau perkebunan swasta. Saat ini perkebunan rakyat sudah berkembang pesat. Perkebunan kelapa sawit yang semula hanya di Sumatera Utara dan di Daerah Istimewa Aceh saat ini sudah berkembang di beberapa provinsi, antara lain Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Irian Jaya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan khususnya Kalimantan Timur yang sedang
2 dalam tahap perluasan daerah budidaya tanam kelapa sawit (Sastrosayono, 2006). Untuk pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dimana mahasiswa yang merupakan salah satu aset pembangunan nasional hendaknya tidak hanya berkecimpung di dalam perguruan tinggi saja tetapi mahasiswa juga harus mampu mengembangkan keterampilan untuk menghadapi perubahan-perubahan dan mampu berperan aktif dalam berfikir secara intelektual dan bersosialisai dengan masyarakat untuk membantu ke arah kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu Politeknik Pertanian Negeri Samarinda mempunyai program Praktek Kerja Lapang dengan harapan agar para lulusannya mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya serta dapat mengaplikasikannya secara langsung dengan ketentuan yang ada di lapangan. B. Tujuan Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan bertujuan agar mahasiswa : 1. Mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang diperoleh di perkuliahan dan praktek langsung di lapangan. 2. Memahami cara kerja di lapangan dengan melibatkan diri untuk pemahaman lebih lanjut dalam budidaya kelapa sawit. 3. Memahami urutan kegiatan tata kerja kelapa sawit. 4. Menambah pengetahuan mahasiswa agar mampu berpikir secara praktis mengenai yang sesungguhnya terjadi di lapangan.
3 C. Hasil Yang Diharapkan 1. Menambah Wawasan dan pengetahuan dan melakukan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. 2. Mahasiswa dapat mempelajari dan memahami semua tahapan kegiatan budidaya kelapa sawit. 3. Memahami penggunaan alat, bahan dan prasarana yang ada dilapangan. 4. Dapat menjadi tenaga kerja yan
4 II. KEADAAN UMUM PERUSAHAN A. Tinjauan Umum Perusahaan PT. Kalpataru Sawit Plantation salah satu anak perusahaan dari Kalpataru Investama Group yang melakukan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Areal perijinan PT. Kalpataru Sawit Plantation secara wilayah administerasi pemerintahan Kalimantan Timur, masuk ke dalam wilayah administerasi Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. PT. Kalpataru Sawit Plantation berdiri pada tanggal 3 Mei 2009 berdasarkan akte notaries Bero Haryono SH Nomor 01. Perijinan untuk pembukaan lahan yang dimiliki oleh PT. Kalpataru Sawit Plantation di tahun 2009 sudah terbit menjadi Hak Guna Usaha dan kegiatan land clearing dimulai untuk pembibitan areal yang sudah tertanam seluas 1012 Ha sampai bulan Mei 2012. Dalam operasionalnya PT.Kalpataru Sawit Plantation, terdiri atas 8 divisi dan pembibitan. Jenis topografi berdasarkan hasil survei yang dilakukan, sebagian besar areal menunjukkan topografi berbukit dan sebagian lagi dataran dengan kemiringan antara 0-15%, ketinggian tempat berkisar antara 0-100 m dari permukaan laut. Cabang PT. Kalpataru Sawit Plantation salah satu kantor yang ada di Kalimatan Timur berada di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartenagara yang di dirikan sejak tahun 2009 hingga sampai saat ini. Tujuan utama Cabang PT. Kalpataru Sawit Plantation adalah menyuluh petani-petani
5 Muara Badak tentang tata cara membudidayakan kelapa sawit yang baik dan benar. B. Lokasi dan Waktu Kegiatan Perusahaan Perkebunan PT. Kalpataru Sawit Plantation yang berlokasi di : Desa Kecamatan Kabupaten Provinsi : Batu-Batu : Muara Badak : Kutai Kartanegara : Kalimantan Timur Waktu pelaksaan PKL dimulai dari tanggal 3 Maret 2014 sampai tanggal 3 Mei 2014.
6 III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG A. Pembibitan Utama (Main Nursery) Main nursery merupakan kelanjutan pembibitan di pre nursery, dimana perusahaan ini menggunakan pembibitan dua tahap (double stage nursery). Pada sistem dua tahap ini, kecambah di tanam dan dipelihara dulu dalam polybag kecil selama 3 bulan, selanjutnya bibit dipindahkan dalam polybag besar dan dirawat selama 12 bulan (Sastrosayono, 2006). 1. Pengendalian Gulma a. Tujuan Untuk membersihkan gulma yang tumbuh dalampolybag yang dapat menghambat pertumbuhan akibat persaingan baik hara maupun sinar matahari. b. Dasar teori Menurut Nasution (1986) pada umumnya gulma yang tumbuh dalam polybag sangat mengganggu pertumbuhan bibit karena gulma mudah melakukan regenerasi sehingga unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Kehadiran gulma dalam perkebunan kelapa sawit tidak dikehendaki karena dapat mengakibatkan : 1). Menurunkan produksi akibat bersaing dalam pengambilan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang hidup. 2). Menurunkan mutu produksi akibat terkontaminasi oleh bagianbagian gulma.
7 3). Secara umum kehadiran gulma akan meningkatkan biaya usaha tani karena adanya penambahan kegiatan di pertanaman. c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah kantong plastik dan arit. d. Prosedur Kerja 1). Alat dan bahan disiapkan 2). Mencabut gulma yang ada dalam polybag 3). Merintis gulma yang ada di sekitar polybag dengan menggunakan arit. 4). Mengumpulkan gulma dalam kantong plastik 5). Setelah itu membuang gulma keluar dari areal pembibitan atau bedengan. e. Hasil yang dicapai Untuk pengendalian gulma di Main Nursery yang dilaksanakan oleh karyawan tetap dapat dicapai 2 HK dengan 4 orang tenaga kerja/ha dalam 1 ha adalah 15000 pokok tanaman, sedangkan mahasiswa dapat mengerjakan 0,5 ha/1 HK.0,5 ha adalah 7500 pokok tanaman. f. Pembahasan Pengendalian gulma di dalam polybag dan di luar polybag tidak berbeda dengan pedoman budidaya kelapa sawit yang ada, yaitu
8 mencabut semua gulma yang ada di dalam polybag dengan menggunakan tangan dan arit. 2. Pemupukan a. Tujuan Untuk meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi bibit menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman kelapa sawit terhadap serangan penyakit. Pupuk juga menggantikan unsur hara yang hilang karena pencucian dan terangkut. b. Dasar Teori Menurut Pahan (2006) pemberian pupuk Majemuk dan Urea dalam bentuk larutan dilakukan setelah semai berumur 1 bulan dengan interval waktu setiap minggu. Bibit kelapa sawit memberikan respon yang sangat baik terhadap campuran unsur NPK. Aplikasi pupuk NPK yang efektif dan efisien terutama diberikan dalam dosis rendah secara kontinyu. Dengan sistem penyiraman dan curah hujan yang cukup tinggi, sebagian unsur hara (pupuk) yang diberikan akan tercuci dan hilang. c. Alat dan Bahan Alat yang di gunakan adalah Tas gendong yang terbuat dari karung beras,sarung tangan,baju lengan panjang,celana panjang, topi, masker dan sepatu boat. Bahan yang digunakan adalah pupuk majemuk N, P, K, Mg (12:16:6:2)
9 d. Prosedur kerja 1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2) Pupuk NPK diuntil ke dalam tas gendong yang terbuat dari karung beras lalu pupuk ditabur, di sekeliling pokok tanaman dengan dosis 1g/pokok 3) pemupukan dilakukan dengan secara manual dengan rotasi 2 kali sebulan. e. Hasil Yang Dicapai Untuk pemupukan bibit main nursery waktu yang dibutuhkan 1 HK 5 jam dengan 4 orang tenaga kerja masing-masing harus dapat 4500 pokok dengan upah kerja Rp. 76.000/hari. Dengan pemupukan sangat diharapkan pertumbuhan bibit lebih optimal dan bebas dari serangan penyakit. f. Pembahasan Pemupukan bibit kelapa sawit di PT. Kalpataru Sawit Plantation pupuk NPK untuk menambahkan unsur hara agar bibit dapat tumbuh lebih optimal, pemupukkan dan dosis di lapangan sesuai dengan teori. 3. Penyiraman bibit a. Tujuan Tujuannya menjaga kelembapan pada media tanam dan mempermudah penyerapan unsur hara.
10 b. Dasar Teori Penyiraman bibit dilaksanakan setiap pagi dan sore hari dengan menggunakan sistem sumisamsui selama 60 menit atau setara dengan 2 l air perhari. Penyiraman dilakukan dua kali sehari secara teratur dengan jumlah yang cukup kecuali jika turun hujan penyiraman hanya sekali saja. Jika musim kemarau, penyiraman harus dilakukan dua kali sehari minimal 2 l/polybag (Sunarko, 2009). c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah mesin pompa, pipa, selang sumisamsui, kran dan tandon. Bahan yang digunakan adalah air bersih, solar dan oli d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan 2) Mesin dicek solar dan oli 3) Kemudian mesin dihidupkan 4) Secara bergantian keran-keran dibuka menurut plot yang akan disiram 5) Penyiraman dilakukan sehingga tanah di polybag benar-benar basah. e. Hasil Yang Dicapai Kegiatan penyiraman pada pembibitan utama (main nursery) sesuai dengan pedoman budidaya kelapa sawit yang ada, yaitu
11 penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore dan lamanya penyiraman 60 menit /ha untuk 15.000 pokok membutuhkan tenaga kerja 2-4 orang/ha f. Pembahasan Penyiraman bibit kelapa sawit di PT. Kalpataru Sawit Plantation dilakukan dengan menggunakan selang sumisamsui agar pertumbuhan bibit lebih optimal dan kelembapan pada polybag seimbang untuk masa pertumbuhan dan penyiraman bibit sesuai dengan teori. 4. Pengendalian Hama a. Tujuan Usaha untuk menurunkan populasi hama sehingga tidak merugikan secara ekonomi dan tidak melampaui batas kritis keseimbangan alam b. Dasar Teori Hama adalah binatang yang mengganggu tanaman kelapa sawit dan hama lain yang dapat merusak bibit di main nursery adalah babi hutan,tikus dan landak. Hama ini aktif menyerang pada malam hari secara berkelompok dengan memakan titik tumbuh bibit. Pencegahannya dengan mengecat pangkal batang bibit menggunakan bahan residu, misalnya oli bekas, atau limbah pabrik yang dicampur Zn posfit. Selain itu, bisa menggunakan umpan beracun, seperti pisang, telur, ikan busuk, perangkap tikus dan daging babi yang telah tertangkap (Sunarko, 2009).
12 c. Alat dan Bahan Alat yang di gunakan kawat,bambu,paku,dan perangkap tikus Bahan yang digunakan Racun kelerat. d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan 2) Untuk hama tikus dikendalikan dengan menggunakan 3) Racun kelerat atau biasa disebut bombon tikus, 4) Kelerat diletakan disekitar piringan pokok tanaman 5) Setelah itu ditutup dengan tanah. 6) Sedangkan pengendalian hama landak cukup membuat jeratan atau perangkap dan membuat pagar. e. Hasil yang Dicapai Hasil yang dicapai oleh karyawan dalam 2 HK membutuhkan 4 orang tenaga kerja/1 ha dapat 15.000 bibit tanaman f. Pembahasan Pengendalian hama yang dilakukan di PT. Kalpataru Sawit Plantation dengan menggunakan racun Kelerat untuk pengendalian hama tikus sedangkan untuk hama landak pengendaliannya dengan menggunakan jeratan atau perangkap dan membuat pagar dan pengendalian hama di lapangan sesuai dengan teori.
13 5. Pengendalian Penyakit a. Tujuan Tujuan dari pengendalian penyakit yaitu usaha untuk mengurangi serangan penyakit bercak daun, agar tanaman tumbuh dengan subur dan tanaman tetap sehat, sehingga tidak merugikan secara ekonomi dan tidak melampaui batas kritis keseimbangan pertumuhan. b. Dasar Teori Penyebab penyakit bercak daun disebabkan oleh adanya jamur pengendalian penyakit bercak-bercak daun yaitu mengurangi naungan bibit sesuai perkembangan umur tanaman. Serangan yang bersifat sporadis, dapat dilakukan tindakan pemangkasan ringan pada tajuk bibit yang terinfeksi. Jika mengalami serangan berat, sebaiknya bibit dimusnahkan. Pemberantasan secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan fungsida, seperti Dithane M-45 80 WP yang berbahan aktif mancozeb 80% dengan konsentrasi 0,2 atau dengan Capten dengan konsentrasi 0,2% (Sunarko, 2009). c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah Sprayer, tandon, ember dan sendok takaran Bahan yang digunakan adalah Air bersih, dan Fungisida Dithane. d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2) Ember diisi air 15 l
14 3) fungisida Dithane 15-20 Tambahkan ml 4) Setelah itu dicampur menjadi satu,kemudian masukan larutan tersebut kedalam sprayer 5) lakukan penyemprotan secara merata di sekitar tanaman kelapa sawit. e. Hasil yang Dicapai Hasil yang dicapai untuk pengendalian penyakit bercak daun di perusahaan dilakukan oleh karyawan 2 HK dengan 4 orang tenaga kerja/1 ha dapat 15.000 pokok tanaman. f. Pembahasan Pengendalian penyakit di pembibitan main nursery sesuai dengan teori dengan menggunakan fungsida Dithane untuk mengurangi penyakit bercak daun dan pengendalian penyakit bercak daun di lapangan sesuai dengan teori. B. Penanaman Kelapa Sawit Penanaman kelapa sawit di lapangan sangat penting, karena akan menentukan produksi dan kelangsungan hidup tanaman. Penanaman dilapangan dilakukan pada saat bibit berumur 12 bulan. a. Tujuan Penanaman kelapa sawit bertujuan untuk mengoptimalkan bibit yang harus ditanam ke lapangan, sehingga mendapatkan produksi secara optimal. Disamping itu menghindari penanaman bibit yang lewat umur.
15 b. Dasar Teori Penanaman sebaiknya dilakukan pada bulan Oktober dan sudah harus selesai pada akhir bulan Februari. Pada bulan Oktober hujan sudah mulai turun sehingga tanaman tidak akan kekurangan air, sementara itu pada bulan Februari juga masih ada hujan. Penanaman bibit kelapa sawit di lapangan sangat penting, karena akan menentukan produksi dan kelangsungan hidup tanaman. Penanaman bibit dilapangan dilakukan setelah bibit berusia 12 bulan (Sastrosayono, 2006). c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah Traktor, parang dan skop Bahan yang digunakan adalah pupuk RP dan bibit kelapa sawit d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan, menyiapkan bibit yang bebas dari hama dan penyakit serta batangnya yang kokoh. 2) Pengangkutan dilakukan menggunakan Traktor, satu kali pengangkutan dapat 150 pokok bibit kelapa sawit. 3) Ecer bibit di setiap titik tanam yang telah ditancapkan, dengan jarak tanam 9 x 9 m. 4) Sebelum menanam langkah awal membersihkan titik tanam yang sudah di pancang dengan menggunakan parang dan cangkul 5) Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x40 cm disesuaikan dengan tinggi akar agar penanaman tidak terlalu dalam.
16 6) Setelah itu tanah yang ditimbun terlebih dahulu, pada pinggiran lubang tanam tanahnya di cangkul dan dimasukkan kedalam lubang lalu ditekan-tekan serta di injak agar tanaman tersebut kokoh dari guncangan angin. 7) Kayu pancang yang digunakan sebagai titik tanam di tancapkan kembali disamping tanaman agar mudah untuk Streaking. e. Hasil Yang Dicapai Dari kegiatan penanaman kelapa sawit hasil yang diharapkan yaitu norma prestasi serta penanaman yang benar untuk mendapatkan hasil produksi yang baik. Norma prestasi menanam kelapa sawit berkisar 21 pokok 1 orang/1hk dimana dalam proses penanaman menggunakan pekerja borongan. f. Pembahasan Pembibitan yang ada di PT. Kalpataru Sawit Plantation telah melebihi batas umur 15 bulan untuk standar umur bibit yang ada ditanamnya adalah 12 bulan dan penanaman di lapangan tidak sesuai dengan teori. C. Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Menurut Fauzi (2004), perawatan tanaman merupakan salah satu tindakan yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman. perawatan bukan hanya ditujukan terhadap tanaman, tetapi juga pada media tumbuh (tanah) Walaupun tanaman dirawat dengan baik, tetapi perawatan tanah diabaikan maka tidak akan banyak sumber manfaat.
17 1. Pemupukan a. Tujuan Untuk menambah unsur hara di dalam tanah, meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi tanaman menjadi relatif lebih stabil. b. Dasar Teori Menurut Pahan (2006) Pemupukan sangat penting untuk perkebunan kelapa sawit karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh pemberian pupuk dan ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Untuk mencapai produksi yang diinginkan, jumlah hara yang dibutuhkan dan yang harus ditambahkan dalam bentuk pupuk (organik dan anorganik) tergantung pada tingkat kebutuhan haranya. Cara menempatkan pupuk sangat mempengaruhi jumlah pupuk yang akan diserap akar tanaman. Pemupupukan kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara berikut: 1).Penyebaran secara merata dalam lingkaran luar dan dalam batang kelapa sawit 2). Penempatan pupuk pada jalur lingkaran. c. Alat dan bahan Alat yang digunakan adalah Traktor, tas gendong yang terbuat dari karung bekas, dan cangkul. Bahan yang digunakan adalah Pupuk SRF NPK Mg.(12:16:6:2)
18 d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan 2) Menentukan blok yang akan dipupuk 3) Mengecerkan pupuk dan masuk kesetiap blok agar mudah untuk pengambilan masuk ke dalam blok 4) Masing-masing karyawan menyiapkan ember untuk melakukan pemupukan 5) Setiap tanaman kelapa sawit diberi pupuk dengan dosis 1 kg/pokok dengan sistem dengan jarak 10 cm dari batang bawah tanaman. e. Hasil Yang Dicapai Dari hasil pengamatan dilapangan dapat diperoleh hasil bahwa prestasi untuk tenaga pemupukan selama 8 jam adalah 1 HK/ha dengan upah Rp.76.000. f. Pembahasan Pemupukan di PT. Kalpataru Sawit Plantation di gunakan pupuk SRF untuk takaran pupuk yang digunakan telah sesuai dengan dosis yang direkomendasikan untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) dan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman berdasarkan usia tanam. Rekomendasi pemupukan diperoleh dari hasil uji sampel yang selanjutnya diuji di badan riset yang telah di percaya oleh perusahaan.
19 2. Pengendalian gulma di Piringan a. Tujuan Mengurangi kompetisi unsur hara karena akar halus tanaman masih berada di sekitar piringan/pokok serta mengurangi penyerapan unsur hara, air, dan sinar matahari, mempermudah pekerjaan untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan. b. Dasar Teori Menurut Agustia (1997) pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok. c. Alat dan bahan Alat yang alat yang digunakan adalah parang,cangkul, sprayer, masker dan sarung tangan. Bahan yang digunakan Air bersih dan herbisida Djavu d. Prosedur Kerja 1) Dengan cara manual Semua jenis gulma yang berada dalam piringan kelapa sawit dibersihkan dengan menggunakan parang atau cangkul.
20 2) Dengan cara kimia Pengisian herbisida dengan dosis 15-20 ml kedalam sprayer kemudian dilanjutkan dengan pengisian air sebanyak 15 l. Herbisida ini bersifat sistemik. Penyemprotan dilakukan secara perlahan dan merata pada piringan,dengan jarak 2 m dari pokok tanaman. e. Hasil Yang Dicapai Untuk kegiatan pengendalian gulma di sekitar piringan tergantung dari ketebalan gulma yang ada. Secara manual sistem borongan 1 ha dengan upah Rp.45.000 sedangkan secara kimia dengan sistem harian 1 HK dengan upah Rp.76.000. f. Pembahasan Kegiatan pengendalian gulma di PT. Kalpataru Sawit Plantation dilakukan secara manual dan kimia yaitu melakukan penebasan terlebih dahulu sampai menyisakan tinggi gulma 5 cm dari tanah, setelah itu dilakukan penyemprotan herbisida kimia jenis Djavu dan kegiatan pengendalian gulma di PT. Kalpataru Sawit Plantation sesuai dengan teori. D. Perawatan Tanaman Menghasilkan (TM) Menurut Anonim (2005) yang dimaksudkan pemeliharaan tanaman menghasilkan adalah umur 3 tahun sampai umur 25 tahun sampai diremajakan. Dimana kegiatan pemeliharaan tanaman menghasilkan
21 meliputi, garuk piringan, babat gawangan, dongkel anak kayu, pemupukan tunas pemeliharaan,pemeliharaan saluran air dan tangga-tangga panen 1. Pemupukan a. Tujuan Pemupukan pada tanaman menghasilkan sangat penting untuk menggatikan unsur hara yang telah hilang dari penunasan, penghanyutan unsur hara akibat hujan dan untuk menambahkan unsur hara yang tidak terdapat pada tanah. b. Dasar Teori Pemupukan sangat penting untuk perkebunan kelapa sawit karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh pemberian pupuk dan ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Untuk mencapai produksi yang diinginkan, jumlah hara yang dibutuhkan dan yang harus ditambahkan dalam bentuk pupuk (organik dan/anorganik) tergantung pada tingkat kebutuhan haranya (Pahan, 2006). c. Alat dan bahan Alat yang digunakan adalah Traktor, tas gendong yang terbuat dari karung bekas,mangkok takar untuk memindahkan pupuk kedalam tas gendong,ember dan cangkul Bahan yang digunakan adalah pupuk SRF NPK,Mg
22 d. Prosedur Kerja 1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada pemupukan sistem tugal 2) Buat 3 lubang dalam 1 pokok tanaman menggunakan cangkul dengan jarak 1 m dari pohon kelapa sawit 3) kemudian masukan 2 butir pupuk SRF disetiap lubang yang sudah dilubangi setelah itu ditutup. e. Hasil Yang dicapai Dari hasil pengamatan di lapangan dapat diperoleh hasil bahwa prestasi kerja untuk tenaga pemupukan selama 8 jam adalah 1 HK dengan upah Rp.76.000 f. Pembahasan Takaran pupuk yang digunakan untuk tanaman kelapa sawit disesuaikan dengan dosis yang direkomendasikan untuk tanaman menghasilkan (TM) dan sesuai dengan kebutuhan tanaman berdasarkan usia tanam. Rekomendasi pemupukan diperoleh dari hasil uji sampel daun yang selanjutnya diuji di badan riset yang telah di percaya oleh perusahaan, jenis pupuk dan dosis sesuai dengan teori. E. Panen dan pengangkutan Kegiatan panen merupakan salah satu aktivitas untuk mendapatkan semua hasil tanaman yang masa panennya harus diolah untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih optimal, dan panen meliputi potong buah
23 1. Sensus Produksi a. Tujuan Sensus pokok sawit dilakukan untuk mendapatkan data di lapangan yang akan digunakan sebagai taksasi panen untuk 7 hari kedepan (buah merah), 4 bulan kedepan (buah hitam), 6 bulan kedepan (Bunga), dan untuk mengetahuai kerapatan buah. b. Dasar Teori Menurut Mangoensoekarjo (2003), produksi tandan buah segar (TBS) di tentukan oleh jumlah tandan bunga yang dapat berkembang menjadi tandan buah. Tandan ini dapat diramalkan lebih awal, yakni enam bulan sebelumnya. c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah pena dan kertas from. d. Prosedur kerja 1) Mempersiapkan alat 2) Menentukan blok yang akan dilakukan sensus pokok 3) Melihat dan menghitung jumlah buah, bunga dan pokok istirahat 4) Mengambil sampel sebanyak 10% dari jumlah keseluruhan pokok sawit pada setiap blok yang di sensus 5) Pengmbilan sampel dilakukan secara acak 6) Menghitung jumlah buah, bunga dan pokok istirahat dari sampel yang sudah di dapat
24 7) Kemudian catat pada from sensus dan menjumlahkan seluruh buah merah, buah hitam, bunga dan pokok istirahat e. Hasil yang dicapai Hasil dari melakukan sensus produksi dalam 1 HK mendapatkan 136 pokok sampel /ha dan membutuhkan 2 orang tenaga kerja, tergantung dari jumlah pokokpada setiap blok. Sensus produksi dilakukan 4 bulan sekali. f. Pembahasan Sensus produksi dilakukan setiap 4 bulan untuk mengetahui taksasi 6 bulan ke depan. Hasil perhitungan berupa jumlah bunga dan buah hitam dikalikan dengan berat janjang rata-rata (BJR)akan didapatkan produksi selama 6 bulan kedepan. 2. Melakukan Potong Buah( Panen) a. Tujuan Untuk mencapai tujuan pemanenan, kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka pelaksanaan ketentuan panen mencakup sistem panen, rotasi panen kriteria matang panen dan persentase brondolan, serta pelaksanaan angkut dan pengolahan secepat mungkin. b. Dasar Teori Panen adalah pengambilan buah kelapa sawit yang telah memenuhi kriteria matang panen dari pokoknya, selanjutnya bersama dengan brondolannya dikumpulkan untuk diangkut dan diproses atau diolah (Fadli, 2006).
25 c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah dodos dengan ukuran 14 cm dan panjang 2 m, dan gancu. d. Prosedur kerja 1) Sehari sebelum pelaksanaan panen menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan 2) Harus mengetahui lokasi yang akan di panen untuk melancarkan kerja pemanenan 3) Transportasi juga harus cukup untuk kebutuhan sehingga pencapaian lebih efiesien 4) Buah di panen sesuai dengan kriteria buah matang yaitu 2-3 brondolan yang lepas dari tandan kelapa sawit 5) Mengutip semua brondolan yang tercecer dan memasukkan ke dalam karung Setelah penurunan buah selesai 6) TBS diangkut ke tempat pengumpulan hasil (TPH) dengan menggunakan alat angkut gerobak sorong/angkong 7) TPH dihamparkan karung untuk memudahkan pemunggutan brondolan yang gugur 8) Menyusun TBS secara teratur di TPH dengan 5 atau 10 TBS perbaris untuk memudahkan perhitungan. e. Hasil yang dicapai Hasil yang dicapai pada panen untuk 1 orang karyawan bisa mencapai 1 ton/hari dengan upah Rp.76.000
26 f. Pembahasan Dalam kegiatan ini mengutip brondolan yang terdapat disetiap piringan kelapa sawit, harus cepat di angkut sebab brondolan sawit lebih berharga nilainya karena rendaman minyak dalam brondolan lebih tinggi dan kriteria matang panen sudah sesuai dengan teori. 3. Pengangkutan Tandan Buah Segar a. Tujuan Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk mengangkut sesegera mungkin tandan buah segar (TBS) beserta brondolannya untuk diolah di pabrik, sehingga diharapkan tidak terjadi restan buah. b. Dasar Teori Menururt Risza (1994), pengangkutan buah (TBS dan brondolan) dari lapangan ke pabrik harus segera dilakukan pada hari itu juga setelah buah dipanen. Operasi pengangkutan saling mendukung dengan Operasi panen dan pengolahan, karena sifat pengoperasiannya merupakan 3 sub sistem induk yaitu Panen-Ongkut- Olah (PAO). Buah yang sudah ada di TPH harus segera mungkin di angkut ke pabrik karena kalau buah sampai bermalam di kebun akan menyebabkan asam lemak bebas (ALB) meningkat dan kandungan rendemen minyak menurun c. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah Traktor, dump truck, jaring pengaman buah, bakul dan tojok.
27 d. Prosedur Kerja 1) Operator yang akan mengangkut buah di TPH harus mengetahui lokasi TPH guna kelancaran dalam pengangkutan 2) Kebutuhan alat angkut disiapkan sesuai banyaknya buah dilapangan 3) Buah diangkut ke truk baik tandan maupun brondolan 4) Kerani panen membuatkan surat pengantar buah yang diberikan kepada operator truck, yang menyatakan bahwa buah siap diangkut kepabrik kelapa sawit (PKS). e. Hasil yang dicapai Pengangkutan buah dalam 1 HK dapat diperoleh 7-9 ton /truck dan pengangkutan sampai ke pabrik. Bila lewat dari 12 jam setelah buah di panen, akan menyebabkan buah menjadi restan dan menaikkan kandungan asam lemak bebas (ALB). f. Pembahasan Dalam kegiatan transportasi pengangkutan TBS di PT. Kalpataru Sawit Plantation dilaksanakan setelah semua buah dipanen karena tidak memiliki pabrik, jadi dikirim ke perusahaan PT. Tritunggal Sentral Buana.
28 IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kegiatan praktek kerja lapang yang di lakukan disalah satu perusahaan perkebunan PT. Kalpataru Sawit Plantation dapat di simpulkan sebagai berikut : 1. Penyiraman bibit pada pembibitan utama main nursery sangat erat hubungannya karena dengan penyiraman dapat membantu proses penyerapan unsur hara serta menjaga media tanam agar tetap lembab. 2. Penanaman merupakan aktivitas utama yang menentukan tingkat keberhasilan usaha perkebunan. Aktivitas yang dilakukan yaitu penanaman kelapa sawit sehingga dapat menghasilkan produksi yang optimal. 3. Pemupukan (TBM) dan Pemupukan (TM) merupakan aktifitas utama untuk meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi bibit menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman kelapa sawit. 4. Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan main nursery merupakan usaha untuk menurunkan populasi hama sampai tingkat ambang batas sehingga tidak merugikan secara ekonomi. 5. Pengendalian gulma pada pembibitan utama Main Nursery sangat penting karena dengan pengendalian gulma dapat membantu pertumbuhan bibit.
29 6. Pemupukan bibit pada pembibitan Main Nursery merupakan aktifitas utama untuk meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi bibit menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman kelapa sawit. 7. Pembibitan yang berada di PT.Kalpataru Sawit Plantation telah melebihi batas umur bibit yang minimalnya untuk standar umur bibit 12 bulan. Itu di karenakan kurangnya lahan yang akan ditanami bibit yang umurnya melebihi 12 bulan. 8. Panen dan pengangkutan merupakan aktivitas yang sangat diperhatikan karena harus cepat dipanen dan langsung diangkat kepabrik karena bila lebih dari satu hari menyebabkan turunnya asam lemak bebas atau rendemen menurun. B. Saran 1. Kegiatan Praktek kerja lapang ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, oleh karena itu penulis berharap adanya jadwal kegiatan PKL yang telah direncanakan sehingga apa yang telah didapatkan dilapangan bisa sesuai dengan yang diinginkan oleh semua pihak. 2. Melatih kedisiplinan sejak dini perlu diterapkan agar mahasiswa terbiasa dalam melakukan kegiatan dilapangan.
30 DAFTAR PUSTAKA Agustia RA,. 1997. Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Laporan Keterampilan Profesi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Anonim, 1995. Budidaya Kelapa Sawit. Penebar Agromedia pustaka. Anonim, 2005. Proses Pengolahan Kelapa Sawit Di Pabrik Minyak Sawit PTP. Nusantara XIII. Pasir Fadli. L. M, Sutarta. S. E, Darmosarkore. W, Purba. P, Ginting. N. E. 2006. Panen Kelapa Sawit. PPKS. Fauzi, 2004. Budidaya Kelapa Sawit. Penebar Swadaya Jakarta. Mangoensoekarjo S. dan AT. Tojib. 2003. Manajemen Budidaya Kelapa Sawit Gadjah Mada University pross. Yogyakarta. Nasution U., 1986. Gulma dan Pengendalianya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh Tanjung Morawa. Pahan I., 2006. Panduan Lengkap kelapa Sawit, Penebar Swadaya. Jakarta. Risza, S. 1994. Upaya Peningkatan Produktifitas Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. Sastrosayono, S., 2006. Budidaya kelapa sawit. PT. Agromedia Pustaka. Selardi,S. 2003 Budidaya Kelapa Sawit. Penebar Agromedia pustaka. Sunarko. 2009. Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit. dengan sistem kemitraan. PT Agromedia Pustaka.
LAMPIRAN 31
32 Lampiran 1. Struktur Organisasi Perkebunan Kelapa Sawit PT. Kalpataru Sawit Plantation Periode April 2014 Ir. Haris Sirajuddin Project Manager Rosyid A.R ASKEP AFDELING 1 Vacant Asisten tanaman AFDELING 2 Petrus Salempa Asisten Tanaman Mandor Afdeling 1 Sumarno Mandor 1 Mandor Afdeling 2 Jumadi Prayugo Mandor 1 Mandor Afdeling 3 Ambotang Mandor 1 Mandor afdeling 4 Agus Stiawan Mandor 1 Sutrimo Kordinator Hamzah Kordinator Bahar buyung Kordinator Suwardi kordinator Parentina Krani Cahyo Gutaman Kerani Hendra Bima Kerani Akbar kerani Budi Mandor perawatan Lukman Mandor Panen Aliyasdin Mandor Trackers Adi Purwono Mandor Trackers
33 Lampiran2.Dokumentasi PKL Di PT. Kalpataru Sawit Plantation Gamabar 1. Penyiangan Gulma Gambar 2. Pemupukan
34 Gambar 3. Penyiraman Gambar 4. Penanaman
35 Gambar 5. Tanaman Terserang Penyakit Gambar 5. Tanaman yang terserang penyakit Gambar 6. Hama Tikus dan Bahan Pengendalian Hama
36 Gambar 7. Pemupukan Tanaman Belum Meghasilkan (TBM) Gambar 8. Pengendalian gulma di Piringan
37 Gambar 9. Pemupukan (TM) Gambar 10. Pemotongan Buah
38 Gambar 11. Stasiun loding ramp Gambar 12. Pengkutan Tandan Buah Segar (TBS)