TINJAUAN PUSTAKA Domba Pada awal sebelum terjadinya proses domestikasi, domba masih hidup liar di pegunungan dan diburu untuk diambil dagingnya. Domba yang sekarang menyebar di seluruh dunia ini sebenarnya berasal dari daerah pegunungan Asia Tengah, dimana sebagian menyebar ke arah barat dan selatan sehingga dikenal sebagai kelompok urial dan yang lainnya menyebar ke arah timur dan utara yang dikenal sebagai kelompok argali. Banyak domba yang telah didomestikasi, antara lain Ovis canadensis (Amerika Utara), Ovis nivicola (Siberia), dan Ovis dalli (Alaska), serta yang berasal dari bagian Barat dan Selatan Asia, yaitu Ovis musimon, Ovis ammon, dan Ovis orientalis (Ensminger, 2002). Bangsa domba yang dipelihara sekarang ini adalah domba tipe perah, pedaging, dan penghasil wol. Pada mulanya domba didomestikasi di kawasan Eropa dan Asia. Menurut Ensminger (2002), domba yang kini dipelihara mempunyai taksonomi sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Arthidactyla Famili : Bovidiae Sub-famili : Caprinae Genus : Ovis Spesies : Ovis aries Menurut Fahmi (1996) domba di Indonesia terdiri dari dua tipe, berekor tipis dan berekor gemuk, dengan beberapa perbedaan bangsa dalam masing-masing tipe, terutama sekali pada tipe ekor tipis. Asal-usul domba tidak diketahui, tetapi agaknya tipe berekor tipis berasal dari India/Bangladesh, dan tipe berekor gemuk berasal dari Barat Asia. Populasi yang cukup besar dengan tingkat keragaman yang cukup tinggi, baik dalam bangsa maupun antar bangsa menjadikan domba-domba di Indonesia beragam bentuk dan pola warnanya. Perbedaan karakteristik morfologis antar agroekosistem dapat dijadikan sebagai gambaran spesifikasi bangsa ternak tersebut (Suparyanto et 3
al., 1999). Domba yang ada di Indonesia terdiri dari domba Ekor Tipis, domba Priangan/Garut dan domba Ekor Gemuk (FAO, 2004). Domba Ekor Tipis (DET) Jumlah yang paling besar dalam tipe ekor tipis adalah Javanese Thin-tailed, yang paling dominan di Jawa Barat, yaitu Provinsi dengan populasi domba tertinggi Fahmi (1996). Bradford dan Inounu (1996) menyatakan bahwa domba Ekor Tipis menyebar di Jawa Barat, Semarang dan Sumatera. Menurut (Riwantoro, 2005) domba Ekor Tipis baik jantan maupun betina mempunyai garis muka lurus. Domba Ekor jantan bertanduk sedangkan pada betina tidak bertanduk. Bentuk telinga pada jantan maupun betina yaitu rubak. Bentuk bulu baik jantan maupun betina yaitu lurus. Warna dasar bulu pada jantan maupun betina yaitu putih. Pola warna pada jantan maupun betina yaitu polos. Domba Priangan (Domba Garut) Domba priangan ditemukan di Provinsi Jawa Barat, bangsa domba ini digunakan sebagai pejantan tangkas dan pedaging. Bangsa ini merupakan variasi dari domba Ekor Tipis. Beberapa diantaranya Afrikander dan Merino yang diperkenalkan pada abad 19. Bangsa ini biasanya hitam atau belang, kadang-kadang abu-abu atau coklat. Jantan bertanduk dan betina tidak bertanduk (Mason, 1996). Menurut Heriyadi (2009), proses pembentukan domba Priangan atau domba Garut, diyakini berawal dari persilangan antara tiga bangsa domba, yaitu domba Merino, domba Kaapstad dan domba Lokal di wilayah Priangan. Dalam perkembangan selanjutnya domba hasil silangan tersebut dikenal dengan nama domba Priangan atau domba Garut. Mulliadi (1996) menyatakan bahwa performa domba Garut dipengaruhi oleh tiga bangsa domba, yaitu domba Kaapstad yang mempengaruhi tinggi dan pemunculan warna putih, domba Merino yang mempengaruhi sifat tanduk dan pemunculan warna putih, sedangkan domba Lokal yang mempengaruhi sifat tangkas dan pemunculan warna hitam dan cokelat. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (2006) dalam pemilihan bibit domba Garut harus memenuhi persyaratan teknis yaitu persyaratan umum dan khusus, peryaratan umum meliputi sehat dan bebas cacat, sedangkan persyaratan khusus meliputi sifat kuantitatif dan sifat kualitatif (warna bulu putih, hitam atau 4
putih dan hitam, betina tidak bertanduk, jantan bertanduk, telinga rumpung atau hiris). Menurut FAO (2004) domba Garut memiliki garis muka cembung, posisi telinga semi-pendolous, bentuk ekor lebar atau sedang. Menurut Riwantoro (2005) garis muka domba Garut Tangkas jantan dan Pedaging jantan cenderung sama dengan domba Ekor Gemuk yaitu berbentuk cembung sedangkan pada betina berbentuk lurus. Domba Garut tangkas jantan mempunyai tanduk khas dan berbentuk rumpung sedangkan pada betina ada yang bertanduk. Tanduk pada domba Garut Pedaging jantan cenderung sama dengan domba Lokal yaitu pendek dan lebih kecil dibanding tanduk domba Garut Tangkas jantan sedangkan pada betina tidak bertanduk. Bentuk telinga domba Garut Tangkas baik jantan maupun betina adalah rumpung. Bentuk telinga hiris ditemukan pada domba Garut Pedaging jantan sedangkan pada betina berbentuk rubak. Bentuk bulu pada domba Garut Tangkas dan Pedaging baik jantan maupun betina umumnya lurus. Warna dasar pada domba Garut Tangkas jantan adalah hitam sedangkan pada betina putih. Warna dasar pada domba Garut Pedaging jantan dan betina adalah putih. Pola warna pada domba Garut Tangkas jantan sama dengan Garut Pedaging jantan, yaitu bercak besar. Domba Garut Tangkas betina mempunyai pola warna bercak kecil sedangkan pada domba Garut Pedaging betina mempunyai pola warna polos. Domba Ekor Gemuk (DEG) Menurut Hardjosubroto (1994) domba Ekor Gemuk diduga berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Sekitar tahun 1731-1779, pemerintah Hindia Belanda memutuskan mengimpor domba Ekor Gemuk pejantan Kirmani dari Persia. Belum diketahui dengan pasti apakah domba Ekor Gemuk yang ada di Indonesia merupakan keturunan dari domba-domba ini. Menurut Bradford dan Inounu (1996) domba Ekor Gemuk banyak terdapat di Jawa Timur. Menurut FAO (2004) domba Ekor Gemuk banyak di temukan di daerah Madura, Jawa Timur, dan wilayah Indonesia Timur seperti Lombok, Sumbawa, Kisar dan Sawa. Dijelaskan lebih lanjut oleh Bradford dan Inounu (1996) bahwa tanda-tanda yang merupakan khas domba Ekor Gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Dijelaskan pula bahwa diantara populasi domba Ekor Gemuk, domba 5
yang berada di Pulau Madura mempunyai ekor gemuk yang ekstrim dengan bagian pangkal ekor besar dan bagian ujung ekor kecil. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (2006) dalam pemilihan bibit domba Ekor Gemuk harus memenuhi persyaratan teknis yaitu persyaratan umum dan khusus, peryaratan umum meliputi sehat dan bebas cacat, sedangkan persyaratan khusus meliputi sifat kuantitatif dan sifat kualitatif (warna bulu putih dan kasar, jantan dan betina tidak bertanduk, ekor besar lebar dan panjang). Menurut Riwantoro (2005) domba Ekor Gemuk jantan mempunyai garis muka cembung sedangkan pada betina lurus. Domba Ekor Gemuk baik jantan maupun betina tidak bertanduk. Bentuk telinga pada jantan maupun betina yaitu rubak. Bentuk bulu pada jantan maupun betina yaitu lurus. Warna dasar bulu pada jantan maupun betina yaitu putih. Pola warna pada jantan maupun betina yaitu polos. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa karakteristik khas domba Ekor Gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor yang membesar merupakan timbunan lemak (cadangan energi), sedangkan bagian ujung ekor yang kecil tidak berlemak. Pada saat banyak pakan, ekor domba penuh dengan lemak sehingga terlihat ekornya membesar. Namun apabila keadaan pakan kurang, maka ekor domba tersebut akan mengecil karena cadangan energi pada ekornya dipergunakan untuk mensuplai energi yang dibutuhkan dan bulu wolnya kasar. Warna bulu yang putih juga dapat mengurangi stres akibat panas. Domba Ekor Gemuk mempunyai suatu keistimewaan, yaitu kemampuannya dalam beradaptasi terhadap lingkungan kering (Mulyaningsih, 1990), dan juga terhadap lingkungan yang panas (Hardjosubroto, 1994). Domba ekor gemuk merupakan domba tipe pedaging dengan bobot badan pada jantan dewasa 40-60 kg, dan betina 25-35 kg (Hardjosubroto, 1994). Sutama (1993) melaporkan bahwa pengembangan domba Ekor Gemuk meliputi daerah yang cukup luas dan umumnya mengarah ke wilayah Indonesia bagian Timur dengan kondisi agroekosistem yang kering. Sifat Kualitatif Sifat kualitatif adalah suatu sifat mewaris yang diperoleh pada ternak, sifat ini menurut Warwick et al. (1990) dapat diklasifikasikan ke dalam sifat luar, cacat genetik, dan polimorfisme genetik. Ribuan sifat kualitatif pada hewan-hewan 6
pertanian, banyak di antaranya yang ternyata diatur oleh satu atau beberapa pasang gen (rangkaian alel). Pada sifat kualitatif dapat dibedakan peran gen yang dominan dan resesif atau sifat interaksi lainnya seperti epistasis dan hipostasis. Sifat-sifat ini dalam populasi secara statistik tidak berdistribusi normal, dan dapat dikelompokkan ke dalam kelas yang berbeda demikian pula sifat ini tidak banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sifat kualitatif sangat mudah dibedakan tanpa harus mengukurnya, biasanya dikontrol oleh sepasang gen, variasinya tidak kontinu dan bersifat tidak aditif (Noor, 2004). Sifat kualitatif menunjuk pada fenotipe yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok daripada menunjukkan nilai yang terukur (Damron, 2003). Sedangkan menurut Simm (2000) fenotipe adalah karakteristik penampilan atau yang ditunjukkan pada hewan termasuk performa. Penanda fenotipik merupakan penanda yang telah banyak digunakan baik dalam program genetika dasar maupun dalam program praktis pemuliaan, karena penanda ini paling mudah untuk diamati dan dibedakan (Sarbaini, 2004). Lebih lanjut Sarbaini (2004) mengemukakan bahwa penanda fenotipik merupakan penciri yang ditentukan atas dasar ciri-ciri fenotipe yang dapat diamati atau dilihat secara langsung, seperti ukuran-ukuran permukaan tubuh, bobot badan, warna dan pola warna bulu tubuh, bentuk dan perkembangan tanduk dan sebagainya. Profil Muka Profil muka menunjukkan bentuk dari garis dahi dan hidung, walaupun bukan karakteristik yang spesifik, profil kepala dapat dijadikan sebagai indikator dari bangsa. Tampak dari samping, ada 3 tipe muka yang dapat dibedakan, yaitu lurus, cembung (roman nosed) dan cekung (pike-nosed), berbagai bentuk profil muka ditemukan pada domba mulai dari agak cekung dan kemudian lurus yang merupakan paling banyak ditemukan pada bangsa domba, sampai cembung (Sasimowski, 1987). Warna Menutut Hardjosubroto (1999) pada hewan dikenal adanya berbagai macam corak warna kulit dan bulu. Dikenal adanya warna hitam sampai putih dengan berbagai macam derajat pewarnaan atau intensitas warna. Disamping warna hitam, dikenal juga warna merah dan kuning sebagai warna dasar. Kecuali adanya perbedaan warna dasar dan intensitas pewarnaannya, dikenal juga adanya pola warna 7
yang kompak dan pola warna samar-samar (dilute), yaitu pola warna dengan dua warna atau lebih yang saling berbaur. Kecuali itu dikenal adanya pola warna yang mulus dan berbintik-bintik. Tergantung dari besar kecilnya pola bintiknya, maka bintik tersebut dapat hanya berupa noda-noda, belang atau bercak. Pada ternak dikenal beraneka ragam corak dan warna yang berbeda-beda. Namun demikian ada ternak atau hewan yang memiliki baik warna maupun pola yang seragam. Dalam hal demikian ini, maka pola dan warna ternak sangat berperan dalam penentuan kemurnian bangsa (Hardjosubroto, 1999). Adanya berbagai macam warna dan corak pewarnaan pada hewan disebabkan karena dalam pewarnaan kulit dan bulu hewan, berbagai macam gen telah berperan aktif. Kecuali adanya berbagai macam gen, maka kerja gen tersebut juga bermacammacam. Ada gen yang hanya mempunyai hubungan dominan-resesif dengan pasangannya, tetapi ada gen bersifat interaksi satu sama lain, bahkan ada pula yan bersifat multi alel ataupun poligen. Dengan demikian maka gen-gen yang mempengaruhi pewarnaan dapat dikelompokkan menjadi gen penentu pola berbintikbintik atau tidak, kombinasi warna, intensitas warna dan pemudaran (Hardjosubroto, 1999). Secara umum menurut Wendelboe (2009) lokus yang mempengaruhi pemunculan warna pada domba dibedakan menjadi tiga lokus, yaitu lokus agouti yang mengatur pola, lokus brown yang mengatur warna, dan lokus spotting yang memberikan bintik. Lokus agouti terdiri atas agouti white (A Wt ), agouti grey Mouflon (A gt ), agouti grey (A g ), agouti badgerface (A b ), agouti reverse badgerface (A t ), dan non-agouti (A a ). Lokus brown terdiri atas hitam (dominan) yang disimbolkan B B dan cokelat (resesif) yang disimbolkan B b. Lokus spotting terdiri atas polos atau non spot (dominan) yang disimbolkan S S dan bintik atau spot (resesif) yang disimbolkan S s, pola warna strip pada domba belum seluruhnya dimengerti pola pewarisannya. Salamena (2006) membagi sebaran pola warna ke dalam warna dasar dominan yang dikelompokkan dalam empat kelompok utama yaitu putih, hitam, cokelat, atau kombinasi dari ketiga warna tersebut sesuai dengan sebaran kombinasinya. Pola warna dikelompokkan lagi menjadi polos, bercak (belang) besar dan kecil, bintik-bintik, polos, strip sempit dan besar. Pola warna bercak adalah 8
kombinasi dari warna dasar putih dengan bercak-bercak hitam, demikian juga dengan pola warna bintik-bintik merupakan kombinasi dari warna dasar putih dengan bintikbintik hitam atau cokelat. Telinga Bentuk telinga merupakan sifat kualitatif bentuknya mulai dari kecil, sedang dan lebar. Menurut Hardjosubroto (1999), telinga pendek dipengaruhi sepasang gen dalam keadaan homozigot resesif (tt), sedangkan telinga sedang atau medium dalam keadaan heterozigot (Tt), dan untuk telinga panjang dalam keadaan homozigot dominan (TT). Kategori istilah tipe telinga menurut Diwyanto (1982) adalah tipe pendek atau rumpung berukuran panjang kurang dari 5 cm, medium atau hiris antara 5-7 cm dan tipe panjang atau rubak lebih dari 7 cm. Sehingga menurut (Sasimowski, 1987) pada domba, panjang dan posisi telinga terkadang menunjukkan karakteristik bangsa. Bentuk telinga rumpung (sempit) yaitu bila daun telinga menguncup (seperti kuncup bunga ros) atau menggulung dan lubang telinga tidak tampak jelas, berukuran pendek, kecil dan bahkan tampak seolah-olah tidak berdaun telinga. Telinga berdaun hiris (medium) seolah-olah hampir menggulung, tetapi telinga masih tampak jelas dan daun telinga meruncing ke ujung. Telinga rubak (lebar) daun telinga lebar dan panjang, ujung telinga tidak runcing (bulat), lubang telinga tampak jelas (Salamena, 2006). Tanduk Bentuk, ketebalan, panjang dan warna tanduk sering berbeda dalam bangsa, tetapi berhubungan dengan kondisi iklim. Pada iklim panas memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan tanduk, sedangkan pada kondisi dingin memperlambat pertumbuhan tanduk (Sasimowski, 1987). Menurut Taylor (2004) sifat mewaris bertanduk dan tidak bertanduk adalah sex-influenced dan umumnya dikontrol oleh sepasang gen, pertumbuhan tanduk juga dipengaruhi oleh aktivitas hormon testosteron. Campbell, et al. (2003) mendapatkan bahwa ekspresi dari sifat bertanduk pada domba dipengaruhi oleh jenis kelamin, walaupun sebenarnya gen sifat bertanduk terletak pada autosom tetapi dalam kondisi tertentu yang seharusnya 9
menimbulkan tanduk pada jantan (dominan), tetapi pada betina hal tersebut tidak muncul tanduk (resesif). Menurut Mulliadi (1996) dikatakan tonjolan apabila panjang tanduk kurang dari 4 cm atau penonjolan tersebut bukan merupakan tulang tanduk, dan dikatakan bertanduk bila menampakan tonjolan tulang tanduk lebih dari 4 cm. Tonjolan pada domba jantan bukan berarti domba tersebut tidak bertanduk melainkan domba tersebut masih berumur kurang dari 1 tahun, dan seiring bertambahnya umur tanduk tersebut berkembang dan bertambah besar. Sedangkan menurut Noor (2004) penonjolan tanduk bersifat heterozigot secara genetik. Ekor Karakteristik ekor pada domba sangat penting karena dapat dijadikan sebagai kriteria (long-tailed dan short tailed). Ekor panjang (perpanjangan melebihi hock) atau pendek (tidak mencapai hock), tipis atau tebal. Perubahan ekor dari ekor ukuran sedang sampai ekor gemuk tergantung dari status nutrisi, penampilan dan derajat percampuran dengan non-fat tailed dalam keturunan (Sasimowski, 1987). Menurut Diwyanto (1982) bentuk ekor dikategorikan kedalam tiga tipe berdasarkan lebarnya ekor, yaitu ekor tipis dengan lebar kurang dari 5 cm, ekor sedang antara 5-7 cm dan ekor gemuk diatas 7 cm. Wol Wol adalah pelindung alami penutup tubuh, wol berbeda dari serat binatang lain yaitu permukaannya bergerigi karena adanya crimp (kerutan) yang memiliki penampakan bergelombang sebagat tanda derajat elastisitas yang paling baik. Lain halnya dengan hair yang memiliki permukaan licin, tidak ada crimp atau tidak akan meregang. Sebagai produk kulit atau kutikel binatang vertebrata, wol sama seperti jaringan kulit yang ditemukan pada binatang seperti tanduk dan kuku. Crimp sangat bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan jumlah tergantung dari bangsa domba, kehalusan dan karakter wol (Ensminger, 2002). Berdasarkan keadaan seratnya, ada yang benar-benar lurus (kasar), agak berkerut (sedang) dan serat yang banyak kerutan (halus) (Ensminger, 2002). Wol normal (keriting) bersifat homozigot dominan, wol kasar (lurus) bersifat homozigot resesif, dan wol sedang (berombak) bersifat heterozigot (Noor, 2004) 10