IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di enam kelurahan di Kota Depok, yaitu Kelurahan Pondok Petir, Kelurahan Curug, Kelurahan Tapos, Kelurahan Beji, Kelurahan Mekarsari, dan Kelurahan Pancoran Mas. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa karakteristik wilayah tersebut sudah cukup mewakili data yang diperlukan dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Juni 2011 hingga Juli 2011 4.2. Metode Penentuan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik judgement sampling. Teknik ini dilakukan berdasarkan pertimbangan pribadi dan sampel yang dipilih dianggap dapat mewakili kriteria yang ditentukan oleh peneliti dan bersedia untuk mengisi kuesioner. Kriteria konsumen tersebut adalah para ibu yang memberikan susu kepada anaknya dan bersedia untuk di wawancara. Jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 60 orang. Penentuan ini dilakukan berdasarkan jumlah minimal 30 responden yang secara empiris jumlah dapat memberikan ragam sampel yang stabil sebagai pendugaan ragam populasi (Walpole 1997). Penambahan responden dilakukan dengan asumsi bahwa semakin banyak jumlah responden maka data yang diperoleh akan semakin baik dengan mempertimbangkan kemampuan penulis. 4.3 Data dan Instrumentasi Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara kepada responden dengan panduan kuesioner. Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen milik lembaga-lembaga publikasi pemerintah, seperti Badan Pusat Statistik, hasil studi literatur dan referensi lainnya berupa berbagai buku, artikel, hasil penelitian sebelumnya serta dari situs-situs internet yang berhubungan dengan topik penelitian.
Instrumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Kuesioner tersebut berisikan sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Kuesioner yang digunakan terdiri dari pertanyaan terstruktur dan pertanyaan semi terstruktur. 4.4. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode survei. Menurut Nazir (2002), metode survei adalah pengumpulan data primer dengan melakukan tanya jawab dengan responden. Jenis pertanyaan dalam kuesioner tersebut adalah pertanyaan berstruktur dan pertanyaan semistuktur. Pertanyaan berstruktur adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberi jawaban kepada beberapa alternatif saja atau kepada satu jawaban saja. Responden yang digunakan adalah responden yang sesuai dengan kriteria pada penarikan sampel. 4.5. Metode Pengolahan Data Data yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif, selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah berikut: 1. Pengeditan, semua data yang diperoleh di lapang akan diedit. Tujuan dari pengeditan adalah untuk memilih semua data dan informasi yang diperoleh berdasarkan kerangka formulasi yang telah ditetapkan. 2. Tabulasi, langkah ini bertujuan untuk menyajikan data-data dalam bentuk tabel dan gambar untuk mempermudah penyajian dan interpretasi data-data tersebut. 3. Interpretasi bertujuan menghubungkan semua variable yang telah ditetapkan dalam kerangka pemikiran yang akan digunakan dengan hasil penelitian yang diperoleh. Dalam melakukan penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif (descriptive analysis) dan metode regresi logistik. Pengolahan data menggunakan microsoft excel 2007 dan SPSS 16. 20
4.5.1. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari analisis deskriptif adalah untuk membuat gambaran sistematis, faktual dan akurat mengenai faktafakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir 2005). Analisis deskriptif dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: tahap pertama adalah pemberian kuesioner kepada responden, mentabulasikan semua jawaban responden berdasarkan kuesioner, dan melakukan analisis berdasarkan hasil yang diperoleh dari pentabulasian. Metode ini akan memberikan keluaran berupa data karakteristik responden. 4.5.2. Metode Regresi Logistik Analisis regresi logistik merupakan bagian dari analisis regresi. Regresi logistik adalah persamaan matematik yang menggambarkan hubungan antara variabel tak bebas dengan sejumlah variabel bebas. Pada model regresi logistik variabel tak bebasnya bersifat biner atau dikotomi yakni memiliki nilai yang diskontinu 1 dan 0 (Juanda. Regresi logistik merupakan suatu model dimana respon variabel terikat (Y) bersifat memihak kepada 1 dari 2 atau lebih pilihan yang ada. Model logit juga menggambarkan bagaimana peluang atau kemungkin terpilihnya salah satu dari sejumlah pilihan yang tersedia. Variabel terikat (Y) dibuat dalam bentuk dummy (0,1,2,3,...). Nilai variabel tak bebas dari model logistik antara 0 dan 1, bentuk fungsi dari model logistik adalah : ln = + x +. P adalah nilai peluang dari variabel tak bebas yang nilainya biner, yaitu 0 dan 1. Nilai P diperoleh dari : Y= Prob(Y=1) = ( ) Sebaran peluang yang digunakan dalam fungsi logit adalah sebaran logistik, sehingga nilai harapan bersyarat Y jika diketahui X adalah: E (Y X) = π (X) = - ( ) ( ) ( ) dengan g(x) = ln ( ) Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel respon adalah persepsi konsumen terhadap produk susu kambing yang dibagi menjadi dua kategori yaitu, 21
konsumen tertarik memberikan susu kambing kepada anak balitanya (1) dan konsumen tidak tertarik memberikan susu kambing kepada anak balitanya (0). Variabel bebas yang mempengaruhi persepsi konsumen untuk tertarik memberikan produk susu kambing kepada anak balitanya adalah variabel persepsi. Kotler (2000) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen ke dalam kategori budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor pribadi atau karakteristik pribadi individu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen. Karakteristik tersebut meliputi usia, pekerjaan, pendidikan, pendapatan, pengeluaran, dan lain-lain. Dalam Sumarwan (2002) perbedaan karakteristik menggambarkan ciri unik dari masing-masing individu. Perbedaan karakteristik ini akan mempengaruhi respon individu terhadap lingkungannya secara konsisten. Berdasarkan hal-hal tersebut maka salah satu faktor yang diduga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk susu kambing adalah karakteristik konsumen. Adapun beberapa karakteristik konsumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah usia, tingkat pengeluaran, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan. Variabel lain yang diduga dimasukkan ke dalam pengolahan analisis regresi logistik ini yaitu persepsi terhadap produk susu kambing. Pengukuran persepsi suatu produk biasanya dilihat dari atribut yang terdapat pada produk tersebut, seperti harga, rasa, aroma, kandungan gizi, dan kemudahan memperoleh suatu produk. Hipotesa dari ketujuh variabel yang akan dianalisis adalah: 1. Usia Perbedaan usia diduga akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap persepsi konsumen terhadap produk susu kambing. Hal ini terkait dengan tingkat kepercayaan, pengetahuan, selera dan kesadaran nilain pemberian suatu produk. Usia berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang, sehingga semakin bertambah usia, konsumen akan cenderung memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibanding usia yang lebih muda. Dengan demikian diduga bahwa usia yang lebih tua akan memiliki persepsi yang lebih 22
baik terhadap produk susu kambing. Pengelompokkan usia konsumen adalah berdasarkan besarnya sebaran usia responden. 2. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan konsumen diduga akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk susu kambing. Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianut, cara berpikir, dan cara pandang bahkan persepsinya terhadap suatu hal. Konsumen yang memiliki pendidikan lebih baik akan lebih responsif terhadap informasi dan mempengaruhi konsumen dalam pemilihan suatu produk (Sumarwan, 2002). Sehingga diduga, semakin tinggi tingkat pendidikan konsumen akan mempengaruhi persepsi yang baik terhadap produk susu kambing. Pengelompokkan tingkat pendidkan konsumen adalah berdasarkan latar belakang pendidikan konsumen, yaitu: tamatan SD (0), SMP (1), SMA/Sederajat (2), Diploma (3), Sarjana (4), dan Pasca Sarjana (5) 3. Status pekerjaan Status pekerjaan merupakan salah satu variabel yang menentukan status atau kelas sosial seseorang. Konsumen yang berada pada kelas yang sama akan menunjukkan persamaan dalam persamaan nilai-nilai yang dianut, gaya hidup, dan perilaku karena kelas sosial akan mempengaruhi apa yang dikonsumsi oleh seorang konsumen (Sumarwan, 2002). Variabel status pekerjaan dikategorikan menjadi Ibu rumah tangga (0), pegawai negeri (1), dan non-pegawai negeri (2). 4. Tingkat pengeluaran Besarnya pengeluaran keluarga yang dikeluarkan per bulan diduga akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk susu kambing. Besarnya pengeluaran konsumen dapat menggambarkan tingkat pendapatan yang diperoleh. Semakin besar tingkat pendapatan konsumen akan mempermudah konsumen untuk membeli berbagai kebutuhan hidup, tidak hanya kebutuhan primer dan sekunder saja. Sehingga diduga, semakin besar tingkat pengeluaran akan mempengaruhi persepsi yang baik terhadap produk susu kambing. Variabel tingkat pengeluaran dikategorikan menjadi rendah (0), 23
sedang (1), dan tinggi (2). Pengelompokkan tingkat pengeluaran konsumen adalah berdasarkan besarnya sebaran tingkat pengeluaran responden 5. Pengalaman mengkonsumsi produk susu kambing Pengalaman mengkonsumsi susu kambing diduga mempengaruhi tingkat pengetahuan konsumen terhadap produk susu kambing. Semakin banyak pengetahuan konsumen mengenai produk susu kambing, maka cenderung akan memiliki persepsi yang positif terhadap produk susu kambing. Variabel pengalaman mengkonsumsi susu kambing dikategorikan menjadi belum pernah (0), dan pernah (1). 6. Tingkat persepsi responden terhadap produk susu kambing Tingkat persepsi diduga akan mempengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan pemberian produk susu kambing kepada anak balitanya. Semakin baik persepsi seseorang, maka kemungkinan akan melakukan pemberian produk susu kambing kepada anak balitanya. Variabel tingkat persepsi terhadap produk susu kambing dikategorikan menjadi persepsi buruk (0) dan persepsi baik (1) Dengan demikian model regresi logistik untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi persepi responden terhadap produk susu kambing dengan variabel tak bebas (Y), yaitu persepsi baik (1) atau persepsi buruk (0). Dengan demikian model regresi logistik pada penelitian ini adalah: P i = (. ) Setelah ditransformasikan kedalam logit menjadi: Logit (P i ) = Ln [P i / (1- P i )] = β0 + β1x1 + β2x2 + β3x3 + β4x4 + β5x5 +β6x6 = β0 + β1 Usia + β2 Tingkat pengeluaran + β3 Tingkat pendidikan + β4 Status pekerjaan + β5 Pengalaman mengkonsumsi Dimana: β0 = intercept X1 = Usia X2 = Tingkat pendidikan; rendah (0), SD (0), SMP (1), SMA/Sederajat (2), Diploma (3), Sarjana (4), dan Pasca Sarjana (5) 24
X3 = Status pekerjaan; ibu rumah tangga (0) pegawai negeri (1) dan non-pegawai negeri (2) X4 = Tingkat pengeluaran; rendah (0), sedang (1), dan tinggi (2) X6 = Pengalaman mengkonsumsi susu kambing; belum pernah (0), pernah (1) Β 0 B 1-6 = Konstanta = Koefisien variabel bebas atau parameter yang akan diestimasi (logits) Sedangkan untuk model regresi logistik sikap ibu rumah tangga untuk memberikan konsumsi susu kambing kepada anaknya adalah sebagai berikut: P i = (. ) Setelah ditransformasikan kedalam logit menjadi: Logit (P i ) = Ln [P i / (1- P i )] = β0 + β1x1 + β2x2 + β3x3 + β4x4 + β5x5 +β6x6 = β0 + β1 Usia + β2 Tingkat pengeluaran + β3 Tingkat pendidikan + β4 Status pekerjaan + β5 Pengalaman mengkonsumsi + β6tingkat persepsi Dimana: β0 X1 = intercept = Usia X2 = Tingkat pendidikan; SD (0), SMP (1), SMA/Sederajat (2), Diploma (3), Sarjana (4), dan Pasca Sarjana (5) X3 = Status pekerjaan; ibu rumah tangga (0) pegawai negeri (1) dan non-pegawai negeri (2) X4 = Tingkat pengeluaran; rendah (0), sedang (1), dan tinggi (2) X5 = Pengalaman mengkonsumsi susu kambing; belum pernah (0), pernah (1) X6 = Tingkat persepsi; persepsi buruk (0), persepsi baik (1) Β 0 B 1-6 = Konstanta = Koefisien variabel bebas atau parameter yang akan diestimasi (logits) Dari keenam variabel diatas, terdapat enam data kategori yang termasuk data nominal dan ordinal, yaitu tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pengeluaran, kategori tempat tinggal, pengalaman mengkonsumsi susu kambing, 25
dan tingkat persepsi terhadap produk susu kambing. untuk variabel usia tidak dilakukan pengkategorian karena usia responden relatif berdekatan. 4.5.2.1. Evaluasi Model Dugaan Menurut Juanda (2009), perlu dilakukan uji signifikansi model regresi logistik dugaan dan uji signifikansi masing-masing variabel independent untuk memeriksa apakah model secara statistic signifikan, serta variabel independent apa saja yang berpengaruh signifikan terhadapa variabel dependent. 1) Uji Signifikansi Model Regresi Logistik Dugaan Untuk menyimpulkan apakah model signifikan, dilakukan melaui uji hipotesa statistik, yang dinyatakan sebagai, H 0 : β 1 =β 2 = = β j = = β k =0 (model dugaan tidak signifikan) H 1 : Minimal ada satu β j 0 (model dugaan signifikan) Untuk menguji hipotesa tersebut, digunakan statistic uji likehood ratio berikut ini, G = 2Ln( ) Dimana, Ln adalah logaritma dengan basis bilangan natural (e). Statistik G menyebar mengikuti sebaran Chi-square (X 2 ) dengan derajat bebas=df=k. Pada output computer tersaji pula nilai P, dimana P=Peluang (X 2 df=dk>g). Apabila P<α atau G>X 2 (df=k)α maka disimpulkan tolak H 0 pada taraf nyata α. 2) Uji Signifikansi Masing-masing Variabel Independent (Xj) Apabila dari uji sebelumnya, disimpulkan bahwa model dugaan signifikan, maka perlu ditelusuri lebih lanjut variabel independent mana yang pengaruhnya signifikan terhadap variabel dependent. Untuk itu, dilakukan melalui uji hipotesa statistik berikut ini, H 0 : β j =0 (variabel Xj tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel respon) H 1 : β j 0 (variabel Xj berpengaruh signifikan terhadap variabel respon) Statistik uji Wald di bawah ini, digunakan untuk menguji hipotesa tersebut. W j =[ Dimana, ( ) ] 26
bj = Koefisien model dugaan untuk variabel independent X j SECoef (b j ) = Simpangan baku koefisien X j Statistik W j menyebar mengikuti sebaran normal baku (Z). Jika P<α atau Wj Z α/2 maka disimpulkan tolak H 0 pada tarafnyata α. 4.5.2.2 Nilai Odds Ratio Ukuran yang sering digunakan untuk melihat hubungan antara peubah bebas dan peubah tidak bebas dalam model logistic adalah nilai odds ratio (Ψ). Adapun nilai odds ratio untuk predictor Xj adalah sebagai berikut: a) Untuk Xj dalam bentuk variabel dummy Odds ratio untuk Xj = = ( ) ( ) = e Artinya, peluang sukses kategori Xj=1 besarnya e kali lipat dibandingkan Xj=0, cateris paribus. b) Untuk Xj dalam bentuk matriks Odds ratio untuk Xj = ( ) = ( ) = e Artinya, bila Xj bertambah satu satuan Xj,maka peluang suksesnya e kali lipat dibandingkan sebelumnya, cateris paribus. Nilai odds ratio berkisar antara nol hingga tak hingga. Adapun nilai odds ratio dapat dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu: a) Bila bj bertanda positif, maka odds ratio akan bernilai lebih dari satu, yang artinya Xj berpengaruh positif terhadap variabel respon sukses. b) Bila bj bertanda negatif, maka odds ratio akan bernilai antara satu dan nol, yang artinya Xj berpengaruh negatif terhadap variabel respon sukses. c) Bila bj bernilai nol, maka odds ratio akan bernilai satu, yang artinya Xj tidak berpengaruh terhadap variabel respon sukses. 27
4.5.3 Rentang Skala Dalam analisis tingkat persepsi responden terhadap produk susu kambing, transformasi data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif berupa nilai rata-rata jumlah skor yang didapat dari hasil wawancara responden. Pada pertanyaan mengenai bauran pemasaran aspek produk, harga dan lokasi penjualan skor diukur dengan nilai antara 1 (sangat tidak setuju) hingga 4 (sangat setuju). Sedangkan pada pertanyaan mengenai bauran pemasaran aspek promosi dan aspek psikologis skor diukur dengan nilai antara 1 (sangat setuju) hingga 5 (sangat tidak setuju). Setelah itu, data skor diatur dalam rentang skala yang besar interval kelasnya sama. Rentang skala dicari setelah jumlah kelas ditentukan. Simamora (2005) menyebutkan persamaan untuk mencari besar interval kelas yaitu: Rs = (m-n)/b Dimana: Rs = Rentang skala m = skor tertinggi pada skala n = skor terendah pada skala b = jumlah kelas atau kategori yang kita buat Dalam analisis tingkat persepsi terhadap produk susu kambing, nilai maksimum adalah 4, nilai minimum 1 dengan jumlah kelas adalah 2 (baik dan buruk). Maka perhitungannya : (4-1)/2 = 1,5 skor 1-2,5 = persepsi buruk skor 2,5-4 = persepsi baik 4.6. Definisi Operasional 1. Responden adalah orang pada saat dilakukan penelitian yang bersedia untuk diwawancara dan mengisi kuesioner. 2. Karakteristik Konsumen adalah gambaran sosial yang melekat pada konsumen dalam hal ini meliputi: usia, tingkat pendidikan, tingkat pengeluaran dan jenis pekerjaan 3. Usia adalah rentang waktu responden dari lahir hingga saat ini. 4. Tingkat Pendidikan adalah pendidikan terakhir yang telah ditempuh responden. 28
5. Jenis Pekerjaan adalah pencaharian yg dijadikan pokok penghidupan atau sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah responden saat ini. 6. Tingkat Pengeluaran adalah jumlah uang yang dikeluarkan responden selama satu bulan terakhir. 7. Persepsi Konsumen adalah cara pandang konsumen terhadap produk susu kambing. 29