BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERANCANGAN PABRIK: PENENTUAN LOKASI PABRIK

BAB VII LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

TATA LETAK PABRIK. A. Lokasi Pabrik. Penentuan lokasi pabrik adalah salah satu hal yang terpenting dalam

MATERI 4 ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS. e. Spesfifikasi Bahan Baku dan Hasil c. Tenaga Kerja

BAB I PENDAHULUAN. didirikan pada 9 Desember 1989 yang memiliki 12 divisi didalamnya yaitu divisi

BAB VII. TATA LETAK DAN LOKASI PABRIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

VII. TATA LETAK PABRIK

BAB VII TATA LETAK PABRIK. kelancaran proses produksi. Pabrik T-Butyl Alcohol dengan kapasitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian proses produksi menurut beberapa ahli diantaranya adalah:

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara

NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M ( ) R

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dengan hadirnya persaingan global di bidang bisnis sekarang ini, dunia

VII. TATA LETAK PABRIK

PENDAHULUAN. semakin berkembangnya zaman, maka semakin tinggi pula tingkat inovasi

BAB V ASPEK TEKNIS / OPERASI

KONSEP DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, namun kakao

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Lokasi Pabrik ditentukan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Strategi Tata Letak (Layout Strategy) I

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Potong Hewan yang telah dibangun merupakan satu-satunya RPH

RENCANA BISNIS INFRASTRUKTUR KOMPONEN

ANALISA KELAYAKAN INDUSTRI FILLET IKAN PATIN BEKU. (Pangasius hypophthalmus) DI KABUPATEN BOGOR. Oleh RONNY MARTHA FO

VII. TATA LETAK PABRIK

Seluk-Beluk Jasa Pengiriman Barang yang Perlu Diketahui

BAB. VII LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK

PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PERTEMUAN #2 TKT TAUFIQUR RACHMAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS

SISTEM PENANGANAN MATERIAL

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

4 KEADAAN UMUM UKM. Pulau Pasaran SKALA 1:

TATA LETAK PABRIK. terhadap kelangsungan proses pabrik yang meliputi keberhasilan dan

BAB I PENDAHULUAN. Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda

Perencanaan Bisnis. Kewirausahaan II (B51431EL) Destria Ray Natalia S. MSc. Advertising & Marketing Communications. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI

BAHAN AJAR Jurusan : Administrasi Bisnis Konsentrasi : Mata Kuliah : Pengantar Bisnis

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. PT. Samudera Indonesia adalah sebuah perusahaan nasional yang bergerak di

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

B. Bangunan 1. Umum Bangunan harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sehat 2015 adalah lanjutan dari visi pembangunan kesehatan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. pemasaran minyak goreng dengan bahan dasar kopra dan kelapa sawit. Pabrik ini telah

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Bab 6. Perencanaan Kapasitas

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan Isu Perkembangan Properti di DIY

BAB 1 PENDAHULUAN. Perusahaan adalah suatu lembaga yang diorganisir dan dijalankan untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

: PENENTUAN LOKASI FASILITAS-FASILITAS PRODUKSI. M.O. By Nurul K, SE, M.Si

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB II METODA DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

BAB VIII PEMBAHASAN 8.1. Faktor Teknis Bahan Baku dan Bahan pembantu

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP DESAIN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT PENGOMPOSAN SAMPAH

KAJIAN KEPUSTAKAAN. masyarakat umum (SNI, 1999). Tujuan utamanya didirikan RPU adalah untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. industri yang cukup ketat. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan dituntut untuk

Kewirausahaan. Perencanaan & Operasionalisasi usaha. Reddy Anggara, S.Ikom., M.Ikom. Modul ke: Fakultas Fakultas Teknik. Program Studi Arsitektur

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT

BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

LAMPIRAN Bagaimana sejarah berdirinya PT Margono Dian Graha? 2. Apa visi dan misi PT Margono Dian Graha?

VII. TATA LETAK PABRIK

Manajemen Industri. Pengantar Teknologi Pertanian Mas ud Effendi, S.TP., MP

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB VII TATA LETAK PABRIK

VII. LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

BAB I PENDAHULUAN. Bisnis eceran ( Retail Businesses ) atau yang juga populer dengan sebutan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERENCANAAN FASILITAS

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A.

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KONDISI UMUM PERUSAHAAN

Mengapa tata letak dipandang sebagai sebuah strategi?

Perancangan Tata Letak

VII. TATA LETAK PABRIK

BAB I PENDAHULUAN. pengaturan layout untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya. Layout

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. tahun 2015 menjadi langkah utama PT. Charoen Pokphand - Food Division

Faktor-faktor Pertimbangan Lokasi

Analisa Rantai Pasok Material Pada Kawasan Industri Maritim Terhadap Produktivitas Industri Perkapalan

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Riwayat Singkat Perusahaan PT. Eloda Mitra merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pangan. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1989 merupakan bentuk pengembangan dari perusahaan Bernardi Farm and Processing yang berdiri pada tahun 1976 di Sidoarjo. Pada tahun 1978, perusahaan yang semula melakukan usaha peternakan dan pemotongan ayam kemudian berkembang ke prosesing ayam dan penjualan karkas ayam pada tahun 1980 hingga 1986 dengan kapasitas produksi sebesar 300kg/hari. Pada tahun 1980, daging sapi juga menjadi pilihan untuk diolah dagingnya menjadi produk. Adanya pengembangan usaha menyebabkan perusahaan mengganti nama menjadi PT. Bernardi Meat Processing Plan pada tahun 1983. Bernardi menjadi pelopor Burger di Surabaya dan sekitarnya sebelum makanan cepat saji milik Amerika masuk dan berkembang di Indonesia. Mulai tahun 1983 melalui merek Burgeria, Bernardi memperkenalkan burger dengan metode pengenalan dari rumah ke rumah dengan becak burger dan melakukan penjualan di berbagai tempat, seperti mall, sinar market, dan toko enam. Pada tahun 1989 PT. Eloda Mitra kemudian melebarkan sayap ke industri pengolahan daging dalam bentuk frozen/chilled food dan makanan kaleng dengan menggunakan merek dagang Bernardi dan terjadi peningkatan kapasitas produksi menjadi 100 ton/bulan serta produk bakery dengan merek dagang Rious. Beberapa produk unggulan pada pengolahan daging, yaitu bakso, sosis, burger dan smoked beef. Selain itu, makanan kaleng seperti corned beef, beef liver paste, sup merah dan ethnic food (rendang, rawon, soto daging dan lain-lain) juga menjadi produk unggulan. 5

6 PT. Eloda Mitra mempunyai beberapa merek dagang lain selain Bernardi, yaitu Vitalia, Prima, dan Abby s. Motto yang digunakan Bernardi adalah A Tradition in Meats yang memiliki arti bahwa perusahaan mempertahankan rasa produknya melalui proses pengolahan yang modern dan berstandar internasional namun tetap bercitarasa tradisional. Selain itu, dengan visi menjadi perusahaan daging olah dan bakery terdepan yang menjadi pilihan utama pelanggan, maka perusahaan berusaha untuk menjamin kepuasan pelanggan dengan produk yang berkualitas, aman, sehat, inovatif, dan halal dengan menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan memperhatikan lingkungan. Hingga kini perusahaan melakukan peningkatan kualitas produk dan melakukan penelitian serta improvisasi produk secara terus-menerus dan berkelanjutan, mengingat kualitas dan inovasi merupakan nilai utama perusahaan dan demi kepuasan pelanggan. Usaha pengembangan produk yang dilakukan oleh perusahaan tidak hanya membawa keuntungan tetapi ada dampak lain bagi masyarakat dan lingkungan yang harus ditangani dengan tepat, khususnya dalam hal pengelolaan limbah. Limbah yang dihasilkan selama penerimaan bahan, proses produksi hingga packaging dibedakan menjadi dua, yakni limbah padat dan limbah cair. Jenis limbah yang berbeda memiliki perlakuan yang berbeda karena memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganan yang tepat dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan. Ketenagakerjaan dan pemodalan juga berkembang seiring dengan berkembangnya perusahaan. Tenaga kerja yang pada tahun 1980 hanya 30 karyawan dengan sistem kerja satu shift kemudian berkembang secara perlahan menjadi 1000 karyawan dengan sistem kerja tiga shift. Penambahan karyawan dilakukan dengan perekrutan pegawai baru di berbagai daerah dengan proses seleksi yang telah ditentukan oleh

7 perusahaan. Dengan adanya proses seleksi diharapkan perusahaan dapat berjalan lebih baik karena adanya pegawai berpotensi. Pegawai yang lolos seleksi tidak hanya berprestasi di bidang akademik namun juga memiliki soft skill yang memadai. Sementara pemodalan didapatkan dari hasil kerja sama dengan BRI pada tahun 1976. BRI memberikan program pemerintah berupa pemodalan kredit kecil dengan tujuan memperkenalkan usaha peternakan di daerah Jawa Timur mengingat PT. Eloda Mitra sebagai pelopor industri pengolahan ayam broiler di Jawa Timur. Namun, sampai saat ini setelah PT. Eloda Mitra sudah berkembang, perusahaan tidak melakukan kerja sama dengan pihak manapun. 2.2. Lokasi Perusahaan dan Tata Letak Pabrik Pemilihan lokasi yang strategis dan perencanaan pabrik yang tepat perlu dilakukan agar efisiensi dapat ditingkatkan dan biaya produksi dapat ditekan. Pertimbangan dalam pemilihan lokasi dan perencanaan tata letak tergantung dari jenis produk yang diproduksi dan bahan-bahan yang digunakan serta alur distribusi yang dibidik oleh pabrik tersebut. 2.2.1. Lokasi Perusahaan Pemilihan lokasi penting dilakukan untuk menghindari sebanyak mungkin resiko yang dapat merugikan proses produksi dan mendapatkan sebanyak mungkin kemungkinan yang bersifat menguntungkan. Penentuan lokasi yang tepat akan meminimumkan biaya (investasi dan operasional) jangka pendek maupun jangka panjang, dan dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Pemilihan lokasi suatu pabrik merupakan investasi jangka panjang yang berdampak pada pengembangan perusahaan di masa depan. Kebijakan perluasan perusahaan, diversifikasi produk maupun pengembangan produk, kemungkinan perubahan pasar, perubahan sumber bahan baku maupun

8 bahan pembantu dan bahan pelengkap yang digunakan, alur tujuan distribusi dekat dengan jalan tol dan setiap pengaruh lain yang dapat diduga sejak dini menjadi dasar pemilihan lokasi suatu perusahaan. Pemilihan lokasi juga akan berdampak pada besarnya pengeluaran dan pendapatan selama menjalankan suatu perusahaan. Tujuan dari penelitian lokasi adalah untuk mendapatkan lokasi yang optimum-lokasi yang akan memberikan keuntungan yang terbesar bagi organisasi yang bersangkutan. Menurut Wijana (2012), pemilihan lokasi pabrik secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa faktor. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan penentuan lokasi adalah: a. Letak pasar Perusahaan yang dekat dengan pasar akan lebih dapat memacu perusahaan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para pelanggan dan dapat mengurangi biaya distribusi. Perlu dipertimbangkan juga apakah pasar perusahaan tersebut luas ataukah hanya melayani sebagian kecil masyarakat, produk mudah rusak atau tidak, berat produk, dan proporsi biaya distribusi barang jadi pada total biaya. Perusahaan besar dengan jangkauan pasar yang luas dapat mendirikan cabang usaha dalam bentuk pabrik di beberapa tempat secara menyebar untuk mendekati pasar. b. Bahan baku Berbeda dengan perusahaan jasa, perusahaan manufaktur umumnya didirikan di lokasi yang dekat dengan bahan baku (perusahaan pengolahan kayu, miniman, makanan, dan lain-lain) sehingga dapat menghemat biaya pengadaan bahan. c. Tenaga kerja Ketersediaan tenaga kerja juga menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi usaha, terutama bagi perusahaan manufaktur yang umumnya banyak membutuhkan banyak tenaga kerja dalam proses

9 produksi. Penarikan tenaga kerja, kuantitas dan jarak, tingkat upah yang berlaku, serta persaingan antar perusahaan dalam memperebutkan tenaga kerja yang berkualitas tinggi perlu diperhatikan perusahaan. d. Masyarakat Masyarakat merupakan faktor penting dalam penentuan lokasi usaha mengingat keberadaan perusahaan di samping dapat memberi manfaat tapi juga bisa menimbulkan kerugian bagi masyarakat khususnya di sekitar usaha. Sebagai contoh, perusahaan yang mempekerjakan masyarakat sekitar umumnya tidak mengalami banyak masalah karena berdirinya suatu perusahaan merupakan kesempatan bagi masyarakat mencari perkerjaan, namun perusahaan yang menghasilkan maupun mengolah sampah atau limbah seringkali ditolak keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Sampah atau limbah dalam bentuk cair, gas dan padat umumnya menghasilkan bau yang tidak sedap dan dapat mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik oleh pihak perusahaan. Perusahaan juga menyebabkan suara bising ketika beroperasi. Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai lingkungan dan ekologi sehingga tetap dapat diterima oleh masyarakat sekitar. e. Peraturan Pemerintah Pemerintah selama ini telah menentukan mana kawasan untuk pemukiman dan mana untuk industri. Perusahaan tidak dapat atau akan mengalami kesulitan bila memilih lokasi yang bukan untuk kawasan industri. Masalah perijinan mendirikan bangunan, ketinggian maksimal bangunan, pembuangan limbah, dan kebijakan pemerintah lainnya juga perlu diperhatikan. f. Listrik, Air, dan Alat Komunikasi Sarana pendukung ini tidak dapat diabaikan, karena hampir setiap aktivitas perusahaan membutuhkan listrik, air, dan alat komunikasi.

10 g. Transportasi Transportasi berfungsi untuk mendatangkan bahan baku dan mengirim bahan jadi. Terabaikannya masalah transportasi akan menimbulkan kesulitas produksi karena keterlambatan pengiriman bahan baku misalnya dan tersendatnya distribusi hasil produksi ke pasar. h. Sarana dan Prasarana Pendukung Ketersediaan lahan parkir yang memadai, pembuangan limbah, keamanan, fasilitas kesehatan kerja, merupakan faktor yang juga tidak kalah pentingnya di dalam penentuan lokasi usaha. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi adalah harga tanah, dominasi masyarakat, peraturan-peraturan tenaga kerja (labor laws) dan relokasi, kedekatan dengan pabrik-pabrik dan gudanggudang lain perusahaaan maupun para pesaing, tingkat pajak, kebutuhan untuk ekspansi, cuaca atau iklim, keamanan, serta konsekuensi pelaksanaan peraturan tentang lingkungan hidup. Handoko (1984) juga menambahkan bahwa setiap industri memerlukan sumber tenaga yang berasal dari aliran listrik, diesel, air, angin maupun gas yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan dan pendirian lokasi pabrik. PT. Eloda Mitra terletak di komplek pergudangan Sinar Buduran, Jalan Lingkar Timur Blok B No. 1-6, Banjarsari-Buduran, Sidoarjo. Perusahaan ini didirikan dengan batas wilayah sebagai berikut dan gambar lokasi perusahaan ditunjukan pada Gambar 2.1.: Utara : berbatasan dengan pemukiman penduduk Selatan : berbatasan dengan Jalan Lingkar Timur Timur : berbatasan dengan Jalan Ring Road Timur, Sidoarjo Barat : berbatasan dengan sawah

11 Gambar 2.1. Denah Lokasi PT. Eloda Mitra di Sidoarjo Pemilihan desa Banjarsari sebagai lokasi pabrik adalah berdasarkan berbagai pertimbangan sebagai berikut: a. Lokasi Berada di kawasan industri yang berada di kota Sidoarjo, dekat dengan perbatasan Sidoarjo-Surabaya, dan jarak untuk akses ke tol cukup dekat sehingga memudahkan distribusi ke Surabaya, Mojokerto, Jakarta, dan kota lain serta memudahkan proses distribusi ke luar pulau, seperti Bali dan Kalimantan maupun ke luar negeri yang akan disalurkan ke pelabuhan atau bandara di Sidoarjo terlebih dahulu. b. Transportasi Jalan menuju PT. Eloda Mitra di Sidoarjo mudah dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Kendaraan umum juga cukup mudah dijangkau bagi karyawan yang tidak membawa kendaraan pribadi. c. Tenaga Kerja Tenaga kerja tersedia dalam jumlah yang banyak dan mudah didapat. Desa Banjarsari merupakan kawasan industri yang dekat dengan pemukiman penduduk.

12 d. Sumber Energi Terdapat aliran listrik oleh PLN dan aliran gas dari Gas Negara sehingga memudahkan jalannya produksi. 2.2.2. Tata Letak Pabrik Tata letak atau layout pabrik meliputi pengaturan letak mesin, material, personalia, fasilitas pelayanan, dan lain-lain. Penentuan letak fasilitas fisik hendaknya mengacu pada tercapainya situasi minimal seperti berikut: a. Minimalisasi biaya pengendalian bahan b. Kecelakaan karyawan berkurang c. Terciptanya keseimbangan dalam proses produksi d. Gangguan oleh mesin berkurang e. Ruang yang tersedia dimanfaatkan dengan baik Tujuan penyusunan layout yaitu agar peralatan dapat ditemukan sesuai dengan fungsinya sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar, efektif, ekonomis, aman, dan nyaman. Analisis produk, proses produksi, dan peralatan perlu dianalisis terlebih dahulu sebelum penyusunan layout agar jenis produk dan kapasitas produksi dari setiap peralatan dapat diketahui dengan pasti. Layout yang baik akan menghemat penggunaan ruangan, mengurangi waktu tunggu serta memperlancar distribusi bahan dan pergerakan tenaga kerja selama proses produksi sehingga dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan layout pabrik, yaitu efisiensi penggunaan alat, aliran proses produksi, tenaga kerja, dan keamanan. Menurut Wijana (2012), ruangan yang diperlukan untuk usaha pengolahan pangan meliputi ruang penyimpanan bahan baku, ruang

13 persiapan, ruang produksi, ruang pengemasan, ruang penyimpanan produk, dan ruang administrasi. a. Ruang Penyimpanan Bahan Ruang penyimpanan harus bersih dan kering, kedap udara dan air, lantai mudah dibersihkan, serta bebas binatang perusak, seperti tikus dan kecoa agar bahan-bahan yang digunakan selama proses produksi tidak mengalami kerusakan. b. Ruang Produksi Ruang produksi merupakan ruang utama tempat peralatan pengolahan pangan diletakkan. Ruangan produksi dilengkapi dengan sarana air bersih untuk mencuci peralatan dan menjaga kebersihan pekerja. Penerangan di ruangan harus mencukupi agar memudahkan para pekerja dalam melaksanakan tugas. Proses persiapan juga dapat dilakukan di ruangan ini. c. Ruang Pengemasan Ruang pengemasan digunakan untuk mengemas dan memberikan label pada produk. Peralatan pengemasan dan pelabelan diletakkan di ruang produksi sehingga ruangan harus bersih dan kering. d. Ruang Penyimpanan Produk Produk yang sudah dikemas dan siap dipasarkan disimpan dalam ruang penyimpanan produk hingga waktu pengiriman. Ruangan harus bersih, lantai kering, memiliki ventilasi yang cukup, tidak terkena sinar matahari secara langsung, dan bebas dari binatang perusak seperti kecoa, semut maupun tikus. e. Ruang Administrasi Ruang administrasi digunakan untuk melaksanakan semua kegiatan administrasi industri, seperti pencatatan barang yang masuk dan keluar, pemesanan, perencanaan kerja, dan lain-lain.

14 Menurut Handoko (1984), tata letak (layout) pabrik dibedakan menjadi empat pola dasar umum, yaitu: a. Layout Proses Layout proses adalah pengelompokan mesin-mesin dan personalia untuk melaksanakan pekerjaan yang sejenis. Layout proses menghasilkan penggunaan spesialisasi mesin dan personalia yang paling baik. b. Layout Produk (Line Layout) Layout produk berkaitan dengan pengelompokan berbagai mesin dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi suatu produk berdasarkan urutan proses produksi, dimana produk yang dihasilkan bergerak secara terus-menerus (continue) dalam satu garis perakitan. Layout produk berorientasi pada produk yang sedang dibuat untuk mencapai volume produksi yang tinggi. c. Layout Kelompok (Group layout) Dalam layout kelompok, bagian-bagian dan komponen-komponen produk yang sedang dibuat dikelompokkan menjadi semacam keluarga. Setiap komponen diselesaikan di daerah-daerah spesialisasi tertentu dengan keseluruhan urutan pengerjaan mesin dilakukan di tempat tersebut. d. Layout Posisi Tetap (Fixed Position Layout) Layout posisi tetap menempatkan produk-produk besar dan kompleks yang sedang dirakit pada suatu tempat, seperti pabrik mesin, kapal laut, dan pesawat terbang. Produk dimungkinkan berada pada satu lokasi selama perakitan lengkap atau tinggal di satu tempat dalam jangka waktu yang lama hingga dilakukan pekerjaan tertentu. Produk kemudian dipindahkan ke tempat perakitan lain dimana pekerjaan selanjutnya dilakukan. Layout yang digunakan oleh PT. Eloda Mitra adalah kombinasi dari layout proses dan produk. Penempatan mesin yang digunakan pada

15 pembuatan sosis sesuai dengan urutan proses produksi sehingga dapat digolongkan sebagai layout produk. Namun, pada proses sortasi bahan baku daging serta pengemasan untuk produk sosis dan produk lain, seperti ham dilakukan di lokasi yang sama sehingga dapat digolongkan sebagai layout proses dimana mesin dengan pekerjaan sejenis diletakkan di lokasi yang sama. U Unloading Ruang R&D Ruang QC Ruang Produksi & Pengemasan Ruang Kantor Ruang Produksi & Pengemasan Loading Factory Shop & Cafe Mushola Tempat Parkir Rest Area IPAL Gambar 2.2. Tata Ruang PT. Eloda Mitra di Sidoarjo Sumber: PT. Eloda Mitra, 2016 PT. Eloda Mitra di Sidoarjo memiliki satu bangunan utama yang terdiri dari ruang produksi dan pengemasan, ruang unloading, ruang QC, ruang R&D, kantor, ruang loading, Factory Shop dan Cafe, ruang istirahat dan IPAL (Gambar 2.2.). Tata letak pabrik dirancang sedemikian rupa

16 sehingga memudahkan jalannya produksi dan penyimpanan barang jadi. Bahan baku disimpan di gudang logistik dan akan dikirim ke bagian produksi untuk diolah, kemudian produk akhir disimpan di dalam gudang barang jadi.