BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN A. Tahapan Penelitian. Tahap penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3. 1.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Metode Analisa Komponen

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kadar air menggunakan tanah terganggu (disturbed), dilakukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tahapan Penelitian

Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2016 ISSN: Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

gambar 3.1. teriihat bahwa beban kendaraan dilimpahkan ke perkerasan jalan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian sampel tanah asli di laboratorium didapatkan hasil :

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN ANALISIS

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tahapan Penelitian

PERANCANGAN STRUKTURAL PERKERASAN BANDAR UDARA

1. Kontruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)

Perkerasan kaku Beton semen

Jenis-jenis Perkerasan

BAB III METODE PENELITIAN

Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Menggunakan Metode Austroads 1992

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan KATA PENGANTAR

ANALISIS BEBAN BERLEBIH (OVERLOAD) TERHADAP UMUR PELAYANAN JALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALITIS (STUDI KASUS RUAS JALAN TOL SEMARANG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Jalan merupakan bagian dari infrastruktur transportasi darat yang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tahapan Penelitian

STUDI KASUS: JALAN RUAS KM. 35 PULANG PISAU. Adi Sutrisno 06/198150/TK/32229

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA PEMANFAATAN KLELET ( LIMBAH PADAT INDUSTRI COR LOGAM ) SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT PADA BETON KEDAP AIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA PERENCANAAN MEKANISTIK EMPIRIS OVERLAY PERKERASAN LENTUR

ANALISIS TEBAL PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN SKBI 1987 BINA MARGA DAN METODE AASHTO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melebihi daya dukung tanah yang diijinkan (Sukirman, 1992).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA

HASIL DAN PEMBAHASAN. (undisturb) dan sampel tanah terganggu (disturb), untuk sampel tanah tidak

BAB IV METODE PENELITIAN. Mulai. Identifikasi Masalah. Studi Literatur. Pengumpulan Data Sekunder. Rekapitulasi Data. Pengolahan Data.

BAB II LANDASAN TEORI

Naskah Publikasi Ilmiah. untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil. diajukan oleh :

PENGUJIAN PARAMETER KUAT GESER TANAH MELALUI PROSES STABILISASI TANAH PASIR MENGGUNAKAN CLEAN SET CEMENT (CS-10)

PENGGUNAAN RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT

BAB I PENDAHULUAN. Permukaan tanah pada umumnya tidak mampu menahan beban kendaraan

B. Metode AASHTO 1993 LHR 2016

EFEKTIFITAS SEMEN PADA STABILISASI LEMPUNG DENGAN KAPUR AKIBAT PERCEPATAN WAKTU ANTARA PENCAMPURAN DAN PEMADATAN

DR. EVA RITA UNIVERSITAS BUNG HATTA

PEMANFAATAN LIMBAH PABRIK GULA (ABU AMPAS TEBU) UNTUK MEMPERBAIKI KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG SEBAGAI SUBGRADE JALAN (059G)

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ABSTRAK... i ABSTRACT... iii KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR...

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

Selamat Datang. Tak kenal maka tak sayang Sudah kenal maka tambah sayang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teknik Sipil Itenas No. x Vol. xx Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Agustus 2015

ANALISIS PENGARUH KONDISI PONDASI MATERIAL BERBUTIR TERHADAP UMUR PELAYANAN JALAN DENGAN METODE ANALITIS

ANALISA DAYA DUKUNG TANAH (DDT) PADA SUB GRADE

BAB IV HASIL PENELITIAN. dilakukan di laboratorium akan dibahas pada bab ini. Pengujian yang dilakukan di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Agustus 2005 oleh Washington State Departement of Transportation (WSDOT).

ASPEK GEOTEKNIK PADA PEMBANGUNAN PERKERASAN JALAN

MENINGKATKAN NILAI STRUKTUR LAPIS PONDASI PERKERASAN JALAN LAMA DENGAN METODE CEMENT TREATED RECYCLED BASE (STUDI KASUS RING ROAD MUARA TEWEH)

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS PERBANDINGAN PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN KAKU DENGAN METODE BINA MARGA 2013 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS JALAN TOL SOLO NGAWI STA

Studi Pengaruh Pengurangan Tebal Perkerasan Kaku Terhadap Umur Rencana Menggunakan Metode AASHTO 1993

METODE PENELITIAN. Lampung yang telah sesuai dengan standarisasi American Society for Testing

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

Perencanaan Bandar Udara

LAPISAN STRUKTUR PERKERASAN JALAN

PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN KAKU PADA RUAS JALAN BANGKALAN-KETAPANG (Sta Sta ) DITINJAU DARI VARIASI STABILISASI TANAH TUGAS AKHIR

ANALISIS PENGARUH SUHU PERKERASAN TERHADAP UMUR PELAYANAN JALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALITIS (STUDI KASUS JALAN TOL SEMARANG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN. 1. Sampel tanah yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa tanah

TINJAUAN KUAT TEKAN BEBAS DAN PERMEABILITAS TANAH LEMPUNG TANON YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR DAN FLY ASH. Tugas Akhir

METODE DISAIN PERENCANAAN PERKERASAN JALAN. Copyright 2017 By. Ir. Arthur Daniel Limantara, MM, MT.

Bab V Analisa Data. Analisis Kumulatif ESAL

KORELASI CBR DENGAN INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I PENDAHULUAN. bangunan. Tanah yang terdiri dari campuran butiran-butiran mineral dengan atau

PEMANFAATAN KAPUR DAN FLY ASH UNTUK PENINGKATAN NILAI PARAMETER GESER TANAH LEMPUNG DENGAN VARIASAI LAMA PERAWATAN

UJI LENTUR STABILISASI TANAH COLLUVIUM DENGAN SEMEN SEBAGAI MATERIAL LAPIS PONDASI BAWAH PADA DESAIN PERKERASAN JALAN MENGGUNAKAN METODE AUSTROADS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut :

BAB V RESUME HASIL PENELITIAN

PENINGKATAN DAYA DUKUNG TANAH GEDE BAGE BANDUNG DENGAN ENZIM DARI MOLASE TERFERMENTASI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI

Kajian Peningkatan Daya Dukung Sub Base Menggunakan Pasir Sumpur Kudus

PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR. Cut Nuri Badariah, Nasrul, Yudha Hanova

BAB 1. PENDAHULUAN. Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara

BINA MARGA PT T B

ANALISIS TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN BARU MENGGUNAKAN MANUAL DESAIN PERKERASAN JALAN (MDP) 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan jumlah penduduk dan kemajuan teknologi pada zaman sekarang,

MODULUS RESILIENT TANAH DASAR DALAM DESAIN STRUKTUR PERKERASAN LENTUR SECARA ANALITIS

KATA PENGANTAR. Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Pengujian Sifat-Sifat Fisis dan Indeks Tanah Colluvium Pengujian sifat-sifat fisis dan indeks tanah dilakukan untuk mengetahui jenis atau klasifikasi dari tanah colluvium. Pengujian sifat-sifat fisis dan indeks tanah yang dilakukan meliputi uji berat jenis, uji batas cair, uji batas plastis, uji distribusi ukuran butir tanah, dan uji pemadatan proctor standar. Adapun hasil pengujian sifat-sifat fisis dan indeks tanah colluvium disajikan dalam Tabel 4.1. Tabel 4.1 Sifat-sifat fisis dan indeks tanah colluvium Parameter Hasil Berat jenis, G s 2,65 Batas-batas atteberg: Batas cair, LL 68,8 % Batas plastis, PL 33,79 % Indeks plastisitas, PI 35,26 % Pemadatan proctor standard : Tanah asli : Berat volume kering maksimum, MDD 13,43 kn/m 3 Kadar air optimum, OMC 25 % Tanah + 5% semen : Berat volume kering maksimum, MDD 13,08 kn/m 3 Kadar air optimum, OMC 26,5 % Klasifikasi USCS CH Pada grafik distribusi ukuran butir tanah (lihat Gambar 4.1) menunjukkan bahwa tanah mengandung fraksi tanah bebutir kasar sebanyak 9,08% dan fraksi tanah berbutir halus 90,92%. Karena persentase fraksi tanah berbutir halus lebih dari 50%, maka dapat dikategorikan sebagai tanah berbutir halus. Dari hasil pengujian batas cair dan batas plastis (lihat Tabel 4.1), menurut sistem klasifikasi tanah Unified Soil Classification System (USCS), tanah tersebut diklasifikasikan sebagai tanah lempung plastisitas tinggi dengan simbol CH. 25

Indeks Plastisitas, PI (%) Jumlah Persen Lolos Saringan 26 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 10 1 0.1 0.01 0.001 Ukuran Saringan ( mm ) Gambar 4.1 Distribusi ukuran butir tanah colluvium 60 50 CH/OH 40 30 20 CL/OL MH/OH 10 0 CL/M L ML/OL 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Batas Cair,LL (%) Gambar 4.2 Hubungan indeks plastisitas dan batas cair untuk klasifikasi tanah menurut USCS

Beban (kn) Beban (kn) Beban (kn) 27 2. Pengujian Lentur Balok (Flexural Beam Test) Pada penelitian ini, total terdapat 12 sampel tanah semen yang diuji. Hasil pengujian lentur balok berupa kurva hubungan beban dan defleksi diberikan pada Gambar 4.3. Pada sampel berumur 3 hari tidak tercatat hasilnya dikarenakan sampel sudah mengalami keruntuhan ketika pengujian baru berjalan ±2 detik. Untuk sampel berumur 7 hari, beban maksimum yang dapat diterima oleh sampel sebesar 0,089 kn, 0,052 kn, 0,057 kn dengan defleksi maksimum sebesar 0,23 mm, 0,21 mm, 0,21 mm, sedangkan pada sampel berumur 14 hari, beban maksimum yang dapat diterima oleh sampel sebesar 0,108 kn, 0,065 kn, 0,103 kn dengan defleksi maksimum sebesar 0,25 mm, 0,21 mm, 0,24 mm, dan untuk sampel berumur 21 hari, beban maksimum yang dapat diterima oleh sampel sebesar 0,121 kn, 0,112 kn, 0,133 kn dengan defleksi maksimum sebesar 0,24 mm, 0,25 mm, 0,27 mm. 0.1 0.09 0.08 0.07 0.06 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 (a) 0 0.1 0.2 0.3 Defleksi (mm) 7C 7B 7A 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 (b) 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 (c) 0.02 0.02 0 0 0.1 0.2 0.3 Defleksi (mm) 14C 14B 14A 0 0 0.1 0.2 0.3 Defleksi (mm) 21C 21B 21A Gambar 4.3 Hubungan beban dan defleksi untuk sampel (a) umur 7 hari (b) 14 hari (c) umur 21 hari

28 Tabel 4.2 Nilai kuat lentur (F cf ) dan modulus lentur (E) material stabilisasi tanah colluvium dengan semen Benda Uji Umur F cf (MPa) E (MPa) 3A - - 3B 3 - - 3C - - 7A 0.188 393.476 7B 7 0.094 244.954 7C 0.114 265.444 14A 0.212 431.532 14B 14 0.117 304.473 14C 0.205 412.421 21A 0,233 482,210 21B 21 0,215 436,215 21 C 0,255 479,634 F cf regresi (MPa) E regresi (MPa) - - 0,127 295,899 0,190 397,417 0,227 456,802 3. Tebal Perkerasan Jalan Hasil perhitungan tebal perkerasan jalan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.5. Struktur lapis perkerasan jalan tersusun atas material beton aspal 2000 MPa (asphalt concrete) sebagai lapis permukaan (wearing course) dengan ketebalan 100 mm, dibawah lapis permukaan dipilih material granuler 500 MPa sebagai lapis pondasi atas (base course) dengan ketebalan 175 mm, dan pada lapis pondasi bawah (subbase course) adalah material tanah colluvium yang distabilisasi menggunakan semen dengan ketebalan 250 mm. Gambar 4.4 Desain tebal lapis perkerasan jalan

Kuat Lentur (MPa) 29 B. Pembahasan 1. Pengaruh Umur terhadap Parameter Kuat Lentur dan Modulus Lentur Dari hasil pengujian lentur balok didapatkan nilai kuat lentur dan modulus lentur untuk masing-masing sampel, yang selanjutnya diplotkan pada grafik hubungan kuat lentur dengan umur dan modulus lentur dengan umur menggunakan analisis regresi seperti yang disajikan pada Gambar 4.6 dan Gambar 4.7. Adapun nilai kuat lentur dan modulus lentur dari hasil analisis regresi dapat dilihat Tabel 4.2. Berdasarkan Gambar 4.6 dan Tabel 4.2, nilai kuat lentur terendah diperoleh pada sampel berumur 3 hari dengan nilai yang tidak terbaca dikarenakan patah lebih dini (sebelum waktu pembacaan) pada saat pengujian. Pada sampel berumur 7 hari didapatkan nilai kuat lentur 0,127 MPa, meningkat 49,61% pada umur 14 hari dengan nilai kuat lentur sebesar 0,190 MPa, kemudian pada sampel berumur 21 hari didapatkan nilai kuat lentur sebesar 0,227 MPa, meningkat 19,89 % dari sampel berumur 14 hari. Berdasarkan Gambar 4.7 dan Tabel 4.2, nilai modulus lentur untuk sampel berumur 7 hari didapatkan sebesar 295,899 MPa, meningkat 34,31 % pada umur 14 hari dengan nilai modulus lentur sebesar 397,417 MPa, kemudian pada sampel berumur 21 hari didapat nilai modulus lentur rata-rata sebesar 456,802 MPa, meningkat 14,94 % dari sampel berumur 14 hari. 0.300 0.250 y = 0.0903ln(x) - 0.048 R² = 0.5581 0.200 0.150 0.100 0.050 0.000 0 7 14 21 28 Umur (Hari) Gambar 4.5 Hubungan antara kuat lentur (flexural strength) dengan umur sampel

Modulus Lentur (MPa) 30 600 500 400 300 200 100 0 y = 146.46ln(x) + 10.901 R² = 0.617 0 7 14 21 28 Umur (Hari) Gambar 4.6 Hubungan antara modulus lentur (flexural modulus) dengan umur sampel Hubungan antara kuat lentur dan modulus lentur dengan umur sampel memiliki persamaan yaitu semakin bertambahnya umur maka semakin meningkat pula kuat lentur dan modulus lentur dari sampel stabilisasi tanah colluvium dengan semen. Gambar 4.6 dan Gambar 4.7 memberikan gambaran bahwa nilai kuat lentur maupun modulus lentur meningkat secara tajam dari umur 1 hari ke umur 14 hari, kemudian terjadi peningkatan kuat lentur dan modulus lentur yang relatif kecil setelah umur 14 hari. Hal ini terjadi karena terdapat reaksi hidrasi semen dalam campuran tanah colluvium, semen, dan air. Menurut Muntohar (2014), Reaksi hidrasi semen menghasilkan formasi Calcium-Silicate-Hydrate (C-S-H) dan Calcium-Alumina-Hydrate (C-A-H) yang memiliki peran sebagai perekat yang memperbaiki struktur dan memberikan kekuatan pada tanah. Peningkatan kekuatan paling cepat terjadi dalam kurun waktu antara satu hari hingga satu bulan. Selanjutnya peningkatan kekuatan relatif kecil selama proses hidrasi dan membentuk bahan semen yang berlangsung hingga beberapa tahun.

31 2. Perhitungan Desain Perkerasan Jalan Pada penelitian ini, material stabilisasi tanah colluvium dengan semen diaplikasikan pada ruas jalan Siluk-Kretek, Bantul sebagai lapis pondasi bawah (subbase course) dari struktur perkerasan jalan seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.2. Adapun data perencanaan jalan yang meliputi data geometrik, data lingkungan, dan data lalu lintas dari ruas jalan Siluk-Kretek, Bantul yang digunakan dalam perhitungan desain perkerasan jalan adalah sebagai berikut : Tabel 4.3 Data geometrik jalan Ruas Jalan Siluk-Kretek, Bantul, D.I. Nama Jalan Yogyakarta Status Jalan Jalan Provinsi Fungsi Jalan Kolektor Kelas Jalan II Tipe Jalan 2 Lajur 2 Arah (Sumber : Muyasyaroh, 2017, Tabel 5.1) Tabel 4.4 Data perancangan tebal perkerasan jalan CBR Tanah Dasar 5,23% Umur Rencana, P 10 Tahun Pertumbuhan Lalu Lintas, R 3,5% per Tahun Distribusi Arah, DF 50% Reliability 90% (Sumber : Muyasyaroh, 2017, Tabel 5.2) Tabel 4.5 Data lalu lintas Jenis Kendaraan LHR Mobil Penumpang 2809 Bus Kecil 105 Bus Besar 20 Truk Sedang 2 As 89 Truk Besar 2 As 116 Total 3139 (Sumber : Muyasyaroh, 2017, Tabel 5.3)

32 a. Perhitungan Lalu Lintas Desain 1) Menghitung faktor pertumbuhan kumulatif, CGF Faktor pertumbuhan kumulatif dihitung berdasarkan angka pertumbuhan lalu lintas (R) yaitu sebesar 3,5% dan umur rencana (P) 10 tahun, dengan menggunakan persamaan 2. 3. Karena nilai R = 3,5%, maka nilai CGF = (1+0,01 3,5)P 1 0,01 3,5 2) Menghitung persentase kendaraan berat, %HV = 11,73 Berdasakan Tabel 2. 1, yang dikategorikan sebagai kendaraan berat ialah kendaraan kelas 3 hingga kelas 12. Sehingga dalam menghitung persentase kendaraan berat dibutuhkan jumlah total kendaraan (AADT) dan jumlah kendaraan berat (HV) yang terdapat pada data lalu lintas (lihat tabel 4.4). HV %HV = 100% AADT %HV = 330 100% = 10,51% 3139 3) Menentukan angka kelompok gandar per kendaraan berat, N HVAG Penentuan angka kelompok gandar per kendaraan berat didasarkan pada jenis jalan (urban roads atau rural roads) dengan cara asumsi sesuai Tabel 2. 3. Karena ruas jalan Siluk-Kretek termasuk rural roads, maka nilai N HVAG = 2,8. 4) Menentukan faktor distribusi arah, LDF Faktor distribusi arah ditentukan dengan cara asumsi sesuai Tabel 2. 2. berdasarkan jumlah lajur yang terdapat pada ruas jalan Siluk-Kretek yaitu 2 lajur. Sehingga didapatkan nilai LDF = 1,00. 5) Menghitung kelompok gandar kendaraan berat kumulatif, N DT % HV N DT = 365 ( AADT DF) LDF CGF 100 10,51 = 365 (3139 0,5) 111,73 2, 8 100 = 1.978.265 HVAG = 1,978 10 6 HVAG NHVAG

33 6) Menentukan ESA/HVAG dan SAR/ESA Nilai ESA/HVAG dibutuhkan untuk menentukan angka desain ekivalen beban gandar standar (DESA). Sedangkan nilai SAR/ESA dibutuhkan untuk menentukan angka desain beban repetisi gandar standar (DSAR) untuk masing-masing jenis kerusakan (distress mode). Nilai ESA/HVAG dan SAR/ESA didapatkan berdasarkan asumsi sesuai pada Tabel 2. 4. Karena ruas jalan Siluk-Kretek, Bantul termasuk jalan rural, maka nilai ESA/HVAG dan SAR/ESA untuk setiap jenis kerusakan adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Karakteristik TLD untuk jalan rural Indeks Nilai Rural Tipe Perkerasan Tipe Kerusakan Kerusakan TLD Perkerasan granuler dengan lapis permukaan aspal tipis Perkerasan dengan satu atau lebih lapisan terikat Semua jenis kerusakan Kelelahan material aspal Rutting and Shape Loss Kelelahan material bersemen ESA/HVAG 0,9 ESA/HV 2,5 SARa/ESA 1,1 SARs/ESA 1,6 SARc/ESA 12 7) Menghitung angka desain ekivalen beban gandar standar, DESA DESA = ESA/HVAG N DT = 0,9 1,978 10 6 ESA = 1,78 10 6 ESA 8) Menghitung desain repetisi sumbu standar, DSAR DSARasc = SARasc/ESA DESA a) Kelelahan Aspal DSARa = 1,1 1,78 10 6 = 1,958 10 6 SAR b) Rutting dan Shape Loss

34 DSARs = 1,6 1,78 10 6 = 2,848 10 6 SAR c) Kelelahan Material Bersemen DSARc = 12 1,78 10 6 = 2,136 10 7 SAR b. Perhitungan Tebal Perkerasan 1) Asumsi komposisi perkerasan Material asphalt concreate dipilih sebagai lapis permukaan (surface course) dan material granular high standard dipilih sebagai lapis pondasi atas (base course), dengan asumsi nilai modulus elastisitas material tersebut berdasarkan Austroads, 2004. Khusus untuk material granular, karakteristik material dapat dilihat pada Tabel 2.6. Sedangkan untuk material stabilisasi tanah colluvium dengan semen (soil cement) dijadikan sebagai lapis pondasi bawah (subbase course) karena nilai modulus lentur hasil dari pengujian yang relatif kecil. Adapun asumsi komposisi material perkerasan dapat dilihat pada Tabel 4.7. Tabel 4.7 Asumsi material yang digunakan dalam desain perkerasan jalan Tipe Material E Ketebalan Asphalt Concreate 2000 MPa 100 2) Granular Material 500 MPa 175 Soil Cement 457 MPa 250 Subgrade, CBR = 6,34% 63,4 MPa 2) Parameter Elastis Material a) Tanah Dasar (Subgrade) CBR = 6,34% Modulus vertikal (E V ) = 10 CBR = 10 6,34 = 63,4 MPa Modulus horizontal (E H ) = 0,5 E V = 0,5 63,4 = 31,52 MPa

35 Angka poisson (V V =V H ) = 0,45 Modulus geser (f) = EV 1V V 63,4 = 1 0,45 = 43,72 MPa b) Soil Cement Modulus lentur (E) = 457 MPa Angka poisson (V V) = 0,2 c) Material Berbutir (Granular Material) Modulus vertikal (E V ) Modulus horizontal (E H ) = 500 MPa = 0,5 E V = 0,5 500 = 250 MPa Angka poisson (V V =V H ) = 0,35 Modulus geser (f) = EV 1V V 500 = 1 0,35 = 370,37 MPa d) Beton Aspal (Asphalt Concrete) Modulus vertikal (E V ) = 2000 MPa Angka poisson (V V) = 0,4 3) Menentukan Regangan Vertikal (Vertical Strain) Parameter-parameter yang sebelumnya telah dihitung dan diasumsikan, dimasukkan ke dalam program CIRCLY untuk mendapatkan regangan kritis pada area dasar lapis aspal, dasar lapis material bersemen, dan diatas tanah dasar,. Program CIRCLY yang digunakan pada analisis ini adalah versi 6.0 trial. Regangan kritis dari hasil running program CIRCLY dapat dilihat pada Gambar 4.8.

36 Gambar 4.7 Output program CIRCLY 4) Menghitung repetisi beban yang diizinkan (Allowable Loading) Nilai repetisi beban yang diizinkan dihitung untuk masing-masing tipe kerusakan. a) Deformasi permanen tanah dasar yang diizinkan 9300 N S = 9300 = 305 = 2,45 10 10 SAR 7 7 b) Kelelahan material bersemen yang diizinkan 113000 191 0,804 N C = E RF 12

37 = 113000 191 0,804 457 2 154 = 1,30 10 10 SAR c) Kelelahan aspal yang diizinkan 6918 0,856 VB 1.08 N A = RF 0,36 SMIX 12 5 5 6918 0,856 14,08 1.08 = 1,5 0,36 2000 216 = 2,26 10 7 SAR Tabel 4.8 Hasil analisis repetisi beban izin dan repetisi beban rencana lalu lintas Tipe Kerusakan (Distress Mode) Deformasi Permanen Tanah Dasar (Permanent Deformation of Subgrade) Kelelahan Material Bersemen (Cemented Material Fatigue) Kelelahan Aspal (Asphalt Fatigue) Beban yang diizinkan (SAR) Lalu Lintas Desain/Rencana (SAR) 2,45 10 10 2,848 10 6 1,30 10 10 2,136 10 7 2,26 10 7 1,958 10 6 Dari hasil analisis repetisi beban lalu lintas rencana dan repetisi beban yang diizinkan untuk masing-masing jenis kerusakan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.8, diperoleh nilai repetisi beban yang dizinkan lebih besar daripada nilai beban lalu lintas rencana (N>DSAR). Sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi komposisi atau susunan lapis perkerasan dapat diterima.