22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi perairan Teluk Jakarta Teluk Jakarta, terletak di sebelah utara kota Jakarta, dengan luas teluk 285 km 2, dengan garis pantai sepanjang 33 km, dan rata-rata kedalaman 15 meter. Di Jakarta terdapat 13 sungai dengan total debit air rata-rata 112.7 m 3 /detik yang mengalir ke Teluk Jakarta (Nur 1999). Teluk Jakarta adalah perairan yang sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Perairan ini secara ekologis menjadi penting karena menopang kehidupan biota di Laut Jawa serta mendapat ancaman serius pencemaran melalui buangan limbah hasil kegiatan manusia di Kota Jakarta dan sekitarnya melalui 13 sungai yang masuk ke dalamnya. Menurut Anna (1999) in www.antara.co.id (2007) beban pencemaran dan konsentrasi senyawa nitrat, ammonia, dan fosfat diperairan Teluk Jakarta pada tahun 1984-1997 menunjukkan kecenderungan meningkat diikuti dengan menigkatnya pencemaran minyak di Kepulauan Seribu. Adanya data FAO (1998) in www.antara.co.id (2007) yang menunjukan bahwa konsentrasi rata-rata logam berat berupa merkuri (Hg) dalam sedimen di Teluk Jakarta, adalah 0.6 mg/kg sedangkan konsentrasi alami dan baku mutu maksimalnya adalah 0.5 mg/kg. Menurut hasil penelitian Apriadi (2005) pada titik contoh sejauh 3000 meter dari muara sungai, kandungan logam berat di Teluk Jakarta diantaranya timbal (Pb) berkisar antara 0.0040-0.0560 mg/l, sedangkan kandungan krom (Cr) berkisar antara 0.011-0.032 mg/l. Nilai tersebut telah melebihi nilai baku mutu yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 untuk Biota Laut, yaitu masing-masing sebesar 0.008mg/L dan 0.005 mg/l. Secara ekonomis, perairan ini merupakan tempat kehidupan ribuan manusia, mulai dari nelayan, pelaku bisnis, hingga masyarakat umum lainnya. Di teluk ini pula terdapat sebuah pelabuhan internasional yang memiliki frekuensi persinggahan kapal yang tinggi. Belum lagi kegiatan pariwisata bahari di pantai Teluk Jakarta dan di gugusan Kepulauan Seribu, sehingga dapat dikatakan Teluk Jakarta adalah sebuah ekosistem perairan yang mendapat tekanan ekologis dan ekonomis yang tinggi dari manusia.
23 4.1.2. Sebaran frekuensi panjang Jumlah ikan tembang yang diamati dari pengambilan contoh pendahuluan pada tanggal 27 Januari sampai dengan pengambilan contoh keenam pada tanggal 28 Maret 2010 mencapai 460 ekor. Panjang total contoh ikan yang tertangkap berkisar antara 150 mm sampai 238 mm. Jumlah ikan yang diamati setiap pengambilan contoh bervariasi tergantung hasil tangkapan nelayan (Tabel 2). Tabel 2. Sebaran frekuensi panjang ikan tembang (Sardinella maderensis) bulan Januari-Maret 2010 di Teluk Jakarta Selang Kelas Rabu Sabtu Selasa Jumat Senin Kamis Minggu 27 Januari 2010 6 Februari 2010 16 Februari 2010 26 Februari 2010 8 Maret 2010 18 Maret 2010 28 Maret 2010 150-159 11 9 7 3 3 2 1 160-169 16 12 12 6 6 7 2 170-179 12 11 23 10 14 22 4 180-189 8 9 21 9 19 26 25 190-199 1 6 4 6 8 17 22 200-209 6 6 3 6 3 5 1 210-219 10 7 5 5 1 2 1 220-229 3 3 3 4 1 5 0 230-239 1 1 1 1 1 1 0 Nelayan di Muara Angke yang menangkap ikan di perairan Teluk Jakarta menggunakan alat tangkap purse seine dengan ukuran mata jaring 1,75 inchi. Hasil ikan tembang yang tertangkap di Teluk Jakarta secara temporal cenderung fluktuatif, dengan tangkapan terendah pada tanggal 26 Februari 2010. Sebaran frekuensi panjang pada Tabel 2 di sajikan dalam bentuk histogram seperti pada Gambar 9. 4.1.3. Kelompok ukuran Analisis kelompok ukuran dilakukan untuk setiap pengambilan contoh. Hal ini dilakukan untuk melihat perubahan rata-rata panjang menurut waktu pengambilan contoh. Hasil analisis pemisahan kelompok umur ikan tembang dengan rata-rata dan indeks separasi masing-masing ukuran kelompok panjang disajikan dalam Lampiran 1. Hasil analisis sebaran kelompok ukuran ikan tembang setiap pengambilan contohnya disajikan pada Tabel 3.
24 27 Januari 2010 (n = 68) 6 Februari 2010 (n = 64) 16 Februari 2010 (n = 79) 26 Februari 2010 (n = 50) 8 Maret 2010 (n = 56) 18 Maret 2010 (n = 87) 28 Maret 2010 (n = 56) Gambar 9. Sebaran frekuensi panjang ikan tembang (Sardinella maderensis) di Teluk Jakarta
25 Tabel 3. Sebaran kelompok ukuran ikan tembang (Sardinella maderensis) setiap pengambilan contohnya di Teluk Jakarta Pengambilan contoh Waktu n Nilai tengah panjang total (mm) Kelompok ukuran 1 kelompok ukuran 2 Indeks Separasi Pendahuluan 27 Januari 2010 68 165.16 ± 12.29 212.54 ± 7.60 4.76 1 6 Februari 2010 64 170.70 ± 22.10 215.17 ± 8.13 2.96 2 16 Februari 2010 79 178.27 ± 11.61 217.05 ± 7.17 4.13 3 26 Februari 2010 50 178.79 ± 12.74 218.88 ± 9.17 3.36 4 8 Maret 2010 56 183.11 ± 9.24 223.52 ± 5.48 5.59 5 18 Maret 2010 87 183.32 ± 13.00 225.88 ± 5.40 4.63 6 28 Maret 2010 56 188.85 ± 7.14 4.1.4. Parameter pertumbuhan Hasil analisis parameter pertumbuhan panjang ikan tembang (K dan L ) dengan Metode ELEFAN 1 menunjukkan bahwa ikan tembang di Teluk Jakarta memiliki nilai K sebesar 0.92/tahun dan nilai L sebasar 247.28 mm. Nilai t 0 di dapatkan secara empiris bernilai -0.4966 tahun (Lampiran 2). Sehingga diperoleh persamaan pertumbuhan panjang ikan tembang di Teluk Jakarta adalah fungsi Von Bertalanffy L t = 247.28 (1-e -0.92(t+0.4966) ) 4.1.5. Hubungan panjang dan bobot Hubungan panjang dan bobot ikan tembang di Teluk Jakarta pada setiap pengambilan contoh disajikan dalam Tabel 4. yang menunjukkan tipe pertumbuhan yang tidak jauh berbeda. Pengambilan contoh pendahuluan sampai dengan kelima menunjukkan tipe pertumbuhan yang sama yaitu allometrik positif atau laju pertumbuhan bobot lebih besar dari pada laju pertumbuhan panjangnya, sedangkan pada pengambilan contoh keenam menunjukkan tipe pertumbuhan isometrik, yaitu laju pertumbuhan bobot sebanding dengan laju pertumbuhan panjangnya. Hal ini didukung setelah dilakukan uji t pada selang kepercayaan 95% terhadap nilai b (Lampiran 3 sampai dengan Lampiran 9).
26 Tabel 4. Hubungan panjang bobot ikan tembang (Sardinella maderensis) setiap pengambilan contohnya di Teluk Jakarta Pengambilan Contoh Waktu n a B R 2 Keterangan Pendahuluan 27 Januari 2010 68 0.000003 3.2780 0.9640 allometrik positif 1 6 Februari 2010 64 0.000001 3.4650 0.9750 allometrik positif 2 16 Februari 2010 79 0.000001 3.4030 0.9460 allometrik positif 3 26 Februari 2010 50 0.000002 3.3870 0.9660 allometrik positif 4 8 Maret 2010 56 0.000003 3.2520 0.9520 allometrik positif 5 18 Maret 2010 87 0.000005 3.1740 0.9640 allometrik positif 6 28 Maret 2010 56 0.000008 3.0630 0.8520 isometrik 4.1.6. Faktor kondisi Selama waktu pengamatan, nilai faktor kondisi ikan tembang (Sardinella maderensis) di Teluk Jakarta berkisar antara 0.7264 1.5572 (Lampiran 10 sampai dengan Lampiran 16). Kisaran nilai faktor kondisi ikan tembang di Teluk Jakarta disajikan pada Tabel 5. Fluktuasi nilai faktor kondisi selama penangkapan dapat dilihat pada Gambar 10. Tabel 5. Kisaran nilai faktor kondisi ikan tembang (Sardinella maderensis) setiap pengambilan contohnya di Teluk Jakarta Pengambilan Contoh Waktu N Faktor Kondisi Pendahuluan 27 Januari 2010 68 0.7552-1.1099 1 6 Februari 2010 64 0.9437-1.3260 2 16 Februari 2010 79 1.1939-1.7125 3 26 Februari 2010 50 0.7069-0.9949 4 8 Maret 2010 56 0.8964-1.2067 5 18 Maret 2010 87 0.8204-1.0966 6 28 Maret 2010 56 1.0368-1.3625 4.1.7. Mortalitas dan laju eksploitasi Pada suatu stok yang telah dieksploitasi perlu membedakan mortalitas akibat penangkapan dan mortalitas alami. Menurut King (1995) laju mortalitas (Z) adalah penjumlahan laju mortalitas penangkapan (F) dan laju mortalitas alami (M) sehingga ketiga jenis mortalitas tersebut perlu dianalisis. Pendugaan konstanta laju mortalitas total (Z) dilakukan melalui kurva hasil tangkapan yang dilinierkan berbasis data panjang yang digunakan (Gambar 11).
27 FK rata rata 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 1.80 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 154.5 164.5 174.5 184.5 194.5 204.5 214.5 Nilai Tengah 27 Januari 2010 (n = 68) 6 Februari 2010 (n = 64) 16 Februari 2010 (n = 79) 26 Februari 2010 (n = 50) 8 Maret 2010 (n = 56) 18 Maret 2010 (n = 87) 28 Maret 2010 (n = 56) Gambar 10. Faktor kondisi ikan tembang (Sardinella maderensis) di Teluk Jakarta
28 ln[c(l1,l2)/ t] 7.00 6.50 6.00 5.50 5.00 4.50 4.00 3.50 3.00 0.40 0.80 1.20 1.60 2.00 t(l1/l2)/2 Gambar 11. Kurva hasil tangkapan yang dilinierkan berbasis data panjang ( : titik yang digunakan dalam analisis regresi untuk menduga Z) Untuk pendugaan laju mortalitas alami ikan tembang digunakan rumus empiris Pauly (Spare & Venema 1999) dengan suhu rata-rata permukaan perairan Teluk Jakarta 28.95 C (Praseno & Kastoro 1980) (Lampiran 17). Hasil analisa dugaan laju mortalitas dan laju eksploitasi ikan tembang disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Laju mortalitas dan laju eksploitasi ikan tembang (Sardinella maderensis) di Teluk Jakarta Laju Nilai (per tahun) Mortalitas Total (Z) 2.9896 Mortalitas alami (M) 0.0376 Mortalitas Penangkapan (F) 2.9519 Eksploitasi (E) 0.9874 4.2. Pembahasan 4.2.1. Sebaran frekuensi panjang Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran baik bentuk, volume, maupun ukuran selama periode waktu tertentu. Perubahan frekuensi panjang juga menjadi salah satu parameter dalam menentukan ada tidaknya pertumbuhan. Berdasarkan tabel sebaran panjang ikan (Tabel 2), ikan-ikan yang banyak tertangkap pada bulan Januari sampai Maret berada pada kelompok panjang 170-179 mm dan 180-189 mm. Selang yang memiliki frekuensi tertinggi terdapat pada selang 180 189 mm
29 dengan frekuensi sebesar 117 ekor dan selang yang memiliki frekuensi terkecil yaitu pada selang 230-239 mm dengan frekuensi sebesar 6 ekor. Analisis frekuensi panjang digunakan dalam menentukan parameter pertumbuhan yaitu dengan mengelompokkan ikan dalam kelas-kelas panjang dan menggunakan modus panjang kelas tersebut agar kelompok umur ikan dapat diketahui. Fluktuasi yang terjadi menggambarkan adanya pengelompokan modus. Pengelompokan ini akan dijelaskan pada subbab selanjutnya. 4.2.2. Kelompok umur Umur ikan bisa diduga melalui distribusi frekuensi panjang dalam analisis kelompok umur karena panjang ikan dari umur yang sama cenderung membentuk suatu distribusi normal. Berdasarkan metode Bhattacarya dengan menggunakan program NORMSEP (Normal Separation) yang dikemas dalam paket program FiSAT II (FAO-ICLARM Stok Assesment Tool), menggambarkan jumlah kohort dari sebaran frekuensi panjang yang ada (Gambar 12). Terdapat dua modus sebaran frekuensi panjang pada pengambilan contoh pendahuluan sampai dengan pengambilan contoh kelima, namun pada pengambilan contoh keenam hanya ditemukan satu modus saja. Pada modus pertama, pergeseran pertama dimulai dari sebaran panjang pada tanggal 27 Januari dan 6 Februari sebesar 5.54 mm. Laju pertumbuhan terbesar terjadi pada 6 Februari 2010 dan 16 Februri 2010 dimana terjadi pertumbuhan sebesar 7.57 mm selama 10 harinya, sedangkan laju pertumbuhan terkecil terjadi pada 16 Februari 2010 sampai 26 Februari 2010 sebesar 0.52 mm per sepuluh hari. Pada modus kedua laju pertumbuhan terbesar terjadi pada 26 Februari 2010 dan 8 Maret 2010 dimana terjadi pertumbuhan panjang yang terjadi sebesar 4.64 mm selama 10 harinya, sedangkan laju pertumbuhan terkecil terjadi pada 16 Februari 2010 sampai 26 Februari 2010 sebesar 1.83 mm per sepuluh hari. Pergeseran modus kelas panjang setiap pengambilan contohnya kearah kanan menunjukkan adanya pertumbuhan ikan tembang di Teluk Jakarta. Dalam memisahkan kelompok ukuran ikan dengan menggunakan metode Bhattacharya sangat penting untuk memperhatikan nilai indeks separasi yang diperoleh (Tabel 3).
30 27 Januari 2010 (n = 68) 6 Februari 2010 (n = 64) 16 Februari 2010 (n = 79) 26 Februari 2010 (n = 50) 8 Maret 2010 (n = 56) 18 Maret 2010 (n = 87) 28 Maret 2010 (n = 56) Gambar 12. Pergeseran modus frekuensi panjang ikan tembang Berdasarkan Tabel 3 di atas, nilai indeks separasi dari hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan tembang berkisar antara 2.96 sampai 5.59. Hal
31 ini menunjukkan bahwa hasil pemisahan kelompok ukuran ikan tembang dapat di terima dan digunakan untuk analisis selanjutnya. Menurut Hasselblad (1966), McNew & Summerfelt (1987) serta Clark (1981) in Sparre & Venema (1999) indeks separasi merupakan kualitas yang relevan terhadap studi bila dilakukan kemungkinan bagi suatu pemisahan yang berhasil dari dua komponen yang berdekatan, bila indeks separasi kurang dari dua (I<2) maka tidak mungkin dilakukan pemisahaan diantara dua kelompok ukuran, karena terjadi tumpang tindih yang besar antar dua kelompok ukuran tersebut. 4.2.3. Parameter pertumbuhan Panjang total maksimum ikan tembang yang tertangkap di perairan Teluk Jakarta dan di daratkan di TPI Muara Angke adalah 238 mm. Panjang ini lebih kecil dari panjang asimtotik (infinitif) ikan tembang. Analisis mengenai parameter pertumbuhan ikan tembang (Sardinella maderensis, Sardinella fimbriata, Sardinella gibbosa) dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Perbandingan nilai parameter pertumbuhan ikan tembang Spesies Daerah Penangkapan K (per tahun) L (mm) Sardinella maderensis Teluk Jakarta (Chaira 2010) 0.92 247.28 Sardinella fimbriata Teluk Palabuhanratu (Syakila 2009) 1.48 170.23 Sardinella gibbosa Teluk Palabuhanratu (Hari 2010) 1.10 203.18 Dari penelitain yang pernah dilakukan pada S. fimbriata dan S. gibbosa di Teluk Palabuhanratu, diperoleh nilai L yang lebih besar pada S. gibbosa. Perbedaan nilai yang diperoleh disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat berpengaruh adalah keturunan (faktor genetik), parasit dan penyakit sedangkan faktor eksternal dapat berpengaruh adalah suhu dan ketersediaan makanan (Effendi 2002). Nilai K yang berbeda mengindikasikan perbedaan kondisi lingkungan, semakin besar nilai K menunjukkan tekanan penangkapan yang lebih kecil (Amir 2006). Oleh karena itu, perbedaan nilai K dan L ikan tembang (S. maderensis, S. fimbriata dan S. gibbosa) diduga disebabkan oleh faktor genetik dan kondisi lingkungan yang berbeda.
32 Panjang maksimum ikan tembang yang tertangkap yaitu 238 mm. Kurva pertumbuhan ikan tembang diperairan Teluk Jakarta (Gambar 13) menunjukkan bahwa ikan yang berumur muda memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat daripada ikan dewasa. Panjang observasi maksimum ikan tembang mencapai 238 mm yaitu pada usia 18 bulan. Pertambahan laju pertumbuhan ikan tembang mulai berhenti pada saat iklan tembang berumur 36 bulan. Umumnya ikan tembang memiliki dua kelompok umur, dimana panjang ikan dari umur yang sama cenderung membentuk suatu distribusi normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa umur ikan tembang yang tertangkap di perairan Teluk Jakarta tidak melebihi dua tahun. L 247.28 250 Panjang (mm) 200 150 100 50 L t = 247.28 (1-e -0.92(t+0.4966) ) 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Umur (bulan) Gambar 13. Kurva pertumbuhan ikan tembang Parameter pertumbuhan ini memegang peran penting dalam pengkajian stok. Salah satu aplikasi yang paling sederhana adalah mengetahui panjang ikan dengan menggunakan inverse persamaan pertumbuhan von Bertalanffy dapat diketahui umur ikan tertentu. Dengan demikian penyusunan rencana perikanan lebih mudah dilakukan 4.2.4. Hubungan panjang dan bobot Hubungan panjang dan bobot ikan adalah parameter yang dapat digunakan untuk menganalisis pola pertumbuhan ikan, dengan kata lain hubungan panjangbobot digunakan untuk menduga bobot melalui panjang dan sebaliknya. Analisis
33 hubungan panjang dan bobot menggunakan data panjang total dan bobot basah ikan contoh untuk melihat pola pertumbuhan individu ikan tembang di perairan Teluk Jakarta. Hubungan panjang bobot ikan tembang disajikan pada Gambar 14. Log W 2.5 2 1.5 1 0.5 Log W = -5.71 + 3.3470Log L R² = 0.952 0 2.1 2.2 2.3 2.4 Log L Bobot (gram) 200 150 100 50 0 W = 0.000002L 3.3470 R² = 0.952 0 100 200 300 Panjang (mm) (a) Gambar 14. Hubungan panjang-bobot ikan tembang (Sardinella maderensis) di Teluk Jakarta (b) Dari hasil analisis regresi hubungan panjang bobot dalam bentuk logaritma, diperoleh persamaan hubungan panjang bobot ikan tembang adalah Log W = -5.7070 + 3.3470 Log L dengan kisaran nilai b sebesar 3.3120-3.3821 (allometrik positif). Dari persamaan tersebut dapat diketahui setiap penambahan satu satuan panjang akan menurunkan bobot ikan sebesar 5.7070 gram. Perbandingan pola pertumbuhan ikan tembang dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Perbandingan pola pertumbuhan ikan tembang (genus: Sardinella) Sardinella maderensis Spesies Sardinella fimbriata Sardinella gibbosa Daerah Penangkapan Teluk Jakarta (Chaira 2010) Teluk Palabuhanratu (Syakila 2009) Labuan (Hari 2010) Teluk Palabuhanratu (Hari 2010) Blanakan (Hari 2010) Periode Pengambilan Contoh Januari - Maret Desember - Maret Mei - Juli Mei - Juli Mei - Juli Pola Pertumbuhan Allometrik Positif Isometrik Isometrik Isometrik Isometrik
34 Hubungan panjang bobot ikan tembang Sardinella fimbriata di Teluk Palabuhanratu (Syakila 2009) menunjukkan pola pertumbuhan isometik. Pola pertumbuhan isometrik juga terjadi pada Sardinella gibbosa di Labuan, Teluk Palabuhanratu, dan Blanakan (Hari 2010), sedangkan dari nilai b yang diperoleh dan setelah dilakukan uji t (α=0.05) ikan tembang (Sardinella maderensis) yang tertangkap di Teluk Jakarta menunjukkan tipe pertumbuhan allometrik positif, artinya laju pertumbuhan bobot lebih cepat dari pada laju pertumbuhan panjangnya (Effendie 2002). Nilai b yang berbeda pada suatu spesies dipengaruhi oleh tingkat perkembangan ontogenik seperti perbedaan spesies, umur, tingkat kematangan gonad, dan jenis kelamin, serta dipengaruhi juga oleh letak geografis, kondisi lingkungan seperti musim dan tingkat kepenuhan lambung. 4.2.5. Faktor kondisi Kisaran faktor kondisi ikan tembang selama pengambilan contoh di Teluk Jakarta tidak terlalu besar (Tabel 5), namun faktor kondisi yang tejadi cukup fluktuatif. Nilai faktor kondisi tertinggi diperoleh pada pertengahan bulan Februari. Fluktuasi kondisi ikan tembang diduga lebih dipengaruhi oleh aktivitas pemijahan karena sebagian besar ikan yang tetangkap telah matang gonad. Saat ikan memiliki nilai faktor kondisi maksimal diduga sebagai periode pemijahan ikan tersebut (Hari 2010). Fluktuasi yang terjadi juga disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya Effendie (1979) menyatakan faktor yang mempengaruhi fluktuasi adalah perbedaan umur, TKG, kondisi lingkungan,dan ketersediaan makanan. 4.2.6. Mortalitas dan laju eksploitasi Laju mortalitas total (Z) ikan tembang (S. maderensis) di Teluk Jakarta adalah 2.9896 per tahun dengan laju mortalitas alami (M) sebesar 0.0376 per tahun. Menurut Pauly (1980) in Spare & Venema (1999), faktor yang mempengaruhi nilai mortalitas alami (M) adalah panjang maksimum (L ) dan laju pertumbuhan serta faktor lingkungan yaitu suhu rata-rata perairan. Beverton & Holt (1957) menduga bahwa predasi merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi besarnya nilai mortalitas alami. Berdasarkan hal tersebut dapat diduga penurunan laju mortalitas alami saat ini disebabkan oleh menurunnya jumlah pemangsa ikan tembang
35 (seperti: ikan layur) pada saat penelitian yang dapat dilihat dari sedikitnya jumlah predator ikan tembang yang tertangkap dan didaratkan. Selain itu, kisaran suhu perairan juga mendukung untuk pertumbuhan tembang. Menurut Praseno & Kastoro (1980) secara umum suhu permukaan air di Teluk Jakarta berkisar antara 25.6-32.3 C merupakan suhu optimal bagi pertumbuhan ikan tropis. Analisis mortalitas dan laju eksploitasi pada genus yang sama (S. fimbriata dan S. gibbosa) di perairan Teluk Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Perbandingan hasil analisis mortalitas dan laju eksploitasi ikan tembang Spesies Sardinella maderensis Sardinella fimbriata Sardinella gibbosa Laju Teluk Jakarta (Chaira 2010) Teluk Palabuhanratu (Syakila 2009) Teluk Palabuhanratu (Hari 2010) Mortalitas Total (Z) 2.99 8.52 4.98 Mortalitas Alami (M) 0.04 1.14 2.15 Mortalitas Penagkapan (F) 2.95 7.37 2.83 Eksploitasi (E) 0.98 0.83 0.56 Laju mortalitas penangkapan S. maderensis 2.95 per tahun. Laju mortalitas penangkapan ini jauh lebih besar dibandingkan laju mortalitas alami yaitu 0.0376. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kematian ikan tembang lebih besar disebabkan oleh kegiatan penangkapan. Mortalitas alami di pengaruhi oleh pemangsaan, penyakit, stress pemijahan, kelaparan, dan usia tua (Sparre & Venema 1999). Oleh karena itu dapat diduga pula penurunan laju mortalitas alami disebabkan oleh menurunnya jumlah ikan yang tumbuh hingga berusia tua dan mengalami kematian secara alami akibat telah tertangkap lebih dulu karena tingginya aktifitas penangkapan. Tingginya laju mortalitas penangkapan dan menurunnya laju mortalitas alami juga dapat menunjukkan dugaan terjadinya kondisi growth overfishing yaitu sedikitnya jumlah ikan tua (Sparre & Venema 1999) karena ikan muda tidak sempat tumbuh akibat tertangkap sehingga tekanan penangkapan terhadap stok tersebut seharusnya dikurangi hingga mencapai kondisi optimum yaitu laju mortalitas tangkapan seimbang dengan laju mortalitas alami. Laju eksploitasi S. maderensis di Teluk Jakarta sebesar 0.9874 atau sebesar 98.74%, sedangkan laju eksploitasi S. fimbriata dan S. gibbosa di Teluk Palabuhanratu masing-masing sebesar 0.83 dan 0.56, bila dibandingkan dengan laju
36 eksploitasi optimum yang dikemukakan oleh Gulland (1971) in Pauly (1984) yaitu sebesar 0.5 maka laju eksploitasi ikan tembang di Teluk Jakarta dan Teluk Palabuhanratu telah melebihi nilai optimum tersebut. Nilai ini juga menguatkan indikasi adanya tekanan penangkapan yang tinggi terhadap stok ikan tembang di perairan tersebut. Nilai mortalitas penangkapan dipengaruhi oleh tingkat eksploitasi. Semakin tinggi tingkat eksploitasi di suatu daerah, makin tinggi juga mortalitas penangkapannya. 4.2.7. Implikasi bagi pengelolaan sumberdaya ikan tembang di Teluk Jakarta Strategi pengelolaan sumberdaya ikan tembang di Teluk Jakarta guna mencegah terjadinya dugaan growth overfishing seperti yang telah dikemukakan dalam subbab sebelumnya, dapat dilakukan dengan penentuan daerah penagkapan pada musim pemijahan, pengaturan upaya penangkapan, dan pengaturan ukuran mata jaring. Tingginya nilai faktor kondisi ikan tembang pada pertengahan bulan Februari diduga sebagai awal pemijahan, dengan demikian sebaiknya dilakukan pengaturan daerah penangkapan pada waktu tersebut. Ikan tembang merupakan ikan migrasi yang beruaya ketika akan memijah. Ikan tembang melakukan proses pemijahan di pesisir pantai, maka pelu dilakukannya suatu pembatasan daerah penangkapan pada kawasan pesisir agar ikan tembang memiliki kesempatan untuk berkembang biak terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menjaga populasinya di alam. Pengaturan upaya penangkapan dapat dilakukan dengan tidak menambah lagi jumlah unit kapal yang digunakan dalam proses penangkapan ikan tembang, hal ini terkait dengan data DKP-DKI Jakarta (2009) dimana jumlah unit kapal tahun 2004-2005 mengalami kenaikan lebih dari 100 % dari 702 unit menjadi 1420 unit, begitu pula pada tahun 2007-2008 kenaikan jumlah unit kapal yang terjadi lebih dari 40 % dari 1366 unit menjadi 2021 unit, yang diikuti dengan menurunnya jumlah tangkapan ikan tembang lebih dari 100 ton pada tahun 2007-2008. Namun demikian, dalam pengelolaan perikanan sangat sulit untuk mengatur dan mengubah kondisi yang telah ada, sehingga upaya yang mungkin dilakukan hanya seperti tidak mengijinkan perahu tangkap baru yang masuk ke perairan dengan sebisa mungkin membatasi jumlah tangkapan nelayan, tanpa mengurangi jumlah
37 perahu nelayan yang telah ada saat ini sehingga tercapai pemanfaatan yang optimum. Pengaturan ukuran mata jaring harus mempertimbangkan aspek reproduksi. Ukuran mata jaring tidak boleh lebih kecil dari ukuran ketika ikan pertama kali matang gonad. Menurut hasil penelitian Adisti (2010) ukuran pertama kali ikan tembang di Teluk Jakarta matang gonad yaitu 210 mm. Tinggi badan S.maderensis adalah sepertiga panjangnya, sehingga dapat disarankan bahwa ukuran mata jaring (mesh size) yang disarankan yaitu lebih dari 2.66 inchi, hal ini diperlukan guna menjaga kelestarian populasinya di alam. Hasil ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 9 tahun 2009 tentang penggunaan pukat ikan (fish net) di zona ekonomi eksklusif Indonesia pada pasal 4 dijelaskan bahwa ukuran mata jaring (mesh size) yang boleh digunakan sekurang-kurangnya 2 inchi dan dapat ditoleransi sebanyak-banyaknya 15 % (lima belas persen).