42 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI 4.1 Gambaran Umum Desa Pangradin Desa Pangradin adalah salah satu dari sepuluh desa yang mendapatkan PPAN dari pemerintah pusat. Desa Pangradin memiliki luas 1.175 hektar (ha), dengan luas perkebunan pertanian sebesar 791 ha, sawah 320 ha, kolam 12 ha, dan pemukiman penduduk 52 ha. Luas lahan eks HGU yang termasuk dalam wilayah Pangradin adalah sebesar 76 ha. Secara administratif, desa yang memiliki 2 dusun yang bernama dusun Pangradin 1 (Pangradin Hilir) dan dusun Pangradin 2 ini berbatasan dengan desa Sipak di sebelah Utara, Taman Nasional (TN) Gunung Halimun di sebelah Selatan, desa Jugala Jaya di sebelah Barat, dan desa Kalong Sawah di sebelah Timur. Desa yang terletak pada ketinggian 250 mdpl ini memiliki curah hujan 1.500 mm/tahun dengan suhu terendah 23 o C dan suhu tertinggi 32 o C. Salah satu sisi Desa Pangradin merupakan kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), di kawasan tersebut terdapat potensi wisata air terjun yang bernama Curug Bandung yang sedang direncanakan oleh pemerintah kecamatan untuk dijadikan objek wisata. Dekat lokasi air terjun tersebut terdapat sumber mata air yang sudah dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari yakni melalui program Water Sanitation for Low Income Community (WSLIC) yang merupakan program pemerintah bekerjasama dengan World Bank. Desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 1.396 KK dengan jumlah RTM (rumah tangga miskin) 623 KK pernah terdatar sebagai desa IDT pada masa pemerintahan kepala desa tiga periode sebelumnya. Penduduk Desa Pangradin memiliki jumlah angkatan kerja sebanyak 1.475 orang yang masing-masing bermata pencaharian sebagai petani 374 orang, buruh tani 580 orang, buruh swasta 236 orang, pegawai negeri 14 orang, pedagang 187 orang, buruh pengrajin 9 orang dan usaha lain-lain 73 orang.
43 Man Rasio Land = Jumlah lahan Jumlah Penduduk Man Rasio Land = 1.175 = 0.23 5.200 Hasil penghitungan di atas menunjukkan bahwa man rasio land di Desa Pangradin yaitu 0.23 (berarti masing-masing penduduk memiliki 230 meter persegi tanah). Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan akan lahan belum mampu untuk mencukupi kehidupan masyarakat di Desa Pangradin. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa daya dukung lahan terhadap kehidupan cenderung rendah. Penduduk Desa Pangradin sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani dengan jumlah 954 orang. Petani Desa Pangradin, selain menanam padi, masyarakat di sana umumnya menanam pohon jenjeng/sengon (Paraseriarenthes falkatharia), manggis, durian, petai, cempedak, dan tanaman buah lainnya. Sementara itu, untuk jenis palawija yang ditanam umumnya adalah singkong, pisang, jagung, dan lain-lain. Para petani mengutamakan hasil pertaniannya untuk konsumsi pribadi, jika ada sisa kemudian dijual kepada tengkulak atau dijual ke pasar. Adapun untuk bibit dan pupuk para petani mendapatkannya dengan cara membelinya di pasar atau warung-warung terdekat. Awalnya Desa Pangradin memiliki beberapa kelompok tani, namun tidak aktif lagi karena para anggota kelompok tani tersebut hanya berfungsi sebagai penerima bantuan, sehingga ketika tidak ada bantuan dari pemerintah kegiatan kelompok tani tidak aktif. Untuk mengaktifkannya kembali, kelompok-kelompok tani tersebut bergabung menjadi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) yang berperan sebagai wadah untuk memfasilitasi petani dalam pelatihan-pelatihan keterampilan dalam pertanian. Menurut penduduk desa Pangradin, tanah adalah tempat bersosialisasi antar warga. Warga dapat berjumpa dan berbincang-bincang dengan tetangganya di sawah, kebun, dan ladang. Selain itu, melalui tanah juga, warga dapat membantu warga lainnya yang sedang mengalami kesulitan dengan menjadikannya buruh tani di tanahnya, atau menyewakan tanahnya kepada warga yang mengalami kesulitan tersebut.
44 Tanah juga diwariskan kepemilikannya, kepada ahli warisnya jika pemilik meninggal. Kelembagaan yang terbentuk adalah penggunaan lahan oleh tiap pewarisnya dengan sistem pergiliran penggunaan tanah antar anggota keluarga tiap sekali masa tanam. Respon pertama warga Desa Pangradin ketika PPAN akan dilaksanakan di daerah mereka adalah rasa ketidakpercayaan bahwa mereka akan diberikan lahan gratis oleh pemerintah. Akan tetapi, setelah dilakukan sosialisasi oleh BPN dibantu oleh Aparatur Desa, ada sebagian warga yang akhirnya mulai mempercayainya. Pihak BPN mefasilitasi langsung pembagian lahan tersebut dengan membuka pendaftaran bagi warga yang menginginkan lahan eks HGU. Mekanisme pembagian lahan adalah mendaftarkan diri ke kantor desa dengan menunjukkan kartu identitas penduduk dan membayar sejumlah uang. Dengan mekanisme yang seperti itu, masih ada warga yang tidak ikut mendaftar karena tidak memiliki kartu identitas dan uang untuk pendaftaran. Akhirnya warga diperbolehkan menggunakan KTP sementara sehingga banyak warga belum berhak mendapatkan lahan ikut membuat KTP sementara agar bisa mendapatkan lahan tersebut. 4.2 Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN) di Kecamatan Jasinga Program Pembaharuan Agraria Nasional adalah Landasan kebijakan bagi pemberian hak kepemilikan lahan kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. A. Landasan Pemikiran 1. Bahwa tanah khususnya tanah pertanian adalah merupakan sumber kehidupan dan mata pencaharian pokok bagi para petani. Dengan penguatan hak atas tanah garapan menjadi hak milik, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi para petani. Disamping itu dengan kejelasan status dan kepemilikan yang syah diharapkan menjadi faktor pendorong dan semangat dalam mengolah tanah guna memenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan itu, salah satu amanat konstitusi bagi para penyelenggara negara bahwa: bumi, air serta kekayaaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
45 dipergunakan untuk sebesar-sebesarnya kemakmuran rakyat (Undang- Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3). 2. Terwujudnya Catur Tertib Pertanahan merupakan sasaran dan tujuan Pembangunan Nasional dibidang pertanahan sebagaimana yang diamanatkan dalam TAP MPR RI No. IX/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Untuk menindaklanjuti sasaran dan tujuan dimaksud, telah ditetapkan Agenda Kebijakan BPN RI yaitu Sebelas Agenda Kebijakan yang meliputi: 1) Membangun kepercayaan masyarakat pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2) Meningkatkan pelayanan dan pelaksanaan pendaftaran tanah serta srtifikasi tanah secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia 3) Memastikan pengutan hak-hak rakyat atas tanah 4) Menyelesaikan persoalan pertanahan di daerah-daerah korban bencana alam dan daerah-daerah konflik di seluruh Tanah Air 5) Menangani dan menyelesaikan perkara, masalah, sengketa dan konflik pertanahan secara sistematik 6) Membangun Sistem Informasi dan Manajemen Pertanahan Nasional (SIMTANAS) dan Sistem Pengamanan Dokumen Pertanahan di seluruh Indonesia 7) Menangani masalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyrakat 8) Membangun database penguasaan dan pemilikan tanah skala besar 9) Melaksanakan secara konsisten semua peraturan perundang-undangan pertanahan yang ditetapkan 10) Menata kelembagaan BPN RI 11) Membangun dan memperbaharui politik hukum dan kebijakan pertanahan
46 Sebagai implementasi dari Sebelas Agenda Kebijakan dimaksud, di Kabupaten Bogor telah dilaksanakan Reforma Agraria yang dibingkai dalam kerangka Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN) di Kecamatan Jasinga yang meliputi 10 Desa dengan luas 2.426 Ha. Latar belakang dilaksanaannya kegiatan PPAN di Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, yaitu adanya semangat bersama dan dorongan semua pihak yang terkait untuk menyelesaikan sengketa dan konflik pertanahan, yaitu unsur: Masyarakat penggarap Paguyuban 10 Kepala Desa di Kecamatan Jasinga Seluruh Instansi/Dinas terkait dari Kepala Desa, Camat, Muspika, Pemerintah Kabupaten Bogor dan unsur jajaran Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor. B. Maksud, Tujuan dan Program 1. Maksud dan Tujuan Maksud serta tujuan dilaksakannya Program Pembaharuan Agraria Nasional, sasaran yang ingin dicapai yaitu antara lain: Mengurangi ketimpangan pemilikan tanah Penguatan hak-hak rakyat atas tanah Mengurangi pengangguran Meningkatkan kesejahteraan Memiliki akses ke sektor produksi Mengurangi konflik dan sengketa Penataan lingkungan serta optimalisasi penggunaan dan pemanfaatan atas tanah 2. Program a. Program kegiatan ini meliputi luas tanah 2.426 Ha terletak di 10 Desa Kecamatan Jasinga, yaitu:
47 1) Desa Jasinga 2) Desa Pamagersari 3) Desa Koleang 4) Desa Pangradin 5) Desa Curug 6) Desa Setu 7) Desa Tegalwangi 8) Desa Jugalajaya 9) Desa Sipak 10) Desa Kalong Sawah b. Perencanaan Penataan lokasi tanah seluas 2.426 Ha meliputi: 1) Peruntukan para penggarap seluas 1030 Ha 2) Peruntukan bekas pemilik (PT. PP Jasinga) seluas 938 Ha 3) Peruntukan Pemerintah Kabupaten Bogor seluas 70,90 Ha 4) Peruntukan Pemerintah Desa (10 Desa) seluas 18,75 Ha 5) Peruntukan lahan Demplot BPN seluas 30,70 Ha 6) Peruntukan bekas karyawan perkebunan seluas 104 Ha c. Telah diterbitkan Sertifikat Hak atas tanah sejumlah 7.000 bidang dengan perincian: penggarap mencapai 5.900 orang (6.907 bidang) dan peruntukan berbagi Dinas/Instansi/Lembaga sebanyak 93 bidang/sertifikat. 4.2.1 Subyek dan Obyek PPAN Obyek PPAN adalah Tanah Negara yang sesuai dengan peraturan perundangan dapat di jadikan sebagai tanah (obyek) pembaruan agraria. Sedangkan subyek PPAN pada dasarnya adalah penduduk miskin di perdesaan, baik petani, nelayan maupun non petani/nelayan. Penduduk miskin dalam kategori ini dapat dimulai dari yang di dalam lokasi ataupun yang terdekat dengan lokasi,dan dibuka kemungkinan untuk melibatkan kaum miskin dari daerah lain
48 dan di perkotaan. Mengingat banyaknya pengertian yang berbeda tentang definisi dan kriteria penduduk miskin, perlu penetapan batasan yang jelas, dan dikaji secara cermat dengan kriteria yang tepat dan mekanisme seleksi yang dapat dipertanggungjawabkan. Model dan Mekanisme PPAN Penetapan Obyek PPAN Penetapan Subyek PPAN Obyek Model II Model III Model I subyek Access Reform Insfratsruktur dan sarana Pembinaan dan Bimbingan Permodalan Distribusi dan pemasaran Dukungan lainya Gambar 4. Penetapan Obyek, Subyek, Model, dan Mekanisme PPAN BPN Obyek Tukar Badan Tanah Hasil Tukaran Perusahaan Access Reform Penerima Manfaat Gambar 5. Mekanisme PPAN (Contoh)
49 4.2.2 Kelembagaan PPAN Adapun Kelembagaan PPAN adalah sebagai berikut: a. Pembaruan agrarian merupakan program besar nasional yang keberhasilannya memerlukan gerakan bersama semua komponen bangsa. b. Mengingat kompleksitas dan skala kegiatan PPAN, perlu dibentuk kelembagaan PPAN yang tangguh untuk menjalankan kebijakan, Koordinasi, Pelaksanaan dan pengendalian dalam rangka pencapaian tujuan PPAN. Dengan demikian, beberapa catatan penting yang harus menyertai program ini sehingga berhasil adalah: 6 1. Objek pembaruan agraria mestilah diperluas. Menyatakan hutan sematamata sebagai objek adalah sikap menutup mata terhadap objek yang lain seperti tanah-tanah HGU perkebunan yang ditelantarkan dan telah habis masa berlakunya ataupun yang cacat hukum ketika izin dikeluarkan. Objek-objek pembaruan agraria sebenarnya dapat mengacu pada UUPA 1960. 2. Melibatkan serikat tani yang kukuh memperjuangkan pembaruan agraria dari tingkat lokal hingga nasional. Dalam pembaruan agraria berlaku sebuah rumusan "tanpa melibatkan negara adalah sebuah kemustahilan, tanpa melibatkan serikat tani akan mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan-tujuan pembaruan". Dengan melibatkan serikat tani dalam pelaksanaannya, maka kesalahan dalam menentukan subyek pembaruan agraria dapat dicegah. 3. Program ini adalah bagian penting dari usaha penyelesaian konflik agraria yang menimpa kaum tani. Sehingga, program ini mestilah 6 Iwan Nurdin. 2007. Sekilas Membincangkan Program Pembaruan Agraria Nasional. http://www.landpolicy.or.id/kajian/2/tahun/2007/bulan/08/tanggal/29/id/25/. Diakses tanggal 1 September 2009.
50 memprioritaskan tanah-tanah yang selama ini telah dikuasai oleh para petani, atau tengah disengketakan oleh kaum tani. 4. Skema pendistribusian obyek pembaruan agraria mestilah diupayakan untuk membentuk koperasi produksi dan badan usaha milik petani. Dengan demikian, pembaruan agraria adalah sebuah upaya membangun sebuah unit usaha bersama milik petani yang kuat di pedesaan. Dengan demikian, selain distribusi, dukungan modal, teknologi dan manajemen pertanian berkelanjutan, pengolahan serta perlindungan pasar adalah usaha yang sinergis dengan program pembaruan agraria. 5. Mengingat luasnya keterlibatan sektor-sektor pemerintahan serta membutuhkan pembaruan/pembenahan hukum agraria di dalamnya, program ini mestilah dipimpin langsung oleh presiden dengan cara membentuk sebuah badan pelaksana/otorita yang khusus untuk menjalankan program. Badan ini bekerja dengan tenggat waktu yang jelas untuk menjalankan pembaruan. Dalam mengembangkan sebuah model pembaruan agraria di Jawa, maka terlebih dahulu yang harus ditentukan adalah tanah HGU perkebunan (swasta dan negara) serta tanah hutan produksi milik perhutani (sebenarnya perusahaan ini lebih mirip perkebunan kayu ketimbang hutan) adalah objek pembaruan agraria, kemudian tanah-tanah kelebihan maksimum. Setelah penentuan ini, maka akan didapat gambaran bahwa tanah-tanah tersebut belum cukup mampu dalam membentuk struktur kapital masyarakat petani dan pedesaan.