BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

dokumen-dokumen yang mirip
1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Bab 1

1. MECHANICAL ROTATING INSPECTOR : 2. ELECTRICAL INPECTOR : PERSYARATAN DAN KUALIFIKASI :

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V ANALISA HASIL. kritis, artinya aktivitas tersebut merupakan aktivitas non kritis.

BAB 4 PENGUKURAN KONSTRUKSI ANJUNGAN MINYAK LEPAS PANTAI MENGGUNAKAN LASER SCANNER

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Perencanaan MEP Proyek Whiz Hotel Yogyakarta di Yogyakarta, yang

Penjadwalan proyek. 1. Menunjukkan hubungan tiap kegiatan dan terhadap keseluruhan proyek

PENJADWALAN PROYEK DENGAN ALAT BANTU PROGRAM PRIMAVERA PROJECT PLANNER 3.0 (P3 3.0)

MANAJEMEN PROYEK. Manajemen proyek meliputi tiga fase : 1. Perencanaan 2. Penjadwalan 3. Pengendalian

PERTEMUAN 11 Float dan Lintasan Kritis

BAB III METODE PENELITIAN. (Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional) pada proyek pembangunan

REKAYASA SISTEM BAB I PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI. tidak dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana, sehingga menyebabkan beberapa

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. perusahaan selain manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran dan

TEKNIK PERENCANAAN DAN PENJADWALAN PROYEK RUMAH TINGGAL DENGAN BANTUAN PROGRAM PRIMAVERA PROJECT PLANNER 3.0. Erwan Santoso Djauhari NRP :

BAB I PENDAHULUAN. Maleo, 40 km sebelah tenggara Pulau Madura dan ±25 km sebelah selatan Pulau

Analisis Optimasi Pelaksanaan Proyek Revitalisasi Integrasi Jaringan Universitas Kadiri Menggunakan Metode PERT Dan CPM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENTINGNYA MANAJEMEN PROYEK

PERENCANAAN PERCEPATAN PROYEK KONSTRUKSI DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT PROJECT

BAB II STUDI PUSTAKA

Kata kunci: optimum, percepatan, lembur, least cost analysis.

Manajemen Operasi. Modul Final Semester MODUL PERKULIAHAN. Tatap Kode MK Disusun Oleh Muka 10 MK Andre M. Lubis, ST, MBA

Proyek. Proyek adalah sederetan tugas yang diarahkan pada suatu hasil output utama

Manajemen Proyek. Riset Operasi TIP FTP UB

Kita awali dulu dengan kepanjangannya, EPC adalah singkatan dari istilah Engineering- Procurement-Construction.

STUDI KASUS PENJADWALAN PROYEK PADA PROYEK RUMAH TOKO X MENGGUNAKAN MICROSOFT PROJECT 2010

BAB 5 PERENCANAAN WAKTU

APLIKASI MICROSOFT PROJECT DALAM PENGENDALIAN WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN PROYEK

LAPORAN SURVEY PRE DESIGN MODIFIKASI ID FAN, PINTU MILL DAN FLY ASH SILO PLTU ASAM ASAM

STUDI ANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN METODA PENJADWALAN LINIER PADA PROYEK PERUMAHAN

: Peramalan (Forecasting) Bab III : Manajemen Persediaan. Bab IV : Supply-Chain Management. Bab V : Penetapan Harga (Pricing)

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

MATERI 8 MEMULAI USAHA

BAB 4 STUDI KASUS 4.1 UMUM

BAB 3 DESKRIPSI KASUS

BAB II LANDASAN TEORI. berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Sistem informasi dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mendasar yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Proyek : Kombinasi dan kegiatan-kegiatan g (activities) yang saling berkaitan dan harus dilaksanakan dengan mengikuti suatu urutan tertentu sebelum se

ANALISIS JARINGAN DENGAN CPM (CRITICAL PATH METHOD) PADA PROSES PRODUKSI JAKET JEANS UD EDLYS

PENENTUAN JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN REHABILITASI JALAN ALIANYANG KOTA PONTIANAK DENGAN PRECEDENCE DIAGRAM METHOD (PDM)

BAB III METODE PENELITIAN

PERCEPATAN PROYEK PADA SEBUAH GEDUNG BERTINGKAT

MANAJEMEN WAKTU PROYEK MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK PERANGKAT LUNAK. Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Penjadwalan Proyek Struktur Rom Bin Menggunakan Metode Project Evaluation and Review Technique (PERT) di PT. Lintech Duta Pratama

Kajian Buoyancy Tank Untuk Stabilitas Fixed Offshore Structure Tipe Tripod Platform saat Kinerja Pondasi Pile Menurun

PT Jogja Rekayasa Engineering Jl. Menur No. 150 RT 05/57 Maguwoharjo, Sleman, DIY Telp COMPANY. Profile

BAB2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Operasional

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM

BAB II LANDASAN TEORI. Pengelola proyek selalu ingin mencari metode yang dapat meningkatkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengorganisasian suatu kegiatan untuk mencapai sasaran yang efektif dan efisien. Dalam

Manajemen Proyek. Teknik Industri Universitas Brawijaya

BAB 1 PENDAHULUAN. penelitian, serta sistematika dalam hal penulisan penelitian.

Manajemen Proyek. Gantt chart PERT (program evaluation and review technique) CPM (critical path method)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI. A. Manajemen Proyek

BAB III METODOLOGI. Data yang dominan dalam Tugas Akhir ini adalah Data Sekunder,

BAB I PENDAHULUAN. sistem elektrik yang terdiri dari berbagai intrumentasi, sensor, serta transmitter

Analisis Waktu dan Pembiayaan Untuk Proses Loadout Jacket Structure Menggunakan Dolly dan Skidway

BAB VI METODE PELAKSANAAN. tepat waktu, dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Tahap pelaksanaan

ABSTRAK ABSTRACT. Fatoni Azis Teknik Industri, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA METODE PENELITIAN ANALISIS DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

PERT dan CPM adalah suatu alat manajemen proyek yang digunakan untuk melakukan penjadwalan, mengatur dan mengkoordinasi bagian-bagian pekerjaan yang

Sensitivity Analysis Struktur Anjungan Lepas Pantai Terhadap Penurunan Dasar Laut BAB 1 PENDAHULUAN

Critical Path Method (CPM) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan. Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini ialah :

Operations Management

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam persaingan sektor industri dewasa ini, pembangunan ekonomi

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada Proyek Pemasangan 3 (tiga) unit Lift Barang di

Pertemuan 5 Penjadwalan

BAB 3 METODE PENELITIAN

STUDI PENJADWALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PENJADWALAN LINIER PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT

BAB V ANALISA HASIL. 3, pekerjaan instalasi telephone lantai 1, pekerjaan security alarm, kontak, pekerjaan pemasangan kaca pintu utama ruang ATM dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN RESMI MODUL VII PERT DAN CPM

Penjadwalan Proyek. Oleh Didin Astriani Prasetyowati, M.Stat

STUDI PERENCANAAN PERCEPATAN DURASI PROYEK DENGAN METODE LEAST COST ANALYSIS

BAB III LANDASAN TEORI. A. Manajemen Proyek

Analisa Perbaikan Penjadwalan Perakitan Panel Listrik Dengan Metode CPM dan PERT (Studi Kasus : PT. Mega Karya Engineering) ABSTRAK

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN

BAB III LANDASAN TEORI. A. Proyek

APLIKASI ANALISIS NETWORK PLANNING PADA PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN DENGAN METODE CPM

BAB III LANDASAN TEORI. A. Manajemen Proyek

Penjadwalan Proyek dengan Menggunakan Metode Jalur kritis Project Scheduling Using Critical Path Method (CPM)

BAB II Tinjauan Pustaka

Kata kunci: PERT, penambahan jam kerja (lembur), lintasan kritis, Time Cost Trade Off.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PROJECT TIME MANAGEMENT (MANAJEMEN WAKTU PROYEK BAG.1) (MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK PERANGKAT LUNAK)

Pertemuan ke 10 Metode Jalur Kritis. Dalam Analisis CPM, dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju dan hitungan mundur.

PENGGANTIAN FLARE TIP DENGAN METODA CRANELESS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1. Project Management Awareness

OPTIMASI PROYEK PEMBANGUNAN KAPAL FIBER UKURAN 8 m DENGAN METODA PENGENDALIAN BIAYA DAN JADWAL TERPADU DI POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI

STUDI KASUS PENERAPAN METODE PERT PADA PROYEK GUDANG X

Transkripsi:

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Profil Perusahaan PT. Patria Anugerah Sejati adalah sebuah perusahaan engineering dan konstruksi di bidang industri Minyak dan Gas Bumi yang didirikan pada tahun 1993 untuk memberikan kualitas, proyek dengan kontrol ketat dan jasa teknis di bidang rekayasa proyek, pengadaan, fabrikasi dan konstruksi, start up dan commissioning terutama untuk listrik, instrumentasi, piping, mekanik, struktural, blasting painting, arsitektural dan perancah. Dalam penelitian tugas akhir ini penulis memilih penelitian pada bidang instalasi untuk pekerjaan listrik dan instrumentasi pada konstruksi pembangunan anjungan lepas pantai. Komitmen PT. Patria Anugerah Sejati adalah untuk memberikan layanan yang memberikan nilai tambah dengan biaya yang kompetitif sesuai dengan kompleksitas dari proyek dalam mengembangkan kesempatan dengan klien untuk kesuksesan dimasa depan. Visi dan Misi Visi perusahaan adalah menjadi perusahaan terkemuka nasional dengan menekankan profesionalisme, ketepatan waktu, standar mutu dan kepuasan pelanggan. Misi perusahaan adalah untuk menyediakan layanan berharga dan dapat diandalkan yang mengarah kepada kepuasan pelanggan dengan terus meningkatkan sumber daya manusia yang professional. Page 49

50 Kantor dan Fasilitas PT. Patria Anugerah Sejati memiliki 625 m2 ruang kantor di Jl. Pangeran Jayakarta No.73 Comp. P. Jayakarta Centre Blok B1/12 Jakarta dan untuk mendukung kinerja engineering, pengadaan dan fabrikasi, PT. Patria Anugerah Sejati juga didukung dengan fasilitas fabrikasi workshop 500 m2 di Cikarang Industrial Estate Jababeka II dan 3.200 m2 yard fabrikasi di Batam. 4.2 Anjungan Lepas Pantai Konstruksi anjungan lepas pantai atau sering juga disebut platform adalah salah satu sarana untuk menunjang kegiatan penambangan minyak dan gas bumi secara efektif dan efisien di lepas pantai. Karena letaknya yang berada di lepas pantai, pastinya desainnya sangat berbeda dengan desain struktur yang ada di darat. Pada dasarnya platform terdiri dari 3 bagian utama yaitu topside facility, jacket,dan piles atau foundation. Ketiga bagian ini merupakan penopang utama semua kegiatan di platform. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya penambahan fasilitas pendukung lainnya. Topside facility dibagi menjadi 2 bagian yang terpisah. Yang pertama yaitu penempatan fasilitas pengeboran seperti drilling deck, production deck dan cellar deck. Drilling deck merupakan tempat peralatan untuk pengeboran minyak dari atas platform ke dalam perut bumi. Production deck adalah tempat peralatan pengolahan minyak mentah yang telah diambil dari perut bumi. Cellar deck yaitu tempat penyimpanan minyak sementara setelah diolah di production deck sebelum diangkat dan didistribusikan ke tempat pengolahan di darat. Yang kedua adalah fasilitas bagi para pekerja di platform seperti tempat tinggal dan tempat hiburan yang memadai karena para pekerja tinggal di platform dalam waktu yang cukup lama.

51 Gambar 4.1 Contoh Konstruksi Anjungan Lepas Pantai Jacket adalah bagian penopang yang berada di bawah topside facility. Bagian ini berfungsi untuk menopang bagian di atasnya agar konstruksi yang ada tetap stabil. Jacket tersusun atas konstruksi yang kuat agar dapat menahan goncangan yang diakibatkan gaya luar seperti ombak dan angin laut yang dapat menggannggu kestabilan platform. Foundation merupakan bagian dasar penopang yang terletak di bagian paling bawah platform. Bagian ini tersusun atas beton atau baja yang komposisinya telah disesuaikan sehingga tidak mudah hancur dalam jangka waktu tertentu yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan dan biaya. Pada sebagian platform, foundation langsung tertanam pada dasar laut karena jarak antara muka air laut dengan dasar laut tidak terlalu jauh (1500 3000 kaki). Sebagian lainnya mengapung di dalam laut karena jarak dengan dasar laut terlalu jauh sehingga di tahan dengan kabel - kabel berukuran besar yang sangat kuat sehingga foundation tidak bergoyang - goyang karena ombak. Konsep struktur platform secara umum dapat

52 dikatagorikan ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan tipe supporting structure. Tiga kelompok utama berdasarkan tipe supporting structure antara lain Fixed Platform, Floating Platform, dan Compliant Platform. Fixed Platform merupakan tipe yang paling konvensional dan juga banyak dibangun dibandingkan tipe lain. Karakter utamanya adalah kaki-kaki platform yang menumpu dan diarncang ke dasar laut sehingga kedudukannya tepat. Yang termasuk ke dalam kategori ini diantaranya adalah Jacket Template dan Concrete Gravity Platform. Tipe jacket template disusun atas struktur baja tubular dan pondasi baja yang dipancang ke dasar laut, sedang concerate gravity platform merupakan struktur beton yang mengandalkan berat sendiri untuk menjaga kestabilitasnya. Biasanya tipe ini digunakan untuk laut dangkal. Sedangkan Floating Platform memiliki kaki seperti lambung kapal sehingga dapat mengambang di permukaan laut. Air laut dapat masuk atu keluar dari lambung tersebut sehingga kestabilan platform dapat diatur. Semi-submersible platform dan Jack-up platform termasuk ke dalam tipe ini. Meskipun mengambang tetapi pergerakan platform tetap dikontrol oleh Dynamic Positioning System (menggunakan baling-baling) atau dangan anchor. Dan Compliant Platform biasanya digunakan di laut dalam (>1500 feet) karena secara ekonomis dan teknis sudah tidak memungkinkan untuk menggunakan kedua tipe sebelumnya. Strukturnya relative fleksibel karena biasanya mengambang di permukaan laut, ringan, dan mengandalkan system penambatan yang baik. Salah satu tipe fixed platform yang paling banyak digunakan di laut dangkal.

53 4.3 Aktivitas Proyek Instalasi Listrik Dan Instrumentasi Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan pada pekerjaan proyek instalasi listrik dan instrumentasi adalah sebagai berikut: 1. Contract award Contract award adalah pemberian surat perintah kerja atau SPK dari klien ke perusahaan kontraktor dengan harga yang telah disetujui untuk memulai proyek pekerjaan instalasi listrik dan instrumentasi. 2. Mobilization of equipment and personnel Mobilization adalah aktivitas pengiriman serta setting peralatan, container office dan tenaga kerja ke tempat lokasi pekerjaan proyek. 3. Cable Inspection and Continuity Check Merupakan pekerjaan inspeksi dan pengetesan kabel sebelum dipasang. Pekerjaan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kabel yang telah datang dalam kondisi yang bagus dan memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan sebelum dipasang. Gambar 4.2 Kabel yang harus diinspeksi dan continuity check

54 4. Instrument Tag Item Calibration Kalibrasi merupakan proses verifikasi alat-alat instrumentasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Gambar 4.3 Pressure gauge calibration 5. Cable tray and tubing tray support installation Merupakan pemasangan support atau penyangga cable tray (tempat jalur kabel) dan tubing tray sesuai dengan gambar konstruksi dan instalasi yang telah disetujui. 6. Cable tray and tubing tray installation Merupakan pemasangan tempat jalur kabel dan tubing sesuai dengan gambar konstruksi dan instalasi yang telah disetujui.

55 Gambar 4.4 Cable tray lengkap dengan support yang sudah terpasang 7. Cover tray installation Merupakan pemasangan penutup cable tray (tempat jalur kabel) sesuai dengan gambar konstruksi dan instalasi yang telah disetujui. Gambar 4.5 Cover tray yang sudah terpasang

56 8. Electrical equipment support installation Merupakan pemasangan support atau landasan untuk panel-panel listrik, junction box dan peralatan listrik lainnya sesuai dengan gambar konstruksi. 9. Instrument stanchion installation Merupakan pemasangan support atau landasan untuk alat-alat instrumentasi sesuai dengan gambar konstruksi yang telah disetujui. Gambar 4.6 Instrument tag item yang terpasang diatas stanchion 10. Electrical equipment installation Merupakan pemasangan panel-panel listrik, junction box dan peralatan listrik lainnya sesuai dengan gambar konstruksi yang telah disetujui.

57 Gambar 4.7 Electrical equipment di control room 11. Instrumentation Tag Item installation & hook up Merupakan pemasangan alat-alat instrmentasi dan tubing hook up sesuai dengan gambar konstruksi yang telah disetujui. Gambar 4.8 Instrument tag item installation and hook up 12. Lay down / pulling cable Merupakan penarikan atau pemasangan kabel didalam cable tray dari alatalat listrik ke panel-panel listrik maupun junction box.

58 Gambar 4.9 Lay down / Pulling Cable 13. Cable glanding and termination Merupakan pekerjaan koneksi kabel ke terminal-terminal yang ada di dalam panel-panel listrik, junction box maupun peralatan listrik lainnya. Gambar 4.10 Cable glanding and termination

59 14. Continuity and megger test Merupakan pekerjaan pengetesan kabel apakah kabel tersebut telah terhubung dengan benar sesuai dengan gambar konstruksi dan memastikan bahwa kabel yang dipasang tidak mengalami kerusakan. Gambar 4.11 Cable testing 15. Leak test and pressure test Merupakan pekerjaan pengetesan terhadap tubing-tubing yang terpasang pada alat-alat instrumentasi dengan memberikan tekanan udara maupun air dengan ketentuan pengetesan yang telah disetujui untuk memastikan bahwa tubing telah terpasang dengan benar dan tidak mengalami kebocoran.

60 Gambar 4.12 leak test / Pressure test 16. Precommissioning Pre-Commissioning adalah aktivitas untuk memastikan bahwa setiap instrument dan elektrikal input devices, sistem control, dan instrument final element dapat beroperasi sebagaimana control design untuk menunjang proses. Pre-commissioning dapat juga disebut function test untuk setiap loop.

61 4.4 Critical Path Method (CPM) Tabel 4.1 Data awal kegiatan proyek instalasi listrik dan instrumentasi pada anjungan lepas pantai ID No. Aktivitas Pekerjaan Predecessor Normal Percepatan (Crashing) Durasi (Hari) Manhour Cost (USD) Durasi (Hari) Manhour Cost (USD) A Mobilization of Personnel and Equipment - 7 700 2450 7 700 2450 B Cable inspection & Continuity Test A 7 280 980 7 280 980 C Instrument Tag Item Calibration A 21 420 1470 18 540 1890 D Cellar Deck Area D1 Cable Tray and Tubing Tray Support Installation A 14 1120 3920 10 1200 4200 D2 Cable Tray Installation D1 21 1260 4410 17 1360 4760 D3 Tubing Tray Installation D1 14 560 1960 12 720 2520 D4 Cover Tray Installation D7, D9 14 840 2940 12 960 3360 D5 Electrical Equipment Support Installation D1 12 240 840 10 300 1050 D6 Instrument Stanchion Installation D1 12 240 840 10 300 1050 D7 Electrical Equipment Installation D5 14 560 1960 12 600 2100 D8 Instrument Tag Item Installation & Hook up C, D3, D6 21 840 2940 17 1020 3570 D9 Lay down / Pulling Cable B, D2 21 1680 5880 17 1700 5950

62 D10 Cable Glanding & Termination D7, D9 24 1920 6720 21 2100 7350 E Main Deck Area E1 Cable Tray and Tubing Tray Support Installation D1 21 1680 5880 17 1700 5950 E2 Cable Tray Installation E1 30 3600 12600 24 3840 13440 E3 Tubing Tray Installation E1 21 1260 4410 17 1360 4760 E4 Cover Tray Installation E7, E9 18 1440 5040 16 1600 5600 E5 Electrical Equipment Support Installation E1 14 280 980 12 360 1260 E6 Instrument Stanchion Installation E1 14 280 980 12 360 1260 E7 Electrical Equipment Installation E5 18 360 1260 16 480 1680 E8 Instrument Tag Item Installation & Hook up C, E3, E6 30 1800 6300 24 1920 6720 E9 Lay down / Pulling Cable B, E2 30 3000 10500 26 3120 10920 E10 Cable Glanding & Termination E7, E9 45 3600 12600 40 4000 14000 F Top Deck & Control Room Area F1 Cable Tray Support Installation E1 12 480 1680 10 600 2100 F2 Cable Tray Installation F1 14 560 1960 12 720 2520 F3 Electrical Equipment Support Installation F1 7 280 980 5 300 1050 F4 Electrical Equipment Installation F3 12 840 2940 10 1000 3500 F5 Lay down / Pulling Cable B, F2 30 2400 8400 24 2880 10080

63 F6 Cable Glanding & Termination F4, F5 50 5000 17500 45 5400 18900 G Testing Activity G1 Continuity & Megger Test F6, E10, D10 14 1120 3920 12 1320 4620 G2 Leak Test & Pressure Test E8, D8 14 840 2940 12 960 3360 G3 Precommissioning D4, E4, G1, G2 14 1400 4900 12 1440 5040 Total 40880 143080 Note : Manhour tersebut diatas adalah waktu kerja karyawan dalam satuan jam dimana untuk proyek instalasi elektrikal instrumentasi ini standar jam kerja karyawan adalah 10 jam per hari. Rate manhour yag digunakan dalam data penelitian ini adalah USD 3.5/Jam, dimana rate manhour tersebut diatas melingkupi gaji karyawan termasuk uang makan, transportasi dan akomodasi bagi karyawan, medical checkup untuk karyawan, peralatan keselamatan, handtools (alat kerja), dan kebutuhan konsumables untuk mendukung pelaksanaan kerja.

64 4.4.1 Diagram Network Dari data pada table 4.1 diatas maka disusun suatu diagram jaringan kerja (network diagram) seperti pada lampiran 1. Dari data pada lampiran 1 maka disusun suatu table network diagram sebagai berikut : Tabel 4.2 Tabel Jaringan Kerja (CPM) Aktivitas Predecessor Durasi ES EF LS LF FF TF Keterangan A - 7 0 7 0 7 0 0 Jalur Kritis B A 7 7 14 7 68 0 54 C A 21 7 28 7 118 0 90 D1 A 14 7 21 7 21 0 0 Jalur Kritis D2 D1 21 21 42 21 103 0 61 D3 D1 14 21 35 21 127 0 92 D4 D7, D9 14 63 162 124 162 85 85 D5 D1 12 21 33 21 110 0 77 D6 D1 12 21 33 21 127 0 94 D7 D5 14 33 63 110 124 16 77 D8 C, D3, D6 21 35 93 127 148 37 92 D9 B, D2 21 42 63 103 124 0 61 D10 D7, D9 24 63 148 124 148 61 61 E1 D1 21 21 42 21 42 0 0 Jalur Kritis E2 E1 30 42 72 42 73 0 1 E3 E1 21 42 63 42 118 0 55 E4 E7, E9 18 102 162 103 162 42 42 E5 E1 14 42 56 42 85 0 29 E6 E1 14 42 56 42 118 0 62 E7 E5 18 56 102 85 103 28 29 E8 C, E3, E6 30 63 93 118 148 0 55 E9 B, E2 30 72 102 73 103 0 1 E10 E7, E9 45 102 148 103 148 1 1

65 F1 E1 12 42 54 42 54 0 0 Jalur Kritis F2 F1 14 54 68 54 68 0 0 Jalur Krtis F3 F1 7 54 61 54 86 0 25 F4 F3 12 61 98 86 98 25 25 F5 B, F2 30 68 98 68 98 0 0 Jalur Kritis F6 F4, F5 50 98 148 98 148 0 0 Jalur Kritis G1 F6, E10, D10 14 148 162 148 162 0 0 Jalur Kritis G2 E8, D8 14 93 162 148 162 55 55 G3 D4, E4, G1, G2 14 162 176 162 176 0 0 Jalur Kritis Dari diagram network dan table diagram network diatas dapat diketahui bahwa waktu normal penyelesaian pekerjaan instalasi elektrikal instrumentasi adalah 176 hari dengan biaya penyelesaian pekerjaan sebesar USD 143.080. Sedangkan aktivitas-aktivitas yang termasuk dalam jalur kritis adalah: A D1 E1 F1 F2 F5 F6 G1 G3 : Mobilization of personnel and equipment : Cable tray and tubing tray support installation at cellar deck area : Cable tray and tubing tray support installation at main deck area : Cable tray support installation at top deck & control room area : Cable tray installation at top deck & control room area : Lay down / pulling cable at top deck & control room area : Cable glanding and termination at top deck & control room area : Continuity and megger test : Precommissioning

66 4.4.2 Slope Biaya Penyelesaian Proyek Tabel 4.3 Slope Biaya Penyelesaian Proyek (CPM) Aktivitas Predec. Percepatan Normal (Crashing) Durasi Cost Durasi Cost Slope Biaya Remarks A - 7 2450 7 2450 0 Jalur Kritis B A 7 980 7 980 0 C A 21 1470 18 1890 140 D1 A 14 3920 10 4200 70 Jalur Kritis D2 D1 21 4410 17 4760 87.5 D3 D1 14 1960 12 2520 280 D4 D7, D9 14 2940 12 3360 210 D5 D1 12 840 10 1050 105 D6 D1 12 840 10 1050 105 D7 D5 14 1960 12 2100 70 D8 C, D3, D6 21 2940 17 3570 157.5 D9 B, D2 21 5880 17 5950 17.5 D10 D7, D9 24 6720 21 7350 210 E1 D1 21 5880 17 5950 17.5 Jalur Kritis E2 E1 30 12600 24 13440 140 E3 E1 21 4410 17 4760 87.5 E4 E7, E9 18 5040 16 5600 280 E5 E1 14 980 12 1260 140 E6 E1 14 980 12 1260 140 E7 E5 18 1260 16 1680 210 E8 C, E3, E6 30 6300 24 6720 70 E9 B, E2 30 10500 26 10920 105 E10 E7, E9 45 12600 40 14000 280 F1 E1 12 1680 10 2100 210 Jalur Kritis F2 F1 14 1960 12 2520 280 Jalur Kritis F3 F1 7 980 5 1050 35

67 F4 F3 12 2940 10 3500 280 F5 B, F2 30 8400 24 10080 280 Jalur Kritis F6 F4, F5 50 17500 45 18900 280 Jalur Kritis G1 F6, E10, D10 14 3920 12 4620 350 Jalur Kritis G2 E8, D8 14 2940 12 3360 210 G3 D4, E4, G1, G2 14 4900 12 5040 70 Jalur Kritis Dari table diatas percepatan aktivitas pekerjaan (crashing) dilakukan terhadap aktivitas pada jalur kritis dimulai dengan biaya slope terkecil. Percepatan Aktivitas E1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {1, 4} CL = 1 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 2. Waktu penyelesaian proyek menjadi 175 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Normal + (176 hari 175 hari) slope biaya = USD 143.080 + 17.5 = USD 143.090,5 Percepatan Aktivitas G3 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {1, 2} CL = 1

68 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 3. Waktu penyelesaian proyek menjadi 174 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing E1 + (175 hari 174 hari) slope biaya = USD 143.090,5 + 70 = USD 143.160,5 Percepatan Aktivitas D1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {1, 4} CL = 1 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 4. Waktu penyelesaian proyek menjadi 173 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing G3 + (174 hari 173 hari) slope biaya = USD 143.160,5 + 70 = USD 143.230,5 Percepatan Aktivitas F1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {1, 2} CL = 1 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 5. Waktu penyelesaian proyek menjadi 172 hari. Percepatan aktivitas F1 menyebabkan terjadinya jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan biaya slope terkecil USD 105

69 pada aktivitas E9. Dari percepatan aktivitas F1 pararel E9 diagram networknya seperti pada lampiran 6. Sedagkan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing G3 + (173 172 hari) slope biaya pararel = USD 143.230,5 + {(1) (210 + 105)} = USD 143.545,5 Tabel diagram networknya menjadi sebagai berikut : Tabel 4.4 Tabel Diagram Network Setelah Percepatan F1 pararel E9 Aktivitas Predecessor Durasi ES EF LS LF FF TF Keterangan A - 7 0 7 0 7 0 0 Jalur Kritis B A 7 7 14 7 65 0 51 C A 21 7 28 7 115 0 87 D1 A 13 7 20 7 20 0 0 Jalur Kritis D2 D1 21 20 41 20 100 0 59 D3 D1 14 20 34 20 124 0 90 D4 D7, D9 14 62 159 121 159 83 83 D5 D1 12 20 32 20 107 0 75 D6 D1 12 20 32 20 124 0 92 D7 D5 14 32 62 107 121 16 75 D8 C, D3, D6 21 34 91 124 145 36 90 D9 B, D2 21 41 62 100 121 0 59 D10 D7, D9 24 61 145 121 145 60 60 E1 D1 20 20 40 20 40 0 0 Jalur Kritis E2 E1 30 40 70 40 74 0 4 E3 E1 21 40 61 40 115 0 54 E4 E7, E9 18 100 159 100 159 41 41 E5 E1 14 40 54 40 82 0 28 E6 E1 14 40 54 40 115 0 61 E7 E5 18 54 100 82 100 28 28

70 E8 C, E3, E6 30 61 91 115 145 0 54 E9 B, E2 26 70 96 74 100 0 4 E10 E7, E9 45 96 145 100 145 4 4 F1 E1 11 40 51 40 51 0 0 Jalur Kritis F2 F1 14 51 65 51 65 0 0 Jalur Krtis F3 F1 7 51 58 51 83 0 25 F4 F3 12 58 95 83 95 25 25 F5 B, F2 30 65 95 65 95 0 0 Jalur Kritis F6 F4, F5 50 95 145 95 145 0 0 Jalur Kritis G1 F6, E10, D10 14 145 159 145 159 0 0 Jalur Kritis G2 E8, D8 14 91 159 145 159 59 59 G3 D4, E4, G1, G2 13 159 172 159 172 0 0 Jalur Kritis Percepatan Aktivitas F2 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {4, 2} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 7. Waktu penyelesaian proyek menjadi 170 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F1 + (172 hari 170 hari) slope biaya = USD 143.545,5 + 560 = USD 144.105,5 Percepatan Aktivitas F5 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 6} CL = 2

71 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 8. Waktu penyelesaian proyek menjadi 168 hari. Percepatan aktivitas F5 menyebabkan terjadinya jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan biaya slope terkecil USD 105 pada aktivitas E9. Dari percepatan aktivitas F1 pararel E9 diagram networknya seperti pada lampiran 9. Sedangkan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F2 + (170 168 hari) slope biaya pararel = USD 144.105,5 + {2 x (280 + 105)} = USD 144.875,5 Percepatan Aktivitas F6 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {4, 5} CL = 4 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 10. Waktu penyelesaian proyek menjadi 164 hari. Percepatan aktivitas F6 menyebabkan terjadinya jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan biaya slope terkecil USD 105 pada aktivitas E9. Dari percepatan aktivitas F1 pararel E9 diagram networknya seperti pada lampiran 11.Sedangkan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F5 + (168 164 hari) slope biaya pararel = USD 144.875,5 + {4 x (280 + 105)} = USD 146.415,5

72 Percepatan Aktivitas G1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {4, 2} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 12. Waktu penyelesaian proyek menjadi 162 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F6 + (164 hari 162 hari) slope biaya = USD 146.415,5 + (2 x 350) = USD 147.115,5 4.5 Program Evaluation and Review Technique (PERT) Tabel 4.5 Data Kegiatan Proyek (PERT) Aktiitas Predecessor a m b te s v Remarks A - 5 7 10 7 0.83 0.69 B A 6 7 10 7 0.67 0.44 C A 14 18 28 19 2.33 5.44 D1 A 12 14 18 14 1 1 D2 D1 14 18 28 19 2.33 5.44 D3 D1 12 14 19 15 1.17 1.36 D4 D7, D9 12 14 20 15 1.33 1.78 D5 D1 10 12 14 12 0.67 0.44 D6 D1 10 12 14 12 0.67 0.44 D7 D5 12 14 19 15 1.17 1.36 D8 C, D3, D6 18 21 30 22 2 4 D9 B, D2 14 21 28 21 2.33 5.44

73 D10 D7, D9 20 24 30 24 1.67 2.78 E1 D1 14 21 24 20 1.67 2.78 E2 E1 21 28 35 28 2.33 5.44 E3 E1 17 20 24 20 1.17 1.36 E4 E7, E9 14 18 24 18 1.67 2.78 E5 E1 12 14 19 15 1.17 1.36 E6 E1 12 14 18 14 1 1 E7 E5 14 16 21 17 1.17 1.36 E8 C, E3, E6 24 30 35 30 1.83 3.36 E9 B, E2 24 30 35 30 1.83 3.36 E10 E7, E9 37 45 55 45 3 9 F1 E1 10 12 14 12 0.67 0.44 F2 F1 12 14 18 14 1 1 F3 F1 5 7 10 7 0.83 0.69 F4 F3 10 12 14 12 0.67 0.44 F5 B, F2 24 30 35 30 1.83 3.36 F6 F4, F5 40 48 59 49 3.17 10.03 G1 F6, E10, D10 10 14 17 14 1.17 1.36 G2 E8, D8 12 14 18 14 1 1 G3 D4, E4, G1, G2 12 14 17 14 0.83 0.69

74 Dari table data diatas maka disusun suatu diagram network seperti pada lampiran 13. Dari data lampiran 13 disusun suatu table diagram network sebagai berikut: Tabel 4.6 Tabel Diagram Network Waktu Normal (PERT) Aktivitas Predecessor Durasi ES EF LS LF FF TF Keterangan A - 7 0 7 0 7 0 0 Jalur Kritis B A 7 7 14 7 67 0 53 C A 19 7 26 7 116 0 90 D1 A 14 7 21 7 21 0 0 Jalur Kritis D2 D1 19 21 40 21 101 0 61 D3 D1 15 21 36 21 124 0 88 D4 D7, D9 15 61 160 122 160 84 84 D5 D1 12 21 33 21 107 0 74 D6 D1 12 21 33 21 124 0 91 D7 D5 15 33 61 107 122 13 74 D8 C, D3, D6 22 36 91 124 146 33 88 D9 B, D2 21 40 61 101 122 0 61 D10 D7, D9 24 61 146 122 146 61 61 E1 D1 20 21 41 21 41 0 0 Jalur Kritis E2 E1 28 41 60 41 71 0 2 E3 E1 20 41 61 41 116 0 55 E4 E7, E9 18 99 160 101 160 43 43 E5 E1 15 41 56 41 84 0 28 E6 E1 14 41 55 41 116 0 61 E7 E5 17 56 99 84 101 26 28 E8 C, E3, E6 30 61 91 116 146 0 55 E9 B, E2 30 69 99 71 101 0 2 E10 E7, E9 45 99 146 101 146 2 2 F1 E1 12 41 53 41 53 0 0 Jalur Kritis

75 F2 F1 14 53 67 53 67 0 0 Jalur Kritis F3 F1 7 53 60 53 85 0 25 F4 F3 12 60 97 85 97 25 25 F5 B, F2 30 67 97 67 97 0 0 Jalur Kritis F6 F4, F5 49 97 146 97 46 0 0 Jalur Kritis G1 F6, E10, D10 14 146 160 146 160 0 0 Jalur Kritis G2 E8, D8 14 91 160 146 160 55 55 G3 D4, E4, G1, G2 14 160 174 160 174 0 0 Jalur Kritis Tabel 4.7 Slope Biaya Penyelesaian Proyek (PERT) Akt. Predec. Normal Percepatan (Crashing) Durasi Manhour Cost Durasi Manhour Cost Slope Biaya Remarks A - 7 700 2,450 7 700 2,450 0 Jalur Kritis B A 7 280 980 7 280 980 0 C A 19 380 1,330 17 510 1,785 228 D1 A 14 1,120 3,920 10 1,200 4,200 70 Jalur Kritis D2 D1 19 1,140 3,990 15 1,200 4,200 53 D3 D1 15 600 2,100 13 780 2,730 315 D4 D7, D9 15 900 3,150 13 1,040 3,640 245 D5 D1 12 240 840 10 300 1,050 105 D6 D1 12 240 840 10 300 1,050 105 D7 D5 15 600 2,100 13 650 2,275 88 D8 C, D3, D6 22 880 3,080 18 1,080 3,780 175 D9 B, D2 21 1,680 5,880 17 1,700 5,950 18 D10 D7, D9 24 1,920 6,720 21 2,100 7,350 210 E1 D1 20 1,600 5,600 16 1,760 6,160 140 Jalur Kritis E2 E1 28 3,360 11,760 22 3,520 12,320 93 E3 E1 20 1,200 4,200 16 1,280 4,480 70 E4 E7, E9 18 1,440 5,040 16 1,600 5,600 280 E5 E1 15 300 1,050 13 390 1,365 158 E6 E1 14 280 980 12 360 1,260 140

76 E7 E5 17 340 1,190 15 450 1,575 193 E8 C, E3, E6 30 1,800 6,300 24 1,920 6,720 70 E9 B, E2 30 3,000 10,500 26 3,120 10,920 105 E10 E7, E9 45 3,600 12,600 40 4,000 14,000 280 F1 E1 12 480 1,680 10 600 2,100 210 F2 F1 14 560 1,960 12 720 2,520 280 Jalur Kritis Jalur Kritis F3 F1 7 280 980 5 300 1,050 35 F4 F3 12 840 2,940 10 1,000 3,500 280 F5 B, F2 30 2,400 8,400 24 2,880 10,080 280 F6 F4, F5 49 4,900 17,150 44 5,280 18,480 266 G1 F6, E10, D10 14 1,120 3,920 12 1,320 4,620 350 G2 E8, D8 14 840 2,940 12 960 3,360 210 G3 D4, E4, G1, G2 14 1,400 4,900 12 1,440 5,040 70 Jalur Kritis Jalur Kritis Jalur Kritis Jalur Kritis Percepatan Aktivitas G3 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 2} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 14. Waktu penyelesaian proyek menjadi 172 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Normal + (174 hari 172 hari) slope biaya = USD 141.470 + 140 = USD 141.610

77 Percepatan Aktivitas D1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 4} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 15. Waktu penyelesaian proyek menjadi 170 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing G3 + (172 hari 170 hari) slope biaya = USD 141.610 + 140 = USD 141.750 Percepatan Aktivitas E1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 4} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 16. Waktu penyelesaian proyek menjadi 168 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing D1 + (170 hari 168 hari) slope biaya = USD 141.750 + 280 = USD 142.030 Percepatan Aktivitas F1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 2} CL = 2

78 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 17. Percepatan F1 menyebabkan jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan slope biaya percepatan terkecil 93 pada aktivitas E2 sehingga diagram network percepatannya menjadi seperti pada lampiran 18. Waktu penyelesaian proyek menjadi 166 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing E1 + (168 166 hari) slope biaya Pararel = USD 142.030 + {(280+93) x 2} = USD 142.776 Percepatan Aktivitas F6 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 5} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 19. Percepatan F6 menyebabkan jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan slope biaya percepatan terkecil 93 pada aktivitas E2 sehingga diagram network percepatannya menjadi seperti pada lampiran 20. Waktu penyelesaian proyek menjadi 164 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F1 + (168 164 hari) slope biaya pararel = USD 142.776 + {(93 + 266) x 2} = USD 143.494

79 Percepatan Aktivitas F2 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 2} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 21. Percepatan F2 menyebabkan jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan slope biaya percepatan terkecil 93 pada aktivitas E2 sehingga diagram network percepatannya menjadi seperti pada lampiran 22. Waktu penyelesaian proyek menjadi 162 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F6 + (164 162 hari) slope biaya pararel = USD 143.494 + {(93 + 280) x 2} = USD 144.240 Percepatan Aktivitas F5 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 6} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 23. Percepatan F5 menyebabkan jalur kritis baru yaitu aktivitas E2 E9 E10 dengan slope biaya percepatan terkecil 93 pada aktivitas E2 sehingga diagram network percepatannya menjadi seperti pada lampiran 24. Waktu penyelesaian proyek menjadi 160 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F2 + (162 160 hari) slope biaya pararel = USD 144.240 + {(93 + 280) x 2} = USD 144.986

80 Percepatan Aktivitas G1 CL = min {FF, Crash limit} CL = min {2, 2} CL = 2 Diagram network percepatannya seperti pada lampiran 25. Waktu penyelesaian proyek menjadi 158 hari dengan biaya penyelesaian proyek sebesar : Biaya crashing = Biaya Crashing F2 + (160 158 hari) slope biaya = USD 144.986 + 700 = USD 145.686