13 METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Desember 2011 sampai Agustus 2012. Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian meliputi 23 varietas benih kedelai yaitu, Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi, Argopuro (Deskripsi varietas tertera pada Lampiran 1-23), etanol 96%, garam KCl, air bebas ion, kertas merang, plastik dan label. Alat yang digunakan dalam penelitian antara lain Mesin Pengusangan Cepat (MPC) IPB 77-1 MM, timbangan analitik, thermohigrometer, oven, cawan kadar air, toples, gelas ukur, desicator, glassjar, conductivity meter dan alat pengecambah benih IPB 72-1. Spesifikasi Mesin Pengusangan Cepat (MPC) IPB 77-1 MM Mesin Pengusangan Cepat (MPC) IPB 77-1 MM yang digunakan dalam penelitian merupakan hasil modifikasi prototype MPC IPB 77-1 MM yang telah ada sebelumnya, yang dilakukan oleh Suhartanto pada tahun 2011. Modifikasi dilakukan dengan menyederhanakan model ukuran alat menjadi lebih kecil (60% dari prototype MPC IPB 77-1 MM sebelumnya), serta melengkapi alat dengan perangkat pengusangan fisik (uap panas) dan kimia (uap etanol). MPC IPB 77-1 MM memungkinkan terjadinya devigorasi (kemunduran benih secara buatan) secara bertahap, yang dilakukan dengan cara menempatkan benih dalam keadaan non-stationer dan penderaannya dapat dilakukan dengan uap panas maupun uap etanol dalam periode waktu yang bertahap. Prinsip kerja MPC IPB 77-1 MM ialah memundurkan benih secara buatan dengan mengalirkan uap panas atau uap etanol
14 menggunakan kompresor, sehingga udara yang mengandung uap panas atau uap etanol dialirkan ke dalam wadah yang telah diisi benih yang akan diusangkan dengan bantuan motor penggerak untuk menempatkan benih pada kondisi nonstationer. Gambar 2 Tampak bagian depan MPC IPB 77-1 MM MPC IPB 77-1 MM berbentuk tabung besar dengan sebuah motor penggerak yang menempel pada bagian tutup ruang deraan (Gambar 2). Motor tersebut dihubungkan dengan sebuah kerekan (pulley) yang berfungsi untuk menggerakkan sebuah poros dalam ruang deraan, dimana pada permukaan poros tersebut terpasang 12 tabung wadah benih (Gambar 3). Perputaran tabung wadah benih tersebut akan menempatkan benih pada kondisi non-stationer, sehingga akan memudahkan uap penderaan mengenai seluruh permukaan benih yang terdapat dalam tabung saat proses pengusangan cepat benih berlangsung. Selain itu, dalam ruang deraan juga terdapat saluran uap untuk mengeluarkan uap penderaan ke dalam ruang deraan (Gambar 3). Gambar 3 Tampak bagian dalam MPC IPB 77-1 MM
15 Pada bagian samping MPC IPB 77-1 MM terdapat dua buah tombol hijau untuk mengatur waktu masuknya uap dan waktu penderaan, serta sebuah tombol merah sebagai timer (Gambar 4). Tombol pengatur waktu masuknya uap berfungsi untuk berapa lama uap deraan masuk kedalam ruang deraan, sedangkan tombol pengatur waktu penderaan berfungsi untuk mengatur berapa lama motor yang menggerakkan tabung-tabung benih berputar dalam ruang deraan. Tombol timer akan menyala berwarna merah dan berbunyi apabila waktu yang diatur telah habis. Tombol-tombol tersebut dapat diatur sesuai dengan waktu yang diinginkan sebelum proses pengusangan cepat benih dimulai. Gambar 4 Tampak bagian samping MPC IPB 77-1 MM MPC IPB 77-1 MM dirancang untuk penggunaan metode pengusangan cepat fisik dengan dilengkapi sebuah botol kaca yang berfungsi untuk wadah penampung air yang akan dipanaskan yang selanjutnya akan dialirkan secara langsung melalui selang menuju tabung pemanas air (heater) untuk menghasilkan uap panas. Uap panas yang dihasilkan dalam heater kemudian dialirkan menuju tabung penampung uap panas dan kemudian uap panas akan mengalir masuk kedalam ruang deraan. Tabung penampung uap panas dilengkapi oleh sebuah kran yang berfungsi untuk mengatur uap panas yang keluar dari tabung penampung uap panas. Perangkat untuk pengusangan fisik pada MPC IPB 77-1 MM secara umum dapat dilihat pada Gambar 5.
16 Gambar 5 Perangkat pengusangan fisik pada MPC IPB 77-1 MM MPC IPB 77-1 MM juga dirancang untuk penggunaan metode pengusangan cepat benih secara kimia yang dilengkapi dengan tiga buah tabung yang terdiri dari sebuah tabung pemanas etanol yang diapit oleh dua buah tabung penampung uap etanol yang digunakan untuk proses pengusangan cepat benih secara kimia. Etanol yang dimasukkan ke dalam tabung pemanas etanol kemudian dipanaskan hingga menghasilkan uap yang selanjutnya akan mengalir melalui selang ke dalam tabung penampung uap dan kemudian masuk ke dalam ruang deraan. Perangkat untuk pengusangan cepat benih secara kimia pada MPC IPB 77-1 MM secara umum dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6 Perangkat pengusangan kimia pada MPC IPB 77-1 MM Metode Penelitian Penelitian dibagi dalam tiga tahap percobaan. Tahap pertama ialah penentuan metode pengusangan cepat benih kedelai dengan MPC IPB 77-1 MM. Tahap kedua ialah penapisan beberapa varietas benih kedelai berdasarkan vigor daya simpannya melalui metode pengusangan cepat benih dengan MPC IPB 77-1
17 MM. Tahap ketiga adalah pengaruh periode simpan benih terhadap viabilitas dan vigor benih kedelai, dan selanjutnya dilakukan analisis perbandingan hasil penapisan beberapa varietas benih kedelai berdasarkan vigor daya simpan secara buatan (V DS-buatan ) dengan vigor daya simpan benih secara alami (V DS-alami ). Skema tahapan penelitian tertera pada Gambar 7. Benihkedelai Pengusangancepatbenihsec arakimia (uapetanol) Pengusangancepatbenihsec arafisik (uappanas) Metodepengusangancepatterpilih Penapisan vigor dayasimpanvarietasbenihkedelaisecarabuatan Penapisan vigor dayasimpanvarietasbenihkedelaisecaraalami Analisis V DS-buatan vs V DS-alami Variabel Pengamatan 1. Kadar Air 5. Kecepatan Tumbuh 2. Daya Berkecambah 6. Bobot Kering Kecambah Normal 3. Indeks Vigor 7. Daya Hantar Listrik 4. P 50 Gambar 7. Skema Tahapan Penelitian
18 Pelaksanaan Penelitian Percobaan 1 : Penentuan Metode Pengusangan Cepat Benih Kedelai dengan MPC IPB 77-1 MM Pengusangan Cepat Benih Kedelai secara Fisik dengan MPC IPB 77-1 MM Penelitian disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, yaitu waktu pengusangan cepat benih dan empat kali ulangan. Benih diusangkan cepat secara fisik menggunakan MPC IPB 77-1 MM selama 0 (kontrol), 1x10, 2x10, 3x10, 4x10, 5x10, 6x10 dan 7x10 menit. Benih kedelai yang digunakan ialah benih kedelai varietas Anjasmoro dengan jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan sebanyak 100 butir untuk masing-masing variabel pengamatan. Benih terlebih dahulu diukur kadar airnya sebelum diusangkan. Benih selanjutnya dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdP) pada alat pengecambah tipe IPB 72-1. Pengusangan Cepat Benih Kedelai secara Kimia dengan MPC IPB 77-1 MM Penelitian disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, yaitu lama waktu pengusangan cepat benih dan empat kali ulangan.benih diusangkan cepat secara kimia selama 0 (kontrol), 1x10, 2x10, 3x10, 4x10, 5x10, 6x10 dan 7x10 menit.benih kedelai yang digunakan ialah benih kedelai varietas Anjasmoro dengan jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan sebanyak 100 butir untuk masing-masing variabel pengamatan. Sebelum benih diusangkan, benih terlebih dahulu diukur kadar airnya. Setelah diusangkan, benih dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdP) pada alat pengecambah tipe IPB 72-1. Model linier rancangan yang digunakan dalam penelitian ialah sebagai berikut, Y ij = μ + τ i + ε ij (i = 1, 2, 3, 4,, 8; j = 1, 2, 3, 4) Y ij μ Keterangan : : Nilai pengamatan pada perlakuan pengusangan cepat benih ke-i dan ulangan ke-j : Nilai tengah umum
19 τ i ε ij : Pengaruh perlakuan pengusangan cepat benih ke-i : Galat percobaan Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji F pada taraf 5%. Apabila didapatkan hasil yang berpengaruh nyata, maka dilakukan analisis lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Penentuan Metode Terpilih Penentuan metode terpilih dilakukan melalui pendekatan dengan analisis regresi linier sederhana dan analisis korelasi. Pendekatan dengan analisis regresi linier sederhana bertujuan mengetahui dan menduga hubungan antara lama waktu pengusangan cepat benih dengan berbagai peubah viabilitas dan vigor benih. Persamaan regresi linier yang diperoleh dari analisis tersebut yaitu: y = a + bx Dimana, y : Peubah viabilitas dan vigor benih (peubah tak bebas) a : Titik potong garis dengan sumbu y b : Kemiringan garis x : Waktu pengusangan cepat benih (peubah bebas) Pendekatan dengan analisis regresi linier selain itu juga bertujuan untuk melihat pula nilai koefisien determinasi (R-Sq atau R 2 ). Metode pengusangan cepat benih yang dipilih ialah metode pengusangan cepat benih dengan nilai R 2 tertinggi pada persamaan regresi linier, dimana menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006) semakin besar nilai R 2 maka model persamaan semakin mampu menerangkan variabel y. Pendekatan dengan analisis korelasi dilakukan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu pengusangan cepat benih, dimana sumbu x ialah waktu pengusangan cepat benih dan sumbu y ialah peubah viabilitas dan vigor benih. Nilai koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat keeratan hubungan kedua peubah (Walpole 1997). Nilai koefisien korelasi yang mendekati 1 (r 1) menggambarkan adanya keeratan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu pengusangan cepat benih.
20 Prosedur Pelaksanaan Perlakuan Benih Lot benih kedelai varietas Anjasmoro terlebih dahulu diukur kadar airnya, kemudian direaktivasi sebelum diusangkan dengan cara dilembabkan selama 11 jam. Setelah benih direaktifasi selama 11 jam, benih diuji dengan dua metode pengusangan cepat benih yaitu, 1. Pengusangan cepat benih kedelai secara fisik dengan MPC IPB 77-1 MM Pengusangan cepat benih kedelai secara fisik menggunakan MPC IPB 77-1 ini dilakukan dengan menggunakan uap panas. Uap panas tersebut dihasilkan melalui proses pemanasan 900 ml air yang kemudian uap panas yang dihasilkan akan ditampung dan dialirkan ke dalam ruang deraan benih. Suhu dan kelembaban udara dalam ruang deraan akan mencapai konstan pada 51-52 o C dan 87-89% selama 90-120 menit. Selama proses pemanasan sampai uap panas masuk ke dalam ruang deraan, kran keluaran uap panas perlu dibuka untuk mengatur suhu dalam ruang deraan dengan cara membuang sebagian uap panas keluar. Setelah suhu dan kelembaban di dalam ruang deraan konstan, benih kedelai didera dengan uap panas selama 0, 1x10, 2x10, 3x10, 4x10, 5x10, 6x10 dan 7x10 menit. 2. Pengusangan cepat benih kedelai secara kimia dengan MPC IPB 77-1 MM Pengusangan cepat benih kedelai secara kimia menggunakan MPC IPB 77-1 ini dilakukan dengan menggunakan uap etanol 96%. Uap etanol dalam ruang deraan berasal dari proses pemanasan ±50 ml etanol 96% yang kemudian dialirkan ke dalam ruang deraan benih. Pengusangan cepat benih secara kimia menggunakan MPC IPB 77-1 MM ini tidak memerlukan waktu lama dalam proses pemanasan terlebih dahulu seperti pada proses pengusangan cepat benih secara fisik, sehingga benih kedelai dapat langsung didera dengan uap etanol selama 0, 1x10, 2x10, 3x10, 4x10, 5x10, 6x10 dan 7x10 menit. Suhu dan kelembaban udara dalam ruang deraan selama proses pengusangan berlangsung yaitu 30-32 o C dan 80-82%.
21 Jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan yaitu 100 benih untuk masing-masing analisis viabilitas dan vigor benih yang meliputi daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan daya hantar listrik. Percobaan 2 : Penapisan Varietas Benih Kedelai Berdasarkan Vigor Daya Simpannya melalui Metode Pengusangan Cepat Benih menggunakan MPC IPB 77-1 MM Pada percobaan ini, 23 varietas benih kedelai diusangkan dengan menggunakan metode pengusangan cepat benih terpilih hasil percobaan pertama. Varietas benih kedelai yang digunakan dalam percobaan ialah Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi dan Argopuro dengan jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan sebanyak 50 butir untuk masing-masing variabel pengamatan. Data pada percobaan ini dianalisis menggunakan pendekatan analisis regresi linier sederhana. Pendekatan analisis regresi linier bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan peubah waktu pengusangan cepat benih. Persamaan regresi linier yang diperoleh yaitu, y = a + bx Dimana, y : Peubah viabilitas dan vigor benih (peubah tak bebas) a : Titik potong garis dengan sumbu y b : Kemiringan garis x : Waktu pengusangan cepat benih (peubah bebas) Pendekatan dengan analisis korelasi juga dilakukan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu pengusangan cepat benih, dimana sumbu x ialah waktu pengusangan cepat benih dan sumbu y ialah peubah viabilitas dan vigor benih. Nilai koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat keeratan hubungan kedua peubah (Walpole 1997). Nilai koefisien korelasi yang
22 mendekati 1 (r 1) menggambarkan adanya keeratan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu pengusangan cepat benih. Berdasarkan hasil analisis regresi linier yang menggambarkan hubungan antara waktu pengusangan (sumbu x) dan variabel viabilitas dan vigor benih (sumbu y), akan diperoleh sudut kemiringan garis regresi (α). Data selanjutnya dianalisis berdasarkan nilai vigor daya simpan (V DS ) yang merupakan fungsi nilai dari vigor awal (V A ) benih dibagi dengan sudut kemiringan garis regresi (α). Vigor daya simpan V DS Vigor awal V A Sudut kemiringan garis regresi linier Nilai vigor daya simpan (V DS ) 23 varietas kedelai tersebut selanjutnya akan dikelompokkan menjadi dua kelompok benih yang memiliki nilai vigor daya simpan (V DS ) tinggi (diatas rata-rata) dan kelompok benih dengan nilai vigor daya simpan (V DS ) rendah (dibawah rata-rata) pada masing-masing variabel pengamatan. Prosedur Pelaksanaan Lot benih 23 varietas kedelai (Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi, Argopuro) terlebih dahulu diukur kadar airnya, kemudian direaktifasi sebelum diusangkan dengan cara dilembabkan selama 11 jam. Setelah benih direaktifasi selama 11 jam, benih diusangkan dalam MPC IPB 77-1 MM menggunakan metode pengusangan cepat benih terpilih hasil percobaan pertama, kemudian benih dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdP) pada alat pengecambah benih tipe IPB 72-1. Jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan yaitu 50 butir untuk masing-masing variabel pengamatan yang meliputi kadar air awal benih, daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan daya hantar listrik.
23 Percobaan 3 : Pengaruh Periode Simpan Benih terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kedelai Pada percobaan ini, benih 23 varietas kedelai (Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi dan Argopuro) disimpan selama 0, 2 4, 6, 8 dan 10 minggu pada ruang simpan tertutup dengan pengaturan suhu dan kelembaban udara menggunakan larutan garam jenuh. Larutan garam jenuh yang digunakan ialah KCl pada kesetimbangan kelembaban udara 83-85% dengan suhu ruang simpan 28-32 o C. Data pada percobaan ini dianalisis menggunakan pendekatan analisis regresi linier sederhana. Pendekatan analisis regresi linier bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan peubah waktu penyimpanan benih. Persamaan regresi linier yang diperoleh yaitu, y = a + bx Dimana, y : Peubah viabilitas dan vigor benih (peubah tak bebas) a : Titik potong garis dengan sumbu y b : Kemiringan garis x : Waktu penyimpanan benih (peubah bebas) Pendekatan dengan analisis korelasi juga dilakukan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu penyimpanan benih, dimana sumbu x ialah waktu penyimpanan benih dan sumbu y ialah peubah viabilitas dan vigor benih. Nilai koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat keeratan hubungan kedua peubah (Walpole 1997). Nilai koefisien korelasi yang mendekati 1 (r 1) menggambarkan adanya keeratan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu penyimpanan benih. Berdasarkan hasil analisis regresi linier yang menggambarkan hubungan antara waktu penyimpanan (sumbu x) dengan variabel viabilitas dan vigor benih (sumbu y), akan diperoleh sudut kemiringan garis regresi (α). Selanjutnya
24 dilakukan analisis nilai vigor daya simpan (V DS ) yang merupakan fungsi nilai dari vigor awal (V A ) benih dibagi dengan sudut kemiringan garis regresi (α). Vigor daya simpan V DS Vigor awal V A Sudut kemiringan garis regresi linier Nilai vigor daya simpan (V DS ) 23 varietas kedelai tersebut selanjutnya akan dikelompokkan menjadi dua kelompok benih yang memiliki nilai vigor daya simpan (V DS ) tinggi (diatas rata-rata) dan kelompok benih dengan nilai vigor daya simpan (V DS ) rendah (dibawah rata-rata) pada masing-masing variabel pengamatan. Prosedur Pelaksanaan Lot benih 23 varietas kedelai (Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi, Argopuro) terlebih dahulu diukur kadar airnya, kemudian disortir untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kemasan kantung plastik PP. Benih 23 varietas kedelai dalam kemasan tersebut kemudian disimpan selama 0 (kontrol), 2, 4, 6, 8 dan 10 minggu pada ruang simpan tertutup dengan pengaturan suhu dan kelembaban udara menggunakan larutan garam jenuh KCl pada kesetimbangan kelembaban udara 83-85% dengan suhu ruang simpan 28-32 o C (Hall 1957). Setelah benih disimpan, benih kemudian dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdP) pada alat pengecambah benih tipe IPB 72-1. Jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan yaitu 50 butir untuk masing-masing variabel pengamatan viabilitas dan vigor benih yang meliputi kadar air awal benih, daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan daya hantar listrik. Analisis Perbandingan Hasil Penapisan Beberapa Varietas Benih Kedelai berdasarkan Vigor Daya Simpan secara Buatan (V DS-buatan ) dengan Vigor Daya Simpan Benih secara Alami (V DS-alami ) Berdasarkan data hasil penapisan 23 varietas benih kedelai berdasarkan vigor daya simpannya melalui metode pengusangan cepat benih menggunakan MPC IPB 77-1 MM (V DS-buatan ) dengan hasil penapisan 23 varietas benih kedelai
25 berdasarkan vigor daya simpan alami benih (V DS-alami ), selanjutnya dilakukan analisis tingkat kesesuaian. Analisis tingkat kesesuaian penapisan berdasarkan V DS-buatan dengan V DS-alami dilakukan dengan cara menghitung persentase kesesuaian hasil penapisan 23 varietas benih kedelai pada masing-masing variabel pengamatan sesuai dengan rumus sebagai berikut, varietas dalam kelompok V DS-alami dan buatan yang sama %KS variabel x = x100% varietas yang dibandingkan Keterangan, %KS variabel x : Persentase kesesuaian penapisan varietas berdasarkan nilai vigor daya simpan pada variabel x Pengamatan Pengamatan dilakukan untuk menganalisis viabilitas dan vigor benih. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian meliputi beberapa variabel pengamatan sebagai berikut : 1. Kadar Air (%) Pengukuran kadar air benih dilakukan dengan menggunakan metode oven suhu rendah konstan (103±2 o C) selama (17±1) jam. Kadar air benih dihitung dengan rumus: (M2 M1) Kadar Air = x 100% (M2 M3) Keterangan : M1 : Berat cawan + tutup M2 : Berat benih + M1 sebelum dioven M3 : Berat benih + M1 setelah dioven 2. Daya Berkecambah (%) Uji daya berkecambah dilakukan dengan metode UKDdp (Uji Kertas Didirikan dalam Plastik). Daya berkecambah (DB) benih dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
26 Daya Berkecambah % KN I KN II Jumlah benih yang dikecambahkan x 100% Keterangan : KN I : Jumlah kecambah normal pada hari hitung pertama (hari ke-3) KN II : Jumlah kecambah normal pada hari hitung kedua (hari ke-5) 3. Indeks Vigor (%) Persentase kecambah normal pada hitungan pertama pengujian daya berkecambah menunjukkan persentase benih yang mampu berkecambah dalam kondisi optimum dan sub optimum, serta menunjukkan nilai indeks vigor benih tersebut. Nilai indeks vigor benih kedelai diperoleh pada hari ketiga pengamatan daya berkecambah. KN I Indeks Vigor % Jumlah benih yang dikecambahkan x 100% Keterangan : KN I : Jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (hari ke-3) 4. Kecepatan tumbuh (% kecambah normal/etmal) Pengujian kecepatan tumbuh dilakukan dengan mengambil dan menghitung jumlah kecambah normal setiap etmal (24 jam) dimulai sejak hari pertama pengecambahan hingga hari ke-5. Nilai kecepatan tumbuh menunjukkan persentase rerata kecambah yang tumbuh setiap hari. Nilai kecepatan tumbuh benih dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: t K CT = d Keterangan : K CT : Kecepatan tumbuh (% kecambah normal/etmal) t : Kurun waktu perkecambahan d : Persentase kumulatif kecambah normal per etmal 0 5. Bobot Kering Kecambah Normal (g) Seluruh bagian kecambah normal dibungkus dengan menggunakan kertas, kemudian dioven pada suhu 60 o C selama 3x24 jam. Kecambah
27 yang telah dioven kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama ±30 menit dan kemudian ditimbang. 6. P 50 (menit) P 50 merupakan pengukuran waktu pada saat perkecambahan menurun hingga 50% dari total perkecambahan benih. Satuan yang digunakan adalah menit. 7. Daya Hantar Listrik (µs cm -1 g -1 ) Pengujian daya hantar listrik (conductivity test) merupakan metode pengujian untuk mengetahui tingkat kebocoran zat metabolik dalam benih yang berasal dari adanya kerusakan membran kulit benih akibat deraan. Lot benih kedelai diambil sebanyak 50 butir secara acak, kemudian dimasukkan ke dalam glassjar, kemudian di tambahkan 250 ml air bebas ion. Glassjar ditutup dengan alumunium foil kemudian diletakkan pada kondisi suhu 20±2 o C selama 24 jam. Kemudian benih disaring dan air hasil perendaman benih diukur daya hantar listriknya menggunakan conductivity meter. Perhitungan konduktivitas benih menggunakan rumus sebagai berikut: konduktivitas sampel blanko μs. cm 1 berat benih g