BAB V PENUTUP 5.1. Bahasan

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR PUSTAKA. Ali, M & Asrori, M. (2004). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara. Ahmadi, A. (1999). Psikologi Sosial. Surabaya: Bina Ilmu.

PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL DITINJAU DARI TEMPAT TINGGAL (Studi pada Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren dan yang Tinggal bersama Orang Tua)

Piaget (dalam Hurlock, 2000) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa mencari identitas diri. Oleh karena itu, remaja berusaha mengenali dirinya

SKRIPSI. Oleh: Firdian Hidayat FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

KEPUASAN PERKAWINAN PADA PASANGAN BEDA USIA (Studi Pada Istri Yang Berusia Lebih Tua Daripada Usia Suami) SKRIPSI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN DAN DATA SATUAN ACARA PERKULIAHAN

HUBUNGAN RELIGIUSITAS DAN HARGA DIRI TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL PADA MAHASISWA

PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL MAHASISWA DITINJAU DARI TEMPAT TINGGAL (STUDI PADA MAHASISWA YANG TINGGAL DI ASRAMA DAN TINGGAL DENGAN ORANG TUA)

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN HIBURAN KOREA DENGAN BENTUK-BENTUK PERILAKU MODELING PADA REMAJA

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP) Mata Kuliah : Psikologi Sosial II

PENCAPAIAN STATUS IDENTITAS DIRI PADA REMAJA DI PONDOK PESANTREN SKRIPSI

PENGARUH BERMAIN SOSIAL PURA-PURA TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH SKRIPSI. Oleh : Indah Yunita Sari

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER

KOHESIVITAS KELOMPOK PADA REMAJA PENGGUNA TATO SKRIPSI

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI PARENTING TASK PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK BERPRESTASI NASIONAL DI SD X

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DAN HARGA DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA PUTRI KELAS X DI SMA KRISTEN 1 SALATIGA JURNAL

HUBUNGAN ANTARA PRASANGKA DENGAN INTENSI AGRESI PADA ETNIS JAWA TERHADAP ETNIS TIONGHOA SKRIPSI. Oleh : RAKHMAD NUR HIDAYAT NIM :

DAFTAR PUSTAKA. Azwar, S. (1987). Test Prestasi. Yogyakarta: Liberty. Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

EFIKASI DIRI, DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN SELF REGULATED LEARNING PADA SISWA KELAS VIII. Abstract

GAMBARAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA USIA TAHUN BERDASARKAN POLA ASUH AUTHORITATIVE NUR AFNI ANWAR LANGGERSARI ELSARI NOVIANTI S.PSI. M.

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN ALTRUISME. Naskah Publikasi

rendah terdapat 7 orang perawat yang menangani penyakit kronis dan 12 orang perwat yang menangani penyakit non-kronis. Adapun salah satu faktor lain

BAB V PENUTUP. 1. Pola asuh permisif orang tua berada pada tingkat tinggi dan rata-rata 68,82. dengan frekuensi siswa 71 orang dan prosentase 77,17 %.

yang baik dengan penggunanya sehingga dapat menarik minat membaca mahasiswa untuk berkunjung di perpustakaan. minat membaca pada mahasiswa disarankan:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA. Papalia, D. E, Stems, H. L, Feldman, R. D. & Camp, C. J. (2002). Adult Development and Aging (2 nd ed). New York:McGrawHill

yang lainnya, maupun interaksi dengan orang sekitar yang turut berperan di dalam aktivitas OMK itu sendiri,. Interaksi yang sifatnya saling

HUBUNGAN ANTARA CITRA TUBUH DENGAN SELF ESTEEM PADA WANITA YANG MELAKUKAN PERAWATAN DI SKIN CARE HALAMAN SAMPUL DEPAN NASKAH PUBLIKASI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN EFEKTIVITAS HUBUNGAN INTERPERSONAL PADA KARYAWAN SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA EMPATI DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA KARANG TARUNA DI DESA JETIS, KECAMATAN BAKI, KABUPATEN SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DENGAN KENAKALAN REMAJA (JUVENILE DELINQUENCY) PADASISWA DI SMA NEGERI 2 BABELAN

DAFTAR PUSTAKA. Arisandi, (2011), Emosi, (diakses pada tanggal

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA PERSAHABATAN DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA MAHASISWA BARU

BAB V PENUTUP 5.1 Bahasan

DAFTAR PUSTAKA. Ahmadi, Abu Drs. (2004).Psikologi belajar. Jakarta:Penerbit PT. Rineka Cipta

GAMBARAN PROFIL KEPRIBADIAN PADA REMAJA YANG KECANDUAN GAME ONLINE

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN KENAKALAN REMAJA. NASKAH PUBLIKASI Diajukan kepada Fakultas Psikologi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa :

Jurnal SPIRITS, Vol.6, No.1, November ISSN:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil uji analisis korelasi Kendal Tau diperoleh sebuah

PROBLEM PSIKOSOSIAL PADA REMAJA YANG ORANG TUA NYA MERANTAU NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

DAFTAR PUSTAKA. Alwisol Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press

KEBERMAKNAAN HIDUP WANITA SINGLE PARENT PADA MASA LANSIA SKRIPSI. Oleh : FIKRI THAUFANI

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN INTENSI MEROKOK PADA REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA EMPATI DENGAN MEMAAFKAN (FORGIVENESS) PADA PASANGAN YANG MELAKUKAN PERSELINGKUHAN. (Studi pada Suatu Hubungan Pacaran) SKRIPSI

DAFTAR PUSTAKA. Adhi, R Metropolitan. (11 Oktober 2003).

HUBUNGAN ANTARA SELF CONTROL DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA AKHIR SKRIPSI. Oleh: Astika Yudha Pratiwi

PERILAKU REMAJA DALAM HAL PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA PUBERTAS DI SMP YAYASAN PENDIDIKAN SHAFIYYATUL AMALIYYAH MEDAN TAHUN 2013

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI PADA SISWA KELAS XI MAN KENDAL

GAMBARAN PROFIL ORIENTASI MASA DEPAN BIDANG PERNIKAHAN PADA WANITA BEKERJA USIA TAHUN YANG BELUM MENIKAH. Siti Anggraini

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN

SKRIPSI OLEH : ZAINAL ABIDIN

menyebutkan dunia kerja serta hidup berumah tangga 1. Seniger, menjelaskan bahwa

Daftar Pustaka. Albery, P. I. & Munafo, M Psikologi Kesehatan. Panduan Lengkap dan Komprehensif Bagi Studi Kesehatan. Jakarta: Palmall.

KOMITMEN PERKAWINAN PADA PASANGAN USIA DINI SKRIPSI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Kreativitas siswa kelas V SD Se-Gugus I Kecamatan Bantul tahun. pelajaran 2011/2012 rata-rata pada kategori sedang.

HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA MAHASISWA FAKULTAS HUKUM ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS DIPONEGORO.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dengan judul penelitian Efektivitas Pelatihan Kecerdasan Emosi terhadap

CAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN SOSIAL SISWA DENGAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PROGRAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. 1. Ada hubungan negatif antara bimbingan sosial dengan tingkat kenakalan

DAFTAR PUSTAKA. Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN INTENSI PROSOSIAL PADA REMAJA WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN LAPAS ANAK KELAS II A KUTOARJO

HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PERILAKU ASERTIF. SISWA KELAS VIII MTs NEGERI PUNUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. secara bertahap yaitu adanya suatu proses kelahiran, masa anak-anak, remaja,

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI SOSIAL PADA SISWA KELAS AKSELERASI DI SMP N 7 KOTA JAMBI

DAFTAR PUSTAKA. Albine Emosi Bagaimana Mengenal Menerima dan Mengarahkannya. Yogyakarta: Kanisius.

HUBUNGAN ANTARA TIPE POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PERILAKU REMAJA AKHIR. Dr. Poeti Joefiani, M.Si

BAB V PENUTUP. bahwa faktor-faktor mempengaruhi Quality of Work Life karyawan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Berdasarkan uji Anti-image Matrices

HUBUNGAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR DAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 BANTUL TAHUN PELAJARAN 2016/2017 SKRIPSI

Hubungan Antara Kohesivitas Kelompok Dengan Konformitas Pada Wanita Perokok

DAFTAR PUSTAKA. Abdulhak., I. (2012). Penelitian Tindakan Dalam Pendidikan Nonformal. Jakarta : Grafindo Persada.

IDENTIFIKASI KONSEP DIRI SISWA YANG MEMILIKI PRESTASI BELAJAR RENDAH DI KELAS VIII SMP NEGERI 8 KOTA JAMBI

PENYESUAIAN DIRI PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI JOMPO (Studi Kasus di Pondok Lansia Yayasan Al-Ishlah Malang)

Abstrak. iii. Universitas Kristen Maranatha

HUBUNGAN ANTARA KETERTARIKAN INTERPERSONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA SMA ISLAM HIDAYATULLAH SEMARANG

ABSTRAK. i Universitas Kristen Maranatha

: dukungan sosial teman sebaya, pengungkapan diri, siswa

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

MENINGKATKAN EMPATI MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA SISWA KELAS X.2 SMA NEGERI 1 BRINGIN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PERBEDAAN TINGKAT KEMANDIRIAN ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SKRIPSI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Transkripsi:

BAB V PENUTUP 5.1. Bahasan Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara empati dengan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus pada siswa reguler SMP Manguni Surabaya. Koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut menunjukkan angka 0,894. Hal itu menunjukan bahwa besarnya hubungan antara empati dengan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya sebesar 0,894. Koefisien korelasi ini berkisar antara 0 sampai dengan 1, artinya korelasi antara variabel akan semakin kuat apabila koefisien korelasinya mendekati 1. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positifnyang signifikan antara empati dengan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya. Besarnya hubungan yang terjadi antara kedua variabel tersebut sebesar 0,894. Hal ini menandakan bahwa besarnya hubungan mendekati angka 1 yang berarti, kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang sangat kuat. Terdapat sumbangan efektif empati terhadap kecenderungan perilaku prososial sebesar 79,9%. Hal ini menunjukan 20,1% kecenderungan perilaku prososial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus dipengaruhi oleh faktor selain empati. Korelasi yang terjadi antara kedua variabel empati dengan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya menunjukan arah yang positif. Artinya, semakin tinggi empati siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus, maka 72

73 semakin besar kecenderungannya untuk berperilaku prososial pada saat siswa berkebutuhan khusus membutuhkan bantuan. Sebaliknya, semakin rendah empati siswa reguler, maka semakin kecil kecenderungannya untuk berperilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus. Arah korelai yang positif juga didukung dengan hasil tabulasi silang yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya. Frekuensi terbesar ialah 15 subjek dengan persentase 48.4% pada kolom empati tinggi dan prososial tinggi. Ada 7 subjek dengan persentase 22.6% yang memiliki empati tinggi dan prososial sangat tinggi. Pada 4 subjek dengan persentase 12.9% terdapat empati yang sangat tinggi dan prososial sangat tinggi, selain itu terdapat 4 subjek dengan persentase 12.9% yang memiliki empati sedang dan prososial tinggi. Selanjutnya ada 1 subjek dengan persentase 3.2% terdapat empati yang sangat rendah dan prososial yang rendah. Dari penjelasan diatas hasil tabulasi silang, terdapat 30 subjek siswa reguler menyatakan memiliki empati sangat tinggi hingga sedang dan kecenderungan perilaku prososial sangat tinggi hingga rendah. Kondisi ini menunjukan bahwa sebagian besar subjek siswa reguler memiliki empati dan kecenderungan perilaku prososial yang baik. Hanya ada 1 subjek reguler yang menyatakan memiliki empati sangat rendah dan memiliki kecenderungan perilaku prososial rendah. Berdasarkan perhitungan jenis kelamin 15 subjek laki-laki (48.4%) menyatakan memiliki empati sangat tinggi hingga sangat rendah dan prososial sangat tinggi hingga rendah, selanjutnya ada 16 subjek perempuan (51.6%) menyatakan memiliki empati sangat tinggi hingga sedang dan prososial sangat tinggi hingga tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara awal pada beberapa subjek siswa reguler yang memiliki kecenderungan perilaku prososial dan rasa empati. Tampak pada perilaku siswa reguler yang menunjukkan kecenderungan perilaku prososialnya terhadap siswa berkebutuhan khusus

74 dalam bentuk perilaku meminjamkan alat tulis, melihatkan buku paketnya pada siswa berkebutuhan khusus yang tidak membawa, memperlihatkan pekerjaan ke siswa berkebutuhan khusus, membenarkan dasi, dan memanggil guru saat siswa berkebutuhan khusus menangis. Selain itu sikap empati siswa reguler juga terlihat dari hasil wawancara bahwa siswa reguler merasa kasihan terhadap siswa berkebutuhan khusus karena sulit berpikir, tingkah lakunya kurang seperti anak normal, dan prihatin karena fisiknya yang kurang sempurna. Terlihat bahwa siswa reguler yang berjenis kelamin perempuan lebih memiliki rasa empati dan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus daripada siswa reguler yang berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan angket terbuka yang diisi oleh siswa berkebutuhan khusus rata-rata menyatakan bahwa siswa reguler memberikan bantuan pada siswa berkebutuhan khusus dengan cara memberitahukan jawaban yang tidak ia ketahui, meminjamkan catatan saat ia tidak masuk karena sakit, memberikan semangat (dukungan), membantu saat kesulitan mengerjakan tugas dan mencatat rangkuman, meminjamkan alat tulis, melihatkan buku paket ketika ia tidak membawa dan berbagi tempat duduk saat pelajaran komputer. Di antara 8 siswa berkebutuhan khusus menyatakan bahwa, 4 siswa diantaranya pernah diejek dan 4 siswa menyatakan bahwa tidak pernah diejek oleh siswa reguler. Empat orang siswa berkebutuhan khusus yang pernah diejek juga pernah diberi bantuan oleh siswa reguler. Ejekan berupa sebuah lontaran kalimat saat para siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus berada dalam situasi yang tidak mengenakkan. Hal tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan bagi para remaja umum yang masih duduk di bangku SMP. Meskipun ada beberapa siswa reguler yang mengejek siswa berkebutuhan khusus, namun sebagian siswa mau membantu siswa berkebutuhan khusus, sebagaimana terlihat dari

75 jawaban pada angket terbuka bagi siswa reguler serta hasil angket terbuka bagi siswa berkebutuhan khusus yang menyatakan bahwa siswa reguler juga memberikan bantuan pada mereka. padanya, karena ia suka menolong, senang dengan anak-anak disekolah, suka berteman dengan semuanya dan tulus berteman. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat terlihat bahwa empati siswa reguler secara umum terhadap siswa berkebutuhan khusus tergolong tinggi, sehingga memiliki kecenderungan perilaku prososial yang baik, walaupun ada perkecualian pada beberapa siswa reguler yang memiliki empati rendah dan kecenderungan perilaku prososial yang juga rendah. Hal ini sesuai dengan kondisi ideal dimana remaja usia 12 sampai 16 tahun yang telah memasuki masa remaja awal sudah mampu menunjukan rasa empatinya terhadap orang lain. Hal ini diperkuat oleh Damon (dalam Santrock, 2003: 453) yang menjelaskan bahwa pada usia 10 sampai 12 tahun, individu membentuk rasa empatinya terhadap orang lain yang hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Empati juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis kelamin. Menurut Trobst, Collins & Embree (dalam Baron & Byrne, 2005: 114), wanita mengekspresikan tingkat empati yang lebih tinggi daripada pria, hal ini disebabkan baik oleh perbedaan genetis atau perbedaan pengalaman sosialisasi. Pernyataan tersebut sesuai dengan data penelitian ini, dimana subjek berjenis kelamin perempuan sebanyak 16 subjek (51.6%) memiliki empati dan prososial kategori sangat tinggi hingga tinggi, dibandingkan subjek berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15 subjek (48.4%) yang memiliki empati dan prososial kategori sangat tinggi hingga rendah. Hasil penelitian ini juga tidak terlepas dari kelemahan, yaitu terbatasnya jumlah subjek penelitian sehingga hasil dari penelitian ini tidak

76 dapat digeneralisasikan pada sekolah-sekolah yang memiliki siswa berkebutuhan khusus di sekolah lainnya. 5.2. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a. Ada hubungan positif yang signifikan antara empati dan kecenderungan perilaku prososial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya. Semakin tinggi empati siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus, maka semakin tinggi pula kecenderungannya untuk berperilaku prososial pada siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya. Besarnya koefisien korelasi sebesar 0,894 dengan sumbangan efektif sebesar 79,9%. b. Distribusi frekuensi empati dengan kecenderungan perilaku prososial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya menunjukan sebanyak 15 siswa reguler memiliki empati tinggi dan kecenderungan perilaku prososial tinggi dengan persentase 48.4%. Ada 7 siswa reguler memiliki empati tinggi dan kecenderungan perilaku prososial yang sangat tinggi dengan persentase 22.6%, 4 siswa reguler terdapat empati sangat tinggi dan kecenderungan perilaku prososial sangat tinggi juga dengan persentase 12.9%, dan 4 siswa reguler lainnya juga mempunyai empati sedang dengan kecenderungan perilaku prososial tinggi dengan persentase 12.9%. sedangkan terdapat 1 siswa reguler yang memiliki empati sangat rendah dengan kecenderungan perilaku prososial rendah dengan persentase 3.2%.

77 c. Distribusi frekuensi antara empati dan kecenderungan perilaku prososial berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pada kategori jenis kelamin laki-laki yang memiliki empati sangat tinggi hingga rendah dan prososial sangat tinggi hingga rendah sebanyak 15 subjek dengan persentase 48.4% dan kategori jenis kelamin perempuan yang memiliki empati sangat tinggi hingga sedang dan prososial sangat tinggi hingga tinggi sebanyak 16% dengan persentase 51.6%. 5.3. Saran Beberapa saran yang dapat penulis berikan: 1. Bagi siswa reguler SMP Manguni Surabaya Saran bagi para siswa reguler yaitu, para siswa reguler memiliki rasa empati tinggi dan mau memberikan bantuan pada siswa berkebutuhan khusus. Para siswa reguler dapat mempertahankan empati dan perilaku prososial yang tinggi ini disebabkan karena siswa berkebutuhan khusus juga membutuhkan bantuan dari siswa reguler yang sebagai teman atau sahabatnya di sekolah. Siswa berkebutuhan khusus juga merasa senang dengan kehadiran siswa reguler yang mau memberikan bantuan. 2. Bagi siswa berkebutuhan khusus di SMP Manguni Surabaya Para siswa berkebutuhan khusus tidak perlu berkecil hati atau merasakan bahwa teman-temannya tidak mau membantu. Berdasarkan hasil penelitian ini teman-teman (siswa reguler) secara umum mau membantu dan memiliki rasa empati pada siswa berkebutuhan khusus. Hal itu dikarenakan siswa reguler bisa menerima kehadiran siswa berkebutuhan khusus sehingga dapat berinteraksi di lingkungan sekolah.

78 3. Bagi guru Berdasarkan hasil penelitian ini para siswa reguler memiliki empati dan dapat membimbing serta mengarahkan siswa reguler tetap bisa mempertahankan atau meningkatkan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus, sehingga mau bersukarela memberi bantuan pada siswa berkebutuhan khusus. 4. Bagi orangtua Para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak perlu khawatir pada anaknya ketika ia berinteraksi disekolah dengan teman-temannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, siswa reguler memiliki rasa empati dan mau membantu temannya yang berkebutuhan khusus. 5. Bagi penelitian lain a. Saran bagi peneliti selanjutnya ialah dapat meneliti di sekolah inklusi yang memiliki banyak subjek sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan. b. Dapat meneliti empati dan perilaku prososial atau dengan menggunakan konsep atau teori lainnya, seperti altruisme, maupun metode lainnya. Misalnya, menggunakan metode kualitatif untuk mengeksplorasi empati dan perilaku prososial, atau metode eksperimen untuk mengembangkan sikap berempati dan perilaku menolong (prososial) pada siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus.

DAFTAR PUSTAKA Aronson, E. Wilson, D.T & Akert, M.R. (1999). Social Psychology (3 th edition). Addison-Wesley Educational Publishers Inc. Azwar, S. (2005). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Azwar, S. (2010). Tes Prestasi: Fungsi Pengembangan dan Pengukuran Prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi (edisi ke-2). Yogyakarta: Pustaka Belajar. Baron, R.A., & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial Jilid Kesatu (edisi ke- 10). Jakarta: Erlangga. Baron, R.A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial Jilid Kedua (edisi ke- 10). Jakarta: Erlangga. Dayakisni, T, & Hudaniah. (2006). Psikologi Sosial (edisi revisi). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Delphine, D. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Setting Pendidikan Inklusi). Bandung: PT Refika Aditama. Hadi, S. (1996).Statistik 2. Yogyakarta: Andi offset. Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (edisi ke-5). Alih bahasa: Istiwidayanti, M. Soedjarwo, & S.M. Ridwan. Jakarta: Erlangga. Iswinari. (2002). Sosial Anak, Penyesuaian Gifted. Jurnal Anima Indonesian Psychological, 18, 71-79. Kurtines, W.M. & Gerwitz, J.L. (1992). Moralitas, Perilaku Moral dan Perkembangan Moral. Jakarta: UI Press. Laurence, D. (1999).Adolescence (5 th edition). McGraw-Hill. Mudjito, A.K. Harizal, M & Elfindri, SE.(2012). Pendidikan Inklusif. Jakarta: Baduose media Jakarta 79

80 Mangungsong, F. (2009). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid kesatu. Universitas Indonesia. Jakarta. Myres, D.G. (2010). Psikologi Sosial Jilid Kedua (edisi ke-10). Jakarta: Salemba Humanika. Nasution, A.H. (2004). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development Perkembangan Manusia Jilid Kedua (edisi ke-10). Alih bahasa: M. Brian. Jakarta: Salemba Humanika. Pratiwi, M.S & Asih, G.Y. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi. Dalam: Jurnal Sosial [On-line], Vol 1, no 1, hal 40. Diambil dari tanggal 2 September 2012 dari http://eprints.umk.ac.id/ 268/1/ 33-42.pdf. Purnamasari, A. Ekowarni, E. & Fadhli, A. (2003). Perbedaan Intensitas Prososial Siswa Smuan dan Ma Di Yogyakarta.. Vol 11, no 1, hal 32. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dalan & Gadjah Mada. Robert, S.F.(1997). Social Psychology (2 nd edition). USA: Prentice Hall, Inc. Soesilowindradini.(n.d). Psikologi Perkembangan (Masa Remaja). Surabaya: Usana offset printing Santrock, J.W. (2001). Child Development (9 th edition). McGraw-Hill. Santrock, J. W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja (6 th edition). Alih bahasa: B. Shinto & M. Sherly. Jakarta: Erlangga. Santrock, J.W. (2005). Psychology (7 th edition).mcgraw-hill. Santrock, J. W. (2009). Psikologi Pendidikan (edisi 3, buku 1). Jakarta: Alih bahasa: A. Diana. Salemba Humanika. Santrock, J. W. (2011). Masa Perkembangan Anak Jilid Kedua (edisi ke- 11). Alih bahasa: P. Verawaty & A. Wahyu. Jakarta: Salemba Humanika.

81 Santrock, J. W. (2011). Masa Perkembangan Anak Jilid Kedua (edisi ke- 11). Alih bahasa: P. Vaeawaty & A. Wahyu. Jakarta: Salemba Humanika. Silalahi, G.A. (2003). Metodologi Penelitian dan Studi Kasus. Sidoarjo: Citra Media Sukinah. (2010), Manajemen Strategik Implementasi Pendidikan Inklusif [On-line]. Jurnal Pendidikan Khusus, Vol 7, no 2, hal 40-51. Diambil pada tanggal 1 November 2012 dari Http://101.203.168.85/ sites/defaults /file/scann 0002.pdf. Sugiyono. (2005). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian pendidikan. Bandung: CV Alfabeta. Suryabrata, S. (2005). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: CV. Andi Offset. Taylor, S.E., Peaplau, L.A., & Sears, D.O. (2000). Social Psychology (10 th edition). Prentice Hall Internasional, Inc. Taylor, S.E. Peaplau, L.A., & Sears, D.O. (2006). Social Psychology (12 th edition). Prentice Hall Internasional, Inc. Taylor, S.E. (2009). Health Psychology (7 th edition). McGraw-Hill. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. (n.d.). Diambil pada tanggal 3 Oktober 2012 dari http://www.dikti.go.id /files/atur/uu20-2003sisdiknas.pdf.