BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perkerasan kaku (rigid pavement) atau perkerasan beton semen adalah perkerasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. cara membandingkan hasil perhitungan manual dengan hasil perhitungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut :

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. : 1 jalur, 2 arah, 2 lajur, tak terbagi

Perkerasan kaku Beton semen

BAB III METODE PERENCANAAN START

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. dalam perencanaan jalan, perlu dipertimbangkan beberapa faktor yang dapat

BAB II STUDI PUSTAKA. sarana perhubungan untuk distribusi barang dan jasa. Sistem jaringan ini diatur

SEMINAR NASIONAL HAKI Tiara Convention Hall, Medan Mei 2014

BAB IV ANALISA KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN BETON. genangan air laut karena pasang dengan ketinggian sekitar 30 cm. Hal ini mungkin

PERHITUNGAN TEBAL LAPIS PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT) PADA PROYEK PELEBARAN GERBANG TOL BELMERA RUAS TANJUNG MULIA DAN BANDAR SELAMAT-MEDAN LAPORAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN KAKU PADA RUAS JALAN LINGKAR MAJALAYA MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2002

GAMBAR KONSTRUKSI JALAN

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. Data yang digunakan untuk analisa tugas akhir ini diperoleh dari PT. Wijaya

Perencanaan perkerasan jalan beton semen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bina Marga dalam SKBI : dan Pavement Design (A Guide. lalu-lintas rencana lebih dari satu juta sumbu kendaraan niaga.

BAB 3 METODOLOGI. a. Peninjauan pustaka yang akan digunakan sebagai acuan penulisan dan

Pd T Perencanaan perkerasan jalan beton semen

ANALISIS PERHITUNGAN PERKERASAN KAKU PADA PROYEK JALAN TOL MEDAN-KUALANAMU KABUPATEN DELI SERDANG LAPORAN

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

ANALISIS PERBANDINGAN PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN KAKU DENGAN METODE BINA MARGA 2013 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS JALAN TOL SOLO NGAWI STA

Dwi Sulistyo 1 Jenni Kusumaningrum 2

Gambar Distribusi Pembebanan Pada Perkerasan Kaku dan Perkerasan Lentur

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau jalan rel atau jalan bagi pejalan kaki.(

PERENCANAAN KONSTRUKSI JALAN RAYA RIGID PAVEMENT (PERKERASAN KAKU)

ANALISA TEBAL PERKERASAN KAKU BERDASARKAN METODE BINA MARGA DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM VISUAL BASIC SKRIPSI

PENGARUH NILAI CBR TANAH DASAR DAN MUTU BETON TERHADAP TEBAL PELAT PERKERASAN KAKU METODE BINA MARGA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Abstrak BAB I PENDAHULUAN

TINJAUAN ULANG PERENCANAAN PERHITUNGAN TEBAL PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT) PROYEK JALAN

TINJAUAN ULANG PERHITUNGAN PERENCANAAN TEBALPERKERASAN KAKU(RIGID PAVEMENT) PROYEK

ANALISA PERHITUNGAN TEBAL LAPISAN PERKERASAN KAKU DENGAN METODE SNI Pd T PADA PROYEK PELEBARAN JALAN BATAS KOTA MEDAN TEMBUNG LUBUK PAKAM

RANCANGAN RIGID PAVEMENT UNTUK OVERLAY JALAN DENGAN METODE BETON MENERUS DENGAN TULANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4.3 URAIAN MATERI III : KARAKTERISTIK MATERIAL BETON PERKERASAN KAKU ( RIGIT PAVEMENT) JALAN

PERENCANAAN JALAN RING ROAD BARAT PEREMPATAN CILACAP DENGAN MENGGUNAKAN BETON

KOMPARASI HASIL PERENCANAAN RIGID PAVEMENT MENGGUNAKAN METODE AASHTO '93 DAN METODE Pd T PADA RUAS JALAN W. J. LALAMENTIK KOTA KUPANG

PERENCANAAN JALAN DENGAN PERKERASAN KAKU MENGGUNAKAN METODE ANALISA KOMPONEN BINA MARGA (STUDI KASUS : KABUPATEN LAMPUNG TENGAH PROVINSI LAMPUNG)

RUANG LINGKUP PENULISAN Mengingat luasnya perencanaan ini, maka batasan masalah yang digunakan meliputi :

Perencanaan Ulang Jalan Raya MERR II C Menggunakan Perkerasan Kaku STA Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur

I. PENDAHULUAN A. SEJARAH PERKEMBANGAN JALAN RAYA

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

PENGARUH BEBAN BERLEBIH TERHADAP TEBAL PERKERASAN KAKU METODE DEPKIMPRASWIL 2003

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hobbs (1995), ukuran dasar yang sering digunakan untuk

TUGAS AKHIR ALTERNATIF PENINGKATAN KONSTRUKSI JALAN DENGAN METODE PERKERASAN LENTUR DAN KAKU DI JL. HR. RASUNA SAID KOTA TANGERANG.

Study of Comparative Methods of Flexible Pavement and Rigid Pavement Alfikri 1), Hendra Taufik 2) 1)

SKRIPSI PERBANDINGAN PERHITUNGAN PERKERASAN LENTUR DAN KAKU, DAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN (STUDI KASUS BANGKALAN-SOCAH)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI. Dimensi, berat kendaraan, dan beban yang dimuat akan menimbulkan. dalam konfigurasi beban sumbu seperti gambar 3.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perbandingan Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku serta Analisa Ekonominya pada Proyek Jalan Sindang Barang Cidaun, Cianjur.

LAPISAN STRUKTUR PERKERASAN JALAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum

Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN

PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LAHAN PENUMPUKAN CONTAINER DI PT. KBN MARUNDA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN HASIL PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN JALAN TIPE PERKERASAN KAKU ANTARA METODE AASHTO 1993 DENGAN METODE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PERBANDINGAN PERENCANAAN PERKERASAN KAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE

BAB II LANDASAN TEORI

Perbandingan Konstruksi Perkerasan Lentur dan Perkerasan Kaku serta Analisis Ekonominya pada Proyek Pembangunan Jalan Lingkar Mojoagung

BAB 1 PENDAHULUAN. sehingga memberikan kenyamanan kepada pengemudi selama masa pelayanan

BAB II DASAR TEORI. Lapisan pondasi bawah (subbase course) Lapisan pondasi atas (base course) Lapisan permukaan / penutup (surface course)

PERENCANAAN PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT) PADA RUAS JALAN BATAS KOTA PADANG SIMPANG HARU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Ketersediaan jalan adalah

PERENCANAAN TEBAL LAPIS PERKERASAN KAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2003 DAN METODE BEAM ON ELASTIC FOUNDATION

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN FLEXIBLE PAVEMENT DAN RIGID PAVEMENT. Oleh : Dwi Sri Wiyanti

BAB III METODA PENELITIAN

METODE PELAKSANAAN DAN ESTIMASI (PERKIRAAN) BIAYA PADA LAPIS PERKERASAN JALAN BETON

BAB 3 Bab 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERBANDINGAN KONSTRUKSI PERKERASAN LENTUR DAN PERKERASAN KAKU PADA PROYEK PEMBANGUNAN PASURUAN- PILANG KABUPATEN PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

1. PENDAHULUAN. Jalan memiliki syarat umum yaitu dari segi konstruksi harus kuat, awet dan kedap. Supardi 1)

TINJAUAN KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR BETON MENGGUNAKAN TRAS JATIYOSO SEBAGAI PENGGANTI PASIR UNTUK PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT)

PENGGUNAAN METODE CAKAR AYAM MODIFIKASI SEBAGAI SOLUSI PEMBANGUNAN JALAN DI ATAS TANAH EKSPANSIF

UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB I. SEJARAH PERKERASAN JALAN.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DR. EVA RITA UNIVERSITAS BUNG HATTA

Selamat Datang. Tak kenal maka tak sayang Sudah kenal maka tambah sayang

Memperoleh. oleh STUDI PROGRAM MEDAN

Pelaksanaan Pembangunan Jalan Cisalatri Bandung

4.4 URAIAN MATERI : METODE ANALISIS PERKERASAN KAKU Metode Analisis Perkerasan Kaku Berbagai cara dan metode analisis yang digunakan pada

ANALISA KERUSAKAN PERKERASAN JALAN DITINJAU DARI DAYA DUKUNG TANAH DAN VOLUME LALU LINTAS

BAB I PENDAHULUAN Perkembangan Teknologi Jalan Raya

BAB IV STUDI KASUS BAB 4 STUDI KASUS

Study of Efficiency Level Road Rigid Pavement and Flexible Pavement Tara Febria 1), Rian Trikomara 2), Hendra Taufik 3) 1)

2.4.5 Tanah Dasar Lapisan Pondasi Bawah Bahu Kekuatan Beton Penentuan Besaran Rencana Umur R

Agus Surandono 1) Rivan Rinaldi 2)

PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR RUAS JALAN PARINGIN- MUARA PITAP KABUPATEN BALANGAN. Yasruddin¹)

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Jenis perkerasan jalan, dapat berupa Perkerasan lentur (flexible pavement), Perkeraaan kaku (rigid pavement), dan Perkerasan Komposit, yang menggabungkan perkerasan kaku dan perkerasan lentur. Khusus untuk perkeraaan kaku (rigid pavement) yang terbuat dari beton semen, baik bertulang maupun tanpa tulangan dan lebih banyak digunakan pada ruas jalan yang mempunyai volume kendaraan berat yang tinggi serta sering mengalami banjir. Dengan telah dikembangkannya Perkeraaan kaku (rigid pavement) untuk pembangunan prasarana jalan di daerah perkotaan maupun di pedesaan, maka pemerintah terus menggalakkan pembangunannya baik pada ruas jalan negara, jalan provinsi, jalan kabupaten, maupun jalan desa ataupun lingkungan, mengingat perkerasan jalan ini lebih mampu mendukung beban kendaraan berat serta tahan terhadap genangan air. 2.2. Pengertian Jalan Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut : 1. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan atau air, serta II-1

di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. 2. Jalan Umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. 3. Jalan Khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. Yang dimaksud dengan jalan khusus, antara lain, adalah jalan di dalam kawasan pelabuhan, jalan kehutanan, jalan perkebunan, jalan inspeksi pengairan, jalan di kawasan industri, dan jalan di kawasan permukiman yang belum diserahkan kepada pemerintah. 4. Jalan Tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunaannya diwajibkan membayar tol. Karena jalan adalah sarana trasnportasi darat yang meliputi sebagai bagian jalan, termasuk bagian pelengkapnya, suatu tempat atau area yang berbentuk jalur yang digunakan sebagai prasarana transportasi, baik menggunakan kendaraan maupun jalan kaki, maka harus memenuhi persyaratan sesuai dengan fungsinya. Fungsi transportasi adalah memindahkan barang atau orang dari satu tempat ketempat lain, dengan cara aman, nyaman, lancar, dan ekonomis. (Irawan, 2012) 2.3. Klasifikasi dan Fungsi Jalan 2.3.1. Klasifikasi Menurut Sistem Jaringan Jalan 1. Sistem Jaringan Jalan Primer II-2

Sistem Jaringan Jalan Primer adalah sistem jaringan jalan bersifat menerus yang memberikan pelayanan lalu lintas tidak terputus walaupun masuk kedalam kawasan perkotaan. Sistem Jaringan Jalan Primer dimaksud merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. Kawasan yang mempunyai fungsi primer, antara lain : Industri berskala Regional, Bandar Udara, Pasar Induk, Pusat perdagangan skala Regional/Grosir. 2. Sistem Jaringan Jalan Sekunder Sistem Jaringan Jalan Sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. 2.3.2. Klasifikasi Menurut Fungsi Jalan 1. Jalan Arteri Jalan Arteri adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Angkutan utama adalah angkutan bernilai ekonomis tinggi dan volume besar. Jalan Arteri meliputi jalan Arteri Primer dan Arteri Sekunder. II-3

a) Jalan Arteri Primer merupakan jalan arteri dalam skala wilayah tingkat nasional. Menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua. Untuk Jalan Arteri Primer Wilayah Perkotaan, mengikuti kriteria sebagai berikut : 1) Jalan Arteri Primer dalam kota merupakan terusan arteri primer luar kota. 2) Jalan arteri primer melalui atau menuju kawasan primer. 3) Jalan arteri primer dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam. 4) Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 meter. 5) Lalu lintas jarak jauh pada jalan arteri primer adalah lalu lintas regional. Untuk itu, lalu lintas tersebut tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang-alik dan lalu lintas lokal dan kegiatan lokal. 6) Kendaraan angkutan berat dan kendaraan umum bus dapat diijinkan menggunakan jalan ini. 7) Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, jarak antara jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 meter. 8) Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu, sesuai dengan volume lalu lintasnya. Mempunyai II-4

kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas harian rata-rata. 9) Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih besar dari fungsi jalan yang lain. 10) Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan ini seharusnya tidak diijinkan. b) Jalan Arteri Sekunder merupakan jalan arteri dalam skala perkotaan. Menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan kesatu dengan kawasan sekunder kedua. Untuk Jalan Arteri Sekunder Perkotaan, mengikuti kriteria sebagai berikut : 1) Dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam. 2) Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 meter. 3) Kendaraan angkutan berat tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di daerah permukiman. 4) Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi. 5) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup. 6) Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari sistem primer. 2. Jalan Kolektor II-5

Jalan Kolektor adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Angkutan pengumpul adalah angkutan antara yang bersifat mengumpulkan angkutan setempat untuk diteruskan ke angkutan utama dan sebaliknya yang bersifat membagi dari angkutan utama untuk diteruskan ke angkutan setempat. Jalan Kolektor meliputi jalan Kolektor Primer dan jalan Kolektor Sekunder. a) Jalan Kolektor Primer merupakan jalan kolektor dalam skala wilayah. Menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga. Untuk Jalan Kolektor Primer Wilayah Perkotaan, kriterianya : 1) Jalan Kolektor Primer kota merupakan terusan kolektor primer luar kota. 2) Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri primer. 3) Dirancang dengan kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam. 4) Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 meter. 5) Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, jarak antara jalan masuk/akses langsung lebih dari 400 meter. II-6

6) Kendaraan angkutan berat dan bus dapat diijinkan memalui jalan ini. 7) Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu, sesuai dengan volume lalu lintasnya. 8) Kapasitasnya sama atau lebih besar dari volume LHR. 9) Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan ini seharusnya tidak diijinkan pada jam sibuk. 10) Dilengkapi dengan perlengkapan jalan yang cukup. 11) Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari jalan arteri primer. b) Jalan Kolektor Sekunder merupakan jalan kolektor dalam skala perkotaan. Menghubungkan kawasan sekunder dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan kedua dengan kawasan sekunder ketiga. Untuk Jalan Kolektor Sekunder Perkotaan, kriterianya sebagai berikut : 1) Dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam. 2) Lebar badan jalan tidak kurang dari 6 meter. 3) Kendaraan angkutan berat tidak diijinkan melalui fungsi jalan ini di daerah permukiman. 4) Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi. 5) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup. II-7

6) Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari sistem primer. 3. Jalan Lokal Jalan Lokal adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Angkutan setempat adalah angkutan yang melayani kebutuhan masyarakat setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rendah, dan frekuensi ulang-alik yang tinggi. Jalan Lokal meliputi jalan Lokal Primer dan jalan Lokal Sekunder. a) Jalan Lokal Primer merupakan jalan lokal dalam skala wilayah tingkat lokal. Menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga atau dibawahnya atau dengan persil. Untuk Jalan Lokal Primer daerah perkotaan, kriterianya : 1) Merupakan terusan lokal primer luar kota. 2) Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan primer lainnya. 3) Dirancang dengan kecepatan rencana 20 km/jam. 4) Lebar badan jalan tidak kurang dari 6 meter. 5) Kendaraan angkutan berat dan bus diijinkan melalui jalan ini. II-8

6) Besarnya LHR pada umumnya paling rendah dari sistem primer yang ada. b) Jalan Lokal Sekunder merupakan jalan lokal dalam skala perkotaan. Menghubungkan antar kawasan sekunder ketiga atau di bawahnya dan kawasan sekunder dengan perumahan. Untuk Jalan Lokal Sekunder daerah perkotaan, kriterianya : 1) Dirancang dengan kecepatan rencana 10 km/jam. 2) Lebar badan jalan tidak kurang dari 5 meter. 3) Kendaraan angkutan berat dan bus tidak diijinkan memalui jalan ini di daerah permukiman. 4) Besarnya LHR pada umumnya paling rendah dibandingkan dengan fungsi jalan lainnya. 4. Jalan Lingkungan Jalan Lingkungan adalah merupakan yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah. Jalan Lingkungan meliputi jalan Lingkungan Primer dan jalan Lingkungan Sekunder. a) Jalan Lingkungan Primer merupakan jalan lingkungan dalam skala wilayah tingkat lingkungan seperti di kawasan perdesaan di wilayah kabupaten. b) Jalan Lingkungan Sekunder merupakan jalan lingkungan dalam skala perkotaan seperti di lingkungan II-9

perumahan, perdagangan, dan pariwisata di kawasan perkotaan. (Irawan, 2012) 2.3.3. Klasifikasi Menurut Kelas Jalan Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan dalam menerima beban lau lintas yang dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton, dan kemampuan jalan tersebut dalam melayani lau lintas kendaraan dengan dimensi tertentu. Klasifikasi kelas jalan, fungsi jalan dan dimensi kendaraan maksimum kendaraan yang diizinkan melalui melalui jalan tersebut, menurut peraturan Pemerintah RI No.43/1993, pasal 11, ditunjukkan dalam tabel 2.1. Tabel 2.1 Klasifikasi jalan menurut kelas, fungsi, dimensi kendaraan dan muatan sumbu terberat (RSNI T-14-2004) Kelas Jalan Fungsi Jalan Dimensi Kendaraan Maksimum Panjang (m) Lebar (m) Muatan Sumbu Terberat, MST (ton) I 18 2,5 >10 II Arteri 18 2,5 10 IIIA 18 2,5 8 IIIA 18 2,5 8 Kolektor IIIB 12 2,5 8 IIIC Lokal 9 2,1 8 Sumber : Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah (2011) II-10

2.3.4. Klasifikasi Menurut Medan Jalan Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubhan-perubahan pada bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut. Tabel 2.2 Klasifikasi menurut medan jalan : No Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%) 1 Datar D < 3 2 Berbukit B 3-25 3 Pegunungan G >25 Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Ditjen Bina Marga (1997) 2.4. Perencanaan Perkerasan Perencanaan perkerasan dikelompokan menjadi (Suprapto,2006) : a. Perencanaan tebal perkerasan (structural pavement design), yaitu menentukan tebal perkerasan dan bagian-bagiannya, misalnya tebal lapis permukaan, tebal slab dan lain-lain. b. Perencanaan bahan lapis perkerasan (paving mixture design), yaitu menentukan jenis dan kualitas bahan yang akan digunakan untuk II-11

lapis-lapis perkerasan, misalnya : persyaratan aspal, batu, kualitas beton, kualitas beton aspal dan lain-lain. Perencanaan perkerasan merupakan kajian dasar dalam merencanakan tipe perkerasan yang tepat untuk dapat melayani beban lalu lintas. Agar perkerasan memiliki kinerja yang baik, maka perencanaannya harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : a. Kinerja Perkerasan Hal ini berkaitan dengan volume lalu lintas yang dilayani dan beban kendaraan yang melewati perkerasan tersebut. b. Umur Rencana Merupakan kemampuan masa layan jalan yang dinyatakan dalam tahun. Biasanya umur rencana berkisar antara 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun. c. Biaya Pemeliharaan Perkerasan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dari jalan yang akan dibangun, dapat menekan biaya pemeliharaan akibat kerusakan jalan yang terjadi. d. Kecepatan Pelaksanaan Dampak dari pembangunan jalan perlu diperhatikan agar lalu lintas tidak terganggu terlalu lama oleh pelaksanaan proyek. 2.5. Tipe-Tipe Perkerasan 1) Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) II-12

Perkerasan yang bahan pengikatnya adalah aspal. Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima beban lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya terus ke tanah dasar. 2) Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) Perkerasan kaku yang bahan pengikatnya adalah beton semen, sehingga sering disebut juga perkerasan beton semen (concrete pavement). Perkerasan beton yang kaku dan memiliki moduluds elastisitas tinggi, akan mendistribusikan beban ke tanah dasar sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. 3) Perkerasan Komposit (Composite Pavement) Merupakan gabungan konstruksi perkerasan kaku dan lapisan perkerasan lentur di atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerjasama dalam memikul beban lau lintas. (Mawarno, 2010) Perbedaan utama dari perkerasan lentur dan kaku adalah : Tabel 2.3 Perbedaan perkersan lentur dan kaku Perkerasan Lentur Perkerasan Kaku 1 Bahan pengikat Aspal Semen 2 Penurunan tanah dasar Jalan bergelombang (mengikuti tanah dasar) Bersifat sebagai balok di atas perletakan II-13

3 Repetisi beban Timbul rutting (lendutan pada jalur roda) Timbul retak pada permukaan Modulus kakakuan Modulus kekakuan 4 Perubahan temperatur berubah dan timbul tegangan dalam yang tidak berubah dan timbul tegangan dalam kecil yang besar. Sumber : Indriany (n.d) 2.6. Perkerasan Kaku Perkerasan kaku atau perkerasan beton semen dibedakan menjadi 4 jenis: - Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan - Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan - Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan - Perkerasan beton semen pra-tegang Perkerasan beton semen adalah struktur yang terdiri atas pelat beton semen yang bersambung (tidak menerus) tanpa atau dengan tulangan, atau menerus dengan tulangan, terletak di atas lapis pondasi bawah atau tanah dasar, tanpa atau dengan lapis permukaan beraspal. Struktur perkerasan beton semen secara tipikal sebagaimana terlihat pada Gambar 2.1. II-14

Gambar 2. 1. Tipikal struktur perkerasan beton semen (Sumber : Pd T-14-2003) Pada perkerasan beton semen, daya dukung perkerasan terutama diperoleh dari pelat beton. Sifat, daya dukung dan keseragaman tanah dasar sangat mempengaruhi keawetan dan kekuatan perkerasan beton semen. Faktorfaktor yang perlu diperhatikan adalah kadar air pemadatan, kepadatan dan perubahan kadar air selama masa pelayanan. Lapis pondasi bawah pada perkerasan beton semen adalah bukan merupakan bagian utama yang memikul beban, tetapi merupakan bagian yang berfungsi sebagai berikut : - Mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar. - Mencegah intrusi dan pemompaan pada sambungan, retakan dan tepitepi pelat. - Memberikan dukungan yang mantap dan seragam pada pelat. - Sebagai perkerasan lantai kerja selama pelaksanaan. Pelat beton semen mempunyai sifat yang cukup kaku serta dapat menyebarkan beban pada bidang yang luas dan menghasilkan tegangan yang rendah pada lapisan-lapisan dibawahnya. Bila diperlukan tingkat kenyaman yang II-15

tinggi, permukaan perkerasan beton semen dapat dilapisi dengan lapis campuran beraspal setebal 5 cm. 2.7. Penentuan Ketebalan Perkerasan Kaku Metode Bina Marga Pd T-14-2003 2.7.1. Tanah Dasar Daya dukung tanah dasar ditentukan dengan pengujian CBR insitu sesuai dengan SNI 031731-1989 atau CBR laboratorium sesuai dengan SNI 03-1744-1989, masing-masing untuk perencanaan tebal perkerasan lama dan perkerasan jalan baru. Apabila tanah dasar mempunyai nilai CBR lebih kecil dari 2 %, maka harus dipasang pondasi bawah yang terbuat dari beton kurus (Lean-Mix Concrete) setebal 15 cm yang dianggap mempunyai nilai CBR tanah dasar efektif 5 %. 2.7.2. Pondasi Bawah Bahan pondasi bawah dapat berupa : - Bahan berbutir. - Stabilisasi atau dengan beton kurus giling padat (Lean Rolled Concrete) - Campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete). Lapis pondasi bawah perlu diperlebar sampai 60 cm diluar tepi perkerasan beton semen. Untuk tanah ekspansif perlu pertimbangan khusus perihal jenis dan penentuan lebar lapisan pondasi dengan memperhitungkan tegangan pengembangan yang mungkin timbul. Pemasangan lapis pondasi dengan lebar sampai ke tepi luar lebar jalan II-16

merupakan salah satu cara untuk mereduksi prilaku tanah ekspansif. Tebal lapisan pondasi minimum 10 cm yang paling sedikit mempunyai mutu sesuai dengan SNI No. 03-6388-2000 dan AASHTO M-155 serta SNI 03-1743-1989. Bila direncanakan perkerasan beton semen bersambung tanpa ruji, pondasi bawah harus menggunakan campuran beton kurus (CBK). Tebal lapis pondasi bawah minimum yang disarankan dapat dilihat pada Gambar 2.2 dan CBR tanah dasar efektif didapat dari Gambar 2.3. Gambar 2.2. Tebal pondasi bawah minimum untuk perkerasan beton semen. (Sumber : Pd T-14-2003) II-17

Gambar 2.3. CBR tanah dasar efektif dan tebal pondasi bawah (Sumber : Pd T-14-2003) 2.7.3. Pondasi bawah material berbutir Material berbutir tanpa pengikat harus memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI 03-63882000. Persyaratan dan gradasi pondasi bawah harus sesuai dengan kelas B. Sebelum pekerjaan dimulai, bahan pondasi bawah harus diuji gradasinya dan harus memenuhi spesifikasi bahan untuk pondasi bawah, dengan penyimpangan ijin 3% - 5%. Ketebalan minimum lapis pondasi bawah untuk tanah dasar dengan CBR minimum 5% adalah 15 cm. Derajat kepadatan lapis pondasi bawah minimum 100%, sesuai dengan SNI 03-1743-1989. 2.7.4. Pondasi bawah dengan bahan pengikat (Bound Sub-base) Pondasi bawah dengan bahan pengikat (BP) dapat digunakan salah satu dari : II-18

(i) Stabilisasi material berbutir dengan kadar bahan pengikat yang sesuai dengan hasil perencanaan, untuk menjamin kekuatan campuran dan ketahanan terhadap erosi. Jenis bahan pengikat dapat meliputi semen, kapur, serta abu terbang dan/atau slag yang dihaluskan. (ii) Campuran beraspal bergradasi rapat (dense-graded asphalt). (iii) Campuran beton kurus giling padat yang harus mempunyai kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari minimum 5,5 MPa (55 kg/cm 2 ). 2.7.5. Pondasi bawah dengan campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete) Campuran Beton Kurus (CBK) harus mempunyai kuat tekan beton karakteristik pada umur 28 hari minimum 5 MPa (50 kg/cm2 ) tanpa menggunakan abu terbang, atau 7 MPa (70kg/cm2) bila menggunakan abu terbang, dengan tebal minimum 10 cm. 2.7.6. Lapis pemecah ikatan pondasi bawah dan pelat Perencanaan ini didasarkan bahwa antara pelat dengan pondasi bawah tidak ada ikatan. Jenis pemecah ikatan dan koefisien geseknya dapat dilihat pada Tabel 2.4. Tabel 2.4 Nilai koefisien gesekan (µ) Koefisien No. Lapis pemecah ikatan gesekan (µ) 1 Lapis resap ikat aspal di atas permukaan 1,0 II-19

pondasi bawah 2 Laburan parafin tipis pemecah ikat 1,5 3 Karet kompon (A chlorinated rubber curing compound) 2,0 Sumber : Pd T-14-2003 2.7.7. Beton semen Kekuatan beton harus dinyatakan dalam nilai kuat tarik lentur (flexural strength) umur 28 hari, yang didapat dari hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga titik (ASTM C-78) yang besarnya secara tipikal sekitar 3 5 MPa (30-50 kg/cm2). Kuat tarik lentur beton yang diperkuat dengan bahan serat penguat seperti serat baja, aramit atau serat karbon, harus mencapai kuat tarik lentur 5 5,5 MPa (50-55 kg/cm). Kekuatan rencana harus dinyatakan dengan kuat tarik lentur karakteristik yang dibulatkan hingga 0,25 MPa (2,5 kg/cm2) terdekat. Hubungan antara kuat tekan karakteristik dengan kuat tarik-lentur beton dapat didekati dengan rumus berikut : f cf = K (fc ) 0,50 dalam MPa atau.... (2.1) f cf = 3,13 K (fc ) 0,50 dalam kg/cm2... (2.2) Dengan pengertian : fc : kuat tekan beton karakteristik 28 hari (kg/cm²) f cf : kuat tarik lentur beton 28 hari (kg/cm 2 ) K : konstanta, 0,7 untuk agregat tidak dipecah dan 0,75 untuk agregat pecah. II-20

Kuat tarik lentur dapat juga ditentukan dari hasil uji kuat tarik belah beton yang dilakukan menurut SNI 03-2491-1991 sebagai berikut : f cf = 1,37.f cs dalam MPa atau..... (2.3) f cf = 13,44.f cs, dalam kg/cm 2....... (2.4) Dengan pengertian : fcs : kuat tarik belah beton 28 hari Beton dapat diperkuat dengan serat baja (steel-fibre) untuk meningkatkan kuat tarik lenturnya dan mengendalikan retak pada pelat khususnya untuk bentuk tidak lazim. Serat baja dapat digunakan pada campuran beton, untuk jalan plaza tol, putaran dan perhentian bus. Panjang serat baja antara 15 mm dan 50 mm yang bagian ujungnya melebar sebagai angker dan/atau sekrup penguat untuk meningkatkan ikatan. Secara tipikal serat dengan panjang antara 15 dan 50 mm dapat ditambahkan ke dalam adukan beton, masing-masing sebanyak 75 dan 45 kg/m³. Semen yang akan digunakan untuk pekerjaan beton harus dipilih dan sesuai dengan lingkungan dimana perkerasan akan dilaksanakan. 2.7.8. Lalu-lintas Penentuan beban lalu-lintas rencana untuk perkerasan beton semen, dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan niaga (commercial vehicle), sesuai dengan konfigurasi sumbu pada lajur rencana selama umur rencana. Lalu-lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan volume lalu-lintas dan konfigurasi sumbu, menggunakan data terakhir atau data 2 tahun terakhir. II-21

Kendaraan yang ditinjau untuk perencanaan perkerasan beton semen adalah yang mempunyai berat total minimum 5 ton. Konfigurasi sumbu untuk perencanaan terdiri atas 4 jenis kelompok sumbu sebagai berikut : - Sumbu tunggal roda tunggal (STRT). - Sumbu tunggal roda ganda (STRG). - Sumbu tandem roda ganda (STdRG). - Sumbu tridem roda ganda (STrRG). 2.7.9. Lajur rencana dan koefisien distribusi Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu ruas jalan raya yang menampung lalu-lintas kendaraan niaga terbesar. Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur, maka jumlah lajur dan koefsien distribusi (C) kendaraan niaga dapat ditentukan dari lebar perkerasan sesuai Tabel 2.5. Tabel 2.5 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan dan koefisien distribusi (C) kendaraan niaga pada lajur rencana Lebar perkerasan (Lp) Jumlah lajur (nl) Koefisien distribusi 1 Arah 2 Arah Lp < 5,50 m 1 lajur 1 1 5,50 m L p < 8,25 m 2 lajur 0,7 0,5 8,25 m L p < 11,25 m 3 lajur 0,5 0,475 11,23 m L p < 15,00 m 4 lajur - 0,45 15,00 m L p < 18,75 m 5 lajur - 0,425 18,75 m L p < 22,00 m 6 lajur - 0,4 Sumber : Pd T-14-2003 II-22

2.7.10. Umur rencana Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan klasifikasi fungsional jalan, pola lalu-lintas serta nilai ekonomi jalan yang bersangkutan, yang dapat ditentukan antara lain dengan metode Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return, kombinasi dari metode tersebut atau cara lain yang tidak terlepas dari pola pengembangan wilayah. Umumnya perkerasan beton semen dapat direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun sampai 40 tahun. 2.7.11. Pertumbuhan lalu-lintas Volume lalu-lintas akan bertambah sesuai dengan umur rencana atau sampai tahap di mana kapasitas jalan dicapai denga faktor pertumbuhan lalu-lintas yang dapat ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut : (2.5) Dengan pengertian : R : Faktor pertumbuhan lalu lintas i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %. UR : Umur rencana (tahun) Faktor pertumbuhan lalu-lintas (R) dapat juga ditentukan berdasarkan Tabel 2.6. II-23

Tabel 2.6 Faktor pertumbuhan lalu-lintas ( R) Umur Rencana (Tahun) Laju Pertumbuhan (i) per tahun (%) 0 2 4 6 8 10 5 5 5,2 5,4 5,6 5,9 6,1 10 10 10,9 12 13,2 14,5 15,9 15 15 17,3 20 23,3 27,2 31,8 20 20 24,3 29,8 26,8 45,8 57,3 25 25 32 41,6 54,9 73,1 98,3 30 30 40,6 56,1 79,1 113,3 164,5 35 35 50 73,7 111,4 172,3 271 40 40 60,4 95 154,8 259,1 442,6 Sumber : Pd T-14-2003 Apabila setelah waktu tertentu (URm tahun) pertumbuhan lalulintas tidak terjadi lagi, maka R dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: Dengan pengertian :. (2.6) R : Faktor pertumbuhan lalu lintas i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %. URm : Waktu tertentu dalam tahun, sebelum UR selesai. II-24

2.7.12. Lalu-lintas rencana Lalu-lintas rencana adalah jumlah kumulatif sumbu kendaraan niaga pada lajur rencana selama umur rencana, meliputi proporsi sumbu serta distribusi beban pada setiap jenis sumbu kendaraan. Beban pada suatu jenis sumbu secara tipikal dikelompokkan dalam interval 10 kn (1 ton) bila diambil dari survai beban. Jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana dihitung dengan rumus berikut : JSKN = JSKNH x 365 x R x C... (2.7) Dengan pengertian : JSKN : Jumlah total sumbu kendaraan niaga selama umur rencana. JSKNH : Jumlah total sumbu kendaraan niaga per hari pada saat jalan dibuka. R : Faktor pertumbuhan komulatif dari Rumus (2.5) atau Tabel 2.3 atau Rumus (2.6), yang besarnya tergantung dari pertumbuhan lalu lintas tahunan dan umur rencana. C : Koefisien distribusi kendaraan 2.7.13. Faktor keamanan beban Pada penentuan beban rencana, beban sumbu dikalikan dengan faktor keamanan beban (FKB). Faktor keamanan beban ini digunakan berkaitan adanya berbagai tingkat realibilitas perencanaan seperti telihat pada Tabel 2.7. II-25

Tabel 2.7 Faktor keamanan beban (F KB ) No 1 2 Penggunaan Jalan bebas hambatan utama (major freeway) dan jalan berlajur banyak, yang aliran lalu lintasnya tidak terhambat serta volume kendaraan niaga yangtinggi. Bila menggunakan data lalu-lintas dari hasil survai beban (weight-in-motion) dan adanya kemungkinan route alternatif, maka nilai factor keamanan beban dapat dikurangi menjadi 1,15. Jalan bebas hambatan (freeway) dan jalan arteri dengan volume kendaraan niaga menengah. Nilai F KB 1,2 1,1 3 Jalan dengan volume kendaraan niaga rendah. 1,0 Sumber : Pd T-14-2003 2.7.14. Sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) Pemasangan sambungan memanjang ditujukan untuk mengendalikan terjadinya retak memanjang. Jarak antar sambungan memanjang sekitar 3-4 m. Sambungan memanjang harus dilengkapi dengan batang ulir dengan mutu minimum BJTU24 dan berdiameter 16 mm. Ukuran batang pengikat dihitung dengan persamaan sebagai berikut: A t = 204 x b x h... (2.8) dan l = (38,3 x ) + 75... (2.9) II-26

Dengan pengertian : At = Luas penampang tulangan per meter panjang sambungan (mm). b = Jarak terkecil antar sambungan atau jarak sambungan dengan tepi perkerasan (m). h = Tebal pelat (m). l = Panjang batang pengikat (mm). = Diameter batang pengikat yang dipilih (mm). Jarak batang pengikat yang digunakan adalah 75 cm. 2.7.15. Sambungan pelaksanaan memanjang Sambungan pelaksanaan memanjang umumnya dilakukan dengan cara penguncian. Bentuk dan ukuran penguncian dapat berbentuk trapesium atau setengah lingkaran. Sebelum penghamparan pelat beton di sebelahnya, permukaan sambungan pelaksanaan harus dicat dengan aspal atau kapur tembok untuk mencegah terjadinya ikatan beton lama dengan yang baru. Gambar 2.4 Tipikal sambungan memanjang Sumber : Pd T-14-2003 II-27

Gambar 2.5 Ukuran standar penguncian sambungan memanjang Sumber : Pd T-14-2003 2.7.16. Sambungan susut memanjang Sambungan susut memanjang dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara ini, yaitu menggergaji atau membentuk pada saat beton masih plastis dengan kedalaman sepertiga dari tebal pelat. 2.7.17. Sambungan susut dan sambungan pelaksanaan melintang Ujung sambungan ini harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang jalan dan tepi perkerasan. Untuk mengurangi beban dinamis, sambungan melintang harus dipasang dengan kemiringan 1 : 10 searah perputaran jarum jam. 2.7.18. Sambungan susut melintang Kedalaman sambungan kurang lebih mencapai seperempat dari tebal pelat untuk perkerasan dengan lapis pondasi berbutir atau sepertiga dari tebal pelat untuk lapis pondasi stabilisasi semen sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 2.6 dan 2.7. II-28

Jarak sambungan susut melintang untuk perkerasan beton bersambung tanpa tulangan sekitar 4-5 m, sedangkan untuk perkerasan beton bersambung dengan tulangan 8-15 m dan untuk sambungan perkerasan beton menerus dengan tulangan sesuai dengan kemampuan pelaksanaan. Sambungan ini harus dilengkapi dengan ruji polos panjang 45 cm, jarak antara ruji 30 cm, lurus dan bebas dari tonjolan tajam yang akan mempengaruhi gerakan bebas pada saat pelat beton menyusut. Setengah panjang ruji polos harus dicat atau dilumuri dengan bahan anti lengket untuk menjamin tidak ada ikatan dengan beton. Diameter ruji tergantung pada tebal pelat beton sebagaimana terlihat pada Tabel 2.8 Tabel 2.8 Diameter ruji No Tebal pelat beton, h (mm) Diameter ruji (mm) 1 125 < h 140 20 2 140 < h 160 24 3 160 < h 190 28 4 190 < h 220 33 5 220 < h 250 36 Sumber : Pd T-14-2003 II-29

Gambar 2.6 Sambungan susut melintang tanpa ruji Sumber : Pd T-14-2003 Gambar 2.7 Sambungan susut melintang dengan ruji Sumber : Pd T-14-2003 2.7.19. Sambungan pelaksanaan melintang Sambungan pelaksanaan melintang yang tidak direncanakan (darurat) harus menggunakan batang pengikat berulir, sedangkan pada sambungan yang direncanakan harus menggunakan batang tulangan polos yang diletakkan di tengah tebal pelat. Tipikal sambungan pelaksanaan melintang diperlihatkan pada Gambar 2.8 dan Gambar 2.9. II-30

Sambungan pelaksanaan tersebut di atas harus dilengkapi dengan batang pengikat berdiameter 16 mm, panjang 69 cm dan jarak 60 cm, untuk ketebalan pelat sampai 17 cm.untuk ketebalan lebih dari 17 cm, ukuran batang pengikat berdiameter 20 mm, panjang 84 cm dan jarak 60cm. Gambar 2.8 Sambungan pelaksanaan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan untuk pengecoran per lajur Sumber : Pd T-14-2003 Gambar 2.9 Sambungan pelaksanaan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan untuk pengecoran seluruh lebar perkerasan Sumber : Pd T-14-2003 2.7.20. Sambungan isolasi Sambungan isolasi memisahkan perkerasan dengan bangunan yang lain, misalnya manhole, jembatan, tiang listrik, jalan lama, II-31

persimpangan dan lain sebagainya. Contoh persimpangan yang membutuhkan sambungan isolasi diperlihatkan pada Gambar 2.10. Sambungan isolasi harus dilengkapi dengan bahan penutup (joint sealer) setebal 5 7 mm dan sisanya diisi dengan bahan pengisi (joint filler) sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 2.11. Gambar 2.10 Contoh persimpangan yang membutuhkan sambungan isolasi. Sumber : Pd T-14-2003 a) Sambungan Isolasi dengan Ruji b) Sambungan Isolasi dengan penebalan tepi II-32

c) Sambungan Isolasi tanpa ruji Gambar 2. 11 Sambungan isolasi Sumber : Pd T-14-2003 Sambungan isolasi yang digunakan pada bangunan lain, seperti jembatan perlu pemasangan ruji sebagai transfer beban. Pada ujung ruji harus dipasang pelindung muai agar ruji dapat bergerak bebas. Pelindung muai harus cukup panjang sehingga menutup ruji 50 mm dan masih mempunyai ruang bebas yang cukup dengan panjang minimum lebar sambungan isolasi ditambah 6 mm seperti diperlihatkan pada Gambar 2.11a. Ukuran ruji dapat dilihat pada Tabel 2.5. Sambungan isolasi pada persimpangan dan ram tidak perlu diberi ruji tetapi diberikan penebalan tepi untuk mereduksi tegangan. Setiap tepi sambungan ditebalkan 20% dari tebal perkerasan sepanjang 1,5 meter seperti diperlihatkan pada Gambar 2.11b.Sambungan isolasi yang digunakan pada lubang masuk ke saluran, manhole, tiang listrik dan bangunan lain yang tidak memerlukan penebalan tepi dan ruji, ditempatkan di sekeliling bangunan tersebut sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 2.11c, 2.12 dan 2.13. II-33

Gambar 2.12 Tampak atas penempatan sambungan isolasi pada lubang masuk saluran. Sumber : Pd T-14-2003 2.7.21. Perencanaan tebal pelat Tebal pelat taksiran dipilih dan total fatik serta kerusakan erosi dihitung berdasarkan komposisi lalu-lintas selama umur rencana. Jika kerusakan fatik atau erosi lebih dari 100%, tebal taksiran dinaikan dan proses perencanaan diulangi. Tebal rencana adalah tebal taksiran yang paling kecil yang mempunyai total fatik dan atau total kerusakan erosi lebih kecil atau sama dengan 100%. II-34

Langkah-langkah perencanaan tebal pelat : Gambar 2. 13 Sistem perencanaan perkerasan beton semen Sumber : Pd T-14-2003 II-35

Tabel 2.9 Langkah-langkah perencanaan tebal perkerasan beton semen Langkah 1 Uraian Kegiatan Pilih jenis perkerasan beton semen, bersambung tanpa ruji, atau menerus dengan tulangan. 2 Tentukan apakah menggunakan bahu beton atau bukan. Tentukan jenis dan tebal pondasi bawah berdasarkan nilai 3 CBR rencana dan perkiraan jumlah sumbu kendaraan niaga selam umur rencana sesuai dengan Gambar 2.1 4 5 Tentukan CBR efektif berdasarkan nilai CBR rencana dan pondasi bawah yang dipilih sesuai dengan Gambar 2.3. Pilih kuat tarik lentur atau kuat tekan beton pada umur 28 hari (f cf ) 6 Pilih faktor keamanan beban lalu lintas (FKBcf) Taksir tebal pelat beton (taksiran awal dengan tebal tertentu 7 berdasarkan pengalaman atau menggunakan contoh yang tersedia atau dapat menggunakan Gambar 2.24 sampai dengan Gambar 2.31 8 9 10 Tentukan tegangan ekivalen (TE) dan faktor erosi (FE) untuk STRT dari Tabel 2.8 atau Tabel 2.9 Tentukan faktor rasio tegangan (FRT) dengan membagi tegangan ekivalen (TE) oleh kuat tarik-lentur (f) Untuk setiap rentang beban kelompok sumbu tersebut, tentukan beban per roda dan cf kalikan dengan faktor II-36

keamanan beban (F) untuk menentukan beban rencana per roda. Jika beban rencana per roda = 65 kn (6,5 ton), anggap dan gunakan nilai tersebut sebagai kb batas tertinggi pada Gambar 2.19 sampai Gambar 2.21 Dengan faktor rasio tegangan (FRT) dan beban rencana, 11 tentukan jumlah repetisi ijin untuk fatik dari Gambar 2.19, yang dimulai dari beban roda tertinggi dari jenis sumbu STRT tersebut. 12 13 14 Hitung persentase dari repetisi fatik yang direncanakan terhadap jumlah repetisi ijin. Dengan menggunakan faktor erosi (FE), tentukan jumlah repetisi ijin untuk erosi, dari Gambar 2.20 atau 2.21. Hitung persentase dari repetisi erosi yang direncanakan terhadap jumlah repetisi ijin. Ulangi langkah 11 sampai dengan 14 untuk setiap beban per roda pada sumbu tersebut sampai jumlah repetisi beban ijin 15 yang terbaca pada Gambar 2.19 dan Gambar 2.20 atau Gambar 2.21 yang masing-masing menapai 10 juta dan 100 juta repetisi Hitung jumlah total fatik dengan menjumlahkan persentase 16 fatik dari setiap beban roda pada STRT tersebut. Dengan cara yang sama hitung jumlah total erosi dari setiap beban roda pada STRT tersebut. II-37

17 18 Ulangi langkah 8 sampai dengan langkah 16 untuk setiap jenis kelompok sumbu lainnya. Hitung jumlah total kerusakan akibat fatik dan jumlah total kerusakan akibat erosi untuk seluruh jenis kelompok sumbu. Ulangi langkah 7 sampai dengan langkah 18 hingga 19 diperoleh ketebalan tertipis yang menghasilkan total kerusakan akibat fatik dan atau erosi = 100%. Tebal tersebut Sumber : Pd T-14-2003 sebagai tebal perkerasan beton semen yang direncanakan II-38

Tabel 2.10 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Tanpa Bahu Beton Sumber : Pd T-14-2003 II-39

Tabel 2.11 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Tanpa Bahu Beton (lanjutan ) Sumber : Pd T-14-2003 II-40

Tabel 2.12 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Tanpa Bahu Beton (lanjutan ) Sumber : Pd T-14-2003 II-41

Tabel 2.13 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Dengan Bahu Beton Sumber : Pd T-14-2003 II-42

Tabel 2.14 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Dengan Bahu Beton ( lanjutan ) Sumber : Pd T-14-2003 II-43

Tabel 2.15 Tegangan Ekivalen dan Faktor Erosi untuk Perkerasan Dengan Bahu Beton ( lanjutan ) Sumber : Pd T-14-2003 II-44

Gambar 2.14 Analisis fatik dan beban repetisi ijin berdasarkan rasio tegangan, dengan /tanpa bahu beton Sumber : Pd T-14-2003 II-45

Gambar 2.15 Analisis erosi dan jumlah repetisi beban ijin, berdasarkan faktor erosi, tanpa bahu beton. Sumber : Pd T-14-2003 II-46

Gambar 2. 16 Analisis erosi dan jumlah repetisi beban berdasarkan faktor erosi, dengan bahu beton Sumber : Pd T-14-2003 II-47

2.7.22. Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan Luas penampang tulangan dapat dihitung dengan persamaan berikut: Dengan pengertian:.. (2.10) A s : luas penampang tulangan baja (mm 2 /m lebar pelat) f s : kuat-tarik ijin tulangan (MPa). Biasanya 0,6 kali tegangan leleh. g : gravitasi (m/detik 2 ). h L : tebal pelat beton (m) : jarak antara sambungan yang tidak diikat dan/atau tepi bebas pelat (m) M : berat per satuan volume pelat (kg/m 3 ) µ : koefisien gesek antara pelat beton dan pondasi bawah sebagaimana pada Tabel 2.1. Luas penampang tulangan berbentuk anyaman empat persegi panjang dan bujur sangkarditunjukkan pada Tabel 2.16 Tabel 2.16 Ukuran dan berat tulangan polos anyaman las Tulangan Tulangan Luas Penampang Berat Memanjang Melintang Tulangan per Diameter (mm) Jarak (mm) Diameter (mm) Jarak (mm) Memanjang (mm 2 /m) Melintang (mm 2 /m) Satuan Luas (kg/m 2 ) II-48

Empat persegi panjang 12,5 100 8 200 1227 251 11,606 11,2 100 8 200 986 251 9,707 10 100 8 200 785 251 8,138 9 100 8 200 636 251 6,967 8 100 8 200 503 251 5,919 7,1 100 8 200 396 251 5,091 9 200 8 250 318 201 4,076 8 200 8 250 251 201 3,552 Bujur Sangkar 8 100 8 100 503 503 7,892 10 200 10 200 393 393 6,165 9 200 9 200 318 318 4,994 8 200 8 200 251 251 3,946 7,1 200 7,1 200 198 198 3,108 6,3 200 6,3 200 156 156 2,447 5 200 5 200 98 98 1,542 4 200 4 200 63 63 0,987 Sumber : Pd T-14-2003 II-49

2.7.23. Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan a) Penulangan memanjang Tulangan memanjang yang dibutuhkan pada perkerasan beton semen bertulang menerus dengan tulangan dihitung dari persamaan berikut : (2.11) Dengan pengertian : Ps : persentase luas tulangan memanjang yang dibutuhkan terhadap luas penampang beton (%) f ct : kuat tarik langsung beton = (0,4 0,5 f cf ) (kg/cm 2 ) fy : tegangan leleh rencana baja (kg/cm 2 ) n : angka ekivalensi antara baja dan beton (E s /E c ), dapat dilihat pada Tabel 2.11 atau dihitung dengan rumus µ : koefisien gesekan antara pelat beton dengan lapisan di bawahnya Es : modulus elastisitas baja = 2,1 x 10 6 (kg/cm 2 ) Ec : modulus elastisitas beton = 1485 f c (kg/cm 2 ) Tabel 2.17 Hubungan kuat tekan beton dan angka ekivalen baja dan beton ( n ) f c (kg/cm2) n 175 225 10 235 285 8 290 ke atas 6 Sumber : Pd T-14-2003 II-50

Persentase minimum dari tulangan memanjang pada perkerasan beton menerus adalah 0,6% luas penampang beton. Jumlah optimum tulangan memanjang, perlu dipasang agar jarak dan lebar retakan dapat dikendalikan. Secara teoritis jarak antara retakan pada perkerasan beton menerus dengan tulangan dihitung dari persamaan berikut :.. (2.12) Dengan pengertian : L cr p : jarak teoritis antara retakan (cm). : perbandingan luas tulangan memanjang dengan luas penampang beton. u : perbandingan keliling terhadap luas tulangan = 4/d. fb : tegangan lekat antara tulangan dengan beton = (1,97 f c)/d. (kg/cm 2 ) s : koefisien susut beton = (400.10-5 ). f ct : kuat tarik langsung beton = (0,4 0,5 f cf ) (kg/cm 2 ) n : angka ekivalensi antara baja dan beton = (E s / E c ) E c : modulus Elastisitas beton =14850 f c (kg/cm 2 ) E s : modulus Elastisitas baja = 2,1x10 5 (kg/cm 2 ) Untuk menjamin agar didapat retakan-retakan yang halus dan jarak antara retakan yang optimum, maka : II-51

- Persentase tulangan dan perbandingan antara keliling dan luas tulangan harus besar - Perlu menggunakan tulangan ulir (deformed bars) untuk memperoleh tegangan lekat yang lebih tinggi. Jarak retakan teoritis yang dihitung dengan persamaan di atas harus memberikan hasil antara 150 dan 250 cm. Jarak antar tulangan 100 mm - 225 mm. Diameter batang tulangan memanjang berkisar antara 12 mm dan 20 mm. b) Penulangan melintang Luas tulangan melintang (As) yang diperlukan pada perkerasan beton menerus dengan tulangan dihitung menggunakan persamaan (2.8). Tulangan melintang direkomendasikan sebagai berikut: 1) Diameter batang ulir tidak lebih kecil dari 12 mm. 2) Jarak maksimum tulangan dari sumbu-ke-sumbu 75 cm. c) Penempatan tulangan Penulangan melintang pada perkerasan beton semen harus ditempatkan pada kedalaman lebih besar dari 65 mm dari permukaan untuk tebal pelat = 20 cm dan maksimum sampai sepertiga tebal pelat untuk tebal pelat > 20 cm. Tulangan arah memanjang dipasang di atas tulangan arah melintang. II-52

2.7.24. Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton aspal Tebal lapis tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan lentur dihitung dengan cara yang sama seperti perhitungan tebal pelat beton semen pada perencanaan baru yang telah diuraikan sebelumnya. Modulus reaksi perkerasan lama (k) diperoleh dengan melakukan pengujian pembebanan pelat (plate bearing test) menurut AASHTO T.222-81 di atas permukaan perkerasan lama yang selanjutnya dikorelasikan terhadap nilai CBR menurut Gambar 22. Bila nilai k lebih besar dari 140 kpa/mm (14 kg/cm3), maka nilai k dianggap sama dengan 140 kpa/mm (14 kg/cm3) dengan nilai CBR 50%. Gambar 2.17 Hubungan antara CBR dan Modulus Reaksi Tanah Dasar Sumber : Pd T-14-2003 II-53

2.8. Keaslian Penelitian Penelitian yang membahas mengenai perkerasan kaku telah dilakukan sebelumnya dalam skripsi dan jurnal penelitian, antara lain: Tabel 2.18 Keaslian Penelitian II-54

No Judul Penulis Tahun Variable Temuan Jenis - Merencanakan - Perencanaan tebal pelat didasarkan pada total tebal perkerasan Perancangan Lapis fatique mendekati atau sama dengan 100% kaku untuk ruas Perkerasan Kaku dalam perhitungan perencanaan ini didapat jalan By. Pass Dengan Menggunakan tebal pelat 29 cm dalam perencanaan A.Yani dengan Metode Bina Marga dilapangan dibulatkan menjadi 30cm. 1 Suwandi 2010 metode Bina Marga Skripsi (Studi Kasus : Jalan - Nilai CBR (California Bearing Ratio) sebesar Raya Arteri BY Pas -Menghitung daya 2.4% dengan nilai DDT atau Daya Dukung Jenderal Ahkmad Yani dukung tanah. Tanah sebesar 3.5kpa. Hasil dari pengambilan Jakarta) secara acak pada segmen study yang mewakili dari beberapa titik Perencanaan Menentukan tebal 2 Peningkatan Jalan Kresek-Jenggot Kabupaten Tangerang Burhan Pribadi 2013 perkerasan ruas jalan Kresek Jenggot dari - Menghitung Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan Pekerjaan Skripsi dengan perkerasan kaku Sta.0+000 sd 5+475. II-55

Menghitung Rencana Anggaran - Menghitung Rencana Anggaran Biaya Biaya Pelaksanaan Pelaksanaan Pekerjaan Pekerjaan Menghasilkan program bantu computer untuk - Hasil perhitungan ConPave cukup akurat Analisa Tebal menghitung desain dengan perbandingan hasil antara manual dan 3 Perkerasan Kaku Berdasarkan Metode Bina Marga dengan Menggunakan program Devi Siska Putri Mawarno 2010 perkerasan kaku dan mendapatkan hasil secara cepat dan relative akurat program yang menunjukkan perbedaan kurang dari 5% Skripsi Visual Basic - Dengan menggunakan program ConPave Menghitung tebal diperoleh : peningkatan nilai CBR tanah perkerasan kaku dasar berakibat pada semain tipisnya tebal pelat beton yang diperlukan 4 Perbandingan Muhamad 2013 Menghitung dan - Tebal konstruksi perkerasan lentur Jurnal II-56

Perkerasan Lentur dan Yodi membandingkan menggunakan perencanaan konstruksi Perkerasan Aryangga tebal perkerasan bertahap metode Bina Marga,dengan tebal Kaku serta Analisa dan Anak kaku dan lentur masing-masing lapisan: Ekonominya pada Agung Gde a. Surface Course (Laston) : 15 + 4 cm. Proyek Kartika b. Base Course (Batu Pecah Kelas B) : 20 Jalan Sindang Barang cm. Cidaun, Cianjur. c. Sub Base Course (Sirtu Kelas A) : 25 cm. - Tebal konstruksi perkerasan kaku menggunakan metode NAASRA, dengan susunan: a. Surface Course (pelat beton) : 26 cm. b. Sub Base Course (Sirtu Kelas A) : 20 cm. - Dari hasil analisis dan evaluasi ekonomi diperoleh hasil: Perbandingan biaya a. Perkerasan Lentur antara perkersan Initial Cost = Rp 47.913.080.456 kaku dan lentur Operational Cost =Rp43.535.003.610 Total Cost = Rp 91.448.084.066 User Cost = Rp 5.756.669.946.685 II-57

Sumber : Hasil analisis b. Perkerasan Kaku Initial Cost = Rp 77.118.370.444 Operational Cost = Rp 17.218.977.391 Total Cost = Rp 94.337.347.835 User Cost = Rp 5.128.074.621.651 II-58