BAB IV BAHASAN UTAMA 4.1. Analisa Cara Kerja Ketel Uap 4.1.1. Pengapian Operator yang mengoperasikan ketel uap harus terlatih untuk memahami pengontrolan ruang pembakaran dan juga mamahami akibatakibat atau efek yang di timbulkan oleh operasi pabrik yang bermacammacam. Pada saat terjadi perubahan kebutuhan uap, operator harus mampu mengantisipasinya dan mempersiapkan agar keadaan ini dapat diatasi. Pengapian yang benar mencakup : Pemasukan bahan bakar dalam jumlah yang cukup, mempertahankan persedian uap yang mencukupi, mengantisipasi kebutuhan uap dan mengatur kondisi pembakaran yang benar diruang bakar, konsisten terhadap pengoperasian yang benar agar kerusakan pada Fire grade dan dinding dapat di cegah. Ketebalan bahan bakar yang paling bagus adalah yang sedang dengan permukaan yang merata dan tidak ada bagian yang kosong atau sangat tipis. Lapisan yang tebal cenderung membentuk kerak dan asap, dan juga bahan bakar banyak yang tidak terbakar sehingga terbuang. Dengan tarikan udara dan kondisi pengapian yang rendah diperlukan bahan bakar yang tipis. Jika Fibre dan Shell dipergunakan sebagai bahan bakar. Keduanya harus bercampur agar tidak terbakar secara terpisah dalam jumlah yang besar. Hal ini akan mengurangi terbentuknya kerak dan bahan bakar tersebar merata. Dalam pembakaran bahan bakar mungkin seluruh area Fire Grate dilapisi sehingga menghambat pengaliran udara untuk pembakaran. Hal ini suatu kasus yang ekstrim oleh karena itu kondisi optimum harus terjadi di dalam ruang pembakaran dan pengisian bahan bakar harus benar-benar diperhatikan. Pembakaran yang benar memberikan utilitas 55
bahan bakar yang terbesar dan sangat erat kaitannya dengan pengontrolan draft dan pembentukan kerak. Dengan dapur pada temperatur operasi yang tepat sekitar 1090/12000 C, Fibre kebanyakan terbakar lebih dulu dan shell turun ke Fire Grate yang membentuk suatu lapisan. Lapisan ini tidak boleh lebih dari 4-6 inchi. Pada saat pemasukan bahan bakar melalui pintu untuk mulai menghidupkan ketel uap, temperature di ruang bakar masih rendah dan bahan bakar akan lebih tebal di Fire Grate, ketebalan bahan bakar harus tidak boleh melebihi 18 inci ( 45.7 cm ). Bahan bakar harus tetap rata dan tidak menumpuk di depan pintu serta hindarkan terjadi pembakaran di sana. Warna asap yang keluar dari Chimney jika pengapian ketel uap benar adalah hampa transparan agak kecoklatan. Jika asap bewarna hitam, hal ini menunjukkan pengapian tidak menentu atau kurang udara dari Secondary Fan, dan jika warna putih menunjukkan kelebihan udara dari Secondary Fan. Asap yang keluar dari Chimney harus terus di monitor oleh operator. 4.1.2. Pembentukan kerak dan pembuangan abu Kerak terbentuk diruang bakar karena menyatunya abu akibat menerima temperature yang tinggi dan jumlahnya tergantung pada bagaimana pengaturan bahan bakar dan pembakaran diruang bakar. Di PT. Polychem Indonesia, Shell sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kerak dibandingkan dengan Fibre. Oleh karena itu pencampuran Shell dan Fibre lebih baik dari pada masing-masing terbakar sendiri karena akan mengurangi terbentuknya kerak yang besar. Kerak terbentuk karena abu terpisah dari karbon dan diproduksi sedikit demi sedikit. Akibat dari temperature tinggi, kerak meleleh dan menjadi saling melekat satu sama lain sehingga menjadi potongan besar yang melekat di fire bar yang panas atau dinding ruang bakar. Pengorekan api dengan pengaruk mengakibatkan potongan potongan abu yang kecil saling bergerak dan menyatu satu sama lainnya dan cendrung turun ke fire grade. Jika Fire Grate panas, kerak melekat dan perlahan-lahan menjadi dingin karena udara dari Ash Pit. Dan jika Fire Grate sangat panas, abu yang 56
meleleh akan menyebabkan penyumbatan di Fire Grate sehingga udara tertahan. Kerak yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan pada dinding karena kerak cenderung menempel di dinding ruang bakar. Dengan api yang tipis, abu dilepaskan dari bahan bakar yang terbakar dan jatuh ke zona yang lebih dingin di daerah Fire Grate yang akhirnya menemukan jalan keluar melalui rongga udara antara Fire Grade denga Ash Pit. Hal ini mengakibatkan kerak yang terbentuk sedikit atau tidak ada. Api yang tebal merupakan sumber pembentukan kerak yang paling subur dan factor penghambat aliran udara yang paling besar, udara yang masuk dari Ash Pit ke bahan bakar kurang. Hal ini mengakibatkan sebagian Fire Grate menjadi lebih panas yang merupakan kondisi ideal terbentuknya kerak. Selanjutnya abu yang terbentuk juga tidak dapat menemukan jalan ke luar ke Ash Pit dan akan membentuk kerak. Lebih jauh lagi, sumber terbentukya kerak adalah terlalu banyak gangguan pada pengapian. Seorang operator yang cermat dalam pemakaian pengaruk akan mengangkat banyak abu dan memberikan hasil yang memuaskan untuk mengurangi terbentuknya kerak, aturan umum yang harus diikuti adalah : - Api harus tipis - Bahan bakar harus terbakar pada selang yang pendek - Pemakaian penggaruk harus secara cermat - Pengendalian Tarikan Udara Udara sangat diperlukan, udara tersebut harus melalui bahan bakar yang berasal dari bawah Fire Grate. Jumlah udara yang dihasilkan oleh Forced Draft Fan harus seimbang dengan jumlah yang harus ditarik oleh Induced Draft Fan, Sehingga kondisi tarikan udara didalam ruangan bakar menjadi seimbang. Pada saat pengorekan abu Dumper Controller harus dalam posisi manual. Pintu dibuka hanya pada saat pengorekan abu / kerak atau pegerukan bahan bakar agar merata. Selama Operasi, Kondisi tarikan udara harus dipertahankan agar menghasilkan tekanan negatif didalam ruang bakar. Dengan pengendalian tarikan udara yang otomatis tekanan dipertahankan pada -5 s/d -10 mm H2O 57
Jika tekanan FD Fan lebih besar dari IDF maka akan terjadi tekanan positif didalam ruang bakar. Hal ini akan menghasilkan overheating yang serius pada Fire Grate dan juga bahaya penyemburan keluar api dalam ruang bakar. Pembakaran yang efisien hanya dapat dihasilkan, jika kondisi tarikan udara benar. 4.1.3. Level Air Level air harus dipertahankan pada pertengahan gelas duga pada saat ketel uap beroperasi. Gelas duga sangat penting untuk diperiksa apakah kondisinya baik dan menunjukkan level air yang benar. Pengujian dilakukan sebagai berikut : - Tutup kran uap, tutup kran air, buka kran drain untuk mengosongkan gelas. - Buka kran drain, buka kran uap dan lihat gelas apakah ada uap, tutup kran uap. - Buka kran drain, buka kran air dan lihat gelas apakah ada air, tutup kran air. - Tutup kran drain, buka kran uap dan air. Periksa apakah air digelas terlihat naik untuk menunjukkan level air. Pengujian ini bertujuan memastikan gelas duga bekerja dengan baik. Low water Penyebab utama kecelakaan ketel uap dan juga biaya perbaikan yang mahal adalah akibat dari ketel uap beroperasi dengan air yang kurang. Oleh karena itu, seluruh personil di ruang ketel uap harus sudah terbiasa melakukan tindakan yang harus dilakukan. Dalam kondisi kerja normal, lampu yang harus menyala adalah bewarna hijau. Jika suatu saat tiba-tiba terjadi kebutuhan uap yang mendadak, level air mungkin mengalami gejolak hebat dan menunjukkan 1st low (lampu menyala). Jika hal ini terjadi, pastikan pompa air umpan, kontrol dan check valve bekerja dengan normal dan baik. 58
High Water Kondisi High Water di ketel uap ditunjukkan oleh bunyi sirene dan lampu warna putih di panel, meskipun hal ini tidak berbahaya tetapi merupakan faktor pendorong yang kuat terhadap terikutnya air dan bahan kimia ke mesin produksi. Kondisi ini dapat menjadi sementara tergantung pada fluktuasi beban ketel uap, tetapi jika tetap berlaku dan level air di gelas duga menunjukkan kenaikkan, maka harus dilakukan Blow Down hingga kondisi normal dapat dicapai dan hentikan pompa bila perlu. Level air yang benar di ketel uap tidak dapat hanya berdasarkan sirene dan tampilan dilayar kontrol meskipun alat ini penting di ketel uap, akan tetapi tidak dapat menggantikan gelas duga karena hanya alat ini yang secara akurat menunjukkan level air yang benar. Air umpan ketel uap harus diisi dengan air yang murni, akan tetapi hal ini tidak mungkin diperoleh oleh karena itu ditambah bahan kimia agar dapat dipakai sebagai air umpan ketel uap. Tujuan pengolahan air ketel uap adalah : - Mencegah terjadinya karat pada keel uap maupun pipa uap kondensat. - Mencegah terbentuknya kerak dan lumpur karena hal ini akan dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan pada pipa dan overheating. 4.1.4. Air terikut dengan uap Air terikut dengan uap terjadi antara lain disebabkan oleh faktor mekanikal seperti fluktuasi beban mendadak dan besar. Operasi diatas kapasitas, permukaan air ketel uap terlalu tinggi, alat pemisah uap yang kurang baik sedangkan kimiawi seperti kandungan zat padat tersuspensi terlalu tinggi, zat padat terlalu tinggi, alkalinity terlalu tinggi, silica terlalu tinggi dan adanya bahan organik seperti minyak dan lain-lain. 59
4.1.5. Menyempurnakan efisiensi ketel uap secara maksimal dan menghemat bahan bakar. Salah satu factor yang harus di perhatikan adalah terjadinya korosi di bagian-bagian pipa atau drum ketel uap. Dimana gas terlarut terutama oksigen mempunyai factor yang dominan. Untuk menghilangkan oksigen, air umpan harus dipanaskan sepanas mungkin, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan pompa. Air umpan yang direkomendasikan harus mempunyai temperature sedikitnya 950 C selain itu, hal ini agar mengurangi kejutan panas jika dipompakan ke ketel uap. Air di dalam tanki air umpan harus selalu penuh dan mencukupi untuk 90 menit kapasitas operasi ketel uap. 4.1.6. Shoot Blower Shoot Blower diperlukan untuk membersihkan bagian luar pipa-pipa ketel uap, untuk operasi yang efisien, Shoot Blower harus dioperasikan sedikitnya satu kali dalam setiap giliran dan harus secara berurutan mulai dari depan kebelakang (mulai ruang bakar hingga bagian belakang) masingmasing selama 25 detik. Sebelum melakukan Shoot Blowing kondensat harus dibuang dan tekanan pada Superheater 17 17.5 kg/cm 2. Jika mungkin dilakukan sebelum beban ketel uap penuh. 4.1.7. Blow Down Air umpan untuk ketel uap masih banyak mengandung zat-zat yang menyebabkan ketidak murnian. Dengan pengolahan air yang tetap, padatan (terlarut atau tak terlarut) didalam air ketel uap akan segera mengendap di pipa atau ketel uap dan akan mengumpul secara alami, sedangkan sisanya tersuspensi didalam air. Tujuan Blow down adalah mencegah padatan terlarut mengendap dengan cara melengket pada permukaan Drum ketel uap yang panas, yang kemudian membentuk kerak. Dengan perlakukan yang tepat dan penambah bahan kimia yang tepat, air ketel uap akan berisi padatan halus tersuspensi yang akan mengendap dan membentuk suatu endapan yang mudah bergerak dan bukan suatu lapisan yang mudah melengket. Blow down adalah metode 60
normal yang digunakan untuk membuang akumulasi padatan tersebut dari ketel uap. Jika proporsi padatan (terlarut dan tak terlarut) yang diperbolehkan terakumulasi melebihi padatan yang diizinkan, akan terjadi pembentukan kerak yang berlebihan dibagian dalam permukaan drum dan kemungkinan terikut dengan uap. Ikut sertanya padatan didalam uap dapat menyebabkan kerusakan terhadap peralatan mesin uap dan alat pindah panas lainnya. Tujuan Blow down adalah tetap mempertahankan proporsi padatan terlarut dan tak terlarut di dalam ketel uap sesuai dengan batas yang telah direkomendasikan. Pengendalian Blow Down dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu : - Blow down yang kontinyu - Blow down otomatis, biasanya mempergunakan suatu timer dan katup solenoid. - Blow down secara manual dan berselang, biasanya 4 atau 8 jam. Konsentrasi padatan di dalam ketel uap harus secara teratur dimonitor dan tidak boleh melakukan blow down hingga kondisi kosong pada saat dinding masih panas atau sedang terjadi pembakaran. 4.1.8. Kipas dan Dinding Seluruh kipas harus secara teratur diperiksa dan dibersihkan. Permukaan dan sudu-sudu kipas selalu bersih, termasuk juga elektromotornya. Perbaikan yang teratur jika terjadi kerusakan pada dinding ketel uap akan memperpanjang umur ketel uap dan secara ekonomis lebih baik dari pada menunggu perbaikan besar. 4.2. Prosedur Pemeliharaan Ketel Uap 4.2.1. Pemeriksaan Sebelum sistem ketel uap di operasikan, maka harus dilakukan pemeriksaan dan persiapan peralatan terlebih dahulu. Kegiatan yang perlu dilakukan diantaranya : 61
a. Memeriksa seluruh katup (Valve) di ketel uap dalam keadaan tertutup, kecuali katup untuk Superheater drain dan katup air umpan. b. Memeriksa IDF dan FDF seperti Casing, Rotor, Bearing, Van Belt, baut longgar atau tidak dan sebagainya. c. Memeriksa level air digelas duga (Gauge Glass) dan pastikan level air sekitar separuh gelas. Bersihkan gelas duga dan kerangkanya. d. Memeriksa manometer (Pressure Gauge) dan mencatat, apakah ada tekanan atau tidak. e. Memeriksa bagian dalam dapur (Furnance) untuk memastikan telah dibersihkan dan seluruh Fire Grade dan dinding dalam kondisi baik. f. Memeriksa katup pembuangan (Blow Down) tertutup. g. Memeriksa air di Feed Water Tank dan isi jika kurang. h. Memeriksa seluruh katup pompa dan air umpan (Feed Pump), Deaerator dan Demin Water. Hanya katup ke Demin Water saja yang harus terbuka untuk pangisian air ke tanki. 4.2.2. Menjalankan (Menaikkan Uap) Memastikan terlebih dahulu api diruangan bakar telah ditarik keluar dan ketel uap dihentikan pada malam sebelumnya dan tekanan masih ada di manometer. Katup pada drain Superheater harus terbuka untuk mencegah Overheating. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan : a. Membuka kran Blow Down dan lakukan Blow Down 2 atau 3 kali selama kurang lebih 15 detik. b. Memeriksa level air di gelas duga, dan harus sekitar 1/2. c. Menyalakan api. d. Setelah api menyala, membuka dumper kira-kira ¼. e. Menaikkan secara perlahan tekanan uap hingga tekenan kerja ketel uap. Perhatikan level air tidak boleh melebihi batas yang terlihat pada gelas duga. Jika level air melebihi batas, tutup kran air umpan. Blow down dilakukan jika level air masih tetap tinggi. f. Atur pemasukan bahan bakar secara merata. 62
g. Jika tidak ada uap pada Manometer ketel uap, maka bahan bakar harus dikurangi agar panas merata diseluruh ketel uap. Pada saat ini kipas harus dimatikan sampai ada tekanan. Waktu yang diperlukan menaikan uap tergantung temperatur yang ada di ketel uap. h. Jika ketel uap dihentikan selama 24 jam dan boiler masih dalam keadaan hangat diperlukan waktu sedikitnya 6 jam pengapian tanpa Fan dengan Damper IDF terbuka 1/4 sampai tekanan terlihat pada manometer. i. Jika ketel uap dalam keadaan dingin waktu pengapian tanpa kipas sekitar 8 jam. 4.2.3. Pengaliran Steam dari Boiler a. Pompa Uap - Buka kran By-pass pada steam trap dari pipa uap ke pompa - Buka kran Drain pada Exhaust dari steam Feed Pump - Buka sedikit kran uap di ketel uap agar uap mengalir - Setelah 3 atau 4 menit, buka secara perlahan kran uap hingga penuh - Tutup kran by-pass serta periksa kerja steam trap - Buka kran section pada pompa air umpan - Panaskan Feed water pump dengan membuka sedikit kran uap, pada saat uap sudah mulai keluar, tutup kran drain perlahan sampai air tidak ada lagi - Setelah air tidak ada, buka kran pompa ke ketel uap - Jalankan pompa dan periksa level air di ketel uap b. Pipa Induk Steam - Buka seluruh kran by-pass pada steam trap. - Buka sedikit kran induk ketel uap agar uap mengalir beberapa menit. - Ketika uap telah keluar dari kran by-pass, tutup kran tersebut tetapi tidak rapat. 63
- Buka perlahan lahan kran induk hingga terbuka penuh. - Tutup kran by-pass pada pipa induk dan pastikan steam trap bekerja. - Pastikan tekanan ketel uap tetap stabil 17 s.d 17.5 kg/cm 2 Catatan : Jika pipa induk dihubungkan dengan dua, tiga atau empat ketel uap prosedur yang harus dilakukan : - Tekanan dari ketel uap yang mau masuk harus sama dengan tekanan yang telah ada. - Buka seluruh kran by-pass pada pipa induk. Buka sedikit kran induk ketel uap, Setelah beberapa menit buka perlahan-lahan kran induk hingga penuh, kemudian tutup kran drain dan periksa steam trap. - Tidak boleh membuka kran ketel uap ke pipa induk uap, jika tekanan tidak sama. 4.2.4. Penghentian a. Hentikan pemasukan bahan bakar ke ketel uap. b. Biarkan level air di gelas duga sampai menacapai 1/2. c. Tutup seluruh kran di Engine Room. Buka kran Soot Blower dan bersihkan pipa bagian dalam ketel uap. d. Tutup kran induk ketel uap dan pendukungnya dan juga seluruh kran di Feed Water Pump. e. Buka seluruh kran drain pada pipa induk dari ruang ketel uap hingga ruang mesin. f. Isi air di feed tank dan tutup seluruh kran air yang keluar. g. Drain pada superheater perlu dibuka setelah ketel uap dimatikan tetapi sebelum kran induk ditutup. Tujuannya agar terjadi sirkulasi didalam pipa Superheater. Kran terbuka hingga terdengar suara uap. 64
4.2.5. Operasi Seluruh peralatan ruang di ketel harus selalu diperhatikan selama proses operasi : a. Pastikan pasokan air bersih cukup selama proses tanki air selalu penuh. b. Pastikaan air selalu melawati Demin Water dan bukan melalui bypass. Air yang sadah harus diturunkan hingga tingkat yang paling mungkin (Kesadahan/Hardness < 5 ppm ). c. Pastikan air umpan ketel uap mendekati 1000 C dan tidak kurang dari 900 C. d. Pastikan daerah deaerator berfungsi dengan baik sepanjang waktu dan jangan sampai di by-pass. Pertahankan level air pada separuh gelas duga dan pastikan kebocoran pada pompa hanya sedikit saja. e. Pertahankan aliran air yang stabil dari pompa ke ketel uap. Jangan menjalankan dan mematikan pompa tetapi pertahankan pengendalian dengan menggunakan otomatis Regulator/mengatur pembukaan kran. Kran harus terbuka agar tekanan yang stabil dijalur discharge dapat dipertahankan. f. Pertahankan selalu level air ketel uap pada posisi gelas duga. g. Jangan biarkan ketel uap mengepul ( mengeluarkan asap hitam ) h. Atur pembakaran terus berkelanjutan dan semerata mungkin. i. Jangan biarkan bahan bakar menumpuk didalam ketel uap. Pertahankan ketebalan bahan bakar sekitar 6 inci. j. Pada saat bahan bakar ketel uap dimasukkan dengan tangan, tutup pintu setelah selesai memasukkan bahan bakar. k. Bersihkan lantai (Fire Grate) secara teratur sepanjang operasi. l. Kendalikan dumper dan pengapian agar tekanan uap dapat dipertahankan. m. Pertahankan kestabilan tekanan uap setiap saat sesuai kebutuhan. 4.2.6. Operasi Rutin Sehari- hari a. Blowing Down 65
Jumlah air yang harus di Blow Down harus dilakukan sesuai dengan instruksi harian kepala bagian utility. b. Gelas Duga - Gelas duga harus diuji setiap giliran sebanyak 2 kali dengan prosedur yang benar. - Jangan pernah level air hilang dari gelas duga. 4.2.7. Operasi Umum a. Ruang ketel uap dan peralatan harus diuji secara lengkap pada saat pertukaran giliran dan selama operasi. b. Seluruh gelas duga harus diuji oleh assisten/mandor dan dicatat sedikitnya satu kali dalam tiap giliran. c. Manometer ketel uap harus selalu diamati (jika terjadi kesalahan harus dicatat) Manometer yang rusak harus segera diganti. d. Kondisi batu api dan batu bata harus diperiksa dan kondisi ruang bakar harus selalu diperiksa dan dilaporkan. e. Pompa air umpan ketel uap harus selalu diperiksa dan pompa cadangan harus selalu siap sedia untuk beroperasi. f. Tekanan dan temperatur air umpan ketel uap harus selalu diperiksa dan dicatat. g. Deaerator harus selalu diuji apakah berfungsi dengan baik dan pompa deaerator harus diperiksa. h. Seluruh bagian pompa harus diperiksa agar tidak tejadi kebocoran seperti dari gland packing, Flange, dsb. i. Setiap gangguan operasi yang dilaporkan operator ketel uap harus dicatat dan di tindak-lanjuti. 4.2.8. Pencatatan buku harian Pencatan buku harian harus selalu diisi oleh operator ketel uap dan dipastikan terus dilaksanakan. Buku tersebut berisi antara lain : a. Waktu/saat ketel uap di hidupkan b. Waktu dibebani dan tidak dibebani 66
c. Waktu penghentian d. Rincian Blow Down e. Temperatur air umpan dan tekanan ketel uap f. Penambahan bahan kimia (oleh bagian ketel uap berkoordinasi dengan bagian laboratorium) g. Beban pada seluruh kipas, Feeder, dsb h. Pembersihan pipa i. Pengorekan Abu/kerak. 4.2.9. Tugas Anggota di Ruang Boiler a. Operator ketel uap - Bertanggung jawab terhadap seluruh instalasi dan kepada assistan/mandor. - Mengoperasikan ketel uap secara efisien dan aman setiap saat dan mempertahankan level air dan tekanan uap serta prosedur operasi yang benar. - Memastikan pengapian dan tugas pambersihan dilaksanakan oleh Fireman. b. Tugas Secara Umum : - Memelihara kebersihan peralatan dan lingkungan kerja. - Memastikan mesin beroperasi secara benar dan mutu terus dipertahankan. - Mempertahankan pencatatan operasi mesin seperti jam mulai, jam berhenti serta sebab jika berhenti dsb. - Memberitahukan assisten/mandor yang bertugas jika terjadi gangguan atau kerusakan mesin. - Mencatat temperatur air umpan dan tekanan ketel uap dan memastikan hal ini terus dilaksanakan. - Melaksanakan setiap prosedur operasi yang telah di gariskan oleh pimpinan atau instruksi yang diberikan oleh assisten/mandor yang bertugas. 67
- Karyawan bagian stasiun ketel uap harus tetap berada di stasiun ketel uap pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi - Keutuhan peralatan/perlengkapan kerja di stasiun ketel uap harus dijaga. 4.3. Evaluasi Solusi a. Jika Level air hilang di gelas duga. - Menguji gelas duga untuk mengetahui penuh atau kosong, jika penuh hentikan pompa dan lakukan Blow Down. Jika kosong dan air tidak terlihat pada saat diuji, segera matikan api. - Mematikan seluruh IDF dan FDF - Api ditarik keluar. - Jangan memompa air ( memasukkan air ) kedalam ketel uap. - Tutup kran induk dan kran untuk steam Pump dan Shoot Blower. - Segera informasi kepala bagian utility untuk tindakan selanjutnya. b. Pipa bocor tetapi level air di gelas duga masih terlihat. - Matikan pengapian (hentikan bahan bakar) - Matikan IDF dan FDF. - Tarik api keluar. - Pompa air agar level air dapat dipertahankan. - Angkat tuas untuk Safety Valve agar tekanan ketel uap berkurang. - Informasikan kepada manager untuk tindakan selanjutnya. c. Pembentukan kerak - Mengurangi jumlah mineral dengan unit softener - Melakukan blowdown secara teratur jumlahnya - Memberikan bahan kimia anti kerak d. Kerak yang sudah terbentuk 68
- Pelunakan kerak-kerak lama dengan bahan kimia selama ketel uap beroperasi normal. - Melarutkan kerak-kerak lama dengan asam-asam khusus tetapi ketel uap harus berhenti beroperasi. - Mechanical cleaning : dengan sikat, pahat, scrub, dan lain-lain. e. Korosi - Mengurangi gas-gas yang bersifat korosif - Mencegah terbentuknya kerak dan deposit dalam boiler - Mencegah korosi galvanis - Menggunakan zat yang dapat menghambat peristiwa korosif - Mengatur ph dan alkalinitas air boiler dan lain-lain f. Peristiwa deposit - Meminimalisasi masuknya mineral-mineral yang dapat menyebabkan deposit seperti oksida besi, oksida tembaga dan lain-lain. - Mencegah korosi pada sistem kondensat dengan proses netralisasi (mengatur ph 8,2 9,2) dapat juga dilakukan dengan mencegah terjadinya kebocoran udara pada sistem kondensat. - Mencegah kontaminasi uap selanjutnya menggunakan bahan kimia untuk mendispersikan mineral-mineral penyebab deposit. g. Deposit yang sudah terbentuk - acid cleaning - online cleaning - mechanical cleaning h. Batubara tidak terbakar sempurna - Chack pintu masuk batubara pada ketel uap - Chack ketebalan batubara yang melalui fire grate - Chack kondisi pembakaran di furnace 69
i. Ketel uap mengeluarkan banyak asap - Menaikkan kecepatan kipas ID dan mengurangi kecepatan kipas FD - Chack kondisi furnace j. Terdapat buih pada air umpan - Pemberian asam organik dan minyak jarak - Garam barium - Polyamida, poly alkilene glicol - Kontrol adanya lumpur dan kerak - Kontrol alkalinitas dari air tersebut k. Adanya pengendapan pada pipa-pipa uap - Perlu diperhatikan keadaan dan jumlah zat padat yang ada di dalam air ketel upa l. Jika sirene terus berbunyi dan lampu di panel menunjukkan warna merah, maka level air sudah mancapai batas low. Periksa level air di gelas duga dan jika air masih terlihat dan segera ambil tindakan : - Hidupkan pompa air umpan cadangan dan buka kran by-pass. Jalankan pompa maksimum hingga level air normal. - Selidiki penyebab kekurangan air dan atasi segara. - Jangan menghentikan pompa cadangan sampai pompa air utama dan kontroler bekerja dengan normal. m. Jika air tidak terlihat sampai ke ketel uap, ketel uap harus segera dihentikan dan penghentian dalam keadaan darurat harus dilakukan sebagai berikut : - Matikan api dan tarik keluar. Hentikan semua kipas dan tutup dumpernya. - Tutup kran uap induk dan turunkan tekanan dengan cara naikkan tuas safety valve dengan tangan dan buka drain untuk superheater. 70
- Setelah api dikeluarkan dan tidak ada lagi pembakaran buka pintu, pintu Ash pit dan Dumper, biarkan ketel uap dingin secara alami. n. Terjadi ledakan pada pipa Ledakan pipa terjadi akibat gangguan pada pipa sehubungan dengan overheating setempat yang di sebabkan oleh pembentukkan kerak atau akibat mekanikal, tindakan segera yang harus diambil adalah : - Hentikan api dan tarik keluar dan jalankan pompa air cadangan hingga keluaran yang maksimum sehingga mencukupi untuk mempertahankan level kerja. - Isolasi ketel uap dengan menutup kran induk dan turunkan tekenan uap melalui safety valve dan buka seluruh kran drain untuk Shoot Blower. - Setelah api ditarik, seluruh kipas harus tetap beroperasi dan dumper harus terbuka agar ruang bakar dapat didinginkan. Untuk mencegah kerusakan, level air harus dipertahankan hingga ruang bakar menjadi dingin dan harus diingat bahwa dinding masih menahan panas dalam periode waktu tersebut. Untuk meminimalisir masalah-masalah yang ada dianjurkan untuk memeriksakan ketel uap oleh teknisi yang sudah bersertifikat dan teruji. setidaknya setiap setahun sekali. 71
4.4. Analisa Hasil Penelitian Perawatan menentukan kinerja ketel uap, semakin sering dilakukan perawatan pada ketel uap maka kinerja ketel uap akan tetap baik sehingga efisiensi ketel uap juga tidak menurun. Perawatan yang baik pada ketel uap dapat memperpanjang umur pemakaian. Kerusakan pada ketel uap saat beroperasi, karena ketel uap tersebut tidak dirawat dengan baik, sehingga akan berakibat kerugian yang sangat besar dan dapat menjatuhkan performan unit ketel uap itu. Dengan perawatan yang baik, maka efisiensi produksi di PT. Polychem Indonesia akan meningkat, serta komponen-komponen ketel uap menjadi awet. 72