Bab III Tinjauan khusus 3.1 Pengantar Bab ini berisi studi pustaka dan studi banding tentang tema dari galeri yang akan dirancang, agar perancangan galeri dapat memenuhi kebutuhannya sebagai ruang publik. 3.2 Pengertian Ruang publik Stephen Carr, dkk (1992) melihat ruang terbuka publik sebagai ruang milik bersama, tempat masyarakat melakukan aktivitas fungsional dan ritualnya dalam suatu ikatan komunitas, baik kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan berkala yang telah ditetapkan sebagai sesuatu yang terbuka, tempat masyarakat melakukan aktivitas pribadi dan kelompok. Pengertianpengertian mengenai ruang terbuka publik yang dikemukakan oleh para ahli perencanaan kota sangat beragam, beberapa pengertian ruang terbuka publik tersebut, adalah: 1. Ruang terbuka publik adalah lahan tidak terbangun di dalam kota dengan penggunaan tertentu. Pertama, ruang terbuka kota didefinisikan sebagai bagian dari lahan kota yang tidak ditempati oleh bangunan dan hanya dapat dirasakan keberadaanya jika sebagian atau seluruh lahannya dikelilingi pagar. Selanjutnya ruang terbuka didefinisikan sebagai lahan dengan penggunaan spesifik yang fungsi atau kalitas terlihat dari komposisinya (Rapuano, 1994). 2. Ruang terbuka publik merupakan ruang wadah aktivitas sosial yang melayani dan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Ruang terbuka juga merupakan wadah dari kegiatan fungsional maupun aktivitas ritual yang mempertemukan sekelompok masyarakat dalam rutinitas normal kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan periodik (Carr,1992). 3. Ruang terbuka publik merupakan elemen vital dalam sebuah ruang kota karena keberadaannya di kawasan yang berintensitas kegiatan tinggi. 4. Sebagai lahan tidak terbangun, ruang terbuka biasanya berada di lokasi strategis dan banyak dilalui orang (Nazarudin, 1994). 5. Pengertian umum menurut Urban Land Institute, ruang publik yaitu ruang yang berorientasi manusia (people oriented spaces ) 1. Ruang publik adalah tempat atau 1 Urban Land Institute, Mixed Used Development Handbook (Washington D.C.,1987), hal 173-176 22
ruang yang terbentuk karena adanya kebutuhan akan tempat untuk bertemu ataupun berkomunikasi. Pada dasarnya ruang publik ini merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu manusia baik secara individu maupun berkelompok 2. 6. Ruang atau tempat publik merupakan tempat dimana siapapun berhak untuk datang tanpa merasa terasing karena kondisi ekonomi dan sosialnya 3 3.2.1 Teori pendukung Ruang publik Jurgen Habermas (The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society, diterbitkan pada 1989) menjelaskan bahwa ruang publik merupakan media untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Sebagaimana yang tergambarkan di Inggris dan Prancis, masyarakat bertemu, ngobrol, berdiskusi tentang buku baru yang terbit atau karya seni yang baru diciptakan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara yang bersifat memaksa. 3.2.2 Tujuan Ruang Terbuka Publik Secara umum, tujuan ruang terbuka publik (Carr dkk,1992) adalah: 1. Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan masyarakat menjadi motivasi dasar dalam penciptaan dan pengembangan ruang terbuka publik yang menyediakan jalur untuk pergerakan, pusat komunikasi, dan tempat untuk merasa bebas dan santai. 2. Peningkatan Visual (Visual Enhancement) Keberadaan ruang publik di suatu kota akan meningkatkan kualitas visual kota tersebut menjadi lebih manusiawi, harmonis, dan indah. 3. Peningkatan Lingkungan (Environmental Enhancement) Penghijauan pada suatu ruang terbuka publik sebagai sebuah nilai estetika juga paruparu kota yang memberikan udara segar di tengah-tengah polusi. 4. Pengembangan Ekonomi (Economic Development) 2 3 Rustam Hakim, Hardi Utomo, Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap (Jakarta, 2003), hal. 50 http://en.wikipedia.org/wiki/public_space 23
Pengembangan ekonomi adalah tujuan yang umum dalam penciptaan dan pengembangan ruang terbukapublik. 5. Peningkatan Kesan (Image Enhancement) Merupakan tujuan yang tidak tertulis secara jelasdalam kerangka penciptaan suatu ruang terbuka publik namun selalu ingin dicapai. 3.2.3 Fungsi Ruang Terbuka Publik Ruang terbuka publik sebagai salah satu elemen perancangan kota mempunyai fungsi-fungsi: 1. Ruang terbuka publik melayani kebutuhan sosial masyarakat kota dan memberikan pengetahuan kepada pengunjungnya. Pemanfaatan ruang terbuka publik oleh masyarakat sebagai tempat untuk bersantai, bermain, berjalan-jalan dan membaca (Nazarudin, 1994). 2. Ruang terbuka publik adalah simpul dan sarana komunikasi pengikat sosial untuk menciptakan interaksi antarkelompok masyarakat (Carr, 1992). Jan Gehl, dalam salah satu bukunya mengatakan bahwa sepanjang sejarah manusia, ruang publik memiliki tiga fungsi: sebagai tempat bertemu, tempat berdagang, dan tempat lalu lintas.berdasarkan ketiga fungsi ruang publik itu, Jan Gehl kemudian membuat klasifikasi kota menjadi empat kategori. : 1. Kota tradisional, di mana fungsi-fungsi ruang publik masih melekat dan terfasilitasi dengan baik. Biasanya ini ditemui di kota-kota kecil di mana penetrasi kendaraan bermotor tidak terlalu besar. 2. Kota terserbu (invaded city) di mana satu fungsi--biasanya fungsi lalu-lintas, dan itu pun lalu-lintas kendaraan pribadi--telah mengambil sebagian besar porsi space, sehingga tidak ada lagi ruang untuk fungsi yang lain. Di kota jenis ini, penduduknya tidak akan berjalan kaki karena keinginan, tetapi lebih karena keterpaksaan. 3. Kota yang ditinggalkan (abandoned city) di mana ruang dan kehidupan publik telah hilang. Kota pun dirancang untuk mobil dan kendaraan bermotor lainnya, yang membuat banyak aktivitas yang tadinya dilakukan dengan berjalan kaki menjadi hilang. Di kota jenis ini, kehidupan penduduknya hanya beredar dari satu shopping mall ke shopping centre yang lain, yang untuk mencapainya tentu saja harus dengan menggunakan kendaraan. 24
4. Kota yang direbut kembali (reconquered city) di mana ada usaha yang kuat, baik dari pihak pemerintah sebagai pengambil kebijakan maupun masyarakat, untuk mengembalikan keseimbangan fungsi ruang publik Di sini akan kita temui programprogram yang memberikan keleluasaan kepada pejalan kaki untuk berinteraksi satu sama lain. 3.2.4 Tipologi Ruang Publik dan Karakteristik Macam-macam tipologi ruang terbuka publik menurut Stephen Carr, dkk (1992),: 1. Taman taman publik (public parks), yang termasuk taman publik : a. Taman publik/pusat (public/central parks), merupakan bagian dari zone ruang terbuka pada sistem kota yang dibangun dan dikelola oleh publik, pada umumnya berlokasi dekat pusat kota, dan seringkali lebih luas dari taman lingkungan. b. Taman di pusat kota (downtown parks), merupakan taman hijau dengan rumput dan pepohonan yang berlokasi di daerah pusat kota, dapat berupa taman tradisional dan bernilai sejarah. c. Taman lingkungan (neighbourhood parks), merupakan ruang terbuka yang dibangun dalam lingkungan permukiman, dibangun dan dikelola oleh publik sebagai bagian dari zone ruang terbuka kota, atau sebagai bagian dari pembangunan perumahan privat baru, biasanya termasuk di dalamnya taman bermain, fasilitas olah raga, dan lain-lain. 2. Taman mini (mini/vest-pocket parks), merupakan taman kota yang berukuran kecil yang dibatasi oleh gedung-gedung, kadang-kadang di dalamnya terdapat air mancur/hiasan air. 3. Lapangan dan plaza (squares and plaza), yang termasuk lapangan dan plaza adalah lapangan pusat (central squares) dan corporate plaza. 4. Taman peringatan (memorial parks), memiliki karakteristik yaitu merupakan tempat umum untuk mengenang seseorang atau peristiwa yang penting bagi suatu daerah, dalam lingkup lokal atau nasional. 5. Pasar (markets), salah satu contoh dari pasar adalah pasar petani (farmer s markets) yang memiliki karakteristik sebagai suatu ruang terbuka atau jalan yang digunakan untuk pasar, dan kadang-kadang bersifat temporer. 25
6. Jalan (streets), yang termasuk jalan adalah trotoar pejalan kaki (pedestrian sidewalks), mal pejalan kaki (pedestrian mall), dilengkapi dengan fasilitas untuk pejalan kaki seperti tanaman dan bangku-bangku, mal tempat transit (transit mall), jalan-jalan yang dibatasi untuk lalu lintas (traffic restricted streets), dan jalan kecil di kota (town trails). 7. Lapangan bermain (playgrounds), yang termasuk lapangan bermain adalah tempat bermain dan halaman sekolah (school yard). Tempat bermain (playgrounds) memiliki karakteristik yaitu area bermain yang berlokasi di lingkungan permukiman. 8. Ruang terbuka untuk masyarakat (community open spaces), yang termasuk di dalamnya adalah lapangan/taman untuk masyarakat (community garden/ park) dengan karakteristik yaitu ruang di lingkungan permukiman yang didesain, dibangun, atau dikelola oleh perumahan lokal, di dalamnya termasuk taman, area bermain, dan taman masyarakat. 9. Jalan hijau dan jalan taman (greenways and parkways), memiliki karakteristik yaitu merupakan area alami dan ruang rekreasi yang dihubungkan oleh pejalan kaki dan jalur sepeda. 10. Atrium/pasar tertutup (atrium/indoor market place) a. Atrium, memiliki karakteristik yaitu ruang privat dalam yang dikembangkan sebagai ruang atrium dalam ruangan, sebuah plasa atau jalur pedestrian dalam ruangan, sebagai bagian dari sistem ruang terbuka, dibangun dan dikelola oleh swasta sebagai bagian dari kantor atau pembangunan komersial baru. b. Pasar/pusat perbelanjaan pusat kota (marketplace/downtown shoppingcenter), memiliki karakteristik yaitu area perbelanjaan privat, biasanya merupakan rehabilitas dari bangunan lama, kadang-kadang disebut Pasar Festival, yang dibangun dan dikelola secara privat atau pembangunan yang bersifat komersial. 11. Found spaces/everyday open spaces, memiliki karakteristik yaitu ruang terbuka yang dapat diakses oleh publik seperti sudut-sudut jalan, jalan menuju gedung, dan lain-lain yang diakui dan digunakan oleh publik, dapat berupa ruang kosong atau ruang yang belum dibangun yang berlokasi di lingkungan tempat tinggal termasuk lahan kosong atau tempat yang direncanakan untuk dibangun, seringkali digunakan oleh penduduk lokal. 26
12. Tepi laut (waterfronts), pelabuhan, pantai, tepi sungai, tepi danau, dermaga. Memiliki karakteristik yaitu ruang terbuka sepanjang jalan air di kota, meningkatkan akses publik ke area tepi laut, pengembangan dari taman tepi laut (waterfronts park). Beberapa kualitas yang harus dimiliki ruang publik agar dapat berperan sesuai fungsinya (Carr, et al dalam Carmona, et al 2003, p.165): 1. Meaningful, dimana ruang publik harus memungkinkan manusia sebagai pengguna ruang untuk membuat hubungan (koneksi) yang kuat antara ruang / place dengan kehidupan mereka dan dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, ada sistem pemaknaan dalam ruang publik. 2. Democratic, dimana ruang publik harus dapat diakses oleh siapa saja dan menjamin kebebasan dalam beraktivitas. Carmona, et al (2008, p.24) menguraikan bahwa aksesibilitas antara lain mencakup kemudahan akses ke lokasi dan kemudahan pergerakan di dalam ruang. 3. Responsive, dimana ruang publik harus tanggap atau mampu memenuhi kebutuhan warga yang terwujud dalam desain fisik dan pengelolaannya Ada beberapa ruang publik di jakarta, namun nilai nilai utamanya sudah tidak ada lagi. Nilai meaningful, demokratik, dan responsif kepada kebutuhan masyarakat tentang seperti apa ruang publik itu tidak terlihat pada ruang ruang publik yang ada di jakarta. Lalu ruang publik di kuasai oleh komunitas komunitas negatif tertentu ataupun tidak lagi menjadi publik karna batasan batasan ruang dan waktu yang berlaku dalam hal kaitannya dengan kemurnian kata publik. 3.2.5 Kaitan tema dengan judul. Dengan galeri di dalam ruang publik, seni akan lebih maksimal dalam tujuannya memberi pemahaman kepada masyarakat tentang seni. Galeri dapat langsung berinteraksi di tengah tengah keramaian masyarakat untuk memberi edukasi dan pemahaman seni. 27
3.3 Studi banding 3.3.1 Galeri Nasional Indonesia 4 Galeri Nasional Indonesia Galeri Nasional Indonesia merupakan unit pelaksana teknis (UPT) di lingkungan kementrian budaya dan pariwisata, kedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, yang sehari-hari dilaksanakan oleh Direktur kesenian. Galeri Nasional Indonesia memiliki tugas pokok dan fungsi 1. Pelaksanaan 2. Pengumpulan 3. Pendokumentasian 4. Registrasi 5. Analisis 6. Pemeliharaan 7. Perawatan 8. Pengamanan 9. Penyajian 10. Penyebarluasan informasi dan 11. Bimbingan edukatif terhadap karya seni rupa. 4 http://www.galeri-nasional.or.id/ 28
Luas tanah dan bangunan Galeri Nasional Indonesia adalah 17.600M² terdiri dari berbagai gedung dan fasilitas penunjuang : 1. Kantor 2. Pameran temporer 3. Pameran permanen (menetap) 4. Perpustakaan 5. Auditorium 6. Storage 7. Laboratorium 8. Wisma seniman 9. Galeri shop Lokasi Galeri Nasional Indonesia ini cukup strategis, yaitu berada di pusat ibukota Indonesia (Jakarta). Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1770 koleksi karya seniman Indonesia dan mancanegara. Galeri Nasional Indonesia ini memiiliki fasilitas yang dapat memadai unutk mendukung kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai lembaga yang mengkoleksi karya seni rupa, pameran, dan seminar maupun pelatihan seni rupa dalam kapasitasnya sebagai institusi resmi pemerintahan Indonesia terhadap pelestarian nilai-nilai budaya, khususnya seni rupa. Ruang pameran Galeri Nasional Indonesia memiliki empat ruang pameran, yaitu: 1. Gedung A (1.350M²), 2. Gedung B (2.800M²), 3. Gedung C (750M²), dan 4. Gedung D (600 M²). Hingga saat ini luas tanah Galeri Nasional Indonesia mencapai 28.620 m2. 29
R. pamer Galeri Nasional Indonesia Masing-masing gedung/ ruang dikhususkan untuk memajang karya seni rupa modern dan temporer, seperti: lukisan, patung, kria, grafis, fotografi, instalasi, seni media baru, dan lainlain. Dalam Galeri Nasional Indonesia ini dilakukan beberpa jenis pameran seperti: 1. Pameran tetap (permanent exhibition) Menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia secara periodik yang ditata berdasarkan konsep kuratorial dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia dan waktu penyelenggaraan Pameran Tetap berlangsung minimal 1 kali dalam satu tahun R. pameran tetap 30
2. Pameran temporer (temporary exhibition) Pameran tunggal atau pameran bersama yang menyajikan karya-karya seni rupa dalam jangka waktu tertentu yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain, pameran ini berlangsung minimal selama 10-30 hari. R. pameran temporer 3. Pameran keliling (ttaveling exhibition) Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia maupun karya di luar koleksi Galeri Nasional Indonesia ke berbagai daerah di Indonesia dan atau di luar negeri yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan Pameran Keliling minimal berlangsung selama 10 hari. Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia ini memiliki fasilitas ruang seminar (serba guna) untuk mendukung kegiatan seminar, diskusi pembahasan karya seni rupa. Ruang seminar/r. serba guna 31
Ruang Restorasi Pekerjaan konservasi-restorasi dilakukan pada laboratorium konservasi dengan fasilitas penerangan lamu polikhromatis dan ultra-violet. Bersikulasi udara, ber-ac, dan dialiri air distilasi. Laboratorium ini juga dilengkapi tabung tabung gelas yang berfungsi sebagai wadah atau alat ukur/ analisa, alat-alat ukur elektronik dan computer pendukung untuk analisa dan simulasi pekerjaan teknis. Alat mikrokopis, alat control klimotologi, ruang fumigasi serta alat pendingin untuk membasmi jamur atau serangga juga melengkapi laboratorium ini. Karya-karya seni rupa koleksi Galeri Nasional Indonesia sebagian besar ditempatkan di ruang penyimpanan (storage) yang sudah dilengkapi dengan fasilitas mesin penyejuk kayu, serta dilengkapi juga dengan alarm system sebagai sarana pengamanannya 5. Ruang restorasi Ruang Penyimpanan Karya-karya seni rupa koleksi Galeri Nasional Indonesia ini sebagian besar ditempatkan di ruang penyimpanan (storage) yang sudah memenuhi persyaratan penyimpanan tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas mesin penyejuk ruangan, alat pengatur suhu udara, lemari kayu, panel geser, panel kawat dan panel kayu, serta dilengkapi juga dengan alarm system sebagai sarana pengamannya. Ruang penyimpanan karya 5 http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/galeri-nasional-indonesia 32
3.3.2 Komplek seni Affandi 6 Kompleks Seni Affandi Kompleks ini menduduki tanah seluas 3.500 meter² yang terdiri atas tiga buah galeri, dan bangunan rumah tinggal pelukis Affandi dan keluarganya. a. Galeri I Pada tahun 1962, Affandi selesai membangun galeri I dengan luas bangunan 314,6 m² yang digunakan untuk ruang pameran bagi sejumlah hasil karya lukisnya. Suasana galeri I 6 http://www.museumindonesia.com/museum/28/1/museum_affandi_yogyakarta_55281 33
b. Galeri II Pada tahun 1987, Soeharto memberikan bantuan berupa pendirian sebuah bangunan galeri II, yang menempati area tanah seluas 351,5 m². Bangunan galeri II ini kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1988. Pada galeri II lukisan yang dipajang adalah lukisan karya berbagai seniman. Suasana galeri II c. Galeri III Galeri III ini didirikan pada tahun 1997 dan diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2000 dan dibangun atas ide yang sama dengan bangunan lainnya antara kompleks museum yang menggunakan bentuk garis melengkung dengan atap yang membentuk pelepah daun pisang. Galeri III ini terdiri atas tiga lantai, : 1. Lantai I, ruang pameran 2. Lantai II untuk ruang perawatan/perbaikkan lukisan, dan 3. Ruang bawah tanah sebagai penyimpanan lukisan. Suasana galeri III 34
3.3.3 Gana Art Center 7 Galeri Seni Gana, Seoul Bangunan galeri ini terdiri dari tiga lantai yang dilengkapi dengan alun-alun dan kebun yang luas. Galeri ini dibuka pada tahun 1983 dan dianggap sebagai salah satu galeri yang berusaha untuk mengembangkan seni lukis di Korea lewat kegiatan pameran atau keikutsertaan dalam acara seni lukis baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lantai pertama dan kedua bangunan galeri ini digunakan sebagai ruang pameran. Dan lantai ketiga digunakan sebagai ruang workshop para seniman. Dalam Galeri Seni Gana ini juga terdapat Gana Art Shop yaitu sejenis toko souvenir dengan suasana yang tenang. Di toko souvenir ini menjual berbagai jenis barang-barang seperti keramik, cermin, dasi, buku catatan dan sebagainya yang dibuat sendiri oleh senimannya. Dalam galeri seni Gana ini juga terdapat kafe yang bernama Motte yang merupakan ruangan yang penuh pesona. Dari dalam bangunan galeri ini juga pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan kecamatan Pyung chang melalui kaca lebar di kafe yang sering juga disebut sebagai sebuah lukisan yang indah. 7 http://rki.kbs.co.kr/indonesian/program/program_fridayevent_detail.htm?no=53 35
Suasana interior galeri seni Gana, Seoul 3.3.4 Solomon R. Guggenheim Museum 8 Solomon R. Guggenheim Museum merupakan museum karya seni berupa lukisan, foto, sculpture, dll. Museum dengan luas 51,000 sq. ft. dan tinggi 92 feet, museum ini merupakan karya arsitek Frank Lloyd Wright. Eksterior Solomon R. Guggenheim Museum 8 file:///c:/documents%20and%20settings/windows_xp/my%20documents/guggenhim%20muse UM/viewtopic.php.htm 36
Denah Solomon R. Guggenhiem Museum Potongan Solomon R. Guggenhiem Museum Proses konstruksi Solomon R. Guggenheim Museum Dengan alur sirkulasi spiral, pengunjung dapat mencapai puncak ruang bangunan dengan sudut kemiringan rendah yang membuat pengunjung tidak merasa lelah, namun dengan kemiringan yang rendah, diperlukan bentangan yang cukup panjang. Dengan penggunaan skylight pada atap, museum ini menggunakan cahaya alami di samping menggunakan pencahayaan buatan. 37
Positif 3.3.5 Analisa studi banding 1. Galeri nasional Interior ruang pamer Solomon R. Guggenheim Museum a. Dengan luas tanah mencapai 28.620 m2, galeri nasional mampu menampung banyak hasil karya seni lukis dari berbagai kalangan pelukis. b. Tiket gratis c. Terdapat fasilitas fasilitas penunjang bagi kebutuhan seni lukis. Negatif a. Meski dapat menampung banyak karya pelukis, pelukis harus menjalani birokrasi dan kualifikasi kualifikasi yang tidak mudah untuk dapat memamerkan hasil karyanya di dalam galeri nasional. b. Jam kunjungan terbatas. c. Lighting lighting hanya menerangi, tidak mencoba untuk bercerita pada suasana ruang, atau membawa masuk pengunjung pada sebuah suasana. Positif 2. Kompleks seni affandi a. Tapak cukup luas dengan luas 3.500 meter² menampung banyak hasil karya pelukis terkenal nasional. b. Terdapat banyak fasilitas penunjang termasuk ruang edukasi seni didalamnya. c. Bentuk bentuk bangunan yang ada memiliki konsep pemaknaan bentuk,dan mencerminkan kesederhanaan. 38
Negatif a. Hanya terdapat ruang bagi pelukis terkenal saja. b. Masuk bayar. c. Jam kunjungan terbatas. d. Tidak diperbolehkan memotret di dalam galeri. Positif 3. Gana art center a. Dengan massa yang besar dan tinggi, museum ini dapat menampung banyak karya karya seni. b. Penataan ruang ruang interior dengan estetika yang menarik. Negatif a. Masuk bayar. b. Jam kunjungan terbatas. c. Seni yang banyak lahir dari kesederhanaan dan kepekaan kepekaan sosial, megahnya bangunan ini menjadikan bangunan ini terlalu kapitalis. Positif 4. Solomon R. Guggenheim museum a. Dengan luas 51,000 sq. ft. dan tinggi 92 feet, galeri ini cukup megah. b. Bentuk bangunan yang menarik, yang didapat dari perilaku pengunjung di dalam ruang galeri, dengan alur sirkulasi berputar. Negatif a. Masuk bayar. b. Jam kunjungan terbatas. c. Terlalu kapitalis 39